Balasan Review :
Toro-kun : iyaa, nih udah lanjut. Segini mah agak panjang atuh dan alurnya juga emang sengaja sedikit dipercepat karena cerita ini gak akan terlalu panjang dan lebih dipersingkat. Maaf kalau banyak typo.
Momo yui-chan : makasih karena udah nunggu :)
Cuka-san : chapternya gak banyak kok. Palingan bakal banyak skip karena emang ceritanya dipersingkat. Makasih buat pujiannya :)
Triavivi354 : makasih yaa :)
Minato301 : iyaa, nih udah lanjut.
Guest : makasih yaa! :)
…
.
.
.
…
Tak pernah disangka-sangka akan menjadi seperti ini. Hinata tidak percaya akan ketahuan bahwa putri cantik bertopeng saat itu yang tak lain adalah dia. Juga Naruto pun tidak percaya bahwa dia memang jatuh cinta pada gadis di depannya yang tak lain adalah pelayannya sendiri.
Entah takdir atau memang hanya kebetulan. Seolah-olah mereka harus dan memang dipertemukan untuk dipersatukan oleh Tuhan. Pertemuan dan kebersamaan yang mereka alami membuat hati mereka merasakan sesuatu yang tak biasa saat keduanya saling bertemu.
"Kenapa kau melakukan ini, Hinata?" tanya Naruto.
"Ano…"
"Kenapa kau berbohong?"
"Saya tahu saya tidak pantas untuk Anda. Saya hanyalah seorang anak pembantu dan juga pelayan. Sedangkan Anda adalah seorang bangsawan kaya raya yang akan bersanding dengan wanita yang sederajat dengan Anda."
Bukan itu maksudnya! Ingin sekali Naruto membantah semua perkataan Hinata. Namun entah kenapa lidahnya terasa kelu.
"Gomenasai, Naruto-sama! Saya harap, Anda melupakan kejadian itu."
Setelah itu, Hinata berjalan keluar meninggalkan Naruto yang menatap sedih Hinata dengan hati yang penuh dengan perasaan bersalah. Hinata telah salah paham tentang dirinya. Padahal Naruto ingin mengatakan bahwa sebenarnya mencintai Hinata.
…
Anata no Tame ni (For You)
By Amaya Katsumi
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama
Pairing : NaruHina
Rate : T
Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung (dan kesalahan lainnya)
Inspiration The Story and Song from film Veer Zaraa (Tidak Semua)
Don't like, don't read
…
Kehidupan telah membawaku
Ke masa lalu
Aku dikelilingi oleh kenangan
Yang tak terhitung jumlahnya
Sekarang aku menemukan
Jawaban yang kucari
Apa yang kurindukan
Dan apa yang kuterima
Aku diperintahkan untuk terus hidup
Tapi tanpamu
Namun dalam hatiku
Api cinta selalu membakar
Untukmu
…
Beberapa hari ini hubungannya dengan sang pelayan seperti berjarak. Meski Hinata selalu melakukan tugasnya dengan baik, tapi Naruto merasakan kalau dia seperti menghindarinya. Hinata tidak pernah lagi menyapanya atau bahkan sekedar basa-basi. Padahal hubungan mereka sudah seperti teman dekat, namun sekarang tak lebih dari majikan dan pelayan.
Walaupun Hinata berusaha bersikap sopan kepadanya, Naruto merasa ada yang hampa di antara mereka. Sikap Hinata yang seperti itu terlalu kaku untuknya. Dia merindukan sikap pelayannya yang dulu, yang perhatian dan penuh canda tawa. Yang wajahnya selalu memerah tiap kali dia goda. Tapi sekarang, untuk tersenyum pun seakan hilang di telan bumi.
Bahkan sekarang pun Hinata tidak berbicara apapun saat dia memasuki kamarnya untuk mengantarkan sarapan pagi.
"Hinata!" panggil Naruto.
Gadis yang dipanggilnya itu menoleh dan langsung menghentikan langkahnya. "Ya, Naruto-sama?" sahutnya. "Ada lagi yang Anda butuhkan?" bahkan saat berbicara pun dia menundukkan kepalanya tanpa mau menatap majikannya.
