Halloo...

Maaf ya, hhe hhe hehhe, telat update xD lagi!

Sebelunya, mari kita masuk ke sesi tanya jawab dulu C:

Q : Updatenya bisa dipercepat?

A : Ummm... gomen, Ryn orangnya bergolongan darah AB sih, jadi mood swing C: So, kaloo nulis err... rada bergantung mood...

Q : Ramuan apa yang dikasi Sakura ke Sai?

A : Longity Herb, itu dipercaya dapat memperpanjng usia, ya, makhlum budaya org Cina C:

Q : KenaaKenapa Sai/Sasuke jahat? / Kenapa Sasuke kelihatan bodoh?

A : Hanya untuk pendukung saja qoo C:

Q : Bagaimana nasib Menma?

A : Menma was under Sasuke's control, dia di jaga para kasim dan dayang kepercayaan Sasuke bwt jaga Menma, (semoga kalian ngerti fungsi dayang n kasim di krajaan cina C: )

Q : Bagaimana caranya Naruto bisa selamat setelah ke tusuk tombak / Siapa yg menolong Naruto?

A : Jawabannya ada di Story ini C:

Q : Apa Naruto akan balas dendam?

A : Indeed! judulnya saja sudah 'Sebuah Balas Dendam Untuk Nee-Chan' :3

Q : Ini sejarah karakter dari game RPG (Dynasty Warriors / Romance of Three Kingdom / Kessen? eh... kessen itu sejarah Jepang deh? lupa lagi...)

A : Yep. Ryn sudah peringatkan di warn "This story was really happened in the past", dan hanya ngambil background-nya saja, itu juga sudah berakhr di chapter 2 kemarin, Ryn hanya mngambil 15% unsur aslinya dan 85% mulai dri chapter selanjutnya itu pure dri otak Ryn C:

Q : ni author minat gg sih bikin ff? lma update tbc-nxa yg bkin skit hti melulu lgi... bikin org sakit ajj...

A : Ryn minat qoo! :'C Ryn minta maaf karna telat update juga kalo pas di TBCnya ada yang kamu gx suka u,u...


ENJOY!

DON'T LIKE? THEN DON'T READ


Seorang gadis bersurai pirang bak cahaya matahari tengah berjalan gontai di sebuah koridor yang bernuansa kalem tersebut. Hormatan para penjaga dan para dayang ia acuhkan, manik Cerulean yang semula memancarkan semangat yang tak pernah padam kini seolah redup dan tak bercahaya. Didorongnya pintu berwarna cokelat itu kasar.

"Shikamaru, cukup! Biarkan aku ikut berperang dengan para Uchiha bajingan itu!" Teriak Naruto lantang.

××× Shika PoV ××××

Mendengar teriakan Naruto, Aku hanya bisa menghela nafas berat, kepalaku terasa berdenyut - denyut sakit dibuatnya, membuatku harus memijat pelan kepalaku sendiri, "Merepotkan..." Gunamku. Gadis dihadapanku memanglah sangat cantik, bahkan melebihi cantiknya dunia ini, baiklah itu menurutku, tapi sifat keras kepalanya melebihi kesarnya baju zirah milikku, itu semua membuatku harus banyak - banyak mengusap dada.

Tentu saja, seorang gadis berumur 20 tahun sepertinya harusnya bersikap manis nan anggun, tetapi Naruto? Aku sering sekali dibuat uring - uringan karenanya, tentu saja! Siapa yang rela jika gadis yang kau suka tengah berkeliaraan di medan perang dengan berarus - ratus ribu prajurit perang musuh yang siap membunuh! Ia bahkan dengan sembrononya mendatangi sang raja dan mengajaknya bertarung! Astaga, masih beruntung dia masih hidup, jika tidak? Benar - benar merepotkan...

Aku Akui, kemampuannya dalam bermain pedang sangatlah lihai, tapi tetap saja aku tidak suka melihat gadis kesukaanku bertindak sembrono seperti itu! Tidak ingatkah dia saat berperang melawan Uchiha delapan bulan yang lalu, yang membuatnya tertidur selama berbulan - bulan?

Bersikap manis? Aku memang belum pernah melihatnya, tetapi jika yang ditanya adalah sikap jahilnya... Masih terekam jelas bagaimana Naruto dengan sengajanya memasukkan upilnya kedalam makananku, yang untung saja aku melihatnya, bayangkan jika aku tifdak melihatnya dan memakannya?

Haaahhh... Naruto...

"Shika!" Teriaknya lagi.

Menghela nafas, itulah yang bisa aku lakukan, gadis ini... "Tidak!" Tukasku.

