Big thanks for your review, favs and foll at the previous chapter, I really appreciate it! :* *kiss*
Can't mention one by one, 'cuz it's too many, hhee ... sorry :/
..~" Happy Reading! "~..
Sebuah tangan menghempaskan semua barang yang ada di meja riasnya dengan kasar. Sekilas ia melihat pantulan dirinya di cermin. Rambut yang semula tertata rapi kini sudah tak berbentuk lagi. Bedak yang memulas pipinya kini sedikit luntur karena linangan air matanya. Ia segera menyambar benda terdekat dan melemparkannya ke cermin —cermin tersebut pecah seketika.
Nafasnya terengah dan tangannya terkepal erat, "Aarrgghh!" teriak Sakura sambil menjungkir balikan meja yang berada tidak jauh dari dirinya. Sakura menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menjatuhkan dirinya dan bertumpu pada lututnya. Isakan keluar dari bibirnya, ia menangis tersendu-sendu. Suasana kamarnya kini sangat kacau, begitu banyak barang pecah berserakan di lantai.
"Sampai kau menghancurkan barang itu hingga sebesar debu pun, tidak akan membantumu menghabisi wanita itu 'kan?" Sebuah suara muncul dari belakang Sakura.
Sakura menurunkan tangannya lalu menatap tajam Sai, "Jika kau tidak mau membantuku, pergi!" teriaknya. Sakura bangun dari pertumpuannya.
Sai menaikan sebelah alisnya, "Jadi kau belum punya rencana?" Sakura menjawab dengan memalingkan wajahnya. Sai hanya bisa menghela nafas berat. Ia menepuk tangannya dua kali dan pada kasim dan dayang untuk membersihkan kamar Sakura. Digantinya barang-barang yang rusak dan sebagiannya.
Tak berselang lama, kamar milik Sakura kini telah kembali rapi seperti semula. Dayang dan kasim segera berundur diri meninggalkan kamarnya.
"Duduklah." ujar Sai sambil mendudukkan diri di kursi dan diikuti oleh Sakura. Sai mengambil poci dan menuangkan teh hijau ke gelas masing-masing.
Sakura menundukkan kepalanya, "Sai ... Sasuke itu milikku, tak boleh ada yang merebutnya dariku." gunam wanita bersurai merah jambu, namun masih dapat terdengar jelas oleh Sai.
"Aku tau." Sai meletakkan poci tersebut ditempatnya semula.
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sai, "Sai! Kau tid—"
"Musim panas kali ini akan jadi musim panas yang indah." Potong Sai.
Mata emerald wanita itu membulat, ia sadar akan sesuatu. Sudut bibirnya terangkat sebelah, menciptakan sebuah seringai, "Kau benar." Sakura tersenyum puas. Ia mengambi cangkir yang berisi teh hijau lalu mengangkatnya ke udara, "Mari bersulang, Sai." Sai hanya tersenyum tipis dan mengangkat cangkirnya, bersulang.
Disc :
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing :
SasuFemNaru slight ShikaFemNaru &SakuSasu (End)
Author :
Quiiny Riezhuka Sylvester
Genre :
Romance, Adventure, Tragedy, Drama & Hurt/Comfort
Rate :
M (Savety)
Warn :
AU, OOC, Fem Naruto, BASED ON TRUE STORY! I REPEAT, BASED ON TRUE STORY...
DON'T LIKE? THEN DON'T READ
Naruto tengah berdiri di halaman depannya. Ia berdiri di bawah sebuah pohon persik. Bunga berwarna pink keunguan itu silih berjatuhan dari tangkainya. Musim semi telah berakhir dan musim panas baru saja datang. Daun-daun pohon persik mulai bermunculan begitu pula dengan buahnya.
Naruto menundukan badannya dan memungut salah satu bunga yang jatuh. Ia menatap kosong bunga yang ada di tangannya. Naruko sangat menyukai bunga persik ini. Ia juga sangat ingat bagaimana Naruko merawat pohon bunga persik yang berada di halaman belakang rumahnya. Bahkan saat musim panas berkepanjangan dan tak ada air sekalipun, kakaknya rela berjalan pulang pergi sampai berkilo-kilo hanya untuk mencari air untuk menyiram pohon kesayangannnya itu.
Flashback
"Nee-chan, kakimu lecet." Alisnya silih berautan dan manik cerulean-nya menatap iba pada kulit kaki Naruko yang memerah dan mengelupas.
Naruko hanya tersenyum tipis. Rambut lepeknya yang basah karena keringat membingkai wajah ayunya, "Tak apa."
"Naru juga ingin membantu!" Pekik Naruto, lagi-lagi Naruko hanya tersenyum lembut dan mengacak pelan surai adiknya.
"Baiklah, kau bisa bantu Nee-chan dengan menunggui pohon persik ini." Dan Naruto mengangguk dengan antusias.
End of Flashback
Mendengus geli. Ia dulu bodoh sekali sehingga Ia menurut saja. Ia tidak sadar kalau perintah yang diberikan kakaknya itu adalah larangan tidak langsung darinya.
