A/N :
Big thanks for your reviews, favs and folls at the previous chapter, I really appreciate it! :* *kiss*
Can't mention one by one, 'cuz it's too many, sorry! :)
Ah ya, ngomong-ngomong mohon maaf atas kekeliruan di chapter 5, yang benar itu mata Menma berwarna biru/Sapphire xD Ooops Sorry, my bad!
Langit diselimuti kegelapan pekat, angin berhembus dengan kencang dan hujan terus mengguyur bumi ini. Berbeda dengan suasana hati Naruto, kini hatinya begitu bahagia karena mampu membunuh buruannya yang pertamanya, 'Tinggal dua buruan lagi.' batinnya senang.
Bibirnya memoles senyum bahagia penuh kemenangan. Naruto memasukkan gabah ke dalam mulut Sakura sampai penuh, "Makanlah dengan banyak, Yang Mulia." terus menjejal mulut itu sampai gabahnya berhamburan keluar.
"Hahahahaha!" Naruto tertawa kegirangan. Ia sungguh-sungguh bahagia! Naruto mulai menggulung kepala Sakura dengan rambut merah mudanya, kemudian menghempaskan tubuh tak berdaya itu ke dalam tanah. Masa bodo dengan posisinya, "Timbun dia sekarang!" perintahnya.
Mau tak mau para petugas pun menuruti kemauan Naruto untuk mengubur mayat tersebut, "Hahaha!" Naruto tak bisa menahan tawanya, ia sangat bahagia. Tak perduli walau tawanya bak orang kesetanan.
"Kau puas?" Tanya seorang bernada baritone di belakangannya.
"Puas?" Naruto membeo, "Tentu saja, tapi ini masih belum cukup," Naruto menoleh pada Sasuke, "Masih ada dua hama yang belum diberantas." Naruto menyeringai dan pergi dari sana.
'Kau selanjutnya, Sasuke.'
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Story By.
Quiiny Riezhuka Sylvester
Pairing :
SasuFemNaru
Rate :
Mature
Genre :
Tragedy, Hurt/Comfort, Romance and Drama
Warn :
Gender Bender, Out of Character, Alternative Univers, Death Characters, Explicit Violent & Sex, Strong Language, Include History, Original Characters
Don't like? Then, don't read!
..~" Happy Reading "~..
Apa yang terjadi kemarin —cara penguburan Sakura, ternyata banyak menuai tanggapan negatif. Berita ini telah mengumandang sampai ke ibu kota Uchiha dan Nara. Bahkan dayang-dayang miliknya membicarakan kekejaman Naruto dibelakangnya, mengatakan ia gila, ia psikopat, ia kejam, ia iblis dan lainnya. Namun, Naruto selalu menulikan pendengarannya. Ia tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh semua tentangnya. Mereka hanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas, Ia mampu membalaskan kematian Naruko. Baginya, mampu membunuh Sakura itu merupakan suatu awal yang bagus.
'Tinggal dua yang tersisa.' Naruto terkekeh bahagia.
Para dayang yang memandikan Naruto sontak kaget dan membatu mendengar kekehan gelap dari sang empunya. Jantung mereka berdetak beberapa kali lebih cepat. Rasa takut mulai menghinggapi hati. Mereka menggosok kembali tubuh Naruto dengan lembut —mencoba mengabaikan rasa takutnya, "Cukup." Naruto bersuara dengan suara yang datar.
"Handuk." Para dayang langsung menyergap handuk terdekat. Mereka segera berlutut dan menunduk dalam, salah satu dari mereka mengangkat handuk berwarna putih untuknya.
Naruto menyambar handuk tersebut dan pergi dari kamar mandi. Saat pintu kamar mandi tertutup rapat, para dayang itu menjatuhkan diri ke lantai. Nafas mereka memburu, "Aku tidak tahu jika Naruto-sama bisa begitu menyeramkan!"
"Kau benar, aku bahkan tidak berani untuk menatapnya!" Salah satu dayang menyahutinya.
"Hei, diam! Bagaimana jika Naruto-sama mendengarnya? Bagaimanapun juga, kita harus tetap menghormati Naruto-sama!" Lerai dayang yang lain.
"Ma-maaf..."
Naruto hanya mendengus geli sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kamar mandi. Naruto sampai di kamarnya, para dayang telah mempersiapkan baju dan obat untuk mengobati lukanya.
Naruto mendudukan dirinya di atas tatami yang telah disediakan. Ia membuka handuknya —sudah terbiasa untuk bertelanjang bulat di depan para dayangnya. Dengan sigap mereka mengolesi tubuh Naruto yang mengalami luka dengan krim berwarna hijau. Tubuh Naruto bergetar karena menahan rasa perih yang menerpanya.
Setelah obat mengering, dayang memakaikan Naruto baju dan meriasnya. Naruto sudah mulai terbiasa dengan kehidupnnya sebagai seorang selir Kaisar Uchiha ini. Segalanya telah ia relakan demi membalaskan dendam kakaknya. Naruto rela menjadi boneka hidup selama ini. Sekarang ia hanya perlu bersabar sebentar lagi agar dapat membalaskan dendamnya itu.
