Balasan Review :

Ana : Emang, kasian banget! (T_T)

Byakugan no Hime : bisa jadi :D. duh, maaf, maso itu apa yah? Maaf, Amaya kudet :D

PixelG : makasih yaa buat pujian sama semangatnya! ^^. Duh, emangnya ada apa ya dengan PixelG-san?


Kehidupan telah membawaku

Ke masa lalu

Aku dikelilingi oleh kenangan

Yang tak terhitung jumlahnya

Sekarang aku menemukan

Jawaban yang kucari

Apa yang kurindukan

Dan apa yang kuterima

Aku diperintahkan untuk terus hidup

Tapi tanpamu

Namun dalam hatiku

Api cinta selalu membakar

Untukmu


Hari yang dinanti-nantikan telah tiba. Hari yang pasti diidam-idamkan oleh umat beragama semua orang di dunia. Hari yang begitu sakral sehingga sepasang manusia disahkan hubungannya hanya dengan mengucapkan janji suci di depan Tuhan dengan dihadiri oleh banyak orang sebagai saksi penyatuan hubungan keduanya.

"Selamat ya, nak! Semoga kalian selalu bahagia dan langgeng selamanya!" ucap wanita paruh baya itu.

Sang mempelai pria terharu. Genangan air di matanya begitu jelas.

"Semua usahaku tidak akan berjalan lancar jika tidak ada restu darimu, kaa-chan!"

Lama mereka saling memandang, akhirnya ibu dan anak itu saling berpelukan. Sedangkan sang mempelai wanita ikut terharu melihatnya. Dia tersenyum tipis tanpa merasa terabaikan.

"Sarada, kaa-chan titip Boruto! Dia sedikit kikuk dan agak ceroboh."

Yang dibicarkan memasang wajah cemberut dengan kedua pipinya yang sedikit memerah. Sedangkan Sarada terkekeh geli.

"Ngomong-ngomong, apa kau tidak apa sering ditinggalkan Boruto, Sarada?" tanya Hinata.

Sarada menggeleng. "Aku tidak apa-apa, kaa-chan!"

"Yang harus dikhawatirkan itu adalah kau, kaa-chan! Apa benar kaa-chan tidak apa-apa sendirian?" sanggah Boruto.

"Kaa-chan akan baik-baik saja, sayang! Jangan khawatirkan kaa-chan!"

"Jika kaa-chan merasa kesepian, aku akan menemimu. Atau kaa-chan datang ke rumah kami." Ucap Sarada.

Hinata tersenyum.

Tanpa disadari, dari kejauhan tampak seorang pria paruh baya yang memperhatikan sang raja sehari. Dengan tatapan sedih, dia berdoa dalam hati untuk kebahagiaan putranya yang tengah menikah pada hari ini. Tidak ada niatan untuk menemui sepasang pengantin itu. dia hanya ingin melihat wajah bahagia putranya saat menikah. Dia takut putranya akan malu mempunyai ayah pengecut seperti dirinya. Tanpa menyadari bahwa wanita paruh baya yang sedang bercengkrama dengan mereka adalah Hinata. Wanita yang sampai sekarang masih menjadi tambatan hatinya.

Perasaan yang sama pula dirasakan oleh Hinata. Dia merasakan ada sesuatu yang dia rasa begitu berharga ada di dekatnya. Naruto ada di sini, tanpa Hinata sadari. Dan posisi Hinata yang membelakangi jarak pandang Naruto membuat dia tidak tahu kalau itu adalah Hinata. Padahal dia tahu kalau Hinata pasti akan hadir di pesta pernikahan Boruto. Terbukti dengan perasaannya yang begitu kuat seolah terhubung dengan Hinata.


Anata no Tame ni (For You)

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama

Pairing : NaruHina

Rate : T

Warning : Typo, gak jelas, gak nyambung (dan kesalahan lainnya)

Inspiration The Story and Song from film Veer Zaraa (Tidak Semua)

Don't like, don't read


Lagi-lagi sudah bertahun-tahun berlalu. Setiap hari yang dirasakan Naruto begitu hampa. Dan yang dia lakukan hanyalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Umurnya semakin hari semakin berkurang. Tapi masih ada hal yang belum dia selesaikan. Seperti meminta maaf kepada Hinata dan Boruto dan mempertanggungjawabkan semua kesalahannya selama ini. Serta, Naruto ingin sekali melihat putri menikah sebelum akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tiba-tiba dadanya terasa sakit. Sebelah tangannya mengcengkram bagian yang terasa nyeri. Nafasnya pun menjadi ikut sesak. Sebelah tangannya lagi mencari-cari sesuatu di dalam laci. Setelah ditemukan, Naruto langsung menegak isinya sebanyak 2 butir saja.

