Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : SasuHina

Warning : OOC. Gaje. AU. MISTYPO. Dan segala macam kesalahan lain yang ada di dalamnya.

Gak suka gak usah baca..:)

Don't like, don't read, don't bash..^^

Happy Reading...

.

.

.

NIGHTINGALE © Shirayuki Ai

.

.

.

La Cheers cafe adalah sebuah cafe sederhana yang terletak di pinggir jalan, tepat di depan sebuah gedung pencakar langit yang berdesain megah.

Sharingan Building. Itulah nama gedung itu. Sebuah tempat di mana perusahaan milik keluarga Uchiha menjalankan bisnis mereka selama bertahun-tahun. Posisi strategis itu membuat La Cheers ramai dikunjungi pengunjung, terutama para pegawai dari Sharingan Corp yang berniat untuk menyantap makan siang mereka ataupun sekedar minum kopi.

Kedatangan para pegawai perusahaan tersebut merupakan berkah tersendiri bagi pegawai di cafe itu. Selain cafe mereka ramai, mereka pun dapat memanjakan mata mereka untuk melihat makhluk-makhluk indah ciptaan Kami-sama. Dan bagi para gadis pegawai cafe itu, salah satu makhluk indah tersebut datang dari salah seorang pengunjung tetap di sana, seorang pria berambut raven, dan bermata onyx tajam, yang selalu datang untuk menikmati makan siangnya ataupun sekedar meminum kopinya.

Pria yang oleh para gadis di sana mereka sebut dengan panggilan dark prince, meskipun mereka semua tahu siapa dia sebenarnya.

Uchiha Sasuke. Putra kedua dari pebisnis Uchiha Fugaku dengan Uchiha Mikoto, adik kandung dari Uchiha Itachi. CEO Sharingan Corp. Pria yang baru-baru ini di daulat sebagai The Most Wanted Bachelor di sebuah majalah ternama di Jepang dan Amerika, mengikuti jejak sang kakak. Tapi, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa mereka berdua bersaudara, sifat mereka sangat berbeda. Itachi terkenal santai, dan ramah terhadap semua orang meskipun agak sedikit eksentrik.

Sementara Sasuke sendiri terkenal pendiam dan irit bicara. Belum lagi kesan angkuh yang seakan menguar dari setiap pori-pori di tubuhnya. Walaupun demikian, tentu saja hal itu tidak menyurutkan semangat para wanita untuk mendekatinya. Termasuk para pegawai yang bekerja di cafe itu, meskipun mereka terpaksa harus menggigit jari karena sang pangeran sama sekali tak tertarik. Bahkan untuk sekedar melirik sekalipun.

Tapi tetap saja, pesona kelam sang bujangan termuda Uchiha itu terlalu kuat untuk diabaikan. Mata berwarna onyx itu seakan menghipnotis mereka untuk segera melemparkan diri mereka ke pelukan pria tampan itu. Uchiha Sasuke merupakan paket lengkap yang diinginkan setiap wanita. Tubuh tinggi berisi, dengan otot yang pas di setiap lekukannya, wajah tampan aduhai dengan otak encer, serta kekayaan yang melimpah. Siapapun pasti akan tergoda.

Oh, lupakan saja fakta bahwa pria itu bermulut tajam. Kesempatan untuk menghabiskan semalam bersamanya terlalu sayang untuk dilewatkan hanya karena kata-kata sinis yang keluar dari bibir yang kissable itu.

Tapi sayangnya para wanita itu hanya dapat bermimpi. Uchiha Sasuke sama sekali tak pernah tertarik kepada wanita.

Benarkah?

Tentu saja tidak!

Singkirkan rumor nista yang mengatakan bahwa ia menyukai laki-laki. Orang-orang yang menyebarkan gosip murahan tentang itu jelas tak tahu apapun. Ia pria normal. Ia tertarik pada wanita serta segala atributnya. Dan tentu saja ia memiliki kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Ayolah, apakah mereka lupa bahwa ia menghabiskan kuliahnya di dataran Amerika Serikat? Sebuah negara digdaya dimana pergaulan tak memiliki batasan, dan seks bukanlah hal yang tabu.

