A/N :
Big thanks for your reviews, favs and folls at the previous chapter, I really appreciate it! :* *kiss*
Can't mention one by one, 'cuz it's too many, so sorry! :)
Ngomong-ngomong, sedikit pemberitahuan saja ya, Naruto dan Shikamaru itu tidak mempunya ikatan apapun—tidak menikah
..~" Happy Reading "~..
Naruto menangkup dan membenturkan bibirnya ke bibir Sasuke dengan cepat dan dengan cepat pula ia melepaskannya. Sasuke membatu atas perlakuan Naruto yang diluar dugaan. Mata onyx-nya kembali tergerak pada Naruto yang kini tengah berburu dengan nafas serta wajahnya yang memerah.
Sasuke tersenyum kecil. Ia mengangkat dagu Naruto untuk menatapnya, "Sepertinya kau tidak pandai berciuman, Permaisuri." Sasuke berkata dengan nada yang mengejek.
Wajah Naruto kali ini semakin memerah, bukan karena malu, namun karena marah. Naruto menepis tangan Sasuke dan membuang muka. Sasuke terkekeh geli, Ia kembali mengangkat dagu Naruto untuk menuntun menatapnya. Sekilas Naruto mampu menangkap tatapan dalam Sasuke, namun ia segera memalingkan wajahnya.
Entahlah, ia tidak suka tatapan Sasuke saat ini. Tatapannya seolah ia langsung menatap ke dalam hati Naruto. Naruto merasa takut... takut jika Sasuke mampu membaca isi hati Naruto. Mampu membaca dan tahu bawa Ia telah jatuh pada pesona Sang Kaisar Uchiha.
"Akan ku ajarkan." Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, "Akan ku ajarkan kau berciuman." saat kata-kata itu berakhir, Sasuke menempelkan bibirnya lembut pada bibir Naruto.
Rasa takutnya seakan menguap dan tergantikan oleh rasa nyaman. Naruto memberikan akses pada Sasuke untuk menginvasi rongga mulutnya. Keduanya mulai memejamkan mata dan menikmati. Di detik selanjutnya, tensi semakin meninggi, terlihat dari Naruto yang mengalungkan tangannya di leher Sasuke dan Sasuke memeluk erat pinggang Naruto.
Merasa kehabisan oksigen, keduanya melepaskan pangutan tanpa melepaskan pelukan masing-masing. Saling pandang dan berciuman kermbali.
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Story By.
Quiiny Riezhuka Sylvester
Pairing :
SasuFemNaru
Rate :
Mature
Genre :
Tragedy, Hurt/Comfort, Romance and Drama
Warn :
Gender Bender, Out of Character, Alternative Univers, Death Characters, Strong Language, Include History, Original Characters
Don't like? Then, don't read!
..~" Happy Reading "~..
Sebuah ketukan ringan di pintu membuat kedua sejoli itu menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sumber suara, "Yang Mulia, Pangeran Rudolf telah tiba." seorang kasim memberitahu dari luar.
Manik-manik itu saling membagi pandangan sebelum akhirnya menjauhkan diri masing-masing. Sebuah uluran tangan membuat Naruto mengangkat kepalanya—menatap sang empunya. Hati Naruto berdebar kembali. Dengan sedikit keraguan dan wajah yang merona merah, Naruto meraih tangan Sasuke. Kini mereka bergandengan.
Inikah awal yang baru?
Sasuke mendorong sedikit pintu kamar Permaisuri dan saat pintu bergemerincing, para kasim segera membukakan pintu tersebut. Mereka berdua melangkahkan diri menuju ke tempat jamuan. Pada dayang dan kasim berbaris rapi dan mengikuti mereka dari belakang.
Pikiran Naruto melayang jauh, semua ini diluar dugaannya. Kenapa hatinya tidak bisa mengatakan hal yang sebaliknya? Tujuannya ke sini adalah untuk balas dendam, bukan untuk jadi miliknya, tapi kenapa?! Walaupun keduanya telah jujur pada diri masing-masing, bukan berarti Naruto akan mundur dari rencana awalnya.
Ia sudah setengah jalan, Ia tidak mungkin kembali. Sudah terlambat untuk kata mundur. Naruto menggigit bibir bawahnya, hatinya kembali terasa sakit dan matanya mulai terasa panas. Ingin... menangis...
"Kau kenapa?" Bisik seorang pria yang kini tengah menggandeng tangan tanpa menatap ke arahnya.
Naruto melirik sesaat dan menghembuskan nafasnya perlahan, "Aku tak apa,"
"Hn,"
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat, mereka sampai di tempat jamuan. Para penjaga segera membukakan pintu. "Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri datang!" seru seorang penjaga.
Saat pintu dibuka, seluruh pasang mata segera menuju ke arah pintu masuk. Tatapan mata mereka bermacam-macam, ada yang menatap takjub, ada juga yang menatap meremeh penuh ketidaksukaan.
Naruto dan Sasuke masuk ke ruang jamuan. Tangan Naruto masih menggandeng tangan Sasuke. Mereka berjalan menuju ke meja yang telah disediakan khusus untuk mereka. Sesekali Naruto melemparkan senyum lembutnya.
Jika tidak salah, ruangan ini sebelumnya adalah sebuah aula kerajaan—Aula Keselarasan Bumi. Namun aula yang dulu kosong itu, kini telah dirubah seratus delapan puluh derajat menjadi tempat jamuan yang begitu mewah. Meja dan kursi yang terbalut kain berpita putih kini memenuhi ruangan ini. Di sudut ruangan terdapat sebuah tanaman bonsai berukuran sedang.
Tiang-tiang yang dulu menjulang sekarang terbalut kain putih dan dihiasi oleh bunga chrysanthemum berwarna ungu. Kening Naruto sedikit berkerut saat melihat para kasim dan dayang juga berpakaian aneh dan membawa napan yang diangkat setinggi bahu. Mereka membawa makanan dan minuman di atasnya.
Semua terasa berbeda, seperti bukan berada di Cina...
