Wow~ Respon para readers sekalian benar-benar menakjubkan! Dengan begini akan saya usahakan untuk terus melanjutkan fanfic ini. Arigatou~ sudah memberi kesempatan untuk melanjutkan fanfic ini. ^_^
Seperti yang para readers duga, fanfic ini akan beralur maju mundur. Sekedar informasi, entah di chapter berapa Naruto nanti akan baru muncul karena ini masih menceritakan masa lalu Hinata bersama dengan Naruto. Tenang saja mereka pasti bakalan ketemu kok. Yah, semoga saja bisa secepatnya. XDD
Oh ya, jika ada tanda 'n_n_n_n_n' berarti itu menandakan flashback. Diingat ya, minna-san?~ XDD
Yosh! Tanpa menunggu lama saya mempersembahkan...
.
.
~Dear Memories~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : Airashii-chan desu
Warning : Hinata's POV, OOC, Typo's masih selalu bertebaran, EYD sangat berantakan, Ide pasaran (sangat), dll
Pair : NaruHina
Jika ada kesamaan ide cerita dengan yang lain harap dimaklumi tapi, 100% ide cerita ini asli dari apa yang ada di pikiranku. XD
~HAPPY READING~
.
.
Aku sama sekali tak menyangka hujan akan turun mendadak. Awalnya aku kira hari ini takkan hujan mengingat cuaca tadi pagi begitu cerah tapi, tidak tahunya ketika jam pelajaran berakhir hujan mulai mengguyur kota Konoha dengan derasnya, dan sialnya aku tak membawa payung hingga membuatku terjebak di pintu gedung sekolah. Kalau begini caranya rasanya...aku tak bisa pulang cepat. Menyebalkan bukan jika harus tetap di sekolah?
Kuhembusakan napas berat, rasanya tidak ada gunanya jika aku merasa kesal. Karena hujan tak akan peduli dengan kekesalanku. Mau tak mau aku harus menunggu hujan reda. Sebenarnya aku bisa saja nekat berlarian menembus guyuran hujan itu untuk pulang tapi, aku tak mau beresiko sakit dan pulang dengan keadaan basah, karena itu lebih merepotkan. Alasan itulah yang membuatku lebih memilih untuk menunggu saja lagipula terlihat masih banyak murid yang belum pulang karena terjebak hujan. Haaah...hari hujan memang tak pernah tetap.
Kulirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kiriku yang menunjukkan pukul empat sore lebih sepuluh menit. Kurasa hujan ini akan lama reda, karena itu aku lebih baik memilih menunggu di perpustakaan saja sambil membaca buku mungkin itu bisa mengurangi kebosananku lagipula perpustakaan sekolah akan tutup pukul enam petang mungkin saat itu hujan pasti sudah reda.
Dengan perasaan yang agak malas aku mulai melangkahkan kakiku menuju ruang perpustakaan. Jalanan koridor gedung sekolah yang aku lewati ini tidaklah begitu ramai ditambah lagi tak ada murid yang aku kenal, mungkin teman-teman di kelasku lebih memilih pulang dengan kehujanan.
Aku tersenyum senang, keputusanku untuk datang ke perpustakaan memang tepat, karena perpustakaan sekarang ini terlihat agak sepi dari pengunjung tak seperti biasanya yang selalu ramai. Aku melangkahkan kakiku untuk mengambil buku yang ada di rak buku setelah kudapatkan buku yang menjadi bahan bacaanku serta mengurangi kebosananku itu, aku kembali mengedarkan pandanganku untuk mencari tempat duduk untuk aku duduk.
Kulangkah kakiku menuju bangku yang letaknya dekat dengan jendela. Aku sangat suka tempat dimana yang berada di dekat dengan jendela, karena itu dapat membuat suasana hatiku nyaman apalagi memandangi hujan dari jendela seperti ini rasanya lebih menenangkan.
