Balasan review :

Triavivi354 : di bab 3 udah langsung ke NaruHina. NaruShion udah selesai di chapter ini. Jadi chapter selanjutnya udah ke NaruHina.

YA : InshaAllah Amaya usahain lebih panjang lagi.

Byakugan no Hime : sebenernya Naruto itu kuat, tapi dia terlalu lembut. Dan dia bisa lemah karna cinta :D

Ina : nanti ada penjelasannya di chapter ini :)

lililala : kali-kali atuh yang baik dijadiin jahat dan yang biasanya suka jadi jahat, dijadiin baik :D. Makasih doa sama semangatnya ya! :)

Dinda : emm, liat deh nanti :3

Cuka-san : sad ending? Ide yang bagus. Bisa jadi buat NaruShion mah. Tapi gak buat NaruHina. Makasih buat dukungannya ya! :)

Reader Abal : iyaa udah.


.

.

.

Between Love and Hate

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family

Pairing : NaruShion (sementara)

Rate : M (for some reason)

Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung, pasaran (dan kesalahan lainnya)

Don't like, don't read!


Naruto POV

Kucoba membuka mataku dengan malas. Sedikit pusing karena silaunya lampu. Seluruh tubuhku sakit. Apa yang terjadi padaku? Di mana aku?

Kulihat ke samping, ada kaa-chan dan tou-chan yang sedang berbicara dengan dokter. Sepertinya mereka tidak tahu bahwa aku sudah bangun.

Terakhir yang kuingat adalah aku yang disekap di gudang sekolah setelah dibuat babak belur oleh Neji dan teman-temannya. Dan dia menyuntikkan sesuatu entah apa itu padaku. Kemudian, yang kulihat adalah Sasuke yang datang padaku sebelum pemandangan menjadi gelap. Setelah itu tak ingat apa-apa lagi.

"Ada sejenis narkotika memasuki system tubuhnya. Dosisnya cukup tinggi, itu yang menyebabkan anak Anda mengeluarkan buih dari mulutnya."

"Anak kami adalah anak baik-baik. Tidak mungkin dia menggunakan barang seperti itu!" bantah kaa-chan setelah mendengar penjelasan dari dokter itu.

Ternyata si Neji bajingan itu menyuntikan narkoba kepadaku? Sungguh sial! Aku akan dicap sebagai anak yang tidak baik oleh orang tuaku dan orang lain pula.

"Ya mungkin saja ada orang yang sengaja menyuntikan zat itu. karena sepertinya ini pertama kalinya. Jika sudah menggunakan jarum suntik yang tidak steril dan berkali-kali, tidak menutup kemungkinan bahwa Naruto-san akan menderita AIDS."

Tentu saja! aku ini anak baik dan tidak akan pernah menyentuh barang haram itu. dengan Narkoba, aku bisa membunuh masa depanku sendiri. Lagi pula, untuk apa menggunakan barang-barang itu jika aku sudah memiliki segalanya? Aku juga tidak mau merusak tubuhku karena aku masih ingin menikah. Haha!

"Beruntung Naruto-san cepat-cepat dibawa kemari. Karena jika telat, Naruto-san akan mengalami koma karena overdosis."

Ya, keberuntungan masih berpihak padaku. Aku sudah pernah merasakan hidup serba kekurangan. Tapi, sekarang ternyata lebih sulit lagi. Jika saja Sasuke tidak menemukanku, aku pasti sudah mati.

"Naruto-kun!" panggil kaa-chan yang ternyata sudah menyadari kalau aku sudah sadar.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya tou-chan.

"Tidak begitu baik." Jawabku parau. "Seluruh tubuhku masih terasa sakit dan perutku mual."

Dokter langsung memeriksaku dengan teliti. Ugghh, rasanya tidak enak berlama-lama di sini. Aku ingin pulang! Aku pernah merasakan makanan rumah sakit dan rasanya sungguh tidak enak. Aku juga tidak suka dengan jarum suntik. Bau obat-obatan pun membuat kepalaku semakin pusing.

