Big thanks for your review, favs and foll at the previous chapter, I really appreciate it! :* *kiss*
Can't mention one by one, 'cuz it's too many, hhee ... sorry :/
..~" Happy Reading! "~..
Dewi fortuna sepertinya menyayangi Sasuke, Samar - samar ia mendengar suara tawa seorang perempuan. Sasuke segera menuju ke sumber suara. Berbeda, kali ini tak ada mayat prajuritnya, hanya saja ada percikan darah yang mengarah ke pintu sebelah Timur, Sasuke segera berlari dan memasuki pintu timur, darah menujukan ke pintu Timur, Timur, Selatan, Utara, Selatan, Barat, Barat, Timur. Sasuke terus mengkuti kemana darah itu berujung. Sasuke mulai geram, ia serasa dipermainkan, Keringat mulai bercucuran dari pelipisnya, amarah telah menguras tenaganya. Pintu sebelah Timur pun terbuka, di tengah ruangan tersebut, tergeletaklah seorang berpakaian zirah berlumuran darah. Sasuke segera menghampiri orang tersebut, ternyata itu Suigetsu.
Sasuke berlutut di depan tubuh Suigetsu lalu mengangkat tubuhnya perlahan, "Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke, walaupun nada yang dikeluarkannya terkesan datar, namun dalam hati ... Sasuke khawatir, bagaimana pun juga Suigetsu adalah teman semasa kanak - kanaknya.
"No ... Nona ... di ... dia ..." Suigetsu berkata dengan susah payah, nafasnya begitu berat, "Kabur ... Yang ... Mu ... lia, cepat ..." Kalimat tersebut menjadi kalimat terakhirnya.
Sasuke menghela nafas rela. Wajahnya memang menyiratkan ketidak pedulian, tetapi jika dari dalam ... hatinya bagaikan sebuah agar - agar yang jatuh dari tepi jurang menuju dasar jurang. tak berbentuk, "Suigetsu ... tidurlah dengan damai." Sasuke menidurkan Suigetsu kembali dan berdiri.
Sasuke melihat ke seluruh lantai, berharap ada jejak yang ditinggalkan oleh si pembunuh. Do'anya terkabul, beberapa tetes darah mengarah ke pintu sebelah Barat, mungkin itu darah yang menetes dari pedang si pembunuh. Tanpa basa basi, Sasuke segera mengikuti tetesan darah tersebut.
Pintu terbuka, Sasuke melangkah masuk, sebuah suara pintu batu bergeser yang lain terdengar, Sasuke menoleh ke sumber suara dan mendapati sebuah siluet memasuki pintu sebelah Timur, Sasuke mengikuti kemana ia pergi. Terus mengikuti, sampai di suatu ruangan, seluruh pintu keempat sisi (Utara, Barat, Selatan dan Timur) tidak dapat terbuka, 'Cih, sial. Kenapa aku mengikutinya, jelas - jelas ini perangkap.' Ia merutuki dirinya sendiri.
Ia terperangkap...
"Apa tujuanmu?" tanya suara seorang wanita yang membumbung diudara.
"Hn,"
"Apa tujuanmu?" tanyanya kembali dengan nada yang sedikit tinggi.
"Hn,"
Terdengar helaan nafas dari si wanita tersebut, "Siapa kau?"
"Hn,"
"Apa jabatanmu di Uchiha?" Ia kembali bertanya, namun nadanya berubah menjadi nada bak orang mengintrogasi.
"Hn,"
"Jawab yang benar!" teriak wanita itu geram, tidak tahan.
"Hn,"
"Bicara yang benar!" teriaknya lagi, sebuah seringai muncul di kedua sudut bibirnya. Suara melengking manja, ia suka.
"Hn,"
"Kau menyebalkaaaannn!" rengeknya. Siapa pun dia, Sasuke mulai menyukai permainan ini, "Baiklah lupakan." nada bicaranya mulai kembali tenang, "Ngomong - ngomong kau tampan, apa kau sudah punya kekasih?" Ia bertanya dengan polosnya.
Sasuke menghela nafas, 'Ternyata sama saja dengan wanita yang lain.' Tapi, kalau boleh jujur, Sasuke lumayan tertarik pada wanita yang satu ini, playboy... "Jika kau menunjukan diri dihadapanku, aku akan menjawab semua pertanyaanmu."
Pintu di sebelah Utara terbuka, menampilkan seorang gadis bersurai emas panjang sepunggung. Ia membelakangi Sasuke, ia mengenakan sebuah kimono yang panjang berwarna biru samar yang telah ternodai oleh noda darah. Tubuh Sasuke bergetar hebat, jantungnya berdegup tak karuan, seolah dia tengah bertemu sesosok hantu. Perlahan, gadis yang ada dihadapannya mulai membalikan badannya.
Jantung, nafas dan waktunya serasa berhenti. Gadis itu, apa dia reinkarnasi dari Naruko? Apakah ia merupakan kesempatan kedua yang diberikan oleh sang langit untuknya?
Disc :
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing :
SasuFemNaru slight SasuSaku
Author :
Quiiny Riezhuka Sylvester
Genre :
Romance, Adventure, Tragedy, Drama & Hurt/Comfort
Rate :
M (Savety)
Warn :
AU, OOC, Fem Naruto, BASED ON TRUE STORY! I REPEAT, BASED ON TRUE STORY...DON'T LIKE? THEN DON'T READ
××× Sasuke PoV ×××
Nafasku tertohok di tenggorokkan. Waktu terasa berhenti. Aku ... tidak sedang bermimpi 'kan? Jika iya, ku mohon ... jangan pernah bangunkan aku dari tidurku ini.
"... kau?" Aku tersentak bangun dari lamunanku. Ku pandangi dia dari ujung kimono sampai ke wajahnya. Kimononya ternodai banyak darah. Apa dia yang telah membantai seluruh pasukan Suigetsu?
Mataku bertemu dengan manik Cerulean-nya, "Siapa kau?" tanyanya lagi. Maniknya yang bulat nan besar menatapku dengan polosnya.
Aku mendengus geli dan menatapnya datar, "Kau harus memperkenalkan namamu terlebih dahulu."
"Kau benar. Namaku Naruto Namikaze, siapa namamu?" Ia mengeluarkan cengiran yang menampilkan deretan gigi putihnya.
Aku diam sejenak, mencoba mencerna setiap perkatannya, 'Naruko Namikze ... Naruto Namikaze. Nama marga mereka sama, apakah ia sodari kembar Naruko?'
"Siapa kau?" Ia bertanya dengan nada yang mengintimidasi, yang menurutku tidak ada seramnya sama sekali.