Naruto menyimpan gelas kopinya lalu berjalan mendekati pelayannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Naruto.
"Apa maksud Anda?" yang ditanya malah bertanya balik.
Tangan Naruto terulur untuk memegang kedua lengan Hinata.
"Kumohon… kumohon jangan seperti ini!" ucapnya. "Kemana Hinata yang kukenal?" lanjutnya. "Hatiku sakit melihat perempuan yang kucintai seperti ini."
Kata-kata Naruto seakan menjadi mantra baginya. Hinata langsung mengangkat kepalanya. Kedua iris lavendernya menatap sang majikan dengan tatapan tidak percaya.
"Apa yang barusan Anda katakan, Naruto-sama?"
"…"
Pria itu malah terdiam. Kedua mata sapphire-nya masih menatap sang pelayan dengan tatapan yang dalam. Dia menutup matanya lalu membukanya lagi. Kedua tangannya mencengkram kedua lengan Hinata lebih erat lagi.
"Tolong jangan panggil aku dengan suffix 'sama' lagi. Dan jangan bersikap dan berbicara formal di saat kita sedang berdua." Kata Naruto.
"Kenapa?" tanya Hinata bingung.
"Karena…"
'Arrrghhhh! Kenapa sulit sekali! Kuso!' ucapnya dalam hati.
"Hinata… watashi wa anatagasuki. Iie, watashi wa anata o aishite!"
Mata Hinata terbelalak mendengar pengakuan itu.
…
Sudah seminggu sejak kejadian di kamar Naruto, dan pengakuan dari sang majikan, hubungan Hinata dengannya menjadi lebih baik. Meski agak canggung, tapi ini lebih baik dari pada waktu itu.
Dari Hati Hinata yang terdalam, dia mengakui kalau dia juga mencintai Naruto. Tidak bisa dibohongi, tapi dia memang mencintai majikannya sendiri. Namun, Hinata belum mengatakannya pada Naruto. Bukannya tidak mau, tapi dia belum punya keberanian untuk itu. padahal Naruto sendiri sudah menantikan ucapan itu dari mulut Hinata sendiri. Hinata sendiri menjadi tidak enak karena sudah seperti memberikan Naruto sebuah harapan palsu.
Untuk pertama kalinya, Naruto merasakan bahwa Hinata begitu memukau. Dimatanya, pelayannya itu terlihat sangat cantik. Entah apa yang terjadi padanya sehingga ketika hari ini Hinata datang ke kamarnya tanpa memakai baju pelayan tapi memakai gaun tidur, ada semacam hasrat liar yang sudah lama ia pendam, dan sekarang ia tidak bisa menahannya.
Mungkin karena malam ini, kedua orang tuanya pergi. Sehingga Naruto lebih leluasa bermanja-manja pada pelayannya. dan untuk pertama kalinya pula, mereka saling memiliki, bersentuhan yang sangat dekat sehingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Hinata merasakan sakit yang luar biasa ketika kesuciannya telah hilang. Dia tidak menyesali itu karena memberikannya pada pria yang ia cintai. Meski bukan suaminya, setidaknya jika mereka tidak bisa bersama, Hinata mempunyai kenangan manis bersama Naruto.
Kedua saling berpelukan di bawah sinar rembulan. Tidak ada pakaian yang membalut tubuh keduanya. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Hinata!" panggil Naruto.
Hinata menoleh. "Ya?"
"Apakah kau mencintaiku?"
Raut wajah Hinata berubah seketika. Namun dia mencoba berusaha untuk menghilangkan keraguan di hatinya dan kembali menampilkan wajah yang tersenyum lembut. Dengan penuh keyakinan, dia berkata, "Ya, Naruto-kun! Aishiteru! Sangat… aku menyukaimu sejak dulu. Dan sekarang aku semakin mencintaimu."
Kepala Hinata di tempatkan di dada bidang Naruto. Kedua tangannya memeluk tubuh majikannya. Sedangkan kedua tangan kokoh Naruto memeluk tubuh ramping pelayannya. Keduanya seakan tidak ingin kehilangan. Dengan penuh sayang, Naruto mengecup puncak kepala Hinata.
