Salah satu keuntungan tidak mempunyai mobil adalah selama perjalanan di dalam bis menuju tempat kerja, aku bisa memasang headset ke iPadku yang tersimpan dengan aman di dalam tas dan mendengarkan semua lagu-lagu indah dari Jongin yang dia berikan padaku. Saat aku tiba di kantor, aku memiliki senyum yang paling menggelikan di wajahku. Chanyeol langsung bereaksi saat memandang ke arahku sampai 2 kali.

"Selamat pagi,Sehun. Kau terlihat. . . berseri-seri!"

Aku merasa rona merah naik diwajahku. Ya ampun, sangat tidak pantas. "Aku bisa tidur nyenyak, terima kasih, Chanyeol. Selamat pagi."

Alis Chanyeol berkerut. "Bisakah kamu baca ini untukku dan tolong, hasil laporannya setelah makan siang?" Chanyeol menyerahkan empat naskah padaku. Saat ekspresiku tampak terkejut, ia menambahkan, "Hanya bab pertama."

"Tentu," aku tersenyum lega, dan Chanyeol membalas dengan tersenyum lebar. Aku menyalakan komputer untuk memulai pekerjaan, menghabiskan kopi latteku dan makan pisang. Ada e-mail dari Jongin.

Dari: Kim Jongin
Perihal: Tolonglah Aku . . .
Tanggal: 10 Juni 2011 08:05
Untuk: Oh Sehun
Aku harap kau sudah sarapan. Aku rindu padamu semalam.
Kim Jongin
CEO,Kim Enterprises Holdings Inc

Dari: Oh Sehun
Perihal: Lagu Lama. . .
Tanggal: 10 Juni 2011 08:33
Untuk: Kim Jongin
Aku sedang makan pisang saat mengetik. Aku tak pernah sarapan beberapa hari ini, jadi ini merupakan langkah yang maju. Aku suka Aplikasi British Library - aku mulai membaca ulang Robinson Crusoe. . . dan tentu saja, aku mencintaimu.
Sekarang tinggalkan aku sendiri - Aku mencoba untuk bekerja.
Oh Sehun
Asisten Park Chanyeol, Commissioning Editor, SIP

Dari: Kim Jongin
Perihal: Hanya itu saja yang kau makan?
Tanggal: 10 Juni 2011 08:36
Untuk: Oh Sehun
Kau bisa makan lebih baik dari itu. Kau akan membutuhkan energimu untuk memohon.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Dari: Oh Sehun
Perihal: Pengganggu
Tanggal: 10 Juni 2011 08:39
Untuk: Kim Jongin
Mr. Kim - Aku mencoba bekerja untuk mencari nafkah - dan kau yang akan memohon.
Oh Sehun
Asisten Park Chanyeol, Commissioning Editor, SIP

Dari: Kim Jongin
Perihal: Siap Terima Tantangan!
Tanggal: 10 Juni 2011 08:36
Untuk: Oh Sehun
Ah, masa Tuan Oh, aku menyukai tantangan. . .
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Aku duduk nyengir menatap layar seperti seorang idiot. Tapi aku perlu membaca bab-bab ini untuk Chanyeol dan menulis laporan itu semuanya. Menempatkan naskah di mejaku, aku mulai mengerjakannya.

Saat jam makan siang aku menuju ke toko makanan untuk membeli sandwich pastrami dan mendengarkan lagu-lagu dari iPad-ku. Lagu pertama dari Nitin Sawhney, yang berjudul "Homelands"- lumayan enak. Mr. Kim memiliki selera musik eklektik.

Aku kembali ke kantor, sambil mendengarkan musik klasik, Fantasia on a Theme of Thomas Tallis oleh Vaughn Williams. Oh, Fifty memiliki selera humor, dan aku mencintainya untuk itu. Kapan seringai bodoh ini pernah meninggalkan wajahku? Sore ini terasa berjalan lambat. Pada saat pekerjaan kosong, Aku memutuskan kirim e-mail untuk Jongin.