Tetapi, Sasuke bukanlah orang biasa yang mampu Naruto tipu seperti Sakura. Ia pernah bertarung dengan Sasuke saat perang di Bai Di Kastil, buktinya telah jelas, bagaimanapun juga Sasuke bukanlah tandingannya. Jadi, apa yang harus ia lakukan saat ini?
Lain dari pada itu, ada yang lebih penting ... Perasaannya. Ia mencintai Sasuke! Ya, ia memang mencintai Sasuke. Tetapi setiap kali ia melihat Sasuke, raut wajah Naruko yang kesakitan selalu menghiasi mata Naruto, membuatnya ingin membunuh —ingin membalaskan kematian Kakaknya!
Sekarang, apa yang harus ia pilih? Apa ia harus melupakan dendam kematian Naruko dan 'benar-benar' menjadi istri Sasuke? Atau ia harus mengorbankan perasaannya dan kembali pada rencana awal? Rasanya Naruto ingin menangis saja. Hatinya terlalu sakit memikirkan semua ini.
Para dayang bergegas keluar setelah selesai dengan tugasnya, mereka meninggalkan Naruto sendirian. Duduk membisu. Matanya menatap kosong sekitar. Ia nampak sudah tak punya gairah lagi untuk hidup. Bulu matanya berkedip perlahan. Manik-manik yang semula menampilkan kekosongan kini sudah terlihat sedikit berwarna dan bersinar.
Naruto mengalihkan pandangannya pada meja kerja yang tidak jauh darinya. Ia bangkit dan menghampiri meja tersebut. Mengambil kertas dan kuas, ia segera menulis surat. Sesekali keningnya akan berkerut dan mengeluarkan ekspresi berfikir keras, apakah yang sedang ditulisnya itu?
Tanpa menunggu terlalu lama, Naruto segera menggulung pesan yang baru saja ia ditulis dan mengikatkannya di kaki burung merpati. Menuju ke jendela terdekat kemudian melepaskannya. Tak ada yang dapat ia lakukan saat ini, namun setelah berfikir keras beberapa kali, ia memutuskan untuk melakukan ini. Terpaksa meminta bantuan Shikamaru sekali lagi.
Mengangkat pandangannya, Naruto menemukan sebuah danau indah di depan kamarnya, 'Tur kecil sepertinya mampu menyegarkan pikiranku yang sedang ruyam.'
"Naruto?" Yang dipanggil membalikkan badannya ke sumber suara. Ten Ten datang dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya, "Apa kau tidak ingin jalan-jalan mengelilingi istana ini?"
Naruto menaikan alisnya. Ia menggedikkan kedua bahunya—tidak ada salahnya 'kan? "Baiklah." Naruto menghampiri Ten Ten.
"Kau sudah melihat-lihat kamarmu?" Naruto terdiam kemudian menggelengkan kepalanya. Ten Ten menghela nafas, apa Naruto tidak tertarik dengan keindahan istana Yuan Ming Yuan ini? Atau memang ia yang tidak peka? Atau bisa saja matanya sudah plus jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas, 'Padahal istana ini sungguh sangat disayangkan untuk dilewatkan begitu saja.' batin Ten Ten miris. Menghela nafas lelah, "Ayo ikut aku." Naruto segera mengekor di belakangnya.
Manik safir Naruto melebar dan nafasnya tertahan di dada. Ada baskom-baskom berkaki yang dihiasi berlian. Lemari dinding menjadi lemari pajangan, dipenuhi jimat rambut keberuntungan, jam-jam unik, tempat pensil, dan botol minyak wangi yang dekoratif. Di sudut ruangan terdapat sebuah meja teh yang ditaburi mutiara-mutiara sebesar kelereng, 'Harganya pasti mahal sekali!' batin Naruto takjub.
"Nah, di sana ruang dudukmu." Ten Ten menunjuk sebuah ruangan di sebelah barat. Naruto menggerakkan kepalanya pada tempat yang ditunjuk Ten Ten.
'Itu lebih pantas disebut ruang galeri seni.' Naruto ber-sweat-drop saat melihat ruang duduknya yang dipenuhi benda-benda indah, mulai dari jambangan-jambangan besar yang diletakkan di lantai hingga ukiran arca yang dipahat dari lidi kecil.
Setelah mengagumi keindahan yang tersaji di kamar pribadi Naruto, mereka melanjutkan untuk mengelilingi istana Yuan Ming Yuan. Matahari baru saja merangkak menuju langit ketika mereka keluar dari pekarangan wanita berambut emas itu.
Yuan Ming Yuan adalah istana musim panas yang terindah. Kaisar dan beberapa generasi telah datang ke situ untuk tetirah.
Terletak sekitar delapan belas mil di sebelah Barat Laut Kekaisaran Uchiha, ada banyak terhampar taman dalam taman, danau-danau, padang rumput, lembah berkabut, pagoda yang sangat elok, kuil-kuil, dan tentu saja, istana-istana. Yang membuat Naruto terpesona adalah tak satu puri pun menyerupai yang lain, secara keseluruhan terdapat suatu harmoni yang utuh. Keindahannya seperti di negeri dongeng.
