Between Love and Hate
By Amaya Katsumi
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family
Pairing : NaruShion (sementara)
Rate : T+ (bisa saja naik)
Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung, pasaran (dan kesalahan lainnya)
Don't like, don't read!
Naruto POV
Kututup pintu mobil setelah kuparkirkan. Kakiku melangkah menuju satu tujuan. Orang-orang berlalu-lalang di depanku. Para gadis menatapku dengan wajah memerah. Aku mengangkat sebelah alisku melihat perlakuan para kaum hawa itu menatapku. Saat aku akan memasuki koridor, langkahku terhenti saat melihat dua orang yang sangat kukenal tengah bergandengan tangan.
Laki-laki berambut biru tua tengah menggaet gadis berambut pink. Aku tidak percaya! Kukira Sasuke tidak menyatakan cintanya pada Sakura. Dia terlalu mementingkan harga dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya kepada orang yang disukainya.
Aku menyeringai saat mereka mendekatiku.
"Biar kutebak! Kalian sudah berpacaran?" tanyaku.
Bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah memalingkan muka dengan wajah memerah. Sungguh kalian pasangan yang aneh!
"Kukira Teme tidak akan pernah menyatakan cintanya pada Sakura-chan. Ternyata seorang Uchiha bisa membuang egonya juga."
"Urusai!"
Lihatlah! Si Teme ini memalingkan wajahnya. Lucu sekali karena jarang sekali melihat temanku ini pipinya merona karena malu.
Setelah mengantar Sakura ke kelasnya, kami memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kelas. Lagi-lagi kami sebangku sampai ke bangku SMA tingkat akhir ini. Sakura bilang, kami ini sangat tidak terpisahkan, meskipun sifat dan bakat kami sangat berlawanan. Tapi ada banyak juga kesamaan di antara kami.
Tahukan kalian, kalau aku dan dia sama-sama menyukai olahraga? Ohh, aku lupa kalau tidak ada laki-laki yang tidak menyukai olahraga. Maaf! Tapi tidak pernah kukira kalau di sekolah pun aku dan dia mengambil ekskul yang sama. Seperti sepak bola, basket, serta karate. Dalam pelajaran akademik pun kami adalah rival. Walau aku yang lebih sering kalah sih. Tapi dia itu sangat tidak bersahabat dan mempunyai mulut yang jelek! Ekspresinya pun sangat menyebalkan!
…
Jam pelajaran telah selesai! Semua murid berhambura keluar kelas. Ada yang pergi ke perpustakaan, ke kantin, menaiki bus, dijemput mobil, ada yang mengarah ke mall, ada juga yang pergi ke belakang sekolah. Tapi yang paling banyak adalah yang pulang ke rumahnya! Haha!
Namun berbeda denganku yang berdiri dari lantai atas sekolah. Bahuku bersandar pada tembok. Dan mataku terpaku pada seorang gadis di lapangan basket. Seorang gadis yang selama ini menarik perhatianku. Tujuanku masuk ke klub basket adalah karena dia.
Pertemuan kami diawali saat pertama kali masuk ke sekolah ini. Di saat sekolah telah sepi, gadis itu sedang bermain basket sendirian. Berkali-kali tangannya melemparkan bola ke dalam ring. Aku jadi tertarik untuk gabung bermain bersamanya. Kemudian aku menantangnya untuk bermain satu lawan satu. Dia pun setuju. Tapi akhirnya, akulah yang menang. Dari sana kami dekat.
Berkali-kali kami bertemu dan mengobrol di taman sekolah. Akhirnya aku mulai menyukainya. Di saat aku ingin mengatakan cinta, hatiku hancur mendengar dirinya sudah bertunangan. Meski pun belum menikah dan aku masih mempunyai kesempatan, tetap saja aku tidak bisa melakukan itu. mereka dijodohkan oleh orang tua mereka dan mengikat mereka dalam pertunangan. Padahal aku tahu tunangannya itu bukan orang yang baik. Dia tidak mencintai tunangannya. Laki-laki itu tidak pernah berbuat baik kepadanya. Tapi gadis itu selalu mengatakan 'baik-baik saja' atau 'tidak apa-apa' kepadaku.
"Kau masih saja memperhatikan Shion!"
Terdengar suara feminism setelah tangannya menepuk bahuku. Kulihat lagi gadis yang sedari tadi menjadi objekku, tapi sekarang dia sudah menghilang entah kemana. Mungkin dia sudah pulang.
"Sakura? Di mana Sasuke?" tanyaku.
"Ahh, dia bilang masih ada urusan. Tadinya aku ingin pergi membeli buku di seberang. Tapi Sasuke-kun bilang untuk memintamu untuk mengantarkanku."
