- Calon Suami -
Cast : Jongin Sehun dan keluarganya [di ff ini wkwk]
Genre: humor!
Disclaimer: sorry for typo and ooc, and thanks for respect to read, comment and not plagiarism J
Summary:
Diantara Baekhyun, Jongdae, dan Jongin siapa yang akan menjadi calon suami Sehun?/ "Mandilah! Kau sangat berkeringat! Setelah itu bergabunglah dengan kakakmu di taman belakang..."/ "Memangnya ada tamu bu?"/"Calon menantu ibu..."/
Prev:
"Why? Why Jongin? Why don't you ever see me like— a woman heum? Why? I— I am not just your enemy, your neighbour, your classmate, your childhood, aight?"
"Se-sehun... uljima..."
"Why Jongin? Why? Why don't you ever look at me? –hiks –hiks And why are you so fine to me often? Heum? Why were you buying me a ticket of GD's concert while you— you wanted to buy Chelsea's jersey heum? Hiks— Hiks—"
"Se-sehun..."
.
.
Chapter 7
.
.
Kiss.
Sehun menempelkan bibirnya di sudut bibir Jongin. Lama. Jongin tersentak. Dia tak membalas maupun menolak ciuman Sehun. Jongin rasa ciuman ini benar-benar basah. Yeah, basah karena Sehun yang menangis.
Lima menit kemudian Sehun melepaskan ciumannya. Sehun hanya menundukkan kepalanya. Jongin juga masih bergeming. Mungkin terkejut dengan langkah Sehun yang menciumnya. Dirasa jongin tak meresponnya, Sehun memutuskan pergi dari ruangan itu.
Jongin, tahanlah aku!
Jika Jongin tak menahannya kali ini, Sehun akan menyerah saja. Dikiranya jongin juga menyukainya. Tapi? For God Sake! Tadi jongin tak menolak saat diciumnya! Apa Sehun yang salah mengira?
Sret!
Sehun hampir saja jatuh saat lengannya ditarik oleh Jongin. Bukan hampir sih, sudah jatuh malah. Iya, jatuh ke pelukan Jongin. Lelaki tan itu pun mendekap Sehun. Jika tadi Jongin yang dibuat kaget oleh Sehun, sekarang posisinya terbalik. Kini Sehun membulatkan matanya.
"Sehun, kenapa kau begini? Kenapa kau mempermainkan aku?"
"A-apa maksudmu?!"
Jongin menuntun tubuh Sehun hingga mereka berdua sekarang menghadap ke arah cermin di sudut ruangan.
"Sehun, kau ini rakus atau apa?"
"..."
"See. Kau itu calon istri hyung-ku. Berani-beraninya kau mencium adiknya. Itu sangat... egois sekali, Wu Sehun."
"J-Jong— k-kau menyebalkan!"
Dengan itu, Sehun meninggalkan Jongin di ruangan vitting itu.
.
.
"Hiks— Jongin berengsek! Hiks— hiks— dasar tukang kalengan tidak berguna! Hiks— hiks— dia pikir aku egois hiks— lalu hiks— dia apa?! Tukang kalengan tidak peka!"
Sehun kini sudah pulang ke rumahnya. Yeah, meninggalkan semua orang yang ada di Boutique. Sedari tadi Sehun hanya menangis di dalam kamarnya. Perkataan Jongin beberapa tempo lalu sangat melukai hati dan harga dirinya. Sesekali mengusap kasar hidungnya yang telah menghasilkan ingus. Ewh.
"Hiks— padahal hiks— aku kan sedang menyakinkan perasaanku saja hiks— tapi kenapa hiks— d-dia jahat sekali hiks— mengatakan itu padaku?! Hiks— m-memangnya dia siapa hah?! Huhuhu hiks— hiks—"
Sehun sekali lagi mengelap ingus yang keluar dari hidungnya. Merutuki semua perbuatan Jongin.
