"Kapan terakhir kali kau ke supermarket?" Jongin terlihat canggung disini, tapi dia mengikutiku dengan patuh, memegang keranjang belanjaan.
"Aku tidak ingat."
"Apa Mrs Jones yang belanja, semuanya?"
"Aku pikir Taylor yang membantunya. Aku tidak yakin."
"Apa kau suka masakan tumis? Masaknya bisa cepat."
"Tumis kedengarannya enak." Jongin menyeringai, tidak diragukan lagi, memikirkan motif tersembunyiku untuk makan dengan cepat.
"Apa mereka sudah lama bekerja padamu?"
"Aku pikir Taylor empat tahun. Mrs Jones hampir sama. Mengapa kau tidak memiliki makanan di apartemen? "
"Kau tahu mengapa," bisikku, memerah.
"Kau yang meninggalkan aku," Jongin bergumam dengan mencela.
"Aku tahu," jawabku dengan berbisik, tidak ingin mengingat itu.
Kami sudah sampai dikasir dan berdiri diam saat mengantre. Jika aku tidak meninggalkannya, apakah Jongin akan menawarkan hubungan alternatif vanila(normal)? Diam-diam aku ingin tahu.
"Apa kau punya sesuatu untuk diminum?" Jongin menyadarkan aku dari lamunan.
"Aku pikir . . . Bir."
"Aku akan mengambil anggur." Oh dear. Aku tidak yakin ada jenis anggur yang tersedia di Supermarket Ernie. Dan Jongin datang lagi dengan tangan kosong, menyeringai memperlihatkan ekspresi jijik.
"Ada toko minuman keras yang lengkap di toko sebelah," kataku cepat.
"Aku akan melihat apa yang mereka miliki."
Mungkin kami seharusnya ke apartemen Jongin saja, supaya kami tidak mengalami semua kerumitan ini. Aku menonton Jongin saat berjalan keluar dengan anggun menuju pintu. Dua wanita masuk, berhenti dan ternganga saat melihatnya. Oh ya, menatap mata Fifty Shades-ku, aku memikirkan itu dengan putus asa. Aku ingin ada kenangan Jongin di tempat tidurku, tapi Jongin berlagak jual mahal untuk didapatkan. Mungkin aku juga harus begitu. Dewa batinku setuju sambil mengangguk dengan panik. Dan saat aku antre, kami muncul dengan sebuah rencana.
Hmm. . . Jongin membawa kantong belanjaan sampai apartemen. Jongin membawanya saat kita berjalan pulang dari toko ke apartemen. Jongin tampak aneh. Sama sekali bukan perilaku CEO seperti basanya.
"Kau terlihat sangat domestik."
"Tidak ada yang menyuruhku seperti ini sebelumnya," kata Jongin datar.
Jongin meletakkan kantong belanja dimeja dapur. Saat aku mulai membongkar belanjaan, ia mengeluarkan sebotol anggur putih dan mencari pembuka botolnya.
"Tempat ini masih baru bagiku. Aku pikir pembuka botol ada dalam laci sebelah sana." Aku menunjukkan dengan daguku. Ini rasanya begitu. . . normal. Dua orang, ingin saling mengenal satu sama lain, makan bersama. Namun terasa aneh. Ketakutan yang kurasakan saat kehadirannya tidak ada lagi. Kami sudah pernah melakukan begitu banyak hal bersama, aku pun merasa malu karena mengingat hal itu, tapi aku hampir tidak mengenalnya.
"Kau sedang memikirkan apa?" Jongin menyela lamunanku saat dia melepas jaketnya yang bercorak garis-garis dan meletakkan disofa.
"Betapa aku hanya tahu sedikit tentang dirimu."
Jongin menatap ke arahku dan matanya melunak. "Kau mengenalku lebih baik dari siapa pun."
"Aku pikir itu tidak benar." Di dalam benakku, Mrs Robinson muncul tiba-tiba, dan dia orang yang sangat tidak kusukai.
"Sehun. Aku orang yang sangat, sangat tertutup." Jongin mengulurkan segelas anggur putih. "Cheers," katanya.
"Cheers," aku merespon dengan meneguknya sedikit saat ia memasukkan botol ke dalam lemari es.
"Bolehkah aku membantumu?" Tanya Jongin.
"Tidak usah. . . duduk saja."
"Aku ingin membantu." Ekspresi Jongin bersungguh-sungguh.
"Kamu bisa memotong sayuran."
"Aku tidak pernah memasak," kata Jongin, melihat pisau yang aku berikan padanya dengan was-was.
"Aku bisa bayangkan kau tak perlu memasak." Aku meletakkan talenan dan beberapa paprika merah di depannya. Jongin bingung melihat itu. "Kau tidak pernah memotong sayur?"
"Tidak"
Aku menyeringai pada Jongin.
"Apa kau menyeringai padaku?"
"Sepertinya ini adalah sesuatu yang bisa kulakukan sedangkan kau tidak bisa. Perhatikan, Jongin, aku pikir ini pertama kali. Disini, aku akan menunjukkan caranya padamu." Aku menyenggol Jongin dan dia mundur kebelakang. Dewi batinku duduk tegak dan memperhatikan.
"Seperti ini." Aku memotong paprika merah, dengan hati-hati membuang bijinya.