Hening... aku tidak mendengarnya bersuara, Ia menundukan kepalanya dalam, "Aku... sudah bertemu dengan... kakakku..." Lirihnya.

"Kau sudah... bertemu dengannya?" Naruto menggangguk pelan. Entah mengapa, tetapi atmosfer yang ada diruangan ini telah berganti menjadi sedikit dingin.

"Ia sudah tidak ada..." Gunam Naruto, membuatku menaikan sebelah alisku.

"Ia sudah tidak ada..." Tubuhnya sedikit bergetar dan sebuah isakan keluar dari bibir ranumnya, Naruto menangis?

Kuturuni singgasanaku dan menghampirinya. Kurengkuh tubuhnya kedalam pelukanku, mencoba menenangkan. Ku usap rambut pirangnya yang tergerai.

"Tinggalkan kami..." Perintahku pada prajurit dan para dayang berada di balairung singgasanaku.

Sesuai dengan perintahku, merekapun meninggalkan ruangan ini. Kini hanya aku dan Naruto, "Ada apa?" Tanyaku pelan, isakannya semakin menjadi. Naruto memelukku dan mencengkram pakaian kebesaranku.

"Nee-san... dia... dia..."

××× Shika PoV End ×××

#Flashback_On

"Semuanya berawal saat aku melarikan diri dari istana ini.."

Seseorang berjubah dan berkerudung hitam tengah berdiri diatas benteng yang tidak bisa dibilang pendek. Hembusan angin malam membuat jubah yang dikenakan Naruto melambai - lambai. Manik cerulean yang semula menatap langit gelap nun jauh disana, kini menatap kedasar benteng yang ia pijaki.

"Nonaa...! Jangan!" Teriak seorang wanita dari arah kiri Naruto. Naruto menoleh ke sumber suara dengan seringai piciknya.

"Sampai jumpa." Serunya sambil melambaikan tangannya sebelum melemaskan pijakannya pada sang benteng, membuat Naruto jatuh dengan kepala terlebih dahulu.

"Nona! tidaakkk!" Teriaknya dengan nada yang amat-sangat-khawatir sambil melihat Naruto yang melayang diudara, jatuh.

Naruto yang tengah melayang mulai merapatkan kedua lututnya kepada dadanya, membuat tubuhnya melengkung. Naruto memutar badannya, sehingga kepala yang semula berada dibawah kini telah berubah tempat menjadi diatas kembali. Naruto mendarat dengan sempurna. Naruto menoleh keatas pada benteng yang menjulang, tempatnya menjatuhkan diri. Ia dapat melihat siluet dayang yang mengejarnya tadi kini tengah memberikan aba - aba agar meniupkan terompet, "Ck, sial..." Gunam Naruto kesal sambil berlari secepat kilat menuju semak yang berada di samping Naruto.

Naruto melepaskan tali yang mengikat sebuah kuda dengan tergesa - gesa, kuda ini memang telah disiapkan oleh Naruto sebelumnya.

Naruto segera menaiki kuda berwarna putih tersebut, "Ha!" Naruto menghentakan kedua kakinya kepada perut si kuda, membuat sang kuda berlari. Sebuah suara terompet telah berbunyi, menandakan bahwa waktu yang dimiliki Naruto untuk kabur semakin menipis. Dan benar saja, pintu yang terbuat dari baja hampir saja tertutup, namun kecepatan laju kuda yang dimiliki oleh kuda tersebut ternyata lebih cepat dari pada kecepatan mesin yang digunakan untuk menutup pintu masuk benteng ke kaisaran Nara, Naruto akhirnya berhasil melewati pintu tersebut. Walaupun pintu tersebut hampir menjepit tubuh kuda yang dinaiki oleh Naruto.

"Kau tau, betapa paniknya aku saat tahu bahwa kau kabur?... begitu merepotkan."

"Apa maksud kalian Naruto kabur?!" Teriak Shikamaru sembari memukul meja yang ada dihadapannya dengan kasar, Ia sangat tidak menyukai laporan dari prajurit dan para dayang yang ia tugaskan untuk mengawal dan menjaga Naruto.

Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, melainkan karena beban pikiran yang ditanggungnya, 'Ck, merepotkaannn...' Keluhnya dalam hati.

"Arrgghh! Aku tidak peduli! Apapun yang terjadi, Naruto harus ditemukan!" Perintah Shikamaru, seolah tidak ingin menerima kegagalan.

Naruto mengulas senyum dibibirnya yang sama sekali tidak terlihat, "Aku melarikan diri, karna kau tidak pernah memberikanku kebebasan... Aku bukan burung Shika..."

