white day

Cast: yunjae

Genre : romance,…

Rate : T-M

Disclaimer :

Semua member milik SMent, juga milik Tuhan YME, para orangtua mereka dan diri mereka masing-masing.

Summary :

"yun,kapan kau pulang?"

pertanyaan itu, pertanyaan yang selalu ada dibenakku, air mata ini sudah tak dapat mengalir lagi

warning : yaoi/BL/typo

.

.

.

hening...

satu kata menggambarkan seribu keadaan disuatu ruangan kecil dengan penerangan yang minim, bau alkohol menyengat menusuk panca indra, asap mengepul diatap ruangan, nampak seorang laki-laki berkulit putih pucat sedang tertidur dengan damai dipulau kapuk rapuh yang selama 2 tahun ini menemaninya setiap malam, hanya berdua, ditmpat kecil ini, tempat yang tak layak dikatakan rumah, dikatakan gubuk pun tidak bisa.

Laki-laki bernama kim jaejoong, laki-laki yang sebenarnya ddapat dikatakan laki-laki yang cukup cantik, mata doe yang indah, bibir plum merah muda yang menawan, kulit putih, pinggang ramping layaknya wanita, jika wanita diluar sana menginginkan tubuh yang ramping dan ndah, kini tubuh itu dimiliki oleh seorang laki-laki yang seharus memilki tubuh yang kekar layaknya seorang laki-laki.

Hidup seorang kim jaejoong tak lagi seindah dulu, tak seindah saat dia belum dibuang dari keluarga besar kim hanya karena orientasi sex nya yang bisa dikatakn menyimpang, cacian dan maki sudah dilontarkan berulang kali padanya, dianggap mencermarkan nama baik keluarga, dibuang dan tak dianggap sebagai seorang anak, dicap menjijikan, sumpahan menyakitkan, adalah makanan keseharian baginya. Kim jaejoong telah kebal dengan semua itu.

KRINGGGGG

"enghhh pukul berapa ini?" katanya lemah sembari membuka matanya pelan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Waktu menunjukan pukul 22.00 waktu setempat, menandakan bahwa kim jaejoong harus segera berangkat ke tempat dia bekerja. Terlalu malam untuk bekerja bukan? Tapi memang itulah kehidupan kim jaejoong saat ini. Bekerja pukul 23.00 sampai matahari menunjukan cahayanya skitar pukul 6.00

"MIROTIC CAFE" adalah tempatnya menuangkan semua kesepiannya, dia bekerja disana, entah pikiran apa yang membuatnya pergi ketempat nista itu, mengingat kim jaejoong adalah anak dari sebuah keluarga terpandang dulu, ya itu dulu. Bekerja dicafe atau bar tak hanya pekerja sex kan? Kim jaejoong hanya menemani para pelanggan disana, hanya menemani tak lebih. Duduk bersama, memberi minuman atau sekedar berbincang ringan, tak pernah ketahap yang lebih dalam.

Hero... itu adalah nama yang dia pakai untuk menyamarkan identitasnya, meskipun jaejoong sudah dibuang oleh keluarganya dia tetap memikirkan keluarganya dan tak ingin nama baik keluarganya tercemaran hanya karena dirinya. Jaejoong tipikal laki-laki yang ramah, selalu tersenyum, dan tertawa meskipun tak semua orang lihat diluar sama dengan apa yang jaejoong rasakan. Jaejoong adalah orang yang rapuh jika disakiti, namun dia kuat untuk menahannya sendiri, menahan bebannya sendirian.

"hyung tolong antarkan minuman ini ke meja nomor 5 ne"

"baiklah siap, eh? Kenapa kau belum pulang changmin ah? Besok kau harus sekolah, pulang sana, masih ada junsu dan yanng lain disini" ucap jaejoong saat mengambil minuman yang diberikan changmin.

Laki-laki bertubuh besar, tinggi lebih tepatkan, karna baru berusia 18 tahun tapi tingginya sudah 189 cm. Seorang pelajar dari Dong Bang School. Heran kenapa seorang anak dibawah umur dapat bekerja ditempat senista ini? Jawabannya karena changmin membutuhkan uang untuk membantu ibunya yang sedang sakit, manager Lee yang memang dasarnya sangat baik, tak bisa menolak saat 3 tahun lallu saat club ini baru buka changmin yang daatang dengan wajah yang memelas hampir menangis meminta pekerjaan. Tapi tetap saja changmin seorang pelajar jadi jam kerjanya dikurangi agar dia juga dapat menyesuaikan dengan seolahnya, magaer Lee juga membantu biaya rumah sakit yang dibutuhkan ibunya dan changmin.