Rasanya percuma saja aku membawa buku, karena saat ini buku yang aku ambil tadi sama sekali tak aku baca melainkan kubiarkan terbuka di meja sedangkan pandanganku kini ke arah jendela yang dapat menampakkan seluruh halaman sekolah yang ada di bawah sana, karena letak ruangan perpustakaan ini berada di gedung sekolah lantai dua.
Tanpa sadar aku tersenyum ketika pandanganku mengarah ke arah kedua murid berlawanan jenis yang berjalan sepayung berdua di tengah guyuran hujan. Mereka terlihat sangat bahagia karena mereka terus-terusan tertawa tidak peduli jika orang yang ada di sekeliling mereka memperhatikan mereka dengan bingung.
Ah, momen itu sama seperti yang aku alami bersama seorang pemuda yang selalu hadir di mimpiku. Aku jadi berpikiran, apakah...mereka juga melakukan perbuatan yang tak terpuji seperti yang aku lakukan bersamanya dulu? Kenangan itu...tiba-tiba terlintas di pikiranku.
n_n_n_n_n
Dengan pandangan kesal aku menatap ke arah tempat penyimpanan payung yang letaknya dekat dengan loker sepatu. Siapa yang tidak kesal jika payung yang kita bawa dari rumah kemudian kita letakkan di tempat penyimpanan payung yang ada di sekolah itu, tapi ternyata diambil oleh murid lain?
Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali terus memandang tempat penyimpanan payung itu, sudah sangat jelas aku tidak tahu siapa yang telah mengambil payungku itu. Suara gemuruh hujan dari luar gedung sekolah seakan-akan menertawakanku, karena aku tidak akan berani pulang tanpa payung. Ya, itu benar. Aku baru saja sembuh dari serangan gejala flu dan itu juga akibat dari aku yang nekat hujan-hujanan.
Aku tak mau itu terulang lagi karena lebih baik aku pergi sekolah daripada harus sakit dan tetap di rumah yang selalu membuatku tertekan karena selalu mendapat nasehat-nasehat yang begitu menusuk di hati jika aku tidak masuk sekolah.
Sepertinya...aku harus terpaksa menunggu hujan reda. Ya, hanya itu jalan satu-satunya yang terbaik walaupun sebenarnya sama sekali tidak ingin aku lakukan. Yah, itu memang resikonya jika tidak ingin pulang dalam keadaan basah.
Kuhembuskan napas berat sebelum aku melangkahkan kakiku untuk pergi dari sini. Namun, belum sempat aku melangkah tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk pundakku pelan, secara otomatis aku langsung membalikkan tubuhku untuk melihat orang itu dan ternyata...aku sudah disambut oleh cengiran khas milik orang itu hingga membuatku diam terpaku seketika.
"Ketua, kenapa masih disini? Bukannya sudah waktunya pulang?" tanya siswa berambut kuning jabrik itu dengan tampang yang agak penasaran karena melihatku masih berada di area sekolah.
Jujur saja, aku bingung harus menjawab apa. Rasanya tidak mungkin aku mengatakan jika aku tidak bisa pulang karena payungku diambil oleh murid lain, itu benar-benar hal konyol. Karena itu aku lebih memilih untuk menunduk, berharap dia tidak bertanya lagi tapi...dugaanku salah.
"Tadi waktu berangkat aku lihat Ketua membawa payung. Eh? Atau jangan-jangan...Ketua sekarang tidak bisa pulang gara-gara payung Ketua diambil murid lain, ya?" tebaknya dengan nada yakin padahal sebenarnya tebakannya itu benar-benar tepat sekali.
Ya Tuhan...aku benar-benar tak sanggup jika harus berurusan dengannya. Dia bahkan menyadari hal-hal yang sepele seperti itu. Bagaimana bisa dia sejenius itu? Sekejap aku sedikit terpukau karena keahliannya dalam menebak sesuatu. Aku hanya dapat mengangguk pelan untuk memastikan bahwa tebakannya itu memang benar lagipula aku tak bisa jika harus tetap mengabaikannya.