"Naruto-san harus dirawat selama beberapa hari sampai kondisinya benar-benar pulih." Ujar dokter itu.

Aku memasang wajah kesal dan meminta tou-chan untuk membujuk dokter agar aku bisa dirawat di rumah saja. tapi harapan hanyalah angan-angan. Tou-chan mengatakan tidak padaku.

Tiba-tiba aku teringat Shion. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang? apa Neji berbuat sesuatu lagi padanya? kali ini aku tidak akan tinggal diam! Jika saja waktu itu Neji tidak menyuntikkan narkoba ke tubuhku dan tidak mengikatku, dia dan teman-temannya pasti sudah habis olehku.

Sudah seminggu lamanya aku di rumah sakit, akhirnya aku diizinkan pulang. Dan seminggu kemudian, aku melaksanakan ujian sekolah. Aku senang karena ini adalah tingkat terakhir untuk menjadi siswa. Sebenarnya aku ingin bekerja di perusahaan tou-chan. Tapi dia menyuruhku untuk kuliah. Padahal aku sudah bosan belajar.

Ujian yang sudah selesai setelah seminggu lamanya, ekskul basket mengadakan pertemuan terakhir karena semua siswa yang setingkat denganku akan berhenti. Ada yang mengganjalku saat ini karena Shion tidak hadir di pertemuan ini. Padahal biasanya dia sangat rajin untuk menghadiri ekskul basket ini. Pikiranku tidak focus karena ada perasaan tidak enak.

'DRRRTTT DRRRRTTT'

Kubuka handphone saat mendengar suara getar yang menandakan bahwa ada pesan masuk. Ada e-mail dari seseorang yang tidak kukenal. Saat kubuka, aku terkejut membaca isi pesannya.

'TEMUI AKU DI BANGUNAN BEKAS PABRIK ATAU DIA AKAN MATI! DAN JANGAN ADA YANG TAHU!'

Itulah isinya dan ada lampiran yang menampilkan foto Shion yang terikat di kursi.

Sial! Ini pasti Neji! Dia mengancamku dengan menggunakan Shion. Kali ini tidak ada ampun lagi untukmu!

Seperti kesetanan, aku berlari meninggalkan kelas. Tujuanku hanyalah menyelamatkan Shion. Namun, ada tangan yang menahanku setelah aku berada di luar kelas.

"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.

"Shion dalam bahaya!" sahutku.

"Apa kau tidak sadar kalau itu jebakan? Neji menginginkanmu. Biarkanlah saja."

Aku menghempaskan tangannya dengan kasar. Lalu pergi meninggalkan Sasuke. Aku tahu hal itu. tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam. Silahkan hajar aku sepuasnya asal dia melepaskan Shion.

Aku menatap bangunan tua yang tampak angker ini. Aku yakin mereka ada di sini. Jika aku masuk ke dalam, nyawaku pun ikut terancam. Tapi jika tidak, Shion tidak akan bisa diselamatkan. Maka dari itu, aku sengaja tidak mematikan GPS di smartphone-ku. Biasanya tou-chan akan mencariku lewat hal ini. Dia adalah orang yang cepat dalam bertindak.

Tanpa pikir panjang lagi, aku memasuki gedung tua ini. Dari kejauhan aku bisa melihat Shion yang masih terikat di kursi. Secara tiba-tiba, pintu tertutup dan ruangan ini semakin gelap. Dari belakang Shion, muncullah seseorang yang tak lagi asing di mataku. Lelaki berambut panjang dan matanya yang beriris putih.

"Okaenari, Namikaze Naruto! Atau harus kupanggil, Uzumaki Naruto." Ucapnya sinis.