Dari: Oh Sehun
Perihal: Bosan. . .
Tanggal: 10 Juni 2011 16:05
Untuk: Kim Jongin
Memutar-mutar ibu jariku. Bagaimana kabarmu? Apa yang sedang kau lakukan?
Oh Sehun
Asisten Park Chanyeol, Commissioning Editor, SIP

Dari: Kim Jongin
Perihal: Ibu jarimu
Tanggal: 10 Juni 2011 16:15
Untuk: Oh Sehun
Kau seharusnya kerja ditempatku. Kau tak akan memutar-mutar ibu jarimu. Aku yakin, aku bisa menggunakannya dengan lebih baik.
Bahkan aku bisa memikirkan beberapa pilihan. . . Aku sedang melakukan merger dan akuisisi yang sangat menjemukan seperti biasanya. Semuanya sangat membosankan. E-mail-mu di SIP sedang diawasi.
Kim Jongin Terganggu
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Oh sial. Aku tak tahu. Bagaimana sih Jongin bisa tahu? Aku cemberut menatap layar dan segera memeriksa e-mail yang sudah kita kirim, aku menghapus semuanya. Tepat pukul lima tiga puluh, Chanyeol berada di mejaku. Pakaian santai pada hari Jumat jadi dia mengenakan celana jins dan kemeja hitam. Dia tampak kasual.

"Minum, Sehun? Biasanya kami suka jalan ke bar di seberang jalan."

"Kami?" Aku bertanya, penuh dengan harapan.

"Ya, sebagian besar dari kami biasanya pergi. . . kau mau ikut?"

Untuk beberapa alasan yang tak jelas, aku tak ingin mengkaji terlalu mendetail, tapi aku merasa sangat lega. "Mau sekali. Nama barnya apa?"

"50."

"Kau bercanda."

Chanyeol menatapku dengan aneh. "Tidak. Apa nama itu punya arti untukmu?"

"Tidak, maaf. Aku akan bergabung denganmu disana."

"Apa yang ingin kau minum?"

"Tolong, Bir."

"Keren."

Aku ke toilet dan mengirim e-mail untuk Jongin dari ponselku.

Dari: Oh Sehun
Perihal: Kau Pasti Benar-benar Cocok Disini
Tanggal: 10 Juni 2011 17:36
Untuk: Kim Jongin
Kami akan pergi ke bar namanya 'Fifty's.
Lelucon yang bisa kugali dalam hal ini tidak ada habisnya.
Aku berharap bisa bertemu denganmu di sana, .
S x

Dari: Kim Jongin
Perihal: Bahaya
Tanggal: 10 Juni 2011 17:38
Untuk: Oh Sehun
Menggali adalah pekerjaan yang sangat, sangat berbahaya.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Dari: Oh Sehun
Perihal: Bahaya?
Tanggal: 10 Juni 2011 17:40
Untuk: Kim Jongin
Dan maksudmu adalah?

Dari: Kim Jongin
Perihal: Hanya. . .
Tanggal: 10 Juni 2011 17:42
Untuk: Oh Sehun
Membuat observasi, Tuan Oh.
Aku segera akan bertemu denganmu. Lebih cepat lebih baik, sayang.
Kim Jongin
CEO, Kim Enterprises Holdings Inc

Aku memeriksa diriku di cermin. Dalam sehari perbedaan apa yang bisa dibuat. Aku memiliki warna yang lebih di pipiku, dan mataku bersinar. Ini akibat dari efek Kim Jongin. Sedikit berdebat di e-mail dengannya akan memberi efek seperti itu untuk seorang pria.

Aku menyeringai pada cermin dan meluruskan kemeja biru mudaku – salah satu yang dibelikan Taylor untukku. Hari ini aku juga mengenakan jeans favoritku. Saat aku akan keluar gedung, aku mendengar namaku dipanggil.

"Tuan Oh?"

Penasaran aku berbalik, dan seorang wanita muda bermuka pucat mendekatiku dengan hati-hati. Dia tampak seperti hantu-begitu pucat dan aneh tatapannya kosong.

"Tuan Oh Sehun?" Dia mengulangi, dan wajahnya kaku dan statis meski dia berbicara.

"Ya?"

Dia berhenti, menatapku berjarak sekitar tiga kaki dari trotoar, dan aku membalas menatapnya, tak mampu bergerak. Siapa dia? Apa yang dia inginkan?

"Bisa saya bantu?" Aku bertanya. Bagaimana dia tahu namaku?

"Tidak. . . Aku hanya ingin melihatmu." Suaranya lembut menakutkan. Seperti aku, dia memiliki rambut hitam yang sungguh kontras dengan warna kulitnya. Matanya berwarna coklat, seperti minuman bourbon, ekspresinya datar. Sama sekali tidak ada kehidupan di dalamnya. Wajahnya cantik, pucat, yang terukir dalam kesedihan.

