Balasan review :
lope-lope : mirip? Ngga ahh! Dari miripnya juga, mungkin Cuma kebetulan aja. Ini fic asli hasil dari imajinasi Amaya sendiri.
Dinda : ini udah :)
momo yui-chan : udah nih :D
Triavivi354 : iyaa, duh! chapter depan udah masuk ke bab NaruHina.
Once98 : bakal diusahain lagi ;)
Guest : Amaya bakal selesaikan kok. Maaf kalau mengecewakan karena waktu dan uang Amaya juga terbatas.
Sabaku no Mei : Hinata gak sembunyi kok, tapi ada di chapter ini. Duh, soal Naruto yang masih kecil, kayaknya kamu Mei-san harus baca lagi deh yang chapter pertama. Soal ortu Neji dan Shion, jangan ditanya deh. Shion itu anak yang penurut, haha! :)
…
.
.
.
Between Love and Hate
By Amaya Katsumi
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family
Pairing : NaruHina
Rate : M (for some reason)
Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung, pasaran (dan kesalahan lainnya)
Don't like, don't read!
Hilir mudik kerumunan manusia di dalam kampus Konoha University. Tanpa kupedulikan tatapan para kaum hawa yang memandangku dengan pandangan anehnya, aku terus berjalan ke dalam kelas fakultas ekonomi.
Sekali lagi kutekankan, jika mungkin ada yang melupakanku, maka aku dengan senang hati memperkenalkan diriku lagi. Namaku Namikaze Naruto. Anak dari Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Ayahku merupakan seorang hokage yang memimpin kota ini dan melaksanakan bisnisnya dengan membangun sekolah-sekolah di kota ini. Dan ibuku kadang menemani ayahku untuk pergi bekerja yang sering keluar kota, meninggalkanku sendiri di dalam rumah megah.
Sejak kejadian 3 tahun yang lalu, kepribadianku berubah drastic. Rambutku dipangkas menjadi lebih pendek untuk membuang sial. Aku yang dulunya ceria dan bawel, sekarang menjadi lebih pendiam dan dingin. demi melampiaskan semua rasa gundahku, dengan senang hati aku menerima tawaran para wanita yang ingin menyerahkan tubuhnya kepadaku bahkan tanpa dibayar sekalipun. aku pun sebenarnya ingin langsung bekerja dengan tou-chan di kantornya karena aku sudah malas berkutat dengan pelajaran yang merepotkan. Tapi, tuntutan tou-chan untuk menyekolahkanku yang tidak bisa kubantah. Dia mengatakan kalau aku boleh bergabung dengan syarat aku harus kuliah minimal sampai gelar sarjana.
Sedikit flashback beberapa bulan yang lalu. Ketika aku bangun kesiangan karena begadang semalaman mengerjakan deadline, aku buat terkejut karena kaa-chan menyuruhku berdandan yang rapi. Ternyata ada teman tou-chan yang ingin menjodohkan anak gadisnya denganku.
Tentu saja aku menolak mentah-mentah perjodohan itu. apalagi mereka dari keluarga yang sama dengan si bajingan itu. mata mereka begitu sama dengannya. Mata itu adalah mata yang kubenci. Namun apalah dayaku yang tidak bisa menolak permintaan tou-chan yang memaksaku.
…
Flashback
Pagi itu, aku sedikit heran dengan suasana rumah seperti sedang gugup. Tiba-tiba kaa-chan membangunkanku dan memerintahkan aku untuk langsung mandi dan berdandan sangat rapi. Seperti akan pergi ke pesta saja.
Setelah itu, aku turun ke bawah bersama kaa-chan. Di ruang tamu telah ada tou-chan yang duduk dan berbincang dengan seorang pria paruh baya yang di sampingnya ada dua perempuan yang kupikir adalah istri dan anaknya.
Lalu aku duduk di antara tou-chan dan kaa-chan yang bersebelahan dengan keluarga teman tou-chan. Perasaanku mulai tidak enak saat ini. Karena mata ketiga orang di depanku ini adalah mata seorang yang kubenci.
"Naruto, kenalkan!" ucap tou-chan. "Mereka adalah keluarga Hyuuga."