"Long time no see." Ucap seseorang dari arah belakang. Pasangan Kaisar dan Permaisuri itu berhenti dan menolehkan kepalanya ke sumber suara. Wajah tak berekspresi milik Kaisar kini memulas sebuah seringai, "Yeah..." balas Sasuke.
"How's life?" Tanya seorang lelaki berambut perak sebelum akhirnya menegak cocktail dari gelas yang tengah dipegangnya.
Sasuke mendengus geli melihat teman lamanya, "Pretty good, you?"
"I'm okay." Lelaki tersebut mengangguk-anggukan kepalanya.
Naruto memasang wajah bodoh. Sesekali Naruto memandang lelaki berambut perak dan Sasuke bergantian saat mereka tengah mengobrol. Alisnya berkerut-kerut mendengar percakapan mereka karena faktor tidak mengerti bahasa apa yang mereka gunakan.
"Anyway, where's Sakura? I haven't see her around tonight." Ia kembali menegak cocktail-nya.
"She's death." Lelaki itu terbatuk-batuk, tersentak kaget akibat tersedak minumannya, "P-pardon me?" ia mengerutkan dahinya dengan wajah tak percaya.
"You're not deaf, She's death." Sasuke berkata dengan wajah datarnya, seolah tak memiliki secuil pun rasa penyesalan yang hinggap di hatinya.
Dia memandang Sasuke dengan wajah super tak percaya, "Oh, you crazy man!". Pria itu menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Naruto sedikit tersentak kaget saat lelaki berambut perak itu mengalihkan pandangan padanya. Bibir lelaki itu langsung mengulas senyuman menawan, "Hey, What a lovely Lady you are."
Naruto mengedipkan matanya berkali-kali mencoba mencerna kata-kata asing yang masuk ke dalam kepalanya. Permaisuri itu mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Seolah mengerti, Sasuke berkata, "Dia bilang kau manis."
"Oh," gunam Naruto. Ia pun tersenyum lembut pada pria tersebut. Lagipula ia tidak tau harus menjawab apa.
"Lemme—"
Sasuke segera memotong, "Stop flirting. Let's go Naruto." Sasuke menarik tangan dan menyeret Naruto pergi menuju ke meja makan mereka.
"Oi! I'm not done yet!" Lelaki itu berteriak kencang namun Sasuke menulikan pendengarannya. Like hell, mana mungkin Sasuke membiarkan 'makanan'nya diambil orang. Namanya juga Sasuke Uchiha, bukan Sasuke namanya jika mampu mengeluarkan isi hatinya dengan benar. Apalagi hal yang menyangkut cinta.
Sasuke dan Naruto berdiri berdampingan di meja makannya, "Good evening, ladies and gentleman," Sasuke mulai membuka suara. Suasana yang semula ramai kini hening dan semua mata tertuju apa Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Uchiha. Sasuke memberikan sabutan dan membuka acara makan malam.
Acara berlanjut dengan diadakannya ceremonial, yaitu saling menukar gelas berisi wine yang bercampur darah Sang Kaisar—Sasuke dan Raja Rudolf sebagai bukti kesetiaan. Acara makan malam ini rutin diadakan setiap Kaisar dan Raja baru naik tahta. Generasi sebelumnya—Fugaku mengadakan acara makan malam dan pertukaran darah di kediaman Raja, dan generasi sekarang dirayakan di kediaman Kaisar.
ooOOoo
Kaisar Uchiha itu menegak wine-nya dengan begitu khidmat. Sudut bibirnya menyunggingkan sebuah senyum simpul—walaupun hanya dua mili. Makan malam berlangsung dan berakhir seperti yang diharapkan oleh Sasuke. Semuanya berjalan dengan baik. Naruto nampak tak melakukan kesalahan yang berarti. Bukan hanya itu, tapi kalau boleh dibilang, mood Sasuke malam ini sedang baik.
Musik lembut nan manis mulai mengalir memenuhi aula Keselarasan Bumi. Manik Sasuke memperhatikan sekitar, banyak orang segera mencari pasangan. Well, ini pertama kalinya ia tertarik untuk berbaur pada keramaian yang tidak bermanfaat seperti itu. Ia menolehkan pandangannya pada Naruto. Alisnya sedikit berkerut, melihat Naruto yang tengah menegak cairan berwarna merah dari gelasnya dengan tangannya yang sedikit bergetar. Bibirnya kini memulas senyum mengejek melihat Naruto, 'Itukan hanya wine.'
'Wine!' Onyx-nya membulat seketika. Sasuke segera menyambar gelas di tangan Naruto.
Naruto menatap tajam Sasuke saat gelas minumannya direbut paksa, "Sasuke, apa yang kau lakukan?!" desis Naruto.
Seolah tidak ingin kalah, Sasuke menatap tajam batu sapphire dihadapannya, "Kau tidak seharusnya memimun minuman ini." ucapnya datar.
"Lalu kenapa kau mengajakku ke acara ini! Kenapa seluruh tamu bisa meminum minuman itu dan aku tidak?!" bisik Naruto penuh penekanan. Tidak lupa menatap Kaisar yang duduk di sampingnya dengan tajam.
Sasuke menatap Naruto lurus. Dari gerak tubuhnya, Sasuke tahu jika Naruto sudah sedikit mabuk namun kesadarannya masih ada, "Akan ku antar kau ke kamar." Sasuke bangkit dari duduknya dan meraih tangan Naruto.
Naruto menepis tangan putih pucat itu, "Aku bisa pergi sendiri." Ia bangkit dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Sasuke.
Setelah beberapa langkah, Naruto menggigit bibir bawahnya, 'Apa Sasuke masih berdiri di sana?' Ia mencoba membalikkan badannya. Ingin melihat, apakah Sasuke masih memandangi kepergiaannya. Namun, objek yang di cari ternyata telah menghilang dari tempat.
Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan mendapati Sang Kaisar yang ternyata kini tengah berbincang dengan seorang wanita, 'Berengsek!' umpat Naruto dalam hati. Ia segera membuang muka dan melangkah kembali.
