maFlashback

n_n_n_n_n

Aku tak menyangka, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Naruto bahwa jika aku sering tersenyum dan bersikap ramah, maka aku akan mendapatkan teman. Akhir-akhir ini, teman-teman di kelasku mulai sering mengajakku bicara, makan siang bersama bahkan mengajak pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan saat pulang sekolah. Ini sungguh luar biasa, dan semua itu berkat Naruto. Aku sangat berterima kasih dan kagum padanya, karena dia selalu membuat suasana kelas menjadi kompak hingga membuat pekerjaanku sebagai ketua kelas menjadi lebih mudah. Aku benar-benar senang karena semua itu membuat kami menjadi dekat.

"Naruto, nilaimu ini benar-benar buruk sekali, sih?"

'Eh?'

Aku langsung menghentikan langkahku ketika aku melewati ruang guru, karena aku mendengar nama Naruto disebut, yang kemungkinan disebut oleh Kakashi-sensei. Entah kenapa akhir-akhir ini Naruto selalu mengganggu pikiranku. Aku jadi penasaran apa yang sedang terjadi pada Naruto, karena itu aku melangkahkan kakiku untuk mendekati ruang guru yang saat ini pintunya sedang terbuka sehingga aku bisa melihat Naruto dan Kakashi-sensei, dan tentunya aku mendengarkannya secara diam-diam.

"Mau bagaimana lagi, pelajaran bahasa Inggris adalah kelemahanku, Sensei," kata Naruto yang terdengar seperti...memelas?

Aku sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan Naruto barusan. Padahal, yang kutahu dia selalu mendapatkan nilai baik pada pelajaran apapun, tetapi yang kudengar dari Sensei sekarang adalah nilai bahasa Inggris Naruto mendapatkan nilai yang buruk. Ternyata...dia memiliki kelemahan juga.

"Meskipun begitu kau harus tetap berusaha, Naruto. Jika nilai bahasa Inggrismu tetap seperti ini, liburan musim panas nanti kau akan mengikuti pelajaran tambahan."

"Apa?! Aku tak mau, Sensei! Aku tak mau liburan berhargaku akan tergantikan dengan pelajaran tambahan! Itu hal yang mengerikan! Pasti sangat menyebalkan saat melihat semua orang liburan sedangkan aku terjebak di sekolah karena pelajaran tambahan! Aku tak mau, Sensei!" kata Naruto yang terdengar heboh dan berlebihan setelah mendengar pemberitahuan dari Sensei. Memang seperti itulah Naruto, hingga dapat membuatku tertawa kecil bahkan Sensei pun juga ikut tertawa mendengarnya.

"Hahaha... jika kau tak mau, maka untuk tes perbaikan selanjutnya kau harus mendapatkan nilai 75, Naruto. Setelah itu kau bisa menikmati liburan musim panasmu dengan puas tanpa pelajaran tambahan tentunya. Benar kan, Hyuuga?"

"Eh?"

Aku langsung tersentak kaget ketika Sensei menyebutkan namaku. Jantungku langsung berdegup kencang ketika Sensei telah menyadari kehadiranku. Rasanya memalukan karena harus ketahuan mendengar pembicaraan mereka, tapi aku tak bisa melarikan diri lagi, karena itu mau tak mau aku menunjukkan diri kepada mereka dan sekilas menatap ke arah Naruto. Dia...agak terkejut saat melihatku.

"I-iya, Sensei," jawabku gugup menanggapi perkataan Sensei yang sebelumnya membenarkan perkataanya kepadaku. Aku memeluk erat buku yang kubawa untuk melampiaskan kegugupanku.

"Ah, kebetulan sekali. Naruto, kau bisa meminta bantuan Hyuuga kalau kau mau. Dia mendapatkan nilai yang sempurna dipelajaran bahasa Inggrisnya," kata Sensei memberikan sebuah informasi pada Naruto, dan informasi dari Sensei membuatku sangat terkejut. Aku tak menyangka bahwa aku akan dilibatkan ke dalam masalah Naruto.

"Waaah...benarkah? Itu ide yang bagus, Sensei! Ketua, kau mau membantuku, kan? Ayolah...ini menyangkut hidup dan matiku. Mau ya, Ketua? You're my only hope, Ketua!"

"Hahaha...kau berlebihan, Naruto," komentar Kakashi-sensei sembari mendata sesuatu.

"Biar saja! Mau ya, Ketua?"

Ya Tuhan...aku tak menyangka bahwa Naruto akan merengek dan mengeluarkan jurus memelasnya padaku. Sungguh! Jantungku langsung berdegup kencang dan wajahku memanas karena dia memegang kedua lenganku dan membungkukkan badannya di depanku.

Bagaimana aku bisa menolak jika dia melakukan hal itu? Lagipula selama ini dia telah membantuku, aku tak bisa mengabaikan permintaannya begitu saja. Sebenarnya, tanpa dia memohon seperti itu pasti aku akan membantunya untuk membalas kebaikannya selama ini padaku.

