~oOOo~

Jongin mengajakku ke sebuah restoran kecil yang terlihat seperti restoran remang-remang.

"Di tempat ini kita akan bicara dan makan," Jongin menggerutu. "Kita tak punya banyak waktu."

Restoran ini terlihat nyaman bagiku. Kursi terbuat dari kayu, taplak meja linen, dan warna dindingnya merah tua sama dengan ruang bermainnya Jongin - cermin kecil berbingkai emas ditempatkan secara acak, lilin warna putih, dan vas kecil berisi mawar putih. Suara Ella Fitzgerald mengalun lembut menyanyikan lirik tentang cinta. Ini benar-benar romantis. Pelayan mengarahkan kita ke meja untuk dua orang di sebuah ruangan yang kecil, dan Aku duduk dengan gelisah dan bertanya-tanya apa yang akan dikatakannya.

"Kami tak punya banyak waktu," kata Jongin pada pelayan saat kami duduk. "Kami masing-masing pesan sirloin steak yang dimasak setengah matang, kalau ada dengan saus béarnaise, kentang goreng, dan sayuran hijau apapun yang koki punya, dan bawakan aku daftar anggurnya."

"Baik, Sir." Pelayan terkejut dengan penampilan Jongin yang keren, tenang, efisien, tidak berbelit-belit. Jongin menempatkan ponsel-nya di atas meja. Astaga, aku tidak disuruh memilih menu?

"Bagaimana kalau aku tak suka daging?"

Jongin mendesah. "Jangan mulai, Sehun."

"Aku bukan anak kecil, Jongin."

"Yah, berhentilah bertingkah seperti itu." Jongin seakan menamparku.

Aku berkedip padanya. Jadi akan seperti ini, Pembicaraan menjadi sangat menjengkelkan, meskipun diatur dalam suasana romantis tapi jelas tak ada hati dan bunga.

"Aku seorang anak kecil karena aku tak suka steak?" Gumamku mencoba untuk menyembunyikan sakit hatiku.

"Untuk sengaja membuatku cemburu. Itu adalah tindakan yang kekanak-kanakan. Apa kau tak mempedulikan perasaan temanmu, seolah-olah kau memberi harapan padanya?" Jongin menekan bibirnya bersama-sama menjadi garis tipis dan merengut saat pelayan kembali memberikan daftar anggur.

Aku merona - aku tak memikirkan itu. Kris yang malang – tentu saja aku tak ingin memberi harapan padanya. Tiba-tiba, aku merasa malu. Jongin memang benar; tadi itu adalah tindakan yang ceroboh.

Jongin melihat daftar anggur. "Apa kau ingin memilih anggurnya?" Tanyanya, mengangkat alisnya padaku menunggu jawabanku, dengan arogannya. Jongin tahu aku tak tahu menahu tentang anggur.

"Kau yang pilih," jawabku, ingin cemberut tapi kutahan.

"Tolong, Dua gelas Barossa Valley Shiraz."

"Er. . . kami hanya menjual anggur dengan botol, Sir."

"Kalau begitu satu botol," bentak Jongin.

"Iya Sir." Dia mundur, menunduk, dan aku tak menyalahkan dia.

Aku mengerutkan kening pada Fifty. Apa yang Jongin makan? Oh, mungkin karena aku dan disuatu tempat dikedalaman jiwaku, dewa batinku bangun dari tidurnya, meregangkan tubuhnya, dan tersenyum. Dia sudah tertidur untuk sementara waktu.

"Kau sangat pemarah."

Jongin menatap ke arahku tanpa ekspresi. "Aku ingin tahu mengapa kau berpikiran seperti itu?"

"Yah, ada baiknya mengatur nada yang sesuai untuk suasana yang intim ini dan berdiskusi dengan jujur tentang masa depan, Bukankah itu yang kau katakan?" Aku tersenyum pada Jongin dengan manis. Mulutnya menekan ke dalam garis keras, kemudian dengan enggan, bibirnya dibuka, dan aku tahu Jongin berusaha untuk menahan senyumnya.

"Maaf," kata Jongin.

"Permintaan maaf diterima, dan aku senang untuk memberitahumu karena aku belum memutuskan untuk menjadi vegetarian sejak terakhir kali kita makan."

"Sejak terakhir kali kau makan, aku pikir itu pendapat yang perlu diperdebatkan."

"Kata itu lagi, yang perlu diperdebatkan."

"Diperdebatkan," mulut dan mata Jongin melembut dengan jenaka.

Jongin mengacak-acak rambutnya, dan serius lagi. "Sehun, terakhir kali kita bicara, kau meninggalkan aku. Aku agak takut. Aku sudah mengatakan padamu, aku ingin kau kembali, dan kau. . . tidak mengatakan apa-apa." Pandangannya sangat intens dan keterbukaannya benar-benar melumpuhkanku. Sial, apa yang bisa kukatakan untuk masalah ini?

"Aku merindukanmu. . . benar-benar merindukanmu, Jongin. Beberapa hari yang lalu sudah menjadi . . . terasa sangat sulit."

