DON'T LIKE? THEN DON'T READ

..~" Happy Reading "~..


Naruto terus memacu kudanya agar berlari lebih cepat, ia tidak ingin membuang banyak waktu untuk menyelamatkan Naruko dari para Uchiha.

Siapa yang tidak tahu Clan Uchiha? Sepanjang sejarah, kerajaan Uchiha adalah kerajaan yang paling terkejam dan tersadis seantero negeri ini. Kerajaan yang tidak pernah mengenal apa itu 'belas kasihan', kerajaan yang selalu berambisi untuk memperluas kekuasaannya, kerajaan yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Lalu apa yang akan dilakukan para Uchiha itu pada Naruko? Naruto tidak dapat berfikir secara bersih untuk menyikapi hal itu. Hati Naruto terlalu takut untuk membayangkannya, ia takut jika kakaknya diperlakukan tidak manusiawi. Setiap derap langkah kuda yang ditungganginya, Naruto tidak ada hentinya berdo'a untuk keselamat kakaknya.

Walaupun rupa Naruko dan Naruto sama, tetapi sifat keduanya benar - benar bertolak belaka. Naruko lebih dewasa, sabar, sopan dalam tutur katanya, berlaku bak seorang dewi selalu berfikir panjang dan positif, sedangkan Naruto? Dia cenderung manja, tidak sabaran, berkata seenak jidat, berkelakuan tomboy, bahkan ia rela meninggalkan kakaknya hanya untuk belajar cara bertarung bersama dengan Jiraiya -kakeknya- selama 12 tahun dan Naruto selalu bertindak sembrono. Keduanya memang saling bertolak belaka, tetapi... Dengan adanya begitu banyak perbedaan, itu semua malah membuat ikatan mereka semakin erat dan terjalin dengan indah. Karena dunia ini tidak akan terasa indah jika tidak adanya perbedaan.

Setelah menunggangi kuda selama hampir 3 jam lebih, akhirnya Naruto telah sampai di perbatasan menuju ke kerajaan Uchiha. Naruto menaikan sebelah alisnya dan menghentikan laju kudanya saat melihat beberapa orang yang tengah memblokir jalan.

"Maaf Nona, untuk saat nona tidak bisa melewati jalan ini." Jelas salah satu orang dari mereka.

"Kenapa?" Tanya Naruto dengan nada yang datar.

"Karena saat ini, kerajaan Uchiha dan Aliansi kerajaan Nara tengah berperang, Nona." Jelasnya lagi.

'Jika aku melewati jalan ini, belum tentu akau bisa keluar dengan selamat.' Pikir Naruto.

"Apakah tidak ada jalan lain menuju ke kerajaan Uchiha?" Tanya Naruto penuh harap.

"Tidak ada Nona, karena ini adalah jalan utama menuju ke kaisaran Uchiha."

'Kalau begitu, tidak ada cara lain...'

Naruto segera membalikan kudanya dan berjalan menjauhi tempat tersebut. Setelah berada cukup jauh, Naruto membalikan kudanya dengan kasar dan memacu kudanya dengan cepat menuju ke arah kerumunan para warga yang tengah menjaga benteng yang dibuat mereka untuk memblokir jalan.

'Aku... akan melakukan apapun untuk Onee-chan!' Batin Naruto keras.

"Hei! Apa yang akan dilakukan gadis itu!?" Teriak salah satu dari mereka saat melihat Naruto memacu kudanya dengan cepat kearah mereka.

'Aku tidak peduli!' Naruro memacu kudanya semakin cepat.

"Awas! Menyingkir!" Teriak salah satu dari mereka sambil berlari kalang kabut yang ternyata diikuti oleh temannya yang lain.

Kuda Naruto meloncat tinggi diatas penghalang jalan. Naruto menoleh kebelakang dan tersenyum, karena dapat melewati penghalang jalan yang tingginya hampir 2 meter tersebut. Naruto menoleh kedepan kembali, memfokuskan diri untuk melihat jalan atau jika adanya serang dari musuh.

Suara pedang yang saling bebenturan, suara jeritan dan ledakan pun semakin jelas terdengar. Naruto mulai bersiap dengan pedang 'Sakura Tsumuji' miliknya. Darah berceceran dimana pun dan tubuh manusia berserakan dengan bagian tubuhnya yang tidak lengkap.