"Ketua, apa kau benar-benar ingin pulang sekarang?" tanyanya tiba-tiba hingga tanpa sadar membuat kepalaku terangkat untuk memandangnya. Sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan jelas yang mengekspresikan keseriusan yang jarang ia perlihatkan dan entah kenapa jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya? Bagaimana bisa?
Kuabaikan debaran di jantungku ini, kuberanikan diriku untuk menatap langsung kedua mata yang warnanya menyerupai Blue Ocean yang indah itu dan juga menjawab pertanyaannya.
"Y-ya. Ta-tapi bagaimana bisa? La-lagipula hujan...masih deras."
Aneh! Kenapa aku jadi sulit bicara seperti ini? Ada apa denganku?
Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran pemuda itu yang dengan sengaja mengabaikanku dengan cara berjalan melewatiku ke tempat penyimpanan payung itu dan mengambil salah satu payung bewarna hitam di sana.
'Eh?'
Aku agak tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba dia meraih lenganku dan menarikku agar aku mengikuti langkahnya yang begitu cepat, entah dimana tujuan pemuda itu membawaku. Aku hanya dapat menatapnya bingung dengan tindakannya yang serba tiba-tiba itu, dia...memang orang yang susah untuk ditebak. Ia pun menghentikan langkahnya ketika kami sudah sampai di pintu keluar gedung sekolah.
"Yokatta...akhirnya bisa lolos juga," kata siswa berambut kuning itu dengan ekspresi wajah yang begitu lega. Hal itu membuatku semakin bingung, sebenarnya apa tujuannya membawaku kemari? Dan juga, kata-katanya terdengar begitu ambigu hingga tak dapat kumengerti.
Sepertinya dia dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi di benakku, itu karena ia menoleh ke arahku yang lagi-lagi harus memperlihatkan cengiran khas miliknya.
"Nee, Ketua. Kuantar pulang ya?"
Hah?! Aku terkejap dengan tawarannya yang sama sekali tak kuduga sebelumnya. Aku menatapnya bingung dan sedikit tak yakin kalau dia benar-benar akan mengantarkanku pulang dengan payungnya, karena yang kutahu arah rumah kami tidak searah jadi, mana mungkin dia mau mengantarku pulang. Hingga tatapan kami bertemu setelah ia membuka payungnya yang seakan-akan sudah siap untuk pulang.
"Eh?"
Tanpa menunggu jawaban dariku, dengan sepihak dia langsung memegang pergelangan tanganku hingga menarikku untuk mengikuti langkahnya yang menerjang guyuran hujan yang begitu deras ini menggunakan payung hitamnya hingga kami berdua tidak basah karena terlindungi oleh payungnya.
Mau tak mau aku jadi menerima tawarannya untuk diantarkan pulang olehnya karena tak mungkin lagi jika aku menolak dan kembali ke gedung sekolah ditengah guyuran hujan deras seperti ini meskipun ia telah melepaskan pegangannya pada pergelangan tanganku. Lagipula jarak dengan pintu masuk gedung sekolah itu sudah mulai jauh.
Dia itu...sama sekali tak pernah memberiku kesempatan untuk menolak, menyangkal atau bahkan mengungkapkan sebuah pendapat. Aku selalu kalah jika harus berdebat dengannya.
Diperjalanan kami, sesekali aku melirik ke arahnya yang kini berjalan di samping kananku. Aku mengerutkan keningku karena bingung, entah apa yang terjadi, dia saat ini sedang tertawa kecil tanpa ada alasan yang jelas.
Memangnya ada yang lucu? Tapi apa yang lucu? Di benakku terus bertanya-tanya dengan sikapnya yang aneh itu. Jujur saja aku merasa gelisah.
Sepertinya dia tahu dengan apa yang aku bingungkan sejak tadi, karena dia langsung menoleh ke arahku hingga tatapan kami bertemu dan tak lupa kalau tawa kecilnya masih ikut serta.