"Kim Jongin kau itu benar-benar bodoh sekali! Hiks— aku bersumpah kau tidak akan bisa menikah seumur hidupmu!"
Eh? Kenapa aku menyumpahi dia? Bukankah aku menyukainya? Arrghhh! Kau bodoh Sehun kau bodoh! Kau benar-benar bodoh kenapa kau harus menyukai orang yang kau sebut bodoh hah?!
.
.
"Eh, Sehun dimana? Bukankah tadi dia bersamamu Jongin?"
"Memang. Tapi dia pergi tadi. Dia tidak bilang mau pergi kemana. Yang jelas dia menangis sebelum pergi. Mungkin dia terlalu terharu karena sebentar lagi Baekhyun oppa-nya menikahinya. Congrats ya hyung... Semoga lil brat princess itu tak menyusahkanmu."
"Eh— Oh geurae! Aku senang melihatmu semakin dewasa begini. Nanti kalau kau dan Sehun sudah jadi ipar jangan musuhan lagi ya? Kau juga harus segera mencari calon pengantinmu... Masa kau kalah dengan Sehun... hahahaha"
Jongin hanya tersenyum datar. Sulit mencari arti senyum Jongin saat itu. Bahkan di dalam tafsir senyum pun tak ada, ugh!
.
.
"SEHUN! WU SEHUN!"
"Ada apa sih eonnie?! Berisik tahu!"
"Hehe tidak. Aku menemukan tiket konser GD di saku mantelmu nih. Untung aku menemukannya sebelum ku laundry. Jika tidak, habislah uangmu untuk membeli tiket konser itu."
"Gomawo eonnie! Muach!"
Luhan menyerahkan sebuah tiket konser G-Dragon ke tangan Sehun. Sehun menerima tiket itu dengan lapang dada. Yeah, siapa juga yang ingin menolak tiket konser itu. Untung Luhan menemukannya. Ugh! Ini seperti mendapatkan jackpot saja bagi Sehun. Tunggu! Perasaan dia belum membeli tiket konser itu, kok. Tapi kenapa Luhan bilang tiket itu ada di saku mantelnya ya? Ah, tidak peduli! Yang penting bisa nonton GD oppa kkkk. Jiyoung oppa, I'm comiiinggg!
.
.
Sehun sudah siap dengan kostum serba GD oppa-nya. Kaos oblong hitam, ripped jeans, snapback dan jaket kulit bertuliskan 'one of A kind' menjadi tema kostumnya kali ini. Lipstick hitam, eyeliner tebal dan eyeshadow berwarna gelap pun menambah penampilannya yang sangar itu. Percayalah, kalau kedua orang tua-nya melihat Sehun berpenampilan seperti itu, maka dia akan dipasung dikamarnya. Ewh. Berlebihan. Tapi sekarang Sehun sedang ingin tampil beda. Mungkin efek ditolak Kim Jongin beberapa waktu lalu?
Memangnya siapa yang menolak siapa hah? Bahkan si tukang kaleng itu lebih kejam karena mengacuhkanku begitu saja! Kita lihat saja, Kim Jongin! Siapa yang akan bertekuk lutut! Camkan itu! Hahaha—
"Sehun, kau mau kemana malam-malam begini?"
Daddy-nya datang secara tidak tepat menghancurkan imajinasinya tentang Jongin. Padahal sebentar lagi dia akan menginjak-injak Jongin dalam mimpinya.
"Oh— emm— aku... mau nonton konser, Dad. Boleh ya?"
"Ya ampun Sehun! Kau itu berdandan apa sih? Eomma kira kau itu preman tahu gak?!"
Duh, mati kau Sehun! Bisa berantakan rencananya kalau begini!
"Aish, eomma! Aku mau pergi nonton konser eomma. Jangan mengganggu..."