Mungkin inilah penyakit tua, padahal umurnya belum terlalu tua. Orang yang sering stress seperti dirinya pasti kebanyakan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri seperti kebanyakan tradisi di Jepang. Tapi tidak dengan dirinya. Sebelum semua urusannya beres, Naruto belum boleh mati. Jika tidak, ia akan meninggalkan beban untuk orang-orang yang dia tinggalkan.

Tak beberapa lama kemudian, efek dari obat yang ia minum mulai bekerja. Sakitnya mulai berkurang dan dirinya menjadi lebih baik.

"Otou-chan!"

Naruto menoleh pada putri semata wayangnya yang berjalan menghampirinya. Gadis itu semakin cantik seiring bertambah dewasanya ia.

"Ada apa, Hima? Kau terlihat bahagia."

Wajah Himawari memang selalu terlihat ceria. Tapi sekarang dia terlihat berbeda dari biasanya. Setelah Naruto berkata demikian, kedua pipi Himawari mengeluarkan semburat merah.

"Kau terlalu berlebihan, Tou-chan!"

Naruto tersenyum. "Tidakkah kau ingin berbagi kebahagiaanmu dengan Otousan-mu ini?"

Tiba-tiba senyum Himawari memudar ketika ia memandang wajah Naruto. Ia ulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh wajah ayahnya.

"Tou-chan, wajahmu terlihat pucat!" seru Himawari. "Apa kau sakit? Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanyanya khawatir.

"Tou-chan tidak apa-apa, sayang! Mungkin tou-chan hanya kelelahan."

Himawari memaksakan wajahnya untuk tersenyum.

"Kalau begitu, aku ingin membawa kabar gembira untukmu."

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Apa itu?"

Himawari mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto seorang pria. Naruto sudah mengerti apa yang anaknya itu maksud.

"Apa dia pacarmu?"

Himawari mengangguk. "Namanya Yamanaka Inojin. Aku sudah berpacaran dengannya selama 3 tahun ini. Bagaimana menurutmu?"

Naruto mengembalikan ponselnya kepada Himawari.

"Kau berhubungan dengan seorang pria tanpa sepengetahuan tou-chan?"

Himawari sedikit mematung. Lalu dia memainkan kedua jari telunjuknya sambil memalingkan wajahnya.

"Eto… gomenasai, tou-chan!"

Naruto terkekeh geli. Dia memandang putrinya yang sangat mirip dengan ibu kandung dari putrinya itu. memainkan kedua jari telunjuknya seperti itu di saat gugup, mirip sekali dengan Hinata.

"Apa dia sudah melamarmu?"

Lalu gadis itu memandang wajah ayahnya dengan serius.

"Sebenarnya belum. Dia hanya bilang ingin menjalani hubungan lebih serius mulai sekarang."

"Souka!"

"Oh iya, sebenarnya ada Onii-chan menunggu di bawah."

Naruto terkejut.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Dia baru saja mengirim pesan."

Naruto menghela nafasnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Sudah lama sekali dia tidak menemui putranya. Dan kali ini Boruto datang menemuinya. Dia sendiri belum menyiapkan mentalnya.

"Jangan takut, tou-chan! Tidak akan apa-apa!" Himawari mencoba memberinya semangat.

Sang ayah membalasnya dengan senyuman.

Di ruang tamu, tampak putranya sedang duduk menunggu sambil mengobrol dengan seseorang. Ada yang aneh menurut Naruto. Kali ini anaknya tidak sendiri atau hanya didampingi oleh Himawari ketika berkunjung ke sini. Tapi dia membawa keluarga kecilnya.

Ketika Boruto dan Sarada menyadari keberadaan sang tuan rumah, mereka berhenti bersuara. Kemudian Naruto duduk di sofa yang berhadapan dengan keluarga baru anaknya. Keduanya sama-sama tidak mengeluarkan suara beberapa saat.

Namun akhirnya Boruto mulai berbicara.