"Kau tahu tidak ya, Ketua? Kita ini sedang melarikan diri lho?" katanya tiba-tiba setelah kita berdua melewati gerbang sekolah dan pergi menuju ke arah rumahku hingga aku mengerutkan keningku untuk berpikir keras tentang apa yang dikatakannya barusan. Aku benar-benar tak mengerti dan pada akhirnya aku bertanya padanya.
"Me-melarikan diri ka-karena apa?"
"Karena payung ini."
"Me-memangnya kenapa dengan payung i-ini?"
Sungguh! Aku benar-benar tak mengerti maksud dari pemuda itu tentang payung yang kami pakai ini, tetapi bukannnya dia menanggapi ataupun menjawab pertanyaanku dia malah tertawa. Ada apa sih dengannya?
"Tentu saja kita harus melarikan diri, Ketua. Karena kita telah mengambil payung milik murid lain."
"APA?!"
Aku benar-benar terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh pemuda itu. Kukira payung yang kami pakai itu miliknya. Ya Tuhan…bagaimana bisa dia melakukan hal yang tak terpuji seperti itu? Bisa-bisanya dia tidak merasa bersalah, karena mengambil payung milik orang lain, tetapi dia masih saja tertawa.
"Hahaha…responmu itu lucu sekali, Ketua. Bukankah itu suatu hal yang wajar? Payungmu kan diambil murid lain jadi, ya tidak ada salahnya kita juga mengambil payung milik murid lain, kan?"
"Ta-tapi kan tetap saja itu tindakan yang tidak baik! Bagaimana kalau kita sampai ketahuan? Bu-bukankah itu memalukan?"
"Sudahlah, Ketua, yang paling penting kan kita tidak ketahuan, dan kita juga sudah aman. Jadi, kita tidak usah memikirkannya dan aku bisa mengantarkanmu pulang ke rumah tanpa harus kehujanan. Dan masalah selesai."
Ya Tuhan…aku sama sekali tidak menduga akan terjadi seperti ini. Meskipun bukan aku yang melakukannya, tetapi dalam masalah ini aku juga ikut terlibat, karena kalau saja aku tidak kehilangan payungku dan bertemu dengan pemuda itu maka hal yang tak diinginkan ini tidak akan terjadi.
Tiba-tiba aku menyadari bahwa pemuda itu melakukan ini karena ingin membantuku dan...mempedulikanku agar tidak kehujanan. Apakah aku boleh beranggapan seperti itu? Entah kenapa hal itu membuat hatiku menghangat di tengah dinginnya hujan yang mendera saat ini.
Aku juga baru teringat apa yang pemuda itu lakukan kepadaku ketika dia menarikku keluar dari tempat penyimpanan payung sampai ke pintu gedung sekolah, ternyata saat itu kami sedang melarikan diri? Ya Tuhan...aku tak menyangka jika telah melakukan hal itu dan entah kenapa aku jadi tertawa.
Rasanya ternyata menyenangkan saat melarikan diri akan sesuatu, dan itu karena pemuda itu yang melibatkanku dalam masalah ini. Ini pertama kalinya bagiku melakukan hal yang mendebarkan seperti ini. Bisa-bisanya dia merubah duniaku yang datar menjadi hal yang penuh kejutan dan menyenangkan seperti ini. Sungguh! Ini menyenangkan! Pantas saja sedari tadi dia tertawa, karena aku sekarang juga ikut tertawa kecil karena telah melakukan hal yang menyenangkan.
"Ternyata kau bisa tertawa juga ya, Ketua?" katanya menyambung dengan tiba-tiba.
"Eh?"
Dengan spontan aku langsung menghentikan tertawaku dan menoleh ke arah pemuda itu. Tatapan kami bertemu, dia menatapku dengan tatapan yang begitu lembut hingga dapat menyesakkan dadaku. Dia pun menghentikan langkahnya dengan sepihak dan tentunya aku juga mengikutinya. Karena tak sanggup melihat matanya yang begitu indah itu aku menundukkan kepalaku.