"Maaf, kau menemuiku disaat yang tidak menguntungkan," kataku sopan, mencoba untuk mengabaikan peringatan yang menggelitik tulang belakangku. Jika dilihat lebih dekat, dia tampak aneh, berantakan dan tak terawat. Ukuran pakaiannya dua kali lebih besar, termasuk ukuran mantelnya. Dia tertawa, aneh, suaranya sumbang yang hanya membuatku bertambah cemas.

"Apa yang kau punya yang tidak aku punya?" Tanya dia sedih. Kecemasanku berubah menjadi takut.

"Maaf-siapa anda?"

"Aku? Aku bukan siapa-siapa." Dia mengangkat tangannya untuk menyibakkan rambut panjangnya kebahu, saat dia melakukan itu, otomatis lengan mantelnya ketarik keatas, memperlihatkan perban yang kotor di sekeliling pergelangan tangannya. Ya ampun.

"Selamat sore, Tuan Oh." Dia berbalik dan berjalan menuju jalanan saat aku berdiri terpaku.

Aku menyaksikan saat tubuh kecilnya menghilang dari pandangan, menghilang diantara para pekerja yang baru keluar dari berbagai kantor mereka. Sebenarnya tadi itu apa?

Dengan bingung, aku menyeberang jalan menuju bar, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, sementara alam bawah sadarku menegakkan kepalanya yang jelek dan mengejek padaku-Dia ada hubungannya dengan Jongin.

Fifty adalah bar seperti pada umumnya dengan panji-panji bisbol dan poster yang tergantung di dinding. Chanyeol sudah berada di bar bersama Elizabeth, Courtney seorang commissioning editor yang lain, dua cowok dari keuangan, dan Claire dari resepsionis. Dia seperti biasa memakai anting-anting bulat terbuat perak.

"Hai, Sehun!" Chanyeol memberiku sebotol Bud.

"Cheers. . . terima kasih," gumamku, aku masih terguncang oleh pertemuanku dengan gadis hantu tadi.

"Cheers." Kami saling mendentingkan botol, dan ia meneruskan berbicara dengan Elizabeth. Claire tersenyum manis padaku.

"Jadi, bagaimana minggu pertamamu selama ini?" Tanyanya.

"Baik, terima kasih. Tampaknya semua orang sangat ramah."

"Kau terlihat lebih bahagia hari ini."

Mukaku memerah. "Ini hari Jumat," gumamku dengan cepat. "Jadi - apa kau punya rencana akhir pekan ini?"

Cara untuk mengalihkan perhatianku berhasil dan aku merasa selamat. Claire ternyata salah satu dari tujuh bersaudara, dan dia bersama keluarga besarnya tinggal di Tacoma. Dia menjadi agak bersemangat, dan aku menyadari bahwa aku belum pernah berbicara dengan wanita yang seumuran denganku.

Tiba-tiba aku teringat Baekhyun. Tanpa sadar aku bertanya-tanya bagaimana dengan keadaan Baekhyun. . . dan Suho. Aku harus ingat untuk menanyakan pada Jongin jika ia sudah mendapat kabar dari dia. Oh, dan Jungkook kakaknya akan kembali Selasa depan, dan dia akan tinggal di apartemen kami. Aku tak bisa membayangkan Jongin akan merasa senang mendengar itu. Pertemuanku Sebelumnya dengan Gadis Hantu yang aneh itu menyelinap lebih jauh dari pikiranku. Selama percakapanku dengan Claire, Elizabeth menawarkan bir lagi.

"Terima kasih," aku tersenyum padanya. Claire sangat mudah untuk diajak bicara - dia orang yang ramah - dan tanpa kusadari, aku sudah minum bir yang ke tiga saat aku berbasa-basi dengan salah seorang cowok dari keuangan. Saat Elizabeth dan Courtney pergi, Chanyeol bergabung dengan aku dan Claire. Dimana Jongin? Salah satu cowok dari keuangan terlihat mengajak Claire ngobrol.

"Sehun, kira-kira kamu membuat keputusan yang tepat bekerja disini?" Suara Chanyeol lembut, dan dia berdiri agak terlalu dekat. Tapi aku sudah memperhatikan bahwa ia punya kecenderungan untuk melakukan hal ini dengan semua orang, bahkan di kantor. Bawah sadarku menyempit matanya. Kau menafsirkan terlalu banyak dalam hal ini, ia memperingatkan aku.

