Aku berbaring meringkuk dalam lengannya diseprai yang lengket. Tubuh depannya menempel dipunggungku, hidungnya dirambutku.

"Apa yang kurasakan terhadapmu ini menakutkanku," bisikku.

Jongin terdiam. "Aku juga,sayang," katanya lirih.

"Bagaimana jika kau meninggalkanku?" Pikiran yang mengerikan.

"Aku tak akan kemana-mana. Aku yakin aku tak akan pernah merasa puas denganmu, Sehun."

Aku berputar, menatap Jongin. Ekpresi wajah Jongin serius, tulus. Aku mendekat dan mencium lembut bibirnya.

Jongin tersenyum "Aku belum pernah merasakan perasaan seperti saat kau meninggalkanku, Sehun. Aku akan memindahkan surga dan neraka untuk menghindari merasakan perasaan seperti itu lagi." Kata Jongin terdengar sedih, bahkan bingung.

Aku menciumnya lagi. Akan ingin meringankan suasana hati kami bagaimanapun caranya, tapi Jongin melakukannya untukku.

"Apakah kau mau datang ke pesta musim panas ayahku besok? Sebuah acara amal tahunan, aku bilang akan pergi."

Aku tersenyum, tiba-tiba merasa malu. "Tentu saja aku akan datang." Oh sial. Aku tak punya baju untuk dipakai.

"Apa?"

"Tak Ada."

"Beritahu aku," Jongin memaksa.

"Aku tak punya baju untuk dipakai."

Jongin tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Jangan marah, tapi aku masih punya semua pakaian yang aku beli untukmu di rumah. Aku yakin ada beberapa kemeja bagus disana."

Aku mengerutkan bibirku.

"Benarkah?" Gerutuku, suaraku tersengar sinis. Aku tak mau bertengkar dengannya malam ini. Aku butuh mandi.

~oOOo~

Seorang gadis yang terlihat mirip denganku berdiri diluar SIP. Tunggu dulu - dia mirip aku dalam versi perempuan. Aku pucat dan belum mandi, dan semua pakaianku kebesaran. Aku menatap kearahnya dan dia memakai pakaianku - bahagia, sehat.

"Apa yang kau punya yang kau tak punyai?" aku bertanya padanya.

"Siapa kau?"

"Aku bukan siapa-siapa ... siapa kau? Apakah kau juga bukan siapa-siapa. . . ?"

"Jadi kita berdua sama...jangan beritahu siapa-siapa, atau mereka akan membuang kita berdua, kau tahu . . ." Dia tersenyum, sebuah seringai jahat yang lebar diseluruh wajahnya dan sangat dingin sehingga membuatku langsung menjerit.

~oOOo~

"Ya Tuhan, Sehun!" Jongin menguncangku supaya bangun.

Aku sangat bingung. Aku ada dirumah . . . dalam gelap . . . ditempat tidur bersama Jongin. Aku mengelengkan kepalaku, berusaha menjernihkan pikiranku.

"Sayang, kau baik-baik saja? Kamu baru bermimpi buruk."

"Oh."

Jongin menghidupkan lampu sehingga kami berdua bermandikan cahaya redup. Jongin menatapku, wajahnya terlihat cemas.

"Seorang gadis," Bisikku.

"Ada apa, gadis apa?" Jongin bertanya dengan lembut.

"Ada seorang gadis di luar SIP ketika aku keluar senja tadi. Dia mirip seperti aku...tapi tidak terlalu."

Jongin terdiam, dan saat cahaya dari lampu meja memanas, aku melihat wajahnya pucat.

"Kapan kejadiannya?" Bisik Jongin cemas, lalu duduk dan menatapku.

"Ketika aku keluar tadi siang. Apakah kau tahu siapa dia?"

"Ya." Jongin menjalankan tangannya ke rambutnya.

"Siapa?"

Mulutnya terkatup rapat seperti garis, tapi Jongin tidak berkata apa-apa.

"Siapa?" Desakku.

"Dia Leila."

Aku menelan ludah. Seorang bekas submisif. Aku ingat Jongin bercerita tentang dia saat kami pergi gliding. Tiba-tiba, dia berubah tegang. Ada sesuatu yang terjadi.

"Gadis yang memasukkan 'Toxic' dalam iPod-mu?"

Jongin menatapku dengan gugup. "Ya," Kata Jongin. "Apakah dia mengatakan sesuatu?"