Aku menelan ludah, dan benjolan ditenggorokanku membengkak saat ingat aku sangat menderita dan putus asa sejak aku meninggalkannya. Minggu lalu telah menjadi hal yang paling buruk dalam hidupku, rasa sakitnya hampir tak bisa digambarkan. Tak ada yang mendekati itu. Namun kenyataan yang ada, membelitku.

"Tak ada yang berubah. Aku tak bisa menjadi apa yang kau inginkan." Aku menekankan kata-kata yang keluar melewati benjolan di tenggorokanku.

"Kau seperti inilah yang aku inginkan," kata Jongin, suaranya pelan dan tegas.

"Tidak, Jongin, aku bukan yang kau inginkan."

"Kau marah karena kejadian terakhir kali itu. Aku bertindak sangat bodoh, dan kau. . . Begitu pula denganmu. Mengapa kau tidak menggunakan kata aman, Sehun?" Nada Jongin berubah menjadi menuduh.

Apa? Wow - perubahan arah pembicaraan. Aku jadi memerah dengan berkedip bingung pada Jongin.

"Jawab aku."

"Aku tidak tahu. Aku merasa kewalahan. Aku berusaha untuk menjadi apa yang kau inginkan, mencoba untuk mengatasi rasa sakit, dan itu diluar dari perkiraanku. Kau tahu. . . Aku lupa," aku berbisik malu, dan aku mengangkat bahu meminta maaf.

Astaga, mungkin kita bisa menghindari semua rasa sakit hati ini.

"Kau lupa?!" Jongin mendesah dengan ngeri, meraih sisi meja dan memelototiku.

Aku langsung mengkerut dibawah tatapannya. Sial! Jongin marah lagi. Dewa batinku melotot ke arahku juga. Lihat, kau membawa semua ini untuk dirimu sendiri!

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Kata Jongin, suaranya rendah.

Pelayan datang membawa anggur kami saat kami duduk saling menatap, mata cokelat dengan mata hitam. Kami berdua dipenuhi kata-kata yang tak terucap saling menuding, sementara pelayan membuka tutup gabus dan menuangkan sedikit anggur ke gelas Jongin. Secara otomatis Jongin menjangkau dan minum seteguk.

"Tidak masalah." Suaranya singkat.

Dengan hati-hati pelayan mengisi gelas kami, meletakkan botol diatas meja,lalu buru-buru meninggalkan kami. Tidak sedikitpun Jongin melepas tatapannya padaku. Akulah yang pertama kali memutuskan kontak mata itu, mengangkat gelasku dan meneguk banyak-banyak. Aku nyaris tak bisa merasakannya.

"Aku minta maaf," bisikku, tiba-tiba merasa bodoh. Aku pergi karena kupikir kami tidak cocok, tapi Jongin mengatakan bahwa aku bisa menghentikannya?

"Maaf untuk apa?" Kata Jongin agak cemas.

"Tidak menggunakan kata aman."

Jongin menutup matanya, seakan lega. "Kita mungkin bisa menghindari semua penderitaan ini," gumam Jongin.

"Kau tampak baik-baik saja."

Bahkan lebih dari baik. Jongin terlihat seperti biasanya.

"Penampilan bisa menipu," kata Jongin pelan. "Aku sama sekali tidak merasa baik. Aku ibaratnya matahari yang telah terbenam dan tidak terbit selama lima hari, Sehun. Aku seperti berada dikegelapan malam yang kekal disini."

Aku merasa kehabisan napas mendengar pengakuan Jongin. Ya, seperti halnya denganku.

"Kau bilang kau tak akan pernah pergi, namun karena keadaan menjadi buruk dan kau akhirnya meninggalkanku."

"Kapan aku bilang aku tidak akan pernah pergi?"

"Dalam tidurmu. Itu adalah hal paling menyenangkan yang pernah kudengar sekian lama, Sehun. Itu membuatku rileks."

Hatiku menegang dan aku mengambil anggurku.

"Kau bilang kau mencintaiku," bisik Jongin. "Apa sekarang itu hanya akan menjadi masa lalu?" lanjut Jongin pelan, bercampur dengan kegelisahan.

"Tidak, Jongin, itu tidak."

Jongin menatap ke arahku, dan dia terlihat begitu bimbang saat ia mengembuskan napas. "Bagus," bisiknya.

Aku terkejut dengan pengakuan Jongin. Pikirannya telah berubah. Saat aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya sebelumnya, Jongin sangat ketakutan. Pelayannya datang lagi. Dengan sigap dia meletakkan piring di depan kami dan segera meninggalkan kami lagi. Ya ampun. Makanan.

"Makanlah," perintah Jongin.

Dalam hati aku tahu aku lapar, tapi sekarang, perutku seperti kejang. Duduk berhadapan dengan satu-satunya pria yang pernah kucintai dan memperdebatkan masa depan kami yang tidak jelas, tidak bisa mendorong nafsu makanku. Aku merasa enggan saat melihat makananku.

"Tolong aku ya Tuhan, Sehun, jika kamu tidak makan, aku akan menempatkan kamu di lututku disini, di restoran ini, dan ini tak ada hubungannya dengan kepuasan seksualku. Makan!"