Ia jelas bukan pria suci yang munafik. Ia hanya seorang pria yang pintar menjaga privasinya. Dan kalaupun ia menghabiskan malam bersama seorang wanita, mereka sudah tahu apa yang ia inginkan, dan tak cukup bodoh untuk meminta lebih. Ia tak tertarik untuk mengikat dirinya dalam suatu hubungan rumit dengan siapapun, kecuali seorang Hyuuga Hinata.

Lulusan Summa Cum Laude, Valedictorian di Harvard University itu benar-benar menyerah jika dihadapkan pada gadis yang melanjutkan kuliahnya di kedokteran Universitas Tokyo itu. Hinata mungkin tidak sadar, tapi gadis itu memiliki pengaruh kuat padanya. Gadis itu satu-satunya alasan yang membuatnya rela bolak-balik ke Jepang di setiap kesempatan yang ada, hingga akhirnya kembali ke negara itu begitu ia menyelesaikan kuliahnya di Amerika, meninggalkan Itachi mengurus Sharingan Corp di Amerika. Gadis yang menjadi poros dunianya semenjak kecil, meskipun ia dengan sukses menutupi semua itu. Gadis yang tak pernah memperhatikannya sama sekali, yang sama sekali tak berusaha untuk mengenalnya lebih jauh meskipun mereka bukan orang asing bagi satu sama lain.

Ironis rasanya, Sasuke yang mengenalnya lebih dahulu, mengaguminya tanpa kata, namun pada akhirnya ia yang memilih mundur. Memberikan kesempatan pada Naruto, yang berakhir dengan sia-sia.

Salahkan Itachi dan kakeknya, Uchiha Madara, yang berkoar-koar tentang cinta, penantian serta hal bullshit lainnya.

Lepaskan ia, dan kalau ia memang orang yang terikat benang merah denganmu, ia pasti akan kembali lagi padamu.

Cih, entah kenapa kata-kata kakeknya terngiang kembali di telinganya. Sejak kapan Oh The Great Uchiha Madara berubah jadi sosok romantis seperti itu. Sasuke mulai mempertanyakan kewarasan kakeknya. Boleh jadi ia menyesal telah menuruti kata-kata itu. Ia menyesal melihat Hime nya menitikkan air mata hanya karena makhluk kuning menyilaukan yang tak bisa memutuskan perasaannya. Ia tahu, dengan caranya sendiri Naruto menyayangi Hinata. Tapi, biar bagaimanapun, Sakura selalu menjadi prioritas pria itu.

Lagi-lagi Sasuke mendengus. Tiga tahun hubungan mereka berjalan, ternyata tetap tak bisa membuat Naruto benar-benar berpaling. Dan akibatnya, seorang gadis tersakiti. Hime nya. Ia memijit pangkal hidungnya. Tiba-tiba merasa penat.

Sasuke tak munafik, sebenarnya ia merasa cukup senang karena akhirnya prediksinya berjalan dengan tepat, dan Naruto tergelincir akan perasaan terhadap cinta pertamanya. Hal itu membuat kesempatannya mendapatkan Hyuuga Hinata terbuka. Seolah Kami-sama memberikan jalan baginya. Yang ia sesalkan, hanya di dalam jalan itu, Hyuuga Hinata harus terluka.

Tidak lagi...

Sasuke tak akan membiarkan kesedihan itu berlarut-larut.

Sudah saatnya ia bertindak. Lagipula, sekarang ia sudah mengantongi restu dari Hyuuga Hiashi. Dan tentu saja hal itu semakin memuluskan jalannya. Selangkah lebih dekat menuju tujuannya. Selangkah lebih dekat mendapatkan Hyuuga Hinata.

Lucu jika dipikir. Ia meminta izin terlebih dahulu dengan kedua orang tua Hinata, sedangkan yang bersangkutan jelas sama sekali tak tahu apapun. Tapi Sasuke tak peduli. Ia akan mendapatkan Hinata. Ia pasti mendapatkan Hinata. Screw everyone and everything.

Sebenarnya apa yang membuat Hyuuga Hinata begitu menarik?

Apa yang ada pada gadis itu sehingga mampu membuat Sasuke tak dapat mengalihkan atensinya setelah bertahun-tahun berlalu?