"Tapi lihat dirimu Sehunie! Kau seperrti preman pasar saja! Apa-apaan ini?! Pakaianmu?! Make-up mu juga tebal! Sini eomma hapus!" cerca Junmyeon.
"Noooo! Eomma, ini tuh sedang trending eomma!"
"Sehuniee~ kau itu harus sadar umur! Kau ini sudah dua puluh empat! Mau lulus sarjana juga! Apalagi sebentar lagi kau kan akan menikah..."
"Tapi kan eomma—"
"Sudahlah biarkan dia pergi, Myeonnie. Lagipula, dia jarang-jarang begini..."
Junmyeon hanya menghela nafas. Sedangkan Sehun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui perktaan daddy-nya.
"Tapi kan yeobo~ Nanti kan dia bertemu— ah, yasudahlah... sana pergi. Tapi kamu harus janji ini yang terakhir kalinya, ya Hunnie?"
"Sip. Sehun janji! Gomawo eomma, Dad! Aku pergi dulu muach!"
"Pulangnya jangan malam-malam!"
"IYAAAA!" teriak Sehun yang sudah diluar pintu rumah.
Kenapa tidak begini saja dari dulu? Kan kalau begini enak! Tidak perlu bohong lagi kan kalau mau pergi nonton konser? Hahaha~ beruntung sekali kau Wu Sehun malam ini!
.
.
Duh, haus nih. Ke stand bubble tea dulu deh! –itu suara hati Wu Sehun. Kini dia tengah merasa haus melanda kerongkonannya. Jadi, dia berniat mampir ke stand bubble tea yang ada di luar tempat konser. Dia sangat bersemangat malam ini sebelum mimpi buruk datang—
"Che kau lagi kau lagi! Mau apa kau kesini hah?! Kau menguntitku kan?! Iya, kan?!"
Lelaki berjas itu mengernyit.
"Ingin sekali ku ikuti? Aku kesini untuk menonton konser. Bukan untuk cosplay sepertimu."
Lelaki itu menunjuk tubuh Sehun.
"A-apa kau bilang?! Cosplay?! Heh enak saja! Ini itu trend kau tahu?! Cih daripada dirimu? Kau mau nonton konser apa mau berangkat ke kantor heh?" balas Sehun sarkatis.
"Aku memang pulang dari kantor, Nona Wu."
Lelaki itu mengacak lembut rambut Sehun sambil tersenyum. Lalu meninggalkan Sehun yang berkacak pinggang di depan stand bubble tea.
Aargghhh! Awas kau KIM JONGIN!
.
.
Sehun sedang menikmati minumannya hingga butir bubble yang terakhir ketika segerombolan pemuda menghampirinya. Duh, safety alert!
"Hai, nona cantik. Sendirian saja." Kata salah satu orang dari gerombolan itu –mungkin yang ini leadernya— sambil menowel dagu Sehun genit.
"S-si-siapa kalian?!"
"Jangan sok jual mahal dengan kami... ikut kami bersenang-senang! Ayolah kau tidak akan menyesalikut dengan kami..." yang lainnya ikut menyahuti.
"Andwae! Jeongmal andwae! Aku tak mengenal kalian! Sana pergi! pergiii!"
"Ayolah manis... Kau takkan menyesal kalau ikut kami... percayalah pada kami..."
"Iya, baby. Mari bersenang-senang! Eum~ bau rambutmu saja wangi apalagi tubuhmu..."
Oh, Tuhan! Maafkan segala dosa-dosa Sehun! Sehun tahu Sehun bukanlah hamba yang baik, tapi kan Sehun anak yang baik Tuhan! Nanti apa reaksi Daddy dan eomma kalau anak perawannya sudah tak perawan lagi?! Tuhan tolong Sehun kali ini saja~ kirim seseorang yaTuhan~ kalau dia perempuan maka akan kujadikan eonnie Sehun kalau dia laki-laki dia adalah calon sua—
Sret!
—mi. Eh?