Astaga, jaga rambutmu tetap berdiri, Kim. Bawah sadarku menatapku dengan memincingkan matanya. Sepenuh hati dia setuju dengan Fifty Shades.

"Oke, aku akan makan. Kumohon, hentikan telapak tanganmu yang berkedut."

Jongin tidak tersenyum, tapi terus menatapku. Dengan enggan aku mengangkat pisau dan garpuku, memotong steak-ku. Oh, ini bisa membangkitkan nafsu makanku. Aku merasa lapar, benar-benar lapar. Aku mulai mengunyah dan Jongin tampak rileks. Kami makan malam tanpa bicara. Musiknya telah berganti. Nyanyian lembut seorang wanita terdengar samar-samar, liriknya menggema didalam pikiranku. Aku melirik Fifty. Jongin makan sambil mengawasiku. Kelaparan dan kerinduan dan kegelisahan digabungkan dalam satu tatapan yang panas.

"Apa kau tahu siapa yang menyanyi ini?" Aku mencoba untuk melakukan percakapan normal.

Jongin berhenti dan mendengarkan. "Tidak. . . tapi suaranya bagus, siapapun dia."

"Aku juga menyukainya."

Akhirnya Jongin tersenyum dengan senyuman yang mengandung teka-teki. Apa yang dia rencanakan?

"Apa?" tanyaku.

Jongin menggeleng. "Habiskan," katanya lembut.

Aku sudah menghabiskan setengah makanan di piringku. Aku sudah tak kuat makan lagi. Bagaimana aku bisa menegosiasikan hal ini?

"Aku tidak bisa makan lagi. Apa aku sudah cukup makan Sir?"

Jongin menatapku tanpa ekspresi, tidak menjawab, lalu melirik jam tangannya.

"Aku sangat kenyang," tambahku, sambil menyesap anggur yang lezat.

"Kita harus segera kembali. Taylor sudah ada disini, dan besok pagi kau harus kerja."

"Begitu juga denganmu."

"Jam tidurku jauh lebih sedikit daripada kau,Sehun. Paling tidak kau sudah makan sesuatu."

"Bukankah kita akan kembali dengan Charlie Tango?"

"Tidak, karena aku sudah minum. Taylor akan mengantar kita. Selain itu, dengan cara ini aku bisa bersamamu di dalam mobil untuk diriku sendiri selama beberapa jam, Apa yang bisa kita lakukan selain bicara?"

Oh, itu rencananya. Jongin memanggil pelayan untuk meminta tagihan, kemudian dia mengambil ponsel-nya dan membuat panggilan.

"Kami di Le Picotin, South West Third Avenue." Jongin menutup teleponnya. Astaga, dia kurang sopan saat berbicara ditelepon.

"Kau sangat kasar dengan Taylor sebenarnya, tidak dengan sebagian besar orang-orang juga."

"Aku hanya menyampaikan maksud dengan cepat, Sehun."

"Kau belum menyampaikan maksudmu malam ini. Tak ada yang berubah, Jongin."

"Aku punya proposisi untukmu."

"Ini dulu dimulai dengan proposisi."

"Sebuah proposisi yang berbeda."

Pelayan sudah kembali, dan Jongin memberikan kartu kreditnya tanpa memeriksa tagihan. Dia menatap ke arahku dengan curiga sementara pelayan menggesek kartunya. Telepon Jongin berbunyi sekali lagi, dan dia melirik teleponnya. Jongin punya proposisi? Sekarang apa? Dua skenario masuk dalam pikiranku: diculik, bekerja untuknya. Tidak, tidak ada yang masuk akal.

Jongin sudah selesai membayar. "Ayo. Taylor sudah diluar."

Kami berdiri dan Jongin menggenggam tanganku. "Aku tak ingin kehilanganmu, Sehun." Jongin mencium buku-buku jariku dengan lembut, dan sentuhan bibirnya diatas kulitku langsung terasa menjalar keseluruh tubuhku.

Di luar Audi sudah menunggu. Jongin membukakan pintu untukku. Aku masuk dan tenggelam dalam kulit mewah. Dia menuju ke sisi pengemudi, Taylor melangkah keluar dari mobil dan mereka berbicara sebentar. Ini bukan kebiasaan mereka seperti biasanya. Aku penasaran. Apa yang mereka bicarakan? Beberapa saat kemudian, mereka berdua masuk, dan aku melirik, wajah Jongin tanpa ekspresi saat ia menatap ke depan. Aku membiarkan diriku sejenak untuk memeriksa bentuk tubuh dewa miliknya: hidung lumayan mancungnya, bibirnya penuh, rambutnya jatuh di dahinya. Pria tampan ini pasti bukan ditujukan untukku.

Tiba-tiba musik mengalun lembut terdengar dari bagian belakang mobil, salah satu jenis orkestra yang tidak kukenal, dan Taylor menjalankan mobilnya kearah I-5 menuju Seattle. Jongin bergeser dan memandangku.

"Seperti yang aku katakan, Sehun, aku memiliki proposisi untukmu."

Aku melirik gugup pada Taylor.

"Taylor tak bisa mendengarmu," Jongin meyakinkan aku.

"Bagaimana mungkin?"