Naruto kini dapat melihat sendiri kekejaman dan kehebatan prajurit perang milik Uchiha dari cara mereka bertarung. Naruto mulai memacu kudanya agar dapat melewati medan perang tanpa adanya kontak dari kedua belah pihak yang tengah berperang. Belum 5 meter Naruto memacu kudanya, kuda Naruto telah dikerumuni oleh pasukan dari uchiha (dapat dilihat dari lambang Uchiha di *bandana (ikat kepala) yang dipakai oleh prajurit tersebut).

Naruto menghela nafas sebal, "Mereka benar - benar tidak mengizinkan aku lewat." Gunam Naruto.

Sungguh, Naruto benar - benar tidak ingin membuang - buang tenaganya untuk hal yang tidak perlu seperti ini. Naruto akhirnya mengayunkan pedangnya kearah para prajuri tanpa turun dari kudanya.

'Tck, kenapa prajutinya malah semakin banyak!' Decak Naruto sebal.

Tidak ingin membuang waktunya percuma, Naruto memutuskan untuk lari dari kerumunan tersebut. Belum jauh tempat Naruto dikepung, Naruto kini tengah diserang oleh hujan panah yang mengarah kepadanya. Naruto memutar kedua pedang miliknya (pedang Sakura Tsumuji itu dua sword) untuk menangkis setiap panah yang mengarah padanya.

"AWAS!" Teriak seorang laki - laki, memaksa Naruto untuk menoleh ke sumber suara. Saat Naruto menoleh, sebuah tombak berukuran besar telah ada dihadapannya dan...

Beberapa tetes darah meloncat keluar dari perut Naruto. Sebuah tombak berukuran besar menancap diperut Naruto dan menembus ke punggung Naruto. Darah segar mengalir disudut bibir Naruto. Penglihatan Naruto mulai mengabur dari pandangan, "Onee... chan..." Gunam Naruto sebelum matanya menutup.

Disc :

Naruto © Masashi Kishimoto

Author :

Quiiny Riezhuka Sylvester

Pairing :

SasuFemNaru , SasuSaku slight SaiFemNaru

Genre :

Romance , Tragedy & Hurt / Comfort

Warn :

AU, OOC, FemNaru, Typos are everywere, Based on True Story (it mean that this story was a reality happened on the past)

DON'T LIKE? THEN DON'T READ

Deg...

Sebuah perasaan tidak mengenakan menyapa ulu hati Naruko, kini hatinya terasa sakit. Tanpa ia sadari, sebuah cairan bening nan hangat membelai pipinya, "Naruto..." Gunamnya.

'Kenapa, sebenarnya ada ini?...' Batinnya sakit sambil menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut matanya menggunakan punggung tangannya dan mencengkram erat dada kirinya yang terasa sakit. Entah kenapa, kini hatinya terasa sangat sakit.

'Sebenarny-' Sebuah tepukan dipundak sebelah kanan Naruko menginterupsi batinnya. Naruko menoleh kesebelah kanan dan menemukan sepasang manik Ebony tengah memandanginya.

Naruko sedikit terhanyut dalam keindahaan manik Ebony milik lelaki tersebut, "Sedang apa anda disini, Nona Wenzhao?" Tanyanya, membuat Naruko tersadar dari lamunannya.

"Jika kau tidak keberatan, maukah kau membagi ceritamu denganku?" Pinta lelaki tersebut sambil menyeka air mata yang keluar dari sudut mata Naruko, membuat pipi Naruko sedikit merona.

Tanpa mereka sadari, sepasang manik Onyx tengah memandangi kegiatan mereka dengan tatapan yang menyiratkan ketidak sukaan. Sedangkan disisi lain, sebuah bibir plum tengah mengulas senyum kemenangan.

"Namaku Sai Uchiha dan kau tau... jika kau butuh teman bicara, datanglah kemari, aku selalu ada disini." Terang Sai dengan senyuman terukir dengan antik dibibirnya.

Tanpa terasa hari demi hari telah berlalu, rasa yang awalnya hanya perasaan suka, kini telah berkembang menjadi cinta. Dan... tanpa terasa pula, kandungan dirahim Naruko semakin besar dan inilah penentuannya...

8 bulan kemudian...

"Terus nona! sebentar lagi!" Teriak seorang dayang, memberi semangat.