"Tou-chan, bagaimana keadaanmu?"

"Cukup baik. Bagaimana denganmu dan keluarga barumu?"

"Kami baik-baik saja. bukan begitu, Sarada?"

Sarada mengangguk.

"Syukurlah. Kalian terlihat bahagia." Semuanya jadi ikut tersenyum. "Lalu, bagaimana dengan Okaasan-mu?"

"Kami belum mengunjunginya. Rencananya kami akan ke sana setelah pulang dari sini." Jawab Boruto.

"Gomena!"

"Untuk?"

"Semuanya. Terutama karena tou-chan membuatmu dan Hinata menderita. Dan juga karena tou-chan tidak menghadiri pernikahan kalian."

"Itu tidak masalah, tou-chan!" kali ini Sarada yang berbicara. "Barangkali tou-chan belum mengetahui cucu pertamamu."

Pandangan semuanya beralih pada anak yang kira-kira berumur setahun kurang dalam gendongan sang ibu.

Naruto pun mencoba untuk menggendongnya.

"Namanya Kenzo. Umurnya baru 9 bulan. Entah kenapa, aku merasa dia lebih mirip denganmu daripada Boruto." Ucap Sarada.

"Yah, kurasa ada 4 keturunan Uzumaki yang berambut kuning dan bermata biru." Ucap Naruto sambil memperhatikan.

"Ngomong-ngomong, marga kami adalah Uzumaki. Kaa-chan memintaku untuk mengubah nama keluargaku sebelum akhirnya aku berkeluarga." Ucap Boruto.

Naruto sedikit terkejut mendengar itu. namun di sisi lain dia bahagia karena putranya tidak membencinya. Dan dia rasa Hinata pun begitu.

Melihat cucu pertamanya seolah beban yang dia rasakan menguap sudah. Dia senang karena kisah asmara putranya tidak seperti dirinya. Dan dia berharap semoga anak-anaknya tidak akan seperti dirinya.

'Ceklek'

"Konichiwa, Uzumaki-san!"

Sang tuan rumah melirik tamu itu dari bawah ke atas.

"Ah, aku tahu kau! Kau pacarnya Hima, kan?"

Orang itu sedikit terkejut.

"Itu benar, Uzumaki-san!"

"Tapi, Hima sedang tidak berada di rumah."

Sang tamu tersenyum.

"Tapi kedatangan saya kemari bukan untuk menemui Himawari. Melainkan bertemu anda, Uzumaki-san!"

Naruto sedikit bingung. Sebenarnya ada apa Yamanaka Inojin sampai ingin bertemu dengannya.

Setelah Naruto mempersilahkan Inojin masuk, mereka duduk saling berhadapan. Pria paruh baya itu masih menilai pria yang telah memacari putrinya.

"Ada apa sampai kau ingin bertemu denganku?" tanya Naruto.

Sebelum Inojin bersuara, Naruto kembali berkata. "Ah, bicaralah seperti biasa padaku. Jangan terlalu formal. Santai saja!" ucap Naruto ramah.

Hening sejenak, lalu Inojin mulai bersuara lagi. "Kedatanganku kemari karena aku ingin melamar Himawari."

Naruto yang sedang meminum tehnya itu langsung tersedak begitu mendengar pernyataan orang di depannya.

Jadi seperti inikah rasanya jika ada pria yang datang menemuimu untuk melamar putrimu? Secepat inikah putrinya akan meninggalkannya? Ada rasa bahagia ketika melihat putrinya akan menikah. Tapi di sisi lain ada juga perasaan sedih karena anaknya akan meninggalkannya.

Wanita paruh baya itu memandang foto putranya dengan seragam pilotnya. Rasanya baru saja kemarin dia melahirkan putranya. Tapi sekarang anaknya itu telah bekeluarga. Dan beberapa bulan yang lalu dia telah mendapatkan cucu pertamanya.

Umurnya sudah tak lagi muda. Bahkan tubuhnya tak sekuat dulu. Warna indigo pada rambutnya mulai memudar dan sudah mulai memutih. Tak heran pula jika hidupnya tidak akan lama lagi.

Tiba-tiba Hinata merasakan sakit kepala yang begitu hebat pada kepalanya, tapi ia tahan. Kemudian ia berjalan mencari obat ke sana kemari. Lama-kelamaan tubuhnya melemas. Pusing di kepalanya semakin menjadi. Lalu Hinata merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya.