"Sepertinya sangat mudah."
"Kau seharusnya tidak punya masalah dengan hal itu," gumamku sedikit mengejek.
Sejenak Jongin menatap ke arahku tanpa ekspresi kemudian bersiap untuk melakukan tugasnya karena aku meneruskan menyiapkan ayam yang sudah dipotong dadu. Jongin mulai mengiris, dengan hati-hati, perlahan-lahan. Oh, kami akan berada disini sepanjang hari.
Aku mencuci tanganku dan mencari wajan, minyak, dan bahan lainnya yang aku butuhkan, berulang kali menyenggol Jongin, pinggulku, lengan, pantat, dan tanganku. Sedikit sih, seperti sentuhan tanpa sengaja. Jongin terdiam setiap kali aku melakukan itu.
"Aku tahu apa yang kau lakukan, Sehun," bisik Jongin muram, masih menyiapkan paprika yang pertama.
"Aku pikir inilah yang dinamakan masak," kataku, sanbil mengedipkan bulu mataku. Mengambil pisau yang lain, aku bergabung dengannya di talenan, mengupas dan mengiris bawang putih, bawang merah, dan buncis, terus menerus menyenggol dirinya.
"Kau sangat pandai dalam hal ini," Jongin bergumam saat ia mulai mengiris paprika merah yang kedua.
"Mengiris?" Aku mengedipkan bulu mataku padanya. "Bertahun-tahun praktek." Aku menyenggol Jongin lagi, kali ini dengan pantatku. Jongin terdiam sekali lagi.
"Jika kau melakukan itu lagi, Sehun, aku akan mencumbuimu di lantai dapur ini."
Oh, wow. Berhasil. "Kau harus memohon padaku dulu."
"Apakah itu sebuah tantangan?"
"Mungkin."
Jongin meletakkan pisaunya dan berjalan pelan ke arahku, matanya membara. Condong melewati aku, dia mematikan kompor. Minyak dalam wajan langsung berhenti mendesis.
"Aku pikir makannya nanti saja," kata Jongin.
"Taruh ayamnya dalam kulkas." Ini bukan kalimat yang pernah aku harapkan keluar Kim Jongin, dan hanya dia yang bisa mengatakan sesuatu menjadi terdengar sangat panas, benar-benar panas.
Aku mengambil mangkuk ayam yang sudah dipotong dadu, dengan agak gemetar meletakkan piring di atasnya, dan memasukkan ke dalam kulkas. Ketika aku berbalik, Jongin sudah disampingku.
"Jadi kau akan memohon?" Aku berbisik, dengan berani menatap ke dalam matanya yang gelap.
"Tidak, Sehun." Jongin menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang memohon." Suaranya lembut, menggoda.
Dan kami berdiri saling menatap, menyelami satu sama lain - mengisi atmosfir diantara kami, hampir berderak, tidak berkata-kata, hanya menatap. Aku menggigit bibirku saat gairah pada pria tampan ini menyitaku dengan sepenuh hati, membakar darahku, menyesakkan napasku, bersatu dibawah pinggangku. Aku bisa melihat reaksiku yang terpantul disikapnya, dimatanya. Sejenak, Jongin menarik pinggangku untuk mendekat padanya, tanganku meraih rambutnya dan mulutnya menciumku.
Jongin mendorongku sampai menempel ke lemari es, dan aku mendengar samar-samar bunyi getaran botol dan wadah dari dalam kulkas saat lidahnya masuk ke dalam mulutku. Aku mengerang didalam mulutnya, dan salah satu tangannya meremas rambutku, menarik kepalaku kebelakang saat kami berciuman dengan liar.
"Apa yang kau inginkan, Sehun?" desah Jongin.
"Kamu." Aku terengah-engah.
"Dimana?"
"Tempat tidur."
Jongin melepaskan diri, menggendongku, dan membawaku dengan cepat seperti tanpa adanya beban masuk ke dalam kamar tidurku. Menurunkan aku di samping tempat tidur, Jongin membungkuk dan menyalakan lampu samping tempat tidurku. Dia melirik dengan cepat sekeliling ruangan dan buru-buru menutup gorden warna krem muda.
"Sekarang apa?" Kata Jongin lembut.
"Bercintalah denganku."
"Bagaimana?"
Astaga.
"Kau harus menjelaskannya padaku, sayang."
Sialan.
"Buka pakaianku." Aku sudah terengah-engah.
Jongin tersenyum dan mengaitkan jari telunjuknya ke kemeja terbukaku, menarikku ke arahnya.
"Anak manis," bisik Jongin, tanpa melepaskan tatapan matanya yang berkobar padaku, perlahan mulai membuka kancing bajuku. Sementara aku meletakkan tanganku di atas lengannya supaya aku tetap stabil. Jongin tidak protes. Lengannya adalah daerah aman.
Ketika selesai membuka kancingku, Jongin menarik lepas kemejaku melewati bahuku, dan aku melepaskan peganganku dari lengannya dan membiarkan bajuku jatuh ke lantai. Jongin meraih pinggang celana jeansku, membuka kancing, dan menarik turun risletingnya.
"Katakan padaku apa yang kau inginkan, Sehun." Mata Jongin membara dan bibir terbuka sambil terengah-engah.