Jaejong berjalan dengan sebuah nampan ditangannya membawa minuman berwarna biru bening itu kemeja yang dituju. Menundukan kepalanya sopan lalu mearuh minuman itu.

"minumannya tuan.." sedetik setelah jaejong hendak beranjak dari tempatnya sebuah tangan menahan langkahnya.

"hei cantik, ingin menemaniku malam ini dan mendesah dibawahku?" kata seorang ahjushi tua yang bisa dikira umurnya tak bebeda jauh dengan umur abeojinya saat ini.

"maaf tuan aku hany pelayan disini, dan bukan pekerja SEX" jaejong menekan kan kata-katanya, mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman ahjushi tua itu.

"ayolah jangan sok jual mahal seperti itu cantik"

"bisa kau lepaskan tangan menjijikanmu tuan?" dengan pandangan yang menusuk, jaejoong melontarkan kata-kata dingin.

"yak! Berani sekali kau! Aku bisa membeli tempat ini, bahkan aku bisa membelimu dengan harga yang sangat mahal!" cengkraman ahjushi tua itu berpindah kepipi mulus jaejoong.

SRAKKK

Cengraman itu terlepas seketika. Terlihat seorang laki-laki dengan tubuh athletis dan wajah yang menawan dan dapat dikatakan tampan dengan mata musang dan bibir berbentuk hati yang sexy.

"aku bahkan bisa membelimu dan hidupmu dengan hanya dengan petikan jari Park Sajangnim yang terhormat". tatapan dingin menusuk hati, wajah tenang dengan senyuman kecil mengejek entah kenpa pria ini begitu tampan meskipun dengan tatapan mematikan.

Pria tambun dengan rambut yang mulai memutih itu menatap remeh anak muda didepan nya, mungkin tak berbeda jauh dari usia anaknya saat ini, atau bahkan lebih muda sedikit. Mendekati si tampan dengan perlahan sambil menghisap benda menyala dengan asap yang mengepul.

" apa aku begitu terkenal dinegara ini sampai sampai kau yang masih muda saja mengenali orang sepertiku? Anak muda sepertimu seharusnya pulang dan mengerjakan pr bukan ditempat seperti ini" katanya meremehkan.

"sepertinya kau lupa siapa aku Park Sajangnim, hmm bagaimana jika kontrak antara Park's company dan Jung's company dibatalkan saja? Sepertinya menarik, masih banyak yang ingin bekerja sama denganku Park Sajangnim yang terhormat" senyuman licik terukir diwajah tampannya, entah harus berapa kali kata 'tampan' terucap untuk mendefinisikan wajah itu.

Jaejoong POV

"sepertinya kau lupa siapa aku Park Sajangnim, hmm bagaimana jika kontrak antara Park's company dan Jung's company dibatalkan saja? Sepertinya menarik, masih banyak yang ingin bekerja sama denganku Park Sajangnim yang terhormat" suara itu...

Kenapa suara itu dapat menenangkanku seperti ini, dadaku menghangat...

Tangannya menggenggam tanganku lembut, tangan besar seakan melindungiku dari segala sesuatu yang akan menyerangku. Aku hanya dapat menunduk takut, takut melihat wajah yang sedang melindungiku ini.

"kau baik baik saja?"

"ah ne kamsahamnida.." kataku sambil menunduk lalu meninggalkan nya.

Kenapa jantungku berdetak cepat meskipun hanya mendengar suaranya saja?

Apa aku sudah gila? Tak mungkin aku gila secepat ini, tapi jantungkku tak ingin berdetak normal kembali.

Aku harus bagaimana?

AUTOR POV

Pagi yang cerah yang harusnya dihiasi kicauan burung indah, aroma telur mata sapi yang menusuk nikmat kedalam panca indra, ssambutan senyum hangat untuk memulai setiap aktivitas hari ini. Namun tak bagi seorang Jung Yunho, Direktur Utama Jung company yang menggantikan ayahnya sejak berusia 15 tahun karena orang tua nya yang meninggal saat perjalanan pulang dari German mengurusi perusahaan besar miliknya disana.