Naruto duduk dan menyenderkan punggungnya di pohon. Naruto memejamkan matanya. Hangat angin musim panas menerpa wajah dan menerbangkan surai emasnya. Manik sapphire itu terbuka perlahan. Ia mendongak ke atas menatap lautan biru di atasnya.
Tidak terasa, Naruto sudah hampir empat minggu berada di Kekaisaran Uchiha ini. Begitu banyak hal yang terjadi, seperti salah satu pengawal yang dikirimkan Shikamaru telah berhasil masuk ke dalam istana dan menyamar menjadi kasimnya –Kiba. Bukan hal yang mudah untuk dapat meyakinkan Sasuke soal pengawal barunya itu. Namun, semuanya berakhir sesuai dengan apa yang Ia harapkan. Dengan begitu, komunikasi Naruto dan Shikamaru tidak akan terputus. Shikamaru masih dapat menjaga Naruto walau dengan jarak jauh. Tentu saja, Shikamaru tahu tentang apa saja yang terjadi di dalam Kekaisaran Uchiha ini, tapi tidak dengan hubungannya dan Sasuke. Ia rasa, hal tersebut tidak perlu untuk Shika tahu.
Dari kejauhan, Naru melihat seorang dayang menghampirinya, Ia membungkuk saat berhadapan dengannya dan berkata, "Persiapan untuk keberangkatan ke istana Yuan Ming Yuan sudah selesai."
Sejak diberitahukannya tetang akan berkujungnya keluarga kerajaan ke Yuan Ming Yuan (Istana Musim Panas), entah mengapa, hatinya selalu mendadak gusar dan perasaan tidak enak itu akan memenuhi relung hatinya. Naruto menghela nafas pasrah. Ia berdiri tegak dan menghadap si dayang, "Kau pergilah duluan, aku akan menyusul beberapa saat lagi."
"Baik, Gusti Putri." Dayang itu undur diri.
Naruto membalikkan badannya dan menatap sendu pohon persik di belakangnya, "Nee-chan, tolong jaga aku dan Menma." bisiknya pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam kediamannya.
Naruto berjalan setengah berlari menuju kamarnya. Ia mengambil kertas dan tinta beserta kuasnya yang berada di bufet. Ia menyimpannya di atas meja. Naruto mencelupkan kuas tersebut ke dalam tinta dan mulai menulis di atas kertas.
Ia membaca kembali apa yang ditulisnya. Setelah Ia rasa cukup, Naruto menggulung surat itu hingga kecil. Ia mengambil salah satu burung dari kandang lalu mengikat surat tersebut di kaki si burung. Naruto menuju jendela terdekat dan menerbangkan burung pembawa pesan tersebut. Kedua alisnya silih bertautan resah, ia menggigit bibirnya, "Ku harap pesan itu sampai pada waktunya."
Naruto POV
Tanpa terasa harinya datang dengan begitu cepat, pergi ke Yuan Ming Yuan. Para kasim dan dayang pun turut ikut serta. Aku diberi tiga tandu. Yang pertama untukku dan Menma, sedangkan dua tandu sisanya adalah untuk barang-barang kami. Tak perlu waktu lama untuk mengemasi barang-barang kami, karena kami hanya membawa barang secukupnya saja.
Dari jauh, aku melihat Menma melabaikan tangannya. Rasa gelisah yang menimpaku seolah menguap begitu saja. Aku mempercepat laju langkahku dan Ku peluk erat dirinya, "Ayo!" seruku. Ia mengangguk dan menggandeng tanganku. Kami berdua masuk ke dalam tandu, kami akan menuju ke Gerbang Utama.
Pergi ke Yuan Ming Yuan pada musim panas merupakan suatu tradisi yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Ya, Yang Terhornat Yang Mulia Kaisar Uchiha itu akan tinggal di istana tersebut selama seminggu. Ia mengajakku dan si iblis sialan itu bersamanya.
Tanduku diturunkan, itu berarti aku telah sampai di Gerbang Utama. Aku menyembulkan kepalaku keluar, begitu banyak prajurit yang berbaris di tengah lapangan sana. Beberapa dari mereka membawa bendera lambang Uchiha. Sebuah parade musik dimainkan, begitu keras sampai membuat telingaku sakit. Apalagi ditambah dengan kembang api yang silih bersahutan. Aku kembali memasukan kepalaku ke dalam tandu. Pemandangan Menma yang tengah memainkan mainannya menyapa penglihatanku, kedua sudut bibirku terangkat melengkung membentuk senyuman. Tak berselang sama, aku merasakan tanduku diangkat. Itu artinya perjalanan panjang akan segera dimulai. Semoga semua firasat buruk yang selalu kurasa bukanlah hal buruk. Ya, semoga saja.
Beberapa hari sebelum memulai perjalanan ini, aku mengirimkan Kiba untuk melihat situasi dan kondisi perjalananan menuju ke Yuan Ming Yuan. Setelah ia kembali. Kiba bercerita banyak tentang kondisi negatif menuju ke Yuan Ming Yuan, seperti melewati lereng gunung, jalanan yang terjal, dan sebuah desa yang berubah sebagai markas para bandit.