"Dia mengatakan, 'Apa yang kau miliki yang tidak aku miliki?' dan ketika aku tanya siapa dia, dia bilang, 'Bukan siapa-siapa.' "

Jongin menutup matanya seperti dalam kesakitan. Oh tidak. Apa yang terjadi? Apa artinya gadis itu bagi dia? Kepalaku terasa berduri ketika adrenalin mengalir dalam tubuhku. Bagaimana jika dia sangat penting baginya? mungkin dia merindukannya? Aku tahu sedikit tentang masa lalu...em, hubungannya.

Jongin pasti sudah pernah berhubungan dengannya dan dia pasti pernah melakukan apa yang dia minta, memberikan apa yang dia butuhkan dengan senang hati.

Oh tidak — ketika aku tak bisa memberikan apa yang dia butuhkan. Pikiran ini membuatku mual. Turun dari tempat tidur, Jongin memakai celananya dan keluar menuju ruang depan.

Sebuah lirikan ke jam bekerku menunjukan sekarang jam 5 pagi. Aku berguling turun dari tempat tidur, memakai kemeja putihnya, dan mengikutinya keluar. Ya ampun, Jongin sedang menelpon.

"Ya, diluar SIP, kemarin...menjelang senja," Jongin berkata pelan. Dia berputar kearahku saat aku berjalan menuju dapur dan langsung bertanya padaku, "Jam berapa tepatnya?"

"Sekitar jam 6 kurang 10 menit?" gerutuku.

Siapa sebenarnya yang Jongin telpon pada jam seperti ini? Apa yang dilakukan Leila? Jongin menyampaikan berita kepada siapapun yang ada diujung sana, tak melepaskan pandangannya dariku, ekpresinya kelam dan bersungguh-sungguh.

"Cari tahu bagaimanapun caranya . . . Ya . . . aku tidak mengatakan seperti itu, tapi aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan hal ini." Jongin menutup matanya seperti sedang kesakitan. "Aku tidak tahu kenapa itu terjadi . . . Ya, aku akan bicara padanya . . . Ya . . . Aku tahu . . . lanjutkan itu dan beritahu aku. Temukan saja dia, Welch - dia dalam masalah." Jongin menutup telponnya.

"Apakah kau mau teh?" Tanyaku. Teh, adalah jawaban dari Tuan Choi untuk semua krisis yang terjadi dan hanya sesuatu yang bisa dilakukannya dengan baik di dapur. Aku mengisi ketel dengan air.

"Sebenarnya, aku ingin kembali ketempat tidur." Tatapan Jongin menunjukan bahwa maksudnya bukan mau tidur.

"Yah, aku mau minum sedikit teh, kau mau juga minum secangkir bersamaku?" Aku ingin tahu apa yang terjadi. Aku tidak akan dialihkan dengan seks. Jongin menjalankan tangannya ke seluruh rambutnya dengan jengkel.

"Ya, tolong," kata Jongin, tapi aku tahu Jongin kesal.

Aku meletakan ketel di kompor dan menyibukkan diriku dengan cangkir dan teko. Tingkat kegelisahanku naik ke tingkat DEFCON ONE. Apakah Jongin akan memberitahuku apa masalahnya? Atau aku harus mengoreknya? Aku merasakan pandangan matanya ke arahku – merasakan ketidakpastiannya dan kemarahannya jelas terlihat. Aku melirik, dan matanya berbinar dengan kebimbangan.

"Ada apa?" tanyaku lembut. Jongin menggelengkan kepala. "Kau tak akan memberitahukan?"

Jongin mendesah dan menutup matanya. "Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Karena ini seharusnya tak ada kaitannya denganmu. Aku tak mau kau terbelit dalam masalah ini."

"Masalah ini memang sebenarnya tak ada kaitannya denganku, tapi jadi berkaitan. Dia mencariku dan mendatangiku diluar kantorku. Bagaimana dia bisa tahu tentangku? Bagaimana dia tahu dimana tempatku bekerja? Aku rasa aku punya hak untuk tahu ada apa sebenarnya."

Jongin menjalankan tangannya ke rambutnya lagi, memancarkan frustasi seperti berperang dalam diri sendiri.

"Tolonglah?" Tanyaku lembut. Mulutnya terkatup rapat, dan lalu memutar bola matanya padaku.

"Oke," kata Jongin, pasrah.