Naruko terus berusaha menjalani persalinannya. Naruko berusaha mati - matian megeluarkan buah hatinya dari rahimnya. Setelah hampir 1/2 jam bertarung antara hidup dan mati, akhirnya sang buah hati yang telah dinanti - nanti, telah lahir.

"Selamat nona, bayi anda seorang laki - laki!" Ucap seorang dayang sambil memberikan bayi yang telah dimandikan kepada Naruko.

Kristal - kristal bening jatuh dari kedua sudut matanya, tangis haru. Naruko membelai pipi bayi dengan lembut. Seulas senyum terlukis indah dibibir merahnya.

"Anda akan menamainya siapa, Nona?" Tanya salah satu dayang yang berkumpul dihadapannya.

Naruko tersenyum lembut kepada dayang yang bertanya padanya, sebelum akhirnya menatap bayi yang ada di pangkuannya, "Aku akan menamainya... Menma..." Ucapnya sambil mengusap rambut hitam milik Menma.

Dayang tersebut tertawa kecil, "Namanya lucu, seperti orangnya..." Terangnya sambil ikut membelai kecil rambut Menma.

Sebuah suara pintu digeserpun terdengar. Semua mata tertuju kepada orang bersurai dan bermanik Ebony yang tengah berdiri didaun pintu. Pada dayang sedikit berbisik - bisik sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut, kini hanya tinggal Naruko, Menma dan... Sai.

Sai terseyum lalu menghampiri Naruko yang tengah duduk di kasurnya sambil menggendong bayinya dan dibalas senyuman manis oleh Naruko.

"Selamat..." Kata Sai sambil membelai lembut pipi bayi laki - laki yang tengah digendong oleh Naruko.

Tiba - tiba pintu terbuka dengan kasarnya yang menampilkan sosok pria dewasa bersurai raven, "Bisakah kau tinggalkan kami?" Pintanya dengan nada yang dingin, disertai dengan tatapan menusuk nan tidak suka ia layangkan kepada Sai.

Sai pun mengalihkan pandangannya pada Naruko, sebelum akhirnya mengirimkan sebuah senyuman dan meninggalkan Naruko dan Sasuke beserta Menma.

Sasuke menghampiri Naruko lalu melirik bayi yang digendong oleh Naruko. Naruko yang menyadari akan apa yang dilirik oleh Sasuke -bayinya-, Naruko perlahan memindahkan gendongan Menma pada Sasuke. Sasuke menerimanya dan menggendong Menma. Sasuke memperhatikan Menma yang tengah tertidur dengan seksama.

"Dia laki - laki..." Terang Naruko, memecah keheningan.

"Hn," Gunam Sasuke tidak jelas sambil menyerahkan kembali Menma pada Naruko, yang diterima langsung oleh Naruko, "Apa dia anakku?" Tanya Sasuke dengan ada yang sedikit mngintimidasi.

"Apa maksudmu?" Tanya balik Naruko dengan nada yang sedikit ketus. Kami-sama, Naruko sudah cukup bersabar selama 8 bulan menghadapi keegoisannya. Ia selalu mengalah selama ini baik pada Sasuke maupun pada Sakura yang selalu bermain tangan padanya. Ia salah apa?

Mendengar penuturan Naruko, Sasuke mendegus kesal, "Siapa tau kau melakukan hubungan gelap dengan Sai." Cibir Sasuke.

Ia sudah cukup SABAR... namun kali ini... ia tidak bisa... Cukup... "Sasuke! Aku hanya melakukannya denganmu! Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Uchiha! Berapa banyak wanita yang telah kau tiduri!" Teriak Naruko, "Dengar Uchiha, lebih baik kau ajari Sakura tata krama dari pada mengurusiku!" Tambahnya, yang dihadiahi tamparan keras dari Sasuke, membuat Menma bangun dari tidurnya dan menangis.

Naruko memandang geram Sasuke dengan air mata yang menghiasi wajahnya. Naruko mengalihkan pandangannya pada Menma yang tengah menangis. Naruko tersenyum manis, bak tak terjadi apapun dan mencoba menghibur Menma agar berhenti menangis. Sasuke meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan kesal yang membucah dikepalanya, "Jaga. cara. bicaramu." Ucap Sasuke penuh penekanan diambang pintu. Setelah mengatakan hal tersebut, Sasuke membanting pintu kamar Naruko dengan kasar.