Menurut Ten Ten, perjalanan menuju ke istana musim panas memakan waktu selama sehari penuh, dan petandu akan diganti sebanyak empat jam sekali. Aku takut jika petandu-petandu yang memanggul tanduku itu sewaan Sakura, bagaimana jika petandu bayarannya melemparkan tanduku ke jurang dan berkata bahwa mereka terpeleset atau tidak sengaja! Bukannya mengada-ngada, tapi itu bisa saja terjadi, aku harus tetap waspada!
Memandang ke luar, aku melihat batu-batu besar berbentuk roti dikelilingi rapat oleh hamparan semak-semak liar. Bermil-mil jauhnya tak terlihat lagi atap rumah satu pun. Duduk di dalam tandu sepanjang hari membuat sakit persendianku. Aku memikirkan para kasim dan dayangku yang berjalan, kaki mereka pasti lecet-lecet. Aku kasihan pada mereka, tapi ... apa yang dapat kulakukan? Terbuai oleh goyangan tandu, tanpa sadar aku pun terlelap.
ooOOoo
Sensasi dingin membelai seluruh tubuhku. Aku mengkerjapkan mataku perlahan, sungguh-sungguh sejuk. Aku memperhatikan tangan sebelah kiriku, di dominasi oleh warna biru. Mataku tersentak terbuka, 'Ini di mana?!' aku memperhatikan sekelilingku. Jantungku berguncang cepat, ada banyak karang di sana-sini. Berbagai macam ikan berenang tidak jauh dariku. 'Di ... Laut?'
Aneh bercampur bingung, itulah yang ku rasakan. Aku segera menahan nafasku. Tapi sesak tak sanggup kutahan, apa orang-orang suruhan Sakura benar-benar melemparku ke jurang? Aku menutup hidung dan mulutku, aku tidak boleh bernafas atau aku akan mati! Tak mampu bertahan lama, aku terbatuk. Buih-buih udara berterbangan di air sekitar mulutku. Aku mencoba bernafas, mengambil udara sebanyak mungkin, mengambil begitu banyak layaknya aku ada di darat. Tapi aku salah, oksigen langsung memenuhi paru-paruku. Aku membuka mataku, aku masih ada di dalam air, tapi ... kenapa aku bisa ... bernafas?
Apa aku bermimpi?
Lalu kenapa ini terasa begitu nyata?
Jika memang ini bukan mimpi, aku harus segera keluar dari sini!
Aku segera berenang menuju cahaya yang ada di atasku. Begitu jauh namun aku mampu mencapainya. Tapi, itu bukanlah permukaan air yang aku harapkan, itu ... sebuah gua. Di dalam gua itu terdapat cahaya yang begitu menyilaukan. Aku mencoba masuk ke dalam gua itu, "Akh!" pekikku kesakitan saat tangan kiriku tak sengaja menyentuh dinding berduri.
Air di sekitarku mulai berubah menjadi merah, 'Sepertinya lukaku dalam.' dengan bodohnya aku hanya memandangi tanganku yang terluka, sampai akhirnya suara beberapa kapal yang lewat di atas sana menyadarkanku bahwa dinding-dinding berduri yang berada di gua ini bergerak menjepitku.
Arus berputar dengan cepat. Tak ada yang dapat ku lakukan, luka ini membuat tubuhku sakit setengah mati. Aku tak membawa senjata dan yang kubisa lakukan adalah menggerakkan tanganku sebisa mungkin untuk menghindari duri-duri yang datang padaku. Tak perduli sesakit apapun luka yang ku dapat, aku terus mendorong duri-duri itu.
Suara petir yang menggelegar membuatku tersentak bangun dari tidurku. Tubuhku penuh dengan peluh dan nafasku tersengal-sengal. Rambut serta bajuku sedikit basah karnanya. Aku segera mengelap keringat yang ada di wajah serta keningku dengan kedua telapak tanganku. Dalam hati aku bersyukur, beruntung, ini semua hanyalah mimpi. Tapi ... apa arti dari mimpi itu sendiri?
"Menma?" Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh tandu, tak ada siapa pun selain diriku. Suara petir membelah udara terus terdengar. Aku menyibakkan tirai tanduku dengan panik dan berteriak, "Menma!"
Tandu dengan tiba-tiba berhenti, "Kaa-san?" Ia menyembulkan kepalanya dari balik kaki Kiba. Matanya yang bulat itu memandangku dengan polos. Rasa khawatir akan kehilangannya membuat hatiku rasa disayat.
Aku menggigit bibir bawahku pelan, bisa saja Sakura melukai Menma, itu bukan tidak mungkin! Walau hati ini sakit, aku mencoba tetap tersenyum di hadapannya , "Kemarilah." panggilku sambil mengayunkan jariku perlahan. Ia berlari kecil menuju ke arahku dan saat ia sampai, ku pangku dia sehingga kami kembali berada di dalam tandu. Ku segera memeluk erat Menma. Bocah ini tak tahu apapun, mungkin baginya ini adalah perjalanan biasa, tapi ... ini berbeda, bagiku ini antara hidup dan mati.