Aku menghela nafas lalu menatanya dengan tatapan tajamku, "Namaku ... Sasuke Uchiha dan aku Kaisar Uchiha." ujarku datar.
××× Sasuke PoV End ×××
Tubuh Naruto bergetar hebat. Pikirannya kini melayang pada amanat yang diberikan Shikamaru padanya, 'Namanya ... Sasuke Uchiha!'
Flashback
Naruto membalikan badannya dan segera menaiki kudanya, "Haahhh ... Sudahlah, yang jelas ... untuk perang kali ini, kita tidak boleh kalah!" Naruto mengepalkan tangan kanannya di depan dada dan tersenyum manis kepada Shikamaru.
"Ha!" Naruto menghentakan kedua kakinya pada perut sang kuda, membuatnya berlari kencang. Naruto menuju posnya di Barat Daya kastil Bai Di. Surai pirangnya melambai di udara, mengikuti derap langkah sang kuda.
"Naruto!" teriak seseorang dari belakang. Naruto menarik tali kudanya kebelakang, membuat kuda putih yang ditungganginya berteriak dan berhenti. Naruto menoleh ke sumber suara dan menemukan Shikamaru tengah mengendarai kuda, menghampirinya.
"Ada apa Shika?" tanya Naruto.
"Naruto," Shikamaru menghentikan kudanya disamping kuda Naruto. Shikamaru menatap Naruto dengan lekat, "Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah berurusan dengan lelaki benama 'Sasuke Uchiha', apalagi menemuinya!" Shikamaru memperingatkan Naruto.
"Kenapa?" Naruto memiringkan kepalanya ke kiri.
"Siapapun yang bertemu dengan Sasuke di medan perang, belum pernah ada yang selamat," Shikamaru menjeda kalimatnya, "Apapun yang terjadi ... jangan pernah temui dia." Shikamaru memutar balik kudanya menuju arahnya datang.
Jujur, Naruto belum pernah melihat wajah Shikamaru yang terselimuti oleh rasa khawatir yang begitu pekat. Kenapa Shikmaru begitu takut aku bertemu dengan lelaki bernama Sasuke itu? "Me-Memangnya, dia siapa?" tanya Naruto setengah berteriak pada Shikamaru yang tengah mengendarai kudanya.
Terdengar helaan nafas yang amat membebaninya, Shikamaru menghentikan laju kudanya dan menoleh pada Naruto dari belakang pundaknya, "Kaisar Uchiha ..."
End of Flashback
Dengusan meremehkan keluar dari Sang Kaisar Uchiha, Naruto bangun dari khalayannya, "Apa Nara sudah kehabisan prajurit lelaki sehinga memasang wanita di medan peran sebagai pasukannya?"
Naruto mengepalkan tangannya, ia geram! Ia kesal! "Beraninya kau ..." desis Naruto penuh racun.
'Apapun yang terjadi, jangan temui dia. Kalaupun kau bertemu dengannya, larilah! Dia bukan tandinganmu!'
Teriakan Shikamaru masih mengema jelas di kepala dan telinganya. Naruto segera menggelengkan kepalanya. Mencoba melebur segala yang Shikamaru peringatkan padanya.
Naruto mencoba menutup kedua bola matanya, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Naruto membuka kedua kelopak maniknya, menampilkan batu cantik berwarna Cerulean.
'Maafkan aku ... Shikamaru.' Naruto mengambil dual sword yang ada di belakang punggungnya yang saling menyilang berlawanan dengan kasar.
Sasuke menyeringai bangga, "Try ... If you dare." Sasuke mengeluarkan pedang dari sarangnya.
Naruto berlari dengan pedang di kedua tangannya menuju ke arah Sasuke. Sasuke berdiri dengan senyum meremehkannya. Naruto menebaskan pedang yang berada di tangan kirinya ke arah Sasuke, namun dapat ditangkis dengan mudah oleh pedang Sasuke. Pedang mereka saling bergesakan, menimbulkan beberapa percikan api di tempat terjadinya pergesekan.
Merasa punya kesempatan, Naruto mengayunkan pedang yang berada di tangan kirinya ke kaki kanan Sasuke. Sasuke yang menyadari pergerakan Naruto, langsung mengangkat kaki kanannya, membuat posisi Sasuke menjadi menyerong ke sisi kanan.
Naruto menarik pedang di tangan kanannya dan menghunus pedangnya ke arah jantung Sasuke. Walaupun Sasuke bertarung dengan terus menatap iris Naruto, namun tak sedetik pun dia melonggarkan pertahanannya. Kepekaan Sasuke sangat sebelum pedang Sakura Tsumuji milik Naruto berhasil merobek jantung Sasuke, Sasuke sudah memutar badannya ke kiri sembilan puluh derajat. Membuat pedang yang ada di genggaman Naruto menusuk ruang hampa. Beberapa helai rambut Sasuke beterbangan di sekitar bahunya, menujukan bahwa tajamnya pedang Naruto itu ... bukan main.
Sasuke dapat melihat raut kekecewaan terpatri jelas di wajahnya yang molek nan indah itu. Matanya memicing tajam saat ia menatap Sasuke. Kecewa, Naruto kecewa karena setiap serangan yang ia torehkan tak membawakan hasil. Naruto mencoba menebaskan kedua pedangnya bersamaan dengan berbeda arah namun satu sasaran. Diluar dugaan, ternyata Sasuke malah meloncat ke belakang Naruto.
Manik Naruto membulat sempurna, "Apa ..." gunam Naruto, ia tidak pernah menyangka Sasuke akan meloncat ke belakang! Rasa sakit tiba-tiba saja mendera tengkuk Naruto. Keseimbangan Naruto mulai goyah dan pandangannya mulai mengabur.
Sebelum tubuh Naruto menyentuh lantai kuil, Sasuke segera menarik pinggang Naruto ke pelukannya. Suara dentingan kedua pedang yang ada di genggaman Naruto terjatuh ke lantai, terdengar menggema. Sasuke membalikan tubuh Naruto dengan hati-hati sehingga mereka saling berhadapan. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan sendu, ia merasa déjà vu. Manik Pitch-black-nya mulai berkaca-kaca, sebegitu lemahkan ia jika berhadapan dengan gadis bersurai cahaya matahari dan bermanik Cerulean ini?
Sasuke menarik Naruto kedalam pelukannya, ia menyelusupkan kepalanya ke leher Naruto. Dihirupnya aroma citrus yang menguar dari leher Naruto, begitu menyegarkan. Bahu Sasuke mulai bergetar dan beberapa tetes air menyeruak keluar dari maniknya. Gadis ini benar-benar mengingatkannya pada Naruko.
ooOOoo
Sasuke membaca setiap deret huruf yang tercetak pada sebuah buku tebal yang ada di genggamannya. Sesekali ia melirik sesosok malaikat bersurai matahari yang tengah terlelap di pahanya dari ekor mata. Tanpa sadar, ia menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala gadis tersebut.