"So, it's you." Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Ia menemukan seorang wanita berambut merah yang berbalut gaun semerah darah sedang berjalan menuju ke arahnya. Tangan kirinya memeluk pinggangnya sedangkan tangan kanannya tengah memegang gelas berisikan wine di sela jari tangannya.
"Ahh... you're the Empress. Am I right, aren't I?" Wanita itu menunjukan senyum penuh kesombongannya.
Naruto membalas tatapannya dengan tatapan datar tak berminat, "Aku tidak kenal siapa kau." Bersaman dengan itu, Naruto melangkah kembali. Namun belum sampai pada langkah ketiga, wanita itu bersuara kembali.
"Well, untuk ukuran seorang Permaisuri, menurutku kau biasa-biasa saja." Naruto menghentikan langkahnya. Wanita itu ternyata bisa menggunakan bahasa yang sama dengannya. Hati Naruto kini terasa terluka, berani sekali wanita sialan ini menghinanya?
Naruto membalikkan badannya perlahan. Tatapan matanya menajam, 'Beraninya!'
Wanita berambu merah itu menegak wine di cangkirnya dengan santai. Kemudian menikmati warna wine di dalam cangkirnya. Ia menolehkan kembali kepalanya pada Naruto yang juga tengah menatapnya tantang. Wanita itu menyeringai dan menatap Naruto dari bawah kaki sampai berhenti di wajah dan saling menatap, "Kau tidak cantik." Ia menatap Naruto dengan tatapan menghina dan mengeluarkan senyum mengejek.
"..." Naruto terus menatap tajam wanita dihadapannya. Ia mengepalkan tangannya erat. Kepalanya terasa mendidih. Jika saja ini bukan acara yang sangat penting untuk Sasuke, Naruto akan segera menerjang dan mencekik wanita ini sampai dia mati. Kalau boleh, penggal saja kepalanya, ini sudah termasuk penghinaan!
"Perhatikan." Wanita itu menaruh gelas wine-nya di meja dan pergi meninggalkan Naruto. Naruto terus memperhatikan dan sempat kaget saat tahu bahwa wanita itu menuju ke arah Sasuke. Mereka berbincang sedikit dan tertawa. Hati Naruto serasa di remas dan kepalanya semakin terasa seakan meledak. Tak berselang lama, wanita itu dan Sasuke bergandengan tangan menuju ke lantai dansa kemudian berdansa bersama.
Saat itulah wanita itu melemparkan pandangannya pada Naruto dan mengeluarkan kembali seringai mengejek yang penuh ke licikan.
Nafas Naruto memburu. Tangannya terkepal erat dan gigirnya bergemeletuk. Kepalanya semakin panas! Jika Naruto sebuah kereta api, mungkin Naruto sudah mengeluarkan asap hitam tebal yang pekat dan mungkin terjadi kebakaran di kereta tersebut—meledak!
Naruto menyambar gelas wine yang wanita itu letakan di meja dan menegak seluruh wine dalam satu kali tegukan. Matanya terasa perih dan hatinya sakit saat melihat wanita itu memeluk Sasuke dengan begitu eratnya. Naruto menyambar botol wine di meja dan menuangkannya ke gelas sampai penuh. Ia menegak seluruh wine di gelas tersebut sampai habis dalam satu kali minum.
Merasa belum cukup, Naruto menuang kembali wine dari botol ke gelas dan meminumnya. Melupakan larangan Sasuke dan rasa pusing yang mulai mendera kepalanya. Matanya terasa terbakar dan perih. Gumpalan air mata mulai mengaburkan pandangannya. Ia... sudah tak sanggup...
Naruto mengambil botol wine tersebut beserta gelasnya dan berlalu pergi meninggalkan tempat laknat itu.
ooOOoo
Pesta telah berakhir. Malam telah mencapai puncaknya. Semua tamu telah dikirim ke kamar yang telah disediakan oleh Sasuke. Beruntung Istana Yuan Ming Yuan ini sungguh luas sehingga mampu menampung ratusan orang yang datang dari aliansi Rudolf.
Yang tersisa kini hanya tinggal dirinya dan para dayang dan kasim yang tengah membersihkan sisa pesta di Aula Keselarasan Bumi. Sasuke menegak wine terakhirnya. Ia mengamati warna cantik wine dari gelas kristal yang di genggamnya lalu tersenyum simpul. Ia tiba-tiba teringat Sang Permaisuri. Naruto tak terlihat sejak Ia menyuruhnya istirahat. Hmm... mungkin ia harus mengunjunginya malam ini. Padahal baru beberapa jam saja, tapi...
Apa ini yang namanya rindu?
Sasuke tidak tahu apa itu 'rindu', ia tidak pernah merasakannya. Lagipula ia tidak yakin jika dia rindu pada Naruto. Ia hanya ingin bertemu dengan Naruto, itu saja. Bukan berarti rindu 'kan?
Sasuke meletakkan gelasnya dan bangkit dari duduknya. Ia memasukan kedua tangannya pada saku celana dan berjalan menuju ke pintu gerbang aula. Para penjaga langsung membukakan pintu gerbang saat melihat Kaisar Uchiha datang.
Baru saja beberapa langkah Sasuke keluar dari pintu, alisnya kini silih berkerut, "Ten Ten, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya datar. Bukannya seharusnya Ten Ten menemani Naruto?
Ten Ten dan para dayang milik Naruto segera membungkukan badannya, "Saya menunggu Permaisuri, Yang Mulia." Sahut Ten Ten.
"Naruto belum keluar?" Tanya Sasuke dengan nada herannya. Bukannya...
"Belum, Yang Mulia." Sasuke segera mengganti haluan dan berjalan cepat menuju ke Aula Keselarasan Bumi.
Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan—mencari Naruto. Namun, tak ada Naruto di sana. Hanya para dayang dan kasim yang sedang merapihkan barang-barang, "Di mana Permaisuri?!" teriak Sasuke.