Naruto telah sampai di Ibu Kota Uchiha, Ia masih mengenakan jubah dengan tudung kepala berwarna hitam miliknya. Naruto bukan wanita yang bodoh, ia mengambil jalur hutan. Tentu saja, Uchiha keparat itu tidak akan membiarkan masuk orang asing ke wilayah mereka, oleh karena itu Naruto mengambil jalur hutan. Lalu, bagaimana Naruto tau tentang jalur hutan? Berterima kasihlah kepada Shikamaru yang telah susah payah mengirim para mata - mata dan penyelinap untuk mengobservasi seluruh kawasan milik Uchiha, hanya untuk mengsukseskan perangnya melawan Uchiha, namun dengan mudahnya dicuri oleh Naruto.

Saat sedang menyusuri jalan menuju Kerajaan Uchiha, Naruto melihat beberapa orang membawa peti besar yang sedang menuju kearahnya, 'Apa itu?' Tanpa basa - basi, Naruto segera bersembunyi. Entah kenapa, hatinya menjadi gelisah... hatinya benar - benar tidak enak rasa, 'Apa sebenarnya yang terjadi?'

Merasa penasaran, Naruto segera mengikuti segerombolan orang tersebut. Ternyata, mereka menuju ke pemakaman. Naruto merasa kecewa karna telah membuang waktunya hanya untuk hal - hal yang tidak berguna. Baru saja Naruto akan beranjak dari tempat tersebut, matanya senangkap sesosok bayangan seorang gadis yang memiliki surai yang sama sepertinya tengah disuapi gabah ke mulutnya, 'Keji sekali...' Bantinnya, Naruto terpaksa menyipitkan kedua kelopak matanya demi memperjelas pandangannya.

Naruto terlonjak kaget, dengan refleks kedua telapak tangannya menutup mulutnya. Hatinya mencelos seketika, 'Dia! Dia... Nee-chan...' Tanpa Naruto sadari, kedua kakinya melangkah mundur, ia menggeleng - geleng kepalanya dihiasi dengan kristal bening yang membingkai wajahnya... Tidak percaya...

Langkahnya terhenti saat punggungnya menabrak sebuah pohon, perlahan tubuhnya merosot kebawah. Air mata yang keluar, tak dapat ia bendung, 'Nee-chan... belum sempat aku meminta maaf atas semua kesalahanku yang telah ku perbuat padamu... Nee-chan, aku ingin memelukmu... tapi kenapa? Kenapa kau pergi secepat ini? Apa kau tidak ingin memaafkanku sehingga kau meninggalkan aku sendiri? Nee-chan... aku tidak punya siapa - siapa lagi...'

#Flashback_OFF

Shikamaru membingkai wajah Naruto dengan kedua telapak tangannya, membuat kedua manik berbeda gender itu terhubung, "Kau tidak sendiri... Aku disini..." Shikamaru mengecup lembut kening Naruto.

Disc :

Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing :

SasuFemNaru, SasuSaku slight ShikaFemNaru

Author :

Quiiny Riezhuka Sylvester

Genre :

Romance, Adventure, Tragedy, Drama & Hurt/Comfort

Rated :

M (Savety)

Warn :

AU, OOC, Fem Naruto, BASED ON TRUE STORY! I REPEAT, BASED ON TRUE STORY...DON'T LIKE? THEN DON'T READ

2 years later...

Uchiha dan Hyuuga, di antara mereka, kekuatan Fugaku dan Hizashi berkembang paling pesat dan menyebabkan peperangan di antara mereka tidak dapat dihindari. Tahun 200, Hizashi memulai ekspansi wilayah ke selatan, namun berhasil dipukul mundur oleh Fugaku. Hizashi kemudian memutuskan untuk memimpin sendiri kampanye militer ke selatan dan berpangkalan di Yangwu. Fugaku juga mundur ke Guandu untuk melakukan kampanye defensif. Di sini, kekuatan di antara mereka berimbang selama setengah tahun sampai akhirnya Fugaku melakukan serangan mendadak dan memusnahkan seluruh persediaan logistik Hizashi. Hizashi kemudian mundur karena moral prajurit yang rendah setelah kekalahan yang menentukan itu.