" Aku tak tahu kenapa dia bisa menemukanmu. Mungkin foto kita berdua di Portland, aku juga tak tahu." Jongin menghela napas lagi, aku rasa kekecewaannya ditujukan pada dirinya sendiri.

Aku menunggu dengan sabar, menuangkan air mendidih ke teko saat dia mondar-mandir. Beberapa saat kemudian Jongin melanjutkan. "Ketika aku bersamamu diSeoul, Leila muncul di apartemenku tiba-tiba dan membuat kekacauan di depan Gail."

"Gail?"

"Mrs. Jones."

"Apa maksudmu, 'membuat kekacauan'?"

Jongin melotot padaku, menilai.

"Katakan padaku. Kau menyimpan sesuatu." Nada suaraku lebih memaksa daripada yang kurasakan. Jongin berkedip padaku, terkejut.

"Sehun, aku—" Jongin terdiam.

"Tolonglah?"

Jongin mendesah, merasa kalah." Dia dengan sembrono mencoba memotong urat tangannya."

"Oh tidak!" Itu menjelaskan kenapa ada perban dipergelangan tangannya.

"Gail membawanya ke rumah sakit. Tapi Leila mengeluarkan dirinya sendiri sebelum aku sampai kesana."

Sial. Apa artinya? Percobaan bunuh diri? Kenapa?

"Pskiater yang memeriksanya menyebut itu suatu cara untuk memohon bantuan. Dia tidak percaya dia benar-benar berada dalam bahaya - satu langkah yang terjadi sebelum ada keinginan untuk bunuh diri, dia menyebutnya. Tapi aku tak percaya, aku berusaha melacak keberadaannya sampai saat ini untuk memberikannya bantuan."

"Dia mengatakan sesuatu pada Mrs. Jones?"

Jongin menatapku, kelihatan sangat tidak nyaman.

"Tidak banyak," akhirnya Jongin berkata, tapi aku tahu dia tak memberitahuku semuanya.

Aku menyibukkan diriku dengan menuang teh ke cangkir. Jadi Leila ingin kembali dalam kehidupan Jongin dan memilih cara bunuh diri untuk menarik perhatiannya? Wah . . . mengerikan. Tapi berhasil. Jongin meninggalkan Seoul untuk berada disampingnya, tapi dia menghilang sebelum dia sampai kesana? Aneh sekali.

"Kau tak bisa menemukannya? Bagaimana dengan keluarganya?"

"Mereka juga tak tahu dimana dia. Suami juga tak tahu."

"Suami?"

"Ya," Jongin berkata dengan bingung, "Dia sudah menikah kira-kira 2 tahun."

Apa? "Jadi dia bersamamu selama dia menikah?" Ya ampun. Jongin benar-benar tidak punya batasan.

"Tidak! Demi Tuhan, Tidak. Dia bersama denganku hampir 3 tahun yang lalu. Kemudian dia pergi dan menikah dengan pria ini tak lama kemudian."

Oh.

"Lalu kenapa dia mencoba menarik perhatianmu sekarang?"

Jongin menggoyangkan kepalanya dengan sedih. "Aku tak tahu, yang kita tahu adalah dia kabur dari suaminya 4 bulan yang lalu."

"Biar aku luruskan ini. Dia telah jadi submisifmu selama 3 tahun?"

"Sekitar 2 tahun setengah."

"Dan dia ingin lebih."

"Ya."

"Tapi kau tak mau?"

"Kau tahu itu."

"Jadi dia meninggalkanmu."

"Ya."

"Jadi kenapa dia mencarimu sekarang?"

"Aku tak tahu."

Dan dari nada bicaranya memberitahuku bahwa setidaknya Jongin punya satu teori.

"Tapi kau menduga . . ." Mata Jongin jelas meyipit karena amarah. "Aku menduga ini ada hubungannya denganmu."

Aku? Apa yang diinginkannya dariku? "Apa yang kau miliki yang aku tidak miliki?"

Aku menatap fifty, telanjang sempurna dari pinggang ke atas. Aku punya Jongin. Kim Jongin milikku. Itulah yang aku miliki, dan tapi dia juga mirip denganku, rambut gelap yang sama, dan kulit pucat. Aku tak suka pikiran ini. Ya . . . apa yang aku miliki tidak dia miliki?

"Kenapa kau tak memberitahuku semalam?" Tanya Jongin lembut.