Mendengar teriakan Kaisar dengan nada yang dialiri kemarahan, sontak para kasim dan dayang segera menghentikan kegiatannya dan melakukan kowtow. Semua menundukan kepalanya dalam. Tak ada yang berani menyahut.
"Katakan!" Sasuke sudah kehabisan kesabaran. Kepalanya mulai terasa mendidih.
"Ampun Yang Mulia!" Sasuke menoleh ke sumber suara dan menghampiri dayang tersebut, "Saat pesta, hamba melihat Permaisuri sedang berada di balkon, Yang Mulia."
Tanpa menunggu lama, Sasuke segera berlari menuju ke balkon Aula. Jadi, selama pesta berlangsung, Naruto berada di balkon? Sendirikah? Kenapa dia tidak bilang jika ia masih ingin berada di pesta! Nafas Sang Kaisar naik turun karena berlari sepanjang jalan.
"Naruto..." panggil Sasuke pelan dengan nafas yang belum teratur saat ia sampai di balkon. Seseorang bergaun putih dengan rambut yang disanggul tinggi dan dipenuhi hiasan mutiara serta mawar putih tengah membelakanginya—Naruto.
"Naruto?" Sasuke mulai berjalan mendekati Naruto. Yang dipanggil mulai membalikkan badannya. Namun karena tubuh yang sedikit sempoyongan, Naruto hampir saja jatuh jika Sasuke tidak sigap menangkap tubuh Naruto.
"Kau tak apa?" Tanya Sasuke.
"Hm?" Naruto menggerakkan kepalanya untuk menatap si penolong. Matanya tidak dapat melihat dengan jelas saat ini, membuatnya harus menyipitkan matanya untuk melihat 'siapa' orang yang telah menolongnya.
Seseorang berkulit pucat...
Laki-laki...
Tampan...
Berambut raven...
SASUKE?!
Naruto segera mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya, "Mau apa kau di sini?!" teriak Naruto. Walaupun penglihatannya buram namun dilihat dari gaya rambut pria ini, Naruto tahu bahwa dia si berengsek Pantat Ayam.
Melihat langkah Naruto yang sedikit sempoyongan, membuat alisnya berkerut, "Kau mabuk?" Sasuke kembali bertanya dengan nada tak perdulinya. Tidak memperdulikan Naruto yang kini tengah menatap tajam padanya. Oh, berani sekali wanita ini menentang perintahnya.
Naruto mendengus meremeh, "Memangnya apa pedulimu, Uchiha." Ia kembali menegak wine di gelasnya.
"Aku mencarimu." Sasuke berjalan mendekati Sang Permaisuri.
Naruto meremas gelas ditangannya sebelum akhirnya menurunkan gelas dari bibirnya, "Mau apa kau mencariku? Bukannya kau sedang bersenang-senang dengan wanita bergaun merah itu?"
Wanita bergaun merah? "Ah... Karin maksudmu." Sasuke semakin mendekat, "Kenapa? Kau cemburu?"
Naruto seringai mengejek, "Cemburu? Untuk apa cemburu pada lelaki berengsek dan menyebalkan sepertimu?" Naruto menegak kembali wine-nya, "Tapi sial kau tampan."
Sasuke terkekeh kecil, "Kau cemburu." Ia memegang gelas wine Naruto dan merebutnya.
Seketika itu, wajah Naruto mengeras dan tangannya terkepal erat, "Ya! Aku cemburu melihatmu bersama dengannya!" teriak Naruto keras tepat di wajah Sasuke lalu membuang muka—membelakangi Sasuke.
Sasuke hanya bisa tersenyum puas dan menegak wine hasil rebutannya. Orang mabuk memang orang yang paling jujur. Setelah selesai, ia menyimpan gelas wine tersebut ke meja terdekat dan berdiri tepat di belakang Naruto.
Naruto memeluk dirinya sendiri saat semilir angin mulai membelai tubuhnya. Sasuke membuka lebar jas yang dipakainya dan memeluk Naruto. Kini Sang Permaisuri berada dalam pelukkan dan balutan jas yang tengah Sasuke pakai.
"Kita saling menyukai tapi kenapa kau begitu sulit untukku raih?" Sasuke menyesap aroma Sang Permaisuri dari jenjang lehernya. Namun, hanya dibalas dengan kebisuan oleh Naruto.
"Sudah larut," Sasuke melepaskan pelukannya, "Ayo." Ia menarik tangan Naruto namun dihadiahi tangkisan olehnya.
"Enyah." Usirnya.
Sasuke memandang remeh Naruto dan mendengus geli. Dengan sekali raupan, Naruto kini telah berada di bahunya, "Lepaskan berengsek!" perintah Naruto sambil memukul-mukul punggung Sasuke dengan nada khas orang mabuk.
.
.
.
.
.
.
"Turunkan aku..." Pinta Naruto dengan suara lemahnya.
Tanpa diperintah dua kali, Sasuke menurunkan Naruto dan membantunya mendudukan diri di atas tatami, "Kau tau, aku menyesal mengikuti pesta ini." gunam Naruto. Kepalanya masih terasa seperti berputar. Pusing.
"Hn." Balas Sang Kaisar ambigu sambil melepaskan pakaiannya. Ia menyambar kinagashi yang tergantung dan memakainya, tidak lupa mengikatkan talinya.
"Aku menyesal..." Naruto terus bergunam. Ia mencoba melepaskan sarung tangannya dengan kekutan yang tersisa walaupun tidak berhasil sama sekali. Sasuke hanya memasang wajah datar melihat kelakuan istrinya.
Raut wajah Naruto berubah marah. Ia mengepalkan tangannya erat, "Aku membencimu Uchiha!" Naruto menarik kerah gaunnya sekuat tenaga hingga terdengar bunyi robekan, "Aku membencimu..." bisik Naruto lemah dan akhirnya menyerah mencoba membuka sarung tangan dan gaunnya. Kepalanya semakin terasa berat dan memutusakan untuk menyimpan pipinya di meja.