Hari telah menjelang sore, petugas tanduku telah diganti. Menma tertidur pulas di pangkuanku. Ku usap rambut hitamnya perlahan. Entahlah, setiap aku melihat bocah ini, bibir ini tak pernah berhenti untuk tersenyum. Raungan sang halilintar terus terdengar. Aku membuka tirai tanduku dan memandang langit yang telah dihiasi awan hitam. 'Sepertinya akan hujan.' bersamaan dengan itu, tetesan hujan jatuh ke bumi. Ku tutup segera tiraiku.
"Anda terlihat resah, Gusti Putri?" Dari balik tirai ia berkata padaku, Kiba.
Haruskah ku katakan padanya?
"...aku, bermimpi ada di dalam laut." Bisikku pelan, tapi aku yakin ia mendengarnya.
"Jika Anda seorang ikan, Anda akan selamat." Aku terdiam dan mencoba mencerna kalimat yang Kiba katakan. Ya, semoga saja.
ooOOoo
Hujan deras mengguyur perjalanan kami menuju ke istana musim panas, "Dasar petandu sialan! Bawa tandu dengan benar!" samar-samar aku mendengar terikan Sakura, aku mendengus geli, dia bodoh atau apa? Jelas-jelas jalannyalah yang terjal dan licin karena hujan sehingga tandu juga ikut tergoyang, mengapa menyalahkan petandu?
Hujan semakin lama semakin deras. Melanjutkan perjalanan bukanlah hal yang bagus –jika ditinjau dari segi jalan yang terjal dan licin. Ku rasakan tanduku diturunkan.
"Kita akan bermalam di sebuah kuil, Gusti Putri." Kiba memberitahuku dari luar sana.
"Lakukan observasi." Perintahku.
"Baik." Sedetik kemudian, ia menghilang.
Aku mengalihkan pandangan saat merasakan sebuah geliat di paha. Senyum mengembang di bibirku, "Menma, ayo bangun." Aku mengguncang pundaknya pelan. Yang dipanggil hanya menggeliat, Ia bangun lalu mengucek kedua matanya pelan. Mata Onyx-nya menatapku penuh tanya.
"Hujan turun cukup deras dan matahari juga sudah tenggelam, kita akan menginap di kuil, ayo." Aku menggiring Menma dengan senyumnya. Ia turun dari tandu dan aku mengekor dibelakangnya.
Mataku membulat sempurna saat melihat Sakura keluar dari tandu. Begitu terkejut sampai mulutku menganga tak percaya saat melihat cara berpakaiannya, dia tampak seolah akan pergi ke pesta, membawa sebuah kipas gading serta pembakaran dupa. Jubahnya terbuat dari satin keemasan disulam simbol-simbol Buddha. Ia juga menggunakan banyak perhiasan ditubuhnya.
Manik emerald-nya bertemu pandang denganku, "Lihatlah, kau berdandan seperti seorang pelayan kumuh!" setelah mencemoohku, dia tertawa puas sambil berjalan menuju ke kuil. Aku memutar bola mataku bosan, memangnya kenapa jika aku berdandan sederhana? Aku nyaman dengan ini.
Para penandu langsung pergi dengan tandu kami. Aku bergegas menyusul, dan berhasil mengejar salah satu penandu yang paling belakang, "Tunggu, kenapa Anda pergi?"
Pria itu menoleh, "Yang Mulia, kami diinstruksikan untuk tidak menyimpan tandu di dekat Kuil."
"Tapi, bagaimana bila ada sesuatu yang terjadi pada kami dan perlu segera kembali ke tandu lalu kalian tak ada?" tanyaku.
Si penandu menghela nafas pasrah, Ia merebahkan diri ke tanah dan melakukan kowtow seperti orang idiot. Tetapi dia tak menyahuti pertanyaanku, dan tak ada gunanya mendesak orang ini, 'Ia kelelahan.'
"Apa yang kau lakukan Naruto, kembali!" pekik Sakura. Ia menatapku dengan dengan tatapan marah. Mau tak mau akhirnya aku menurut saja, berjalan ke arahnya, 'Apakah ini salah satu bagian dari rencananya? Aku harus tetap waspada!'
Menatap sekeliling, kuil ini tampak seperti sudah dipersiapkan untuk menerima kedatangan kami. Atapnya yang tua sudah diseka bersih dan bagian dalamnya disapu dengan saksama. Rahib kepala di situ adalah seorang lelaki berpenampilan lembut berbibir tebal dengan pipi tembam, "Dewi Kasih Sayang, Kuan Ying, berkeringat," katanya, sambil tersenyum, "Saya tahu ini merupakan pesan dan Langit bahwa Yang Mulia akan lewat sini. Meskipun kuil ini kecil, sambutan saya yang sederhana ini merentang dari tangan Buddha sampai tanpa batas, Mari." Ia membimbing kami masuk.
Ukiran-ukiran patung Buddha menghias setiap dinding dengan indah. Kami dibawa ke suatu ruangan yang ternyata telah diubah menjadi tempat jamuan. Kami disuguhi sup jahe, kedelai, dan bakpau gandum untuk makan malam.