"Aku merasa senang minggu ini, terima kasih, Chanyeol. Ya, aku pikir aku membuat keputusan yang tepat."

"Kau orang yang sangat cerdas,Sehun. Kau akan cepat sukses."

Aku malu. "Terima kasih," gumamku, karena aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan.

"Jauh kah tempat tinggalmu?"

" Pike Market district."

"Tidak jauh dari tempatku." Sambil tersenyum, Chanyeol bergerak lebih dekat dan bersandar di bar, secara efektif aku terperangkap. "Apa kau punya rencana akhir pekan ini?"

"Yah. . . um-" Aku bisa merasakan Jongin sebelum aku melihatnya. Seolah-olah seluruh tubuhku sangat selaras dengan kehadirannya. Rasa menenangkan dan terbakar pada saat bersamaan - dua sisi internal yang aneh - dan aku merasakan seperti ada denyutan listrik.

Jongin menempatkan tangannya di bahuku seperti kebiasaannya memamerkan tanda sayang - tapi aku tahu ini berbeda. Jongin ingin memperlihatkan bahwa aku miliknya, dan saat ini aku menerima dengan senang hati.

Dengan lembut Jongin mencium rambutku. "Halo, Sayang," bisik Jongin.

Aku tidak bisa tidak merasa sangat lega, merasa aman, dan senang karena lengannya ditempatkan di bahuku. Jongin menarikku ke sisinya, dan aku melirik ke arahnya saat ia menatap Chanyeol, ekspresinya tenang. Berpaling, Jongin menatapku, tersenyum miring sebentar diikuti dengan sekilas kecupan. Jongin mengenakan jaket bergaris seperti corak angkatan laut, celana jins dan kemeja putih terbuka. Dia tampak mempesona. Chanyeol terlihat tidak nyaman.

"Chanyeol, ini Jongin," bisikku minta maaf. Mengapa aku minta maaf? "Jongin, ini Chanyeol."

"Aku pacarnya," kata Jongin sambil tersenyum agak dingin yang tidak sampai menyentuh matanya saat dia menjabat tangan Chanyeol.

Aku melirik Chanyeol yang secara psikis sedang mengukur kemampuan orang yang berdiri di depannya.

"Aku bosnya," jawab Chanyeol arogan. "Sehun pernah menyebut sebagai mantan pacar."

Oh, sialan. Kau pasti tak ingin main-main dengan Fifty.

"Yah, sekarang bukan mantan lagi," jawab Jongin dengan tenang. "Ayo, sayang, saatnya pergi."

"Tolong, tinggallah dan bergabung dengan kami untuk minum," kata Chanyeol lancar.

Aku tidak berpikir itu ide yang baik. Mengapa rasanya tidak begitu nyaman? Aku melirik Claire, yah, tentu saja dia terang-terangan sedang menatap, mulutnya menganga melihat Jongin. Kapan aku akan berhenti memikirkan efek dia terhadap perempuan lain?

"Kami sudah punya rencana lain," balas Jongin dengan senyum penuh teka-teki.

Kami punya rencana? Dan getaran penuh harap menjalar di seluruh tubuhku.

"Mungkin, lain waktu," tambahnya.

"Ayo," kata Jongin padaku saat ia menggenggam tanganku.

"Sampai ketemu hari Senin." Aku tersenyum pada Chanyeol, Claire, dan cowok-cowok dari keuangan, berusaha keras untuk mengabaikan ekspresi Chanyeol yang kurang senang, dan mengikuti Jongin keluar pintu. Taylor menunggu dibalik kemudi Audi di pinggir jalan.

"Mengapa itu tadi seperti kompetisi buang air kecil?" Aku bertanya pada Jongin saat ia membuka pintu mobil untukku.

"Karena itu harus," bisik Jongin dan memberiku senyum misterius lalu menutup pintuku.

"Halo, Taylor," kataku saat mata kami bertemu di spion dalam mobil.

"Tuan Oh," Taylor menjawab dengan senyum ramah.

Jongin duduk disampingku, menggenggam tanganku, dan dengan lembut mencium buku-buku jariku. "Hai," kata Jongin lembut.

Pipiku bersemu merah muda, menyadari bahwa Taylor bisa mendengar kita, bersyukur bahwa dia tidak bisa melihat, sepertinya Jongin bisa membuat celana dalamku terbakar. Aku berusaha untuk menahan diri supaya tidak melompat padanya disini, di kursi belakang mobil. Oh, kursi belakang mobil. . . hmm. Dewa batinku merenung dengan tenang sambil membelai dagunya dengan lembut.