"Meski kita terpisahkan oleh kedudukan dan kasta, aku yakin kita akan bersama. Tak peduli kau pelayanku atau hanya rakyat jelata, tak peduli jika orang tuaku menentang hubungan kita, aku akan selalu mencintaimu. Karena kau adalah tulang rusukku. Tak akan ada yang bisa menggantikan dirimu." Ucapnya jujur dengan penuh ketulusan.
"Hontou ni?" tanyanya menatap Naruto.
Lama mereka terdiam, Naruto kembali memeluk Hinata. "Hai! Aku percaya takdir. Takdirlah yang telah mempertemukan kita, membawa kita sampai sejauh ini. Meski akhirnya kita terpisah, aku yakin kita akan bersatu lagi."
Kata-kata tersebut memang kejujuran hatinya, bukan hanya gombalan belaka. Hinata pun percaya itu. jika Tuhan telah menentukan bahwa mereka berjodoh, saat kematian menjemput pun mereka akhirnya akan bersama. Tuhan akan melakukan segala cara agar mereka bersatu dan tidak akan berpisah.
…
Akhirnya tiba, hari yang dinantikan oleh klan Uzumaki. Penentuan calon permaisuri untuk putra mereka satu-satunya. Namun untuk Naruto sendiri, itu adalah hal yang sangat dihindarinya. Calon istrinya harus berasal dari kalangan bangsawan juga, dan jangan lupa bahwa mereka haruslah sederajat dengan keluarga Uzumaki. Tapi hatinya telah terpaku pada pelayannya sendiri yang jauh dari keriteria calon pendampingnya.
"Tou-san, aku tidak menginginkan satu pun dari mereka." Ucapnya.
Tak hanya kedua orang tua Naruto, para tetua klan pun ikut terkejut. Dari lima gadis cantik yang dipilihkan oleh mereka, tidak ada satu pun yang diinginkan oleh Naruto.
"Ada apa, Naruto? Kau tidak ingin menikah? Umurmu sudah 30 tahun. Apa yang kurang dari mereka? Apa mereka kurang cantik?" tanya salah satu tetua.
Naruto menggeleng. "Iie! Mereka cantik. Sangat cantik malah. Hanya saja aku tidak berminat. Aku tidak menyukai mereka."
"Lalu siapa yang kau inginkan?" tanya Minato.
Dengan lantang, Naruto menjawab, "Aku mencintai Hyuuga Hinata!"
Semua orang yang ada di rumah itu terkejut dengan pernyataan Naruto yang begitu berani.
"Di mana dia sekarang?" tanya Minato.
Kedua Bodyguard Minato datang dengan menyeret Hinata ke hadapan mereka. Tubuhnya dihempaskan begitu saja.
"Dia Hinata?" tanya sang tetua. "Tapi dia adalah anak dari Hiashi yang merupakan seorang pembantu. Dia juga adalah seorang pelayan."
Dengan kekuatan yang ada, Hinata mencoba bangkit. Setelah berdiri, dia tidak berani menatap semua orang yang ada di sana. Yang dia lakukan hanyalah menundukkan kepala dengan hormat kearah pada tetua.
Para pelayan saling berbisik membicarakan orang yang menjadi objek mereka. Sedangkan Naruto sendiri membelalakan matanya melihat sang pujaan hatinya seperti malu dan ingin menangis. Lalu dia berdiri di samping Hinata.
"Katakan yang sejujurnya padaku. Apa kalian telah menjalin hubungan di belakangku?" tanya Minato yang mulai marah.
"Hai, tou-san!" jawab Naruto.
"Kalian…" geram Minato. "Apa kalian telah tidur bersama?"
Mata Hinata terbelalak.
"Ya. kami memang sering melakukannya. Kau juga tahu itu, Otou-san."
Meski perkataan Naruto barusan adalah sedikit gurauan, Minato tahu kalau Naruto mengerti maksudnya, dan dia pun mengerti maksud dari putranya. Lalu pandangannya beralih tajam pada sang pelayan. "Apa kau menggoda anakku, Hinata? Aku menyesal telah mempekerjakanmu sebagai pelayan pribadinya."