Ini berbahaya! Jika sudah seperti ini, dia harus segera ke rumah sakit. Dia tidak boleh mati dulu! Masih ada hal yang harus ia lakukan.

Hidup sendirian membuat Hinata cukup kesulitan jika ingin meminta bantuan. Lalu dengan sekuat tenaga, dia mencoba berjalan keluar untuk mencari bantuan. Namun, sebelum akhirnya mencapai pintu keluar, telfon rumahnya berbunyi. Hinata pun segera mengangkatnya. Dengan susah payah, ia mencapai gagang telfon itu sampai akhirnya ia berhasil.

"Moshi-moshi!"

"Kaa-chan! Kau tidak apa-apa?"

"Boruto…" lirihnya.

BRRRUUUUKK

Akhirnya tubuh Hinata ambruk. Kesadarannya sudah hilang sepenuhnya. Gagang telfon terlepas begitu saja dan menggantung. Sambungan yang tidak terputus pun masih terdengar. Dari sana, dapat terdengar suara Boruto memanggil-manggil ibunya yang kini sudah tak berdaya.

Dari luar kaca, Himawari dapat melihat keadaan ibunya yang terbaring lemah dengan jarum infus yang menancap di tangannya serta oksigen yang terpasang menutupi hidung dan mulutnya.

"Hima, apa yang terjadi?"

Boruto datang dengan nafas terengah-engah. Himawari pun mulai menceritakan perihal kejadian ini. Baru saja dia tiba di rumah sang ibu, dia mendengar suara Boruto yang berteriak di telfon lalu terputus. Saat itu juga dia mendobrak pintu dan langsung menemukan ibunya sudah tergeletak begitu saja dengan darah yang masih mengalir deras dari hidungnya.

Bayangkanlah jika saat itu Himawari tidak ada. Sungguh sebuah kebetulan dia datang di saat Hinata membutuhkan bantuan.

Kedua kakak beradik itu sudah mengetahui jika sang ibu divonis terkena kanker stadium akhir oleh dokter. Dan baru saja dokter mengatakan kepada Himawari bahwa hidup Hinata tidak akan bertahan lama lagi.

"Apa secepat ini kaa-chan meninggalkan kita?" ucap Himawari sedih.

Sang kakak pun ikut bersedih. Dia memeluk adiknya untuk sama-sama melampiaskan kesedihan.


Bagaimana aku menggambarkan kekejaman dunia ini

Begitu banyak cobaan yang kuterima di dunia ini

Kehidupan telah membawaku ke masa lalu

Aku dikelilingi oleh kenangan yang tak terhitung jumlahnya

Tak diminta pun sekarang aku menemukan jawaban yang kucari

Apa yang kurindukan, dan apa yang kuterima

Untukmu aku hidup sepanjang hari dengan bibir terkunci

Untukmu aku hidup sepanjang hari dengan air mata tertahan

Tapi dalam hatiku, api cinta selalu membakar untukmu

Untukmu, untukmu, untukmu, untukmu


Setelah keadaannya membaik, Hinata akhirnya diizinkan pulang oleh dokter. Meski begitu, tetap saja penyakit yang diderita Hinata sebenarnya semakin parah. Hinata sendiri mengetahui itu.

namun dia tidak berkecil hati. Dari luar, Boruto dan Himawari menyambutnya dengan suka cita. Hinata jadi melupakan penyakitnya begitu melihat kedua hartanya yang paling berharga.

"Kaa-chan, aku akan menikah!"

Tiba-tiba Himawari berucap yang membuat Hinata menoleh padanya.

"Benarkah?"

Himawari mengangguk. "Aku ingin kaa-chan hadir dalam pernikahanku." Pinta Himawari. "Onegai!"

Hinata tersenyum sambil membelai puncak kepala putrinya. Lalu dia mengecup dahi Himawari dengan penuh kasih sayang.

Hari itu pun telah tiba. Hari di mana putrinya menikah. Namun Naruto merasa kesal. Sebenarnya di manakah Himawari? Tiba-tiba saja dia kabur sebelum memasuki Gereja. Padahal gadis itu datang bersamanya. Dan juga sang mempelai pria sudah menunggu bersama para tamu yang hadir.

