Kuroko No Basuke [Kagami x Reader] _ Untitled

Rate T

.

.

.

Chapter 2

"Aku hampir terlambat.. Akhirnya" Ucapku saat sudah sampai di lapangan masih lengkap mengenakan Tas , para siswa dan siswi sudah berbaris di lapangan , dan 5 menit lagi upacara .

Napasku masih tersengal – sengal efek lari marathon karena takut terlambat . sudah menjadi kebiasaanku datang terlambat ke sekolah dan ini rekor terbaru aku bisa datang sebelum upacara dimulai .

semua mata memandang ke atas gedung , entah mengapa aku yang ingin masuk ke kelas hanya untuk meletakkan tas pun terdiam menatap ke atas . banyak suara berbisik terdengar , aku pun mencoba mendengar apa yang sedang terjadi .

"Lihat , mereka melakukan itu lagi"

"Benarkah? memang klub basket itu antimainstream"

"Mereka tidak kapok ya padahal waktu itu dihukum "

Dihukum? apa maksudnya? aku tidak mengerti tapi aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kagami . Tanpa sadar aku berlari memasuki gedung untuk mencapai Atap .

Brak!

"Kagami !" Ucapku membuat semua mata tertuju padaku . Saat itu aku menghampiri Kagami dan mereka masih menatapku .

"Apa yang kau lakukan ?! Kau sudah gila ha? kau tau nanti kau bisa - "

Brak!

"Apa – apaan ini pasti klub basket lagi ! Bisakah kalian tidak berulah?! " beberapa guru datang menghampiri kami dan akhirnya kami diceramahi berjam – jam , tentu saja aku juga kena batunya karena berada di atap sekolah bukanya ikut berbaris mempersiapkan upacara .

Istirahat siang – Kantin Gakuen Seirin . 12.30 p.m

"Kagami !" Teriaku saat ia beranjak dari tempat duduknya . Terlihat ia sedikit malas menanggapiku , tapi ini semua salahnya aku juga kena hukuman tapi dia malah mengacuhkanku .

"..." Ia hanya terdiam menatapku yang memanggilnya . Setidaknya katakan sesuatu padaku , dia menyebalkan sekali .

"Aku.. Ah tidak jadi" Ucapku memelan dan kembali duduk di kursiku .

"Apa?! Kau mempermainkanku [Name]?!" Kembali dengan nada kerasnya ia berbicara padaku , mungkin semua orang berpikir ia marah padaku tapi sebenarnya tidak begitu memang dia gampang kesal tapi nada suaranya terdengar siapapun yang mendengarnya orang mungkin akan takut jika tak mengenalnya dekat .

Aku hanya terdiam tak menanggapinya , pura – pura membaca novel . sebenarnya harusnya aku masih kesal denganya, karena dia aku dihukum tapi kenapa dia tidak peka kalau aku itu marah? dan sebaliknya ia yang malah marah padaku .

Perpustakaan – Gakuen Seirin . 12.45 p.m

Kebosananku semakin menjadi saat kami tidak bersama , sebenarnya aku tidak tahan berjauh – jauhan darinya tapi aku urungkan niatku untuk mencarinya karena hanya perdebatan diantara kita tak akan ada selesainya jika aku mengungkit hal tadi . aku putuskan untuk mencoba melupakan insiden atap sekolah .

"Kuroko! Awas kau ya!" Aku mendengar suara teriakan dari ruang perpustakaan . seperti suara orang yang ku kenal .

Reflek aku menutup buku dan meninggalkan ruang perpustakaan .

Aku melihat seseorang itu , Ya Kagami Taiga siapa lagi? Benarkan dugaanku .

Ia menatapku , dan akupun melakukan hal yang sama menatapnya . Kami saling bertatapan tanpa bicara sepatah katapun . 30 detik berlalu saat aku bertatapan denganya , ia mengalihkan pandanganya dariku dan pergi meninggalkanku di depan ruang perpustakaan .

Aku mencoba bersuara memanggilnya, tapi suara ini tak bisa mengatakan apapun . Batin dan fisiku berlawanan , hatiku ingin bicara tapi fisikku enggan .

Sudah lama kita bersama , bahkan status kita tidak jelas . Bersahabat? hanya kata – kata yang kami putuskan saat kami saling bicara saat itu .

Kenyataanya , tak seperti apa yang kami putuskan .