Ya Tuhan...aku sangat terkejut ketika pemuda berambut kuning itu dengan tiba-tiba saja mengusap kelapaku dengan lembut hingga membuat jantungku mulai berdebar kencang dan wajahku memanas. Apa yang dilakukannya? Tapi entah kenapa aku menyukai perlakuannya.
"Sering-seringlah tersenyum dan bersikaplah ramah pada semua orang, Hinata. Dengan cara itu kau akan memiliki teman. Sebenarnya teman-teman yang ada di kelas ingin berbicara dan berteman denganmu, tetapi karena sikap pendiam dan tertutupmu, apalagi kau dari keluarga terpandang, itu membuat mereka merasa sungkan jika berbicara atau pun berteman denganmu. Tidakkah kau merasa seperti itu?"
Aku...benar-benar tak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapi apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Sungguh! kata-kata darinya membuat hatiku tergerak dan tak percaya bahwa harus orang itu yang membuatku tersentuh hanya karena dengan kata-kata yang begitu sesederhana itu.
Ya! Dia benar! Harusnya aku tak bersikap seperti apa yang dikatakan oleh pemuda itu jika ia ingin berteman dengan orang lain. Tetapi bisakah? Aku sama sekali tak mengerti apa-apa tentang fashion yang sedang tren, aku juga tak yakin bisa pergi keluar dengan bebasnya seperti mereka, aku...
"Percaya dirilah, Hinata. Aku yakin suatu saat nanti akan ada orang yang benar-benar tulus berteman denganmu. Orang yang benar-benar memahami dirimu, selalu bersamamu, dan menerima apa adanya dirimu yang penuh dengan kekurangan. Kita di dunia ini tidak akan bisa hidup sendirian, kita tentunya akan membutuhkan bantuan orang lain, Hinata. Karena itulah, bukalah hatimu untuk orang yang ingin dekat denganmu."
Kata-kata darinya sungguh membuatku ingin menangis. Kenapa harus dia yang tahu bagaimana permasalahanku selama ini? Padahal dia orang yang seharusnya kuhindari, orang yang tak ingin kubiarkan dia mencampuri urusanku, tapi...kenapa sekarang aku ingin sekali berada di dekatnya? Apakah karena dia sangat mengerti apa yang kuinginkan? Bisakah aku percaya padanya jika aku bersamanya akan membuatku nyaman dan senang? Aku ingin mencobanya!
"Ya...terima kasih, Uzumaki-san," kataku dengan tulus sembari menatap ke arahnya. Untuk pertama kalinya aku memanggil namanya dan disambut oleh senyumannya yang lembut hingga membuat dadaku berdebar. Suara debaranku ini seakan-akan mampu menandingi suara guyuran hujan mulai tak sederas tadi. Lagi-lagi ia mengusap kepalaku.
"Naruto. Panggil aku Naruto, Hinata," koreksinya.
Jujur saja, aku tak mampu memanggilnya dengan nama kecilnya karena kami baru saja dekat. Tapi sepertinya dia menungguku untuk memanggil namaku. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain karena malu, tapi ternyata dia malah mengikuti arah pandanganku dan berusaha untuk membuatku menatapnya meskipun aku selalu mencoba tak menatapnya. Dia benar-benar mempermainkanku! Baiklah, aku akan mencobanya.
"I-iya. Na-Naruto," kata pada akhirnya menyerah, meskipun aku gugup mengucapkan namanya tapi aku rasa dia mendengarnya. Wajahku pasti memerah karena malu.
"Hahaha...kau ini lucu sekali sih, Hinata."
'Eh?'