Membuatnya seakan buta terhadap makhluk berjenis kelamin perempuan yang jauh lebih bersedia untuk menyenangkannya? Yang jauh lebih cantik daripada seorang Hyuuga Hinata?

Mengapa bahkan setelah Sasuke terpisah jarak dan waktu, ia tetap menginginkannya?

Mengapa bahkan ketika ia sedang bersama gadis lain untuk memuaskan hasratnya, yang ia pikirkan hanyalah seorang Hyuuga Hime?

Perasaan suka yang ia rasakan sewaktu ia masih kecil tak mungkin kan bisa berkembang sejauh ini? Apa? Kenapa?

Bagaimana mungkin ia, yang mendapat julukan sebagai Dark Prince menyukai Hime Hyuuga yang lembut itu?

Hey!

Apa-apaan itu?

Apakah salah jika Sasuke menginginkan sedikit cahaya untuk meneranginya?

Hinata itu bagaikan bulan, yang selalu menerangi malam dengan pancaran sinar lembutnya. Karena itu ia tertarik padanya. Tak bisakah seseorang sepertinya, yang memiliki kekurangan, yang memiliki sisi gelap dominan dalam dirinya, menginginkan setitik cahaya dalam hidupnya, agar ia tak tersesat?

Jangan lupakan bahwa ia gadis kalem yang kuat dengan caranya sendiri. Hinata bukan tipe yang suka mengeluh akan segala sesuatu yang tak sesuai dengan kehendaknya. Memang, ia mengakui bahwa mereka nyaris tak pernah berinteraksi dengan gadis itu selama mereka masih bersekolah di Konoha High School. Fakta bahwa Hinata tak tersentuh-yang lebih dikarenakan sifat pemalu gadis itu, sehingga membuatnya hanya memiliki sedikit teman dekat-dan mereka memiliki kelompok masing-masing membuat mereka tak pernah mengobrol ataupun hanya untuk sekedar bertukar sapa. Karena itu, tak ada yang tahu bahwa sebenarnya mereka saling mengenal sejak kecil, dan Sasuke bersahabat akrab dengan kakaknya, Hyuuga Sadako-coret-Hyuuga Neji.

Semua orang beranggapan bahwa hanya Namikaze Naruto dan Haruno Sakura lah yang merupakan teman kecilnya. Mereka sama sekali tak mempertimbangkan fakta bahwa ada satu lagi keluarga tak tersentuh, yang berhubungan erat dengan keluarganya yaitu keluarga Hyuuga.

Sasuke sempat mengutuk media yang melebih-lebihkan pemberitaan tentang hubungan keluarganya dan keluarga Hyuuga yang buruk. Membuatnya semakin tak leluasa dengan Hinata. Ditambah lagi Sakura yang waktu itu selalu menempel padanya. Hanya karena ia berstatus satu-satunya sahabat perempuan yang ia izinkan mendekatinya. Lagipula waktu itu pandangan Hinata selalu terarah pada Naruto. Mana sadar ia jika Sasuke memperhatikannya dengan tatapan intensnya.

Mereka bagaikan terlibat lingkaran setan. Ia yang menyukai Hinata, yang menyukai Naruto, yang menyukai Sakura yang menyukai dirinya.

Sakura...

Baguslah jika perempuan itu sudah melupakan perasaannya terhadap dirinya, dan mengalihkannya pada makhluk yang selalu mencari perhatiannya sejak dulu. Hanya saja, ia tak dapat menyingkirkan fakta bahwa gadis itu telah membuat Himenya menangis.

Tapi, kau pun tak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya Sasuke. Bukankah kau tahu akan begini jadinya? Bukankah kau sudah memprediksikan semuanya?

Kau tahu dengan jelas Sakura akan kembali ke Jepang. Kau tahu Naruto pasti akan goyah, tapi lihatlah, kau sama sekali tak melakukan apapun.

Kau juga bertanggungjawab atas air mata Hinata.

Meskipun demikian, karena kebodohan mereka berdualah, yang pada akhirnya menyebabkan Himenya terpaksa menjatuhkan bom kepada Hyuuga Hiashi dan membuatnya sempat kalang kabut menyusun rencana. Semenjak hari dimana ia memukul Naruto, ia sama sekali belum bertemu dengan mereka berdua. Ia terlalu sibuk dengan rencananya. Lagipula, ia masih merasa malas bertemu dengan duo berisik itu.