"Cium aku dari sini ke sini," bisikku, jariku menelusuri dari pangkal telingaku, turun ke tenggorokanku.
Jongin membungkuk, meninggalkan ciuman manis yang lembut di sepanjang jalan jariku tadi lalu kembali lagi.
"Jins dan celana dalamku," bisikku, dan Jongin tersenyum ditenggorokanku sebelum berlutut dihadapanku. Oh, aku merasa begitu berkuasa. Mengaitkan ibu jarinya ke dalam celana jinsku, dengan lembut Jongin menarik jins dan celana dalamku menuruni kakiku. Aku melepaskan sepatu dan pakaianku hingga aku telanjang. Jongin berhenti dan menatapku dengan penuh harap, tapi dia tidak berdiri.
"Sekarang apa, Sehun?"
"Cium aku," bisikku.
"Dimana?"
"Kau tahu di mana."
"Dimana?"
Oh, Jongin tidak mau berbelit-belit. Karena merasa malu aku segera menunjuk pada pangkal pahaku, dan ia menyeringai dengan nakal. Aku menutup mataku, sangat malu tapi sekaligus sangat terangsang.
"Oh, dengan senang hati," Jongin terkekeh,lalu menciumku dan melepaskan lidahnya, lidah terlatih memberikan kenikmatan.
Aku mengerang dan tanganku meremas rambutnya. Jongin tidak berhenti, lidahnya berputar-putar di penisku, membuatku gila, dan terus, berputar-putar. Ahhh. . . ini hanya. . . sampai berapa lama. . . ? Oh. . .
"Jongin, kumohon," Aku memohon. Aku tidak ingin lepas sambil berdiri. Aku tidak punya kekuatan.
"Mohon apa, Sehun?"
"Bercintalah denganku."
"Aku sedang melakukannya," bisik Jongin, dengan lembut menghembuskan napas padaku.
"Tidak. Aku ingin kau dalam diriku."
"Apakah kau yakin?"
"Kumohon."
Jongin tidak mau menghentikan siksaan yang nikmatnya. Aku mengerang keras.
"Jongin. . . kumohon."
Jongin berdiri dan menatap ke arahku, dan bibirnya berkilau dengan bukti gairahku. Sialan . .
"Jadi?" Tanya Jongin.
"Jadi apa?" Aku terengah-engah, menatap Jongin dengan keinginan yang membara.
"Aku masih berpakaian."
Aku menganga pada Jongin dengan bingung. Menanggalkan pakaiannya? Ya, aku bisa melakukan ini. Aku meraih kemejanya dan Jongin melangkah mundur.
"Oh bukan itu," Jongin memperingatkan. Sial, maksudnya celana jinsnya.
Oh, dan ini memberiku sebuah ide. Dewa batinku bersorak dengan lantang keatas, dan akupun berlutut dihadapan Jongin. Agak canggung dengan jari gemetar, aku membuka ikat pinggangnya, kemudian menarik celana jins dan celana boxernya ke bawah, dan dia pun terlepas. Wow. Aku mengintip ke arahnya melalui bulu mataku, dan Jongin menatapku dengan. . . apa? Gelisah?Terpesona? terkejut?
Jongin melangkah keluar dari celana jinsnya dan melepas kaus kakinya, dan aku mengambil lalu menggenggam penisnya dengan tanganku dan meremas erat, mendorong kembali tanganku seperti sebelumnya yang pernah Jongin tunjukkan padaku. Penis Jongin mengerang dan menegang, dan napasnya mendesis melalui giginya yang terkatup. Sangat tentatif, aku menempatkan ke dalam mulutku dan mengisapnya dengan keras. Mmm, rasanya enak.
"Ahh. Sehun. . . whoa, pelan-pelan." Jongin memegang kepalaku dengan lembut, dan aku mendorongnya lebih dalam ke dalam mulutku, mengatupkan bibirku seketat mungkin, menyelubunginya dengan gigiku, dan mengisapnya dengan keras.
"Sialan," Jongin mendesis.
Oh, ini bagus, membangkitkan semangat, suara yang seksi, jadi aku melakukannya lagi, menghisapnya lebih dalam lagi, lidahku berputar-putar diujungnya. Hmm. . . Aku merasa seperti Aphrodite.
"Sehun, sudah cukup. Tidak lagi."
Aku melakukannya lagi-memohonlah, Kim, memohonlah-dan lagi.
"Sehun, kau sudah menunjukan maksudmu," Jongin mengerang melalui giginya yang terkatup. "Aku tidak mau terlepas didalam mulutmu."
Aku melakukannya sekali lagi, dan Jongin membungkuk, mencengkeram bahuku, menarikku berdiri, dan melemparkan aku ke tempat tidur. Menarik kemejanya ke atas kepalanya, kemudian ia meraih kebawah untuk membuang celana jinsnya, dan seperti seorang pramuka yang terampil, mengeluarkan paket foil. Jongin terengah-engah, sepertiku.
"Berbaringlah. Aku ingin melihatmu."
Aku berbaring, menatapnya saat Jongin perlahan-lahan menggulungkan kondomnya. Aku sangat menginginkan Jongin.