"Aku lupa tentang dia." aku mengangkat bahu minta maaf. "Kau tahu, minum-minum setelah kerja, pada akhir minggu pertamaku. Kau muncul di bar dan ... testosterone rush-mu dengan Chanyeol, dan kemudian kita disini. Itu jadi terselip dipikiranku. Kau punya suatu kebiasaan membuatku lupa berbagai hal."

"Testosterone rush?" Bibir Jongin berkedut.

"Ya. Kontes buang air kencing."

"Aku akan tunjukan padamu sebuah testosterone rush."

"Apakah kamu tidak mau minum secangkir teh saja?"

"Tidak, Sehun, Aku tak mau." Mata Jongin membara menatapku, membakarku dengan tatapan 'Aku menginginkanmu-dan-menginginkanmu-sekarang'. Sial . . . itu terdengar panas.

"Lupakan dia. Ayo." Jongin mengulurkan tangannya. Dewa batinku melakukan salto tiga kali di lantai senam saat aku menggenggam tangannya.

~oOOo~

Aku bangun, terlalu hangat, dan aku berada dipelukan Kim Jongin yang telanjang. Walaupun Jongin tidur nyenyak, dia memelukku dengan kuat. Cahaya lembut pagi masuk lewat gorden. Kepalaku didadanya, kakiku bersilangan dengan kakinya, dan tanganku ada di perutnya. Aku mengangkat kepalaku sedikit, takut aku akan membangunkannya.

Jongin terlihat sangat muda, sangat tenang ditidurnya, sangat tampan. Aku tak percaya Adonis ini milikku, sepenuhnya milikku. Hmm . . . menjulurkan tanganku, aku membelai dadanya, menjalankan ujung jariku melewati rambut dadanya, dan dia tak bergerak. Ya Ampun, Aku tak percaya ini, dia benar-benar milikku - dalam beberapa momen berharga. Aku bersandar sedikit dan dengan lembut mengecup salah satu bekas lukanya. Dia mengerang pelan tapi tak bangun, dan aku tersenyum. Aku mencium lagi yang lain, dan matanya terbuka.

"Hai." Aku nyengir padanya, merasa bersalah.

"Hai," Jongin menjawab hati-hati. "Apa yang kau lakukan?"

"Melihat dirimu." Aku menggerakkan jariku di happy trail-nya.

Jongin menangkap tanganku, menyipitkan matanya, kemudian tersenyum sebuah senyuman Kim Jongin-saat-senang, dan aku jadi rileks. Sentuhan rahasiaku tetap jadi rahasia. Oh . . . kenapa kau tak membiarkan aku menyentuhmu?

Tiba-tiba Jongin pindah keatasku, menekanku ke kasur, tangannya ditanganku, memperingatkanku. Jongin menggosok hidungku dengan hidungnya.

"Aku rasa kau punya niat tak baik, Sehun," Tuduh Jongin, tapi senyummya tetap tersisa.

"Aku suka punya niat tak baik saat berada didekatmu."

"Benarkah?" Jongin bertanya dan mencium ringan bibirku.

"Seks atau sarapan?" Tanya Jongin, matanya kelam tapi penuh humor. Ereksinya menusuk ke dalamku, dan aku mengangkat pinggulku untuk bergabung dengannya.

"Pilihan yang bagus," Bisik Jongin dileherku, saat ciumannya turun ke dadaku.

~oOOo~

Aku berdiri didepan lemariku, menatap cermin, mencoba membujuk rambutku agar mau diatur lebih bergaya — ternyata sudah terlalu panjang. Aku memakai jins dan T-shirt, dan Jongin terlihat segar sehabis mandi, berpakaian dibelakangku. Aku menatap tubuhnya dengan bernafsu.

"Seberapa sering kamu berolahraga?" Tanyaku.

"Setiap hari kerja," Kata Jongin, mengancingkan celananya.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Lari,mengangkat beban, kickboxing." Jongin mengangkat bahu.

"Kickboxing?"

"Ya, aku punya pelatih pribadi, seorang bekas atlet olimpiade melatihku. Namanya Claude. Dia sangat hebat. Kau akan menyukai dia."

Aku berputar untuk menatapnya saat Jongin mulai mengancing baju kemeja putihnya. "Apa maksudmu aku akan menyukai dia?"

"Kau akan menyukai dia sebagai pelatih."

"Kenapa aku perlu seorang pelatih pribadi? Aku punya kau untuk tetap sehat." Aku nyengir pada Jongin.