"Taylor," Jongin memanggilnya. Taylor tidak merespon. Dia memanggil lagi, masih tidak ada respon. Jongin membungkuk dan menepuk bahunya. Taylor melepas satu earphone yang tidak aku perhatikan.

"Ya, Sir?"

"Terima kasih, Taylor. Tidak apa-apa; dengarkan kembali musikmu itu."

"Ya, Sir."

"Senang sekarang? Dia mendengarkan iPod-nya. Puccini. Lupakan dia ada di sini."

"Apa kau sengaja memintanya untuk melakukan itu?"

"Ya."

Oh.

"Oke, proposisimu?" Jongin tiba-tiba terlihat resmi dan menginginkan kepastian. Sialan.

Kami sedang menegosiasikan sebuah kesepakatan. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. "Pertama-tama aku ingin bertanya sesuatu. Apa kau ingin hubungan vanilla biasa tanpa seks abnormal sama sekali?"

Mulutku menganga. "Seks abnormal?" Aku berteriak pelan.

"Seks abnormal."

"Aku tak percaya kau mengatakan itu." Aku melirik gugup pada Taylor.

"Yah, aku mengatakan itu. Jawablah," kata Jongin tenang.

Mukaku memerah. Dewa batinku berlutut mengatupkan kedua tangannya seperti berdoa untuk memohon padaku. "Aku suka Seks abnormal-mu," bisikku.

"Itu seperti yang kupikirkan. Jadi apa yang tidak kau sukai?"

Tidak bisa menyentuhmu. Kau menikmati rasa sakitku, pukulan sabuk. . . "Ancaman kejam dan hukuman yang tidak biasa."

"Apa maksudnya?"

"Yah, kau memiliki semua jenis tongkat, cambuk dan sebagainya didalam ruang bermainmu dan itu semua sangat membuatku ketakutan. Aku tak ingin kau menggunakannya padaku."

"Oke, jadi dalam hal ini kau tak suka dengan adanya cambuk atau tongkat - atau ikat pinggang," Jongin menyindir.

Aku menatapnya dengan bingung. "Apa kau mencoba untuk mendiskusikan kembali batas keras?"

"Tidak seperti itu, aku hanya mencoba memahamimu, mendapatkan yang lebih jelas gambaran dari apa yang kau inginkan dan yang tidak kau sukai."

"Pada dasarnya, Jongin, Kesenanganmu yang menimbulkan rasa sakit padaku, sangat sulit bagiku untuk aku terima. Dan ide bahwa kau akan melakukan hukuman itu karena aku telah melanggar beberapa aturan yang dibuat sewenang-wenang."

"Tapi itu bukan sewenang-wenang,aturannya sudah ditulis."

"Aku tak ingin satu set aturan."

"Tak ada sama sekali?"

"Tidak ada aturan." Aku menggeleng, rupanya hatiku sudah berada di dalam mulutku. Kemana lagi arah pembicaraan ini?

"Tapi kau tak keberatan jika aku memukul pantatmu?"

"Memukulku dengan apa?"

"Ini." Jongin memegang tangannya.

Aku menggeliat tak nyaman. "Tidak, tidak juga. Terutama dengan – bola-bola perak itu ..." Syukurlah tapi itu gelap, Mukaku terbakar dan suaraku langsung menghilang saat aku ingat malam itu. Yah. . . Aku akan melakukan itu lagi.

Jongin menyeringai ke arahku. "Ya, itu menyenangkan."

"Lebih dari menyenangkan," aku bergumam.

"Jadi kau bisa menerima sedikit rasa sakit."

Aku mengangkat bahu. "Ya, kurasa."

Oh, kemana lagi arah pembicaraannya? Tingkat kegelisaanku semakin melonjak naik beberapa Skala Richter. Jongin mengelus dagunya, berpikir keras.

"Sehun, aku ingin mulai lagi. Melakukan hubungan vanilla (hubungan normal), dan mungkin setelah kau percaya padaku dan aku percaya pada kejujuranmu untuk berkomunikasi denganku, kita bisa melakukan sesuatu yang aku inginkan."

Aku menatapnya, tertegun, pikiranku kosong sama sekali - seperti komputer yang eror. Jongin menatap ke arahku dengan cemas, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas, sepertinya kita berada diwilayah Oregon yang diselimuti kegelapan. Aku sadar, akhirnya, ini dia. Jongin menginginkan cahaya terang, tapi bisakah aku memintanya untuk melakukan ini untukku? Dan bukankah kadang-kadang aku juga menyukai kegelapan? sedikit kegelapan, kadang-kadang. Ingatan tentang kegelapan Thomas Tallis tiba-tiba terlintas dalam pikiranku.

"Tapi bagaimana dengan hukuman?"

"Tak ada hukuman." Jongin menggelengkan kepalanya. "Tak ada."

"Dan aturan?"

"Tak ada aturan."

"Tidak ada sama sekali? Tapi kau memiliki kebutuhan."

"Aku lebih membutuhkan kamu,Sehun. Beberapa hari terakhir ini seperti berada di neraka. Semua instingku mengatakan padaku untuk membiarkan kau pergi karena aku tak layak untukmu. Foto-foto yang diambil laki-laki itu. . . Aku bisa melihat bagaimana dia melihatmu. Kau tampak begitu santai dan mempesona, bukannya kau sekarang tidak mempesona, tapi kau duduk disini. Aku melihat rasa sakitmu. Sedih rasanya bahwa akulah yang menyebabkan kau merasa seperti ini."

