Anata no Tame ni (For You)

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama

Pairing : NaruHina

Rate : T

Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung (dan kesalahan lainnya)

Inspiration The Story and Song from film Veer Zaraa (Tidak Semua)

Don't like, don't read


Kehidupan telah membawaku

Ke masa lalu

Aku dikelilingi oleh kenangan

Yang tak terhitung jumlahnya

Sekarang aku menemukan

Jawaban yang kucari

Apa yang kurindukan

Dan apa yang kuterima

Aku diperintahkan untuk terus hidup

Tapi tanpamu

Namun dalam hatiku

Api cinta selalu membakar

Untukmu


Bumi terus berputar. Waktu demi waktu terus berlalu. Keempat musim sudah dijalani selama hidup. Sudah dua kali dia kehilangan cahayanya, cintanya, tulang rusuknya. Umurnya kini tak lagi muda. Kira-kira sudah 50 tahunan. Tapi dirinya masih kuat dan bugar. Hanya garis-garis wajah yang memperlihatkan umurnya yang sudah setengah abad.

Diliriknya foto yang terpajang di sudut meja kerjanya. Di sana ada foto kedua orang tuanya. Foto wanita berambut merah dan pria bersurai sama dengan dirinya. Kedua orang itu baru saja meninggal 2 tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat. Meski dia tahu bagaimana sosok sang ayah di masa lalu, Naruto tetap menyayanginya. Sang ayah adalah sosok yang sangat ia banggakan. Serta sang ibu yang telah membuatnya lahir ke dunia yang sangat ia cintai dan sayangi. Kedua sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.

Di sebelah foto tadi, ada foto seorang gadis berambut indigo dan beriris mata biru. Umurnya sudah lebih dari 22 tahun. Ia ingat pertama kali ayahnya membawanya ke rumah di saat dia baru lahir. Anak yang telah direbut dari ibu kandungnya sendiri. Semenjak itu pula, istri sahnya, Shion langsung menggugat cerai dirinya. Sudah lama Naruto tidak bertemu dengan anaknya semenjak dia memutuskan untuk kuliah di Universitas Kyoto dan sekarang telah menjalani program pasca sarjana di sana. Terakhir mereka bertemu adalah pada saat anak itu di wisuda.

"Tou-chan!"

Suara feminism yang memanggil namanya membuatnya terperanjat. Dia simpan bingkai foto itu kembali pada tempatnya. Pandangannya beralih pada sosok gadis yang sangat ia rindukan. Gadis kecilnya yang sudah tak lagi kecil.

"Hima, kapan kau pulang? Kenapa tidak memberitahu Tou-chan?"

Gadis itu tersenyum lebar.

"Aku ingin memberi kejutan untuk Tou-chan!" ucapnya lalu berlari menghampiri ayahnya.

HAP

Himawari memeluk Naruto dengan erat.

"Aku merindukanmu, Tou-chan!"

Kehangatan menjalar dari hatinya. Naruto tersenyum lembut sambil balas memeluk anaknya. Sebelah tangannya membelai surai indigo sang anak.

"Tou-chan juga merindukanmu!"

CUP

Naruto mencium kening putrinya. Duduk dipangkuannya, sudah lama sekali anaknya tidak bemanja-manja padanya. Tangan mungilnya terulur ke kepala sang ayah. Jari-jari lentiknya memainkan rambut Naruto.

"Tou-chan, ternyata kau sudah tua!" godanya sambil terkekeh geli. "Kau sudah banyak uban."

Naruto menyeringai. "Kalau begitu, cepatlah menikahlah dan berikan tou-chan seorang cucu!"

Wajah Himawari tiba-tiba memerah. Hal itu membuat Naruto tertawa.

Meski kisah percintaannya tidak semulus orang lain, dia pernah gagal berumah tangga, serta hubungannya dengan kedua orang tuanya tidak sedekat orang lain, Naruto menjamin hal itu tidak akan terjadi kepada kedua anaknya. Dia membebaskan anaknya dari aturan keras klan-nya. Meski dia tidak tahu keberadaan putranya dengan ibunya, Naruto percaya bahwa mereka akan baik-baik saja. mereka bahagia di tempat entah di mana.