"Ba-baiklah," jawabku pada akhirnya. Demi Naruto, aku akan melakukan yang terbaik.

Tiba-tiba saja Naruto mulai mendekatkan tubuhnya ketika Kakashi-sensei mulai meninggalkan kami.

"Oh ya, Hinata. Ini rahasia kita yang kedua, ya?" bisiknya pelan di telingaku.

"Ke-kedua?" Tanyaku kebingungan.`

Tiba-tiba perasaanku menjadi kacau, tubuhku sedikit bergetar dan aku tak bisa berpikir jelas karena aku bisa merasakan hembusan napas Naruto menerpa telingaku dengan lembut.

"Pertama, payung yang kita ambil dan yang kedua, nilai pelajaran bahasa Inggrisku," katanya memperjelas perkataannya hingga membuatku mengerti.

Aku pun mengangguk pelan karena aku tak dapat mengatakan apapun. Dia pun akhirnya menegakkan badanya dan tersenyum lembut padaku. Senyuman yang dia berikan padaku benar-benar membuat hatiku menghangat. Aku...ingin terus melihat dia tersenyum seperti itu. Itulah harapan kecilku saat ini.

n_n_n_n_n

.

.

~Dear Memories~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : Airashii-chan desu
Warning : Hinata's POV, O
OC, Typo's masih selalu bertebaran, EYD sangat berantakan, Ide pasaran (sangat), dll
Pair : NaruHina

Jika ada kesamaan ide cerita dengan yang lain harap dimaklumi tapi, 100% ide cerita ini asli dari apa yang ada di pikiranku. XD

~HAPPY READING~

.

.

"Waaah...nilaimu bahasa Inggris lagi-lagi yang paling tinggi ya, Hinata?" kata Shion tiba-tiba menyambung. Aku pun menoleh ke arahnya dan ternyata dia sudah duduk di sebelahku dan meletakkan kepalanya di atas meja. Aku agak terkejut karena dia menyusulku ke perpustakaan, padahal dia tidak begitu menyukai buku. Sepertinya dia butuh teman untuk bicara, karena dia kini terlihat seperti orang yang sedang frustasi.

"Haaah...lagi-lagi aku akan ikut tes perbaikan. Kenapa sih harus ada pelajaran bahasa Inggris? Menyebalkan!" katanya lagi dengan kesal.

Ah, jadi itu alasannya kenapa dia terlihat kacau seperti ini? Aku pun mengabaikan buku yang sedari tadi kubaca dan menghadap ke arah Shion. Aku jadi tertawa mendengar pertanyaan dari Shion, karena pertanyaan darinya mengingatkanku pada Naruto. Dia juga...pernah mempertanyakan hal itu kepadaku.

"Hahaha...karena bahasa Inggris adalah bahasa yang universal, Shion. Makanya dianggap penting. Jadi, mau tak mau kita harus mempelajarinya. Hal itu akan mempermudahkan kita untuk berkomunikasi ketika kita akan pergi ke luar negeri," jawabku dengan menggunakan kata-kata yang klise dan terkesan umum sembari tersenyum, tentunya jawaban itu juga pernah kuberikan pada Naruto.

"Mudah bagimu, tidak bagiku. Haaah...kalau sesulit itu aku jadi tak ingin pergi ke luar negeri," kata Shion yang benar-benar di luar dugaan. Aku hanya bisa menggeleng pelan dan tertawa kecil mendengar perkataan Shion, meskipun aku tak tahu apa yang membuat kata-katanya menjadi lucu, aku tak bisa mendeskripsikannya.

Kulihat sekarang Shion mulai bermain dengan ponselnya, mungkin dia sedang membalas pesan dari teman-teman kencannya. Aku pun mencoba untuk tak mengganggunya, meskipun dia sering sekali menggangguku dan melanjutkan kegiatan yang tadi sempat kuabaikan, yaitu membaca buku novelku.

"Hinata..." sapaan Shion tiba-tiba terdengar di telingaku dengan menyebutkan namaku.

"Hm?" gumamku pelan menanggapi sapaan Shion, tapi aku tak mengalihkan pandanganku dari buku novelku.

"Toneri meminta nomor ponselmu padaku, bagaimana?"

Pertanyaan dari Shion membuatku terdiam beberapa saat, entah sudah beberapa kali aku mendengar pertanyaan dari Shion tentang teman-temannya yang ingin meminta nomor ponselku. Tentu saja Shion tak berani memberikan nomor ponselku kepada mereka sebelum meminta izin dariku. Aku tak tahu harus menjawab apa, hanya bisa terdiam dan mencoba berpikir sejenak.

"Aku tidak kenal padanya, Shion," ujarku yang masih mencoba mencari alasan agar nomor ponselku tidak diberikan pada teman Shion itu. Jujur saja, aku merasa keberatan jika yang meminta nomorku adalah teman Shion yang menurutku mereka hanya ingin bermain-main saja.