Kelopak maniknya mulai bergetar dan perlahan mengkerjap pelan. Terbukalah kelopak yang menghalangi indahnya manik Sapphire langit musim panas. Sang langit musim panas ini bertemu dengan langit malam yang kelam. Seolah terpana, Naruto hanya diam membatu memandangi Onyx yang tersaji dihadapannya.
Sasuke menutup buku tebal yag ada di tangan kirinya dengan kasar, membuat Naruto tersentak bangun dari fantasinya. Naruto menatap tajam Sasuke lalu mendudukkan dirinya, namun Naruto kembali tersungkur saat merasakan sakit yang luar biasa ditengkuknya, "Ughh ..." Tengkuknya berdenyut-denyut nyeri.
"Dasar berengsek! Apa yang kau lakukan padaku!?" teriak Naruto lantang, matanya memancarkan kebencian. Sasuke menatapnya datar dan dingin. Seolah tak mau menjawab, Sasuke kembali membuka buku yang ada di tangannya.
'Dasar kaisar berengsek!' umpat Naruto dalam hati sambil mencoba mendudukan dirinya. Naruto tak ada hentinya memegangi tengkuknya. Setelah merasa lebih baik, Naruto menggerakan tangannya untuk menyibakkan sebuah tirai yang berada di samping kirinya. Naruto secara refleks memejamkan matanya saat ribuan cahaya menyerang pupil matanya. Ia mengkerjap-kerjapkan matanya agar bisa membiaskan cahaya yang masuk ke matanya.
Naruto mulai mengamati setiap tempat yang dilalui oleh tandu yang membawanya. Sebuah kota yang indah dengan berbagai bunga menghiasi pekarangan rumah. Selain bunga-bunga yang menghiasi, pepohonan yang ada di setiap sisi jalan menambah warna hijau tersendiri. Bukan hanya itu saja, tetapi kota ini bisa dibilang bebas dari sampah.
"Ke mana kau membawaku?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kota yang menyejukkan itu.
"Kekaisaran Uchiha," jawab sang kaisar Uchiha tanpa mengalihkan maniknya dari buku yang tengah dibacanya.
Naruto kembali munutup tirai tandu dan menolehkan kepalanya pada Sasuke seraya berkata, "Kau pernah bilang bahwa kau adalah seorang Kaisar Uchiha, benar?"
Sasuke nampakya tidak peduli dengan apa yang Naruto coletehkan, "Hn." gunamnya ambigu sambil tetap membaca buku yang ada di tangannya.
"Kalau begitu, apa kau kenal dengan seorang wanita berambut merah muda dengan bola mata seperti batu emerald?" Naruto menundukkan kepalanya dan mencoba mengingat-ngingat sosok wanita iblis yang menguburkan kakaknya dengan tidak layak. "Dia ... juga berkulit putih." tambah Naruto.
"Sakura, maksudmu?" Sasuke masih asyik dengan kegiatannya sendiri. Ia menanggapi setiap pertanyaan Naruto seadanya.
Naruto membentuk kedua bibirnya menjadi sebuah O sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya, "Ohh ... namanya Sakura!" Naruto bermonolog dengan nada yang sarkastik. Naruto menolehkan kepalanya kepada sang Kaisar, "Dia itu siapa?" tanya Naruto dengan penuh penasaran.
"Permaisuri kerajaan Uchiha." Naruto bersumpah, ia ingin sekali menendang bokong Sasuke! Jawabannya yang terkesan datar, dingin dan tidak peduli itu membuat Naruto muak! Sungguh, bagaimana mungkin kakaknya bisa tahan dengan pria kutub selatan seperti orang yang ada dihadapannya ini?! Urat-urat yang berada di sekitar pelipisnya mulai berkedut-kedut.
Tangannya mengepal keras, membuat tangannya terbuku-buku dan sedikit memutih. Giginya bergemeletuk menahan marah. Naruto segera membuang muka dan mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan untuk menetralkan emosinya. "Lalu apa tujuanmu membawaku ke Kaisaran Uchiha, Yang Mulia." tanya Naruto dengan nada sinisnya.
"Menjadikanmu selirku." Bak tersengat berjuta-juta volt listrik. Naruto tidak pernah menyangka jika Sasuke mengatakan hal demikian. Naruto segera menggerakkan kepalanya pada Sasuke. Ia menatap nyalang manik-manik kelam milik Sasuke yang kini juga tengah menatapnya.
Sebuah lengkungan dikedua bibir Naruto terlukis begitu saja, melenyapkan tatapan mematikan yang ia layangkan beberapa saat lalu, "Begitu ya."
ooOOoo
Jemari-jemari lentik itu memegang kuas yang ada di tangannya dan dengan cekatannya, jari-jari itu menggerakan kuas yang bergincu merah pada kedua bibirnya. Ia memulasnya dengan hati-hati dan rapi.
Ia melihat pantulan dirinya pada cermin yang berada di hadapannya. Ia sudah cantik. Ia bangkit dari duduknya dan memutar tubuhnya perlahan. Matanya tidak pernah sama sekali meninggalkan cerminan dirinya. Baju kebesaran dengan gambar naga emas itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Jubah yang dikenakannya terbuat dari satin kuning yang berkilau, penuh dengan simbol alam dan mitologi. Permata sebesar telur, batu kumala dan batu berharga yang lainnya dijahitkan pada pakaian kebesarannya itu.
Rambut berwarna soft pink-nya telah ditata dengan rapi menyerupai sebuah bangau oleh penata rambut pribadinya. Tidak hanya itu, bunga, batu rubi dan berlian bergelantungan di kepalanya dan menutupi hampir separuh dari wajahnya. Kalung emas dan perak yang dikenakannya mesti berat sekali karena Sakura tampak seakan-akan condong ke depan.
Setelah merasa puas dengan tampilannya, Sakura tersenyum bangga dan menuju ke pintu keluar kamarnya. Ia mendorong pintu kamarnya secara perlahan dan melangkah keluar dari kamarnya. Sakura segera disambut oleh bungkukan puluhan para kasim dan dayangnya. Wanita itu berjalan dengan penuh percaya diri dengan dagunya yang terangkat. Para dayang dan kasimnya mengikuti Sakura dari belakang.
Tujuan utama mereka saat ini adalah gerbang utama. Kabar tentang kepulangan Sasuke telah sampai ke telinga sang Permaisuri Uchiha ini. Ini juga menjadi alasan utama kenapa wanita pemilik surai soft-pink ini berdandan.