"Tapi aku pria egois. Aku menginginkanmu sejak kau jatuh dikantorku. Kau sangat istimewa, jujur, hangat, kuat, cerdas, polos, mempesona; dan daftarnya tak akan habis. Aku kagum padamu. Aku menginginkanmu, memikirkan orang lain memilikimu rasanya seperti pisau diputar-putar kedalam jiwaku yang gelap."

Mulutku menjadi kering. Sialan. Bawah sadarku mengangguk dengan puas. Jika itu bukan deklarasi cinta, aku tidak tahu apa itu. Kata-kata Jongin yang keluar seperti bendungan yang jebol.

"Jongin, mengapa kau berpikir kau memiliki jiwa yang gelap? Aku tak akan pernah mengatakan itu. Mungkin menyedihkan, tapi kau pria yang baik. Aku bisa melihat itu. . . Kau sangat dermawan, sopan, dan kau tak pernah bohong padaku. Aku belum mencoba dengan sangat keras."

"Sabtu lalu itu seperti mengejutkan pikiranku. Membangunkan aku dari tidurku. Aku menyadari bahwa kau begitu mudah menerimaku yang mana aku merasa tidak bisa menjadi orang yang kau inginkan. Kemudian, setelah aku pergi, aku baru sadar bahwa rasa sakit fisik yang kau timbulkan tidak separah dengan rasa sakit yang timbul karena kehilanganmu. Aku ingin menyenangkanmu, tapi itu sangat sulit."

"Kau selalu menyenangkanku sepanjang waktu," bisik Jongin. "Sudah berapa kali aku memberitahumu tentang hal itu?"

"Aku tak pernah tahu apa yang kau pikirkan. Kadang-kadang kau begitu tertutup. . . seperti sebuah negara kepulauan. Kau mengintimidasiku. Itu sebabnya mengapa aku diam. Aku tak tahu bagaimana suasana hatimu. Seperti ayunan dari utara ke selatan dalam sekian detik kembali lagi. Sangat membingungkan dan kau tidak membiarkan aku menyentuhmu, padahal aku ingin sekali menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu."

Jongin berkedip padaku dalam kegelapan, waspada kupikir, dan aku tak bisa menahannya lebih lama. Aku melepaskan sabuk pengamanku dan duduk di pangkuan Jongin, membuatnya terkejut, dan menempakan tanganku di kedua sisi kepalanya.

"Aku mencintaimu,Kim Jongin. Dan kau bersedia melakukan semua ini untukku. Akulah yang tidak layak, dan aku hanya minta maaf bahwa aku tak bisa melakukan semuanya untukmu. Mungkin dengan berjalannya waktu . . . Aku tak tahu. . . tapi ya, aku menerima proposisimu. Dimana aku harus menanda tanganinya?"

Jongin memelukku dengan keras seperti akan meremukkanku.

"Oh, Sehun," Jongin mengambil nafas sambil membenamkan hidungnya dileherku.

Kami duduk, saling berpelukan, mendengarkan musik – suara piano yang menenangkan - mencerminkan emosi yang ada didalam mobil, hening sangat menenangkan setelah terjadi badai. Aku meringkuk ke dalam pelukannya, menyandarkan kepalaku di lekuk lehernya. Dengan lembut Jongin membelai punggungku.

"Menyentuh adalah batas keras bagiku,Sehun," bisik Jongin.

"Aku tahu. Aku berharap paham alasannya."

Beberapa saat kemudian, Jongin mendesah, ia menjawab dengan suara lembut, "Masa kecilku sangat mengerikan. Salah seorang mucikari pelacur yang pecandu itu..." Suaranya menghilang, dan tubuhnya menegang saat Jongin mengingat kengerian yang tak terbayangkan itu.

"Aku bisa mengingat itu," Jongin berbisik sambil bergidik.

Tiba-tiba, jantungku menyempit saat aku ingat bekas luka bakar dikulitnya. Oh, Jongin. Aku mengencangkan lenganku di lehernya.

"Apakah dia kasar? Ibumu?" Suaraku pelan dan lembut dengan air mata yang tertahan.

"Seingatku tidak. Dia hanya ceroboh. Dia tidak melindungiku dari mucikarinya." Jongin mendengus. "Kupikir akulah yang merawatnya. Ketika akhirnya dia bunuh diri, butuh waktu empat hari bagi seseorang menyadari itu dan menemukan kami. . . Aku ingat itu."

Aku terkesiap tak bisa menampung kengerian itu. Sialan. Kemarahan serasa naik ke tenggorokanku. "Itu sangat mengerikan," bisikku.

"Fifty Shades," bisik Jongin.