"Hai," aku mengambil napas, mulutku kering.

"Apa yang ingin kau lakukan malam ini?"

"Kau bilang kita punya rencana."

"Oh, aku tahu apa yang aku ingin lakukan, Sehun. Aku bertanya padamu apa yang ingin kau lakukan."

Aku tersenyum pada Jongin.

"Aku tahu," kata Jongin sambil menyeringai nakal dan mesum. "Jadi. . . ingin memohon. Apa kau ingin memohon di tempatku atau tempatmu?" Jongin memiringkan kepalanya ke satu sisi dan tersenyum, oh-senyumnya yang begitu seksi ditujukan padaku.

"Aku rasa kau menjadi sangat sombong, Mr. Kim. Tapi daripada merubah arah, kita bisa pergi ke apartemenku saja." Aku menggigit bibir dengan sengaja, dan ekspresinya menjadi lebih gelap.

"Taylor, tolong ke tempat Sehun."

"Ya, Sir," Taylor menjawab dan pandangannya ke lalu lintas.

"Jadi bagaimana dengan harimu?" Tanya Jongin.

"Baik. Dan kau?"

"Baik, terima kasih." Senyum Jongin lebar bercampur geli seperti aku, dan dia mencium tanganku lagi.

"Kau tampak menarik," kata Jongin.

"Kau juga."

"Bosmu, Park Chanyeol, apa kerjanya baik?"

Whoa! Kenapa tiba-tiba arah pembicaraan berubah? Aku mengerutkan kening. "Kenapa? Ini bukan tentang kompetisi buang air kecilmu itu kan?"

Jongin nyengir. "Pria itu ingin masuk ke celana dalammu, Sehun," katanya datar.

Mukaku merah padam, mulutku menganga, dan aku melirik gugup pada Taylor. Bawah sadarku menghirup napas panjang, terkejut.

"Yah, dia bisa menginginkan semua yang dia suka. . . mengapa kita memiliki pembicaraan seperti ini? Kau tahu aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dia hanya bosku."

"Itulah intinya. Dia ingin apa yang jadi milikku. Aku perlu tahu apa dia baik dalam pekerjaannya."

Aku mengangkat bahu. "Aku kira begitu." Kemana arah pembicaraan Jongin?

"Yah, sebaiknya dia membiarkan kamu sendirian, atau dia akan menemukan pantatnya di pinggir jalan."

"Oh, Jongin, apa yang kau bicarakan? Dia tidak melakukan kesalahan apapun." . . . Namun. Dia hanya berdiri terlalu dekat.

"Kau harus mengatakan padaku, jika dia melakukan kejahatan moral yang kotor - atau pelecehan seksual."

"Itu hanya minum sepulang kerja."

"Aku serius. Satu gerakan, dia langsung keluar."

"Kau tidak punya kekuasaan semacam itu." Yang benar saja! Tapi sebelum aku sempat memutar mata ke arahnya, kesadaran memukulku seperti kekuatan truk barang yang sedang ngebut.

"Apa kau punya kekuasaan itu, Jongin?"

Jongin memberiku senyum penuh teka-teki.

"Kau membeli perusahaannya," bisikku ngeri. Senyumnya terlepas dalam menanggapi suaraku yang panik.

"Tidak persis seperti itu," kata Jongin.

"Kau sudah membelinya. SIP."

Jongin berkedip padaku, hati-hati. "Mungkin."

"Kau sudah memiliki atau belum?"

"Sudah."

Apa-apaan ini?

"Kenapa?"

Aku terkesiap, terkejut. Oh, ini hanya terlalu banyak.

"Karena aku bisa, Sehun. Aku ingin kau aman."

"Tapi kau bilang kau tidak akan ikut campur dalam karirku!"

"Dan aku tidak melakukan itu."

Aku menarik tanganku keluar dari tangan Jongin. "Jongin. . ." Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku.

"Apa kau marah padaku?"

"Ya. Tentu saja aku marah padamu." Aku seperti mendidih. "Maksudku, tanggung jawab eksekutif bisnis macam apa yang membuat keputusan berdasarkan dengan siapa mereka biasa berhubungan intim?" aku langsung pucat dan melirik kembali dengan gelisah pada Taylor yang tampak tenang yang mengabaikan kita. Sial. Waktu yang tak tepat saat otak dan mulut mengalami malfungsi penyaringan.