Jadi, dia sudah tahu masa laluku? Cih, silahkan saja! hal itu tidak penting untukmu. Aku tidak akan malu jika dahulu aku pernah miskin. Meski begitu, aku tidak menjadi berandalan sepertimu, Hyuuga Neji!

"Lepaskan Shion, Hyuuga! Dia tidak bersalah padamu." Ujarku dengan suara lantang.

"Tidak semudah itu!"

Lalu Neji menjentikan jarinya. Para bawahannya langsung memasang kuda-kuda untuk menyerangku. Saat mereka menyerangku, aku melawannya dan berhasil menjatuhkan mereka.

"Berhenti!" teriak Neji.

Mataku terbelalak melihat apa yang dia lakukan. Tangannya yang memegang pistol, diarahkan ke kepala Shion.

"Aku ingin melihatmu hancur di depan kekasihmu. Jika kau melawan sedikit saja, dia akan mati!" ancamnya.

Sial! Kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. Saat aku bergerak untuk melawan mereka sedikit saja, Neji semakin menekankan pistolnya ke kepala Shion. Jadi kubiarkan orang-orang ini menghajarku. Padahal aku baru saja masuk rumah sakit, tapi tubuhku kembali terluka.

"Cukup! Kali ini aku belum puas melihatmu babak belur sepert ini." Lalu pistolnya diarahkan kepadaku. "Aku ingin kau mati!" ucapnya.

"Tidak! Jangan, Neji!" teriak Shion.

Aku yang masih merangkak dan terbatuk-batuk hanya bisa melihat Neji menarik pelatuk.

'DOOORRR'

Suara tembakan terdengar menggema di ruangan ini. Kali ini aku hanya bisa diam dan mungkin mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang kusayangi. Setidaknya aku melakukan tugasku untuk melindungi seseorang yang kucintai sebelum aku benar-benar pergi.

Namun, yang kurasakan bukanlah kesakitan. Tapi sebuah pelukan yang menghalangi peluru menembus tubuhku. Entah sejak kapan ikatan Shion terlepas. Dengan cepat dia berlari kearahku dan melindungiku dengan pelukannya yang membungkus tubuhku.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Tubuhku mematung.

"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" tanyaku.

"Uhuk uhuk—" dia terbatuk mengeluarkan darah. "Perjalananmu masih panjang, Naruto-kun! Uhuk..uhuk…—"

"Kau ini bicara apa? Bertahanlah!" bentakku.

"Uhuk..uhuk.." dia menggeleng. "Aku tidak akan bertahan lebih lama lagi."

"Shion…" ucapku sambil bercucuran air mata.

Perlahan, tangannya terangkat memegang pipiku dan menghapus air mataku.

"Aishiteru, Naruto-kun! Sayonara!" serunya dengan terbata-bata.

Tangan itu kembali terjatuh. Matanya tertutup menyembunyikan iris violetnya. Aku menangis histeris. Sungguh aku tidak menyangka. Niatku untuk melindungi Shion, malah dia yang melindungiku. Sepertinya takdir tak berpihak kepadaku.

Dapat kudengar orang-orang dari luar sana mendobrak pintu masuk. Hentakan kaki menggema di ruangan ini. Para polisi itu menangkap Neji beserta bawahannya. Sedangkan yang aku hanya diam mematung. Untuk menangis lagi pun aku tak sanggup. Mataku mengarah pada wajah Shion, tapi sebenarnya pandanganku begitu kosong. Kejadian ini membuatku semakin membenci Neji. Mata si bajingan itu tidak akan kulupakan.


To be continue


.

.

.

Amaya's note :

Maaf karena sebelumnya Amaya memberikan pairing NaruShion. Untuk chapter depan udah lanjut ke NaruHina.

Terima kasih untuk para reader yang sudah mau membaca, termasuk silent reader. Makasih juga buat yang udah mereview, memfollow, dan menambahkan fic ini ke favorite. Sebelum meninggalkan fic ini, tolong tinggalkan jejak jika tidak keberatan. ;)