Aku menoleh dan mencium lehernya, berusaha menghiburnya saat aku membayangkan, seorang anak laki-laki kecil bermanik mata hitam sangat kotor yang tersesat dan sendirian di samping tubuh ibunya yang sudah meninggal. Oh, Jongin. Aku bernafas diantara aroma tubuhnya. Baunya surgawi, aroma favoritku yang ada di seluruh dunia. Jongin mengencangkan pelukannya dan mencium rambutku, dan aku duduk dalam pelukannya saat Taylor menambah kecepatan di kegelapan malam. Saat aku terbangun, kami sudah sampai di Seattle.

"Hei," kata Jongin lembut.

"Maaf," gumamku saat aku duduk dengan tegak, berkedip dan meregangkan tubuhku. Aku masih dalam pelukannya, di pangkuan Jongin.

"Aku bisa menontonmu tidur selama-lamanya, Sehun."

"Apa aku mengatakan sesuatu?"

"Tidak. Kita hampir sampai di tempatmu."

Oh?

"Kita tidak ke tempatmu?"

"Tidak."

Aku duduk dan menatap Jongin. "Mengapa tidak?"

"Karena besok kau kerja."

"Oh." Aku cemberut.

Jongin menyeringai ke arahku. "Mengapa, apa kau punya sesuatu didalam pikiranmu?"

Mukaku memerah. "Yah, mungkin."

Jongin terkekeh. "Sehun, aku tidak akan menyentuhmu lagi, tidak sebelum kau memohon padaku."

"Apa?!"

"Sampai kau mulai berkomunikasi denganku. Lain kali jika kita bercinta lagi, kau harus memberitahuku apa tepatnya yang kau inginkan secara detail."

"Oh."

Jongin menggeserku dari pangkuannya saat Taylor berhenti di depan apartemenku. Jongin keluar dan menahan pintu mobil terbuka untukku.

"Aku punya sesuatu untukmu." Jongin berjalan ke belakang mobil, membuka bagasi, dan mengeluarkan sebuah kotak yang besar dibungkus kertas kado. Astaga apa ini?

"Bukalah kalau kau sudah di dalam."

"Kau tidak masuk?"

"Tidak,Sehun."

"Jadi kapan aku akan bertemu denganmu?"

"Besok."

"Besok bosku mau mengajakku minum dengannya."

Wajah Jongin mengeras. "Benarkah, sekarang?" suaranya dicampur dengan ancaman yang terpendam.

"Untuk merayakan minggu pertamaku kerja," tambahku dengan cepat.

"Dimana?"

"Belum tahu."

"Aku bisa menjemputmu dari sana."

"Oke. . . Aku akan kirim e-mail atau sms untukmu."

"Bagus."

Jongin menemaniku berjalan sampai pintu lobi dan menunggu sementara aku mencari kunci di tasku. Saat aku membuka kunci pintu, dia membungkuk ke depan dan menangkup daguku, memiringkan kepalaku kebelakang. Mulutnya mendekat, dan menutup matanya, ia mencium dari sudut mataku ke sudut mulutku. Sebuah erangan kecil keluar dari mulutku karena bagian dalam tubuhku meleleh dan mengembang.

"Sampai besok," Jongin mengambil nafas.

"Selamat malam, Jongin," bisikku, dan aku mendengar nada keinginan dalam suaraku.

Jongin tersenyum. "Masuklah," perintahnya, dan aku berjalan melewati lobi sambil membawa bungkusan misteriusku.

"Sampai besok, sayang," Jongin berseru, lalu berbalik dengan anggun, kembali ke mobil.

Setelah didalam apartemen, aku membuka kotak hadiah dan aku melihat laptop MacBook Pro, Ponsel, dan kotak segi empat lainnya. Apa ini? Aku membuka kertas perak. Di dalamnya ada benda, warna hitam, tipis, Pembungkusnya terbuat dari kulit. Kubuka pembungkusnya, aku menemukan sebuah iPad. Ya ampun. . . iPad. Sebuah kartu putih di atas layar dengan pesan tertulis dalam tulisan tangan Jongin:

Sehun – ini untukmu.

Aku tahu apa yang ingin kau dengar.

Musik ini mengatakan tentang perasaanku.

Jongin

Astaga. Aku memiliki koleksi lagu-lagu dari Kim Jongin di iPad terbaru. Aku menggeleng tak setuju karena ini pasti mahal, tapi dalam hati aku menyukainya. Di kantor Chanyeol memiliki satu, jadi aku tahu bagaimana cara memakainya. Aku nyalakan dan terkesiap saat gambar wallpaper muncul: sebuah model pesawat glider yang kecil. Oh. Itu Blanik L23 yang kuberikan padanya, dengan bingkai glass stand yang berdiri diatas meja, aku pikir meja Jongin di kantornya. Aku melongo. Ia merakitnya! Jongin benar-benar merakitnya.

Aku ingat sekarang, Jongin pernah menuliskan itu dikartu kiriman bunganya. Aku terguncang, dan aku tahu saat itulah Jongin sudah menguraikan banyak yang ada dalam pikirannya pada saat Jongin mengirim itu. Aku geser panah di bagian bawah layar untuk membuka kunci dan aku terkesiap lagi. Wallpaper-nya ada fotoku dan Jongin saat acara wisuda-ku di tenda. Foto ini salah satu yang yang pernah tampil di Seattle Times. Jongin terlihat begitu tampan dan aku tak tahan untuk tidak tersenyum lebar, sepertinya dewa batinku meringkuk memeluk dirinya sendiri duduk diatas kursi malasnya - Ya, dan dia milikku! Dengan gesekan jariku, ikonnya bergeser, dan salah satu dari beberapa tampilan baru pada layar berikutnya. Aplikasi Kindle, iBooks, Word - apa pun itu.