Jongin menatap ke arahku dan menjilati bibirnya. "Kau adalah pemandangan yang sangat indah, Oh Sehun."
Jongin membungkuk di atas tempat tidur dan perlahan-lahan merangkak naik di atasku sambil menciumi seluruh tubuhku. Jongin mencium setiap area dadaku dan menggoda putingnya secara bergantian. sementara aku mengerang dan menggeliat di bawahnya, dan Jongin tidak berhenti. Tidak. . . Berhenti. Aku menginginkan kamu.
"Jongin, kumohon."
"Mohon apa?" Gumam Jongin diantara putingku.
"Aku ingin kau dalam diriku."
"Apakah kau memohon sekarang?"
"Kumohon." Menatapku, Jongin mendorong kedua kakiku agar terpisah kemudian dia berpindah di atasku. Tanpa mengalihkan tatapan matanya dariku, Jongin tenggelam ke dalam diriku dengan kecepatan yang lambat dan terasa nikmat.
Aku memejamkan mata, menikmati rasa penuh ini, perasaan indah saat menjadi miliknya, secara naluriah aku menaikkan pinggulku untuk bergabung dengannya, mengerang keras. Jongin mendorong masuk kembali dan dengan sangat lambat mengisiku lagi. Jari-jariku meremas ke dalam rambut halusnya yang sulit diatur, dan Jongin oh begitu perlahan gerakannya, masuk dan keluar lagi dalam tubuhku.
"Lebih cepat, Jongin, lebih cepat. . . kumohon."
Jongin menatap ke arahku dengan penuh kemenangan dan menciumku dengan keras, dan benar-benar mulai bergerak – ya ampun, sebuah hukuman, tanpa henti. . . oh sial - dan aku tahu ini tidak akan lama. Jongin mulai melepaskan hentakan berirama. Aku mulai mempercepat, kakiku menegang di bawahnya.
"Ayo, sayang," Jongin terengah-engah. "Berikan padaku." Kata-kata Jongin meruntuhkan aku, dan aku pun meledak, menakjubkan, pikiranku seakan mati rasa, menjadi berkeping-keping di sekelilingnya, dan Jongin mengikutiku sambil meneriakan namaku.
"Sehun! Oh, ya ampun, Sehun!" Jongin jatuh di atasku, kepalanya terkubur ke leherku.
~oOOo~
Saat kesadaranku kembali, aku membuka mataku dan menatap ke wajah pria yang aku cintai. Ekpresi wajah Jongin lembut dan mesra. Jongin menggosokkan hidungnya ke hidungku, menahan berat tubuhnya dengan sikunya, dan tangannya menggenggam kedua tanganku disisi kepalaku. Aku berpikir dengan sedih Jongin pasti melakukannya agar aku tidak menyentuhnya. Jongin memberi ciuman lembut dibibirku saat dia keluar perlahan dari dalam tubuhku.
"Aku merindukan ini" desah Jongin.
"Aku juga" bisikku.
Jongin menggenggam daguku dan mencium bibirku dengan kuat. Ciumannya penuh harapan dan gairah, berharap untuk apa? Aku tak tahu. Ciumannya membuatku kehilangan nafas.
"Jangan tinggalkan aku lagi" pinta Jongin, menatap ke dalam mataku, wajahnya serius.
"Baiklah," Bisikku dan aku tersenyum padanya.
Senyuman balasan dari bibir Jongin sangat menawan, lega, gembira dan girang bergabung menjadi suatu pandangan memikat yang dapat melelehkan hati paling dingin sekalipun.
"Terima kasih untuk iPod-nya."
"Sama-sama, Sehun."
"Apa lagu favoritmu didalamnya?"
"Ada saatnya aku beritahu." Seringai Jongin. "Ayo masakkan aku makanan,anak manis aku sangat lapar," tambah Jongin, tiba-tiba duduk dan menarikku untuk mengikutinya.
"Anak manis?" aku terkikik.
"Anak manis, tolonglah, makanan, sekarang."
"Karena kau meminta dengan cara yang baik, Tuan, aku akan membuatnya sekarang." Saat aku turun dari tempat tidur, tanpa sadar aku menggeser bantal-bantalku, sehingga muncullah balon helikopter kempes yang berada dibawahnya. Jongin meraihnya dan menatapku, bingung.
"Itu balonku," kataku, merasa memilikinya saat aku meraih jubahku dan memakainya disekeliling tubuhku. Astaga, mengapa Jongin bisa menemukannya?
"Di tempat tidurmu?" bisik Jongin.
"Ya," aku tersipu. "Balon ini menemaniku selama ini."
"Beruntungnya Charlie Tango," kata Jongin dengan terkejut.
Ya, aku menjadi orang yang sentimentil, Kim, karena aku mencintaimu.
"Balonku," kataku lagi dan aku berputar keluar menuju ke dapur, meninggalkan Jongin yang tersenyum sangat lebar.
~oOOo~
Jongin dan aku duduk di permadani persia milik Baekhyun, memakan stir-fry ayam dan mie dalam mangkuk cina dengan sumpit dan menyeruput White Pinot Grigio dingin. Jongin bersandar di sofa, kaki jenjangnya terjulur didepannya. Dia hanya memakai celana denim dan kemeja dengan rambut acak-acakannya menunjukkan barusan-bercinta. Lagu The Buena Vista Social Club mendayu-dayu keluar dari iPod Jongin.