Tak perlu waktu lama untuk mencapai gerbang utama. Kepala kasim dan para petinggi kerajaan lainnya telah berkumpul di depan gerbang. Semua orang yang berada di gerbang utama segera membungkuk hormat saat Sakura menginjakan kakinya di gerbang utama. Perlu diketahui, bahwa gerbang utama kekaisaran Uchiha mengarah langsung pada ibu kota negara Uchiha, kau bahkan dapat melihat rumah khas Cina berjejer dengan rapi.
Sebuah tandu yang mewah berhiaskan batu permata telah nampak dari sebelah Utara gerbang utama. Batu-batu beharga yang tertatah di kayu tandu tersebut bercahaya karena terterpa cahaya mentari. Tirai penghalang yang terbuat dari kain satin emas pun nampak berkilauan.
Tandu itu semakin mendekat diringi dengan para angkatan perang milik Sasuke di bagian belakang tandu yang membawanya. Ia pulang membawa kemenangan. Para petinggi kerajaan silih merapatkan barisannya. Sakura mengulum senyum dari bibirnya, tak sabar menunggu ke pulangan sang suami tercinta.
Tandu diturunkan hingga menyentuh tanah. Dari balik tirai penghalang itu, keluarlah sosok tampan sang kaisar Uchiha. Sasuke keluar dari dalam tandu dengan ekspresi khas datarnya. Seluruh orang yang ada di gerbang utama segera berlutut dan membenturkan keningnya ringan pada lantai dengan kedua jemari tangan mereka di arahkan lurus pada kedua telinga mereka sambil menyerukan, "Kami mendo'akan sepuluh ribu tahun kehidupan Yang Mulia, semoga keberuntungan Anda sebanyak butir air Laut Cina Timur dan kesehatan Anda sesubur Pengunungan Selatan."
"Hn," Setelah ratusan orang berdo'a untuknya, Sasuke malah menanggapinya dengan gunaman tak jelasnya.
Seolah terbiasa dengan jawaban sang kaisar arogan ini, mereka segera bangun dan membungkukan badannya sambil memundurkan diri untuk memberi jalan, menyisakan Sakura yang tidak berada jauh berdiri dihadapannya. Sakura membungkukan badannya sedikit. Senyum tidak pernah terlepas dari bibirnya.
Sasuke hanya menatap dingin dirinya, "Sakura ..." panggil Sasuke, Sakura segera mengangkat kepalanya dan menatap harap pada Sasuke.
"Ada yang ingin bertemu denganmu." ucap Sasuke sambil melangkah melewati Sakura. Sakura segera menolehkan kepalanya pada Sasuke saat Sasuke melewatinya. Para petinggi kerajaan segera mengikuti sang Kaisar. Tatapannya menyendu menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh darinya. Ia menggigit bibir bawahnya, putus asa.
Suara derap langkah yang mendekat memaksa Sakura kembali menoleh ke depan. Seorang dengan surai emas tengah membungkuk tidak jauh dari hadapannya. Poni-poni rambut yang bergelantungan membuat Sakura tidak dapat melihat wajah wanita itu. Wanita tersebut perlahan menegakan badannya. Manik sapphire sebiru lautannya menatap tantangan manik sang Permasuri yang berada di hadapannya.
Manik Emerald-nya membulat sempurna, wajah Sakura memucat pasi. Secara tidak sadar, Sakura memundurkan kaki kirinya satu langah. Tubuhnya bergetar dan lelehan peluh keluar dari pori-pori kulitnya. Paru-parunya serasa berhenti memasok udara, membuatnya sulit untuk bernafas.
Sebuah senyum indah tersungging di bibirnya saat melihat ekspresi 'menyedihkan' dari sang Permaisuri, "Kau sudah selesai?" sebuah suara baritone menginterupsi acara saling tatap kedua wanita itu.
Naruto segera berpaling ke arah sumber suara, "Emph!" Naruto menganggukan kepalanya antusias lalu berjalan menuju ke arah Sasuke. "Aku kembali..." gunam Naruto saat ia melewati Sakura. Dengan itu, Naruto dan Sasuke pergi meninggal Sakura yang tengah mematung.
Sakura membalikkan badannya, namun karna pikirannya yang melayang-layang membuat langkahnya tak menentu dan hampir saja jatuh jika sepasang tangan kekar tidak memeganginya. "Wanita itu ..." gunam seorang lelaki yang tengah menjaga keseimbangan sang Permaisuri.
"Sai ... kenapa dia ... bangkit lagi?" Sakura menatap kepergian Naruto, eksresinya masih horror bak melihat sosok yang menyeramkan. Walaupun ia mengenakan make up yang tebal, rona pucat pasi sangat kental di wajahnya. "Siapa wanita itu? Aku jelas-jelas sudah menguburkannya!" Ingatannya tentang mantan Permaisuri bersurai pirang yang dia kuburkan dua tahun yang lalu masih terasa begitu segar di pikirannya. Bagaimana ia memasukan gabah ke dalam mulutnya, bagaimana ia melilitkan rambut emasnya pada wajahnya. Semua terasa terjadi kemarin.
Sakura menggerakkan kepalanya untuk bertatap muka dengan Sai. Kedua tangannya mencengram bahu sang kepala kasim kerajaan Uchiha itu. "Ini pasti mimpi!" Sakura tersenyum lebar kala ia mengatakannya.
Sakura menundukkan kepalanya, "Hahahah ..." Sakura terkekeh. Ia mengangkat kepalanya satu hentakan, "Ini pasti mimpi!" matanya menatap tajam Onyx Orb Sai. Ia melepaskan cengkraman tanganya dan tak hentinya tertawa. Ia berjalan gontai menuju istana, meninggalkan Sai seorang diri. Para kasim dan dayang milik Sakura segera mengikutinya.
Sai hanya mampu menatap sendu kepergian sahabatnya itu. Dirinya begitu terobsesi untuk mendapatkan Sasuke. Semua cara ia halalkan, bahkan sampai menelan korban seperti ini. Mungkin ... sekarang akan kembali meregang nyawa. Sai menghela nafas berat, ia sudah lelah dengan perbuatan Sakura. Sai melangkahkan kakinya mengukuti Sakura.
ooOOoo
Naruto dan Sasuke duduk saling berhadapan di atas bantal. Sebuah meja dengan dua cangkir teh bunga krisa tersimpan dihadapan dua orang berbeda gender itu. Beberapa puluh dayang dan kasim kepercayaan Sasuke ikut duduk di isi kanan dan kiri ruang washitsu milik Sasuke. Walaupun begitu banyak orang diruangan tersebut, namun tak ada satupun orang yang berani untuk membuka suara.
