"[Name] Aku tahu mungkin kau tidak mau aku mengetahuinya tapi aku tidak bisa begini terus . aku akan mengatakanya padamu ." Ia menengok kearahku . Sepertinya ia tidak berniat mengajaku ke suatu tempat dan membicarakanya di sepanjang jalan .

"Apa itu? Katakan saja Kuroko kau tidak biasanya seperti itu" Kulihat ia kembali menatap lurus pandanganya dan sedikit bimbang terlihat jelas dari sini . Walaupun aku dibelakangnya .

"Aku yakin kau itu orang yang disukai oleh –" Ia menjeda dan tiba – tiba menghentikan langkahnya. Kini kami berhenti di sebuah taman bermain yang jaraknya tidak jauh dari Majiba .

" – Akashi – kun . "

Kuroko No Basuke [Kagami x Reader] _ Untitled

Chapter 5

Angin bertiup membuat suasananya semakin dingin. Aku menatap kuroko dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana dia bisa mengetahui rahasiaku? mengetahui hubunganku bersama,

Akashi Seijuro, mantan kekasihku.

Siapa dia sebenarnya? Aku tak pernah mengenalinya, sepertinya begitu tapi dia tidak asing bagiku. Apa yang harus kukatakan? Mengaku padanya? lantas apa yang dia dapatkan jika aku mengakui semuanya?

Setelah kupikir, mungkin ia memastikan apa aku masih mencintai Akashi seijuro agar ia bisa mengutarakan perasaanya padaku. Aku tidak begitu yakin tapi melihat tatapan matanya yang masih menungguku bicara membuatku di posisi sulit. Disisi lain, aku tidak mau ada yang tahu hubunganku di masa lalu. begitu kelam dan menyakitkan. Bahkan sulit untuk mengatakan kebenaran ini.

"[Name]-san? Daijoubu kah? gomen kudasai, Aku tidak bermaksud menyinggungmu soal Akashi-kun" Mataku kembali menatapnya, saat ia mengusap bahuku pelan.

"Ah tidak. bukan begitu, kau tau darimana kuroko-kun?" Aku berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun padaku. entah aku bisa menahanya atau terlihat jelas dihadapanya aku sudah tidak peduli. Aku hanya ingin menyelesaikan percakapan ini secepat mungkin.

"Ini.." Ia menyodorkan sesuatu yang dipegangnya, kertas foto yang tertera disana. Foto aku bersama Akashi.

"Ah.." Aku menatap tidak percaya dan ia mengembalikan dompetku yang sempat menghilang. Kurasa aku bodoh telah kehilangan dompet ini bagaikan malapetaka menimpaku.

"[Name]-san. " Ia menyebut namaku membuatku menatapnya kembali.

"Ternyata benar, kau [Name]-san. Kita satu sekolah di Teiko. mungkin kau tidak mengenaliku karena kita tidak pernah bertemu secara langsung." Ia langsung pergi meninggalkanku. Aku menatap punggungnya yang semakin lama semakin jauh.

Malam ini hujan turun rintik-rintik terlihat jelas dari balik jendela. Dengan secangkir susu hangat aku hanya menatap hujan tersebut, membuatku berpikir tentang kejadian tadi sore. Semua yang mengingatkanku tentang Akashi kini kembali. Bukan berati aku berpikir ingin kembali itu tidak mungkin karena aku mempunyai perasaan terhadap Kagami-kun. Aku hanya perlu melupakan kejadian antara aku dan Akashi. itu saja cukup dan tujuanku sudah tercapai dan seharusnya tidak terpengaruh hanya karena kehilangan sebuah dompet dan seseorang menemukan rahasiaku yang selama ini kututup rapat. Semua masih berjalan sesuai kehendakku, aku tidak perlu gelisah lagi ataupun memikirkan hal ini.

"[Name]! Oi [Name]! buka pintunya!" Kudengar suara seseorang menggedor pintu apartemen-ku. Hah dari suaranya sudah jelas itu Bakagami. Menyebalkan mengapa ia datang disaat yang tidak tepat.

"Haik! Tunggu sebentar" Aku membuka kenop pintu tersebut melihat Kagami basah kuyup. Ia menatapku membuatku mengernyitkan dahi.

"Kenapa melihatku seperti itu huh!"

"Kau yang kenapa [Name] kau tidak memarahiku ha?" Bagus. Ia mengingat apa yang kulupakan sedari tadi. Semua ini berkat Kuroko-kun yang berhasil membuatku linglung hari ini.