"Papa!"

Pria itu menoleh.

"Ada yang ingin bertemu denganmu."

Pria itu membelalakan matanya ketika melihat orang yang dimaksud.

"Naruto!" gumamnya.

"Ah, nama saya Hyuuga Boruto! Sebelumnya, maaf karena mengganggu waktu Anda, Uchiha-san!"

"Hn. Ada apa kau ingin menemuiku?"

Tiba-tiba jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Bertemu dengan Uchiha Sasuke memang membuat siapa saja sulit menelan ludahnya ketika melihat tatapannya yang tajam. Namun ini lebih dari itu karena ada hal yang lebih penting.

Dia tarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya.

"Kedatanganku kemari adalah… aku ingin melamar Sarada." Ucapnya mantap.

Bukan hanya Sasuke saja yang terkejut. Sarada sendiri pun ikut terkejut. Pasalnya dia tidak tahu kalau Boruto akan menemui ayahnya untuk melamarnya.

"Apa kau sudah mantap ingin meminang putriku? Lalu apa yang kau punya?"

"Kami sudah menjalani hubungan selama bertahun-tahun. Soal itu… saya memang tidak punya apa-apa. Pekerjaan saya hanyalah seorang pilot. Dan mungkin saja Sarada akan sering ditinggalkan." Jelasnya sedikit kecewa.

"Jangan bicara formal padaku. Santai saja." ucap Sasuke datar.

"Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga. Tabunganku sudah cukup untuk pernikahan. Dan aku membuka bisnis toko bunga yang cukup besar. Dulunya itu adalah milik ibuku. Tapi toko itu kemudian diambil oleh orang lain. dan sekarang aku membelinya lagi lalu menjalani usahanya untuk ibuku."

Dari perkataannya, Sasuke seperti melihat sosok temannya. Orang yang penuh semangat dan tidak mudah menyerah. Serta menyayangi ibunya.

"Siapa orang tuamu?"

Tiba-tiba senyum di wajah Boruto memudar.

"Apa?"

"Ceritakanlah tentang dirimu! Jika kita akan menjadi keluarga, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi, kan?"

"Sebenarnya ini adalah masalah pribadi. Tapi, karena kita akan menjadi keluarga, tidak ada salahnya aku mengatakan ini." Ucapnya dengan percaya diri. "Aku hanya tinggal dengan ibuku. Hyuuga Hinata. Di pedesaan daerah Okinawa. Selama ini aku tidak tahu di mana ayahku, dan apakah dia masih hidup atau tidak. Aku juga tidak tahu dari mana uang mengalir ke rekening ibuku. Padahal dia tidak bekerja. Setelah aku bekerja, barulah dana itu tidak pernah ada lagi. Lalu kami kembali ke rumah kami di sini. Di Tokyo."

Sudah Sasuke duga. Dia mempunyai teman yang kisah percintaannya begitu menyedihkan. Dan Boruto ini sangat mirip dengannya. Bukan hanya dari fisik, tapi juga sifatnya.

"Baiklah, aku mengerti!"

Sasuke mengangkat tubuhnya lalu berjalan melalui Boruto. Lalu pria paruh baya itu berdiri di depan jendela yang menyinarinya dengan cahaya matahari.

"Jadi, bagaimana Papa?" tanya Sarada bingung.

Sasuke menutup matanya.

"Aku tidak akan bisa menerimamu jika kau menyakiti Sarada." Kepalanya menoleh untuk melihat pria yang melamar putrinya. "Keputusanku ada di tangan Sarada."

Boruto tahu maksudnya itu. lalu dia melirik orang yang dimaksud.

"Aku…" ucapnya terbata-bata. "Aku mau menerimanya, Papa!"

Boruto pun senang bukan main. Kali ini dia akan memulai hidup barunya bersama wanita pujaan hatinya.

"Tadaima!"

"Okaerinasai, Boruto!"