Wanita pemilik surai pirang tersebut hanya menundukkan kepalanya, ia melihat pantulan dirinya di atas air teh berwarna crimson itu. Ia tengah berfikir bagaimana caranya membalaskan dendam kakaknya itu. Lalu, kenapa? Ia sudah berada di istana Uchiha sekarang. Ia juga sudah bertemu dengan wanita iblis berwajah malaikat yang memb—
"Aku akan memberikan dayang dan kasim kepercayaanku untuk merawatmu." Naruto mendongak pada Sasuke yang tengah duduk tidak jauh dari hadapannya. Kedua sikunya bertumpu pada meja dan jari-jari tangan kirinya berada di sela-sela jari tangan kanannya. Tumpukan jarinya itu ia tempatkan didepan bibirnya, membuat bibirnya terhalangi jarinya sendiri.
Naruto menatap manik kelam Sasuke yang juga tengah menatapnya dalam, "Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Katakan." Sasuke menatap Naruto dngan ekspresi datar khasya.
"Aku ingin dayang, kasim dan kamar bekas permaisuri bernama 'Naruko Namikaze'." Raut wajah Naruto tidak kalah datar dengan air wajah Sasuke.
Kelopak mata Sasuke silih menyipit, maniknya menatap tajam Naruto. Seketika itu, suhu diruangan washitsu milik Sasuke berganti dengan aura yang sedikit menyesakkan. Sasuke berkata penuh penekanan, "Apa hubunganmu dengan Naruko?"
Naruto menatap tantang manik Sasuke. Ia tidak takut, "Apa urusanmu?!" Ia mengeluaran nada sarkastiknya.
Udara semakin mencengkram paru-paru, keringat dingin membasahi dahi-dahi para dayang dan kasim. Mata mereka bergerak-gerak resah. Namun, itu semua tidak berlaku para orang yang saling melempar tatapan tajam saat ini.
"Persiapan rapat telah selesai!" Seru seseorang dari luar ruangan. Sasuke memejamkan matanya dan menghela nafas ringan. Bagai menghirup udara segar yang berada di pegunungan, itulah yang dirasakan para dayang dan kasim saat acara tatap menatap itu berhenti.
"Ten Ten, kau urus dia." perintah Sasuke.
"Baik, Yang Mulia." Ten Ten yang tengah duduk diatas tatami pun langsung membungkukkan punggungnya dan membenturkan dahinya halus ke lantai. Bersamaan dengan itu, Sasuke berdiri dan berjalan menuju keluar ruangan. Naruto melirik kepergian Sasuke dari ekor matanya dengan tatapan dingin.
"Mari ikut dengan saya Yang Mulia." Jantung milik Naruto hampir saja meloncat keluar. Naruto mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan menemukan seorang wanita berambut cokelat cepol dua tengah membungkukan badannya.
"Eh? Ahh ... iya." Naruto mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Ten Ten yang telah bangkit lebih dulu, segera memimpin jalan dan diikuti oleh Naruto dibelakangnya. Para dayang dan kasim yang lain segera mengikuti dari belakang Naruto.
Lama mereka berjalan, entah sudah berapa kali mereka melewati pertigaan dan perempatan juga lorong. Naruto sendiri tidak yakin apakah ia tidak akan tersesat. Menghela nafas, itulah yang dapat Naruto lakukan ... 'Lama sekali.' batin Naruto mulai bosan. Ya memang, sebagai penguasa negeri Cina barat, selatan dan timur, tidak aneh jika istananya pun seluas puluhan stadion sepak bola, bahkan lebih.
Tawa khas anak seorang bayi laki-laki terdengar samar-samar. Naruto menaikan sebelah alisnya, penasaran. Kini Naruto memasuki sebuah lorong, penerangan alami dari sang matahari hanya mampu masuk separuh. Ukiran lambang klan Uchiha tertatah indah di setiap meter dinding lorong. Naruto hanya berdecak kagum, kerajaan Nara tak mampu menandingi kemegahan kerajaan Uchiha!
Cahaya terang di ujung lorong membuat Naruto sedikit menyipitkan kedua kelopak matanya. Mereka terus berjalan, sampai akhirnya cahaya tersebut terganti oleh indahnya pemandangan yang indah. Sebuah hamparan rumput hijau yang luas. Di tengah rumput tersebut, sebuah pohon persik yang cantik berdiri tegak. Kelopak bunga khasnya bermekaran indah. Di sebelah barat pohon persik, terdapat sebuah kolam yang ditumbuhi bunga lotus. Patung seorang gadis berdiri di tengah kolam sambil membawa gentong. Dari gentong tersebut keluarlah air yang jatuh langsung ke dalam kolam. Pohon bonsai mini menghiasi setiap sisi taman ini.
"Mama! Mama!" sebuah coletehan seorang anak kecil menyapa pendengaran Naruto. Ia menggerakkan kepalanya ke sumber suara dan mendapati seorang bocah berumur sekitar dua tahunan tengah berlari ke arahnya. Bocah itu berambut hitam acak-acakan dan sedikit panjang, seperti melihat Sasuke dalam versi anak-anak. Yang berbeda hanyalah kedua mata sapphire indah langit cerah tanpa awan, bukanlah onyx gelap sekelam malam.
Bocah ia terus meneriakan kata 'Mama' sambil terus berlari ke arahnya dan Naruto memandanginya bingung. Bocah itu hampir saja terjatuh jika Naruto tidak sigap segera menahannya.
"Kau tak apa?" Naruto berjongkok, bertanya dengan senyum manisnya yang tertempel di bibir ranumnya.
Bukannya menjawab, bocah berambut raven itu malah mengkerucutkan bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca dan isakan keluar dari mulutnya. Ia segera memeluk lehernya saat Naruto yang tengah berjongkok dihadapannya, "Mama! Mama!"
Naruto menggernyit bingung. Secara tidak sadar, Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Mau tidak mau, akhirnya Naruto berdiri dan menggendong bocah yang tengah memeluk lehernya.
Ia pun berdiri dan mengedarkan pandangannya. Ada dua pemandangan. Satu, dia melihat para dayang yang ia yakini penjaga bocah ini, sekarang tengah berekspresi horror melihat dirinya. Dua, dayang-dayang yang berada dibelakangnya silih menundukkan kepala.
Naruto segera melemparkan tatapan pertanyaan, 'Apa yang terjadi?' dan 'Siapa bocah ini?' pada Ten Ten saat mereka bertemu pandang.