Tanpa terasa matahari mulai kembali ke peraduan, ia memancarkan cahaya kemuning emasnya. Naruto memandangi pantulan dirinya di air danau, "Apa... istana ini dibangun khusus?" Naruto menolehkan kepalanya pada Ten Ten yang berada tak jauh dari dirinya.
Ten Ten tersenyum kecil, "Taman-taman utamanya dibangun oleh Kaisar Madara Uchiha pada tahun XXX. Suatu kali saat tengah berkuda, Kaisar menemukan sebuah reruntuhan misterius. Kaisar terpesona oleh keliaran serta keluasannya, dan yakin bahwa ini bukan tempat biasa. Dan benar saja. Reruntuhan itu adalah sisa sebuah taman kuno yang terkubur di bawah pasir yang bertiup dari Gurun. Taman itu milik seorang Pangeran dari Wangsa Uzushio, dan dulunya berfungsi sebagai tempat perburuan sang pangeran."
Naruto mengangguk mengerti. Angin musim panas yang hangat menyapa lembut kulit Naruto yang kini telah bergelar Permaisuri, "Err ... Ten Ten, bisakah kau tinggalkan aku? Aku sedang ingin sendiri."
"Tentu." Dengan begitu, Ten Ten undur diri bersama dayang dan kasim lainnya, menyisakan Naruto sendirian di tepi danau.
Naruto menghela nafas. Cahaya matahari terbenam menyinari tubuhnya. Ia menyusuri danau tersebut menuju ke sebuah jembatan. Ia tengah berjalan di sepanjang Dermaga Panjang, sebuah selasar tertutup yang terbagi menjadi dua ratus bagian. Berhenti di tengah jembatan dan menatap langit yang mulai menunjukan kemunculan sang rembulan.
ooOOoo
Iris obsidian itu terus memandangi Naruto dari balkon istana sayap barat. Ia menyandarkan punggungnya pada kusen jendela. Langit telah menggelap sepenuhnya. Kulit pucatnya begitu kontras dengan langit di atasnya. Hembusan angin menerbangkan beberapa surai raven-nya.
"Siapkan jamuan untuk penyambutan dan berikan gaun untuk Permaisuri." Perintahnya pada kurir yang tengah bersujud padanya.
"Baik, Yang Mulia." Sang kurir segera meninggalkan Kaisar Uchiha.
Orochimaru memandang kepergian si kurir, "Sejak dari tadi Anda hanya memandanginya terus-menerus, Yang Mulia." Suara beratmengusap indra pendengarannya dari belakang.
"Hn." Sasuke nampaknya tidak memperdulikan kedatangan sang ahli strategisnya.
Orochimaru berjalan mendekat, "Anda terus-menerus memberikan dia keleluasan untuk bergerak, kenapa Yang Mulia, jika saya boleh bertanya?"
"Biarkan dia berulah sepuasnya."
Mata ularnya menyipit. Tangan kirinya mengepal erat. Hanya karena seorang wanita, "Tapi Yang Mulia ... Dia bukan wanita biasa. Dia datang karena ingin balas dendam, tidakkah Anda sadar, Yang Mulia? Dia bisa saja membunuh Anda!" ucapnya dengan penuh penekanan, berharap kata-katanya mampu menyadarkan Kaisarnya.
Sasuke menatap Orochi tajam dengan mata merah darahnya, "Biarkan dia berbuat sesukanya. Dan aku tau apa yang akan terjadi." Sasuke berkata tak kalah sengit. Ia menegakkan tubuhnya menghadap Orochi, "KAU tak perlu ikut campur." ucapnya final bersama dengan itu, Ia pergi meninggalkan Orochi.
Orochi memandangi punggung Sasuke yang semakin menjauh. Ia mendengus meremehkan. Seringai penuh arti menghias sudut bibirnya, "Bodoh. Begitu bodoh. Uchiha." kekehan gelapnya menemani kesendiriannya dengan begitu puas.
ooOOoo
Malam telah sepenuhnya menguasai langit. Naruto sudah kembali ke kamarnya. Kini sang Permaisuri tengah menyibukkan diri dengan surat-surat yang sedang ditulisnya. Suara burung merpati di dekat jendela menghentikan kegiatannya. Bangkit dan segera menuju ke sumber suara, Naruto menemukan burung merpati yang dikirimnya pagi tadi kini telah kembali.
Naruto menangkap burung tersebut dan mengambil sebuah kertas yang terikat secara tergulung di kaki si merpati. Melepaskan burung tersebut dan mulai membaca isi kertas tersebut—surat balasan.
Matanya bergerak menyusuri setiap baris tulisan yang tertera di surat itu. Senyum puas muncul dari kedua sudut bibirnya. Ia menghela nafas lega, "Dengan begini aku hanya perlu menunggu informasi selanjutnya."
"Naruto!"
Naruto terlonjak kaget saat pintu digeser kasar. Menggerakkan kepalanya ke sumber suara ia mendapati Ten Ten tengah berlari ke arahnya dengan para dayang mengekor di belakanganya meneteng begitu banyak aksesoris. Naruto meremas surat dan melemparnya asal ke belakang.