Setelah kekalahannya di Guandu, Hizashi beberapakali mencoba melakukan serangan kepada Fugaku namun gagal. Tahun 202, Hizashi meninggal, menyebabkan perebutan kekuasaan antara putranya, Neji Hyuuga dan Hinata Hyuuga. Fugaku mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Neji dan membunuh Hinata. Neji kemudian mencari perlindungan kepada suku Wuhuan di utara yang mendukung Hizashi. Atas nasehat Orochimaru, Fugaku menyerang Wuhuan dan membunuh pemimpinnya. Neji dalam pelariannya mencari perlindungan, namun kemudian dibunuh oleh Zabuza yang takut diserang Fugaku bila memberikan suaka kepada Neji. Tahun 202, Fugaku secara resmi mempersatukan wilayah utara Cina dan merencanakan ekspansi ke wilayah selatan.

Setelah menggapai keberhasilan di Selatan dan menguasai wilayah Utara, Fugaku sakit keras sehingga membuatnya tutup usia. Sepeninggalnya, anaknya Sasuke kemudian memaklumatkan diri sebagai Kaisar Uchiha.

ooOOoo

Dua tahun telah berlalu setelah kematian Naruko, kini posisi Sakura yang dulu menjadi selir, kini menjadi Permaisuri di ke kaisaran Uchiha ini. Walaupun rencana awalnya telah berhasil, namun harapan yang ia idamkan tidaklah berjalan sesuai keinginan...

Sasuke bangun dari tidurnya dan segera memakai pakaiannya dengan rasa kecewa yang masih menghinggapinya, "Sasuke, aku mohon... sekali lagi! Aku yakin, pasti kali ini aku bisa menghasilkan keturunan untukmu!" Mohon Sakura sambil menahan tangan kanan Sasuke.

Sasuke menepis tangan Sakura yang menahannya, "Sudahlah Sakura, aku lelah..." Ucapnya sembari melenggang pergi meninggalkan Sakura.

Tak ada yang dapat Sakura lakukan, menangis... itulah yang hanya bisa ia lakukan setiap malam tiba. Ya, Sakura mandul, ia tidak dapat menghasilkan keturunan. Apakah ini hukuman yang diberikan oleh sang langit, karena merebut posisi Permaisuri dengan cara yang kotor?

Sasuke berjalan dibawah guyuran cahaya rembulan, ia menyusuri koridor yang gelap nan sepi itu sendirian... Ia menuju ke kediaman Naruko dulu. Sasuke berdiri di depan pintu kamar Naruko dan perlahan membuka pintu tersebut. Suara derit pintu mengiringi langkahnya memasuki kamar tersebut. Para kasim dan dayang membungkuk hormat pada Sasuke dan Sasuke hanya menggunamkan kata ambigu seperti biasa, "Hn."

Sasuke memasuki ruang tersebut dan menemukan seorang bocah berambut hitam pekat nan jabrik tengah tertidur lelap. Kedua sudut bibirnya mengulas seulas senyum yang samar.

Sasuke menghampiri kasur tersebut dan mendudukan dirinya di sebuah kursi di samping kasur itu. Tangannya ia ulurkan ke atas kepala anak tersebut dan perlahan mengusapnya. Kedua manik Onyx miliknya perlahan - lahan senyendu...

'Seandainya waktu bisaku ulang...'

ooOOoo

Sakura mendudukan dirinya di dalam bak mandi, ia benar - benar frustasi malam ini. Wangi minyak bunga sakura tidak dapat menenangkan pikirannya saat ini. Ia merasa langit begitu kejam kepadanya, kenapa langit tidak bisa memberikannya keturunan? Apa ia terlalu hina untuk mendapatkan putra dari langit?

Lingkaran di sekitar matanya kini semakin jelas dan menghitam. Air wajahnya benar - benar kacau, bahkan aura cantik yang biasanya mengelilingi dirinya, kini seolah menghilang.

"Kenapa?" Tanyanya dengan nada yang lemah, yang entah ditujukan pada siapa. Sorot matanya sarat kekosongan.

"Kenapa!?" Teriak Sakura keras, suaranya menggema. Amarah telah menguasai dirinya. Nafasnya terengah, menandakan bahwa ia begitu begitu marah dan frustasi. Kenapa ia harus menelan pil pahit ini?

Kedua lututnya ia tekuk dan menyandarkan keningnya ke lututnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, isakan terus keluar dari kedua bibir ranumnya. Kristal - kristal bening mulai merangkak menuruni pipinya.

Sang surya mulai menampakan dirinya di ufuk timur dengan malu - malu. Burung kenari saling bersahutan, bersama - sama menyanyikan sebuah harmoni alam yang tak ternilai harganya. Walaupun mentari baru beranjak dari tempat persembunyiannya dan baru saja terbang ke langit, namun balairung utama kerajaan telah dipenuhi oleh para jendral perang dan para penasihat militer juga kerajaan. Mereka akan mengadakan rapat. Semua akan diberi tahu dan disuruh untuk berdiri menghadap ke arah Timur sampai Sang Kaisar datang. Orang - orang berbaris sesuai dengan kedudukan mereka.