Sehun! Bawah sadarku melotot padaku. Jongin membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi dan merengut padaku. Aku memelototi Jongin. Suasana di dalam mobil langsung berubah dari reuni hangat yang menyenangkan menjadi dingin dengan kata-kata yang tak terucap dan berpotensi saling menuduh saat kami saling menatap dengan marah.

Untunglah, perjalanan mobil kami yang tidak nyaman ini tidak berlangsung lama, dan Taylor berhenti di depan apartemenku. Aku langsung keluar dari mobil, tidak menunggu siapa pun untuk membukakan pintu. Aku mendengar Jongin bergumam pada Taylor, "Aku pikir sebaiknya kau menunggu disini."

Aku merasa Jongin berdiri mendekat dibelakangku saat aku berusaha untuk menemukan kunci pintu depan di dalam tasku.

"Sehun," kata Jongin dengan tenang seakan-akan aku hewan liar yang terpojok.

Aku menghela napas dan berbalik untuk melihatnya. Aku sangat marah padanya, kemarahanku sangat jelas-berwujud gelap yang mengancam akan mencekikku.

"Pertama, aku sudah lama tidak berhubungan intim denganmu yang rasanya sudah sangat lama. Dan kedua, aku ingin mencoba masuk ke dunia penerbitan. Dari empat perusahaan di Seattle, SIP adalah yang paling menguntungkan, karena sudah berada di titik puncak, perusahaan itu tidak akan mengalami kemajuan makanya perlu dikembangkan." Aku menatap dingin pada Jongin. Matanya begitu intens, bahkan mengancam, tapi seksi. Aku bisa tersesat di kedalaman matanya.

"Jadi sekarang kau adalah bosku," aku membentak.

"Secara teknis, aku adalah bos dari bos dari bosmu itu."

"Dan, secara teknis, itu adalah kejahatan moral yang kotor - faktanya aku sudah tidur dengan bos bos bosku itu."

"Saat ini, kau sedang bertengkar dengannya." Jawab Jongin dengan cemberut.

"Itu karena dia seperti seekor keledai," Aku mendesis.

Jongin tertegun melangkah mundur dengan kaget. Oh sial. Apa aku sudah terlalu jauh?

"Seekor keledai?" Gumam Jongin, ekspresinya berubah menjadi lucu. Brengsek! Aku marah padamu, jangan membuat aku tertawa!

"Ya." Aku berjuang untuk mempertahankan penampilanku yang sedang marah.

"Seekor keledai?" Kata Jongin lagi. Kali ini bibirnya berkedutan menahan senyum.

"Jangan membuatku tertawa saat aku marah padamu!" Teriakku.

Dan Jongin tersenyum,, mempesona, memperlihatkan semua giginya, senyum seluruh cowok Amerika-Asia, dan aku tidak bisa menahannya. Aku tersenyum dan tertawa juga. Bagaimana tidak bisa terpengaruh kegembiraan ini saat aku melihat senyumnya?

"Hanya karena aku memiliki senyum sialan bodoh di wajahku tidak berarti aku tidak marah besar padamu," gumamku terengah-engah, mencoba untuk menekan cekikikan seperti pemain cheerleader SMA. Meskipun aku tidak pernah menjadi anggota cheerleader-pikiran getir melintas dalam pikiranku. Gila! Kau ini pria, Oh Sehun.

Jongin bersandar, dan aku pikir Jongin akan menciumku tapi dia tidak melakukannya. Jongin mengendus rambutku dan menghirup dalam-dalam.

"Seperti biasa, Sehun, kau tidak bisa ditebak." Jongin bersandar dan menatapku, matanya menari dengan humor. "Jadi, apa kau mau mengundangku masuk, atau apa aku akan disuruh pergi hanya karena aku berlatih menggunakan hak demokrasi yang benar sebagai pengusaha dan konsumen warga Asia, untuk membeli apapun yang aku inginkan?"

"Apa kau sudah bicara dengan Dr Flynn tentang ini?"

Jongin tertawa. "Apakah kau akan membiarkan aku masuk atau tidak, Sehun?"

Aku mencoba untuk terlihat enggan-dengan menggigit bibirku - tapi aku tersenyum saat aku membukakannya pintu. Jongin menoleh dan melambaikan tangan pada Taylor, dan Audi berjalan pergi.