"Astaga! Tentu saja kau tak mengenalnya, karena itu dia meminta nomormu agar kalian bisa saling kenal, Hinata. Dia temanku pada acara Goukon yang kuikuti beberapa hari yang lalu. Saat dia lihat fotomu, dia langsung ingin mengenalmu dan terus-terusan meminta nomormu padaku," kata Shion yang menjelaskan siapa Toneri itu dan dia terlihat lelah saat menjelaskan bahwa dia seperti diteror seseorang. Aku langsung tertawa kecil, namun aku tetap membaca novelku.

Tunggu? Tiba-tiba aku teringat kalimat Shion yang membuatku sangat terkejut mendengarnya. Aku langsung menatap ke arah Shion dengan tatapan yang tak percaya.

"Dia lihat fotoku? Kau memperlihatkan fotoku padanya?" tanyaku memastikan apa yang sempat terlintas di pikiranku ini benar, bahwa tersangka utama yang memperlihatkan fotoku adalah Shion. Karena dia satu-satunya sahabatku dan hanya dia yang memiliki fotoku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Shion malah tertawa kecil yang mungkin karena melihat reaksiku. Sungguh! Rasanya sedikit menyebalkan!

"Itu tidak lucu, Shion!" kataku dengan kesal karena Shion masih saja tertawa.

"Hahaha...menurutku lucu, Hinata. Karena kau terlambat menyadarinya dan menunjukkan ekspresi yang lucu. Hahaha..."

Kekesalanku semakin bertambah dan mencoba mengabaikan Shion yang masih saja tertawa. Rasanya percuma jika masih ingin memastikannya karena dari sikap Shion itu sudah menunjukkan kebenarannya bahwa Shion yang memperlihatkan fotoku pada temannya itu. Aku benar-benar tak habis pikir dengan kejahilan Shion ini.

Hanya selang beberapa menit kulihat dia sudah mulai tenang dan aku masih tak ingin mengeluarkan kata-kata padanya. Dia pun menyadarinya hingga akhirnya ia menatapku dan tersenyum manis padaku yang seakan-akan tak terjadi apa-apa. Menyebalkan, bukan?

"Aku hanya ingin membuktikan bahwa kau itu juga banyak disukai oleh laki-laki, Hinata. Buktinya, hanya memperlihatkan fotomu saja, Toneri langsung tertarik padamu. Kurasa dia laki-laki yang baik, dia juga tampan dan kata temannya sih dia juga populer di sekolahnya. Kenapa tidak kau coba saja? Siapa tahu dia cocok denganmu," kata Shion dengan penuh semangat memberitahuku, dan juga memperjelas alasannya kenapa dia memperlihatkan fotoku pada temannya yang bernama Toneri itu.

Ya Tuhan...aku sangat heran, Shion masih saja tidak bosan-bosannya ingin memperkenalkanku dengan salah satu temannya agar aku segera memiliki kekasih sampai melakukan hal itu. Aku tahu dia melakukan hal itu karena dia peduli padaku, tapi cara yang dilakukannya itu salah dan aku sudah menjelaskannya berkali-kali tapi tetap saja dia tak mengerti. Aku sampai lelah dibuatnya.

"Aku tak ingin coba-coba, Shion. Seharusnya dia yang meminta langsung padaku bukan padamu jika ia benar-benar tertarik padaku. Lagipula, katamu dia populer. Aku tak mau berurusan dengan siswa populer, aku tak mau berakhir seperti kejadian di saat aku SMP dulu. Itu akan mengingatkanku pada seseorang. Jadi, jangan kau berikan nomor ponselku padanya, Shion." kataku sedikit tegas pada Shion agar dia tak memberikan nomor ponselku pada temannya itu sembari membereskan buku-buku dan peralatan tulisku yang ada di meja dan memasukkannya ke dalam tasku.

Aku rasa aku harus pulang karena hari sudah mulai gelap, dan juga alasan lainnya adalah aku harus melarikan diri sebelum Shion melancarkan aksinya atau lebih tepatnya menceramahiku tentang sikapku yang selalu mengabaikan laki-laki yang ingin dekat denganku.

"Ya Tuhan...Hinata...kau masih mengkhawatirkan hal itu? Mereka itu orang yang berbeda," kata Shion yang masih saja mencoba mempengaruhiku.

"Meskipun berbeda, tapi tetap saja aku tak mau terjebak di lingkaran yang sama untuk kedua kalinya." Dan aku masih mempertahankan argumentasiku untuk melawan pengaruh dari Shion.

"Ya Tuhan...apa sih yang orang itu lakukan hingga membuatmu seperti ini, Hinata?" tanya Shion dengan rasa penasaran yang tinggi.

Sejenak aku menghentikan kegiatanku karena pertanyaan dari Shion. Aku sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Shion, tapi aku bisa mengendalikan emosiku kembali dan melanjutkan kegiatan yang tadi tertunda.