"Kau harus memakai ini!" Ten Ten mendorong sebuah pakaian berwarna putih ke dadanya. Suaranya berisi penuh kepanikan.
Naruto menaikan sebelah alisnya. Menaikan kain itu ke udara untuk melihat apa yang disodorkan padanya. Manik sebiru lautan itu melebar. Sepertinya hari ini maniknya terlalu banyak terbelalak. Untung matanya tidak sampai loncat keluar.
Sebuah gaun yang begitu indah dan belum pernah ia lihat sebelumnya. Gaun itu berwarna putih. Manik-manik menghias ruffle rumit yang berlipat mengelilingi gaun tersebut, itu bermotif bunga-bunga persik. Gaun itu menggunakan sabrina (kerah rendah) dan berlengan pendek. Renda-renda yang menempel di setiap ujung di gaun itu semakin mempercantik tampilan gaun tersebut. Naruto memandang gaun yang ada di hadapannya dengan takjub. Gaun itu indahnya luar biasa! (A/N : Search di g**gle gaun era Victorian)
"Cepat! Apalagi yang kau tunggu?!" Perintah Ten Ten tidak sabaran.
Naruto memandang Ten Ten dengan bingung, "Memakai gaun ... ini?" ia menunjuk gaun indah itu dengan jari lentiknya.
Ten Ten memutar bola matanya bosan dan menggeram kesal, "Tentu saja." mata coklatnya beralih pada dayang dibelakangnya, "Cepat siapkan korset!"
Para dayang segera menyebar dan membuka baju Naruto dengan gesit, "Tunggu. Sebenarnya ada apa?" tanya Naruto bingung.
Ten Ten yang sedang sibuk menyiapkan aksesoris menjawab tanpa menoleh, "Aliansi kerajaan Uchiha dari benua Eropa akan segera datang. Oleh karena itu kami harus segera mempersiapkan Anda."
"Mempersiapkanku?!" Ucapnya setengah berteriak. Kenapa dirinya dipersiapkan?! Apa jangan-jangan Ia akan dijadikan jamuan dan di suruh melayani mereka? 'Oh, tidakkk!' batin Naruto ricuh, "Ke-kenapa aku dipersiapkan? Tu-tunggu! Sasuke punya aliansi dari Eropa?!"
Seluruh pakaiannya telah ditanggalkan. Ten Ten segera memasangkan korset pada Naruto. Ia menarik tali korset itu sekencangnya, "Aww! Hei, ini sesak!" tanpa memperdulikan rengek kesakitan Naruto, Ten Ten terus menarik tali itu dan setelah dirasa pas, dia mengikat talinya.
ooOOoo
"Oh, begitu, ya?" Sasuke menegak minuman yang ada di cangkirnya. Matanya terus mengawasi ninja berpakaian serba hitam di hadapannya yang tengah bersujud. Ninja tersebut mengangguk pasti. Sasuke meletakkan cangkirnya dan meraih sebuah piringan berwarna emas. Di atas lempengan emas itu telah terukir huruf-huruf kanji, "Tugasmu selanjutnya." ninja bermasker hitam segera mengambil lempengan tersebut dan menghilang begitu saja.
Sasuke mengambil kembali cangkirnya, "Jangan kira aku tidak tahu apa yang terjadi." Ia menyerigai puas dan menegak teh bunga krisannya.
Sasuke membuka laci yang ada di bawah mejanya. Mengeluarkan sebuah kertas yang ada di dalamnya. Kemudian menaruhnya di atas meja. Tatapan yang semula tajam kini mulai menyendu melihat tulisan tangan di kertas tersebut. Sasuke menghela nafas lelah. Bangkit dari duduknya, Sasuke menuju jendela yang tertutup yang kemudian dibukanya.
Angin menyeruak masuk ke dalam kamar dan menggoyangkan rambutnya pelan. Sasuke mendongakkan kepalanya, memandang taburan bintang bercahaya di langit malam. Melipatkan kedua tangan di dada dan menyandarkan pungungnya pada kusen jendela. Matanya masih menyendu.
Manik-manik hitamnya bergerak menuju secarik kertas—surat di atas meja tulisnya, "Uchiha Naruko." seringai mengembang di sudut bibirnya. Tatapannya kembali menajam, "Uchiha Naruto—adik kembarmu ternyata lebih menarik darimu, aku suka padanya."
"Yang Mulia, sudah waktunya." Seorang kasim mencoba mengingatkannya dari luar kamar.
Sasuke menoleh ke sumber suara, "Hn." dan beranjak dari sana ia menuju keluar. Pada kasim serta dayang segera membungkuk hormat saat Sang Kaisar muncul dari balik pintu gesernya, "Apa Permaisuri sudah siap?" Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Naruto.
Di samping kanannya sedikit ke belakang, seorang kasim mengikutinya menjawab, "Yang Mulia tengah bersiap."
"Jamuan?"
"Telah siap, Yang Mulia." Ia kembali menjawab dengan sedikit membungkuk.
"Hn."
Perjalanan menuju ke kamar Sang Permaisuri memakan waktu yang lumayan lama, mengingat bentangan luas istana Yuan Ming Yuan ini sepanjang dua mil.