Ia meminum kopinya yang mulai terasa dingin, dan melirik ke arah jam tangannya.

Telat lima belas menit, tak biasanya, pikirnya sembari mengeluarkan smartphonenya, dan bersiap menelpon seseorang ketika sebuah suara memanggil namanya.

"Sasuke-kun?"

Ia mendongak. Dan matanya bertatapan langsung dengan mata berwarna emerald...

.

.

.

.

Hyuuga Hinata baru saja bersiap akan meninggalkan kampusnya setelah seharian mengurus administrasi untuk persiapan wisudanya. Ia tersenyum, menyadari bahwa ia selangkah lebih dekat akan impiannya menjadi dokter... Nilai-nilainya pun sangat memuaskan, dan ia memiliki kepercayaan diri tinggi bahwa ia akan diterima di Johns Hopkins nanti, tempat ia akan melanjutkan pendidikannya nanti. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan menjadi dokter ahli bedah syaraf. Neurosurgeon. Dan ia tak ingin tanggung-tanggung menempuh pendidikannya. Lagipula, dengan belajar ia bisa mengalihkan pikirannya sehingga tak melulu terpusat dengan pertanyaan kenapa.

Senyumnya memudar, dan ia terdiam di tempat. Mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak akibat rasa sakit yang di rasakannya.

Sialan!

Ia tak akan menangis kembali. Bukankah ia sudah memutuskan bahwa ia akan mencoba melupakan semuanya.

Meninggalkan Jepang dan memulai kehidupan barunya di Amerika.

Tapi tetap saja sakit.

Perasaan dicampakkan begitu saja.

Hey Hyuuga, lupakah kau? Kau sendiri yang mengambil keputusan itu.

Kau sendiri yang menyimpulkan segalanya tanpa membiarkan Naruto menjelaskan segalanya.

Kau sendiri yang mengucapkan selamat tinggal.

Kau sendiri yang mengatakan sudah lelah.

Lalu kenapa? Apa sekarang kau menyesal? Lagipula sudah terlambat kan? Mungkin dia sudah berbahagia dengan gadis musim seminya.

Hinata menggelengkan kepalanya lagi, berusaha menyingkirkan pikiran buruk itu, menjernihkan kepalanya. Ia tak ingin terus-terusan terpuruk. Ia harus kuat.

Ia tak ingin menjadi gadis lemah. Ia tak ingin menjadi tipikal gadis-gadis yang kehilangan arah setelah putus dari kekasihnya. Ia harus kuat. Meskipun sakit, tapi waktu tak akan berhenti berjalan, sama seperti bumi yang tak akan berhenti berputar hanya karena ia putus cinta.

Lagipula, bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan menyia-nyiakan air matanya lagi?

Bukankah sudah cukup ia menangis histeris di tempat Ino waktu itu?

Dan kalaupun ia ingin menangis, ia akan melakukannya di dalam privasi kamarnya, dimana tak seorang pun dapat melihatnya. Sehingga tak ada satu orang pun yang memandangnya dengan tatapan penuh simpati.

Sadarlah Hinata, semuanya telah selesai.

Dan semua orang sudah mengetahuinya. Entah mereka mendapatkan darimana berita itu, tapi media sedang sibuk membahasnya. Putusnya hubungan antara pewaris Namikaze Corp dan Hyuuga Hime menjadikan sensasi tersendiri, terlebih lagi dibumbui skandal akan keterlibatan salah satu model cantik, Haruno Sakura.

Gadis itu menghela nafas pelan, dan merutuk dalam hati. Menyesal pun tak ada gunanya. Ia tak akan bisa membalikkan waktu. Perasaannya sekarang bercampur aduk, dan ia tak tahu lagi apakah ia harus marah ataupun sedih.

Ia kembali melangkahkan kakinya dan mulai berjalan, mengalihkan pikirannya akan hal lain sehingga otaknya tak terus menerus mengulang memori terakhir kali saat ia menginjakkan kakinya ke gedung tempat sosok pria berambut kuning bekerja, yang telah membuat hatinya terluka.