Kemudian datanglah mobil yang berhenti di depan parkir. Awalnya Naruto bersiap-siap memarahi Himawari karena telah kabur di hari yang penting ini. Namun, dia harus kecewa karena yang keluar dari mobil itu ternyata adalah putranya bersama sang istri dan anak.

"Tou-chan, kenapa ada di luar?" tanya Boruto.

"Adikmu itu telah kabur entah kemana. Sekarang tou-chan harus menahan malu jika acara ini gagal." Ucap Naruto frustasi.

"Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam dan mencoba berbicara dengan Inojin." Ajak Boruto.

Di waktu saat Himawari kabur, Hinata telah siap di depan gerbang Gereja. Tidak ada yang tahu jika Himawari kabur untuk menemui sang ibu yang berdiam diri di luar tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam gedung.

"Hima, apa yang kau lakukan? Bukankah harusnya kau ada di dalam?" tanya Hinata.

"Aku ingin kaa-chan ikut masuk!"

Tanpa sempat Hinata bicara, Himawari menariknya ke dalam. Dia tahu kalau sang ibu tidak berani masuk ke dalam karena tidak ingin bertemu dengan Naruto.

Ketiga pria yang terdiri dari Naruto sebagai wali mempelai wanita, Inojin sebagai mempelai pria, serta Boruto sebagai keluarga dari mempelai wanita. Ketiga lelaki itu sedang berdebat di mimbar membicarakan perihal pernikahan yang terancam batal karena sang mempelai wanitanya kabur.

Setelah lama kemudian, seseorang datang dari pintu masuk dan membuat semua orang yang hadir menoleh kepada orang tersebut. Ada yang aneh dari acara ini karena sang mempelai wanita telah hadir tapi tidak memakai baju pengantinnya. Dan yang paling menarik perhatian mereka adalah wanita tua yang hadir bersamanya.

Naruto sedikit terkejut dengan kehadiran wanita yang dibawa Himawari. Lalu dia berjalan mendekati kedua perempuan itu.

"Hima, katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Naruto yang siap menginterogerasi.

"Kaa-chan, kau tunggu di sini!"

Himawari membawa Naruto ke mimbar. Sedangkan Boruto beralih berjalan mendekati Hinata.

"Jelaskan apa maksud dari ini semua?"

Himawari dan Inojin saling berhadapan.

"Baiklah! Begini,…." Himawari menggantungkan kalimatnya. "Kami telah merencanakan ini semua bersama onii-chan. Tou-chan pernah berkata kalau kau masih mencintai kaa-chan, bukan? Dan kau ingin sekali menikah dengannya. Kaa-chan pun sama begitu. Dia pernah berkata padaku kalau dia masih sangat mencintaimu. Dia ingin hidup bersamamu." Jelas Himawari.

"Tapi lamaranku memang tidak mengada-ngada. Kami akan menikah besok." Lanjut Inojin.

Naruto terkejut. Tidak menyangka jika anak-anaknya akan melakukan ini padanya.

"Tapi, tou-chan sudah tua!" lirih Naruto.

"Tidak ada batasan untuk menikah. Asalkan kalian saling mencintai, bukan?"

Mata Naruto masih membulat. Perkataan Himawari benar adanya. Lalu mereka beralih pada Hinata dan Boruto yang masih berdiri di tempatnya.

Boruto pun telah menjelaskan semuanya pada Hinata. Lalu mereka berjalan kearah di mana Naruto berada.

"Oke, saya akan menjelaskan semuanya!" Himawari mulai berbicara lewat mikrofon. "Saya dengan Inojin memang akan menikah, tapi besok. Dan sekarang adalah pernikahan orang tua kami yang sudah lama terpisah. Saya, Inojin, dan kakak saya, Boruto yang telah merencanakan ini. Karena pernikahan itu begitu sakral, kami tidak main-main dengan ini." Jelas Himawari. "Mereka adalah sepasang kekasih yang telah lama saling mencintai, tapi terpisah karena suatu factor. Meski sudah berumur senja, tapi untuk mencintai, tidak ada batasan umur, bukan? Untuk menikah pun tidak ada larangan untuk orang lanjut usia." Lanjutnya.

Selanjutnya Boruto mengambil alih mikrofon. "Itu benar! kami selaku anak-anak dari Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata berharap tidak ada yang keberatan dengan acara ini. Kami merencanakan ini karena kami ingin menyatukan ayah dan ibu kami." Jelas Boruto.