Sialan si Teme itu! jika dia mempunyai masalah, pasti selalu ditimpalkan kepadaku. Aku tahu Sakura itu tidak akan hanya membeli buku. Dan itu membuat uangku cepat menipis. Kenapa sih si Teme itu pelit sekali? Aku tidak tahu apa dan berapa banyak barang yang akan dibeli Sakura sekarang.
Aku pun pasrah untuk mengikuti keinginan Sakura. Gadis ini langsung saja menarik tanganku. Teme, di mana sih kau ini? Tou-chan, kaa-chan, help me!
Saat di koridor, langkah kami dihentikan oleh suara keributan yang tak jauh dari sini.
'BUK PAK'
Mataku terbelalak saat melihat dua orang, laki-laki dan perempuan yang tidak asing lagi bagiku.
"SUDAH KUBILANG BERAPA KALI UNTUK TIDAK MENGATAKAN APAPUN PADA ORANG TUAKU!" bentak seorang lelaki berambut panjang yang tengah menjambak rambut seorang perempuan.
"Aku tidak mengatakan apapun! Kumohon lepaskan aku! Sakiiiit!" lirih gadis yang rambutnya sedang dijambak.
Suara mereka bahkan terdengar olehku dan Sakura. Sungguh geram melihat perlakuan lelaki itu. tidak punya hati kepada perempuan pun!
"Itu Neji dan Shion kan?" gumam Sakura.
"Hoi, Naruto! Kau mau kemana?" panggil Sakura saat aku berjalan meninggalkannya. "Hei, kau tidak berniat membantu Shion, kan?" Sakura menahanku. "Kita tidak berhak mencampuri urusan mereka. Mereka itu sudah bertunangan! Kau juga bisa dibunuh Neji!"
Ucapan Sakura seolah tidak kupedulikan. Aku tetap berjalan, berniat menolong gadis yang kusukai. Meski aku hanya orang luar, aku akan tetap mencampuri mereka. Aku sungguh tidak tahan melihat kejahatan Neji yang terus-menerus kepada Shion.
"KAU SUDAH MULAI LANCANG, HAH?" bentak Neji dan tangannya telah siap untuk menampar Shion.
'PLAK'
"Lebih baik besok kau memakai rok saja!"
Neji mengalihkan pandangannya kepada orang yang telah lancang kepadanya. Saat tangannya hendak mendarat, seseorang menahannya.
"Apa katamu?"
"Lelaki sejati tidak akan pernah menyakiti perempuan. Entah itu perkataan atau perilaku. Jangan mentang-mentang perempuan itu tidak bisa melawan, kau merasa berkuasa!" tantangku.
Dilemparkannya Shion lalu menghempaskan tangannya yang masih dipegang olehku.
"Lebih baik kau urus saja urusanmu sendiri! JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!" bentaknya lagi dan langsung mendaratkan tangannya ke wajah Naruto.
Aku yang menyadari itu, dengan sigap menghindari pukulan yang dilayangkan Neji.
"Refleks yang bagus!" pujinya.
Neji terus saja melayangkan pukulan dan tendangan kepadaku, sedangkan aku hanya menangkis tanpa ingin melawan.
"Dengar Neji! Aku tidak ingin melawanmu! Kita bicarakan ini baik-baik! Jangan sampai ada perkelahian."
"TIDAK USAH JADI SOK PAHLAWAN KESIANGAN!"
Pukulan demi pukulan tanpa henti terus dilakukan Neji. Orang ini seperti tidak lelah. Aku saja sudah cukup kewalahan melawannya.
Dari belakang ku bisa merasakan seseorang mengarahkan pukulan padaku. Sambil memegang tangan Neji, langsung kulempar tubuh Neji kearah temannya yang akan menyerangku. Setelah itu, lagi-lagi dari belakang seseorang melayangkan tongkat padaku. Reflex aku melompat ke atas saat tongkat itu diarahkan ke bawahku.
Huh, mereka beraninya melawan dari belakang! Sungguh licik! Sekali lagi Neji mengarahkan tinjunya tanpa persiapanku. Lagi-lagi aku reflex menangkisnya dengan tanganku.
'BUK'
Tanpa kusadari bahwa aku telah lengah. Seseorang memukulku dari belakang yang membuatku terjatuh. Kemudian aku diangkat oleh kedua temannya. Kedua tanganku ditahan oleh mereka. Dengan mudahnya Neji meninju wajahku.
"Kau harus mendapatkan pelajaran atas kelancanganmu, Namikaze Naruto! Hiiiyaaaat!"