"Ini enak", Jongin memuji sambil melahap makanannya.
Aku duduk dengan kaki menyilang disamping Jongin, makan dengan rakus, lebih daripada lapar sambil mengagumi kaki telanjang Jongin.
"Aku biasanya memang selalu yang memasak, Baekhyun bukan koki yang hebat."
"Apakah ibumu yang mengajari?"
"Tidak juga," aku mencela. "Saat aku mulai tertarik belajar, ibuku telah tinggal dengan suami nomor tiganya, di Mansfield, Texas. Dan Tuan Choi, yah, dia hanya akan hidup dengan makan roti panggang dan makanan cepat saji jika tidak demi aku."
Jongin menatap ke arahku. "Kau tidak tinggal di Texas dengan ibumu."
"Tidak, suaminya yang sebelumnya dan aku tidak akur, dan aku merindukan Tuan Choi. Pernikahannya dengan suami sebelumnya tak berjalan lama, aku pikir ibuku akhirnya tersadarkan. Dia tak pernah mau membicarakannya," tambahku pelan. Aku berpikir itu saat terkelam dalam hidupnya, sehingga tak pernah kami diskusikan.
"Jadi kau kembali ke China untuk tinggal dengan ayah tirimu."
"Ya."
"Kedengarannya seperti kau yang merawatnya," kata Jongin lembut.
"Mungkin juga." Aku mengangkat bahu.
"Kau terbiasa menjaga orang lain."
Nada akhir ucapan Jongin menarik perhatianku dan aku menoleh kearahnya. "Ada apa?" tanyaku, terkejut dengan ekpresi hati-hatinya.
"Aku ingin menjagamu." Mata berkilau milik Jongin memancarkan suatu emosi tak bernama. Debaran jantungku bertambah.
"Aku tahu," Bisikku. "Kau hanya melakukannya dengan cara yang aneh."
Alis Jongin berkerut. "Hanya cara itu yang aku tahu," Jongin berkata lirih.
"Aku masih marah denganmu karena telah membeli SIP."
Jongin tersenyum. "Aku tahu kamu akan marah, sayang, tapi itu tak akan menghentikanku."
"Apa yang akan kukatakan pada rekan-rekan kerjaku, pada Chanyeol?"
Jongin menyipitkan matanya. "Si brengsek itu lebih baik menjaga dirinya sendiri."
"Jongin!" Tegurku. "Dia itu Atasanku."
Mulut Jongin terkatup rapat seperti garis, dia seperti anak sekolah yang keras kepala. "Jangan bilang pada mereka." Kata Jongin.
"Jangan bilang apa?"
"Kalau aku telah memilikinya. Perjanjian atas Kepemilikan baru ditanda tangani kemarin. Berita tentang itu masih ditahan 4 minggu selama manajemen SIP melakukan beberapa perubahan."
"oh ... apakah aku jadi kehilangan pekerjaanku?", tanyaku, terkejut.
"Aku meragukannya," Jongin berkata dengan sedikit hati-hati, berusaha menahan senyum.
Aku cemberut. "Jika aku keluar dan menemukan pekerjaan lain, apakah kau akan membeli perusahaan itu juga?"
"Kau tak berpikir untuk keluar, bukan?" Ekpresi Jongin berubah, kembali berhati-hati.
"Mungkin juga, aku tak yakin kau memberiku banyak pilihan."
"Ya, aku juga akan membeli perusahaan itu juga." Jongin bersikukuh. Aku cemberut lagi padanya, Aku berada dalam situasi yang tak mungkin bisa kumenangi sekarang.
"Apakah kau tak merasa menjadi seorang yang overprotektif?"
"Ya, aku memahami bagaimana aku kelihatannya."
"Hubungi saja dr. Flynn," bisikku.
Jongin meletakkan mangkuk kosongnya, dan menatap mataku tanpa bergerak. Aku mendesah. Aku tak mau bertengkar. Berdiri, aku mengambil mangkuknya.
"Apa kau mau dessert?"
"Nah, sekarang kau mengatakannya!" kata Jongin, memberiku seringai bergairah.
"Bukan aku dessert-nya." Kenapa bukan aku? Dewa batinku bangun dari tidurnya, duduk tegak dan mendengarkan dengan seksama. "Kita punya es krim. Rasa Vanila." Aku terkikik.
"Benarkah?" Seringai Jongin semakin lebar. "Menurutku kita bisa melakukan sesuatu dengan itu."
Apa? Aku menatap bodoh kearahnya ketika Jongin dengan luwes berdiri.
"Bolehkan aku tinggal?" Tanya Jongin.
"Apa maksudmu?"
"Aku bermalam disini?"
"Aku juga berpikir kau akan menginap." Aku tersipu.
"Bagus, dimana es krimnya?"
"Di dalam oven." Aku tersenyum manis padanya. Jongin memiringkan kepala, mendesah dan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadaku.
"Sarkasme adalah bentuk terendah dari gurauan, Oh Sehun." Mata Jongin berbinar.
Oh sial, apa yang ia rencanakan?
"Aku masih bisa membuatmu bertekuk di bawah lututku." Aku meletakkan mangkuk-mangkuk di bak cuci piring.