Sungguh aneh rasanya ada Kim Jongin didalam apartemenku. Tempat ini terasa terlalu kecil untuknya. Aku masih marah padanya sifat penguntitnya tidak mengenal batas, dan aku baru sadar, bagaimana ia tahu tentang e-mail yang dipantau pada SIP. Dia mungkin tahu lebih banyak tentang SIP daripada aku. Pikiran itu membuatku tidak nyaman.

Apa yang bisa kulakukan? Mengapa Jongin perlu menjagaku supaya aman? Aku sudah dewasa – Ya ampun. Apa yang bisa kulakukan untuk meyakinkan dia?

Aku menatap wajah tampan Jongin saat ia melangkah masuk kedalam ruangan seperti predator yang terkurung, dan kemarahanku jadi mereda. Melihat Jongin di sini, didalam ruanganku, aku pikir suasana hati kami menjadi hangat. Lebih dari hangat, aku mencintainyya, dan hatiku membengkak dengan gelisah, kegembiraan yang memabukkan.

Jongin melihat sekeliling, menilainya. "Tempat tinggal yang nyaman," kata Jongin.

"Orang tua Baekhyun membelinya untuk dia."

Jongin mengangguk dengan bimbang, dan manik mata hitamnya sangat tegas menatapku.

"Er. . . Apa kau ingin minum? "gumamku, mukaku memerah dengan gelisah.

"Tidak, terima kasih, Sehun." Mata Jongin bertambah gelap.

Oh sial. Mengapa aku begitu gelisah?

"Apa yang ingin kamu lakukan, Sehun?" Tanya Jongin lembut saat ia berjalan ke arahku, semua tampak liar dan panas. "Aku tahu apa yang ingin aku lakukan," tambah Jongin dengan suara rendah.

Aku mundur sampai membentur meja dapur yang terbuat dari beton. "Aku masih marah padamu."

"Aku tahu." Jongin tersenyum dengan senyum miring meminta maaf dan aku meleleh. . . Yah, mungkin tidak begitu marah.

"Apa kau ingin sesuatu untuk dimakan?" Aku bertanya.

Jongin mengangguk perlahan. "Ya. kau," bisik Jongin.

Bagian bawah tubuhku langsung menegang. Aku tergoda mendengar suaranya, terlihat lapar – sepertinya aku sangat menginginkanmu sekarang - oh. Jongin berdiri didepanku, sama sekali tidak bersentuhan, menatap ke dalam mataku dan merendamku dengan panas yang terpancar dari tubuhnya. Aku merasa gerah, bingung, dan kakiku seperti jelly saat keinginan gelap melewati tubuhku. Aku menginginkan Jongin.

"Kau makan apa hari ini?" Bisik Jongin.

"Aku makan siang dengan sandwich," bisikku. Aku tidak ingin membicarakan masalah makanan.

Jongin menyipitkan matanya. "Kau harus makan."

"Sekarang aku benar-benar tidak lapar. . . untuk makanan."

"Apa yang kamu laparkan, Sehun?"

"Aku pikir kau sudah tahu, Mr. Kim."

Jongin membungkuk, dan sekali lagi kupikir dia akan menciumku, tapi dia tidak melakukan. "Apa kau ingin aku menciummu,Oh Sehun?" Bisik Jongin lembut di telingaku.

"Ya," aku menarik napas.

"Dimana?"

"Di seluruh tubuhku."

"Kau harus sedikit lebih spesifik daripada itu. Aku bilang aku tidak akan menyentuhmu sampai kau memohon padaku dan katakan padaku apa yang harus kulakukan."

Dewa batinku menggeliatkan tubuhnya diatas kursi malasnya. Aku kalah; Jongin bermain tidak adil.

"Kumohon," bisikku.

"Mohon apa?"

"Sentuhlah aku."

"Dimana, sayang?" Jongin begitu dekat sangat menggoda, aromanya memabukkan. Aku mengulurkan tangan, dan Jongin segera mundur kebelakang.

"Tidak, jangan," tegur Jongin. Tiba-tiba matanya melebar dan gugup.

"Apa?" Tidak. . . kembalilah.

"Jangan." Jongin menggeleng.

"Tidak sama sekali?" Aku tidak bisa menahan kerinduan keluar dari suaraku.

Jongin menatapku dengan ragu, dan aku semakin berani karena kebimbangannya. Aku melangkah ke arahnya, dan Jongin melangkah mundur sambil mengangkatkan tangannya untuk bertahan tapi sambil tersenyum.