"Kau mengingatkanku tapi aku tidak minat marah hari ini" Ucapku pelan dan mengambil pel serta ember. untuk mengepel lantai yang becek dan kotor karena ulahnya.

"Oi [Name]! Sini biar aku saja, kau lebih menyeramkan seperti ini ketimbang marah" Ucapnya langsung menyerobot paksa pel dan ember dari tanganku. Aku hanya pasrah dan duduk kembali dekat jendela sambil menikmati segelas susu cokelat, memandang rintik hujan dibalik jendela.

POV NORMAL

"[Name] Jaketku ada disini kan? dimana kau meletakkanya [Name]?" Kagami mengobrak-abrik ember yang sudah terlipat baju dengan rapih kini berantakan kembali hanya karena ia mencari pakaianya yang sering ia tinggalkan dirumahmu karena saat ia kehujanan ia mampir kerumahmu.

"[Name]?" Kagami mencoba memanggilmu. Tapi kamu mengabaikanya karena tidak mood untuk menjawab semua pertanyaanya.

"Oi [Name]!" Kali ini kagami berteriak. Kamu tetap pada posisi diam dan akhirnya kagami kesal karena diabaikan ia menarik cangkir yang kau pegang.

"Oi Kagami!" Kau terkejut tingkah kagami menghabiskan semua susu cokelat yang sudah mendingin. dan Ia meletakkan kembali di atas meja belajarmu.

"Bisakah kau tidak menggangguku? Kau menyebalkan." Kamu mengalihkan pandangan dari kagami pertanda kamu marah padanya.

"Bisakah kau tidak mengabaikanku? Kau juga menyebalkan [Name]." Kamu kini meliriknya sedangkan ia menatapmu menunggu suara keluar dari mulutmu.

"Pergilah Kagami-kun. Aku ingin sendirian. maaf. mengertilah kali ini aku bukan orang yang bisa bersikap biasa ketika aku sedih. Bisakah kau mengerti diriku? Ah aku tahu aku salah karena-" Kamu menghentikan kata-katamu yang hampir saja mengatakan hal yang tak seharusnya diucapkan.

"Ah tidak jadi. " Kau terdiam kembali setelah mengucapkan itu. Kagami semakin bingung dengan dirimu yang tidak biasanya bersikap seperti biasanya. dan ia memilih untuk diam karena merasa bersalah.

"Warui [Name], Aku memang tidak mengerti wanita. Kuroko benar aku memang tidak mengerti perasaan wanita." Ucap Kagami meninggalkanmu. Terdengar suara pintu tertutup menandakan ia sudah benar-benar meninggalkanmu saat ini.

POV Name

Pagi ini cerah sepertinya tidak secerah perasaanku. Mengapa rasanya begitu sedih mempengaruhiku hanya karena kejadian kemarin? Inilah yang sulit kukendalikan jika sudah menyangkut Akashi-kun.

Pagi ini sedikit berbeda, aku baru menyadarinya. perasaanku memang tidak secerah matahari pagi tapi bukan berati aku tidak menyadari hal yang tidak biasa terjadi.

Kali ini aku tidak terlambat lagi. ini kejadian langka yang pernah ada karena semalaman aku tidak bisa tidur dan berharap fajar kembali menyinari dengan cepat. rasa kantuk-ku terobati dengan minuman yang mengandung kafein, yaitu coffee. rasanya pahit sekali tapi tidak seberapa pahitnya tak mampu mengalahkan rasa gelisahku.

Aku mengecek ponselku dan terdapat pesan masuk dari Kuroko-kun. Tak berniat aku membalas ataupun membaca-nya saat ini. hatiku masih belum siap setelah apa yang terjadi kemarin. Aku hanya memasukan handphone-ku kedalam tas supaya aku tidak berniat mengotak-atik handphone-ku. Setelah siap semuanya, aku berangkat menggunakan jasa kereta api yang tidak jauh dari apartemenku dan hanya berjalan sekitar 10-15 menit.

Sesampainya disekolah aku berpapasan dengan Kagami-kun. Ia menatapku sejenak lalu ia masuk tanpa sepatah kata pun. Aku menatap punggungnya yang membelakangiku dan tak lama aku menunduk membuatku merasa sedikit aneh tingkahnya hari ini.