Setelah makan, si rahib kepala dengan sopan mengantarkan kami ke kamar kami masing-masing, lalu pergi. Aku senang sekali menemukan perapian keramik di dekat tempat tidur. Aku meletakkan jubah lembapku di sana agar kering. Lelah akibat duduk berjam-jam ria membuatku lelah nan setengah mati, hingga tanpa sadar aku terbuai dan terlelap.
ooOOoo
Tengah malam aku terbangun. (Aku dan Sakura tidur di kamar terpisah) Kecurigaanku timbul lagi. Aku teringat senyum si rahib kepala− senyum itu tidak tulus. Rahib-rahib yang lain juga tak memiliki air muka penuh kedamaian seperti yang biasa kulihat pada para pemeluk Buddha. Mata mereka bergerak-gerak cepat, dan si Rahib kepala ke tempat lain, lalu kembali lagi, seakan-akan menunggu suatu isyarat.
Saat makan aku sudah bertanya pada rahib kepala tentang bandit setempat. Jawabannya adalah, dia belum pernah mendengar tentang hal itu. Apakah dia berkata jujur? Para pemandu jalan kami, Kiba dan Ten Ten berkata bahwa daerah ini penuh dengan bandit. Si rahib kepala harusnya yang telah bertahun-tahun tinggal di sini− bagaimana mungkin dia tak tahu tentang itu?
Si rahib kepala mengganti topik pembicaraan ketika aku minta untuk diajak melihat-lihat sekitar kuil. Dia membawa kami ke balairung utama agar kami bisa menyalakan dupa untuk para dewa lantas langsung mengantarkanku kembali ke ruangan ini. Ketika aku bertanya tentang sejarah ukiran di dinding, dia membelokkan pembicaraan lagi. Lidahnya juga tak punya polesan halus seorang pendeta saat bercerita pada Menma tentang Buddha-tangan seribu.
Tampaknya dia tak kenal gaya-gaya dasar kaligrafi, yang menurutku benar-benar sukar dipercaya, karena biasanya pendeta mendapat penghasilan dengan membuat salinan kitab Sutra. Aku menanyakan kepadanya ada berapa orang pendeta di kuil ini, dan dia bilang delapan. Dari mana dia bisa mendapat pertolongan kalau bandit menyerbu sewaktu-waktu? Semakin aku berpikir tentang orang yang tak meyakinkan itu, semakin aku gelisah. "Kiba," bisikku.
Kasimku tak menyahut. Ini tak biasa. Biasanya Kiba tidur hanya ringan saja. Dia bahkan bisa mendengar daun yang gugur dan pohon di luar jendela. Ada apa dengannya? Ah, Aku ingat, setelah makan malam dia diundang rahib kepala untuk minum teh, "Kiba!" aku duduk, dan melihat sosoknya di sudut ruangan.
Dia tidur seperti batu. Mungkinkah ada sesuatu dalam teh yang disuguhkan rahib kepala kepadanya? Aku mengenakan jubahku dan menyeberangi ruangan. Kugoncangkan Kasimku, tetapi sahutannya hanya dengkuran keras. Mungkin dia hanya sekedar letih. Aku putuskan untuk keluar sendiri memeriksa pekarangan. Aku takut setengah mati, tetapi lebih mengerikan lagi jika terus curiga seperti ini.
Bulan bersinar terang. Pekarangan dalam tampak seperti ditaburi selapis garam. Harum daun laurel terbawa angin. Baru saja aku berpikir betapa tenteramnya semua ini, aku melihat sesosok bayangan merunduk di belakang sebuah pintu lengkung. Apakah mataku tertipu cahaya bulan?
Atau tertipu ketegangan syarafku sendiri?
Aku kembali ke kamar yang kugunakan dan menutup pintu, naik ke tempat tidur lalu mengintai melalui jendela. Di hadapanku ada pohon yang batangnya tebal. Dalam kegelapan, batang itu terus berganti bentuk. Sesaat seperti tumbuh perut gendut, lalu berubah menjadi sejulur lengan. Mataku tidak salah. Memang ada orang di pekarangan dalam. Mereka bersembunyi di balik pepohonan.
"Ada sesuatu yang salah," gunamku. Aku segera membangunkan Menma, ia kembali menatapku bingung, "Bersiaplah untuk lari," kataku.
Aku tak tahu apa-apa tentang daerah situ. Walaupun kami berdua berhasil keluar dari kuil tersebut, kami bisa dengan mudah tersesat di daerah pegunungan. Kalau tak tertangkap pun, kami bisa kelaparan hingga tewas. Tetapi apa yang akan terjadi bila kami tetap tinggal di sini?
Aku sudah tak ragu lagi bahwa rahib kepala adalah kaki tangan Sakura. Seharusnya aku bersikeras agar para penandu tetap berada di dekat-dekat sini, "Tetap berpegangan pada Kaa-san, mengerti?" Menma menatapku serius dan mengangguk. Aku mulai membuka pintu.