Sasuke menghela nafas lelah dan menghampiri Istrinya. Ia duduk di samping Naruto dan meraih tangan kiri wanita itu. Ia menarik sarung tangan sampai terlepas. Tidak lupa melepaskan sarung tangan yang satunya.
Sasuke memberdirikan Naruto. Ia terpaksa memeluk pinggang Naruto dari belakang dengan tangan kirinya—menopang tubuh Naruto agar tidak jatuh. Mabuk membuat gadis dipelukannya tak mampu berdiri dengan benar.
Tangan kanannya terjulur dan membuka resleting gaun di punggung Naruto dengan perlahan. Manik onyx-nya memperhatikan dengan seksama bagaimana resleting turun dan menampilkan punggung indah berwarna karamel yang entah kenapa terasa seperti sesuatu yang menggiurkan.
Tangannya sedikit bergetar dan paru-parunya berhenti memasok udara beberapa detik saat gaun putih itu melucur melewati tubuh Naruto dan jatuh di lantai kayu begitu saja. Mata onyx itu menggelap. Tatapan tajamnya menghilang terganti oleh tatapan sendunya.
Hidung Sasuke bergerak menyusuri punggung leher Naruto, sesekali menghirup wangi citrus yang keluar dari tubuh Sang Permaisuri. Tangan kanannya berusaha melepaskan tali korset yang dipakai Naruto dan korsetpun terlepas dari tubuh Naruto, menyisakan Naruto yang telanjang bulat dipelukannya.
Seperti mimpi... Naruto Namikaze kini berada dalam pelukannya... dengan keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun! Ada sebuah perasaan aneh pada tubuhnya. Tengkuknya mulai terasa panas. Jari-jari tangannya bergerak menyusuri perut rata Naruto. Darahnya berdesir dengan cepat. Bahkan hanya dengan menyentuh saja, seperti ada aliran listrik yang mengalir ke dalam tubuhnya. Membuatnya... bergairah?
Sasuke mulai mengecupi punggung berwarna tan itu dengan penuh semangat. Sesekali bibir nakalnya menghisap dan melumat punggung Naruto. Tanganya bergerak menuju ke atas... atas dan ia menemukan sebuah gundukan yang lembut, hangat dan kenyal. Tanpa pikir panjang, Sasuke meremasnya.
"Suke!" Pekik Naruto saat Sasuke meremas dadanya.
Sasuke membeku ditempat. Mata yang semula menggelap kini kembali normal. Ia menghentikan seluruh kegiatannya dan menggelengkan kepalanya cepat, 'Apa yang telahku lakukan?!' Sasuke segera mendudukan kembali Naruto di atas tatami dan mundur menjauh darinya.
Sasuke mencengkram kepalanya sendiri. Astaga, hampir saja Ia hilang kendali. Naruto sudah membenci dirinya, jangan membuatnya semakin membencinya. Ia membuang nafasnya lega, untung saja ia segera sadar.
"Sukee~ dingin..." Naruto berkata dengan nada manjanya. Sasuke menggerakkan kepalanya pada Naruto yang tengah memeluk tubuhnya sendiri. Ia menghela nafas dan beranjak menuju ke lemari pakaian. Mengambil salah satu kinagashi dan memakaikannya pada Naruto. Sasuke bersusah payah agar matanya tidak melihat lekukan tubuh Naruto. Yaaa~ walaupun kadang-kadang ia dengan sengaja mencuri pandang.
Setelah Sasuke selesai mengikat obi di pinggang isterinya, Ia diterjang oleh Naruto. Sasuke sedikit meringgis kesakitan saat 'gadis'nya itu menggigit lehernya keras. Ia memegangi kedua bahu Naruto dan dengan sedikit dorongan, Sasuke menjauhkannya perlahan.
"Aku akan membunuhmu!" desis Naruto sambil menatapnya tajam. Bercak bekas darah Sasuke tertinggal pada sudut bibir Naruto.
Sasuke tertegun. Sebegitu bencinya 'kah Naruto padanya sehingga tak ada kata maaf untuknya? Matanya menyendu memandang Naruto yang kini tengah dikuasai dendam. Sasuke mendengus meremeh lalu mengeluarkan seringai setannya, "Well, kau mengingatkanku pada seseorang." Ia melepaskan cengkraman tangannya di bahu Naruto.
Tatapan tajam Naruto menghilang dan tergantikan dengan tatapan polos yang penasaran. Sasuke tersenyum simpul, 'Dasar pemabuk.' Sasuke memeluk Naruto dan menyesap aroma citrus dari lehernya kembali.
"Su—Suke..." Naruto mendesah tertahan menyebut nama suaminya.
Seringai Sasuke semakin melebar dan semakin gencar mengecup jenjang leher Sang Permaisuri, "Nouhime, kau tahu siapa dia?"
"Nghh~" Naruto mencengkram bahu Sasuke saat dia mulai dengan berani memainkan lidahnya di leher miliknya, "Di... dia, istri No... Nobunaga Oda." dengan susah payah Naruto mengatakannya. Rasa geli dan nikmat bercampur jadi satu. Nafasnya mulai memburu.
"Hn, bukankah kita mirip?" Sasuke menghentikan kegiatannya dan mengangkat dagu Naruto, "Aku 'The fool of Owari' dan kau 'Lady Nou'. Bukankah Lady Nou juga berniat membunuh Nobunaga Oda—yang merupakan suaminya sendiri?"
"..." Naruto tak menjawab, ia hanya terus memperhatikan Sang Kaisar.
Sasuke melepaskan dagu Naruto lalu tersenyum pahit, "Bagaimana jika kita mengukir kenangan indah sebelum kau membunuhku?" tawar Sasuke dengan senyum tulus terlukis di bibirnya.
"Kenangan indah?" Beo Naruto dengan pipinya yang memerah.
"Hn."
ooOOoo
Naruto mengkerjapkan matanya perlahan berusaha menjernihkan pandangannya yang buram.. Bukannya membaik, Naruto kini merasa dunia seakan berputar-putar. Perutnya rasa diaduk-aduk. Naruto menutup mulutnya erat—mencegah isi perut yang ingin meloncat keluar. Ia segera bangun dan berlari menuju ke kamar mandi.