Pria berumur hampir 27 tahun itu pulang ke rumahnya dan disambut oleh sang ibu yang masih terlihat cantik di usia senja.

Mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan. Kebiasaan yang selalu membuat Boruto betah di rumah adalah masakan sang ibu yang tak pernah membuatnya bosan. Walau hanya tinggal berdua, tapi suasana di rumah terasa sangat hangat. Dulunya mereka tinggal bertiga dengan sang kakek, Hiashi. Tapi dia meninggal beberapa tahun yang lalu akibat sakit.

"Kaa-chan…" panggil Boruto yang membuat Hinata menghentikan pekerjaan membereskan meja makan.

"Aku telah melamar Sarada. Sasuke-jisan menerimaku."

Hinata tersenyum riang. Dia mengenggam tangan Boruto, lalu memeluk anaknya.

"Omedetou, Boruto! Kaa-chan senang kau akan menikah."

Boruto tersenyum. namun tiba-tiba dia memandang ibunya dengan wajah sedih.

"Tapi, aku tidak mau meninggalkan kaa-chan."

Hinata mengerti. Putranya telah terbiasa hidup dengannya. Namun suatu saat dia harus melepas Boruto. Dan inilah saatnya! Putranya akan berkeluarga. Ia harus bisa menerimanya walau harus hidup sendiri.

"Boruto, kaa-chan tidak apa-apa. Kau pergilah dengan Sarada. Kau harus berpisah dengan kaa-chan karena kau akan berkeluarga."

Kedua mata Boruto berlinang air mata. Dia bersyukur karena bisa lahir dari Rahim Hinata. Dia sangat beruntung mempunyai ibu seperti Hinata. Yang baik, rajin, pintar, dan lain sebagainya.

Memeluk sang ibu, sambil menangis haru. Sebenarnya dia tak sanggup berpisah dengan ibunya. sang ibu adalah segalanya untuknya. Senyuman lembutnya, dan sentuhan kasih sayangnya yang tidak akan Boruto lupakan.

"Aku menyayangimu, kaa-chan!"

Hinata pun ikut tersenyum sambil balas memeluk sang anak.

Tidak akan dia biarkan anaknya menderita. Kisah cintanya terhalangi oleh kedudukan dan kasta. Dan dia tidak akan membiarkan Boruto tertekan oleh kerasnya aturan klan ayah biologisnya. Untung saja tidak ada yang tahu bagaimana dan dari mana asalnya Boruto yang sebenarnya.


Setelah tengah malam yang bersinar

Air mata itu kini menyatu dengan perasaanku

Meski pun aku tak dapat berkata jujur

Lagu tengah malam yang kuteriakkan

Sebenarnya aku benci kesepian

Sejak saat itu aku telah mengetahui hal yang berharga

Luka baru pun hadir setiap kali berusaha kuat

Hatiku ini bagaikan kaca yang hancur

Muncul bagaikan mimpi sesaat

Kita semua berpura-pura bertingkah

Seolah telah menaklukan dunia yang gelap ini

Aku telah berjalan dengan terus membawa kebebasanku

Setiap kali ada perpisahan, rasanya langit ini akan tenggelam kembali

Aku akan memberimu kebsaikan yang selalu ada di hatiku

Aku tidak akan menyerah begitu saja

Dengan sendok kecil saja sudah cukup

Untuk memperoleh kebahagiaan

Hanya saja, adakah orang yang ingin membaginya?


Di pertengahan bulan ini, butiran salju turun di penghujung tahun. Dinginnya udara, tidak membuat orang-orang menghentikan aktifitasnya. Meski kebanyakan orang memilih untuk menghangatkan dirinya di dalam rumah dengan tungku api, masih saja ada yang bepergian keluar menembus dinginnya salju yang begitu menusuk.

Begitu juga dengan Boruto. Saat ini ia ingin pergi ke butik untuk menyewa baju pengantin. Tidak ada Sarada karena dia sedang bersama ayahnya. Katanya dia akan menyusul.

Yang dia khawatirkan bukan pernikahan, bukan pula soal keluarga Uchiha. Tapi soal ibunya yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Boruto tidak yakin akan baik-baik saja setelah ini.