"Ada perlu apa kalian dengan pacarku?"
Seseorang telah menolong Sehun dari jurang kegelapan. Yes! Eh, tunggu... ini kan suara—
"Che! Ada yang ingin jadi pahlawan kesiangan ternyata?! Teman-teman, bagaimana ini?!"
"Alah jangan percaya boss! Heh, bocah! Memangnya kami percaya dengan omonganmu? Mana ada pacar ditinggal sendirian? Heh bocah, ini bukan drama! Jadi, serahkan gadis itu sekarang juga!"
Salah satu orang dari mereka menarik lengan Sehun paksa tetapi dengan sigap si penolong –yang ternyata adalah Jongin— itu merebut lengan Sehun lagi.
"Duh, sayang, sepertinya kita harus mengumbar romantisme kita di depan umum..."
Dan dengan itu Jongin mendekatkan wajah mereka masing-masing agar mengeleminasi jarak antara mereka. Lima cm... Tiga cm... Satu setengah cm... Satu cm... Nol koma lima cm... Nol koma dua puluh lima cm... Dan—
Kiss.
Jongin mencium lembut Sehun. Lalu melumatnya pelan. Sehun melenguh. Rona merah telah tercipta di puncak pipinya. Kentara sekali kalau dia gugup. Rasanya ini berbeda sekali dengan tempo yang lalu ketika Sehun mencium Jongin pertama kali.
"YA! YA! Sudah! Sudah! Kenapa kalian malah mengumbar kemesraan pada kami sih! Kami percaya kami percaya! Ayo teman-teman, kita pergi! Ah, dasar pasangan sekarang berani-beraninya berciuman di depan umum! Aku jadi rindu istriku tsk tsk!"
Jongin melepaskan Sehun dari pelukannya.
"Mereka sudah pergi..."
"..."
"Hun? Sehun? Wu Sehun?"
"..."
Karena Sehun tidak merespon apapun, maka Jongin meraih pinggang Sehun sekali lagi. Mendekatkan wajahnya lagi untuk ciuman berikutnya. Hei! Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya kan?!
.
.
FIN
.
.
OMAKE
.
.
"Wah, akting kalian tadi keren sekali!" gerombolan pemuda itu menghampiri sepasang anak manusia yang telah menunggu mereka di blok pinggir jalan itu.
"Hehe, jangan berlebihan, Sajangnim... Kami akan memberikan layanan terbaik untuk klien kami..."
"Tadi Sehun dan Jongin tidak curiga pada kalian kan?!" –satu-satunya perempuan disitu pun mengeluarkan suaranya.
"Tidak, Nona. Mereka sepertinya tidak tahu."
"Oh syukurlah..." Si perempuan itu menghela nafas.
"Oh, ya... ini untuk kalian... terima kasih atas bantuannya..." –laki-laki yang dipanggil sajangnim itu menyerahkan amplop pada gerombolan itu.
"Sepertinya ini semakin seru saja! Ayo kita pulang!"
Mereka berdua langsung menuju mobil dengan wajah sumringah.
.
.
A/N:
Akhirnya chapter ini klar juga. Duh, udah tiga bulan ff ini terbengkalai... salahkan dosen yang ngasih tugas yang kaya kasih ibu sepanjang masa-_-
Hahaha kalian penasaran ga siapa sepasang manusia yang di bagian omake itu? Bisa nebak ga itu siapa? /ga -_-
Mungkin ff ini akan tamat beberapa chapter lagi fiuh~ maaf ya chapter ini agk rancu soalnya udah lupa sama alur cerita aslinya :"D
Ini adalah chapter terpanjang di ff ini special buat readers yang nungguin ff ini /emang ada? /mojok
So, keep reading and reviewing ya?
Salam kaihun/? Merdeka! Mari lestarikan Kaihun! Forever uke!Sehun lol :"D
January, 21st 2015
Sincerely
Elnim.