Naruto-kun...

Ah, ia tak bisa berbohong. Ia masih saja merindukan pria itu. Tak akan mudah melupakan segala sesuatu yang telah terjadi di antara mereka berdua, dan tiga tahun bukan waktu yang singkat. Naruto merupakan salah satu sosok penting dalam hidupnya. Salah satu sosok penyemangat yang selalu membuatnya tersenyum, meskipun pada akhirnya menjadi alasan ia meneteskan air matanya.

Apakah pria itu juga merindukannya? Atau Sakura sudah berhasil membuatnya melupakan dirinya? Seorang gadis biasa yang jelas tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Sakura yang merupakan paket lengkap yang diinginkan setiap pria.

Tidak. Biar bagaimanapun ia tak akan membenci gadis itu. Dalam hal ini, Hinatalah yang salah. Ia yang memilih masuk ke dalam kehidupan Naruto. Ia yang harusnya sejak awal menolak segala afeksi dan atensi dari pria itu.

Tapi, dengan bodohnya ia malah menerimanya. Percaya bahwa ia sanggup membuat Naruto melupakan cinta pertamanya dan memilihnya sebagai cinta terakhir.

Bukti betapa arogansi dapat menjatuhkanmu.

Ia terlalu percaya diri dengan fakta bahwa Naruto bahkan rela menemui Neji dan Hanabi untuk meminta izin mereka. Ia yang terlalu percaya bahwa Naruto serius dalam menjalani hubungan mereka dan menjadikannya sebagai satu-satunya wanita selain ibunya yang menjadi prioritasnya.

Ia yang terlalu naif, percaya dengan semua itu.

Ia melupakan fakta bahwa Namikaze Kushina, ibu dari Naruto, tak terlalu berharap ia menjadi menantunya. Wanita itu memang tak pernah bersikap jahat padanya, namun jelas ia tak menyembunyikan fakta bahwa Hinata bukanlah sosok pilihan yang ia harapkan untuk menjadi menantunya.

Ia melupakan fakta bahwa ada satu orang lagi yang berjenis kelamin perempuan yang menjadi prioritasnya. Ia melupakan Haruno Sakura.

Ia melupakan fakta bahwa Sakura dapat kembali kapanpun, dan membuat segala usahanya dapat hancur dalam sekejap.

Hinata mengerjapkan matanya sekali lagi, mencoba mengusir pikiran itu. Mencoba menyingkirkan pikiran negatifnya yang menyalahkan Sakura.

Lagi-lagi pikirannya melayang ke hal-hal yang saat ini tak ingin ia pikirkan.

Ia membalikkan badan, memandang gedung yang telah memberinya banyak kenangan. Tempat dimana ia bertemu lagi dengan dua orang sahabat seperjuangannya semenjak bangku sekolah, di fakultas kedokteran ini. Aburame Shino dan Inuzuka Kiba.

Kampus, aah..ia pasti akan merindukan kampusnya. Terlalu banyak kenangan... Suka duka selama menjadi mahasiswi. Kenangan-kenangan konyol. Dan tentu saja saat-saat membahagiakan itu. Serta saat- saat mengerikan ketika pertama kali ia magang di rumah sakit. Tapi hal itu tetap tak akan mengubah keinginannya. Ia janji suatu saat nanti, setelah ia sukses, ia pasti akan mengunjungi kampus ini.

"Hina-chaaaaan..."

Gadis bersurai indigo itu menoleh sewaktu ada yang memanggilnya. Seorang gadis berambut pirang sedang berlari ke arahnya dengan semangat sembari menyeret seorang pria berkuncir yang model rambutnya mengingatkannya akan nanas. Ia tersenyum mendapati Yamanaka Ino dan Nara Shikamaru kini berdiri di depannya. Mereka berdua adalah salah satu dari sahabat-sahabat terdekatnya sejak bangku sekolah.

Yamanaka Ino, gadis cantik yang lebih mirip model itu mengambil jurusan psikologi, sementara Nara Shikamaru lebih memilih ke hukum, pilihan yang membuat mereka tersedak kaget karena awalnya mereka pikir pria itu lebih berminat menjadi programmer.