Jongin berjalan mendekat dan melingkarkan lengannya di sekelilingku, matanya yang menggelap bertemu mataku di cermin. "Tapi aku ingin kau tetap bugar, sayang, untuk apa yang ada dipikiranku. Aku butuh kau supaya bisa tetap bisa bertahan."

Aku memerah saat memori di playroom membanjiri pikiranku. Ya . . . Red Room of Pain memang melelahkan. Apakah Jongin akan membiarku kembali kesana? Apakah aku mau kembali? Tentu saja kau mau! Dewa batinku menjerit padaku dari kursi malasnya. Aku menatap kedalam manik mata hitamnya yang memikat dan tak terduga.

"Aku tahu kau mau," Jongin berkata padaku.

Aku memerah, dan pikiran yang tak diinginkan bahwa Leila mungkin bisa bertahan muncul dipikiranku. Aku mengatupkan bibirku dan Jongin mengerutkan dahinya padaku.

"Apa?" Kata Jongin khawatir.

"Tidak." Aku mengeleng padanya. "Oke, aku akan bertemu Claude."

"Kau mau?" Wajah Jongin langsung cerah dengan ketidakpercayaan. Ekpresinya membuatku tersenyum seperti dia barusan memenangkan lotre, walaupun Jongin mungkin belum pernah membeli satu tiket pun-dia tidak punya kebutuhan.

"Ya, astaga — jika itu membuatmu bahagia," Ejekku.

Jongin mengencangkan lengannya padaku dan menciumi pipiku. "Kau tak akan mengerti," bisik Jongin. "Jadi—apa yang ingin kau lakukan hari ini?" Jongin mengelusku, mengirim sensasi nikmat diseluruh tubuhku.

"Aku mau potong rambut dan mm . . . aku ingin mencairkan cek dan membeli mobil."

"Ah," Jongin langsung paham dan menggigit bibirnya. Menarik satu tangannya dariku, dia meraih saku jinsnya dan memegang kunci mobil Audiku. "Ada disini," kata Jongin pelan, ekpresinya ragu-ragu.

"Apa maksudnya, ada disini?" Wah, aku terdengar marah. Sial. Aku memang marah. Bawah sadarku melotot padanya. Beraninya dia!

"Taylor membawanya kembali kemarin."

Aku membuka mulutku lalu menutupnya kembali dan mengulanginya lagi sampai dua kali, tapi aku tetap tak bisa berkata-kata. Jongin mengembalikan padaku lagi mobil. Double Crap. Kenapa aku tak menduga ini? Baiklah, dua orang bisa bermain.

Aku merogoh saku belakang jinsku dan menarik amplop berisi cek darinya. "Ini, ini milikmu."

Jongin melihatku dengan pandangan aneh, lalu mengenali amplop itu, mengangkat kedua tangannya dan menjauh dariku. "Oh tidak, itu uangmu."

"Tidak, bukan punyaku. Aku mau membeli mobil itu darimu."

Ekpresi Jongin berubah sepenuhnya. Kemarahan—ya,kemarahan memenuhi seluruh wajahnya. "Tidak, Sehun. Uangmu, mobilmu," Jongin membentakku.

"Tidak Jongin. Uangku, mobilmu. Aku akan membelinya darimu."

"Aku memberikanmu mobil itu untuk hadiah kelulusanmu."

"Jika kamu memberiku sebuah pena - itu akan cocok sebagai hadiah kelulusan. Kau memberiku sebuah Audi."

"Apakah kamu memang ingin berdebat tentang ini?"

"Tidak."

"Bagus-Ini kuncinya." Jongin meletakkannya di dalam laci lemari.

"Bukan itu maksudku!"

"Pembicaraan selesai, Sehun. Jangan memaksaku."

Aku cemberut padanya, dan kemudian sebuah ide terlintas dipikiranku. Mengambil amplop itu, aku merobeknya jadi dua, lalu dua lagi dan menjatuhkan isisnya ke dalam tong sampah. Oh, ini terasa enak. Jongin menatapku tak bergerak, tapi aku tahu aku telah menyalakan 'Kertas Sentuhan Biru' dan harus bisa bertahan. Jongin menggosok dagunya. "Kau, seperti biasanya selalu menantang, Sehun," kata Jongin datar.