"Tidak ada. Dia tak melakukan hal buruk apapun padaku, Shion," jawabku dengan tenang sembari berdiri dan mulai melangkahkan kakiku untuk pergi dari perpustakaan.

"Hei! Kau mau ke mana, Hinata? Kita belum selesai bicara," tanya Shion yang ikut berdiri saat melihatku meninggalkannya.

"Aku mau pulang, Shion. Hari sudah gelap dan sekarang aku telah menyelesaikan pembicaraan kita ini dengan sepihak. Sampai besok," ujarku tak peduli sembari melambaikan tanganku tanpa menoleh ke belakang sampai aku keluar dari perpustakaan.

Akhirnya aku bisa terbebas dengan topik pembicaraan yang tak penting itu dengan Shion. Aku yakin saat ini Shion pasti sangat kesal dengan sikapku yang melarikan diri seperti ini, tapi hanya itu yang bisa kulakukan agar bisa terlepas dari situasi itu. Meskipun begitu aku tak merasa cemas, karena aku yakin, besok Shion akan melupakan kejadian ini dan dia tetap berbicara padaku.

Aku sangat senang dengan kenyataan itu, seperti yang pernah Naruto katakan bahwa aku pasti akan menemukan sahabat yang akan menerimaku dan mengerti aku apa adanya, dan sosok sahabat itu adalah Shion. Aku ingin sekali memberitahu Naruto tentang hal ini, tapi kurasa tak mungkin. Meskipun nanti kami akan bertemu, aku tak yakin kami bisa dekat seperti dulu.

Tiba-tiba dadaku terasa sesak saat mengingat pertanyaan dari Shion yang menganggap bahwa Naruto dulu telah melakukan hal yang buruk padaku. Sebenarnya, itu bukan salah Naruto, aku tak bisa menyalahkan kejadian sewaktu SMP itu pada Naruto. Itu salahku, karena menyukai Naruto, siswa populer di sekolah kami dan membuatnya terus dekat denganku. Tanpa terasa air mataku mengalir begitu saja saat mengingat kenangan itu.

Flashback

n_n_n_n_n

Aku tersenyum ketika melihat Naruto yang masih duduk di bangku yang ada di dekat jendela ketika aku memasuki kelas. Aku tak percaya ternyata dia masih menungguku meskipun pelajaran telah berakhir satu jam yang lalu. Aku melangkahkan kakiku ke arah tempatnya duduk, dan dia menyadarinya hingga ia menoleh ke arahku yang awalnya menatap luar jendela kelas dan tersenyum lembut padaku. Entah kenapa seketika jantungku berdegup kencang.

"Go-gomen, pasti kau me-menunggu lama," kataku padanya setelah aku mengambil tempat duduk di depannya. Dan dia masih tersenyum melihatku.

"Tidak apa-apa, Hinata. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku jadi menyita waktumu, karena harus mengajariku pelajaran bahasa Inggris," kata Naruto yang suaranya terdengar begitu nyaring di telingaku.

"I-itu tidak masalah. Ini, a-aku sudah membuat catatan untukmu."

Aku pun memberikan sebuah buku pada Naruto. Kulihat dia sedikit terkejut, tetapi akhirnya dia mengambilnya dan melihatnya dengan teliti. Selagi tatapannya fokus mengarah pada buku yang telah kuberi, aku memanfaatkannya untuk memerhatikannya dengan seksama.

Bola matanya yang indah itu terlihat berbinar karena melihat dengan serius, rambut poninya yang agak panjang dan hampir menutupi matanya itu terkadang bergerak pelan karena tertiup angin yang berasal dari jendela kelas, dan juga sesekali dia tersenyum entah karena apa. Jika dilihat dari dekat Naruto memanglah pemuda yang tampan. Sungguh! Itu membuatku sulit untuk bernapas, dan jantungku semakin berdebar kencang hingga membuatku terasa sesak.

Aku tak bisa memandanginya terlalu lama, akhirnya aku menundukkan kepalaku dan aku mencengkeram rok seragamku untuk melampiaskan perasaan asing ini yang terasa tidak nyaman untukku.

"Waaah...ini hebat, Hinata! Jadi, seperti ini caramu belajar? Pantas saja nilaimu bagus."

"Eh?"

Aku sedikit terkejut karena dengan tiba-tiba Naruto berbicara padaku. Dengan spontan aku langsung menatapnya dan masih seperti sebelumnya, senyumannya masih mengembang di wajahnya. Dia terlihat senang dengan hasil kerjaku hingga membuat wajahku memanas, dan mungkin memerah karena malu dengan apa yang telah diucapkan Naruto. Aku hanya bisa mengangguk untuk menanggapinya.

"Kalau begini aku jadi mudah mengerti. Apalagi terdapat pesan-pesan bergambar di catatan ini. Ternyata, kamu pandai menggambar juga, ya? Hahaha..."

Tiba-tiba hatiku terasa hangat saat melihat Naruto tertawa wajar seperti itu. Jujur saja, aku sangat malu dengan kata-katanya yang menyerupai pujian itu.