Tanpa terasa, sang mentari telah terganti oleh cahaya rembulan yang lembut. Naruko membaringkan tubuhnya disamping Menma, dipeluknya Menma dengan erat. Dirinya sudah tidak tahan, ia sudah cukup menderita dengan semua ini... Naruko mengecup kening Menma dngan air mata yang berderai tiada hentinya sejak kejadian siang tadi. Naruko memang menyukai Sai, tetapi ia tidak pernah berfikiran untuk menjalin hubungan lebih jauh dengan Sai. Naruko menyadari dirinya sudah dimiliki oleh Sasuke. Walaupun Sasuke sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.

Sakura menari dengan kipas yang berada ditangannya, rambutnya ditata dengan rapih dan dihiasi oleh Kazushi Sakura. Sakura mulai melepaskan obi kimononya dan mulai melepas seluruh kimono yang ia kenakan dan hanya menyisakan kimono putih polosnya. Dilepasnya Kazushi bunga sakura dari rambutnya, rambut yang semula disanggul kini ia biarkan tergerai.

Sakura menghampiri Sasuke yang tengah memandanginya sambil menikmati sake yang tersedia di meja. Setelah sampai, Sakura segera memeluk Sasuke dari belakang dan melepakan Yukata yang tengah dikenakan oleh Sasuke. Melihat pergerakan agresif dari Sakura, Sasuke hanya menyeringai senang. Jemari lentik milik Sakura kini menyusuri dada bidang Sasuke yang terekspos bebas. Sasuke segera menarik Sakura ke dalam pelukannya dan mencium Sakura dengan nafsu yang sudah tertahan sedari tadi. "Mmhhh..." Erang Sakura saat lidah Sasuke menari di dalam mulutnya, tidak ingin mengecewakan Sasuke, Sakura membalas ciuman yang diberikan Sasuke.

Pasokan udara yang mulai menipis membuat Sasuke harus mepaskan pangutannya bibirnya pada bibir plum milik Sakura. Sasuke membelai pipi Sakura dengan lembut, "Kau cantik malam ini, Naruko." Ucap Sasuke, yang langsung mendapat tepisan kasar dari Sakura pada tangan Sasuke yang tengah membelai pipinya.

Tentu saja, siapa yang tidak marah? Jika suami yang kau cintai memanggil nama wanita lain disaat kau dan suamimu bercinta? 'Lagi - lagi wanita jalang itu, apa sih bagusnya wanita itu!' Batin Sakura tidak suka.

Sasuke menghela nafas berat, "Maaf." Sasuke yang merasa bersalah hanya bisa berkata 'maaf'. Bagaimana pun, Sasuke memang lebih mencintai Naruko dari pada Sakura. Alasannya karena Naruko memang berbeda, bukan Sasuke jika ia dapat mengeluarkan perasaannya dengan benar. Sesungguhnya ia ingin menjadi suami yang baik untuk Naruko, hanya saja... ia terlalu 'gengsi' untuk melakukan hal semacam itu. Ia mencintai Naruko tapi ia tidak ingin menunjukan bahwa ia mencintai Naruko. Ia ingin Narukolah yang datang dan meminta cinta padanya, sama seperti yang dilakukan oleh Sakura. Namun sepertinya hal diinginkan oleh Sasuke berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sebenarnya, Naruko terlalu cuek dan dingin padanya.

Apa... Naruko tidak mencintainya?

Sasuke tidak tau...

Soal kedekatan Sai dan Naruko yang kian hari kian nyata, seperti api abadi dihatinya... api yang akan menghanguskan apapun yang ada didekatnya. Iya, api cemburu membuatnya tangannya tergerak untuk menyiksa Naruko, baiklah itu hal yang salah, ia tau.

Ia hanya tidak suka.

"Sasuke, kenapa kau memanggil nama wanita itu?" Tanya Sakura dengan nada yang mengintimidasi yang sama sekali tidak mempan terhadap Sasuke. Sasuke menoleh kepada Sakura yang tengah menundukan kepalanya.

"..." Sasuke tidak terlalu tertarik pada pertanyaan Sakura dan akhirnya memilih untuk menegak secangkir sake yang ada dihadapannya.