"Yang Mulia Kaisar telah tiba!" Seru seorang kasim dari luar kamar Naruto saat melihat Sasuke berjalan menuju ke arah kamar Sang Permaisuri.
Ten Ten dan para dayang berteriak panik. Mereka semakin mempercepat penyelesaian rias Naruto, "Pakai ini." Seru Ten Ten panik sambil meletakkan sepasang sepatu yang indah—atau yang kita sebut high heels di era modern ini di atas lantai. Sepatu itu bertabur permata dan berlian yang silih bercahaya.
Suara pintu di geser membuat semua orang di dalam kamar Naruto menoleh ke sumber suara dan disaat itulah kibasan tangan Sang Kaisar terlihat oleh pada dayang dan kasim di sana. Tanpa perlu diperintah oleh suara, para kasim dan dayang telah mengetahui apa arti dari kibasan tangan itu—tinggalkan kami berdua.
Jantung Naruto berdegup kencang berkali-kali lipat saat melihat tampilan Sasuke yang sangat berbeda. Sasuke mengenakan sebuah jas dengan bagian belakang yang panjangnya sampai betisnya berwarna biru tua. Celana dan vest berwarna hitam dan sepatu boots hitam tinggi selutut yang mengkilap. Mungkin pakaiannya seperti Vergil dari DMC3.
Lelaki bersurai raven itu menghampiri Naruto. Ia berjongkok di depan Sang Permaisuri. Mengambil sepatu yang belum terpakai olehnya. Sasuke menyodorkan sepatu itu. Mengerti maksud si Kaisar, Naruto mengangkat dan memasukan kakinya ke sepatu yang tengah dipegang Sasuke. Mereka mengulang hal yang sama. Kini Naruto berdiri dengan kedua kaki yang terbalut sepatu berhak tinggi.
Sang Kaisar bangkit dan kembali menatap Permaisuri dihadapannya. Ia begitu cantik dan anggun—tolong lupakan sikap urakannya. Rambut emas itu disanggul tinggi menyisakan beberapa bagian di depan telinga yang dikeritingkan. Bunga mawar putih dan permata menghias rambutnya. Anting-anting terpasang dengan cantik ditelinganya.
Sasuke mengambil helaian rambut keriting di depan telinga Naruto kemudian menyesap aromanya, "Citrus." Lelaki dihadapan Naruto menyeringai penuh arti membuat wanita dihadapannya memerah.
Sasuke berjalan mengitari tubuh Naruto. Jujur saja, Naruto merasa seperti tikus yang tengah dikitari seekor macan yang siap memangsanya kapan saja. Berhenti tepat dibelakangnya. Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sang Ratu. Naruto bahkan mampu merasakan dada bergelar Kaisar itu menempel tepat di punggungnya. Jantungnya berpacu kembali dengan cepat.
Sasuke mencondongkan kepalanya ke potongan leher dan menyesap aromanya kembali. Tubuh Naruto bergetar, ia menggigit bibirnya. Seperti ada ribuan kupu-kupu dibawah perutnya. 'Tidak mau merasakan ini. Ingin lepas.' Teriak Naruto dalam hati. Rasanya ia ingin lari sejauh mungkin saat ini.
Sasuke beralih pada telinganya, "Dengar." Ia berkata dengan begitu sensual. Naruto bahkan mampu merasakan hembusan nafas Sang Kaisar di telinganya. Astaga Kami-sama, Naruto sudah tidak tahan! Ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan gejolak dihatinya. Ia menggigit bibirnya semakin keras.
"Rudolf akan sampai beberapa jam lagi. Kau yang sekarang berstatus sebagai Permaisuri kekaisaran Uchiha, tidak boleh membuatku malu." Naruto melepaskan gigitan pada bibirnya, ia membuka matanya lebar dan mulai mendengarkannya dengan seksama, "Aku akan mengajarimu tiga hal untuk makan malam nanti."
Sasuke melepaskan pelukannya dan menghadap Naruto kembali, "Pertama, aku akan mengajarimu berjalan memakai sepatu itu." Sasuke melirik kaki Naruto yang tertutup oleh gaunnya. Ia berkata dengan nada mengejek dan tersenyum mencemooh.
Naruto menatap Sasuke datar tanpa ekspresi. Ia sadar, bagi Sasuke, dirinya hanyalah sebuah boneka mainan yang dapat kapan saja Ia mainkan dengan sesuka hati. Begitu pula dengan kakaknya. Ia yakin pasti demikian, 'Semoga Shikamaru memberi kabar dengan cepat.'
"Yang kedua, aku akan mengajarimu table manner dan terakhir bagaimana cara berdansa."
Naruto sudah tidak peduli lagi dengan semua perkataan yang ia lotarkan, dipikirannya saat ini adalah bagaimana cara membunuh lelaki bajingan dihadapannya. 'Teme... persetan!'
"Ayo." Naruto mengangkat kepalanya dan menemukan Sasuke sudah menjauh dari tubuhnya beberapa langkah dengan kedua tangan yang terentang terulur padanya. Naruto mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya melangkah dan...