BRUUK

"Awww!"

"Ittai!"

Ucap mereka bersamaan. Setelah merenungkan kesakitan setelah sama-sama terjatuh, mata mereka bertemu.

"Kaa-chan!"

"Tou-chan!"

Lagi-lagi mereka sama-sama bergumam. Setelah itu, Boruto lah yang terlebih dahulu bangun dan mengulurkan tangannya kepada gadis yang dia tabrak.

"Sumimasen, aku tidak melamun tadi."

Gadis itu menggeleng lalu menerima tangan Boruto. "Iie! Aku yang salah karena tidak melihatmu." Lalu dia membersihkan salju yang mengotori bajunya.

"Ohh ya, bisakah kita bicara sebentar. Aku akan mentraktirmu segelas coffe."

Tanpa ada keraguan, gadis itu menggangguk.

CEKLEK

"Ohh, ternyata kau, Sasuke! Ada apa?"

Orang yang dimaksud tidak menjawab dan terus berjalan kearahnya. Lalu dia menyodorkan sebuah kartu seperti undangan pernikahan.

"Apa itu undangan pernikahan?" tanyanya

Sasuke mengangguk.

"Putriku akan menikah."

"Wah, ternyata Sarada akan menikah. Tidak kusangkan akan secepat ini." Ucapnya lalu membuka undangan itu. matanya tiba-tiba terbelalak melihat nama sang calon mempelai prianya.

"Ada apa, Naruto?"

Ekpresi Naruto berubah drastis. Dan itu membuat Sasuke bingung. Karena Naruto hanya menjawab dengan gelengan.

"Sarada akan menikah dengan Boruto?"

"Kau mengenalnya?"

Naruto kembali menggeleng. Dia mengangkat tubuhnya lalu berjalan kearah jendela.

"Sebenarnya aku tidak yakin. Tapi… dia adalah putraku." Katanya sambil memadang suasana luar yang sedang dituruni salju.

Sasuke tidak terkejut.

"Sudah kuduga!"

Pandangannya beralih pada Sasuke.

"Dia mirip sekali denganmu. Awalnya aku hanya mengetahui kalau dia adalah manager di perusahaanku tanpa tahu bagaimana rupanya. Tapi, setelah melihat langsung, aku merasa melihat dirimu saat seumurnya." Jelas Sasuke.

"Kau ingin bertemu dengannya?" tanya Sasuke lagi.

Ekspresi Naruto kembali muram.

"Aku belum siap. Aku terlalu pengecut untuk bertemu dengan putraku sendiri, terutama ibunya."

Kedua orang itu duduk di bangku taman. Salju masih turun dan menerpa tubuh mereka. Boruto dan Himawari duduk bersebelahan sambil menikmati secangkir coffe.

"Kau mirip sekali dengan ibuku."

Himawari menoleh. Sedikit terkejut dengan perkataan pria di sampingnya.

"Kau juga mirip sekali dengan ayahku."

Kali ini Borutolah yang terkejut.

Cangkir coffe yang dipegang Himawari di simpan di sampingnya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah foto. Sosok pria bersurai kuning dan bermata biru. Tidak lupa dengan 3 pasang garis di pipinya. Itu adalah sosok pria yang diperlihatkan Himawari padanya. bukankah itu ayahnya?

Boruto semakin terkejut. Lalu dia juga mengeluarkan foto dari jaketnya. Membuat Himawari ikut terkejut.

Dipandangnya kedua foto tersebut. Mereka merasa seperti ada yang janggal. Foto itu seperti terpisah. Lalu mereka mencoba menyatukan kedua foto itu. dan hasilnya…

Cocok!

Foto itu memang tersobek sehingga kedua objeknya terpisah. Foto Naruto yang begitu tampan ada di Boruto, dan foto Hinata yang sedang memakai baju pelayan ada di Himawari.

"Apakah kau…" Tanya Himawari terbata-bata.

"Kau adalah adikku."

Mereka pun berpelukan sambil menangis haru.