"Kenapa kalian saling diam tak bicara?" Aku mendengar suara seseorang , aku terkejut sampai tak sengaja menjatuhkan bukunya karena tersenggol olehku .

"Ah gomen!" Aku mengambil bukunya yang jatuh , sebuah novel yang sering populer dikalangan remaja .

"Doumo ." Ucapnya saat aku mengembalikanya , tampang datar polosnya menatapku aku jadi salting karena sedang dilanda akward moment , dimana waktu itu aku pernah menabraknya juga .

"Ku-Kuroko – kun , Suka membaca novel ?" Tanyaku masih canggung , dan terlalu formal saking formalnya mungkin tidak penting untuk ditanyakan .

"Haik ."

" sumimasen , Apa kau sedang ada masalah dengan Kagami – kun ?" Ia melanjutkan kata – katanya , kenapa dia menanyakan hal seperti itu?

"Ti-tidak kami baik – baik saja" Jawabku tersenyum terpaksa .

"Benarkah?" Mengapa ia peduli sekali , ia sebenarnya peduli denganku atau kagami ?

"I..ya sedikit benar " Ucapku membuatnya mengernyitkan dahinya .

"Aku tidak mengerti . Tapi jika kau tidak ingin katakan padaku yang sebenarnya aku tidak masalah , hanya saja aku melihat keanehan dari Kagami – kun ." Ia menatapku tanpa ekspresi . Ini membuatku penasaran tapi wajahnya tak mendukung untuk mengatakan hal yang membuat orang penasaran .

"Aneh bagaimana?" Aku mencoba tidak terpancing terlalu jauh tentang kagami , walaupun batinku tidak tenang memikirkan dirinya . Ini sulit mengendalikan emosiku agar bersikap tenang tentangnya .

"Saat istirahat tadi , Kantoku menyuruh kami , para anggota tim basket untuk membeli roti yang hanya tersedia setiap sebulan sekali ." Aku benar – benar penasaran tapi aku harus mendengarkanya, walaupun aku tidak sabaran menunggunya menyelesaikan cerita .

"Aku , Kagami – kun , Furihata – kun , Kawahara – kun yang diutus kantoku membelinya . Dan saat itu ramai sekali banyak yang mengingingkan roti langka itu ." Aku hanya mengangguk pelan menanggapinya dan masih mendengarkanya .

"Tapi mereka tidak berhasil mendapatkan roti itu, dan babak belur . Hanya aku yang tersisa akhirnya aku mencoba membelinya ."

"Lalu?" Aku mencoba menanggapi saat ia terdiam . dan kemudian ia melanjutkan kembali .

"Aku berhasil membelinya dan roti itu rasanya enak sekali , " Rasa penasaranku entah mengapa menghilang begitu saja saat ia mengatakan hal itu . kurasa aku yang terlalu serius menanggapi ceritanya .

"Saat itu aku melihat kagami – kun pergi kembali ke kantin . Kupikir saat itu ia masih lapar walaupun sudah membeli roti super jumbo seharga 1000 yen ." Aku dibuatnya penasaran kembali, mungkin ini bagian klimaks dari ceritanya .

"Dia membeli sandwich dan Sekotak jus jeruk . Tidak biasanya Kagami – kun membeli itu , dia sering mengatakan padaku apakah aku akan kenyang makan makanan seperti itu , tapi mengapa ia membelinya? Itulah yang kukatakan mengapa dia aneh ."

Saat mendengarnya , aku langsung meninggalkan dirinya tanpa jawaban dariku . Yang kupikirkan saat ini adalah menemui Kagami – kun secepatnya .

.

.

.

Chapter 2 – TBC

Author notes : Selesai juga yang kedua! Yey ! Gue gatau ini greget apa nggak , dan lumayan tulisanya agak panjang . Gue langsung TBC karena gue kehabisan ide buat selanjutnya jadi gomen banget kalo misalnya pada kepo . kalo soal update gue emang lagi cepet soalnya masih punya waktu senggang , tapi selanjutnya nggak tau deh . Yaudah tenang aja gue ga bermaksud php-in kok serius . Gue ucapkan makasih udah nge-review , gue newbie masih banyak kekurangan mungkin mohon dimaafkan . Kripik dan saran tetep ditunggu ! supaya gue bisa intropeksi lagi apa yang kurang . Soalnya gue usahain kalo Kagami itu gak OOC disini .

Mind to review?