"Sasuke... apa artinya aku bagi dirimu?" Sakura mengeluarkan nada yang serak dan tubuhnya sedikit bergetar. Sakura menoleh pada Sasuke dengan air mata yang membasahi pipinya, "Sasuke... Aku mencintaimu! Kenapa kau mencintai wanita yang tidak mencintaimu! Sasuke, jika kau ingin tau, Naruko itu berselingkuh dengan Sai! Naruko bahkan menggoda Sai!"

"Aku bahkan sering memergokinya tengah berciuman dan berpelukan dengan Sai! Sasuke! Kenapa kau mencintai wanita murahan seperti Naruko dan yang bahkan Naruko itu telah melahirkan bayi dari laki - laki lain!" Teriak Sakura.

Sasuke menatap tajam Sakura, "Apa maksudmu, Sa. Ku. Ra?" tanya Sasuke dengan nada yang mengancam.

Merasa akan aura yang dikeluarkan oleh Sasuke, mental Sakura sedikit menciut, "I-iya, itu benar! Kau dan Naruko baru menikah selama delapan bulan, tetapi kenapa Naruko sudah melahirkan?"

"..." Sasuke terus menatap tajam Sakura yang seolah meminta penjelasan lebih.

"Seorang ibu yang hamil, membutuhkan waktu 9 bulan untuk mengandung anak mereka. Tetapi Naruko hanya selama delapan bulan, itu artinya Naruko sudah hamil duluan sebelumnya." Jelas Sakura.

"Maksudmu... dia bukan anakku?" Tanya Sasuke penuh selidik, kini ia marah! Benar - benar marah...

Tanpa basa - basi, Sasuke segera mengambil pedang Kusanagi miliknya dan segera menuju ke pintu, namun Sakura menarik tangannya, "Kau mau ke mana, Suke?" Tanya Sakura dengan nada yang Innocent.

"Aku akan memberi Naruko pelajaran," Ucapnya dengan nada yang dingin tanpa menoleh pada Sakura.

Kedua sudut bibir Sakura terangkat dan membuat sebuah senyuman... Senyum iblis, "Kau tidak perlu mengotori tanganmu sendiri, Suke..." Seru Sakura.

"..."

Sakura mengambil pedang Kusanagi Sasuke dan menarik tangan Sasuke agar duduk disampingnya kembali. Sasuke pun duduk disamping Sakura, Sasuke menatap Sakura dengan tatapan yang meminta penjelasan. Sakura yang melihat Sasuke yang penasaran, membuatnya tertawa kecil, "Ikuti caraku..."

XXX

Sebuah ketukan kecil di pintu kamar Naruko, sukses membuat Naruko harus menghentikan acara menangisnya. Naruko pun membuka pintu dan menemukan anak buah Sasuke ada didepan kamarnya. Membuat Naruko bertanya - tanya...

Anak buah Sasuke kemudian memberi hormat pada Naruko, "Ada kirimam barang dari Pangeran Sasuke." Ucapnya sambil mengacungkan sebuah kotak persegi panjang.

Setelah menerima barang tersebut, prajurit Sasuke segera pamit dan dibalas anggukan serta senyuman manis dari Naruko. Melihat sang prajurit hilang dari pandangan, Naruko segera menutup pintu dan kembali ke kamar.

××× Naruko's PoV ×××

Aku membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah *tanto, *kaiken dan sebuah... surat, membuatku sedikit terkejut. Aku segera membuka surat tersebut dengan tergesa - gesa.

"Naruko Uchiha, aku tidak membutuhkan pelacur sepertimu...

Aku sangat berterima kasih kepada Sakura yang telah memberi tahuku atas semua yang tidak kuketahui tentangmu...

Cih, ternyata kau sangat picik Naruko. Seperti yang dikatakan oleh Sakura, kau memang wanita jalang...

Bahkan berani - beraninya kau menlahirkan anak dari lelaki lain dan berkata bahwa d.a adalah anakku,

Cukup Naruko, aku sudah muak. Malam ini juga, lakukan *Jigai, karena aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi. Lakukan sekarang juga, jika sampai esok hari aku masih melihatmu berkeliaraan diistanaku, jangan harap anak sialanmu itu bisa hidup lama."