'PLAK'
"Seharusnya kalian tidak boleh membuat keributan di sekolah milik ayahku!" ucap seseorang yang berdiri di samping Neji.
Semua orang terbelalak oleh kedatangan Uchiha Sasuke yang otomatis menghentikan pertunjukan action ini. Kedua orang yang menahanku langsung melepaskanku begitu saja. sedangkan Neji sendiri membuang mukanya lalu berjalan pergi.
"Awas kau!" ancamnya padaku.
Aku masih merintih kesakitan memegangi wajahku yang sepertinya mulai berdarah dan membiru.
"Ayo!" Sasuke mengulurkan tangannya padaku.
"Terima kasih, Sasuke! Kau datang di saat yang tepat. Jika tidak, aku tidak tahu apakah aku masih bisa bangun." Kataku.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya Shion menghampiriku. "Biar aku yang mengobatimu."
Sasuke membopongku menuju UKS. Setelah itu, dia pergi bersama Sakura dan meninggalkanku dengan Shion.
Jika tadi aku tidak bersama Sakura, Sasuke pasti tidak akan datang membantuku. Dan jika tidak ada bantuan, sudah dipastikan kalau aku akan masuk rumah sakit. Tiga lawan satu itu tidak adil, apalagi mereka menyerangku di belakang.
Mereka saja yang tidak tahu kalau dulunya sekolah ini, tou-chan kulah yang mendirikan. Setelah itu kepemilikannya diubah menjadi milik ayah Sasuke. Aku tidak tahu kenapa. Tou-chan hanya mengatakan bahwa suatu hari nanti aku akan mengetahuinya sendiri. Jika saja sekolah ini masih milik tou-chan, apa mereka masih berani melawanku?
"ITTAI!" rintihku saat Shion menempelkan kapas yang sudah dibasahi oleh alcohol. "Jangan terlalu keras! Aww, sungguh sakit sekali!"
Tiba-tiba Shion menjauhkan begitu saja tangannya.
"Gomen, Naruto! Karena aku, kau jadi babak belur begini. Aku jadi tidak enak padamu." Lirihnya.
Gadis ini malah menundukkan wajahnya.
"Tapi, arigatou karena kau telah menyelamatkanku." Lanjutnya.
Suasana menjadi hening sejenak. Aku masih memperhatikannya. apa gadis ini belum menyadari kalau aku menyukainya? Orang bilang kalau kepekaan perempuan itu sangatlah kuat. Tapi buktinya?
…
Normal POV
"Namikaze Naruto! Setelah ini, akan kuberi kau pelajaran! Aku tidak takut dengan orang tuamu! Kita lihat siapa yang lebih berkuasa! Tunggu saja!"
Tanpa Naruto sadari, seseorang dari balik pintu mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti janji atau sumpah.
…
.
.
.
To be continue
.
.
Balasan review :
Lavienda : Yap!
Byakugan no Hime : ohh yaa? Siapa author-nya itu teh? Apa sama kaya cerita ini? Hehe :D
Cuka-san : Ok! ;)
Dinda : pair awalnya emang NaruShion, tapi selanjutnya bakal NaruHina. Tenang kok! Amaya emang gak mau Naruto berakhir sama yang lain :D. ikutin terus yaa ceritanya! ;)
Amaya's note :
Hai minna-san! Gimana kabarnya? Alhamdulillah ya!
Apakah chapter ini memuaskan? Sepertinya tidak :(
Pairing dari fic ini awalnya emang NaruShion. Menceritakan kisah cinta pertama Naruto. Selanjutnya bentuk balas dendam Naruto kepada Neji lewat Hinata. Tapi akhirnya, malah dia yang terjebak. Kenapa sih Naruto memperalat Hinata? Nanti bakal ada penjelasannya. Kenapa sih harus ada NaruShion? Kan namanya juga ngalakon heula :D
Tenang aja! Ini baru awal cerita. Amaya gak janji kalau selanjutnya akan lebih seru. Tapi Amaya jamin kalau 1, 2 atau 3 chapter lagi, pairingnya berubah menjadi NaruHina. Cerita ini udah Amaya susun dari awal dan udah nyampe tamat. Sebelumnya Amaya bikin cerita ini bukan tokoh yang ada di Naruto. Tapi tokoh yang Amaya udah karang sendiri. Tapi sekarang cerita itu ngilang di laptop dan gak ada di mana-mana
Duh, malah curhat :D
Sekian dari Amaya. terima kasih untuk yang sudah mau membaca. Jangan lupa untuk beri komentarnya di kotak review ya! makasih juga buat yang udah menambahkan fic ini ke favorite dan yang udah ngefollow. Ikutin terus yaa cerita fanfiction dari Amaya! bye! ;) :*