"Apa maksudmu, tou-san?" bentak Naruto. "Hinata tidak bersalah. Akulah yang mencintainya. Aku yang sengaja menidurinya. Kami sengaja menyembunyikan hubungan kami karena Hinata yang meminta. Dia sadar akan posisinya. Tapi aku tidak peduli. Maka dari itu, aku berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya."
…
Iringan mimpi
terhenti beberapa saat
Lalu kau pergi entah kemana
aku pergi entah kemana
Ini adalah kisah dua hati
yang hanya bertahan sesaat
Lalu kau pergi entah kemana
aku pergi entah kemana
…
Naruto bertanya-tanya, kemanakah Hinata? Dia sudah tidak terlihat beberapa hari ini. Sejak kejadian waktu itu, Naruto berkata bahwa dia lebih baik melepas nama Uzumaki-nya daripada harus berpisah dengan Hinata. Dan saat itu juga dia dikurung di dalam kamarnya. Setelah itu, dia tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tapi dia bisa mendengar teriakkan Hinata. Dua hari kemudian, pintu kamar Naruto dibuka. Namun yang terjadi adalah pelayannya itu tidak ada di mana-mana. Bahkan keluarganya pun tidak ada. Dia bertanya kepada para pelayan tidak ada yang tahu. Kedua orang tuanya juga sedang tidak ada di rumah. dan Naruto tidak diizinkan untuk kemana-mana selain di rumah.
Setelah 10 hari kemudian, kedua orang tuanya baru terlihat di rumah. hal yang pertama diucapkannya adalah di mana keberadaan Hinata dan apa yang terjadi padanya? sudah Minato duga akan begini. Saat ia tiba dirumah, putranya akan marah dan bertanya di mana keberadaan Hinata.
"Aku mengusirnya. Dia telah kembali ke rumahnya yang dulu."
Dengan tergesa-gesa, Naruto pergi keluar rumah. sedangkan Minato membiarkan anaknya untuk berbuat sesukanya saat ini. Dia akan memperkirakan kalau putranya akan pulang secepatnya.
…
"Hinata!" panggil Naruto.
Naruto ingat betul rumah Hinata saat dia belum bekerja menjadi pelayannya. Dia membuka pintu rumah itu dan memanggil nama Hinata, namun tidak ada jawaban. Lalu dia masuk ke dalam dan Hinata terlihat di kamarnya. Mata Naruto terbelalak ketika melihat kaki Hinata yang terluka seperti bekas cambukan.
"Hinata, apa yang terjadi padamu? Di mana ayah dan adikmu?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Gomen, Hinata! Aku tidak tahu mereka akan melakukan ini padamu."
"Aku tidak apa-apa, Naruto-kun. Jangan mengkhawatirkanku!"
…
Malam itu, Naruto tidak kembali ke rumahnya. Tapi dia menginap di rumah Hinata dan menghabiskan malam penuh syahdu di sana. Naruto tidak peduli jika dia tidak diizinkan untuk masuk ke dalam rumahnya lagi. Dia hanya ingin bersama Hinata. Percuma saja jika dia mempunyai segalanya, tapi dia tidak bisa bahagia karena keluarganya begitu keras dan penuh aturan.
Di sisi lain, Hinata menangis setelah Naruto tertidur lelap. Dia menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar dan membangunkan pria di sampingnya. Hinata bahagia karena hari ini Naruto datang menemuinya dan menghabiskan malam bersamanya. Namun dia sangat sedih karena ini adalah malam terakhirnya di kota ini.
Paginya, Naruto terbangun karena suara berisik. Terlihat Hinata tengah berkemas dengan membawa koper serta tas yang isinya terpenuhi. Sudah dipastikan kalau Hinata akan pergi, Naruto pikir.
"Kau mau kemana, Hinata?"
Sejenak Hinata menghentikan aktifitasnya lalu menatap Naruto.
"Oh, kau sudah bangun Naruto?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
Hinata menutup matanya, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Aku harus pergi!"
"Kenapa? Apa karena ayahku yang menyuruhmu?"
Hinata menggeleng.
"Lalu kenapa?"
Dengan bibir bergetar, Hinata menundukkan kepalanya. "Gomen, Naruto-kun! Aku harus mengatakan ini padamu." Air mata mulai menumpuk di matanya. "Ada pria kaya yang ingin melamarku. Dan aku menerimanya."