Pegunungan telah mulai menampilkan bentuknya dalam cahaya menjelang fajar. Angin yang bertiup di sela-sela daun pinus terdengar bagai debur ombak. Kami berdua berjalan menyusuri koridor dan melewati sebuah gerbang lengkung, mengikuti sebuah setapak yang nyaris tak terlihat. "Seharusnya jalan ini akan membawa kita ke kaki gunung," kataku, walau aku sendiri tak yakin.
Kami belum jauh saat terdengar suara orang mengejar. Aku segera berlari secepat mungkin. Derap langkah orang-orang itu semakin mendekat, 'Tak ada pilihan lain, maaf!' Aku segera menghempaskan tubuh Menma ke semak terdekat, "Sembunyi!" teriakku sambil terus berlari. Tiba-tiba jalan terhalang oleh beberapa pria bertopeng.
Orang-orang itu tak mengeluarkan suara, tetapi bergerak semakin dekatiku, "Ini, ambillah perhiasanku," kataku sambil melempar seluruh perhiasan yang ku kenakan pada mereka, "Ambil dan lepaskan aku!"
Tapi sepertinya orang-orang ini tak mau perhiasan, tak sedikitpun mereka melirik perhiasannya. Ini buruk dan aku tak membawa senjata apapun. Mereka menerjang ke arahku, aku segera melompat mnghindar. Sebuah pukulan telak di punggung leherku membuatku tak tahu apapun lagi yang terjadi, semua menjadi ... gelap.
ooOOoo
Terombang ambing ...
Aku mengkejapkan mataku pelan namun tak dapat membuka mataku –mataku di tutup. Aku menggerakan jemariku untuk menarik penutup matanya. Penutup itu akhirnya terlepas dan aku langsung membuka mataku. Sepertinya aku berada di dalam sebuah karung goni, yang diikatkan ke sebuah galah dan digotong pada bahu beberapa orang. Mulutku disumpal kain. Aku dapat melihat cahaya melalui tenunan karung yang jarang-jarang. Orang-orang itu bergerak terpatah-patah dan terhuyung menuruni perbukitan. Biarku tebak, mereka bukanlah bandit. Kaki bandit harusnya kuat menjejaki tebing terjal seperti ini.
Tak mungkin aku bisa melarikan diri bila situasinya seperti ini. Tiba-tiba saja Menma melintas dalam pikiranku, rasanya ingin menangis, aku harap Menma baik-baik saja. Semua ini terlalu mengejutkan, mengapa begitu mudah aku tertipu dan masuk ke dalam perangkap Sakura?!
Tak ada tentara, tak ada senjata, tak setetes pun darah tertumpah, hanya beberapa pria berpakaian bandit. Tak ada suara apa-apa. Apakah aku akan dibunuh? Bagaimanapun, aku tak mau mati sekarang, aku belum melakukan apapun untuk membalaskan dendamku pada iblis itu!
Galah sudah tak lagi memiring, aku tahu bahwa tanah sudah tak terlalu terjal. Tanpa peringatan apa pun mendadak aku dijatuhkan, dan terbentur pada sesuatu yang terasa sepertinya tunggul pohon. Kepalaku menghantam permukaan yang keras, sakitnya bukan main. Sesuatu mengalir dari kepalaku. Aku dengar beberapa orang bicara, lalu suara langkah-langkah berat menghampiri. Aku diseret melalui tumpukan daun kering, lantas dilemparkan ke suatu tempat yang rasanya adalah sebuah selokan yang telah mengering. Apa aku akan dikubur hidup-hidup?
Aku mendorong penyumpal mulutku dengan lidah hingga akhirnya penutup itu lepas. Walau begitu, aku tak berani berteriak minta tolong, karena takut bahwa mereka akan datang dan menghabisiku lebih cepat. Kucoba mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk, tetapi sebuah perasaan yang menakutkan mendadak menguasaiku: Aku tak bisa mati begitu saja tanpa tahu Menma ada di mana! Kucoba merobek karung dengan gigi, tetapi dengan kedua tangan terikat, semua itu percuma saja.
Terdengar suara langkah di atas dedaunan kering. Seseorang datang mendekat, berhenti di dekatku. Kucoba menggerakkan tungkai, mencari posisi yang lebih baik untuk membela diri dan dalam karung, tetapi kakiku juga diikat. Aku bisa mendengar suara napas seorang pria.
"Lepaskan Aku!" Aku menjerit dan memekik. Kubayangkan pisau lelaki itu membelah karung dan logam dingin mengoyak dagingku. Tetapi itu tidak terjadi. Sebaliknya, kudengar lebih banyak lagi suara langkah, serta dentang senjata logam. Ada seseorang menjerit tertahan, lalu sesuatu ... seperti sesosok tubuh, jatuh ke atasku.
Sunyi sesaat. Lalu di kejauhan datanglah suara teracak kuda dan teriakan beberapa orang.
Aku tak tahu harus tetap diam atau berteriak. Bagaimana kalau ternyata mereka itu kaki-tangan Sakura yang datang guna memastikan bahwa aku memang sudah benar-benar mati? Tetapi bagaimana kalau ternyata mereka adalah anak buah Kerajaan? Bagaimana caranya menarik perhatian orang pada sebuah karung goni dalam selokan yang tertindih sesosok mayat?