Apakah ini takdir? Inikah perasaan yang dikatakan semua orang? Mereka berkata jika perasaan sebuah kakak dan adik itu terhubung seperti tali yang dihubungkan.

Mereka tidak percaya ini! Mereka sendiri tidak tahu jika mereka mempunyai saudara. Akhirnya mereka dipertemukan meski sama-sama sudah dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya dia dapat bertemu. Sosok yang paling ingin dia temui. Yang tak pernah ia tahu keberadaannya. Ibunya. wanita yang telah melahirkannya.

Dia tidak tahu kalau toko bunga ini ternyata milik kakaknya dan tengah dijalani untuk ibunya. di sini tanaman hiasnya begitu lengkap. Jadi dia tidak sulit mencari bunga kesukaannya.

"Ternyata ini milikmu, nii-chan!"

"Ya, aku baru membelinya beberapa minggu yang lalu. Aku tahu dulunya ini adalah milik kaa-chan. Jadi aku hanya kembali mengambil yang seharusnya menjadi hakku dan kaa-chan."

Setelah berlama-lama melihat bunga, Himawari diajak ke dalam rumahnya. Inilah yang paling dinantikannya. Melihat seperti apa sosok ibunya.

"Tadaima!" ucap Boruto.

Tak ada jawaban dan ini membuat Boruto sedikit kesal.

"Kau tunggu di sini."

Himawari mengangguk. Dia duduk di ruang utama menunggu kedatangan kakaknya dengan ibu kandungnya. Ada perasaan gugup dalam dirinya. Tapi di sisi lain, perasaan senang lebih banyak lagi.

"Kaa-chan, ada yang ingin bertemu denganmu." Dapat terdengar suara Boruto yang sedang berbicara dengan ibunya.

"Siapa dia?"

Suara lembut yang terdengar membuat Himawari mengangkat kepalanya.

"Dia seorang gadis cantik."

"Benarkah? Apa dia Sarada?"

"Kaa-chan lihat saja!"

Dari kejauhan, Himawari dapat melihat sosok wanita paruh baya yang membelalakan matanya ketika melihat dirinya. Himawari mengangkat tubuhnya agar dapat berjalan dan lebih jelas lagi melihat wanita itu.

"Kaa-chan, perkenalkan! Dia Uzumaki Himawari." Ucap Boruto.

Tak ada jawaban dari kedua perempuan itu. mereka hanya saling memandang dari kejauhan.

"Putriku!"

"Kaa-chan!"

Gumam mereka bersama-sama.

Kemudian mereka berlari lalu saling memeluk. Ada isak tangis terdengar dari mereka. Bukan menangis karena sedih atau marah, tapi karena terharu.

"Benarkah ini kau, anakkku?"

"Hiks hiks… ya kaa-chan. Ini aku."

"Sudah lama sekali. Kaa-chan tidak pernah melihatmu. Pertama kali bertemu, kau sudah sebesar ini. Bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia dengan tou-chan-mu?"

Himawari mengangguk.

"Aku bahagia dengannya. Meski aturan klan begitu keras. Namun tou-chan membebaskanku. Dan aku akan lebih bahagia jika kaa-chan dengan nii-chan bersama kami."

Pemandangan ini membuat siapapun akan ikut menangis haru. Begitu juga dengan pria yang sedang bersama mereka. Boruto tidak ingin menangis. Tapi air matanya menetes begitu saja melihat adegan yang dramatis ini.

"Kaa-chan, apa kau membenci tou-chan?"

Hinata menggeleng.

"Tidak, Hima! Hanya saja kaa-chan sudah berjanji pada tetua klan Uzumaki untuk tidak pernah menemui ayahmu lagi."

Kini gilirannya. Jantungnya berdegup kencang. Setelah Himawari menginap di rumahnya dengan sang ibu, adiknya itu mengajaknya untuk bertemu dengan sang ayah sekalian mengantarnya pulang.

Selama ini dia tidak pernah tahu bagaimana sosok sang ayah. Rupanya, sifatnya, dan bagaimana keadaannya sekarang. tapi, dulu ibunya pernah mengatakan…

"Kau semakin mirip dengannya."