"Warui [Name], Aku memang tidak mengerti wanita. Kuroko benar aku memang tidak mengerti perasaan wanita."

Entah mengapa, aku mengingat kalimatnya saat ia meninggalkanku kemarin. Aku sedikit sedih kata-katanya. Ini sedikit membuatku gelisah apakah ada seseorang yang Kagami ingin mengerti? Bahkan ini membuatku ingin tertawa dihadapanya padahal tidak lucu sama sekali. Aku tahu Kagami bukan seseorang yang lembut seperti Kuroko-kun. Apakah ini hanya sekedar perasaanku saja bahwa Kagami ingin mencoba mengerti diriku? Mengapa aku memikirkan di saat yang tidak tepat, disaat aku butuh bicara padanya. dengan begini aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun padanya karena aku ingin berpikir tentang sikapnya padaku.

Aku memutuskan untuk ke UKS ketika pertengahan jam kelas. Rasa pusing mulai menyerang kepalaku rasanya nyeri dan nyut-nyutan. mungkin ini efek tidak tidur semalaman yang kulakukan.

Kini aku merebahkan diriku diatas ranjang putih dan menutup tirai. kuselimuti seluruh tubuhku dengan selimut. Aku melihat bayangan seseorang datang sekilas membuatku penasaran.

Srek!

aku membuka tirai tersebut. Kulihat seseorang berwajah datar berdiri menatapku .Dia Kuroko Tetsuya. Aku menunduk tidak menatap matanya, entah mengapa aku tidak ingin berbicara denganya walaupun tidak membahas Akashi sekalipun.

"[Name]-san. kenapa kau tidak membalas e-mailku?" Tanyanya membuatku ingin tetap bungkam. tapi aku mesti sabar dengan si wajah datar manis ini karena bagaimanapun ini semua bukan kesalahanya.

"Gomen Kuroko-kun aku belum membaca pesan darimu, nanti akan kubaca kelihatanya penting." Aku beranjak dari ranjang, aku pasrah kali ini apapun yang Kuroko katakan aku akan mencoba meladeni sebisaku.

"Tidak usah [Name]-san, Sebaiknya kukatakan saja disini"Ia mencegahku pergi dengan mencengkram lenganku. Aku menatapnya sebagai persetujuan sekaligus menunggu kata-katanya.

"Sebenarnya aku hanya mengkhawatirkan [Name]-san. Maaf [Name]-san, itu bukan pesan yang penting mungkin bagimu karena itu tidak mengubah apa-apa tentang perasaanmu." Ucap Kuroko lembut. iya mengusap-usap bahuku pelan dan meninggalkanku. Aku masih tidak mengerti dengan sikap Kuroko barusan tadi.

Aku memutuskan untuk memejamkan mata kembali dan tidur kembali. Aku rasa ini sudah batasku untuk berpikir ataupun mataku untuk terus terjaga.

"Aku telat!" Kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul 17.00. Aku berlarian menuju kelas yang sudah sepi dan gelap. Kuambil tasku dan bergegas meninggalkan sekolah ini.

Aku hanya berlarian sepanjang jalan berharap sampai ke Majiba secepatnya. Sesampainya di Majiba aku menggebrak pintu khusus karyawan dengan nafas yang masih tersengal-sengal.

"Hosh..Hosh.." Semua tampak sepi sepertinya memang aku sangat terlambat. Akupun bergegas berganti pakaian dan menuju kasir.

"[Name]-san kau terlambat hari ini jadi tidak perlu menjadi kasir. Manager bilang kalau kau datang kau membersihkan meja-meja saja. Ah satu lagi jika kau telat lagi maka gajimu akan dipotong. Hanya untuk hari ini dispensasi untukmu [Name]. begitu katanya." Ucap Hanako-san , salah satu karyawan yang bekerja di Majiba. Aku hanya mengangguk dan mulai melangkah mengambil alat-alat kebersihan untuk menunaikan tugasku.

"Ah sial, Hari ini memang aku tidak terlambat kesekolah tapi terlambat kerja." Ucapku mendengus kesal sambil membersihkan meja-meja tersebut menatanya kursi-kursi yang berantakan.

"[Name]" Aku mendengar suara berat dari seorang lelaki dibelakangku. Entah mengapa aku sangat mengenal suara itu sekaligus tidak ingin mendengarnya lagi. Kuputuskan untuk tidak menengok dan mengacuhkanya.