"Apakah kau membawa bola-bola perak?"
Jongin meraba dada, perut dan saku dibelakang celana denimnya. "Cukup lucu, aku bahkan tak pernah membawa serepnya kemana-kemana denganku, hampir tak pernah dipakai saat aku berada dikantor."
"Aku sangat senang mendengarnya, Mr. Kim dan kupikir tadi kau mengatakan bahwa sarkasme adalah bentuk terendah dari gurauan."
"Yah, Sehun, motto terbaruku adalah 'Jika kau tak bisa mengalahkan mereka, maka bergabunglah dengan mereka'."
Aku terbelalak - aku tak percaya dia baru saja mengatakan hal itu - Dan Jongin terlihat sangat puas dengan dirinya sendiri ketika dia menyengir kepadaku.
Berbalik, Jongin membuka kulkas dan mengeluarkan 1 kotak es krim Ben & Jerry rasa vanila terbaik.
"Ini saja sudah cukup baik." Jongin menatapku, matanya kelam. "Ben & Jerry & Sehun." Jongin mengucapkan tiap kata dengan perlahan, setiap suku kata diucapkan dengan jelas.
Oh sial. Aku rasa rahang bawahku barusan menyentuh lantai. Jongin membuka laci peralatan makan dan menggambil sendok. Ketika mendongak, matanya sendu, dan lidahnya menjilat gigi atasnya. Ohhh, lidah itu. Aku merasa seperti berputar. Hasratku, gelap, manis dan tak bermoral mengalir panas dalam urat nadiku. Kita akan bersenang-senang, dengan makanan.
"Aku harap kau cukup merasa hangat." Bisik Jongin. "Aku akan mendinginkan dengan ini. Mari." Jongin mengulurkan tangannya, dan aku meletakkan tanganku diatas tangannya.
Dikamarku, Jongin meletakkan es krim di meja di samping tempat tidur, menarik selimut dari kasur, menyingkirkan kedua bantal dan meletakkan semuanya dalam satu tumpukan di lantai.
"Kau punya seprai pengganti, bukan?"
Aku mengangguk, menatapnya terpesona. Jongin menggenggam Charlie Tango.
"Jangan membuat kotor balonku" Ancamku.
Bibir Jongin naik keatas setengah tersenyum." Tak pernah aku bayangkan, sayang, tapi aku akan membuat kotor dirimu dan seprai ini."
Tubuhku langsung tegang.
"Aku akan mengikatmu."
Oh. "Oke," Bisikku.
"Hanya kedua tanganmu. Di kasur, Aku ingin kau tetap diam."
"Oke," Bisikku lagi. Tak mampu mengatakan yang lain.
"Kita akan memakai ini." Jongin menarik pengikat jubahku, lalu dengan sensual, pelan dan menggoda melepas simpulnya dan dengan lembut membebaskan ikatan itu dari jubahnya.
Jubahku terbuka saat aku berdiri terdiam dibawah tatapan membaranya. Setelah beberapa saat, Jongin mendorong jubahku lepas dari kedua bahuku, jatuh dan tergeletak dibawah kakiku…sehingga aku berdiri telanjang dihadapannya.
Jongin membelai pipiku dengan belakang buku jarinya, dan sentuhannya menjalar kedalam pangkal pahaku. Menunduk, Jongin mencium bibirku sekilas.
"Berbaringlah ditempat tidur, wajah keatas," bisik Jongin, matanya kelam, tatapan yang tajam membakar ke dalam mataku.
Aku melakukan apa yang diminta Jongin, kamarku diselimuti kegelapan kecuali cahaya lembut dan lemah dari lampu mejaku. Biasanya, aku benci lampu hemat energi - cahaya sangat suram - tapi telanjang disini bersama Jongin, aku bersyukur dengan cahaya yang lembut.
Jongin berdiri di dekat tempat tidur sambil menatapku. "Aku bisa hanya menatapmu sepanjang hari, Sehun.", kata Jongin merangkak keatas tempat tidur, diatas tubuhku dan menduduki tubuhku.
"Lengan diatas kepala." Perintah Jongin.
Aku menurut. Dia lalu mengikat ujung pengikat jubahku dipergelangan tangan kiriku, menjalinkan ujung yang lain melewati batang logam di atas kasurku. Jongin tarik dengan kuat sampai lengan kiriku menekuk diatas kepalaku, ia lalu mengunci tangan kananku, dan mengikatnya dengan kuat. Ketika aku sudah terikat, aku menatapnya, dia kelihatan rileks. Jongin suka melihatku terikat sehingga aku tak bisa menyentuhnya. Aku juga teringat tak ada satupun dari para submisifnya yang boleh menyentuhnya dan terlebih lagi mereka tidak akan dapat kesempatan itu sama sekali. Jongin akan selalu berada dalam kendali dan menjaga jarak. Itu mengapa dia suka dengan aturan-aturannya.
Jongin turun dari atas tubuhku dan membungkuk untuk memberiku kecupan kilat di bibir, kemudian menarik kaosnya ke atas kepala, membuka celana denimmya dan menjatuhkannya ke lantai. Jongin telanjang... Dewa batinku melakukan lompatan turun tiga kali dari palang tak rata dan tiba-tiba mulutku menjadi kering.