"Siapa?"

Dengan tersenyum, ibunya berkata…

"Ayahmu."

Ibunya pernah berkata juga kalau dia sebenarnya pernah bertemu dengan sang ayah di saat dirinya baru berumur 5 tahun. Tapi dia tidak ingat sama sekali ayahnya itu.

Mereka telah sampai di depan mansion Uzumaki. Boruto memandang rumah itu takjub. Dia tidak menyangka jika ayahnya sekaya ini. Pantas saja mereka bisa menjadi penguasa daerah sini.

Mengikuti Himawari, Boruto hanya menuruti. Detakan jantungnya semakin kencang. Inilah saatnya dia bertemu dengan sosok yang sudah lama tidak dia temui. Sosok yang katanya sangat mirip dengannya.

Ketika tiba di sebuah ruangan seperti ruang kerja, Boruto dapat melihat seorang pria yang sedang berkutat dengan setumpuk kertas. Tubuhnya tiba-tiba mematung di tempat dengan mata terbelalak.

"Hima.. kau kema—" ucapnya terpotong saat melihat sosok pria di belakang Himawari.

Perlahan, dia mengangkat tubuhnya dari tempat duduk.

"Kau…" gumamnya terbata-bata.

"Tou-chan, dia ingin bertemu denganmu. Dan kurasa, aku tidak perlu memperkenalkannya."

Berjalan perlahan, Naruto mendekati seseorang yang sangat mirip dengannya itu. genangan air mata terlihat di pelupuk matanya.

"Tou-chan!" panggil Boruto.

"Apa kau Boruto?"

Boruto mengangguk.

"Benarkah ini kau?" Kedua tangan Naruto memegang pipi Boruto. "Astaga! Aku tidak percaya ini kau, anakku!" pria paruh baya itu memeluk Boruto. "Aku mengira jika aku tidak akan pernah bertemu denganmu, Boruto! Terakhir kumelihatmu di saat kau masih kecil."

Akhirnya mereka menangis bahagia. Himawari yang melihatnya tersenyum lalu memilih pergi untuk memberi ruang untuk mereka berdua. Dan seorang ayah yang baru bertemu dengan putra sulungnya itu memilih untuk melanjutkan perbincangan mereka di sofa.

"Bagaimana keadaan ibumu?"

"Dia baik-baik saja. hanya saja, aku tidak tahu keadaannya sekarang. tapi aku selalu merasa kalau kaa-chan sering sakit-sakitan akhir-akhir ini."

"Apa pekerjaanmu, sekarang? kenapa tidak bekerja di sini saja bersama tou-chan?"

Boruto tersenyum. "Gomen, tou-chan! Aku sudah menikmati pekerjaanku sebagai pilot."

Ekspresi Naruto perlahan berubah menjadi murung. "Maafkan, tou-chan! Selama ini tou-chan tidak ada untuk kalian. Tou-chan hanya bisa mentransferkan uang tanpa bisa menemui kalian."

Boruto membelalakan matanya. "Jadi kau yang mengirimkan uang selama ini?"

Naruto mengangguk.

"Aku tidak menyangka kalau kau begitu pengecut, tou-chan! Kami tidak butuh uangmu, tapi kami butuh tanggungjawabmu!" tiba-tiba Boruto berdiri di hadapan Naruto. "Kau tahu, tou-chan? Aku sering melihat kaa-chan menangis. Setelah kulihat, ternyata ada foto dirimu."

Amarah Boruto memuncak. Kenapa dia bisa mempunyai ayah seperti Naruto.

"Awalnya aku membencimu karena kau tidak ada untuk kami. Dan aku pun sempat membenci diriku sendiri karena mempunyai rupa fisik yang persis sepertimu. Aku disembunyikan oleh dari public oleh kaa-chan karena keberadaanku sangat berbahaya jika diketahui oleh orang lain, terutama keluarga Uzumaki. Tahukan kau jika kami telah berjuang keras? Apa kau pernah berniat untuk bertemu kami saat kau telah menjadi pemimpin klan-mu?"