"Te-terima kasih. Ano...jika tidak ada yang di-dimengerti kau bisa tanya pa-padaku. Ah, i-ini juga untukmu agar bisa dengan cepat mengahapal," kataku sembari menyerahkan beberapa lembaran kecil yang dijadikan satu. Dia pun menerimanya dan lagi-lagi melihatnya dengan tatapan serius. Aku yang sedari tadi memerhatikannya hanya bisa tersenyum melihat Naruto menampilkan ekspresi yang berbeda-beda.

"Ya Tuhan...Kau sampai melakukan hal ini untukku? Ini benar-benar hebat, Hinata! Kau memang yang terbaik! Aku yakin, dengan begini aku akan terhindar dari pelajaran tambahan yang mengerikan itu, Hinata!"

Aku...sungguh tak tahu harus menanggapi apa tentang kehebohan Naruto yang ditunjukkan padaku itu. Aku tak tahu, tapi aku merasa bangga pada diriku sendiri karena bisa berguna untuk orang lain. Aku benar-benar bersyukur bisa melihat orang lain senang karena apa yang aku lakukan. Padahal, sebelumnya apa yang kulakukan selalu tak ternilai bahkan tak dihargai, tapi melihat kenyataan ini hanya Narutolah yang mampu menghapuskan rasa sakit dan kecewa, karena dia...mampu membuat apa yang kulakukan menjadi hal yang tak sia-sia dan aku jadi merasa dibutuhkan.

"Syu-syukurlah, kalau i-itu membuat Na-Naruto menjadi le-lebih mudah," kataku dengan susah payah karena harus melawan perasaan aneh yang menyerangku hingga membuatku menjadi sulit bicara dan pastinya aku mencoba untuk tersenyum lembut padanya.

'Eh?' Aku sangat terkejut dengan perlakuan Naruto yang dengan tiba-tiba mengusap lembut kepalaku. Aku masih belum terbiasa dengan perlakuannya yang menurutku akhir-akhir ini menjadi kebiasaannya jika bersama denganku. Aku langsung menunduk untuk menyembunyikan wajah memerahku karena malu, sedangkan Naruto malah tertawa kecil melihat tingkahku. Meskipun dia menyebalkan tapi aku merasa nyaman di dekatnya, karena itu aku ingin selalu bersama dengannya karena dia bisa membuatku menjadi diriku sendiri tanpa adanya aturan yang biasanya selalu mengikatku.

.

.

~Dear Memories~

.

.

"Nee, Hinata. Lihatlah! Nilaiku lumayan bagus."

'Eh?'

Aku sangat terkejut karena dengan tiba-tiba Naruto datang menghampiriku sembari memperlihatkan lembaran kertas tepat di depan wajahku hingga aku tak bisa melihat sosoknya. Mau tak mau aku jadi mengambil lembaran kertas yang ditunjukkannya padaku dan melihatnya. Ternyata lembaran kertas itu adalah soal ujian bahasa Inggris yang telah dikerjakan Naruto, dan yang membuatku tak menyangka adalah nilai yang tertera di kertas itu.

Aku langsung mengalihkan perhatianku ke arah wajah Naruto yang kini menampilkan senyuman yang penuh dengan kebahagiaan karena ia telah mendapat nilai 79 dan itu artinya dia terbebas dari pelajaran tambahan di liburan musim panas nanti. Aku yang melihatnya bahagia jadi ikut terbawa suasana sehingga aku pun juga ikut tersenyum, karena aku juga ikut terlibat dalam kebahagiaan Naruto.

"O-omedetou," kataku dengan tulus memberikan selamat untuknya sembari menyerahkan lembaran kertas ujiannya padanya, dan ia pun menerimanya. Aku benar-benar bangga pada Naruto.

"Sankyuu, Hinata. Aku benar-benar tak menyangka mendapatkan nilai yang lumayan bagus seperti ini. Seumur hidupku ini nilai tertinggi pelajaran bahasa Inggrisku, Hinata. Hahaha..." katanya memberitahuku dengan diiringi tawanya yang wajar yang selalu ditunjukkannya padaku. Dia selalu saja bisa membuat orang yang ada di sekitarnya tertarik untuk memperhatikannya seperti sekarang ini hingga beberapa siswi mulai berjalan menghampiri kami.

"Naruto, ada apa sih? Kau tampak bahagia sekali," sapa salah satu siswi yang menghampiri kami. Aku mengenal siswi berambut pirang itu, namanya adalah Ino-san.

"Iya, beritahu kami juga dong," tambah siswi yang lain yang juga penasaran karena melihat Naruto tertawa bahagia. Namun, Naruto tetap saja tertawa kecil dan mengabaikan mereka yang saat ini sedang bertanya padanya.

"Nee, Ketua. Apa sih yang kalian bicarakan hingga membuat Naruto bahagia seperti itu?"

"Eh?"