"Tolong! Tolong aku!" jeritku.
Sesaat kemudian sebilah belati merobek karung, dan aku bernapas dalam terangnya cahaya matahari. Orang yang memegang belati itu mengenakan seragam Pengawal Kekaisaran Nara. Dia berdiri di hadapanku, terpana. "Naruto-sama!" ia segera menyingkirkan tambang dari lengan dan tungkaiku.
"Di mana Shikamaru?" Prajurit itu berdiri dan menunjuk ke belakang.
Beberapa yard dari situ seorang lelaki di atas punggung kudanya menoleh, "Naruto!" dia melompat dari atas kudanya dan berlari ke arahku, ia menerjang dan memelukku begitu erat, ia melepaskan pelukkannya dan membingkai wajahku dengan kedua tangannya, "Kau baik-baik saja?" Ia menatapku dengan kedua maniknya yang memancarkan kekhawatiran. Aku hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" Tanyaku bingung. Aku memang mengirim pesan padanya, tapi aku hanya mengatakan padanya bahwa aku akan pergi ke Yuan Ming Yuan saja, bukan meminta bala bantuan untuk mengawalku.
"Kaa-san?"
Aku menoleh ke sumber suara dan berlari, menghambur memeluknya rindu, "Menma!" tanpa ku sadari air mataku meleleh turun-menuruni pipiku. "Aku bertemu dengannya di persimpangan jalan yang sepertinya tengan membuntuti sesuatu. Dia meminta tolong untuk menyelamatkan ibunya yang ternyata adalah kau, kurasa ini takdir."
Sebuah isakan lolos begitu saja, aku memeluknya semakin erat. "Kuharap kau segera menghentikan semua ini, Naruto."
Naruto POV End
"Kuharap kau segera menghentikan semua ini, Naruto."
Naruto membeku seketika, giginya bergemeletuk marah. Naruto melepaskan pelukannya pada Menma dan menatap Shikamaru dengan nyalang, "..."
"Lihatlah, apa yang akan terjadi jika saja aku tidak datang? Kau bisa saja mati. Kumohon, Naruto, berhentilah."
Naruto menegakkan tubuhnya dan mendengus geli, "Tapi buktinya aku tidak mati." Naruto menggenggam erat tangan Menma, "Dengar, Shika, dari awal, aku tak pernah mengharapkan kau mencampuri urusanku." Naruto membalikkan badannya dan berjalan menjauh.
Shikamaru menghela nafas pasrah, 'Merepotkan, wanita memang merepotkan.' Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali, "Perjalanan menuju Yuan Ming Yuan masih lumayan jauh, kau boleh memakai kudaku untuk menuju ke—"
"Tidak, terima kasih," Potong Naruto cepat.
"Mungkin kau akan baik-baik saja, tapi bocah itu?" Langkah Naruto terhenti. Ia menggerakkan maniknya menatap seorang anak laki-laki berambut raven yang juga menatapnya. Matanya menerawang jauh, "Baiklah."
ooOOoo
Kaisar Uchiha, Sasuke Uchiha tengah duduk di singgahsananya yang berada di Yuan Ming Yuan, ia telah sampai berjam-jam yang lalu, disusul oleh kedatang Sakura sejam yang lalu. Kini wanita itu tengah melakukan kowtow pada Sasuke, "Saya mendo'akan sepuluh ribu tahun kehidupan Yang Mulia, semoga keberuntungan Anda sebanyak butir air Laut Cina Timur dan kesehatan Anda sesubur Pengunungan Selatan." Wanita itu mengangkat kepalanya, Sasuke hanya menatap Sakura datar.
"Di mana Naruto?" Bak sebuah petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Ia menundukan sedikit kepalanya. Tangannya terkepal erat, tak pernah sedikitkan ia terlintas di kepalanya?
"Aku tidak tahu." Jawabnya singkat.
"Kau—"
"Saya di sini, Yang Mulia." Ujarnya sambil membuka pintu dengan kasar. Sasuke memandangi penampilannya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja, di keningnya terdapat banyak darah yang telah mengering, tangan dan kakinya lecet, bajunya juga begitu lusuh.
Manik emereld itu membulat, ia menoleh ke sumber suara, "Kau!" desis Sakura benci.
Naruto tersenyum mencemooh, "Terima kasih atas piknik yang telah Anda berikan. Ya, walaupun hampir meregang nyawa saya. Tapi saya sangat menghargainya, Permaisuri."
Wajah Sakura mengeras, "Apa maksudmu?" desis ketidak sukaannya keluar.
Naruto mengedip-ngedipkan matanya innocent, "Anda tidak akan mengakuinya?" Naruto menyeringai puas menatapnya, "Permaisuri?"
Sakura tersenyum dengan lembut sambil memiringkan kepalanya, mencoba menenangkan dirinya, "Memangnya apa buktinya?"