Sebelum Sasuke memasuki balairung, akan ada tiga kali suara campuk, sebagai pemberitahuan untuk tenang. Pada saat campuk berbunyi, semua orang harus segera berlutut.

Sang Kaisar berjalan menuju ke singgasananya dengan penuh wibawa dan kharisma yang begitu melekat pada dirinya. Sebenarnya Sasuke tidak suka duduk berlama - lama di ruangan singgasananya, karena singgasananya tidak nyaman untuk diduduk. Singgasananya itu merupakan sebuah kayu ukir yang menakjubkan, terdiri dari banyak sekali sekelompok naga. Rapat ini bisa berlangsung berjam - jam, dan saat rapat ini berakhir, Sasuke sering sekali jadi sakit punggung. Ruangan singgasana ini lebih mirip galeri dibandingkan dengan ruang singgasana, karena begitu banyak benda dipajang di mana - mana.

Singgasananya terletak diatas sebuah panggung tinggi dengan tangga berderet di kedua sisinya. Dibelakang singgasananya terdapat tiga set panel kayu ukir, masing - masing berbentuk naga keemasan. Panggung ini memungkinkan Sasuke untuk menatap mata para audiensnya.

Ia mendudukan dirinya di singgasananya. Seluruh orang yang ada di balairung tersebut segera berlutut dan bersujud sebanyak sembilan kali. Mereka menempelkan dahinya pada lantai dengan ringan seraya berseru, "Kami mendo'akan sepuluh ribu tahun kehidupan Yang Mulia, semoga keberuntungan Anda sebanyak butiran air di Laut Cina Timur dan kesehatan Anda sesubur Pegunungan Selatan!"

Rapat pun dimulai dengan naiknya pelapor pertama yang dipanggil melalui tangga Timur, dan mempersembahkan sebuah buku penuh berisi catatan. Kaisar Uchiha takkan menyentuh buku itu, tetapi sekertarisnyalah yang akan mengambil dan meletakannya di kotak kuning dekat singgasananya. Kaisar akan mengacu pada buku itu, sekiranya diperlukan nanti. Orang yang menghadap tadi akan turun dari panggung melalui tangga Barat, kembali ke tikarnya dan diizinkan untuk menyampaikan urusannya.

"Semangat juang para prajurit masih bersemangat seperti biasa, Yang Mulia," Ia menjeda sambil membungkukan tubuhnya, "Para prajurit yang terluka pun mulai berangsur - angsur sembu-" Belum sempat ia dapat melanjutkan kalimatnya, seseorang membuka pintu balairung dengan kasarnya, membuat seluruh pasang mata menoleh ke sumber suara.

Seorang laki - laki masuk terburu - buru dengan jubah dan tubuhnya dibasahi oleh keringat, ternyata ia seorang pembawa pesan. Ia segera bersujud dan berkata, "Kastil Bai Di telah jatuh!" Ia memekikan pesan tersebut, seolah pesan itu adalah pesan terakhir dalam hidupnya. Nafas sang pembawa pesan itu tersengal - sengal.

Sang Kaisar hanya menyeringai puas dalam diam. Sasuke mengangkat cangkir yang berisi teh bunga Krisa yang ada di tangannya, lalu mendekatkan cangkir tersebut ke bibirnya, ia menghabiskan teh tersebut dalam satu tegakan, 'Akhirnya, ada tantangan juga.' Batinnya senang.

Sasuke mengangkat cangkir kosong yang berada di tangannya ke sebelah kanan, sejajar dengan bahunya. Sang dayang yang berada di belakang Sasuke, dengan segera mengisi cangkir kosong itu. Sasuke menegak kembali minumannya tanpa mengalihkan perhatiannya dari si pembawa pesan.

Sasuke menghentikan acara minum tehnya dan mulai memainkan cangkir yang ada ditangannya dengan cara digoyang - goyang, "Siapa yang berani mengambil Kastil Bai Di-ku?" Tanyanya dengan nada yang datar.

"Nara, Yang Mulia!" Pembawa pesan itu menunduk leih dalam, ia tidak sanggup untuk bertatap mata langsung dengan sang Kaisar.

Sasuke bangkit dari duduknya, "Siapkan prajurt kalian, kita akan berperag hari ni." Ucapnya sembari melenggang pergi pergi dari balairung.

ooOOoo

Sasuke menunggangi kuda hitam miliknya. Puluhan ribu prajurit berdiri dibelakangnya dengan rapi. Suara derap langkah sepatu kuda terdengar semakin lama semakin mendekat, ternyata itu adalah *Orochimaru yang menghampiri Sasuke sambil menunggangi kudanya.