Aku agak terkejut karena dengan tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya padaku. Aku bingung harus menjawab apa, karena mereka jadi memandangku dengan seksama yang seakan-akan aku adalah pelaku utama yang membuat Naruto menjadi seperti itu. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena ini adalah hal yang sudah menjadi rahasia antara aku dan Naruto, tapi Naruto malah diam saja tidak menanggapi mereka dan aku menjadi tersudutkan.

"Kalian ini, jangan menakuti Ketua seperti itu dong." Akhirnya Naruto bersuara juga hingga membuat kami menoleh ke arah Naruto dengan tatapan terkejut karena perkataan Naruto barusan meskipun nada bicaranya seperti nada sedang bercanda.

"Eh? Benarkah? Aku tidak bermaksud seperti itu kok, Ketua," kata Ino-san yang sedikit gugup karena mempercayai kata-kata Naruto dan mencoba menjelaskannya padaku bahwa dia tak bermaksud seperti apa yang dikatakan oleh Naruto.

"I-iya, aku mengerti."

Aku mencoba tersenyum untuk menunjukkan Ino-san bahwa aku tidak apa-apa walaupun sebelumnya aku memang sedikit takut karena merasa dipojokkan dan lagi-lagi Naruto tahu apa sedang aku rasakan. Kenapa bisa seperti itu? Aku benar-benar tak percaya dengan kepekaan Naruto.

"Soalnya Naruto-kun tidak memberitahu kami sih, makanya aku tanya Ketua," kata salah satu siswi membela dirinya sendiri dan nadanya terdengar seperti kesal pada Naruto sedangkan Naruto hanya tertawa menanggapi perkataan siswi barusan.

Jujur saja, sebenarnya aku ingin pergi dan tak ingin ikut terlibat dalam situasi di mana ketika Naruto bersama dengan gadis-gadis seperti ini. Aku tak tahu kenapa, aku merasa tidak begitu nyaman melihat Naruto sekarang ini bersama dengan mereka, dan aku tak tahu kenapa aku juga merasa kesal, tapi karena apa? Aku benar-benar tak mengerti.

"Kalian benar-benar ingin tahu, ya?" tanya Naruto yang kulihat sedikit penasaran sembari tertawa kecil ketika melihat tingkah para siswi itu dengan antusiasnya mengangguk dan menatap Naruto dengan penuh harap.

Aku juga penasaran dengan Naruto, apakah dia akan benar-benar mengatakan tentang tes perbaikannya pada mereka? Padahal dia sudah mengatakan padaku bahwa ini rahasia kami berdua, dan aku dilarang memberitahukannya pada siapa pun, tapi sepertinya dia yang akan memberitahukannya pada mereka. Rasanya benar-benar tak adil. Eh? Kenapa aku jadi berpikiran seperti itu? Dan kenapa aku juga merasa kesal? Ini benar-benar aneh. Ada apa dengan diriku?

"Ini, lihat! Aku dapat dua kupon gratis makan ramen di kedai Ichiraku," kata Naruto dengan nada bangga dan memperlihatkan kupon ramen yang didapatkannya itu pada kami hingga membuatku sedikit terkejut dengan apa yang dikatakannya barusan. Ternyata bukan tentang tes perbaikannya, dan aku merasa lega mendengarnya.

"Waaah...kau beruntung sekali Naruto-kun. Lalu kupon yang satunya kau berikan pada siapa?"

Lagi-lagi pertanyaan salah satu dari mereka membuatku sedikit terkejut. Bagaimana dia bisa dengan mudahnya bertanya seperti itu? Jika itu aku, aku tak mungkin berani mengatakannya pada Naruto, karena hal itu adalah urusan Naruto ingin memberikannya pada siapa. Meskipun aku juga sedikit penasaran.

"Hmm...Aku ingin memberikannya pada Ketua."

"Eh?"

Aku benar-benar terkejut dengan jawaban dari Naruto yang dengan santainya mengatakan hal itu. Aku sama sekali tak menyangka bahwa kuponnya itu akan diberikan padaku. Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya, tapi dia malah tersenyum lembut menanggapinya hingga membuat jantungku langsung berdebar kencang. Bukan hanya itu saja, para siswi yang bersama kami juga menatapnya tak percaya, tetapi setelahnya menatapku dengan pandangan yang tak kuketahui apa maknanya tapi aku merasa tak nyaman.

"Ke-kenapa aku?" tanyaku pada akhirnya. Aku benar-benar tak mengerti dan lagi-lagi aku menjadi pusat perhatian mereka hanya karena perkataan Naruto. Jujur saja, aku merasa tak senang akan hal itu.

"Bukannya Ketua sudah membantuku? Karena itu, untuk membalasnya aku ingin memberikannya pada Ketua," jawab Naruto dengan santainya tanpa mempedulikan para siswi yang terlihat mulai penasaran dengan apa yang telah kubantu untuknya.

"Ketua membantumu apa, Naruto-kun?"