Ten Ten yang melihatnya langsung memajukan diri satu langkah. Ia menundukkan kepalanya dan berkata, "Beliau Putera Mahkota, Menma Uchiha. Putera dari Yang Mulia Sasuke dan Permaisuri Naruko." Ten Ten mengangkat kepalanya dan memundurkan diri satu langkah.
'Apa!' Naruto sontak saja kaget, ia segera mendorong pelan bahu Menma. Pantas saja bocah ini memanggilnya dengan sebutan 'mama'. Bocah itu melonggarkan pelukkannya dan memandangi Naruto dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Yang Mulia Putera Mahkota tinggal di sini, bekas kediaman Permaisuri Naruko." Kembali, Ten Ten berucap. Naruto mengalihkan pandangannya pada Ten Ten dan membiarkan Menma memeluk lehernya kembali.
Ia melanjutkan, "Sebenarnya Anda akan ditempatkan di rumah baru di sayap timur kerajaan. Namun, karena Anda meminta tempat ini, jadi ... mungkin Anda akan tinggal bersama dengan Putera Mahkota."
"Itu tidak masalah untukku." Naruto nampak berfikir sejenak, "Apakah wanita berambut merah muda itu selalu ke sini?" tanya Naruto.
Ten Ten membungkukkan badannya dan menjawab, "Permaisuri Sakura belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sini. Beliau menganggap Putera Mahkota tidak ada."
Naruto mengerutkan dahinya, "Kenapa?"
"Karena sejak awal, kedatangan Permaisuri Naruko tidak pernah diinginkan oleh Permaisuri Sakura."
"Bagaimana dengan Sasuke?" Naruto membetulkan gendongannya yang terasa sedikit melorot.
"Selama dua tahun terakhir, kedatangan Yang Mulia Sasuke ke sini dapat dihitung jari."
Naruto mendecak kesal, apa-apaan mereka itu! Kenapa malah menelantarkan anak ini? Jelas-jelas anak ini tak berdosa. Tidak si Teme tidak si iblis, mereka sama-sama biadab! Tak berhati!
Naruto menghela nafas berat. Ia menurunkan Menma dari gendongannya ke lantai dan mensejajarkan dirinya dengan bocah yang ada dihadapannya. Mata sapphire yang bulat milik si bocah memandanginya lekat. Bibirnya mengkerucut dan pipinya mengembung chubby.
Adorable!
Naruto sampai tak kuasa untuk tidak mencubit kedua pipi montoknya dengan gemas, "Aww ... kau lucu sekali!" Naruto tiada hentinya mencubit kedua pipi itu sambil cekikikan. Setelah merasa puas, ia melepaskan cubitannya.
"Nah, mulai sekarang ... aku adalah ibumu!" Naruto mengeluarkan cengiran khas tiga jarinya sambil mencolek hidung Menma. Bocah itu menampilkan ekspresi polosnya, matanya beberapa kali terkedip. Menma langsung merentangkan kedua tangannya. Seolah mengerti, Naruto segera memeluk Menma dengan senang hati.
"Nona." panggil Ten Ten.
"Ya?" jawab Naruto sambil menggendong Menma tanpa mengalihkan pandangannya. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibir ranumnya.
"Pernikahan anda dan Yang Mulia akan berlangsung besok."
Entah kenapa, berita yang Ten Ten ucapkan serasa seperti petir yang menyambar tepat dikepalanya. Ia diam membeku. Senyum yang semula mengembang kini menghilang, "Apa ..." lirih Naruto.
ooOOoo
15 Juni XXX diumumkan sebagai hari pernikahan Yang Mulia Kaisar Sasuke Uchiha. Setiap keluarga menggantungkan lampion upacara besar di muka pintu. Kembang api diluncurkan dari atap. Orang-orang berpakaian meriah. Semua berpakaian berwarna merah dan hijau. Jalan-jalan utama dihiasi dengan lampion sampai bermil-mil. Semua kaligrafi digantungkan di udara berbunyi sama, yakni "Semoga perniahan Kerajaan diberkahi keabadian!"
××× Naruto PoV ×××
Pagi buta sekali aku dibangunkan untuk persiapan Mandi. Rasanya menyebalkan sekali. Telah berpuluh-puluh kali aku meneriakan usiran pada dayang-dayang yang mencoba memandikanku, "Aku bisa mandi sendiri!"
Namun, sepertinya mereka menulikan pendengarannya dan bersikukuh ingin memandikanku. Tentu saja aku tetap menolak, sampai akhirnya Ten Ten datang dan berceramah ria, "Ini sudah kewajiban para dayang dan bla bla bla ..." Tch, mendengar ceramah Ten Ten yang panjang lebar, malah membuat kepalaku jadi pening. Mau tidak mau akhirnya aku mengalah —demi membungkam mulut Ten Ten supaya berhenti.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan para dayang berada dibelakangku. Bak mandinya terletak tiga kaki di atas lantai, seperti sebuah panggung. Ember-ember berisi air panas dan dingin serta tumpukan handuk tersebar disekitarnya. Bak itu begitu besar, mungkin itu lebih pantas disebut kolam dari pada bak mandi. Bak tersebut terbuat dari kayu halus, berbentuk seperti daun lotus raksasa. Lukisan yang menghiasinya sungguh indah, detail bunga lotusnya sangat menakjubkan.
Terasa kikuk dan tidak nyaman jika aku harus membuka pakaianku sambil dilihati oleh mereka. Beruntunglah dayang yang memandikanku semuanya wanita. Sambil menahan rasa malu yang sebesar gunung, aku segera memasukan diri ke dalam bak mandi.
Air mandinya hangat dan menenangkan. Ketika aku bersandar di tepian bak, para pelayan berlutut. Tiga orang mengulurkan tangan padaku secara berbarengan dan mereka mulai menggosok dan mengurut tubuhku.
Rasanya aneh, jika mandi ditangani oleh sekian banyak tangan. Orang-orang ini memohon agar aku tak menggerakan satu jari pun. Kepalaku sedikit berkedut, mereka aku patung?! Haahh ... Apa yang dapat ku lakukan, sebab ... jika aku mencoba melakukan sesuatu sendiri, itu akan dianggap sebagai sebuah penghinaan untuk mereka. Itulah yang dikatakan oleh Ten Ten.
Tangan-tangan para dayang itu bergerak dari atas ke bawah tubuhku. Meskipun mereka lemah lembut, tetapi tubuhku menderita karena gangguan ini. Mungkin karena ini pertama kalinya dalam hidupku? Seharusnya aku menikmati semua ini, namun entah kenapa, tetapi ... di dalam kepalaku terus-menerus ada bayangan seekor ayam yang dicelupkan ke air panas, lalu kemudian dibului.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari bak mandi, mereka segera mengeringkan badanku. Tubuhku mengepul seperti bakpao kukus. Aku mencuri-curi pandang pada para pelayan itu, mereka semua berkeringat. Mereka memijat bahu, jari-jari tangan dan kakiku. Mereka basah, rambut mereka berantakan. Mereka membalut tubuhku dengan handuk kemudian menggiringku ke kamar. Mereka semua undur diri dan menyerahkanku pada para dayang lainnya.