Jongin memutar tumitnya dan berjalan menuju ruangan lain. Ini bukan reaksi yang aku perkirakan. Aku mengantisipasi kemarahan seperti Armageddon skala penuh. Aku menatap diriku dicermin dan mengangkat bahu. Keingintahuanku muncul. Apa yang fifty lakukan? Aku mengikutinya keluar ruangan, dan Jongin sedang menelpon.

"Ya, 24 ribu dolar. Langsung." Jongin melirik kearahku, masih terdiam. "Bagus . . . Senin? Bagus sekali . . . Tidak, itu saja Andrea." Jongin menutup telponnya.

"Telah disimpan dalam rekening bankmu, Senin. Jangan main-main denganku." Jongin sangat marah, tapi aku tak perduli.

"24 ribu dolar!" Aku hampir menjerit. "Dan, bagaimana kau bisa tahu nomor rekeningku?" Kemarahanku mengejutkan Jongin.

"Aku tahu segalanya tentangmu,Sehun," Kata Jongin lirih.

"Tidak mungkin mobilku berharga sampai 24 ribu dolar."

"Aku setuju denganmu, tapi ini tentang mengetahui pemasaran, apakah kau ingin membeli atau menjual. Seseorang yang gila di luar sana menginginkan jebakan mematikan itu dan rela membayar dengan uang sebanyak itu. Rupanya mobil itu barang langka. Tanya Taylor jika kau tak percaya padaku."

Aku menggeram padanya dan Jongin menggeram balik padaku, dua orang bodoh pemarah keras kepala saling melotot satu sama lain. Dan kemudian aku merasakan itu—energi listrik diantara kami—nyata, menarik kami berdua.

Tiba-tiba Jongin menarikku dan mendorongku ke pintu, mulutnya di mulutku, menciumku dengan bernafsu, satu tangan di pantatku, menekanku ke pangkal pahanya, dan tangan lain di tengkukku, menarik kepalaku kebelakang. Jari-jariku di rambutnya, memutar kuat, menahannya ke tubuhku. Jongin menggosokkan tubuhnya ke tubuhku, memenjarakanku, nafasnya tersengal-sengal. Aku merasakannya, Jongin menginginkanku, dan aku mabuk dan tergulung dalam rangsangan saat mengetahui kebutuhannya padaku.

"Kenapa, kenapa kau menentangku?" Jongin bergumam diantara ciuman panas. Darahku berdesing di urat nadiku. Apakah Jongin akan selalu berefek seperti ini padaku? Dan aku padanya?

"Karena aku bisa." Aku tak bernafas. Aku merasakan daripada melihat senyumnya dileherku, dan Jongin menempelkan keningnya di keningku.

"Tuhan, aku mau melakukannya sekarang, tapi aku kehabisan kondom. Aku tak akan pernah puas denganmu. Kau adalah seorang yang menjengkelkan, laki-laki pemarah."

"Kau juga membuatku marah," Bisikku. "Di setiap saat."

Jongin menggelengkan kepalanya. "Ayo, kita cari sarapan, dan aku tempat dimana kau bisa potong rambut."

"Oke," Aku setuju dan hanya seperti itu, pertengkaran kami berakhir.

~oOOo~

"Aku yang membayar ini." Aku mengambil tagihan sarapan kami sebelum Jongin melakukannya. Jongin cemberut padaku. "Kau harus lebih cepat disini,Kim."

"Kau benar, Aku harus," Kata Jongin masam, walaupun aku pikir dia bercanda.

"Jangan terlihat begitu jengkel. Aku sekarang lebih kaya 24 ribu dolar daripada aku tadi pagi. Aku mampu membayar-aku melihat sekilas tagihan-22 dolar dan 67 sen untuk sarapan."

"Terima kasih." Kata Jongin enggan. Oh, anak sekolah yang suka merajuk muncul lagi.

"Kemana sekarang?"

"Apakah kau benar mau potong rambut?"

"Ya, lihat ini."

"Kau terlihat manis menurutku, selalu."

Aku memerah dan menatap ke bawah jari-jariku yang terangkai di pangkuanku. "Dan ada acara ayahmu malam ini."

"Ingat, itu acara resmi." Oh astaga.

"Dimana?"

"Dirumah orang tuaku. Mereka membangun tenda besar dihalaman."

"Acara amal apa?"

Jongin menggosokkan tangannya dipahanya, kelihatan tak nyaman. "Itu program rehabilitasi obat-obatan bagi orang tua yang mempunyai anak kecil, namanya 'Mengatasi Bersama'."