Ya ampun! British Library? Aku menyentuh ikon itu dan muncul menu: KOLEKSI SEJARAH. Kugeser ke bawah, aku pilih NOVEL ABAD 18 dan 19. Kemudian menu yang lainnya. Aku sentuh sebuah judul: THE AMERICAN karya HENRY JAMES. Satu jendala baru terbuka, menawarkanku salinan scan dari buku untuk dibaca. Ya ampun - ini adalah edisi pertama, yang diterbitkan pada tahun 1879, dan itu ada di iPad-ku! Dia membelikan aku dari British Library hanya dengan sentuhan tombol saja. Aku keluar dari aplikasi ini dengan cepat, tahu bahwa aku akan tenggelam di dalamnya untuk waktu yang sangat lama. Aku menyadari bahwa aplikasi ini seperti

"makanan yang sangat lezat" yang membuatku memutar mataku dan tersenyum pada saat yang sama, sebuah aplikasi berita, aplikasi cuaca, tapi di catatan kartunya tadi menyinggung masalah musik. Aku kembali ke layar utama, menyentuh ikon iPod dan daftar playlist muncul. Aku menelusuri pilihan lagu-lagunya, dan itu membuatku tersenyum. Thomas Tallis- Aku tak akan melupakan itu dengan cepat. Bagaimanapun juga aku sudah dua kali mendengarnya, saat dia mencambuk dan berhubungan intim denganku.

"Witchcraft." Senyumku semakin lebar – ingat saat dansa mengelilingi ruangan yang besar. Karya Bach Marcello - oh tidak, itu terlalu sedih untuk suasana hatiku yang lagi gembira sekarang. Hmm. Jeff Buckley - yah, aku sudah pernah mendengar lagu ini. Snow Patrol - band favoritku - dan lagu berjudul

"Principles of Lust" oleh Enigma. Bagaimana menggambarkan sosok Christian. Aku menyeringai. Lagu lain judulnya "Possession". . . oh ya, sangat Fifty Shades. Dan beberapa lagi yang tak pernah kudengar. Memilih satu lagu yang menarik mataku, aku sentuh play. Judulnya "Try" dari Nellie Furtado. Dia mulai bernyanyi, dan suaranya seperti syal dari sutra yang membalut di sekelilingku, membungkusku.

Aku berbaring di tempat tidur. Apa ini berarti Jongin akan mencoba? Mencoba dengan hubungan baru? Aku menyerap isi liriknya, menatap langit-langit, mencoba untuk memahami perubahannya. Dia merindukanku. Aku merindukan dia. Dia pasti memiliki perasaan terhadapku. Pasti. IPad ini, lagu-lagu ini, aplikasi ini-dia peduli. Dia benar-benar peduli. Jantungku membengkak penuh harapan. Lagunya berakhir dan air mata menggenangi mataku. Aku segera menggeser lagu yang lain - "The Scientist" oleh Coldplay - salah satu band favorit Baekhyun.

Aku tahu lagunya, tapi aku belum pernah benar-benar mendengarkan lirik lagu itu sebelumnya. Aku menutup mata dan membiarkan kata-katanya meresap dalam pikiranku. Air mataku mulai mengalir. Aku tidak bisa membendungnya. Jika ini bukan permintaan maaf, lantas apa? Oh, Jongin. Atau apa ini sebuah undangan? Apa dia menjawab pertanyaanku?

Apa aku mengartikan ini terlalu banyak? Aku mungkin mengartikan ini terlalu banyak. Bawah sadarku mengangguk padaku, mencoba untuk menyembunyikan rasa kasihannya padaku. Aku menghapus air mataku. Aku akan mengirim e-mail untuk berterima kasih padanya. Aku melompat turun dari tidurku untuk mengambil laptop. Suara Coldplay masih mengalun, saat aku duduk bersila di tempat tidur. Mac menyala dan aku log in

Dari: Oh Sehun
Perihal: iPad
Tanggal: 9 Juni 2011 23:56
Untuk: Kim Jongin
Kau telah membuatku menangis lagi.
Aku suka iPad-nya.
Aku suka lagu-lagunya.
Aku suka Aplikasi British Library.
Aku mencintaimu.
Terima kasih. Selamat malam.
Sehun xx

Dari: Kim Jongin
Perihal: iPad
Tanggal: 10 Juni 2011 00:03
Untuk: Oh Sehun
Aku senang kau menyukainya.
Aku membeli satu untukku sendiri. Seandainya sekarang aku berada di sana, aku akan mencium untuk menghapus air matamu. Tapi aku tidak disana - cepat tidur.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Jawabannya membuatku tersenyum, masih sangat bossy, masih begitu Jongin. Apakah itu akan mengubahnya juga? Dan aku menyadari bahwa saat ini juga aku berharap tidak. Aku menyukai dia seperti ini – suka memerintah - selama aku bisa menghadapinya tanpa takut dihukum.