"…"

"Kurasa tidak! Padahal kau membebaskan semua aturan klan Uzumaki setelah kau yang memimpin."

Boruto kecewa pada ayahnya. Dia tidak menyangka bahwa Naruto begitu pengecut. Tidak ada gunanya lagi dia berceloteh panjang lebar. Karena sedari tadi Naruto terus diam tanpa berniat untuk membantah bahkan berbicara.

"Aku pergi!" Boruto membalikkan arahnya untuk membelakangi Naruto. "Gomen karena mengganggu waktumu. Aku kemari hanya mengantar Hima pulang." Lalu dia berjalan untuk meninggalkan ruangan.

Tiba-tiba langkah Boruto terhenti di tengah lawing pintu. "Ohh iya, aku lupa memberitahumu. Minggu depan aku akan menikah. Dan kurasa, undangan telah sampai padamu." Boruto berkata tanpa membalikkan tubuhnya.

Setelah itu, Boruto kembali melangkah. Meninggalkan Naruto yang masih termenung di tempat duduknya.

Tak lama kemudian, Himawari datang menghampirinya.

"Tou-chan, apa yang terjadi? Kenapa nii-chan pergi dalam keadaan marah?"

Naruto menggeleng tanpa mengangkat kepalanya.

"Tou-chan memang pengecut! Tou-chan telah memisahkanmu dari ibumu, dan tidak pernah ada untuk kedua orang lagi yang paling tou-chan cintai. Tou-chan terlalu lemah pada aturan klan yang kejam."

Himawari memandang ayahnya sendu. Dia tahu penderitaan kedua orang tuanya begitu memilukan. Kehidupan mereka di masa lalu begitu keras. Pantas saja dia sering melihat ayahnya menangis seperti telah menyesali suatu hal. Meski fakta yang terjadi padanya begitu menyakitkan. Tapi dia tidak sedikit pun membencinya. Karena walau bagaimana pun dia adalah ayah kandungnya. Seseorang yang telah membesarkannya hingga saat ini.

"Tou-chan, apa kau masih mencintai kaa-chan?" tanya Himawari.

"Dari dulu hingga sekarang, perasaan tou-chan pada ibumu masih sama. Sosok Hinata tidak pernah tergantikan di hati tou-chan. Ya, tou-chan sangat mencintainya."


Kehidupan telah membawaku

Ke masa lalu

Aku dikelilingi oleh kenangan

Yang tak terhitung jumlahnya

Sekarang aku menemukan

Jawaban yang kucari

Apa yang kurindukan

Dan apa yang kuterima

Aku diperintahkan untuk terus hidup

Tapi tanpamu

Namun dalam hatiku

Api cinta selalu membakar

Untukmu


To be continue


Balasan review :

Ana : Ok! ^^

Guest : jangan dong! Nanti tampannya hilang :D

Anggi575 : Ya, lihat aja nanti! ^^

Guest : waktu Naruto kembali ketemu sama Hinata, kan mereka kembali berhubungan selama beberapa hari. Adegan itu Amaya skip. Amaya rasa itu udah jelas kalau yang baca ngerti.

Byakugan no Hime : Amaya juga gak tega kalau Minato jadi jahat T_T. tapi ini karena tuntutan alurnya :D. soal endingnya, lihat aja nanti yaa! ;)


Amaya's note :

Moshi-moshi, minna-san! Ketemu lagi dengan Amaya Katsumi! ^^

Kayaknya ceritanya makin aneh aja deh -_-

Duh, Amaya gak habis pikir T_T.

Setelah panasnya kasus sianida, sekarang pribadi ganda. OMG!

Duh, ngomong apa sih? :D

Sudah cukup bicaranya!

Seperti biasa. Sebelum meninggalkan halaman ini, diperkenankan untuk meninggalkan jejak terlebih dahulu. Jangan lupa beri komentarnya di kotak review! Terima kasih buat yang udah ngefollow, ngefav, ngereview, dan juga telah membaca. Maaf buat segala kesalahannya!

Big kiss and hug :*

Arigatou gozaimasu

Amaya Katsumi