"Hi Ino-chan, Shika-kun," sapa Hinata dengan lembut. "Kalian berdua akrab sekali, selalu berdua." tambahnya sambil tertawa geli.

"Dia menyeretku-merepotkan." gerutu Shikamaru sembari melepaskan cengkraman menyakitkan Ino dari lengannya, lalu mengusapnya. Gadis itu tak sadar rupanya bahwa kukunya yang tajam itu menusuk-nusuk lengan Shikamaru. Ia malah merangkul Hinata dengan riang.

"Dia yang pertama kutemukan." Jawab gadis itu sembari melirik teman masa kecilnya yang sibuk menguap. "Lagipula, dia tidur melulu. "

"Cih." Shikamaru mendengus sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku ingin istirahat. Berurusan dengan berkas hukum membuatku jenuh."

Ino kini merangkul lengan Hinata dan mendelik ke arah pria itu. "Karena itu aku sengaja menjemputmu dan membawamu ke sini menjemput Hinata, lalu kita akan menghabiskan waktu bersama."

"Bilang saja kau membutuhkanku untuk menjadi supirmu." sindir pria itu dan mulai berjalan. "Terutama setelah kau menabrak kemarin."

Ino cemberut. "Aku kan sudah bilang, itu bukan salahku."

Shikamaru berbalik, dan berhenti tepat di depan Ino, lalu menyentil dahinya.

"Bodoh. Berhenti mengirim pesan saat menyetir. Kau beruntung yang rusak mobilmu, bukan kau."

Ia berbalik dan mulai berjalan kembali. Hinata memandang Ino yang terdiam sembari tersenyum, mengelus lengannya.

"Shika-kun hanya khawatir, dan aku setuju. Mungkin kau seharusnya tak menyetir sendiri, Ino-chan." godanya. "Dengan begitu, kau punya alasan untuk mengganggu Shika-kun." Tambah Hinata sebelum berlari meninggalkan Ino yang terlihat memerah.

"Aaah, Hina-chan. Hey! Tunggu aku!"

Hinata tersenyum dan berjalan bersisian dengan Shikamaru menuju mobilnya yang berada di pelataran parkir.

"Kau serius akan pindah?" tanya pria itu membuka percakapan. "Meninggalkan aku dengan banshee satu itu? Tak bisakah kau mempertimbangkan kembali?"

Hinata terkikik. "Banshee itu orang yang kau selalu kau jaga, Shika-kun. Dan kupikir Sai-kun tak akan suka kalau kau menjelek-jelekkan kekasihnya."

"Dia memang tak pernah suka denganku dari awal." kata Shikamaru mengingatkan. Sejak awal mereka kuliah, mahasiswa jurusan seni yang berstatus kekasih Ino itu selalu memandangnya dengan tatapan beragam, terkadang menyelidik, kadang tak suka, kadang seolah menilai dan semacamnya. Haah, untuk seseorang yang bertampang datar tanpa ekspresi, pria itu jelas memiliki berbagai macam ekspresi ketika berhadapan dengannya.

Ino menyusup di sela-sela mereka, merangkul lengan kiri dan kanan Shikamaru dan Hinata. "Itu karena dia tahu kau cinta dan pacar pertamaku. Lagipula Tema-chan juga seperti itu. Jadi membuatku ingin mengganggunya."

Shikamaru menyunggingkan senyum tipis, dan mengacak rambut Ino.

"Jangan membuat skandal." katanya melepaskan rangkulan Ino dan mengeluarkan kunci mobilnya.

Hinata tak berbicara, memperhatikan dalam diam Ino yang sedang memarahi Shikamaru. Manik lavendernya tertuju pada sahabat-sahabatnya sementara dalam kepalanya, berbagai pertanyaan sedang berkecamuk, meminta jawaban, penjelasan.

Bagaimana mereka bisa tetap akrab setelah hubungan mereka berakhir?

Bagaimana mungkin mereka tetap bersikap biasa saja terhadap satu sama lain?

Apakah Tema-chan dan Sai-kun sama sekali tak mempermasalahkan hal itu? Sama sekali tak khawatir? Cemburu?

Harusnya mereka khawatir kan? Karena itu jelas yang ia lakukan waktu Naruto bersama Sakura. Lalu kenapa?