Sudah kuduga pasti salah satu dari mereka akan menanyakannya, dia terlihat tak peduli dengan pertanyaan mereka dan masih memandangku dengan senyuman lembutnya. Sungguh! Aku tak kuat jika melihatnya terus hingga akhirnya aku mengalihkan pandanganku dan memikirkan apa jawaban yang akan aku berikan pada Naruto.

"Kau pasti berbuat ulah lagi ya, Naruto? Dan Kakashi-sensei menghukummu hingga akhirnya Ketua kelas yang harus campur tangan untuk membantumu. Hahaha..."

Tiba-tiba saja suara Kiba-san menyambung hingga membuat perhatian kami teralihkan untuk menatap Kiba-san yang tertawa jahil kepada Naruto hingga membuat ekspresi Naruto berubah, dia terlihat kesal pada Kiba-san apalagi ditambah rasa penasaran para siswi yang saat ini pasti akan menanyakan sesuatu pada Naruto.

"Eh? Benarkah kau dihukum Kakashi-sensei, Naruto-kun? Kau melakukan hal apa?"

"Jangan sembarangan bicara, Kiba. Itu tidak benar kok. Sudahlah, jangan membahas hal ini lagi. Jadi, bagaimana, Ketua? Kuponnya hanya berlaku untuk hari ini lho?"

'Eh?' Aku masih tidak percaya bahwa Naruto dengan gigihnya masih ingin mengajakku, sebenarnya aku tidak keberatan jika harus pergi bersama Naruto, hanya saja ini terlalu mendadak dan ini pertama kalinya ada seorang pemuda yang mengajakku makan bersama sehingga aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, menerimanya atau menolaknya.

"Etto...tapi hari ini aku ada piket. Ja-jadi, sepertinya aku tidak bisa," kataku mencoba menolak dengan secara halus agar tidak membuat Naruto kecewa. Aku tidak bohong kalau aku ada piket, karena hari ini memang jadwal piketku jadi, aku tak mungkin meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabku meskipun sebenarnya aku benar-benar ingin pergi. Aku pernah mendengar bahwa kedai Ichiraku itu adalah kedai ramen yang paling enak di Konoha dan aku belum pernah ke sana.

"Aku akan menunggumu, Ketua. Lagipula, bukannya Ketua belum pernah makan ramen di kedai Ichiraku? Kau yakin tak ingin pergi ke sana?" tanya Naruto dengan santainya yang seakan-akan tidak menerima penolakan dariku. Ya Tuhan...bagaimana bisa Naruto membaca pikiranku lagi? Kenapa dia mudah sekali membuatku terpana akan kehebatannya itu? Kemampuan seperti apa yang dimiliki Naruto hingga ia selalu tahu dengan apa yang kupikirkan, atau mungkin yang dipikirkan oleh orang lain juga?

"Nee, Naruto-kun, jangan memaksa Ketua kalau ia tidak mau, bagaimana kalau kami saja yang menemanimu? Tanpa kupon pun kami dengan senang hati akan menemanimu," tawar salah satu siswi yang ternyata masih berada di sekitar kami sehingga membuatku terkejut dengan tawaran itu. Buaknnya menanggapi tawaran itu, Naruto masih saja menatapku dengan senyuman manisnya hingga membuatku terpaku sejenak.

Sungguh! Aku benar-benar tak bisa menolak jika Naruto masih saja menatapku dengan tatapan yang lembut seperti itu, dengan tatapannya itu seakan-akan menarikku dan menghipnotisku untuk mengikuti apa yang diinginkannya, dan membuatku luluh sehingga tanpa sadar aku menyetujui ajakannya. Lagi-lagi aku tak bisa menolak dan selalu kalah jika berurusan dengan Naruto.

"Ba-baiklah. A-aku akan menemanimu sebagai ba-balasan karena me-membantumu," kataku pada akhirnya memberi keputusan pada Naruto hingga membuat para siswi yang bersama kami memandangku dengan tatapan yang tak percaya karena telah menerima ajakan Naruto, tapi aku mencoba untuk mengabaikannya.

"Bagus!" kata Naruto dengan nada yang tegas setelah itu memandang ke arah siswi sembari berkata, "Jadi, karena Ketua sudah menerima ajakanku itu berarti aku akan pergi dengan Ketua, tapi terima kasih untuk tawarannya."

Lihat...Naruto benar-benar orang yang baik, kan? Bahkan dia masih saja berkata dengan sopan agar tidak menyakiti perasaan para siswi itu, karena telah menolak tawaran salah satu dari mereka bahkan sampai memberikan senyuman lembutnya hingga membuat mereka luluh sama seperti diriku dan membuat mereka tak merasa tersakiti meskipun aku yakin mereka iri padaku karena bisa pergi bersama dengan orang yang mereka kagumi.

Sebenarnya, jauh di dasar hatiku entah kenapa aku jadi tidak ingin melihat Naruto pergi dengan para siswi itu setelah mendengar tawaran mereka. Mungkin itu alasanku kenapa aku menerima ajakannya. Aku pun menatap ke arah Naruto yang masih berbicara dengan mereka dan tiba-tiba saja memikirkan beberapa hal tentang Naruto.