Semua orang tampak mengangguk-ngangguk.

"Tanpa berlama-lama lagi, mari kita lanjutkan acara ini!" lanjut Boruto.

Sang pendeta pun mulai berpidato. Naruto dan Hinata saling memandang. Ada kerinduan yang lepas setelah bertahun-tahun lamanya terpendam. Mereka mulai mengucapkan janji suci.

Naruto melihat Hinata seolah mereka masih muda. Dia merasa kalau Hinata masih secantik dahulu di saat mereka pertama kali bertemu meski umurnya sudah memasuki usia senja. Begitu pula dengan Hinata yang melihat Naruto seperti saat muda dulu. Dia rasa Naruto masih tampan dan gagah seperti saat mereka baru bertemu.

Kedua mempelai yang sebenarnya itu akhirnya dinyatakan sah sebagai suami dan istri. Mereka saling menempelkan bibir mereka, menyalurkan cinta yang sudah lama mereka pendam, tanpa adanya nafsu tentunya. Semua orang yang melihatnya menangis terharu melihatnya. Mereka bersorak gembira ketika Naruto dan Hinata melepaskan ciumannya dan berbalik arah kehadapan tamu.

Setelah itu, Naruto dan Hinata kembali saling berpandangan. Ingatan di saat masih bersama kembali muncul. Kenangan-kenangan di masa muda seolah kembali terulang. Di saat Naruto menyelamatkan Hinata waktu dia tenggelam, lalu di saat Hinata menjadi pelayan pribadinya, kemudian waktu Naruto menarik Hinata ke ranjang dan memeluknya semalaman, lalu di saat mereka berciuman saat dansa menggunakan topeng, kemudian di saat Hinata menyuapi Naruto ketika ia sakit, selanjutnya di saat malam pertama kali mereka saling menyatu, dan yang terakhir adalah di saat 5 tahun kemudian mereka bertemu kembali sebelum mereka berpisah.

"Lemparkan bunganya!" teriak Himawari.

Mereka menurutinya. Naruto dan Hinata berbalik arah membelakangi tamu, lalu bersama-sama melemparkan bucket itu sejauh mungkin kearah para tamu.

Semua orang mengulurkan tangannya ke atas berharap bunga itu sampai ke tangan mereka. Namun akhirnya bunga itu mengarah kepada seseorang yang tidak berniat untuk mendapatkan bunga itu.

"Papa!" ucap Sarada.

Ya, bucket itu berada di tangan Sasuke. Semua orang yang kecewa hanya dapat melihat bunga itu berada di genggaman Sasuke. Sedangkan orang yang mendapatkannya tidak tahu harus berbuat apa. Lalu dia mengarahkan bunga itu kepada wanita berambut pink di sebelahnya.

"Ini untukmu saja!" ucap Sasuke datar.

"Oh! Arigatou, Sasuke-kun!" Ucap Sakura bahagia lalu mencium pipi suaminya.

Sasuke tersenyum tipis dan wajahnya memerah. Kemudian sebelah tangannya melingkari pinggang istrinya. Ah, sudah tua pun, ternyata mereka masih tetap mesra!

Semua orang terkekeh geli melihat adegan romantis Sasuke dan Sakura itu. sedangkan Sakura tersenyum malu dan Sasuke tetap mempertahankan wajah datarnya.

Naruto dan Hinata pun ikut tersenyum bahagia. Sebelah tangan Naruto merangkul bahu Hinata lalu mencium pipinya tanpa sepengetahuan Hinata.

Hinata yang terkejut karena mendapatkan ciuman mendadak dari sang suami, langsung menolehkan pandangannya kepada wajah Naruto. Akhirnya mereka tersenyum dan Hinata pun berbalik mencium pipi Naruto. Keduanya pun jadi saling menempelkan bibirnya tak peduli orang-orang yang melihatnya.

Naruto dan Hinata sungguh bahagia hari ini. Mereka berterima kasih kepada kedua anak mereka yang berhasil menyatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Mungkinkah ini takdir karena mereka benar-benar berjodoh? Jika iya, mereka berterima kasih kepada Tuhan yang telah menjodohkan mereka.