Prince of Uchiha, Sasuke Uchiha

(*Jigai : bunuh diri menggunakan *kaiken (pedang pendek) atau *tanto (pisau pendek) yang biasa dipakai dalam acara Jigai, ini khusus untuk perempuan. Kalau untuk laki - laki, namanya Seppuku)

Linangan air mataku turun menuruni pipiku. Aku seorang pelacur? Sekali pun aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki lain! Kau yang pertama, Sasuke...

Sakura? Apa yang telah dikatakan oleh Sakura padamu sehingga kau berfikiran aku telah menghianatimu... Sasuke, dia adalah anakmu... murni anakmu... Aku dan Gaara belum pernah bersetubuh dan aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki lain.

Jigai... Kau menginginkan aku melakukan Jigai? Segukan tangisku semakin menjadi, kakiku yang terasa lemas, membuatku terduduk dilantai.

Segukan tangisku semakin menjadi, sakit hatiku sudah dalam Sasuke dan kini kau menaburkan garam pada lukaku.

Menma... dan bagaimana bisa ku melibatkan Menma dalam hal ini? Kau tega membunuh darah dagingmu sendiri? Sadarlah Sasuke, Sakura telah menghasutmu!

Kulirik Menma yang tengah tertidur pulas dengan mataku yang sebam serta linangan air mata yang tak berujung henti. Perlahan, Aku banguan dari dudukku dan kulangkahkan kaki ini menuju kasur tempat dimana Menma terlelap.

Kubelai rambut dan pipinya dengan hati - hati, aku tidak ingin membuatnya terbangun. Aku merengkuh tubuh mungilnya dan mencium keningnya...

Apa ini yang terakhir?

××× End of Naruko PoV ×××
××× Normal PoV ×××

Hatinya terasa semakin sakit kala ia memeluk Menma. Berat rasanya meninggalkan Menma seorang diri di kerajaan Uchiha. Siapa yang akan menjaga Menma nanti? Sakura? Dia pasti melakukan hal yang sama pada Menma.

Bimbang...

Apa yang harus ia lakukan? Melakukan Jigai? Itu artinya ia tidak akan bertemu dengan Menma lagi, sedetikpun ia tidak ingin meninggalkan Menma.

Jika ia tidak melakukan Jigai, maka Menmalah akan dibunuh oleh Sasuke. Naruko tersenyum getir pada dirinya sendiri. Ia melangkahkan kakinya pada meja riasnya dan mengambil sebuah buku di sebuah laci yang berada dibawah meja riasnya. Naruko menulis sesuatu pada buku tersebut dengan air matanya yang seolah tidak berhenti. Naruko kemudian memasukan kembali buku tersebut kedalam laci, Naruko sempat melihat pantulan dirinya pada cermin yang berada dihadapannya, begitu berantakan.

Naruko terdiam sejenak sebelum akhirnya menghapus air matanya menggunakan punggung kedua tangannya. Ia kemuadian merias wajahnya dan menata rapih rambutnya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan diambang kematiannya, bagaimanapun Naruko tidak akan pernah kalah oleh seorang wanita jalang seperti Sakura. Naruko kemudian mengganti pakaiannya dengan baju kebesarannya. Naruko mengeluarkan sebuah kertas putih dan menulis, "DENGAN SENANG HATI."

Naruko mengambil kaiken yang berada didalam kotak dengan begitu mantap, wajahnya datar telah menyembunyikan rasa takut, gelisah dan rasa sakit hatinya.

Naruko kembali melirik Menma, namun Naruko segera memalingkan wajahnya kearah lain. Semakin ia memandang Menma, semakin sulit ia melakukan 'tugas' yang diberikan oleh Sasuke, suaminya.

Naruko membelakangi Menma yang tengah terlelap dan mengarahkan pedang tersebut kearah jantungnya.

Cairan kental nan bening meloncat keluar dari tubuh Naruko. Tubuh Naruko ambruk seketika, darah segar terus keluar dari dada kirinya. Naruko membasahi jari telunjuk sebelah kanannya dengan darah miliknya sendiri. Dengan susah payah ia mengukir nama Menma didekatnya menggunakan darahnya. Naruko tersenyum melihat hasil karyanya, ditatapnya langit - langit kamarnya... dan perlahan birunya manik Sapphire itu tertutup, terhalangi oleh kelopak matanya.