Naruto mengelarkan seluruh isi perutnya. Teriakan dan derap langkah para dayang mulai mendekat menyapa pendengarannya, "Naruto! Kau tak apa?" tanpa memperdulikan teriakan kekhawatiran Ten Ten, ia segera membasuh mulut dan wajahnya.
Pandangannya masih kabur dan nafasnya memburu. Naruto mencoba bangun. Namun belum sampai Naruto berdiri sepenuhnya, Ia hampir terjatuh jika saja para dayang dan kasim yang refleks memegangi Naruto yang oleng.
Naruto tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, pandangannya semakin mengabur dan gelap, namun Naruto masih dapat mendengar teriakan kepanikan kasim dan dayangnya, "Siapkan obat, makanan dan panggil tabit kerajaan untuk Yang Mulia Permaisuri!" perintah Ten Ten. Tanpa perlu diperintah dua kali, para dayang dan kasim segera bergegas.
.
.
.
.
.
.
Naruto terbaring tak sadarkan diri di atas futon dengan sebuah handuk hangat berada di dahinya. Seorang tabit kerajaan memasukkan tangannya ke dalam tirai bambu pemisah antara dirinya dengan Sang Permaisuri. Ia mengambil tangan Naruto dan mulai memeriksa denyut nadinya. Setelah dirasa cukup, ia melepaskan tangan Naruto dan menghadap ke Ten Ten, "Yang Mulai Permaisuri hanya terkena efek samping wine saja. Itu karena Yang Mulia tidak terbiasa meminum minuman beralkohol."
Tabit tersebut mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung tangannya, "Ini obat yang di minta Yang Mulia Kaisar untuk di minum oleh Yang Mulia Permaisuri agar kondisinya dapat kembali seperti semula." Dia menyerahkan sebungkus serbuk obat pada Ten Ten.
Ten Ten membeku, "Yang Mulia Kaisar?" beo Ten Ten heran. Kenapa dari Sasuke?
Tabit tersebut mengangguk, "Benar, Yang Mulia sendiri yang meracik obat itu tadi malam."
Mata coklat Ten Ten menyipit. Pikirannya melayang, 'Dari dulu sampai sekarang, Sasuke selalu satu langkah lebih awal dari siapapun.'
"Kalau begitu..." tabit itu mulai beranjak, "Saya undur diri."
Ten Ten bangkit dari duduknya dan tersenyum lembut, "Terima kasih banyak." Ia mengantar sang tabit kerajaan itu sampai di depan gerbang kediaman Naruto. Ten Ten membungkukan kepalanya ketika sang tabit pergi.
Naruto mengkerjapkan matanya perlahan. Kepalanya masih terasa sedikit berputar. Ia mencoba memegang kepalanya namun terhenti saat rasa basah menyentuh kulitnya. Naruto mengambil kain basah tersebut, 'Handuk...'
"Oh, Kau sudah bangun?" Ten Ten datang dengan membawa sebuah napan yang kemudian di simpannya. Ia menghampiri Naruto dan membantu Naruto bangun.
"Apa Sasuke tidak melarangmu untuk minum wine?" tanya Ten Ten.
"Sebenarnya iya, tapi aku—"
"Bukankah aku sudah bilang agar menurut?" potongnya.
Naruto menghela nafas pasrah, "Iya, iya, aku salah."
Ten Ten tersenyum kecil, "Well, sekarang waktunya makan." Ten Ten mengambil mangkuk berisi bubur dari atas mapan. Ia menyendok sedikit bubur dan menyodorkan sendok tersebut di depan bibir Naruto. Naruto terdiam memandangi sendok tersebut sebelum akhirnya tersenyum lembut dan melahap bubur tersebut.
ooOOoo
Naruto memandangi langit biru dari jendela kamarnya. Angin musim panas menerbangkan beberapa lehai surai pirang emasnya. Tiga hari telah berlalu sejak insiden itu dan kondisi Naruto semakin membaik. Aliansi dari Eropa milik Sasuke pun sudah kembali ke negara asalnya.
Naruto menghela nafas lelah. Baiklah, sekarang Naruto menyesal karena tidak mendengarkan apa yang diperintahkan Sasuke untuknya. Tapi, semua ini salah Sasuke juga, kenapa ia tidak berkata terus terang bahwa minuman itu mengandung alkohol bukannya malah melarang sambil memelototinya.
Naruto duduk dengan bosan. Saat ini ia sedang menunggu informasi yang Shikamaru janjikan untuknya beberapa hari yang lalu namun tak kunjung datang juga. Naruto menunggu dengan resah, 'Apa langkahnya sudah tercium oleh Sasuke?' pikir Naruto pesimis. Ia menggigit bibir bawahnya resah. Tapi... Sasuke nampaknya tidak tahu menahu soal 'penyerangan' nanti?
"Naruto?" panggilan Ten Ten memaksa Naruto menoleh ke sumber suara, "Makanan sudah siap, ayo." Naruto menggerakkan kepalanya kembali pada langit biru di atasnya sebelum akhirnya mengikuti Ten Ten.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Wangi makanan membuat cacing-cacing di perut Naruto berteriak-teriak manja. Tanpa menunggu lama, Naruto berlari menuju ke ruang makan dan meninggalkan dayang utamanya di belakang.
Ten Ten hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Permaisuri Kekaisan Uchiha itu. Ia menundukan dirinya di samping Naruto. Sebenarnya, menurut perturan ketata rumah tanggaan kerajaan, dayang dilarang untuk makan bersama Permaisuri. Namun, Naruto tidak mempermasalah dan tidak peduli akan hal tersebut.
Setiap kali Permaisuri makan, akan dihidangkan sembilan puluh sembilan macam makanan untuknya, dan sisanya akan diserahkan kepada para dayang, kasim, koki dan lainnya. Naruto sudah menganggap Ten Ten sebagai saudaranya, itulah kenapa Ten Ten tidak pernah memanggilnya 'Yang Mulia' dan membiarkannya makan bersama.