Dari: Oh Sehun
Perihal: Mr. Pemarah
Tanggal: 10 Juni 2011 00:07
Untuk: Kim Jongin
Seperti biasa kau sangat bossy dan mungkin kau tegang, mungkin marah pada dirimu sendiri, Mr. Kim.
Aku tahu sesuatu yang bisa meredakan itu. Tapi sayangnya kau tidak disini - kau tak mengijinkanku menginap, dan kau mengharapkan aku untuk memohon ... Jangan mimpi, Sir.
Sehun xx
PS: Aku juga mencatat bahwa kau memasukkan lagu kebangsaan seorang penguntit, "Every Breath You Take." Aku menikmati rasa humormu, tetapi apa Dr. Flynn tahu?

Dari: Kim Jongin
Perihal: Tenang seperti Zen
Tanggal: 10 Juni 2011 00.10
Untuk: Oh Sehun
Yang tersayang Sehun,
Memukul pantat juga terjadi dalam hubungan vanilla, kau sudah tahu itu. Biasanya terjadi karena suka sama suka dalam konteks seksual... tapi aku sangat senang untuk membuat pengecualiannya.

Kau akan lega mengetahui bahwa Dr. Flynn juga menikmati rasa humorku. Kumohon, segera tidur sekarang karena besok kau tak akan bisa tidur banyak. Secara tak sengaja - kau yang akan memohon, percayalah padaku. Dan aku menunggu itu.
Kim Jongin
CEO yang tegang, Kim Enterprises Holdings Inc

Dari: Oh Sehun
Perihal: Selamat malam, Mimpi yang Indah
Tanggal: 10 Juni 2011 00:12
Untuk: Kim Jongin
Oke, karena kau memintaku dengan manis, dan aku menyukai ancamanmu yang nikmat, aku akan meringkuk dengan iPad yang kau berikan padaku karena kemurahan hatimu dan tertidur karena browsing di British Library, sambil mendengarkan musik yang mengatakan tentang perasaanmu.
S xxx

Dari: Kim Jongin
Perihal: Satu lagi permintaan
Tanggal: 10 Juni 2011 00:15
Untuk: Oh Sehun
Mimpikanlah aku. x
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Memimpikanmu, Kim Jongin? Selalu. Aku segera mengganti pakaian dengan piyama, sikat gigi, dan naik ke tempat tidur. Memasang earphone di telingaku, aku mengambil balon Charlie Tango yang sudah kempes dari bawah bantal dan aku memeluknya. Aku dipenuhi rasa kebahagiaan, senyum lebar yang konyol tampak di wajahku. Perbedaan apa yang bisa dibuat dalam sehari.

Bagaimana aku bisa tidur? José Gonzales mulai menyanyikan lagu dengan melodi gitar riff yang menghipnotis, dan perlahan-lahan aku hanyut ke dalam tidurku, kagum bagaimana dunia sudah dibetulkan dengan sendirinya dalam satu malam dan berpikir dengan santai apa aku harus membuat playlist lagu-lagu untuk Jongin.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Pendek ya? Iya kan? Lagi suka ngepost pendek-pendek soalnya. Wkwk maaf juga ngaret, sumpah ini gegara charger laptop rusak. Batre laptop habis, jadi aku ga bisa apa-apa. Dan sedihnya karena laptop ane termasuk sekarang yang ga diproduksi lagi, jadi musti nunggu charger baru selama 1 minggu. Ini aja musti pinjem punya kakak jadi bisa nyala laptopnya. Haha

Oh ya jadwal kuliah aku bakal dimulai hari ini dan ya otomatis mungkin bakal bikin molor proses ngepost FF nya. Dan disini aku mau tanya. FF ini enaknya mau dipost seminggu sekali atau 2minggu sekali? Terserah kalian. Yang penting rajin-rajin review aja deh readersnya. Hihi

Dan bagaimana kelanjutan hubungan KaiHun? Manis-manisnya si Jongin udah kerasa kan? Sehun juga roman-romannya udah mulai mau lagi deket sama Jongin. Wkwk

Btw curcol dikit ke readers bisa kali ya, aku lagi stuck banget nih sama beberapa bagian dinovel ini yang tengah aku remake, itu bagian part pas pesta dan adegan ranjang. Musti banting stir dari Straight jadi YAOI tuh rasanya... Haha suka keder kalo ada beberapa kalimat yang rasanya enggan banget aku hapus. Hihi jadi maaf ya kalo misal kadang ada beberapa pas adegan rated 25+ itu nanti mungkin bakal ada beberapa kata-kata rancu. Aku minta maaf *bow*

Sampai jumpa dinext chapter selanjutnya, pai~ pai~

.

Thanks to review :

yeon1411 , YunYuliHun , Sekar Amalia , Furanshi , kaihun520 , sehunskai , ooh , , ajeng , Kiky-HunKai , Renakyu , VampireDPS , jiraniatriana , My jeje , Erna606 , , shixunaa , kaihunlicious , D. , bottomsehunnie , kimels94 , Jongin's Grape , driccha , .39 , awexome , LVenge .