Bukan hanya tertawa saja, tetapi dia menyubit salah satu pipiku. Sungguh! Ini diluar dugaan! Meskipun cubitannya tidak terlalu sakit tapi mampu membuat perasaanku menjadi campur aduk dan wajahku memanas. Rasanya menyebalkan karena dia memperlakukan seperti anak kecil, tapi aku tak bisa membencinya. Entah kenapa jauh dilubuk hatiku, aku merasa senang.
Kami pun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda tadi. Sepanjang perjalanan sesekali aku menoleh ke arahnya, entah kenapa aku mulai nyaman berada di dekatnya. Aku pun sejenak berpikir, dia...orang yang baik, ternyata aku dulu salah menilainya.
n_n_n_n_n
'Drrrt...Drrrt...Drrrt...'
"Eh?"
Tiba-tiba aku tersentak kaget hingga dapat membuyarkan lamunanku ketika merasakan getaran ponselku di saku rok sekolahku. Aku pun meraih ponsel dari sakuku dan melihat siapa meneleponku. Aku mengerutkan keningku karena yang tertera dilayar ponselku hanya nomor yang tak kukenal. Tanpa berpikir lama aku pun menekan tombol hijau untuk menjawab telepon itu dan mendekatkanya ke telingaku.
"Moshi moshi," sapaku pada orang itu yang sebenarnya aku juga sedikit penasaran siapa yang meneleponku sekarang ini.
"Hinata-san?" kata orang itu memastikan bahwa orang yang dia telpon adalah aku. Suara yang sedang meneleponku adalah suara perempuan, suaranya pernah kudengar tapi aku tidak ingat siapa.
"Ya. Maaf, ini siapa?" tanyaku secara langsung karena aku tak bisa menebak siapa yang sekarang ini meneleponku.
"Ah, syukurlah kalau ini benar nomormu, Hinata-san. Ini aku, Ino. Yamanaka Ino, temanmu sewaktu SMP. Kau mengingatnya, kan?" katanya memberitahuku dan mencoba mengingatkanku padanya.
Aku berpikir sejenak untuk mengingat namanya, dan yang terlintas di pikiranku adalah seorang gadis yang berambut panjang dan berwarna pirang.
"Ah, iya. Aku ingat, Ino-san," kataku memberitahunya.
"Syukurlah, kalau begitu. Aku agak terkejut ketika mengetahui bahwa sekarang kau tidak tinggal di kediaman Hyuuga, Hinata-san. Kemarin aku ke sana tetapi mereka bilang sekarang kau tidak tinggal di sana dan untungnya mereka memberikan nomormu, Hinata-san," kata Ino bercerita bagaimana ia mendapatkan nomorku.
"Iya, Ino-san. Sejak kelas satu SMA aku sudah tidak tinggal di sana, karena sekolahku jauh dari rumah akhirnya aku tinggal di apartemen dekat sekolahku sekarang."
Tentu saja itu adalah kebohongan, aku tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada orang yang tak kukenal dengan dekat.
"Oh, begitu. Oh ya, Hinata-san, tujuanku meneleponmu karena ada hal yang harus kusampaikan padamu. Kami ingin mengadakan reuni dengan teman-teman sekelas, Hinata-san."
'Apa? Reuni?' Aku sangat terkejut mendengarnya. Reuni dengan teman-teman SMP? Ini sungguh sulit dipercaya.
"Aku berharap kita bisa berkumpul, Hinata-san. Lagipula kita sudah lama tak bertemu, apalagi akhirnya Sasuke-kun dan Naruto-kun juga bisa dihubungi. Karena itu, aku meminta bantuanmu, Hinata-san. Kau kan ketua kelas kami. Jadi, maukah kau juga ikut membantuku, Hinata-san?"
Ya Tuhan...jantungku langsung berdetak kencang ketika nama Naruto disebut oleh Ino. Aku tak menyangka bahwa hal yang seperti ini juga bisa terjadi. Bukankah itu berarti aku bisa bertemu dengan Naruto jika reuni kelas itu diadakan? Apakah dia akan datang jika reuni kelas itu diadakan?