Dengan bantuan Park Ahjushi yang adalah tangan kanan ayahnya Yunho menjadi seperti sekarng, seorang Jung Junior yang tak dikatakan junior lagi dengan keadaannya sekrang, semua mata terjutu padanya, wajah tampan dan uang yang tak akan pernah habis membuatnya menjadi sorotan dunia dengan umur yang terbilang cukup muda.

Meskipun dia masih duduk ditingkat akhir dan sibuk dengan urusan bisnis keluarganya tak menutup kemungkinan Yunho menjadi juara disekolahnya, sudah banyak penghargaan yang didapat dari hasil kerja otaknya. Wajah tampan, harta ang melimpah dan otak yang cerdas, sempurna bukan?

"selaamat pagi Sajangnim, Presdir Daniel dari "Universal Studio" ingin menemui anda untuk membicarakan kerja sama membangun taman wisata besar di Korea, pukul 10 pagi nanti." Yoochun, sekretaris pribadi Jung Yunho yang selalu setia menemani Yunho, anak dari Park ahjushi. Meskipun Yunho lebih muda darinya tak menutup kemungkinan untuknya berskap sopan, dia atasan bukan?

"arraseo, bilang padanya untuk langsung keruanganku setelah dia datang nanti" katanya sambil memasuki ruang kerja mendiang ayahnya yang diwariskan padanya.

Ruangan besar dengan anunan musik klasik yang menemani laki-laki Jung bersama berkas berkas tercintanya. Sebenarnya jika disuruh memilih untuk mencintai atau tidak dengan berkas itu, rasanya dia akan segera menjawab tidak mengingat ini adalah perusahaan yang diwariskan ayahnya untuknya ia tak akan mau berkutat dengan ini sepanjang hari libur sekolahnya.

TOK

TOK

"Sajangnim Presdir Daniel disini" yoochun dengan sangat sopan mengantar Daniel selaku pemilik Universal Studio untuk menemui atasannya.

"suruh dia masuk"

Yunho menjabat tangan Daniel setelah merapihkan berkas berkasnya ketempat semula.

"Good morning Mr. Jung, nice to meet you."

"Nice to meet you too Mr. Daniel, please sit down" setelah saling menjabat keduanya duduk bersama.

"Want to drink? Tea? Coffee? Or something?" kata Yunho ramah.

"coffee please." Hanya dengan lirikan mata yunho, yoochun sudah menundukan kepalanya untuk segera mengambil apa yang dibutuhkan bosnya.

"jaejoong antarkan untuk meja nomor 9 palli!"

Dengan sigap jaejoong mengambil makanan lalu segera menuju meja yang diminta. Keseharian jaejoong disiang hari adalah sbagai pelayan restoran,atau lebih tepat dkatakan kedai ramen, meskipun kecil namun tetap saja ramai setiap harinya.

"ini pesanan anda, selamat menikmati" jaejoong tersenyum manis kepada setiap pelanggannya. Mungkin karena faktor jaejoong juga kedai ini menjadi ramai dikunjung yang mayoritas remaja perempuan maupun laki-laki.

"oppa bleh aku meminta nomor ponselmu?" kata seorang pelajar manis menatap jaejoong penuh harap.

"hehehe lain kali saja ne ponselku sedang hilang, atau kau ingin memberiku ponsel baru?" candanya sembari mengacak rambut remaja tersebut dan menimbulkan semburat merah pada pipinya. Lalu jaejoong kembali melanjutkan pekerjaannya.

"SELAMAT DATANG DIKEDAI KAMI!"

Jaejoong segera mengambil menu dan menuju meja yang baru saja terisi.

"ingin memesan apa tuan?" jaejoong mengambil catatan kecil yang selalu ia bawa kemana-mana selama bekerja.

"apa yang spesial dari kedai ini?"

DEG

Suara itu...

.

.

.

TBC

Maaf banget bagi yang ga suka sama update-an yang kemarin, autor Cuma mau memperkenlkan terlebih dahulu mianhae*bow*

White day ch. 1