Dayang-dayang itu memegang baki-baki. Mereka mondar-mandir dihadapanku membawa gaun, pakaian dalam, perhiasan, ornamen dan jepit. Mereka pemakaikan pakaian dalam dan memakaikanku gaun yang lalu dikencangkan di sekitar pinggangku.
Setelah selesai dengan gaunku, mereka mempersilahkanku duduk dan mulai merias wajah dan menata rambutku. Pertama-tama penata rambut melicinkan rambutku dengan air wangi. Lalu dia meminyakinya dengan ekstrak bunga matahari. Ia menyisir dan menyanggulnya ke atas. Dia berusaha membentuknya menjadi seekor angsa. Kembali, aku berpose seperti patung.
Semua proses ini sangat menggangguku dan membuatku kesal sendiri. Untuk meredakan kekesalan, sesekali aku melirik Menma yang tengah terlelap melalui ekor mataku. Dan aku mendapatkan teguran dari dayang-dayang ini. Semuanya berakhir dengan aku yang hanya mampu mengutuk mereka semua dalam hati. Aku tidak sabar menunggu ritual ini selesai! Aku heran bagaimana wanita yang selalu anggun, contohnya si iblis itu, bagaimana dia bisa tahan dengan semua perlakuan ini? Baiklah, itu bukan masalahku, yang jadi masalahku sekarang adalah kesabaran.
ooOOoo
Aku duduk layaknya sekuntum peoni, kembang dalam sinar mentari. Gaunku serangkaian merah. Gaunku ini terdiri dari delapan lapis serta disulami bunga-bunga musim semi yang indah, baik bunga nyata maupun bunga yang nyata maupun khayalan. Kainnya ditenun dengan emas dan perak. Ada segerumbul batu kumala, mutiara dan batu mulia lain pada permukaannya. Aku belum pernah mengenakan gaun seindah —atau seberat dan setaknyaman ini sebelumnya.
Rambutku di sanggul setinggi satu kaki dan dibungkus dengan mutiara, giok, koral serta berlian. Di bagian depan ada tiga peoni segar yang baru dipetik, besar sekali! Berwarna merah muda keunguan. Hei! Aku belum pernah dalam keadaan ini sekarang —didandani begini. Aku takut segala hiasan ini akan copot dan jatuh. Aku tak berani bergerak, akibatnya leherku segera jadi kaku.
"Tandu telah siap!" Sebuah seruan terdengar dari laur ruanganku.
Para pelayan (manfoo) segera memperbaiki hiasanku. Mereka menyemprotkan dengan minyak wangi yang baunya kuat, memeriksa gaun dan hiasan kepalaku sebelum membantu turun dari kursi. Saat aku mencoba mengangkat diri dari kursi, aku merasa seperti kura-kura yang membawa batu besar di tempurungnya. Ikat pinggangku yang bertaburkan permata silih bergemerincing.
Dengan lembut, aku dibawa ke tandu. Aku mencoba duduk seanggun mungkin di dalam tandu. Namun, sebuah gerakan nyaris saja membuatku terjungkal ke belakang pada saat para petandu itu mengangkat tandu. Beruntunglah tirai telfah tertutup, sehingga tak ada yang melihat kejadian memalukan itu.
Dengan cepat tanduku dibawa melewati balairung takhta. Tiang-tiang raksasanya yang berukir dan atapnya berundak-undak menjulang diatas marmer putir bersih, Teras Jalan Naga. Kemudian aku dipersilakan duduk.
Telah lama sekali aku duduk. Aku mulai bosan dengan semua acara ini, apalagi saat Ten Ten berkata bahwa acara ini akan berlangsung lama. Setelah beberapa saat, aku mendengar duta besar itu memanggil namaku. Para dayang kehormatan segera berbaris membentuk sebuah dinding di sisi kanan dan kiriku. Aku bangun dengan perlahan dan melangkah keluar dari pintu, berjalan menuju ke hadapan duta besar.
Kini, dihadapanku berdiri seorang kasim bermuka teemelu, hiasannya tebal sekali —dialah si duta besar. Pakaiannya kuning emas. Pada topinya ada sebuah bulu merak dan permata merah. Dia menhindari tatapanku.
Aku mengikuti kasim itu, aku melakukan upacara dihadapan meja-meja yang penuh dupa. Aku membungkuk, menyentuhkan keningnya ke lantai berkali-kali sampai kepalaku menjadi pusing. Aku khawatir, jangan-jangan hiasan-hiasan ini akan berjatuhan dari rambutku. Setelah selesai, para kasim menggotong buku catatan dan stempel batu ke meja pembakaran dupa. Mereka tampak menegang menahan beratnya.
Ku lepaskan jubah satinku seperti yang telah diharuskan oleh tata krama dan membungkuk ke arah buku serta stempel itu. Duta besar membuka gulungan sutra di tangannya dan mulai membaca isi dekrit. Suaranya dalam dan menggema, tetapi tak mengerti sepatah kata pun apa yang dikatakannya. Masa bodoh! Aku tidak peduli. Duta besar telah selesai membaca dekrit, itu berarti upacara telah selesai. Aku segera di arahkan menuju ke sebuah ruangan. Aku berdiri dan menuju ke sana.
"Sang burung Phoenix Kerajaan tengah berjalan!" seru si duta besar. Semua orang yang ada di ruangan tersebut segera melakukan sujud pada Naruto untuk terakhirnya.
Sebuah band mulai memainkan musiknya. Bunyi terompet Cina keras sekali menyakiti telingaku. Sekelompok kasim berlarian di depanku sambil melemparkan petasan —tentu mereka melakukan dengan cara yang benar, tidak seperti yang dilakukan anak-anak di Indonesia. (A/N : Nah, just kidding xD)
Aku berjalan diatas kertas merah, jerami kuning, kacang-kacang hijau dan buah kering warna-warni. Aku berusaha terus menegakkan dagu agar hiasan di kepalaku tetap berada di tempatnya. Kini aku diarahkan ke ruangan pesta dan saat aku baru saja sadar dengan semua ini ... aku sadar bahwa kini aku telah menjadi istri dari Kaisar Uchiha.
End of Naruto PoV
Sang matahari telah kembali ke peraduan, digantikan oleh indahnya rembulan malam. Letusan-letusan kembang api telah berhenti, kini semuanya terasa sunyi. Pesta telah berakhir.