Jantung Naruto berdebar. Seperti ada gas meledak. Begitu sakit ketika mendengar pengakuan Hinata.
"Kenapa?" bentak Naruto.
"Aku tidak bisa terus bersamamu. Pria itu kaya tapi ingin meminangku. Sedangkan kau harus menikah dengan wanita yang sama denganmu. Bangsawan dan kaya. Gomenasai, Naruto-kun!"
Hinata mengangkat tas dan kopernya, lalu berjalan keluar kamar.
Naruto tidak percaya ini. Diantara banyak wanita, kenapa dia harus jatuh cinta pada Hinata. Dan kenapa pula kisah ini harus terjadi padanya? sudah seperti kisah film yang selalu ditonton oleh ibunya.
Secepat mungkin, Naruto meraih tangan Hinata.
HAP
Kedua tangannya mendekap tubuh Hinata dari belakang. Air suci mulai bercucuran dari matanya.
"Kumohon… kumohon, Hinata! Jangan pergi!"
Hinata mengigit bibir bawahnya. Dibiarkannya sebentar Naruto memeluknya. Dia berharap waktu akan berhenti sehingga pelukan Naruto tidak akan terlepas.
Perlahan tapi pasti, Hinata melepaskan tangan Naruto dari tubuhnya lalu membalikan tubuhnya menghadap Naruto.
"Gomen. Aku harus pergi. Aku akan menikah dengan pria yang melamarku. Dia menungguku bersama ayah dan adikku."
Perpisahan pun tidak bisa dicegah. Hinata pergi meninggalkan Naruto. Tangan Hinata perlahan terlepas dari genggamannya. Begitu berat untuk keduanya, namun inilah yang terbaik.
Hinata berjalan sambil menghapus air matanya. Ingin sekali dia melihat wajah Naruto, dan dia lakukan itu. dia balikkan tubuhnya untuk menatap Naruto sekali lagi. Pria itu hanya diam menatap kepergiannya. Tak tahan lagi, Hinata kembali menangis. Lalu dia berlari kehadapan Naruto.
HAP
Gadis itu melompat untuk memeluk Naruto. Dan Naruto membalas pelukannya. Tangisan sudah tidak bisa mereka tahan. Keduanya berpelukan begitu lamanya untuk melepas kepergian, kemudian mereka berciuman untuk yang terakhir kalinya, di bawah guyuran hujan yang cukup deras.
…
Naruto pulang dengan keadaan yang sangat berantakan. Rambutnya sudah tak beraturan, kedua matanya sembab, dan bajunya basah.
Sang ayah sudah menunggunya di ruang utama sambil menikmati segelas ocha. Lalu dia menatap remeh anaknya dan menyeringai penuh kemenangan. Naruto kembali ke rumah, berarti rencananya telah berhasil.
"Okaerinasai, Naruto!" ucapnya meski tidak ada kata 'tadaima' dari Naruto.
Tak menjawab, Naruto terus berjalan tanpa menoleh kemana pun selain ke depan. Kemudian dia melihat sepasang kaki menghalangi jalannya. Naruto mengangkat kepalanya dan terlihat Minato telah berada di depannya. Naruto sudah siap menerima segala siksaan yang akan dilakukan ayahnya. Semalaman tidak pulang, pulang dalam keadaan kacau, dan tidak menjawab ucapanya ayahnya. Namun yang diterima Naruto malah lebih menyakitkan daripada sebuah siksaan fisik. Ayahnya, mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kartu undangan.
'Toneri and Hinata'. Begitulah yang tertulis di covernya. Sangat menyakitkan ketika menerima undangan pernikahan dari wanita yang sangat dia cintai.
Naruto merebut undangan itu lalu menginjak-injaknya sambil berteriak frustasi. Sang ayah hanya diam melihat sikap putranya tanpa berbuat apa-apa.
"Kau yang melakukan semua ini, kan?" bentak Naruto sambil menunjuk wajah ayahnya. "Kau yang menjodohkan Hinata dengan pria lain."
Lama Minato tak menjawab, akhirnya dia membuka mulut. "Jika iya, memang kenapa?"
Ekspersi Naruto berubah datar. Perlahan dia menurunkan tangannya.