Ten Ten mengambil sumpit dan mangkuk, tapi terhenti dan membeku ketika melihat cara makan Naruto yang begitu ... agresif(?) pada setiap hidangan yang tersaji. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, sungguh, cara makan Naruto bak seorang gelandangan yang sudah seminggu tidak mendapatkan makanan!
Manik coklatnya menyendu. Ten Ten menundukan kepalanya, menatap nasi putih yang berada di dalam mangkuk. Pikirannya tiba-tiba saja melayang pada saat ia mengganti pakaian Naruto tiga hari yang lalu. Ia menghela nafas dan kembali menatap Naruto yang begitu bersemangat melahap makan siangnya, "Naruto, apa... sesuatu terjadi antara kau dan Sasuke?"
"Huh?" Naruto menghentikan acara makannya dan membalas tatap Ten Ten, "Tidak terjadi apapun antara aku dan Sasuke."
Ten Ten menggelengkan kepalanya, "Bukan, maksudku saat usai pesta makan malam."
"Umm..." Naruto mulai memasang pose berfikirnya, "Ahhh? Akh!" Manik sapphire itu membulat. Sumpit yang tengah dipegangnya jatuh ke lantai dengan Naruto yang tak bergerak sedikitpun, tubuh Naruto bergetar hebat dan wajahnya terlihat sangat syok.
"Akh! Suke!" desah Naruto saat dua sejoli itu menari bersama dalam mencari kenikmatan.
"Kau lumayan hebat, my dear." Sasuke melumat bibir peach istrinya dengan lembut sambil terus menggali lebih dalam. Keringat mengucur deras dari tubuh mereka.
"Ahh... kau berengsek Sukehh, aku... ahhhkan membunuhmuhh~" Naruto mencoba mengimbangi permainan yang diberikan Sasuke walaupun sebenarnya tubuhnya sedikir lelah.
Sasuke terkekeh kecil, "Try if you dare."
'Astaga, apa yang telah ku lakukan?!'
"Naruto?" Ten Ten memegang tangan Naruto saat nafas Sang Permaisuri mulai tak beraturan dan memburu, "Kau kenapa? Naruto?" kening Ten Ten berkerut bertanya-tanya.
"Naruto?" Ten Ten tidak tahu apa yang terjadi pada Naruto, ia semakin resah, "Naruto?" ia mencoba sekali lagi namun kembali, Naruto tidak menjawab dan wajahnya masih terlihat syok, "Naruto!" Ten Ten menggoncangkan tubuh Naruto dengan kedua tangannya.
Naruto mengerjapkan matanya dan menolehkan kepalanya sedikit-sedikit ke arah dayang utamanya. Naruto mencengkram bahu Ten Ten dan berkata dengan terbata-bata berpacu bersama nafasnya yang memburu, "Te... Ten Ten... a... aku..."
Ten Ten bersiap dengan segala curahan hati Sang Permaisuri yang akan disampaikan kepadanya, "Ada apa?" bisik Ten Ten pelan.
Tubuh yang bergetar, nafas yang memburu dan wajah syoknya melayang sudah saat Naruto mengerucutkan bibirnya dan berekspresi sedih. Ten Ten mengangkat sebelah alisnya ketika Naruto membentur-benturkan kepalanya ke meja makan sambil merengek-rengek, "Err... Naruto?"
"Ten Ten, aku ingin hilang ingatan!" pekik Naruto sambil terus membenturkan kepalanya ke meja makan.
"Eh?"
Naruto menghentikan acara membenturan kepalanya dan berkata tepat di wajah dayangnya itu, "Katakan Ten Ten, apakah ada teh penghilang ingatan?" Ia bertanya penuh semangat.
"Umm..." Ten Ten mulai berfikir, mencoba mengingat-ngingat apakah ada teh semacam itu di kerajaan.
Alis Naruto berkerut, 'Tunggu-tunggu, jika aku hilang ingatan lalu bertemu Sasuke, bukan tidak mungkin jika aku menyukai Sasuke dan melupakan balas dendamku...? Apa?!' Naruto mencengkram rambutnya frustasi, 'Lalu untuk apa aku kemari jika tidak mampu membalaskan dendamku?!'
Naruto menghela nafas berat—hilang ingatan nampaknya bukan pilihan yang tepat. Tapi bayang-bayang penyatuan Sasuke dan dirinya begitu tergambar jelas dan ia terganggu. Oke, oke, baiklah ia menyesal dan sangat sangaaaattttt menyesal, kenapa ia mabuk? Kenapa ia tidak mendengarkan Sasuke saat itu? Naruto menggigit bibir bawahnya—percuma saja menyesal, waktu tidak dapat kembali.
Harusnya ia mendengarkan Sasuke...
Ekspresi wajah Naruto yang semula terlihat menyesal kini berubah, pipinya tiba-tiba memerah karena menahan marah. Tangannya terkepal erta, 'Dasar Pantat Ayam Sialan!' jelas, semua ini kesalah si ayam itu, kenapa malah mengambil kesempatan saat dirinya mabuk!
'Akan ku cincang kau lalu ku jadikan pakan Manda—ular peliharaan si Orochi! Lihat saja ayam!' kutuk Naruto dalam hati.
Ten Ten menganga melihat perubahan ekspresi dan mood Naruto yang berubah-ubah secara drastis. Ke manakah Naruto yang tenang dulu? Apa kewarasan Permaisuri ini telah hilang bersama sakitnya? Ten Ten tidak tahu.
Waktu telah menunjukan tengah malam, namun Naruto masih belum dapat terlelap. Ia kini tengah terbaring di atas futon sambil menggigiti selimutnya. Sungguh, ia tidak bisa memejamkan matanya.