Tentang dia yang tahu aku membolos saat pelajaran, dia yang mengambil payung murid lain karena payungku juga diambil murid lain hingga mengantarkanku pulang, dia yang lemah dengan pelajaran bahasa Inggris hingga aku membantunya, dan...aku baru menyadari bahwa di saat kami berdua saja, dia memanggilku "Hinata". Aku tidak tahu apakah itu berarti sesuatu untuk Naruto, tetapi untukku aku merasa bahwa ini sesuatu yang spesial. Jantungku langsung berdegup kencang dan wajahku juga memanas saat memikirkan hal itu. Ada perasaan yang tak nyaman di dalam diriku dan aku menyadari bahwa hanya pada Naruto aku merasakan itu semua hingga membuatku yakin bahwa aku...mungkin telah jatuh cinta padanya.

n_n_n_n_n

Tanpa berpikir dua kali aku langsung memasuki sebuah kafe yang ada di jantung kota Konoha. Di kafe ini terlihat begitu banyak pengunjung hingga aku harus dengan teliti mengamati para pengunjung untuk menemukan orang yang telah menghubungiku agar aku ke tempat ini. Aku tersenyum simpul ketika di antara banyak pengunjung ini aku akhirnya menemukan beberapa sosok orang yang sedari tadi aku cari dan mulai melangkah ke arah tempat duduk mereka. Hanya melihat sekilas aku sudah hapal benar bahwa mereka adalah teman-temanku sewaktu SMP dulu.

"Ah, Hinata-san! Akhirnya kau datang juga," sapa salah satu dari mereka yang telah menyadari keberadaanku sembari tersenyum manis padaku. Aku benar-benar bersyukur, meskipun kami sudah lama tidak bertemu ternyata masih ada yang mengenalku. Karena sapaan dari Ino-san akhirnya yang lainnya jadi menoleh ke arahku ketika aku sudah berdiri tepat di samping mereka.

"Maaf, jika aku datang terlambat," kataku dengan perasaan bersalah karena membuat mereka menunggu sembari tersenyum lembut ke arah mereka. Aku mengamati mereka, dan mencoba mengingat nama mereka satu per satu. Ino-san, Sakura-san, Karin-san¸ dan Matsuri-san. Syukurlah, aku masih mengingat nama mereka dengan jelas.

"Tidak apa-apa, Ketua. Kami juga baru sampai kok. Silahkan duduk di sini, Ketua," kata Sakura-san dengan ramah dan menampilkan senyumannya yang sangat manis kepadaku sembari menarik kursi kosong yang ada di sebelahnya. Ah, dia sama sekali tak berubah, masih saja memanggilku Ketua meskipun aku sudah tak lagi menjadi ketua kelas mereka.

Dengan senang hati aku duduk di tempat yang telah disediakan Sakura-san dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Entah kenapa aku jadi merasa tak sabar menantikan pertemuan ini. Karena pertemuan ini akan membahas reuni yang akan diadakan untuk teman-teman sekelas kami sewaktu SMP dulu dan juga dari pertemuan inilah aku akan mendapatkan kabar tentang...Naruto. Jadi, bagaimana bisa aku melewatkannya?

.

.

To Be Continue

A/N: halloooo~ Minna-san~~ Lama tak jumpa~ #uhuuuuk

Hontou ni gomenasai baru bisa update sekarang!~ #bow Chapter ini lumayan agak panjang sih, untuk chapter selanjutnya kuusahakan juga panjang. n_n Bagaimana dengan chapter ini? Tidak membuat minna-san bingung, kan? Karena banyak flashbacknya. Berikan tanggapan kalian lewat kotak review jika ada uneg-uneg. Hehehe... Arigatou juga buat minna-san yang sudah menyempatkan untuk membaca n mereview fanfic ini. Review minna-san benar-benar membuat saya bersemangat untuk melanjutkan fanfic ini.

Yosh! Saatnya membalas review yang khusus tidak login, yang login cek pm ya? :D

yudi: sankyuu~ kalau udah suka. hehehe... hmm...kalau masalah perasaan Naruto kita liat aja nanti. hohoho... ukey ni udah dilanjut. Sankyuu udah RnR... ^^

Etto...karena sudah kuberi keterangan flashback semoga chapter ini tidak membingungkan. hehehe... Sekedar informasi Hinata dan Naruto sekarang ini (sma) masih belum bertemu. jadi, jika ada tokoh Naruto berarti itu flashback. Sekian... hehehe...

Arigatou minna-san~ yang sudah menyempatkan membaca, follow, favorite dan bahkan mereview. Berharap minna-san suka dan tetap berkenan untuk mereview fanfic ini , karena review minna-san menjadi sumber kekuatan saya #lebay #uhuuuuk hahaha...

Special thanks to: yudi, dan Fumiya Akemi-chan

Salam NARUHINA Lovers~~ XD