Keesokan harinya Naruko ditemukan tak sadarkan diri (untuk selamanya) dengan cairan kental yang telah mengering dan menyelimuti tubuhnya oleh para dayang milik Naruko.

Sasuke duduk disinggasananya dengan santai dan Sakura yang berada disampingnya, seorang prajurit tiba - tiba datang dan menghadap padanya.

"Yang mulia Wenzhao telah melakukan Jigai sesuai perintah Anda, Tuan." Ucapnya to the point.

Sasuke tersentak kaget mendengar kabar tersebut. Hatinya sedikit terasa sakit... Ia tidak pernah berfikir bahwa Naruko -Isterinya- benar - benar akan melakukan Jigai. Sungguh, pada awalnya itu hanyalah sebuah gertakan semata, ia benar - benar... menyesal. Hatinya terasa teriris. Ia menulis kata 'Jigai' karena Sakura memintanya. Sasuke sempat menolak, hanya saja perkataan Sakura yang berkata bahwa Naruko tidak mungkin melakukan Jigai, Naruko tidak mungkin meninggalkan Menma sendiri, sehingga Sasuke berfikiran sama dan...

Naruko benar - benar melakukan jigai, benar - benar melenceng dari tujuan awal.

Ia terdiam... belum sempat ia menunjukan bahwa ia sesungguh - sungguh mencintai Naruko.

Berbeda dengan Sasuke yang tengah meratapi kebodohannya, Sakura sekarang tengah mengulas senyum bahagia dibibirnya. Usahanya untuk mengeluarkan Naruko dari kerajaan Uchiha ternyata sangatlah mudah, ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri, ternyata Naruko melakukan Jigai. Hati Sakura begitu bahagia saat ini, kini peluang untuk menjadi seorang permaisuri telah terbuka lebar!

Sasuke segera bangun dari duduknya, ia berniat untuk melihat Naruko, ia ingin membuktikan bahwa ini hanyalah sebuah kebohongan, namun seorang prajurit datang dan berkata, "Pasukan kerajaan Hyuuga telah bersiap untuk menyerang pada kerajaan kita. Kami menanti perintahmu, pangeran."

"Ak-"

"Tidak apa Sasuke, pergilah. Aku yang akan mengurus pemakaman Naruko." Sakura tersenyum tulus kala Sasuke menoleh pada Sakura. Sakura mendekati Sauke dan menggenggam tangannya erat, "Percayakan semuanya padaku."

Sasuke akhirnya menghela nafas berat, "Baiklah." Ia mengalah...

Akhirnya, Sakura memimpin jalannya pemakaman Naruko. Seluruh pelayan (dayang) pribadi Naruko, semuanya menangis. Bagaimna pun juga, mereka tidak dapat melupakan semua kebaikan yang telah Naruko berikan pada mereka. Naruko menganggap mereka seperti saudaranya.

"Berhenti." Seru Sakura setelah mereka sampai dipemakaman, "Turunkan." perintah Sakura. Prajurit pribadi miliknya segera menurunkan peti mati Naruko, "Buka."

Prajuritnya pun segera membuka peti mati Naruko dan tampaklah seorang gadis cantik bersurai pirang bak cahaya matahari. Sakura menyeringai melihat Naruko yang telah mati dihadapannya, "Ambilkan aku *gabah."

(*gabah : butir padi yang telah lepas dari tengkainya, namun belum lepas dari kulitnya)

Seorang dayang segera menghampiri Sakura sambil meneteng sebuah kotak kecil berisi gabah. Diambilnya gabah tersebut dan dimasukan kedalam mulut Naruko, sehingga mulut Naruko dipenuhi oleh gabah. Tidak hanya sampai disitu, Sakura menggulung kepala Naruko menggunakan rambut panjang milik Naruko. Sakura tertawa keras melihat apa yang telah dilakukan olehnya, "Kubur wanita sialan ini! Dan biarkan petinya terbuka."

Mau tidak mau, akhirnya para prajurit melakukan apa yang diperintahkan oleh Sakura.

"Kau sadis ya?" Sebuah suara baritone muncul dari belakang Sakura. Mendengar suara tersebut, tawa Sakura semakin mengeras. Sakura membalikan badannya untuk menghadap sang pemilik suara.

"Kerja bagus, Sai. Ini hadiahmu." Sakura melempar sebuah ramuan.