Jongin benar-benar lebih daripada indah. Dia punya fisik seperti gambaran klasik, bahu lebar berotot, pinggang ramping, dan seperti segitiga terbalik. Jongin pasti latihan fisik, aku bisa hanya memandangnya sepanjang hari. Jongin bergerak ke ujung tempat tidur dan memegang pergelangan kakiku, menyentakku dengan tiba-tiba dan kuat kebawah sehingga kedua lenganku terentang dan tak bisa bergerak.
"Seperti itu lebih baik," Gerutunya.
Jongin mengambil kotak es krim, memanjat kembali ke tempat tidur dan mendudukiku sekali lagi. Dengan pelan ia membuka penutup es krim dan memasukkan sendok kedalamnya.
"Hmm...ini masih sedikit keras," kata Jongin sambil menaikkan alisnya. Mengambil sesendok es krim lalu memasukkannya ke mulutnya.
"Enak," bisik Jongin, sambil menjilat bibirnya.
"Ternyata vanila yang biasapun ini cukup nikmat", Jongin memandang kearahku dan menyeringai. "Mau coba sedikit?" ejeknya.
Jongin terlihat sangat menggoda, muda dan gembira – sambil duduk diatas tubuhku dan memakan es krim - mata cerah dan wajah bersinar. Oh apa yang sebenarnya akan Jongin lakukan padaku?
Seperti tak tahu saja, aku mengangguk malu. Jongin mengambil lagi satu sendok penuh dan menawari aku sendoknya, jadi aku membuka mulut, tapi dengan cepat dia masukkan ke mulutnya.
"ini terlalu enak untuk dibagi dengan orang lain," kata Jongin, tersenyum licik.
"Hei," aku mulai protes.
"Kenapa Sehun, kamu suka vanila-mu?"
"Ya," aku berkata lebih keras daripada maksudku sebenarnya dan gagal berusaha menendangnya turun dari atas tubuhku.
Jongin tertawa. "Kita jadi lebih liar,kan? Aku tak akan melakukan hal itu jika jadi kau."
"Es krim," pintaku.
"Yah, kau telah membuatku sangat senang hari ini, Sehun." Jongin kasihan padaku, menawariku sesendok, dan kali ini membiarkan aku memakannya.
Aku ingin terkikik, Jongin benar-benar menikmatinya, dan rasa humornya menular. Jongin mengambil sesendok lagi dan menyuapiku lagi, lagi, dan lagi. Oke cukup.
"Hmm, yah, ini salah satu caranya memastikan kau makan-memaksamu makan. Aku mulai terbiasa dengan cara ini." Mengambil sesendok lagi, Jongin menawariku lagi. Kali ini aku menutup mulutku, dan menggelengkan kepala, lalu Jongin membiarkan es krim meleleh perlahan di sendok sehingga lelehan es krim turun ditenggorokanku, terus ke dadaku. Jongin menunduk, dan dengan pelan menjilatnya habis. Seluruh tubuhku langsung terangsang.
"Mmm, rasanya lebih enak berpadu denganmu, Sehun."
Aku meronta berusaha lepas dari ikatanku dan tempat tidur berderak keras, tapi aku tak perduli - aku terbakar dalam nafsu dan nafsu ini menelanku. Jongin mengambil lagi sesendok penuh dan membiarkan es krim itu meleleh didadaku dan dengan belakang sendok, Jongin memoleskannya ke setiap dadaku dan putingnya. Oh ... dingin. Kedua putingku berdiri dan mengeras dibawah lelehan es krim.
"Dingin?" Jongin bertanya pelan dan menunduk untuk menjilat dan mengisap habis semua es krim dari tubuhku, mulutnya terasa panas dibandingkan dinginnya es.
Oh, ini siksaan. Ketika mulai meleleh, es krim turun dari tubuhku dan mengalir dikasur. Bibirnya melanjutkan siksaan dengan pelan, mengisap putingku dengan kuat, dan mengelusnya dengan lembut - Oh tolonglah! - Aku terengah-engah.
"Mau lagi?" dan sebelum aku sempat mengiyakan atau menolak permintaanya, lidah Jongin sudah ada dalam mulutku, dingin dan terampil dan rasanya adalah Jongin dan vanila. Lezat.
Dan ketika aku mulai terbiasa dengan sensasinya, Jongin duduk kembali dan menjalankan sesendok penuh es krim di bagian tengah tubuhku, di perutku dan didalam pusarku dimana dia memasukkan banyak es krim. Oh, ini lebih dingin dari sebelumnya, tapi anehnya aku merasa terbakar.
"Sekarang, kau sudah pernah melakukannya sebelumnya." Mata Jongin bersinar.
"Kau akan tetap diam, atau akan ada lelehan es krim di seluruh kasur." Jongin mengisap kedua putingku dengan kuat, kemudian mengikuti aliran es krim turun dari tubuhku, sambil mengisap dan menjilatnya.
Aku coba, aku coba untuk tetap diam diantara kombinasi dingin dan sentuhan panas membakar yang memabukkan, tapi pinggulku bergerak tanpa sadar, berputar mengikuti iramanya sendiri, tertawan dengan mantra vanilanya.