Berita tentang pernikahan Naruto dan Hinata telah tersebar luas. Banyak yang terharu dengan perjuangan cinta mereka. Kisah mereka sungguh menginspirasi semua orang di seluruh dunia. Cinta mereka mengajarkan jika jodoh itu pasti ada, hanya perlu sabar menunggu saja. dan cinta pun tak mengenal usia. Siapapun bisa menikah sebelum meninggal.

Saat ini, Hinata kembali jatuh sakit. Namun kali ini Boruto tak terlalu khawatir. Ada sang ayah yang menemainya. Tapi Himawari tidak terlalu yakin ketika melihat wajah pucat sang ayah. Akhirnya kakak beradik itu memutuskan untuk menginap di rumah Naruto yang kini telah bersama sang istri.

Malam itu, Hinata muntah darah setelah terbatuk-batuk, membuat semua orang yang ada di sana menjadi khawatir, terutama Naruto.

Pria tua itu kembali ke kamarnya sambil membawa segelas air untuk sang istri. Namun, dia sedikit panic saat matanya tidak menemukan keberadaan Hinata. Lalu dia merasakan hembusan angin. Pintu balkon sedikit terbuka. Dari celah pintunya, Naruto dapat melihat Hinata sedang duduk di sana sambil menatap purnama.

Hinata menutup matanya sambil merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang memeluknya dari belakang. Tak perlu menengok ke belakang untuk melihat siapa pelakunya, karena dia sudah tahu siapa pelakunya.

"Kenapa kau ada di sini? Kau bisa masuk angin." Bisiknya.

Wanita tua itu memandang wajah sang suami. Tangannya terulur untuk membelai wajah Naruto yang kini banyak mengalami penuaan, namun masih terlihat tampan di matanya. Sedangkan Naruto memegang tangan yang berada di sisi wajahnya, lalu diciumnya tangan itu dengan penuh cinta.

Kepala Hinata bersandar di bahu kokoh Naruto. Ingatan mereka kembali di saat mereka masih muda. Dahulu, waktu kebersamaan mereka akan terbatas dan tidak bebas. Namun sekarang mereka akan terus bersama sepuasnya meski sudah tak lagi muda. Karena mereka sudah sah, kali ini tidak ada orang lain yang akan menghalangi hubungan mereka. Naruto dan Hinata merasa aman dan senang terus bersama seperti ini. Mereka tak pernah berpisah barang sedetik saja setelah menikah. Tidak akan sampai mautlah yang memisahkan.

"Kau tahu, Hinata?" tanya Naruto.

"Apa itu?" tanya Hinata balik.

"Umur Bolt dan Hima hanya berbeda 5 tahun."

Hinata menunggu Naruto melanjutkan kalimatnya.

"Dan umur kita pun hanya berbeda 5 tahun."

Hinata terkekeh.

"Aku baru menyadari itu."

Lama mereka bernostalgia sambil menatap sang ratu malam yang bersinar terang, akhirnya Naruto merasakan tubuhnya sedikit menggigil. Dia juga dapat merasakan tubuh Hinata sedikit mendingin.

"Ayo kita kembali ke dalam!" ajak Naruto dan Hinata mengangguk setuju.

Kedua tangan Naruto ditempatkan di punggung dan lipatan paha Hinata. Dengan cekatan, dia menggendong wanitanya tanpa merasa berat oleh beban tubuh Hinata yang kecil. Hinata bisa merasakan aroma tubuh sang suami. Masih sama seperti dulu.

Naruto membaringkan tubuh sang istri perlahan seperti menganggap tubuh Hinata begitu rapuh. Dan kini mereka saling berpandangan di atas ranjang yang telah menjadi milik mereka berdua.

Lalu sang suami mencium kening istrinya dengan penuh cinta. Kepalanya tak henti-henti membelai kepala sang istri. Tak ada nafsu di keduanya. Hanya ada cinta. Mungkin karena umur mereka yang sudah memasuki usia senja, tingkat libido menjadi semakin berkurang.

"Akankah kita selalu seperti ini?" tanya Hinata.

Naruto tersenyum. tangan mereka saling bertautan.

"Ya. kita akan selalu bersama."

"Sudah pernah kubilang kalau kau adalah tulang rusukku. Meski kita terpisah begitu lamanya, pada akhirnya kita akan selalu bersama."