"Pernikahanmu dengan Shion pun tidak bisa dicegah. Hanya sebuah kebetulan bahwa Toneri menyukai Hinata. Dia bertanya tentang Hinata padaku. Dan aku sangat setuju dengan hubungan mereka." Jelas Minato.
"Hinata pun tidak bisa seperti itu terus. Dia akan bahagia saat menikah dengan pria kaya. Jika kau ingin dia bahagia, biarkanlah dia menikah. Tapi bukan dengan kau." Minato melanjutkan kata-katanya sambil berjalan menyenggol bahu Naruto.
…
Aku menyadari jeritan kesakitan
Terdengar keras di pikiranku
Namun aku akan terus maju
dengan luka ini
Tak masalah jika melupakannya
dan berakhir tanpa perasaan
Karena aku telah mengunci hatiku
yang terluka
…
Siapa yang tidak sakit jika melihat wanita yang kau cintai memilih pria lain? Siapa yang tidak sakit jika melihat wanita yang kau cintai menikah dengan pria lain? siapa? Siapa? Siapa?
Jawabannya tidak ada!
Dan siapa pula yang senang melihat senyuman yang ditampilkan wanita yang kau cintai itu ternyata palsu? Siapa yang bahagia yang melihat wanita yang kau cintai berpura-pura bahagia?
Sudah pasti jawabannya tidak ada.
Begitu pula Naruto. Ada perasaan teriris saat menghadiri pernikahan wanita yang sangat dicintainya. Semua orang yang melihatnya bersorak gembira begitu sang pengantin pria mencium pasangannya begitu upacara pengesahan pengantin selesai. Tapi tidak dengannya. Rasa sakit yang sangat menusuk memasuki hatinya. Orang lain tidak akan ada yang bisa memahaminya jika belum pernah merasakan menjadi dirinya.
Tanpa ada yang tahu, Hinata memang palsu di sini. Tersenyum palsu di depan semua orang dan berpura-pura bahagia dengan pernikahannya. Dibalik topeng yang ia pasang, hatinya merasakan sakit ketika melihat Naruto menghadiri pernikahannya. Ingin sekali dia berlari kearah pria itu lalu memeluknya, namun ia urung semua itu. Hinata sangat sedih karena menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai. Namun, apalah dayanya jika inilah yang terbaik.
Yang Hinata bisa lakukan adalah hanya berdoa untuk kebahagiaannya dan juga Naruto.
…
Dengan ekspresi wajah yang penuh keyakinan, Naruto mendekati ayahnya. Dipandangnya seorang yang rupa fisiknya yang menyerupainya. Hatinya penuh emosi yang tidak bisa ia keluarkan. Namun mungkin pilihannya adalah yang terbaik untuknya.
"Tou-san, aku mau menikah dengan Shion!"
Dan semungan kemenangan pun tersungging di wajah Minato.
…
Kehidupan telah membawaku
Ke masa lalu
Aku dikelilingi oleh kenangan
Yang tak terhitung jumlahnya
Sekarang aku menemukan
Jawaban yang kucari
Apa yang kurindukan
Dan apa yang kuterima
Aku diperintahkan untuk terus hidup
Tapi tanpamu
Namun dalam hatiku
Api cinta selalu membakar
Untukmu
…
To be continue
…
.
.
.
.
Amaya's note :
Fanfic ini gak banyak kok! 2 atau 3 chapter lagi juga udah beres.
Maafkan Amaya buat fic lain yang belum beres, tapi udah bikin cerita baru lagi. Bukannya beresin dulu, tapi malah nambahin hutang :. Tapi Amaya jamin kalau semua fic Amaya bakal selesai. Bukannya gak mau lanjutin, tapi Amaya gak dapet inspirasi :( . otak Amaya lagi stress dipake buat mikirin tugas kuliah.
Udah cukup curhatnya yaa!
Seperti biasa. sebelum meninggalkan halaman ini, diharapkan untuk meninggalkan jejak yaa! ^^. Jangan lupa beri komentarnya di kotak review! Arigatou buat reader yang udah membaca, follow, ngefav, dan mereview.
Arigatou gozaimasu! Salam manis :*
Amaya Katsmi