Jongin beringsut kebawah dan mulai makan es krim di perutku, memutar lidahnya di dalam dan sekitar pusarku. Aku merintih. Ya ampun. Rasanya dingin, panas dan memabukkan, tapi Jongin tak berhenti. Dia mengikuti aliran es krim terus kebawah tubuhku, didalam rambutku, diatas penisku. Aku menjerit, kuat.
"Stt, diamlah" Jongin berkata pelan sambil lidah ajaibnya bekerja menjilati vanila, dan sekarang aku hanya bisa mengeliat pelan.
"Oh . . . tolonglah . . . Jongin."
"Aku tahu, sayang, aku tahu," Jongin mendesah sambil lidah ajaibnya bekerja.
Jongin tidak berhenti, tidak berhenti dan tubuhku rasanya naik-semakin tinggi dan tinggi. Dia menyelipkan satu jari kedalam holeku, dan satu lagi dan bergerak dengan kepelanan yang menyiksa, masuk dan keluar.
"Hanya disini," bisik Jongin, dan dengan berirama membelai penisku sambil dengan nikmat terus menjilat dan mengisap sekeliling tubuhku. Holy fucking cow.
Aku meledak tiba-tiba kedalam orgasme gila yang menulikan semua inderaku, melenyapkan semua hal yang terjadi diluar tubuhku saat tubuhku mengeliat dan mengerang. Hmm, tadi itu cepat sekali. Aku samar-samar menyadari bahwa Jongin telah menghentikan siksaannya. Jongin mendekatiku, memasang kondom dan penis Jongin ada didalamku, cepat dan kuat.
"Oh ya!" Jongin mengerang saat ia menghentak masuk dalam tubuhku.
Tubuhnya lengket-sisa es krim yang meleleh menyebar diantara tubuh kami. Ini suatu sensasi mengganggu yang aneh, tapi tak bisa kunikmati lebih lama dari beberapa detik saat Jongin tiba-tiba keluar dari tubuhku dan membalikkan badanku.
"Seperti ini", bisik Jongin dan tiba-tiba sekali lagi penisnya berada didalam diriku, tapi Jongin belum memulai irama siksaannya yang biasa secara langsung.
Jongin maju sedikit, melepaskan tanganku dan menarikku keatas sehingga aku seperti duduk diatas tubuhnya. Tangannya bergerak menuju dadaku, meremas dan menyentak pelan putingku. Aku mengerang, menjatuhkan kepalaku dibahunya. Jongin mengelus leherku, menggigitnya saat dia melenturkan pinggulnya, dengan kepelanan yang nikmat, mengisi tubuhku lagi dan lagi.
"Kau tahu berapa berartinya kau bagiku?" Jongin mendesah di telingaku.
"Tidak," Aku terengah.
Jongin tersenyum dileherku, dan jari-jarinya melingkar di sekitar dagu dan leherku, memegangku dengan kuat sesaat. "Ya, kau tahu. Aku tak akan melepaskanmu."
Aku mengerang saat Jongin menambah kecepatannya. "Kau adalah milikku, Sehun."
"Ya, aku milikmu," aku terengah.
"Aku menjaga apa yang menjadi milikku," Jongin mendesis dan mengigit telingaku. Aku menjerit.
"Ya, benar sayang, aku ingin dengar suaramu." Jongin melingkarkan satu tangan disekeliling pinggangku sambil tangan yang lain meremas pinggulku dan dia menekan masuk ke dalam tubuhku lebih kuat, membuatku menjerit lagi.
Dan irama siksaan pun dimulai, nafasnya terdengar lebih kasar, lebih kasar, tidak teratur, seperti nafasku. Aku mulai merasakan dengan cepat sensasi yang familiar didalam tubuhku. Astaga…lagi! Aku larut dalam kenikmatan. Inilah yang dilakukannya padaku - membawa tubuhku dan menghipnotisnya sampai aku tak bisa memikirkan yang lain kecuali dirinya. Mantranya sangat kuat, tak terkalahkan. Aku adalah kupu-kupu yang tertangkap dijaringnya, tak bisa dan tak mau lepas. Aku miliknya...miliknya sepenuhnya.
"Ayolah, sayang," Jongin menggeram lewat gigi yang mengertak, dan seperti dipandu, seperti aku murid penyihir, aku lepas dan kami menemukan pelepasan bersama-sama.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Kipas mana kipas, hahaha
Udah aku bilang, sukanya lagi ngepost yang pendek-pendek. Wkwk
Dari kemaren pada protes kependekan. Wkwk waktu aku terbagi-bagi buat garap ff,kerja,sama kuliah. Jadi aku harap buat pengertian readers sekalian *bow*
Yang penting ane rajin ngepost kan? Hehehe
So? Gimana kelanjutannya? Review please~ ^^
.
.
Thanks to review :
izzsweetcity , exohye, Mara997, Sekar Amalia , kkamjonghun22 , kaihunlicious, xohunte , YunYuliHun , utsukushii02 , VampireDPS, jiraniatriana , bottomsehunnie, driccha , KrisYeolGalaxySHHRN , yeon1411 , My jeje , Octa918 , vitangeflower, windaii5 , Keteknyakai , dialuhane , shixunaa , Jongin's Grape, fitrysukma39 .