(*Orochimaru as Uchiha's Strategist)

Sasuke menjalankan kudanya menuju ke tepi tebing untuk melihat pasukan Nara, dan ia diikuti oleh Orochimaru. Yang terlihat oleh mereka berdua adalah Shikamaru mengangkat tombak yang ada ditangan kanannya, dan diikuti oleh seluruh prajurtnya. Para prajurit Nara bersorak bersama. Sasuke hanya menonton adegan tersebut dengan ekspesi datarnya.

"Hahahaha!" Orochimaru tertawa lepas nan renyah, "Hahaha... Apa yang sedang si Nara itu ocehkan?"

"Yang jelas, tidak ada tempat untuknya untuk mewujudkan mimpi kunonya," Sasuke membelokan kudanya kesebelah Timur, ia menghunus pedangnya ke arah Timur, sedangkan tangan kirinya memegang tali kuda, "Ha!" Sasuke menghentakan kedua kakinya pada perut kuda yang ia tunggangi, kuda tersebut segera berlari kencang, dan diikuti oleh prajurit yang ada dibelakangnya.

Orochimaru hanya menyeringai sambil menatap kepergian Sasuke dan pasukannya, "Dan tak ada tempat untukmu juga." Gunamnya, sebelum mengikuti Sasuke dari belakang. Mereka semua menuju ke Main Camp untuk mendiskusikan strategi mereka. Semua Jendral dari setiap batalion pasukan Uchiha telah berkumpul.

"Yang Mulia, apakah anda tau tentang *Stone Maze yang berada di sebelah Barat Daya kastil Bai Di?" Tanya Orochimaru sambil menoleh pada Sasuke.

(*Stone Maze : Sebuah kuil yang terbuat dari batu. Setiap ruangan berbentuk persegi dan terdapat empat buah patung yang tingginya sekitar 3 meter. Setiap ruangan dipisahkan oleh pintu batu disetiap sisinya yang dapat bergerak sendiri. Kuil ini memiliki banyak sekali ruangan, karena begitu banyak ruangan dan pintu yang kerap bergerak sendiri, menjadikan kuil ini sebagai kuil yang menyesatkan.)

"Hn," Sasuke mengangguk kecil.

"Bagus, kalau begitu kita bisa menggunakan Stone Maze ini ntuk persembunyian Yang Mulia dan karena Stone Maze ini langsung mengarah ke Kastil Bai Di, kita juga bisa menggunakannya untuk melakukan serangan dadakan dari belakang Kastil." Jelas Orochimaru kepada semua audience.

"Kenapa aku harus bersembunyi?" Tanya Sasuke sambil menopang pipinya dengan punggung tangan kirinya, sikunya bertumpu pada meja.

"Demi keselamatan Anda, Yang Mulia." Ujarnya sambil membungkukan badannya, sopan.

"Apakah rencana ini akan berhasil?" Tanya salah seorang jendral berambut putih keungu - unguan, *Suigetsu.

(*Suigetsu as Uchiha's Officer, Ambush General)

"Indeed," Orochimaru membungkukan badannya pada Suigetsu.

Kedua alis Sasuke saling bertautan, ia nampak sedang berfikir keras. Sasuke menghela nafas berat, "Baiklah... Aku setuju dengan rencanamu, Orochi." Ucapnya sambil melangkah pergi. Semua orang segera membunguk hormat saat Sasuke melewatinya.

Sasuke keluar dari tenda diikuti dengan yang lain. Para prajurit dari seluruh batalion telah berbaris dengan rapi, "Hancurkan Nara tanpa belah kasihan." Ucapnya datar, namun sarat akan ketegasan. Pembantunya segera menuntunkan kudanya pada Sasuke. Sasuke menaiki kudanya menuju Stone Maze.

ooOOoo

"Kau tau, aku selalu cemburu padamu." Ungkap Naruto sambil mengelus kuda putih kesayangannya. Shikamaru menoleh pada Naruto dengan wajah yang sedikit bingung. Naruto menghela nafas pasrah, "Kau bisa menjadi seorang pahlawan, juga menjadi seorang raja." Naruto memutar badannya sehingga berhadapan dengan Shikamaru, "Aku juga ingin menjadi seorang pahlawan, aku tidak ingin menjadi Ibu Rumah Tangga." Naruto mengkerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

Shikamaru menggaruk lehernya yang tidak gatal, "Tapi kurasa, kau lebih pantas jadi Ibu Rumah Tangga saja." Shikamaru membuang muka dan kembali mengusap kudanya.