"[Name] Kau berani mengacuhkanku?" Langkahku terhenti. aku benar-benar tidak mau berurusan denganya lagi. Tapi mengapa ia datang setelah sekian lama kita tidak bertemu.

Aku hanya menengok kearahnya. Ia menatapku tajam seperti saat ia berubah. Aku mengalihkan pandanganku darinya dan berusaha bersikap normal.

"Ada yang ingin kusampaikan padamu. Kurasa sudah saatnya kau pulang. Kau tidak bisa menghindar dari takdirmu [Name]."

"Kumohon pergilah. semua sudah berakhir, Akashi Seijuro." Aku berbalik membelakanginya dan melangkah menjauhinya.

"Apa yang kau lakukan? Hei lepaskan aku Akashi-kun" Namun yang terjadi ia menarik tanganku begitu saja dan menyeretku keluar dari Majiba. semua mata tertuju pada kami, aku berusaha meronta namun hasilnya nihil ia lebih kuat dariku.

Bruk!

Dia memasukanku paksa kedalam mobilnya. membanting pintu mobil dengan kasar, disusul dirinya yang mulai memasuki mobil pribadi miliknya. Sang supir sedikit terkejut atas tindakan Tuan muda-nya namun ia tetap bungkam seolah apa yang ia lakukan tak pernah terjadi.

"[Name]" Ia memeluku erat seakan tidak ingin lepas. mengusapkan wajahnya di bahuku, mengelus pelan punggungku.

Sungguh.

Ini menyedihkan, aku tidak tahu akan bertindak apa kepada Akashi Seijuro.

"Lepaskan Akashi, Lepaskan aku" Aku mulai meronta dari pelukanya, tapi bukanya melepaskan malah semakin mengeratkan. sungguh aku tidak ingin seperti ini. Kulihat sang supir mulai keluar dari mobil meninggalkan kami berdua.

"[Name] tenang.. tenanglah. Aku mencintaimu. Sungguh [Name]" Kurasa pergerakanya mulai lemah, aku berhasil lepas dari pelukanya.

"Apa maumu? Jelaskan! Tidak seperti ini caranya, kau tahu aku sedang bekerja? Kau bilang aku ini memalukan untukmu kurang apa lagi aku menderita?"

"[Name] dengarkan aku. Kali ini dengarkan baik-baik. Kau yang bilang ingin putus denganku jadi aku lakukan sesuai keinginanmu. Sebelum kau yang memutuskan diriku. Aku berhak mengambil dirimu kembali, Aku hanya ingin membuatmu sadar kalau keputusanmu itu salah besar untuk putus denganku. "

"Apa? Yang benar saja, menyedihkan sekali Tuan Akashi ini." Aku tak menyangka, kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. seakan mencabik-cabik diriku, seakan aku tidak berhak membuat keputusanku sendiri.

"Akan aku buat kau mengerti [Name]. Kupastikan kau menjadi miliku kembali" Tak lama kemudian ia membuka pintu mobil mewahnya, mempersilahkan aku untuk keluar. Sang supir segera menghampiri Tuan-nya dan beranjak pergi dari tempat ini.

"Ah kuso!" Aku menjerit sebisaku, membuat tatapan orang mengarahku. Sedikit aku masih mempunyai rasa malu dikala emosi aku langsung lari dari tempat ini.

TBC – Chapter 5 END

Author's note : Gue apdetnya lama banget. ampe satu semester gue kelar UAS baru apdet. Di chapter ini udah keluar nih karakter Akashinya. Niatnya judul kepengen diubah jadi Kagami X Reader X Akashi. abis ada Akashinya, Ah emang gue susah ga nyelipin Akashi. Disini Akashi jahat banget yah? tapi gue suka dia yang evil, ahaha. Gimana? Basi atau biasa nih chapter kali ini? Review yah jangan lupa.

Oh ya special Thanks to :

Arisa Hamada

LavenderHime

Christa tucker

Yang udah ngereview ini, makasih loh!

Makasih reviewnya, udah setia nunggu (lebay) gue yang suka php kalo apdet. Yang follow dan favorite terimakasih atas dukungan kalian. kedepanya, cerita ini kalo emang seru author lanjut. kalo enggak bisa discontinued sewaktu-waktu. Dukung yah walaupun cuman review pakek anonim author dengan senang hati nerima. Gue terima apa adanya /EAA. sering mampir aja dimari. BYE.