Kepalanya terus-terus memutar adegan dirinya dan Sasuke lakukan. Pipinya merah seperti kepiring rebus, yaa... tidak dapat dipungkiri sih, Naruto saat itu memang begitu menikmati 'itu' tapi... itukan karena mabuk, bukan karena ia menyukainya. Naruto mengembungkan pipinya, "Sasuke, menyebalkan." Gerutunya sambil mengkerucutkan bibirnya.
Sebuah kepakan sayap burung membuat Naruto segera berlari ke sumber suara. Sebuah burung merpati putih terdiam di depan jendela kamarnya. Ia segera membuka jendela dan mengambil pesan yang tergulung di kakinya. Membuka pesan tersebut dan membacanya dengan seksama.
Naruto jatuh terduduk lemas di atas lantai. Hatinya mencelos kosong. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Apa ia akan tetap melaksanakan tujuan awalnya atau...
Dari jauh, Naruto melihat Menma melabaikan tangannya. Rasa gelisah yang menimpanya seolah menguap begitu saja. Ia mempercepat laju langkahnya dan memeluk Menma erat, "Ayo!" seru Naruto. Menma mengangguk dan menggandeng tangannya. —ARFN Ch. 5
Bayangan Menma memeluknya manja terlintas di kepalanya. Hatinya terasa sedikit sakit dan pandangannya mulai mengabur. Apakah ia harus meninggalkan Menma? Bukankah dia baru saja mendapat kasih sayang dari seorang 'orang tua'?
'Menma... dia, selalu terlupakan...' Air mata Naruto meleleh menuruni pipinya.
"Well, sekarang waktunya makan." Ten Ten mengambil mangkuk berisi bubur dari atas mapan. Ia menyendok sedikit bubur dan menyodorkan sendok tersebut di depan bibir Naruto. Naruto terdiam memandangi sendok tersebut sebelum akhirnya tersenyum lembut dan melahap bubur tersebut.
Air matanya semakin mengalir deras, Ten Ten sudah seperti kakak baginya. Lalu, apakan Ten Ten akan membencinya saat ia membunuh Sasuke? Ia... harus meninggalkan semua ini?
"Akan ku ajarkan." Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, "Akan ku ajarkan kau berciuman." saat kata-kata itu berakhir, Sasuke menempelkan bibirnya lembut pada bibir Naruto.
Rasa takutnya seakan menguap dan tergantikan oleh rasa nyaman. Naruto memberikan akses pada Sasuke untuk menginvasi rongga mulutnya. Keduanya mulai memejamkan mata dan menikmati. Di detik selanjutnya, tensi semakin meninggi, terlihat dari Naruto yang mengalungkan tangannya di leher Sasuke dan Sasuke memeluk erat pinggang Naruto.
Naruto tidak tahu harus bagaimana... air matanya mengalir deras tanpa mampu ia bentung. Isakan-isakan keluar dari bibirnya. Sekarang hanya tinggal beberapa langkah menuju akhirnya, ia tidak bisa kembali. Jika ia menyerah sekarang, semua usaha yang ia lakukan dulu akan percuma.
Manik safirnya kembali tertuju pada pesan terakhir Shikamaru :
"...berangkatlah esok pagi. Aku akan menunggumu di perbatasan."
'Aku... tidak mencintai Sasuke..."
Naruto terdiam, "Benar." Ia menghapus air mata di seluruh wajahnya, "Aku tidak mencintai Sasuke." Naruto berusaha meyakinkan hatinya. Dengan begitu, Naruto beranjak keluar dari kamarnya.
ooOOoo
"Oh, begitu?" ucap Sasuke sambil terus memoles kuas bertinta di atas kertasnya—ia tengah berada di ruang duduk. Hanya ada Sasuke dan ninja berpakaian serba hitam di ruangannya.
"Benar, mereka sudah mulai bergerak tepat seperti yang anda—"
"Yang Mulia Permaisuri tiba!" seru seorang kasim dari luar kamarnya.
Tanpa diperintah, ninja berpakaian hitam di hadapan Sasuke menghilang begitu saja. Sasuke memandangi pintu masuk kamar dari ekor matanya. Pintu kamarnya terbuka dan masuklah Naruto. Kasim penjaga pintu segera menutup pintunya kembali.
"Istrimu menghormat kepada Kaisar." Naruto membungkukan badannya.
"Apa yang kau lakukan di malam yang selarut ini, Naruto?" tanyanya datar tanpa menoleh pada Naruto. Ia terus melanjutkan acara menulisnya.
"Aku hanya ingin meminta izin untuk meninggalkan istana Yuan Ming Yuan esok pagi."
Sasuke membeku. Ia tidak melanjutkan acaranya menulisnya dan menyimpan kuas tersebut ke tempatnya. Kepalanya terangkat untuk menatap Naruto, "Terserah padamu." Ucap Sasuke acuh tak acuh.
Naruto menghela nafas, "Kuanggap itu sebagai, 'ya'." Baru saja Naruto akan pergi, namun ia terpaksa kembali menoleh pada Sasuke yang ternyata masih memandanginya, "Aku punya permintaan."
"Katakan."
"Jika seandainya aku tidak kembali, ku mohon, jaga Menma untukku." Naruto berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
Sasuke terdiam sejenak sebelum menjawab, "...kenapa kau berkata seolah kau akan mati besok?" cibirnya.
Naruto membalikkan badannya memunggungi Sang Kaisar. Ia memejamkan matanya erat, berusaha mencegah air matanya turun. Naruto menggigit bibir bawahnya, 'Bukankah sudah jelas. Bahwa aku... akan mati di tanganmu, Sasuke?'
~ TBC ~
~ Spoiler Ch. 8 ~
"Kita tidak bisa masuk ke dalam penjagaannya terlalu ketat."
"Kita bisa."
"Kau sungguh-sungguh ingin membunuhku, eh?"
"Bersiaplah!"
"Ma... maafkan aku... Sasuke!"
"Aku mencintaimu, bangunlah..."
"Sasuke!"
~ End of Spoiler ~
Yosh, 2 chapter lagi road to ending :3
Silakan review, kritik dan saran yang membangun Ryn tunggu, (:
...~" Thank You For Reading "~...
Review?