Hinata ikut tersenyum. lalu dia menutup matanya sambil memeluk sang suami dan menempatkan kepalanya di dada bidang Naruto. Sang istri tidak mengetahui jika sedari tadi Naruto sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa pada dadanya, namun ia tahan karena tidak ingin merusak suasana bahagia dan penuh cinta ini. Kedua lengan Naruto memeluk sang istri setelah menyelimuti tubuh mereka berdua.

Hanya sang rembulan yang menjadi saksi bisu atas kisah cinta mereka yang akan berakhir malam ini. Perlahan mata Naruto tertutup. Sang angin malam membawa hawa mereka menjadi lebih sejuk menerpa tubuh keduanya yang semakin mendingin. Lama-kelamaan nafas terakhir mereka telah dihembuskan. Akhirnya Naruto dan Hinata tertidur untuk selama-lamanya. Tubuh mereka masih saling berpelukan seolah tak terpisahkan meski maut menjemput.

Dan angin pun berhembus membawa sejuta kata cinta.

"Aishiteru!"

Paginya keadaan di mansion Uzumaki menjadi berkabung. Sarada yang pada saat itu berniat membangunkan mertuanya, malah menemukan kedua orang itu tak bangun lagi. Akhirnya Boruto memeriksa tubuh keduanya yang telah mendingin dan tak ada nafas serta detakan jantung. Himawari yang melihat itu menangis tersedu-sedu.

Boruto dan Himawari tidak menyangka jika sang ayah ternyata mempunyai sakit jantung sudah sejak lama akibat stress berkepanjangan. Dan kebetulan sang ibu pun menderita penyakit yang sama parahnya. Akhirnya mereka meninggal bersama-sama tanpa ada unsur kesengajaan. Ini murni takdir Tuhan.

Keduanya dimakamkan sesuai tradisi agama di Jepang. Soal tanah tak masalah karena Naruto mempunyai harta yang berlimpah. Dan sesuai dengan permintaan terakhir sang ayah yang ingin menyumbangkan hartanya kepada yang membutuhkan. Boruto dan Himawari mulai menjalani hidupnya masing-masing dengan hasil keringat mereka sendiri karena harta sang ayah seluruhnya diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu, dan orang lainnya yang membutuhkan.

Kisah cinta Naruto dan Hinata mulai diangkat ke dalam novel karya Boruto dan Hinawari sendiri. Semua orang yang membacanya meneteskan air matanya karena terharu. Ternyata di dunia ini ada kisah cinta yang seperti itu. mereka yang membacanya memberikan komentar positif. Tapi karena hubungan mereka dulunya terlarang dan di luar pernikahan, ada juga yang memberikan komentar negative.

Setiap minggu, Boruto maupun Himawari berziarah ke makam kedua orang tuanya. Mereka hanya berdoa semoga ayah dan ibunya tenang di alam sana, diringankan siksaannya, dihapuskan dosanya, dan ditempatkan di sisiNya. Semoga kedua orang tuanya menjadi pengantin di surga nanti dan bahagia selamanya.


Kehidupan telah membawaku

Ke masa lalu

Aku dikelilingi oleh kenangan

Yang tak terhitung jumlahnya

Sekarang aku menemukan

Jawaban yang kucari

Apa yang kurindukan

Dan apa yang kuterima

Aku diperintahkan untuk terus hidup

Tapi tanpamu

Namun dalam hatiku

Api cinta selalu membakar

Untukmu


The End


Amaya's Note :

Oke, Amaya gak tau ini happy ending atau sad ending.

Sebenarnya Amaya kecewa karena yang review Cuma dua orang. Apa kali ini cerita Amaya kurang bagus? Atau ceritanya aja banyak orang yang gak suka? Atau Amaya salah waktu update? Tapi, semua itu gak bikin Amaya patah semangat buat ngelanjutin fic ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan.

Setiap ada cerita yang nyeritain sakaratul maut sampai kematian, Amaya suka jadi keingatan sama yang namanya kematian dan malaikat izrail. Uh, serem! (T_T)

Oh iya, Amaya ngerasa kalau fic ini kayak ada suasana western-nya. Apa Amaya ubah genrenya jadi Family Western, ya?

Semoga banyak yang suka sama fanfic aneh ini ya! ^^. Amaya harap, para reader gak nyesel baca karya Amaya.

Sebelum meninggalkan halaman ini, diharapkan untuk memberi komentarnya di kotak review. Arigatou buat yang udah ngefav, ngefollow, mereview, dan membaca fanfic ini.

(^_^)

Bye! :*