"Kedengarannya suatu acara yang menarik," Kataku lembut.

"Ayo, kita pergi." Jongin berdiri, dengan efektif menghentikan topik pembicaraan itu dan mengulurkan tangannya. Saat aku menyambutnya, dia mengencangkan jari-jarinya dijari-jariku. Ini aneh. Dia sangat demonstratif dalam beberapa hal dan tapi tertutup di hal-hal lain.

Jongin mengarahkanku keluar restoran, dan kami berjalan menuju jalanan. Hari ini pagi yang indah dan cerah. Matahari bersinar dan udara beraroma kopi dan roti segar yang baru dibakar. "Kemana kita pergi?"

"Kejutan."

Oh,oke. Aku tidak terlalu suka kejutan. Kami sudah berjalan dua blok dan toko-tokonya semakin terlihat lebih eksklusif. Aku belum dapat kesempatan untuk jalan-jalan, walaupun ini benar-benar hanya disekitar tempat tinggalku. Baekhyun pasti akan senang. Ada beberapa butik kecil untuk memuaskan kegemaran fashionnya. Sebenarnya, aku juga perlu membeli beberapa pakaian untuk dipakai bekerja.

Jongin berhenti di luar sebuah bangunan besar, salon kecantikan yang terlihat rapi dan membukakan pintu untukku. Namanya Esclava. Bagian Interior semuanya putih dan kulit. Di meja putih resepsionis duduk seorang wanita muda pirang memakai seragam putih pendek. Dia melirik sekilas saat kami masuk.

"Selamat Pagi, Mr. Kim," katanya ceria, pipinya memerah saat dia mengedipkan bulu matanya pada Jongin. Ini adalah 'Efek Kim', tapi dia mengenalnya! Bagaimana bisa?

"Halo Greta." Dan Jongin juga mengenalnya. Apaan ini?

"Apakah ini yang biasa, Sir?" Tanyanya. Dia memakai lipstick sangat pink.

"Tidak," kata Jongin cepat, dengan pandangan gugup padaku. Yang Biasa? Apa maksudnya? Ya ampun! Ini Aturan no.6, Salon Kecantikan Terkutuk. Semua waxing yang tak masuk akal . . . sial!

Disinikah Jongin membawa semua subnya? Mungkin Leila, juga? Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku pria hey!

"Tuan Oh akan memberitahumu apa yang diinginkannya." Aku melotot padanya. Jongin memperkenalkan aturan kepadaku dengan diam-diam. Aku telah setuju dengan pelatih pribadi-dan sekarang ini?

"Kenapa disini?" Aku mendesis pada Jongin.

"Aku pemilik tempat ini, dan tiga tempat lainnya."

"Kau memilikinya?" Aku terkesiap kaget. Yah, ini tidak terduga.

"Ya, ini sampingan. Ngomong-ngomong-apapun yang kau inginkan, akan bisa kau dapatkan disini, didalam ruangan. Segala macam pijat, Swedish, shiatsu, batu panas, refleksi, mandi rumput laut, facial, semua hal yang wanita suka-semuanya. Semua dilakukan disini." Jongin melambaikan tangan berjari panjangnya dengan acuh tak acuh.

"Waxing?"

Jongin tertawa. "Ya, waxing juga. Di seluruh tubuh." Jongin berbisik konspiratif, menikmati ketidaknyamananku. Aku memerah dan melirik Greta, yang melihat padaku dengan penuh harap.

"Tolong, Aku mau potong rambut."

"Tentu, Tuan Oh." Greta memakai lipstik pink dan bergegas dengan efiesiensi seperti orang jerman saat dia mengecek layar computer. "Franco bebas dalam 5 menit."

"Franco itu bagus," kata Jongin meyakinkanku. Aku berusaha mencerna masalah ini di dalam kepalaku.

CEO Kim Jongin memiliki sebuah jaringan salon kecantikan. Aku mengintipnya, dan tiba-tiba Jongin menjadi pucat — sesuatu, atau seseorang telah menarik perhatiannya. Aku berbalik untuk melihat kearah tatapannya dan tepat dibelakang salon muncul seorang wanita pirang platina yang berpakaian rapi, menutup pintu dibelakangnya dan berbicara dengan salah seorang penata rambut. Pirang platina tinggi, kulit coklat, cantik, dan di usia akhir 30-an atau 40-an — susah ditebak. Dia memakai seragam sama seperti Greta, tapi hitam. Dia terlihat menawan. Rambutnya bersinar seperti sebuah lengkungan cahaya, dan dipotong model bob yang tegas. Ketika dia berputar, dia menangkap pandangan Jongin dan tersenyum kepadanya, suatu senyuman hangat pengenalan yang cemerlang.