"Aku Hyuuga Hiashi. Dan ini istriku, dan Hinata, anakku." Ucapnya memperkenalkan diri dan keluarganya.
"Hinata baru pulang dari luar negeri dan langsung kami bawa kemari." Lanjut istri dari Hyuuga itu.
"Katakan, apa ada sebenarnya ini, tou-chan?" tanyaku.
"ITTE!" rintihku setelah kakiku diinjak kaa-chan.
"Naruto, sopanlah sedikit!" omel kaa-chan.
"Kedatangan mereka kemari, karena kami akan menjodohkanmu dengan Hinata." Ucap tou-chan.
Mataku membulat. Lalu aku mengangkat tubuhku dari tempatku duduk menghadap ke tou-chan.
"Apa-apaan ini, tou-chan?" tanyaku dengan nada tinggi.
"Naruto, apa yang kau lakukan?" ucap kaa-chan mencoba mengembalikan posisiku.
"Aku tidak mau dijodohkan! Aku tidak setuju dengan ini, tou-chan! Apalagi aku ditunangkan dengan dia!" bentakku sambil menunjuk-nunjuk kearah Hinata.
"Mau tidak mau, kau tetap akan bertunangan dengan Hinata. Kalian bisa memulai pendekatan terlebih dahulu agar saling mengenal sebelum akhirnya menikah." Balas tou-chan dengan nada sama tingginya denganku.
Dengan perasaan kecewa dan marah, aku pergi ke kamar meninggalkan ruang yang menjadi tempatku berdebat.
"NARUTO!" panggil kaa-chan namun tidak kudengar.
Dapat kudengar dan sedikit kulihat tou-chan dan kaa-chan meminta maaf sambil membungkuk kepada keluarga itu.
"Maafkan perlakuan anak kami! Belakangan ini dia agak sedikit sensitive." Ucap kaa-chan sambil membungkuk.
End flashback
…
Lalu beginilah aku sekarang. sudah 3 bulan aku menjalani pertunangan ini. Namun aku menyembunyikannya dari public. Gadis itu memang satu kampus denganku. Tapi tidak pernah sekali pun aku bertegur sapa dengannya. Aku hanya berbicara seperlunya saat tidak ada orang lain yang melihat.
Saat ini aku sedang merenung memikirkan semua itu di kantin sendirian. Sudah tidak ada jadwal kuliah lagi, tapi aku tidak ingin pulang dulu karena percuma saja berada di sana. Sunyi di dalam rumah yang luas. Namun jika di sekolah, kadang aku ditemani sahabatku atau menunggu wanita datang untuk menggodaku. Itu lebih baik dibandingkan pulang ke rumah dan mengucapkan salam tanpa ada yang menjawab.
"Hei, Naruto!"
Kudengar suara seseorang memanggilku. Lalu orang itu duduk bersamaku dengan lelaki yang sangat kukenal.
"Sudah lama sekali, dobe!"
"Ya, kalian selalu sibuk sendiri." Sahutku.
"Hei, kau tidak seperti biasanya. Apa ada masalah? Ceritakan pada kami!" kata Sakura.
Aku diam sebentar untuk memikirkan sesuatu. Mungkin tidak ada salahnya sedikit curhat pada kedua sahabatku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka akhir-akhir ini.
"Aku dijodohkan." Ucapku.
"Hah?"
"Dengan Hyuuga Hinata."
"Ohh, aku kenal dengannya." Ucap Sakura. "Dia sekelas denganku. Gadis cantik yang pemalu itu adalah adik dari Hyuuga Neji."
What? Kenapa aku baru tahu? Dia adik dari bajingan keparat itu! kenapa aku tidak menyadarinya?
Tanpa kedua orang ini ketahui, aku menyeringai saat ide terlintas di pikiranku. Kurasa ini akan menarik. Karena kudengar si Neji itu begitu menyayangi adiknya. Dan baru kusadari kalau adiknya itu adalah Hinata.
Bersiaplah Hinata! Welcome to the hell!
…
Normal POV
'BRUUKK'
"ARRRGHHHH!"