"Hinata-san? Bagaimana?"
Pertanyaan dari Ino langsung menyadarkanku, dia masih mencoba meminta pendapatku. Bagaimana aku bisa menolak jika nantinya dengan acara itu aku bisa bertemu dengan Naruto lagi dan memastikan suatu hal yang selalu menggangguku beberapa tahun ini?
"Iya, Ino-san. Aku akan membantumu," jawabku dengan yakin.
"Waaah...terima kasih, Hinata-san. Senang mendengarnya, untuk selanjutnya aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa," kata Ino dengan nada yang senang setelah mendengar jawabanku.
"Iya, sampai jumpa, Ino-san."
Setelah aku mengatakan itu, Ino-san langsung menutup telponnya. Aku pun tersenyum dan masih memandang teleponku. Masih belum percaya apa kudengar barusan. Rasanya aku ingin menangis saat mengetahui bahwa aku akan bertemu dengan Naruto, tapi aku masih mencoba menahannya meskipun dadaku terasa sesak.
Aku pun mengalihkan pandangan ke arah jendela, ternyata hujan sudah mulai reda, hanya ada hujan rintik-rintik yang masih setia turun. Aku menerawang ke luar jendela, apa yang akan terjadi nanti setelah aku bertemu dengan Naruto? Apakah ia masih mengingatku? Apa yang harus kukatakan jika aku bertemu dengannya? Apakah aku bisa bersikap seperti biasanya? Apakah aku bisa memastikan tentang tulisan yang ia tulis di bukuku? Sungguh! aku benar-benar tak tahu, tapi aku sangat penasaran. Hanya bisa berharap kejadian baiklah yang akan terjadi jika kami benar-benar bertemu.
.
.
To Be Continue
A/N : Sepertinya chapter ini agak pendek dari sebelumnya. Gomen minna-san baru bisa update sekarang. Bagaimana dengan chapter ini? Beri tanggapan kalian di kotak review ya? Arigatou buat minna-san yang sudah membaca dan bahkan mereview fanfic ini. Saya berusaha untuk melanjutkan fanfic ini.
Yosh! Saatnya membalas review yang khusus tidak login, yang login cek pm ya? :D
Meriika-chan males login XDv: hahaha... arigatou, kalau ceritanya keren. Iya, pasyi mereka bakalan ketemu kok. hehe... Waaah~~ benarkah? kebetulan sekali. Hahaha... semoga aja gak sama persis. Hehe... tapi sankyuu udah RnR~~ ^^
Mitsu Rui: hehehe... iya, ini udah lanjut kak. iya, pasti soalnya chara favorit sih.. XD Hehe... iya, nanti konflik mereka bakalan dijelaskan entah chapter berapa. hehe... Okey kak, ganbatte juga! Sankyuu udah RnR~ ^^
Rikudou: Hehehe... iya, ini udah update. Sankyuu udah RnR~ ^^
bakaguro: hahaha... sankyuu udah RnR~ ^^
Guest: Hehe... ini udah update, gomen baru bisa update. Sankyuu~ udah RnR~ ^^
Etto...bingung mau ngomong apa lagi. Hehe... Mungkin cerita ini pasaran, tapi saya mencoba untuk menuangkan cerita ini dengan versi saya sendiri. Lagipula sebenarnya cerita ini ada beberpa bagian yang diambil dari kisah pribadi sih... #uhuk #curcol Hahaha... #abaikan
Berharap minna-san tetap suka dan masih berkenan mereview fanfic ini. Hehe... Arigatou gozaimasu~~ ^^
Special thanks to: Na Fourthok'og, Ayumu Hasegawa, Natsuya32, Fanlhewandh Hyuuzumaki, Meriika-chan males login XDv, Mitsu Rui, Rikudou, bakaguro, Guest, tika thequin.
Maaf jika ada kesalahan atas penyebutan nama karena saya menggunakan metode 'Copas' XD
Salam NARUHINA Lovers~~ XDD