"Permisi," Jongin menggumam dengan cepat. Dia melangkah cepat menuju salon, melewati para penata rambut berseragam serba putih, melewati para pekerja magang di bak cuci, dan menuju kearahnya, terlalu jauh bagiku untuk mendengar percakapan mereka.

Pirang platina menyambutnya dengan kasih sayang yang jelas, mencium kedua pipinya, tangannya diletakkan di lengan atas Jongin, dan mereka terlihat asyik berbicara berdua.

"Tuan Oh?" Greta si resepsionis berusaha menarik perhatianku.

"Tolong tunggu sebentar," Aku menonton Jongin, kagum. Pirang platina berputar dan melihatku, dan memberiku senyum mempesona yang sama, seperti dia mengenalku. Aku membalas dengan senyum sopan.

Jongin terlihat marah tentang sesuatu. Dia memberi alasan pada Jongin dan Jongin terlihat setuju dengan mengangkat tangannya dan tersenyum padanya. Jongin tersenyum padanya — jelas mereka sangat kenal satu sama lain. Mungkin mereka telah lama bekerjasama? Mungkin dia menjalankan tempat ini, lagipula dia jelas terlihat berwibawa. Dan ini menghantamku seperti sebuah bola yang menghancurkan, dan aku tahu, jauh didalam hatiku yang terdalam, aku tahu siapa dia. Itu dia.

Mempesona, lebih tua dan cantik.

Dia Mrs. Robinson.

~oOOo~

Daftar Istilah:

1. 'Menyulut Kertas sentuhan biru' atau Lit The Blue Touch Paper adalah ungkapan yang diberikan ketika seseorang telah melakukan sesuatu yang berbahaya atau gila-gilaan dan perlu untuk berhati-hati terhadap konsekuensi-konsekuensinya.

2. Testosterone Rush, Ungkapan ini dipakai buat menunjukan seoarng pria yang saling ingin mengukur kemampuan fisik atau kejantananya sebagai laki-laki dengan pria lainya, dan kadang berakhir dengan perkelahian.

3. Happy Trail, atau rambut-rambut yang biasanya tumbuh mulai dada atau pusar dan berakhir di kemaluan, sangat seksi untuk para cowok, hehe J

4. The Pissing Contest, atau Kontes buang air kecil, sebenarnya adalah permainan dimana peserta berkompetisi untuk melihat mana yang bisa buang air kecil lebih tinggi, lebih jauh dan paling akurat. Biasanya dimainkan anak-anak laki-laki. Sekarang istilah ini dipakai untuk menunjukan egoisme superioritas pria yang jelas suka saling merendahkan pria lain atau kadang merupakan suatu gaya berkelakar yang dianggap cukup vulgar.

5. Waxing, atau membersihkan bulu-bulu seperti di ketiak dan kaki dengan menggunakan lilin lebah (beeswax), kadang juga dipakai pada rambut kemaluan.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Yes! Sehun ketemu Mrs. Robbinson yes! Lol

Barokah kan ya ini ane update ff pas malam minggu? Lol

Seminggu ini ane update 2x. Seneng kan? Wkwk

Jadi gimana kelanjutannya? Review please~ ^^

.

.

Thanks to review CH 4:

YunYuliHun , exohye , Sekar Amalia , Ihfaherdiati395 ,utsukushii02 , izzsweetcity , fitrysukma39 , windaii5 ,VampireDPS ,jiraniatriana , sehunskai ,vitangeflower , My jeje ,bottomsehunnie ,Keteknyakai ,Mara997 , ,Jongin's Grape ,shixunaa .

Ps: buat yang udah baca, tinggalin jejak dong. Ane tau kok setiap Chapter itu yang ngeview itu bisa sampe 500+orang, tapi pada SIDERS. Kan ane sedih liatnya. Jadi kalo bisa si kalo udah baca seenggaknya review yaa~ kan biar aku bisa tahu apa kekuranganku dalam meremake novel ini. Hehe