"Apa!?" Naruto menghampiri Shikamaru sambil menghentak - hentakkan kakinya, "Aku kira kau akan mengerti aku, ternyata sama saja!" Suaranya melengking, Naruto membalikan badannya dan segera menaiki kudanya, "Haahhh... Sudahlah, yang jelas... untuk perang kali ini, kita tidak boleh kalah!" Naruto mengepalkan tangan kanannya di depan dada dan tersenyum manis kepada Shikamaru.

"Ha!" Naruto menghentakan kedua kakinya pada perut sang kuda, membuatnya berlari kencang. Naruto menuju posnya di Barat Daya kastil Bai Di. Surai pirangnya melambai diudara, mengikuti derap langkah sang kuda. Yang akan menjadi posnya adalah Stone Maze, karena diperkirakan, akan ada musuh yang melalui Stone Maze untuk mencapai Kastil Bai Di bagian belakang.

ooOOoo

Setelah berpacu dengan kudanya lebih dari satu jam lebih, akhirnya sang Kaisar Uchiha telah sampai diulut kuil Stone Maze. Pintu yang terbuat dari batu, bergeser sendiri. Bau amis yang begitu kental menusuk indra penciuman Sasuke. Saat pintu terbuka, ia disuguhkan dengan pemandangan yang tak biasa ia lihat. Begitu banyak prajuritnya yang sudah tak bernyawa memenuhi ruangan berbentuk persegi tersebut. Darah prajuritnya membanjir lantai dan percikan darah menghiasi dinding berwarna khas batu tersebut.

Sasuke menuruni kudanya, darah yang menggenang dilanti, silih meloncat saat kaki Sasuke menapaki lantai tersebut. 'Darahnya masih baru.' Sasuke mengambil pedang yang menggantung di sisi perut kudanya dan menghampiri seorang prajurit yang terbujuk kaku tak bernyawa, lalu menyentuh dadanya, 'Masih hangat,'

Ia ingat sekarang, prajurit ini milik Suigetsu! Ya, Suigetsu memang berangkat lebih awal dari pada Sasuke, tujuannya hanya untuk membersihkan jalan untuk Sasuke, namun...

'Lalu, dimana Suigetsu berada?' Sasuke mengambil jalan ke arah Utara, pintu dengan sendirinya terbuka. Sama, lagi - lagi pemandangan yang sama. Pemandangan awal yang dilihatnya kini terlihat lagi, mayat para prajuritnya (Suigetsu) berserakan. Sasuke mengepalkan tangan kirinya, membuatnya sedikit memutih dan berbuku - buku. Tak ingin membuang waktunya, Sasuke mempercepat langkahnya. Ia sudah tak sabar ingin membunuh orang yang telah menghabisi pasukannya.

Telah lebih dari dua puluh pintu ia lalui, tetap dengan kondisi yang sama, bak telah terjadi pembantaian massal. Ini semua telah membuatnya murka! Giginya bergemelutuk karna menahan marah. Persetan dengan Stone Maze ini! Cukup, kesabarannya sudah habis!

Dewi fortuna sepertinya menyayangi Sasuke, Samar - samar ia mendengar suara tawa seorang perempuan. Sasuke segera menuju ke sumber suara, berbeda, kali ini tak ada mayat prajuritnya, hanya saja ada percikan darah yang mengarah ke pintu sebelah Timur, Sasuke segera berlari dan memasuki pintu timur, darah menujukan ke pintu Timur, Timur, Selatan, Utara, Selatan, Barat, Barat, Timur. Sasuke terus mengkuti kemana darah itu berujung. Sasuke mulai geram, ia serasa dipermainkan, Keringat mulai bercucuran dari pelipisnya, amarah telah menguras tenaganya. Pintu sebelah Timur pun terbuka, di tengah ruangan tersebut, tergeletaklah seorang berpakaian zirah berlumuran darah. Sasuke segera menghampiri orang tersebut, ternyata itu Suigetsu.

Sasuke berlutut di depan tubub Suigetsu lalu mengangkat tubuhnya perlahan, "Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke, walaupun nada yang dikeluarkannya terkesan datar, namun dalam hati... Sasuke khawatir, bagaimana pun juga Suigetsu adalah teman semasa kanak - kanaknya.

"No... Nona... di... dia..." Suigetsu berkata dengan susah payah, nafasnya begitu berat, "Kabur... Yang... Mu...lia, cepat..." Kalimat tersebut menjadi kalimat terakhirnya.