Sai menangkap botol kecil yang dilemparkan oleh Sakura dengan cekatan, "Hm." Sai meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke medan perang.

"Semua sudah selesai, nona." Lapor salah satu prajurit kepada Sakura.

"Bagus, ayo pulang." Ajak Sakura. Mereka pun pergi meninggalkan makam tersebut. Tanpa mereka sadari seseorang berjubah hitam tengah memperhatikan mereka dari atas pohon. Setelah rombongan 'ratu iblis' itu pergi, orang berjubah hitam tersebut turun dari atas pohon. Ia berjalan gontai menuju ke makam Naruko, ia menjatuhkan tubuhnya dan bertumpu pada kedua lututnya.

Perlahan awan - awan hitam berkumpul, titik - titik hujan mulai mulai berjatuhan dari kubah awan hitam raksasa. Air mata yang mengalir melewati pipinya kini tidak terlihat, karena sang hujan telah menyembunyikan tangisnya. Derasnya air hujan membuat tudung yang menutupi kepalanya terlepas, menampilkan helai - helai surai pirang cerah yang telah basah karena hujan.

Jari - jemari Naruto ia gerakan untuk menyentuh tanah makam sang kakak. "Nee-chan... Nee..."

Tangisnya benar - benar pecah. Ia benar - benar tidak terima atas apa yang mereka lakukan pada kakaknya. Digerakannya kedua tangan Naruto untuk menggali makam sang kakak. Kedua tangan Naruto menggali lebih dalam, ia menggali kuburan sang Nee-chan dengan kedua tangannya. Tidak peduli jika kuku - kuku tangannya patah, tidak peduli jika sedari tadi tangannya mengeluarkan darah, tidak peduli seberapa sakit luka ditangannya, ia tidak peduli! Sesakit apapun luka yang dideritanya, tidak akan pernah mengalahkan rasa sakit hatinya.

Naruto terus menggali... tangisnya tidak dapat terbendung lagi. Naruto terus menggali, ditemani dengan isak tangis yang keluar dari bibir mungilnya itu.

"Nee-chan!" Pekiknya senang setelah menemukan mayat Naruko.

Bibir tipisnya kini mengulas sebuah senyum bahagia, walaupun derasnya air matanya tidak berhenti mengeluarkan tetesan air mata kesedihan.

Diangkat Sang Nee-chan, ia mendudukan Naruko dan membuka rambut pirang yang menutupi wajah Naruko. Dikeluarkannya gabah yang dimasukan oleh Sakura dari mulut Naruko. Dikecupnya kening Naruko, ia merengkuh tubuh Nee-channya yang sudah tidak bernyawa tersebut.

Ia memeluknya erat... begitu erat, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa rindu yang telah diderita Naruto pada Naruko

Setelah berdiam diri sambil memeluk Nee-channya dibawah guyuran hujan, Naruto menindurkan kembali sang kakak. Naruto kemudian mengulang prosesi pemakaman Naruko dengan cara yang lebih layak, walaupun terbilang sangat sederhana.

Seusai memakamkan Naruko, Naruto berdo'a dipinggir makam Naruko, berdo'a agar Naruko diterima disisi-Nya. Setelah merasa cukup, Naruto berdiri dan menatap makam sang kakak dengan kedua maniknya yang sebam, namun segera tergantikan dengan tatapan tajam. Naruto menoleh kearah wanita berambut pink itu pergi dengan tatapan kebencian, "Akan ku pastikan, kau akan dikubur dengan cara yang sama dengan cara yang telah kau lakukan pada Nee-chanku."

TBC...


...

Apa ya? Ryn binggung mw ngomong apa, oh iya, Ryn minta maaf kalo banyak Typo, itu karena Ryn males ngedit dan cuman ngedit 1x U,U... Semoga para Readers memaklumi, juga atas telatnya update... well itu karna Ryn lagi nggx mood bwt nulis story...

Anyway... maaf Ryn berterima kasih banget bwt yang udh review, serta saran saran yang telah dikasi ke Ryn.. (*Mulai sekarang panggil Ryn aja ya ):) mungkin untuk chaper 2 ini, akan Ryn balas via PM... maaf tidak bisa disebutin semua : )

Review lagi ya, Saran dan Kritikan diterima qoo :) asalkan yang membangun ^^,,