Naruto sekarang berada di kamar perkawinan. Ia terduduk di pangkal kasur. Seprai dan tirainya berwarna matahari, berhias dengan desain kesuburan. Di atas kasur sana terdapat selimut tebal dan satin kuning cerah berkilau di sertai dengan gambar seratus anak yang tengah bermain. Kalau boleh jujur, Naruto ingin sekali bilang bahwa wangi kamar yang ia pijak adalah kamar terwangi yang pernah ia cium.
Ruang tersebut bercatkan warna merah, tirai-tirai berwarna senada yang menempel di langit-langit kamar silih melambai saat terbelai angin menyapanya. Ruangan itu terasa kosong karena luasnya.
Sasuke menegak minuman yang ada di cangkirnya dengan satu tegukan. Matanya terus menatap tajam punggung Naruto. Entah berapa banyak arak yang telah ia teguk, ia tidak peduli. Sasuke menyimpan cangkirnya lalu menghampiri Naruto.
Pikiran Naruto melayang-layang, sejak dari tadi ia tidak yang harus dikerjakannya. Ia merasa canggung sendiri. Tatapannya mulai meredup, ia mulai ragu akan semua ini. Maniknya membulat sempurna saat merasakan sensasi basah di bibirnya. Tidak hanya itu, Naruto juga dihadiahi manik onyx yang tengah menatapnya tajam dengan jarak yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Sadar atas apa yang baru saja terjadi, Naruto segera mendorong tubuh Sasuke.
"Apa yang kau lakukan!?" teriak Naruto sambil menggosok bibirnya kasar dengan punggung tangannya. Ia segera bangkit dan menjauh dari Sasuke.
Sasuke tidak menjawab. Sasuke kembali menghampirinya dan Naruto terus memundurkan langkahnya. Sampai akhirnya pergerakan mati saat punggungnya membentur dinding. Kedua tangan Sasuke berada di sisi kanan dan kiri Naruto —kini ia terjebak. Tubuhnya gemetaran karena rasa takut, ia menundukan kepalanya, ia tidak berani untuk menatap manik-manik hitam milik Sasuke.
"Dengar, aku suamimu dan aku berhak atas tubuhmu." bisik Sasuke. Ia segera menyerang dan menghisap leher Naruto dengan rakus.
Manik Sapphire itu kembali membulat, "Jangan!" pekik Naruto sambil mendorong dada Sasuke.
Bukannya terdorong, Sasuke kini menghisap dan melumat bibir plum Naruto dengan paksa. Ia mencengkram bahu Naruto, "Emphh!" Naruto terus meronta-ronta. Bibirnya tetap terkatup rapat, ia ingin lepas. Dia tidak mau diperlakukan seperti ini.
Akibat terus meronta, secara tidak sengaja kimono yang dikenakan Naruto sobek dibagian bahu. Ia mendorong dada Sasuke sekuat tenaga saat dadanya terasa sesak, kekurangan udara.
"Aku tidak mauuuuu!" teriak Naruto lantang. Tubuh Sasuke terdorong beberapa langkah. Naruto lagi-lagi harus menggosok bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah secara kasar. Manik cerulean-nya menatap nyalang onyx di hadapannya dengan penuh amarah.
"Dengar Uchiha! Dengan aku yang mau dijadikan selir olehmu, bukan berarti aku mau memberikan tubuhku!" Naruto berteriak dengan sekuat tenaganya. Tangannya terkepal dan nafasnya tersengal-sengal, wajahnya memerah menahan marah, "Jangan harap!" desisnya sambil melenggang pergi.
Sasuke hanya menatap kepergian gadis itu dengan datar, sampai akhirnya tubuh sang gadis itu tak terlihat lagi. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai, "Menarik."
ooOOoo
Sebuah tangan menghempaskan semua barang yang ada di meja riasnya dengan kasar. Sekilas ia melihat pantulan dirinya di cermin. Rambut yang semula tertata rapi kini sudah tak berbentuk lagi. Bedak yang memulas pipinya kini sedikit luntur karena linangan air matanya. Ia segera menyambar benda terdekat dan melemparkannya ke cermin —cermin tersebut pecah seketika.
Nafasnya terengah dan tangannya terkepal erat, "Aarrgghh!" teriak Sakura sambil menjungkir balikan meja yang berada tidak jauh dari dirinya. Sakura menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menjatuhkan dirinya dan bertumpu pada lututnya. Isakan keluar dari bibirnya, ia menangis tersendu-sendu. Suasana kamarnya kini sangat kacau, begitu banyak barang pecah berserakan di lantai.
"Sampai kau menghancurkan barang itu hingga sebesar debu pun, tidak akan membantumu menghabisi wanita 'kan?" sebuah suara muncul dari belakang Sakura.
Sakura menurunkan tangannya lalu menatap tajam Sai, "Jika kau tidak mau membantuku, pergi!" teriaknya. Sakura bangun dari pertumpuannya.
Sai menaikan sebelah alisnya, "Jadi kau belum punya rencana?" Sakura menjawab dengan memalingkan wajahnya. Sai hanya bisa menghela nafas berat. Ia menepuk tangannya dua kali dan pada kasim dan dayang untuk membersihkan kamar Sakura. Digantinya barang-barang yang rusak dan sebagiannya.
Tak berselang lama, kamar milik Sakura kini telah kembali rapi seperti semula. Dayang dan kasim segera berundur diri meninggalkan kamarnya.
"Duduklah." ujar Sai sambil mendudukkan diri di kursi dan diikuti oleh Sakura. Sai mengambil poci dan menuangkan teh hijau ke gelas masing-masing.
Sakura menundukkan kepalanya, "Sai ... Sasuke itu milikku, tak boleh ada yang merebutnya dariku." gunam wanita bersurai merah jambu, namun masih dapat terdengar jelas oleh Sai.
"Aku tau." Sai meletakkan poci tersebut ditempatnya semula.
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sai, "Sai! Kau tid—"
"Musim panas kali ini akan jadi musim panas yang indah." potong Sai.
Mata emerald wanita itu membulat, ia sadar akan sesuatu. Sudut bibirnya terangkat sebelah, menciptakan sebuah seringai, "Kau benar." Sakura tersenyum puas. Ia mengambi cangkir yang berisi teh hijau lalu mengangkatnya ke udara, "Mari bersulang, Sai." Sai hanya tersenyum tipis dan mengangkat cangkirnya, bersulang.
Rencana apakah yang dibuat oleh Sakura dan Sai untuk menyingkan Naruto? Tunggu kelanjutannya di ARFN ch.5 !
— TBC —
REVIEW PLEASE?