Seorang gadis berambut indigo panjang terjatuh saat ada seseorang yang tanpa sengaja menabraknya. Ditambah lagi rasa perih akibat tangannya yang tersiram oleh air panas dari kuah mie.
"Hyuuga-san, gomenasai! Aku akan mengobati lukamu." Kata orang itu.
"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri."
Tanpa basa-basi lagi, Hinata memutuskan untuk pergi sendiri ke ruang kesehatan sambil meringis perih.
Sesampainya di depan ruang kesehatan, telinganya menangkap suara aneh yang berasal dari dalam ruangan. Sedikit mengintip karena takut mengganggu jika dia masuk, matanya malah terbelalak karena disuguhi pemandangan aneh.
Di dalam sana, ada dua orang berbeda gender sedang bercumbu. dan lebih parahnya, pria itu adalah tunangannya! Tangan lelaki itu sudah merambat kemana-mana dan hampir saja membuka pakaian perempuan itu jika saja—
'TRAAAK'
Hinata tidak menjatuhkan sebuah sapu yang ada ditaruh di dekat pintu saat dia akan beranjak pergi dari sana. Semua itu membuat kedua orang di dalam sana menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke sumber suara yang menurut mereka mengganggu.
Tubuh Hinata bergetar ketakutan ketika melihat Naruto berjalan mendekatinya dan menatapnya tajam. Dengan penuh emosi, pria itu menarik tangannya sehingga dirinya ikut masuk ke dalam ruangan.
"Mengintip privasi orang lain, hah! Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun kepadamu, Hyuuga?" sindir Naruto dengan nada pelan namun menyakitkan.
'BRRUUUUK'
Dia menghempaskan tubuh gadis itu dengan kasar. Mengabaikan kalau ada orang lain yang melihatnya, Naruto menjambak rambut gadis yang menjadi tunangannya.
"Hentikan! Sakit!" rintihnya.
"Dengar, Hyuuga! Jika kau berani macam-macam denganku, akan kubuat kau merasakan sakit lebih dari ini." Bisikku pada telinganya.
Setelah itu, Naruto berjalan keluar meninggalkan Hinata sendirian yang tengah menangis tanpa sepengetahuannya. Wanita yang menjadi penontonnya pun ikut keluar menyusul Naruto sambil memandang Hinata dengan pandangan khawatir.
"Aku tidak percaya Naruto bisa berbuat sekasar itu." ucapnya.
Wajah Naruto tetap datar setelah dibilang seperti itu. matanya memandang punggung wanita yang hampir saja ditidurinya barusan.
Dia sendiri pun tidak percaya kalau dia akan menjadi seperti sekarang. Naruto yang sekarang tidak seperti Naruto yang dulu.
…
Hinata sedikit melamun dalam perjalanan pulang. Dia pulang agak terlambat karena tadi ada kelas tambahan. Dia sedikit merenungkan perkataan sang calon ibu mertua ketika malam pertunangannya dengan Naruto waktu itu.
"Hinata, kuharap kau bisa merubah Naruto. Aku tidak tahu kenapa Naruto bisa seperti sekarang. padahal dulu dia anak yang ceria, ramah, cerewet, dan sering tersenyum. kami hanya mengetahui jika di saat SMA dia mempunyai musuh yang pernah membuatnya celaka. Tapi Naruto tidak pernah bercerita." Jelas Kushina dengan wajah sedih.
"Setelah itu, dia berubah menjadi pendiam dan dingin seperti sekarang. bahkan dia menjadi pembangkang. Naruto sering pulang malam dan kadang tidak pulang sampai pagi. Aku selalu mendapat laporan dari para pelayan jika Naruto sering membawa pulang wanita. Kami jadi khawatir soal itu. kuharap kau dapat meluluhkan hati Naruto." Lanjutnya.
Setelah itu, Hinata mengangguk tanda mengerti dan menurut perkataan Kushina. Wanita berambut merah menyala itu memeluk Hinata sambil menangis.
"Arigatou, Hinata! Entah kenapa, aku yakin jika kau adalah calon menantu yang cocok untuk kami. Aku tidak tahu kenapa kalau aku begitu yakin jika kau adalah yang terbaik untuk putra kami."