Sasuke menghela nafas rela, wajahnya memang menyiratkan ketidak pedulian, tetapi jika dari dalam... hatinya bagaikan sebuah agar - agar yang jatuh dari tepi jurang menuju dasar jurang. tak berbentuk, "Suigetsu... tidurlah dengan damai." Sasuke menidurkan Suigetsu kembali dan berdiri.

Sasuke melihat ke seluruh lantai, berharap ada jejak yang ditinggalkan oleh si pembunuh. Do'anya terkabul, beberapa tetes darah mengarah ke pintu sebelah Barat, mungkin itu darah yang menetes dari pedang si pembunuh. Tanpa basa basi, Sasuke segera mengikuti tetesan darah tersebut.

Pintu terbuka, Sasuke melangkah masuk, sebuah suara pintu batu bergeser yang lain terdengar, Sasuke menoleh ke sumber suara dan mendapati sebuah siluet memasuki pintu sebelah Timur, Sasuke mengikuti kemana ia pergi. Terus mengikuti, sampai di suatu ruangan, seluruh pintu keempat sisi (Utara, Barat, Selatan dan Timur) tidak dapat terbuka, 'Cih, sial. Kenapa aku mengikutinya, jelas - jelas ini perangkap.' Ia merutuki dirinya sendiri.

Ia terperangkap...

"Apa tujuanmu?" Tanya suara seorang wanita yang membumbung diudara.

"Hn,"

"Apa tujuanmu?" Tanyanya kembali dengan nada yang sedikit tinggi.

"Hn,"

Terdengar helaan nafas dari si wanita tersebut, "Siapa kau?"

"Hn,"

"Apa jabatanmu di Uchiha?" Ia kembali bertanya, namun nadanya berubah menjadi nada bak orang mengintrogasi.

"Hn,"

"Jawab yang benar!" Teriak wanita itu geram, tidak tahan.

"Hn,"

"Bicara yang benar!" Teriaknya lagi, sebuah seringai muncul di kedua sudut bibirnya. Suara melengking manja, ia suka.

"Hn,"

"Kau menyebalkaaaannn!" Rengeknya. Siapa pun dia, Sasuke mulai menyukai permainan ini, "Baiklah lupakan." Nada bicaranya mulai kembali tenang, "Ngomong - ngomong kau tampan, apa kau sudah punya kekasih?" Ia bertanya dengan polosnya.

Sasuke menghela nafas, 'Ternyata sama saja dengan wanita yang lain.' Tapi, kalau boleh jujur, Sasuke lumayan tertarik pada wanita yang satu ini, playboy... "Jika kau menunjukan diri dihadapanku, aku akan menjawab semua pertanyaanmu."

Pintu di sebelah Utara terbuka, menampilkan seorang gadis bersurai emas panjang sepunggung. Ia membelakangi Sasuke, ia mengenakan sebuah kimono yang panjang berwarna biru samar yang telah ternodai oleh noda darah. Tubuh Sasuke bergetar hebat, jantungnya berdegup tak karuan, seolah dia tengah bertemu sesosok hantu. Perlahan, gadis yang ada dihadapanya mulai membalikan badan dengan perlahan.

Jantung, nafas dan waktunya serasa berhenti. Gadis itu, apa dia reinkarnasi dari Naruko? Apakah ia merupakan kesempatan kedua yang diberikan oleh sang langit untuknya?

TBC


Tunggu kelanjutannya di A Retribution For Nee-Chan chapter 4!


Sedikit pemberitahuan saja, fict ini versi lain dari Anything For You, ya... walaupun cman dapet 10 review (: Maaf karna Ryn updatenya lama, itu karna faktor Sekolah, Eskul, Saka Bahari, sakit, faktor males, pgnnya internetan mulu, baca novel, baca sejarah Cina, Jepang, Yunani, Atlantik, FBan (Mercury Lampe Rosa My-Styckha), BBMan (74DA18E8), tidur (clinomania), maen game, Ryn bikin 3 Fict baru! SasuFemNaru INDEED!

Oh iya, Ryn tau chapter kali ini boring and a bit annoying... but, I promise, next time will be the ya... lebih ramean dari ini, mungkin? Well, itu karna Ryn lupa gaya bahasa sendiri, karna lama gx nulis jadi lupa sendiri...

Maaf kalo Reviewnya gx bisa di bales smua, tpi makasii banget ya! Ryn usahain next chappie gxan lma qoo :3

*NOTE : Bagi kalian yang merasa Guest, kalo mw review, Kasii nama ya! Biar Ryn gx bingung... Arigatou! C:


REVIEW PLEASE )':