"Jangan,Sehun." Ini adalah peringatan, dan tangan Jongin mengacak-acak rambutnya dengan putus asa.

"Kadang-kadang kau tidak keberatan," aku melihatnya dengan sedih. "Mungkin aku harus mengambil spidol, dan kita bisa memetakan daerah yang tidak atau boleh disentuh."

Jongin mengangkat alis. "Itu bukan ide yang buruk. Dimana kamar tidurmu?"

Aku mengangguk ke arah kamar tidurku. Apa Jongin sengaja mengubah topik pembicaraan?

"Apa kau masih minum pilmu?"

Oh sial. Pil ku. Jongin mengamati ekspresiku.

"Tidak," kataku lirih.

"Aku mengerti," kata Jongin, dan bibirnya tekan menjadi garis tipis.

"Ayo, mari kita cari sesuatu untuk dimakan."

Oh tidak!

"Aku pikir kita akan tidur! Aku ingin masuk ke tempat tidur denganmu."

"Aku tahu, sayang." Jongin tersenyum, tiba-tiba bergerak cepat mendekatiku, Jongin meraih pergelangan tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya hingga tubuhnya menekan tubuhku.

"Kau harus makan, begitu juga denganku," bisik Jongin, manik mata hitamnya membakar menatap ke arahku. "Disamping itu. . . antisipasi adalah kunci dari rayuan, memang benar sekarang, aku benar-benar bisa menunda kepuasan."

Hah, sejak kapan?

"Aku sudah tergoda dan aku ingin kepuasanku sekarang. Aku akan memohon, kumohon." Suaraku seperti merengek. Dewa batinku berada di samping dirinya sendiri.

Jongin tersenyum padaku dengan lembut. "Makanlah. Kamu terlalu kurus." Jongin mencium keningku dan melepaskan aku. Ini adalah sebuah permainan, bagian dari beberapa rencana jahatnya. Aku cemberut padanya.

"Aku masih marah karena kau sudah membeli SIP, dan sekarang aku marah padamu lagi karena kau membuat aku menunggu." Kataku sambil cemberut.

"Kau adalah salah satu nyonya kecil yang pemarah, bukan? Kau akan merasa lebih baik setelah makan enak."

"Aku tahu setelah apa yang bisa membuatku merasa lebih baik."

"Oh Sehun, aku benar-benar kaget." Nada suara Jongin lembut seperti mengejek.

"Berhenti menggodaku. Kau melawan secara tidak adil."

Jongin meredam seringainya dengan menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat cukup menggemaskan. . . kesenangan Kim Jongin mempermainkan libidoku. Kalau saja keterampilan menggodaku bisa lebih baik, aku tahu apa yang harus kulakukan, tapi tidak bisa menyentuhnya memang inilah yang menghambatku.

Dewa batinku menyempitkan matanya dan tampak berpikir sangat keras. Kita harus berusaha keras untuk ini. Saat Jongin dan aku saling menatap – aku merasa panas, terganggu dan mendambakannya dan dia terlihat santai dan terhibur dengan keinginanku - Aku sadar aku tidak punya makanan di apartemen.

"Aku bisa memasak sesuatu-kecuali kita harus belanja dulu."

"Belanja?"

"Untuk bahan makanan."

"Kau tidak punya makanan di sini?" Ekspresi Jongin mengeras. Aku menggelengkan kepala. Sial, Jongin terlihat cukup marah.

"Ayo kita belanja," kata Jongin tegas, dia berbalik lalu berjalan menuju pintu, membukanya lebar-lebar untukku.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Haha seminggu kan? Perjanjiannya seminggu sekali kan? Ini udah aku tepatin yaa~

Jadi, bagaimana kelanjutan hubungan KaiHun eh JongHun. Haha

Sekarang giliran Sehun yang merana gegara Jongin ga mau nyentuh dia. Wkwk

Dan disini udah kecium problem baru, ngeh gak? Wkwk

So? Gimana kelanjutannya?

Review please~ ^^

.

.

Thanks to review CH 2:

Guest , .5 , bbuingHyewa , vitangeflower , Renakyu , YunYuliHun , KrisYeolGalaxySHHRN , sekais , kaihunlicious , Furanshi , izzsweetcity , Ihfaherdiati892 , Octa918 , driccha , utsukushii02 , xohunte , Keteknyakai , VampireDPS , jiraniatriana , shixunaa , Sekar Amalia , Jongin's Grape , dialuhane , My jeje , bottomsehunnie , fitrysukma39.