Selain karena iba, entah kenapa Hinata merasa kalau dia sangat menyayangi ibu dari tunangannya ini. Kemudian dia memeluk balik Kushina.
Meski dia tidak terlalu menginginkan perjodohan ini, Hinata tetap menyetujuinya karena dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Entah kenapa, Hinata percaya dengan perjodohan ini meski faktanya dia tidak terlalu yakin.
"Hei, nona! Bermainlah sebentar!"
Lamunannya buyar begitu ada seorang pria yang mencegatnya di depan. Lalu Hinata mencoba mengabaikannya dan segera pergi.
Tapi pria itu menarik tangannya begitu erat sehingga Hinata tidak dapat kemana-mana.
"Hei, kau mau kemana?"
"Lepaskan aku!"
Hinata memberontak dan mencoba melepaskan diri. Bau alcohol menguar dari tubuh dan mulut pria itu membuat kepalanya pusing.
'HAP'
'BUUUGGG'
Tubuh Hinata tiba-tiba jatuh ke dalam pelukan seseorang yang merasa sangat dikenalnya. Dan pria yang mencoba berbuat jahat padanya tiba-tiba jatuh setelah dipukul di bagian wajahnya.
Kepala Hinata mendongkak ke atas untuk melihat siapakah pahlawan kesiangan yang telah menolongnya. Tubuhnya sedikit mematung ketika melihat siapa orang itu.
"Naruto-kun!" gumamnya.
…
To be continue
…
Amaya's note :
Ada beberapa hal yang mengganggu Amaya soal fic ini.
Yang pertama, karena fic ini lama sekali update. Bukannya gak mau lanjutin, tapi Amaya benar-benar punya waktu yang sedikit ditambah emang gak bisa mikir buat cerita berikutnya. Dan juga, Amaya baru beres UAS. Lalu, karena Amaya emang ORANG SUSAH, jadi harus menunggu sampai punya uang biar bisa ngisi kuota atau ke warnet. Dan itu belum menjadi warnenya buka nggaknya dan lemot nggaknya. -_-
Yang kedua, tolong abaikan yang chapter yang BAB 1. Itu Cuma cerita yang Amaya bikin buat alurnya dan sebenarny gak ada hubungannya dengan cerita-cerita berikutnya. Amaya Cuma mau menyampaikan pesan untuk semua, 'kita harus belajar dari masa lalu. Dan sabarlah jika kau mempunyai keinginan yang belum terkabulkan. Karena Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik. Juga, jangan menyerah!'. Di sana Naruto pesimis dengan prestasinya dan nilainya yang selalu buruk. Dia pikir, mana bisa dia lulus jika dia memang sudah bodoh dari awalnya? Tapi Iruka menyemangatinya untuk tidak menyerah. Naruto selalu ingin menjadi yang terbaik dan juga ingin sekali bisa bertemu dengan Minato yang menjadi idolanya, tapi semua itu belum pernah terpenuhi. Tapi akhirnya dia tidak menyangka bahwa dia adalah anak dari idolanya sendiri, bukan? Dan sang ayah sangat bangga dengan prestasi anaknya.
Dan yang ketiga, soal Neji dan Shion. Tapi kayaknya gak perlu dijelasin, kan?
Dan yang keempat, Amaya paling sebel kalau karya Amaya disebutin ngejiplak karya orang lain. sudah Amaya bilang sebelumnya, kalau Amaya emang terinspirasi dari karya orang lain, Amaya bakal sebutin itu. tapi cerita yang seperti ini mungkin mirip dengan beberapa cerita orang lain. dan Amaya tegaskan kalau cerita yang sedang Amaya buat sekarang sebenarnya cerita yang umum terjadi atau mungkin lebih disebut pasaran. Amaya yakin banyak cerita yang kaya gini dari karya orang lain.
Oke kalau begitu! Maaf buat segala kesalahan yang Amaya buat ya! terima kasih untuk reader yang sudah membaca dan mendukung fic ini. Jangan lupa beri komentarnya di kolom review!