Naruto menutup matanya erat, ia sudah siap dengan dirinya yang akan jatuh, dia siap dengan dirinya yang akan merasakan— "Oi, buka matamu," ia tidak merasakan apapun.
Naruto membuka matanya perlahan, mengerakkan kepalanya kepada Sasng Kaisar. Ia terlonjak kaget saat tahu bahwa ia tengah mencengkram tangan Sasuke dengan begitu erat begitupun sebaliknya. Pipinya memerah, "Kau tak apa?" kedua alis lelaki bersurai raven itu mengkerut.
Naruto menggelengkan kepala dan membetulkan posisinya—kembali berdiri, "Ayo coba lagi." Wanita dihadapannya mengangguk.
Naruto kembali hampir terjatuh dan Sasuke yang menahannya. Walaupun sulit, namun ia terus mencoba dan setelah beberapa menit berselang, ia mampu berjalan beberapa langkah dan akhirnya mampu berjalan memakai sepatu berhak tinggi itu. Ia terus berjalan ke arah Sasuke, 'Hanya beberapa langkah lagi,' ia mengingatkan dirinya. Sampai pada langkah terakhir, Naruto mengangkat wajahnya dan betapa kagaetnya dirinya saat sadar bahwa wajahnya hanya beberapa senti di wajah tampan dihadapannya. Ia segera membuang muka dengan wajah yang memerah.
"Sekarang kita berlanjut ke pelajaran yang kedua." Sasuke melemparkan pandangannya ke arah pintu masuk, "Bawa makanannya!" teriaknya.
Para kasim datang membawa sebuah meja dan dua buah meja yang tinggi, mereka meletakan kursi itu berdampingan. Disusul para dayang membawa makanan dan minuman yang kemudian menyusun makanan dan minuman yang dibawa mereka di atas meja tersebut. Naruto belum pernah melihat masakan yang tengah dihidangkan oleh mereka. Setelah selesai, mereka meninggalkan kamar menyisakan pasangan Kaisar dan Permaisuri itu berdua.
"Duduk." Naruto tersentak kaget dan segera mendudukan dirinya. Ia mengepalkan tangannya erat.
"Dengar Naruto, saat Yang Mulia Kaisar mengajarkan beberapa hal untuk makan malam nanti, apapun yang dikatakan oleh Yang Mulia Kaisar, menurutlah. Juga saat makan malam nanti berlangsung, usahakan jangan membuat kesalahan. Karena bagi Yang Mulia Kaisar, makan malam ini sangat penting. Juga, bersikap anggunlah!"
Kalau saja bukan Ten Ten yang memberi amanat kepadanya agar menurut saja, Naruto enggan sekali diperintah seperti ini. Lagipula siapa yang mau diperintah oleh Kaisar terberengsek di dunia. Cih.
Sasuke terus memperhatikan Naruto yang tengah duduk, mata hitamnya menyendu. Sejak ia datang tadi sampai sekarang, Naruto belum mengeluarkan sepatah katapun padanya. Dia sedang marah? Menghela nafas pasrah, jalan pikiran wanita dihadapannya ini benar-benar sulit ditebak.
"Tegakan badanmu! Luruskan kakimu! Jangan sampai sikutmu bertumpu pada meja! Bla bla bla..." Sasuke terus memberikan pelajaran table manner, mulai dari sikap saat duduk, cara memakai sendok, garpu dan pisau, cara makan, cara memotong makanan, cara minum serta hal-hal yang harus dan dilarang dilakukan di meja makan dan Naruto menurut saja.
Sasuke tersenyum tipis dalam hati, sungguh beruntung, Sang Permaisuri rupanya mampu belajar dengan cepat. Ia memperhatikan Naruto yang tengah memotong daging searah dengan seratnya, 'Betul, seperti itu.' Ia mengangguk dalam hati, bibirnya terlalu gengsi untuk melontarkan sebuah pujian.
Matanya teralih pada wajah wanita itu. Bulu mata atas dan bawahnya sedikit dipertebal dengan mascara, membuat matanya semakin tajam. Pipinya yang dipulas sedikit blush on. Manik onyx-nya menyipit memperhatikan bibir Naruto yang dipoles lipgloss berwarna peach tengah mengunyah makanan dengan pelan. Sungguh terlihat begitu... mengiurkan.
Tangannya terjulur dan memegang dagu Sang Permaisuri. Naruto menoleh dan sedikit kaget saat Sasuke menatapnya dalam. Sesekali manik hitam lelaki itu melirik ke bibir dan kembali ke matanya, 'Meminta cium?'
Sepertinya benar, Sasuke mendekatkan wajahnya perlahan, Naruto mampu merasakan deru nafas sang Kaisar Uchiha ini di wajah dan lehernya. Bulu roma di tubuhnya meremang, semakin menambah sensasi aneh di tubuhnya, apalagi rasa ribuan kupu-kupu di bawah perutnya mulai terasa lagi. Panas...
Mereka terus bertatapan dengan wajah Sasuke yang semakin mendekat. Namun sebelum kedua bibir itu dapat bertemu, Naruto meletakan potongan daging yang tertusuk garpu tepat di bibir Sasuke tanpa memutuskan kontak matanya. Sebuah potongan daging yang telah ia potong namun belum sempat ia masukan ke dalam mulutnya.