Naruto berjalan mendekati Sakura yang tengah duduk dilantai kayu dan melemparkan sebuah kertas tepat di depan wajahnya. Surat itu didapat setelah memeriksa seluruh saku para penjahat itu. Senyum di bibir Sakura perlahan menghilang setelah menyadari secarik kertas yang dilemparkan Naruto padanya. Itu surat perintah yang dibuatnya!
"Itu jelas tulisan tanganmu, kau bahkan membubuhkan stempel permaisurimu di sana."
"Memangnya kenapa jika aku memang ingin melenyapkanmu!" Teriak Sakura, nafasnya tersengal. "Aku ingin membunuhmu! Karena kau adalah seekor rubah jahat berkulit manusia yang dikirim oleh setan untuk menghancurkan hubunganku dengan Sasuke! Semuanya baik-baik saja; Aku mencintai Sasuke dan Sasuke sebaliknya, namun ... semenjak kau datang, hidupku ini terasa seperti di neraka! Kau merebut segalanya dariku! Kau merebut Sasuke dariku! Gara-gara kau Sasuke kini memperlakukanku tak ayalnya sebuah sampah yang tak berharga!" dadanya kembang kempis.
"Oleh karena itu," Sakura bangkit dari duduknya, " Jika aku melenyapkamu, Sasuke akan kembali kepadaku seperti semula!" Sakura mengeluarkan sebilah pisau dari balik baju lengan panjangnya dan berlari menerjang Naruto.
Tetes-tetes darah silih meloncat keluar dari tubuh yang terkoyak sebilah pisau. Pipinya kini ternodai cipratan darah, "Ka-kau ..." ia memandangi dada kirinya yang tertusuk pisau. "Nah, sayang sekali Nona, aku datang ke sini bukan untuk menghancurkan hubungan kalian, tapi untuk membunuhmu." Naruto mengeluarkan seringainya dengan bangga. Ia mencabut pisau yang menancap di dada kiri Sakura dengan satu hentakan, kemudian menjilat pisau yang berlumuran darah tersebut.
Kembali, darah kembali meloncat keluar dari lukanya menodai baju Naruto. Tubuh Sakura langsung terjatuh dan tak sadarkan di kakinya. Naruto hanya menatapnya datar, kini pandangannya beralih pada Kaisar yang tengah duduk dengan nyaman di singgahsananya, "Yang Mulia, akan saya tunjukan bagaimana prosesi penguburan yang Naruko dapatkan dari wanita iblis ini." Naruto menginjak kepala Sakura layaknya menginjak seekor kecoa.
Sasuke hanya menatapnya datar bak tak terjadi apapun, "Silakan."
ooOOoo
Langit diselimuti kegelapan pekat, angin berhembu dengan kencang dan hujan terus mengguyur bumi ini. Berbeda dengan suasanya hati Naruto, kini hatinya begitu bahagia, karena mampu membunuh buruannya yang pertama. 'Tinggal dua buruan lagi.' Batinnya senang.
Bibirnya memoles senyum bahagia penuh kemenangan. Naruto memasukkan gabah ke dalam mulut Sakura sampai penuh, "Makanlah dengan banyak, Yang Mulia." Terus menjejal mulut itu sampai gabahnya berhamburan keluar.
"Hahahahaha!" Naruto tertawa kegirangan. Ia sungguh-sungguh bahagia! Naruto mulai menggulung kepala Sakura dengan rambut merah mudanya, kemudian menghempaskan tubuh tak berdaya itu ke dalam tanah. Masa bodo dengan posisinya, "Timbun dia sekarang!" perintahnya.
Mau tak mau para petugas pun menuruti kemauan Naruto untuk mengubur mayat tersebut, "Hahaha!" Naruto tak bisa menahan tawanya, ia sangat bahagia. Tak perduli walau tawanya bak orang kesetanan.
"Kau puas?" Tanya seorang bernada baritone di belakangannya.
"Puas?" Naruto membeo, "Tentu saja, tapi ini masih belum cukup," Naruto menoleh pada Sasuke,"Masih ada dua hama yang belum diberantas." Naruto menyeringai dan pergi dari sana.
'Kau selanjutnya, Sasuke.'
TBC
A/N :
Dears Readers,
Makasii sudah mau menunggu chapter lanjutan ARFN ini, bagaimana menurut kalian chapter 5 ini? :3 Apakan seru? Apakan membosankan? Umm, ngomong-ngomong typo chapter kemarin parah ya? Maaf! Semoga chap ini typo-nya nggx terlalu parah :)
Rada bingung juga bikin fict ini, karena tiap chapter pada loncat Sejarah Cina-Jepang. Tapi, spesial buat chapter 6, Ryn bakalan masukin sedikit unsur zaman Eropa 'Victotian'nya :) Fict ini bakalan tamat di —entah chanpter 7 entah 8.
Bukannya mengada-ngada soal cara penguburan Sakura, tapi berdasarkan sejarah, si "Lady Guo" juga akhirnya bermasib sama diakhir (karma). Silahkan search sejarah Lady Zhen Ji.
Sungguh, Ryn suka sekali sejarah! :)
Sincerely,
Ryn
Menerima Kritik dan Saran yang Membangun