Sasuke menyungingkan sebuah seringai tipis di sudut bibirnya. Ia memegang tangan kiri Naruto yang berbalut gloves yang tengah memegang garpu. Menggerakkan tangannya yang memegang tangan Naruto, Sasuke memasukan potongan daging tersebut ke dalam mulutnya.
Naruto masih menunggu, menunggu sang Kaisar menjauhkan wajahnya dari dirinya. Namun fakta mengatakan bahwa wajah sang Uchiha ini tak menjauh barang satu mili pun. Sasuke dengan santainya mengunyah daging yang berada di mulutnya sambil memandangi wajah ayu Naruto. Wajah ayunya mulai memerah perlahan.
Rasa risih mulai hinggap. Naruto memutuskan kontak mata dan beralih pada serbet yang berada di pangkuanya. Dengan sigap jari telujuk dan tengah tangan kanannya menyambar serbet dan mulai membersihkan bibir Sasuke. Tangan kirinya masih dipegang oleh Sasuke. Dirinya sudah berusaha menjadi anggun hanya untuk malam ini saja, tetapi ... kenapa? Rasa begitu tersiksa jika berada dekat dengan Sasuke? Ia menggigit kembali bibir bawahnya pelan, tidak mampu mengontrol gejolak di hatinya. Naruto merutuki sikap bodohnya yang mencintai pemain utama pembunuh kakaknya.
Bodoh...
Sasuke terpaku pada bibir dihadapannya yang digigit seperti itu. Tengkuknya mulai terasa panas! Sasuke segera membuang muka, ia beranjak bangkit dan menjauh, 'Sial, libidoku sedang naik dan gadis ini tak mau disentuh. Great!' Sasuke memijat tengkuknya pelan, berharap mampu menurunkan dirinya yang sedang 'ingin'.
Naruto menghela nafas lega saat Sasuke berjalan menjauh darinya. Mengambil gelas dan segera meminum air untuk menenangkan dirinya, "Mari kita mulai pelajaran yang ketiga." Naruto mengangguk sambil menyusut bibirnya dengan serbet.
Wanita bergaun putih itu bangkit dan menghampiri Sasuke. Lelaki dihadapannya mengulurkan tangannya. Naruto membalas dengan menggenggam tangan Sasuke. Dulu, sebelum Naruto menggunakan high heels, tingginya hanya sebahu Sasuke, namun setelah memakai sepatu itu, tinggi Naruto bertambah menjadi setinggi hidung Sasuke. Semakin memudahkan jika ingin mencium Sang Permaisuri.
"Peluk aku." Naruto memandang pria tampan tapi berengsek dihadapannya dengan tatapan horror.
Tangannya terkepal erat. 'Oh, Kami-sama, tolong, jangan sekarang,' Naruto sungguh tidak habis pikir, memeluknya? Menatapnya saja sudah membuatnya tidak tahan, apalagi jika memeluk.
"Apapun yang dikatakan oleh Yang Mulia Kaisar, menurutlah!"
Sial, kenapa disaat seperti ini kata-kata Ten Ten menggema di kepalanya? Sialan Ten Ten! Sialan Sasuke! Sialan Tangannya! Ia ingin memukul wajah arogan pria ini, tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang! Oh, sial ... semuanya sialan!
Ia mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan, kembali mencoba mengendalikan amarahnya. Naruto menggerakkan tangannya melingkar di tubuh Sasuke. Ia menundukkan wajahnya dalam, hatinya serasa akan meloncat keluar.
Sasuke membeku. Ia mengerutkan alisnya. Naruto mau memeluknya? Ia tersenyum tipis dan hatinya menghangat. Sebuah perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sasuke melepaskan kedua tangan yang melingkar di tubuhnya dan memindahkan tangan tersebut ke lehernya. Kemudian memeluk erat pinggul Naruto. Oh, Naruto hampir gila dengan semua ini. Wajahnya sudah memerah bak sebuah apel, "Tatap aku." Sasuke menundudukan wajahnya menanti Naruto membalas tatapannya.
'Oh, Kami-sama...' Naruto kali ini tidak mampu meredam getaran yang membucah dihatinya. Dengan enggan Naruto menaikkan wajahnya dan memandang bungsu Uchiha ya—ya—yang tengah tersenyum simpul! Pipinya semakin memerah dengan segera ia menundukkan wajahnya kembali.
Senyum sang Uchiha semakin melebar melihat kelakuan Naruto yang bisa juga tersipu malu, 'Hahahah...' dia tertawa menang dalam hati. "Santai saja." Bisiknya tepat ditelinga Naruto, tidak lupa menghembuskan nafasnya di sana.
Naruto meremas jas Sasuke—mencari penyalur rasa panas yang mulai membakar di tubuhnya. Ia mengambil nafas dan menghembuskan perlahan, mencoba tenang dan mengontrol dirinya kembali. Setelah ia dapat mengontrol dirinya, Naruto memberanikan diri menatap Sasuke.
"Bisa kita mulai?" Naruto menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.
"Dengar Naruto, kau hanya perlu mengikuti langkah kakiku mengerti?" Naruto kembali mengangguk tanda mengerti. Lama mereka berdansa. Sasuke lumayan dibuat terkesima dengan Naruto yang begitu mudah belajar. Membuat Sasuke tidak perlu menjelaskan berkali-kali seperti saat mengajari Sakura.
Naruto sudah lancar dalam berdansa dan Ia mulai bisa menikmati kedekatan ini. Hatinya semakin menghangat dan nyaman. Mereka berdansa mengikuti alunan lembut sang musik, "Katakan." Sasuke menatap Naruto di sela-sela latihan dansanya.
"Apa?" Jawab Naruto sambil membalas tatapan Sasuke.
"Katakan. Apakah kau seorang yang jujur atau pembohong, Naruto?"
Naruto menaikan salah satu alisnya, "Apa maksudmu?" Naruto sungguh-sungguh tidak mengerti apa yang di maksud oleh bungsu Uchiha ini. Kenapa ia tidak langsung ke point-nya saja? Naruto menatap bingung Sasuke.
Dengan satu gerakan cepat, Sasuke menahan kedua tangan Naruto di atas kepala sedangkan Naruto berdiri diantara dinding dan Sasuke. Manik-manik sebiru lautan itu membulat kaget. Sasuke menatap tajam Naruto, "Katakan. Apa kau seorang yang jujur atau pembohong, Naruto?"
'Apa jangan-jangan...' Bibirnya sedikit menganga tidak percaya, apa Sasuke sudah mengetahui semua rencananya dan Shikamaru?
Tatapan tajam Sasuke berubah menyendu. Ia melepaskan kedua tangan Naruto, "Katakan." Sasuke terus menerus menatap Naruto. Punggung jarinya membelai lembut pipi Naruto.
Bukan itu...
Jantungnya berpacu keras. Hati Naruto meresah. Ia menggigit bibir bawahnya. Bukan karena takut akan rencana yang Ia susun akan gagal, namun karena melihat tatapan Sasuke yang seperti langsung mnembus hatinya. Ia takut...
"Sasuke... A-aku..." Matanya menatap lurus pria di hadapannya. Bibir peach-nya bergetar.
Ini salah...
Naruto menangkup dan membenturkan bibirnya ke bibir Sasuke dengan cepat dan dengan cepat pula ia melepaskannya. Sasuke membatu atas perlakuan Naruto yang diluar dugaan. Mata onyx-nya kembali tergerak pada Naruto yang kini tengah berburu dengan nafasnya serta wajahnya yang memerah.
Sasuke tersenyum kecil. Ia mengangkat dagu Naruto untuk menatapnya, "Sepertinya kau tidak pandai berciuman, Permaisuri." Sasuke berkata dengan nada yang mengejek.
Wajah Naruto kali ini semakin memerah, bukan karena malu, namun karena marah. Naruto menepis tangan Sasuke dan membuang muka. Ia terkekeh geli, Sasuke kembali mengangkat dagu Naruto untuk menuntun menatapnya. Sekilas Naruto mampu menangkap tatapan dalam Sasuke, namun ia segera memalingkan wajahnya.
Entahlah, ia tidak suka tatapan Sasuke saat ini. Tatapannya seolah ia langsung menatap ke dalam hati Naruto. Naruto merasa takut... takut jika Sasuke mampu membaca isi hati Naruto. Mampu membaca dan tahu bawa Ia telah jatuh pada pesona Sang Kaisar Uchiha.
"Akan ku ajarkan." Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, "Akan ku ajarkan kau berciuman." saat kata-kata itu berakhir, Sasuke menempelkan bibirnya lembut pada bibir Naruto.
Rasa takutnya seakan menguap dan tergantikan oleh rasa nyaman. Naruto memberikan akses pada Sasuke untuk menginvasi rongga mulutnya. Keduanya mulai memejamkan mata dan menikmati. Di detik selanjutnya, tensi semakin meninggi, terlihat dari Naruto yang mengalungkan tangannya di leher Sasuke dan Sasuke memeluk erat pinggang Naruto.
Merasa kehabisan oksigen, keduanya melepaskan pangutan tanpa melepaskan pelukan masing-masing. Saling pandang dan berciuman kermbali.
'Aku mencintaimu dan kau mencintaiku.'
TBC
Dear Readers,
Hoorray! Ryn update cepet xD well, ini semua karna ke depannya, Ryn bakalan hiatus lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~ Ryn 'kan mau UN xD minta do'anya ya? :3
Anyway, gimana chapter 6 nya? Apakah membosankan? Apakah seru? Apapun itu, Ryn harap scene SFN-nya kalian suka dan memuaskan dahaga kalian akan scene SFN (setelah menunggu 5 chapter xD)
Fict ini akan berakhir pada chapter 9. Happy atau Sad Ending, nih? Guess what? Tunggu kelanjutan dan kejutannya di chapter selanjutnya!
Ngomong-ngomong Happy New Years Everyone! (:
Best Regards,
Ryn
Menerima kritik dan saran yang membangun.