Apa jika saat itu ia lebih memilih untuk bersikap tak tahu apapun, berpura-pura tak ada masalah, akan bisa menyelamatkan hubungannya dengan Naruto?

"Hina-chan? Hina-chan? Heey!"

Ino mencengkram kedua lengan Hinata dengan erat, menggoyang badannya dengan perlahan, mencoba membuat gadis bersurai indigo itu kembali ke dunia nyata. Shikamaru berdiri di sampingnya dalam diam, tak mengeluarkan sepatah katapun, meskipun raut kekhawatiran tempampang jelas di wajahnya.

Hinata seakan tersentak, tersadar dari lamunannya, dan memandang Ino serta Shikamaru yang terlihat khawatir, meskipun mereka berusaha untuk menutupinya.

Ia menundukkan kepalanya. Rona merah mulai menjalar di kedua pipinya, sadar bahwa ia sudah membuat orang lain khawatir.

"Maaf. A-a-aku, banyak hal yang sedang menjadi pikiranku saat ini." cicitnya pelan.

Shikamaru menghela nafas, mengulurkan kepalanya untuk mengusap mahkota indigo itu. Ia tentu saja tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Hinata. Sebagai seorang jenius, sahabat lama, serta orang yang bekerja di bidang hukum dan memperhatikan detail sekecil apapun, ia tentu saja dapat menyimpulkan dengan mudah apa yang sedang dibayangkan oleh Hinata tadi.

Ia meletakkan kedua tangannya di pundak gadis itu, dan sedikit menunduk agar matanya dapat bertatapan langsung dengan mata tak berpupil yang menjadi khas keturunan Hyuuga, menatap langsung ke iris lavender milik Hyuuga Hinata.

"Aku dan Ino berbeda, Hinata. Sejak awal kami memang telah terikat persahabatan, yang kemudian berubah menjadi satu rasa yang membuat kami memutuskan untuk mencobanya. Meskipun semuanya berakhir seperti yang kau tahu. Kami lebih cocok menjadi sahabat daripada menjadi kekasih."

Ino mengangguk menyetujui ucapan Shikamaru, setelah mengerti maksud ucapan mantan kekasihnya itu. Mata birunya menatap Hinata dengan tatapan serius yang hanya ia tunjukkan ketika sedang menghadapi pasiennya.

"Baik Tema-chan dan Sai-kun tak perlu khawatir karena kami sudah memanfaatkan kesempatan kami dan tahu dengan jelas hasilnya. Dan baik aku dan lazy-bum ini sudah sangat nyaman dengan pasangan kami masing-masing. Lagipula, Temari-chan terlalu mengerikan untuk menjadi lawanmu." Kata Ino pelan dan sedikit berbisik ketika menyebut nama kekasih Shikamaru.

Ia berdehem dan menambahkan. "Tapi apa yang terjadi dengan kau dan Naruto itu berbeda, Hina-chan. Naruto tak pernah memiliki kesempatan dengan Sakura. Sama sekali tak pernah. Lalu ketika kali ini Sakura sendiri yang datang kepadanya, ia tanpa sadar mengalihkan perhatiannya pada salah satu impian kecilnya, dan berusaha menggapainya kembali."

Shikamaru mendengus, membuka pintu mobilnya. "Si bodoh itu. Setelah sekian lama, kurasa pukulan yang selalu ia terima dari Uchiha dan Haruno akhirnya mulai terlihat." Ujarnya lalu masuk ke mobil.

Ino terkikik geli. Ia bertukar pandang dengan Hinata yang kini terlihat bingung melihat wajah jahil yang muncul menggantikan ekspresi serius yang sempat ia tampilkan tadi. Gadis yang merupakan adik kandung dari Yamanaka Deidara, seorang desainer kelas dunia itu, melemparkan kedipan penuh godaan pada Hinata.

"Bicara soal Uchiha, aku mendengar kabar dari burung-burung yang berkicau, bahwa seorang pria dengan rambut yang seperti pantat bebek, melayangkan tinjunya pada makhluk kuning bodoh keesokan pagi setelah kau memutuskan hubungan waktu itu."

Hinata terdiam mencerna informasi itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya raut wajah penuh horror melintas di wajahnya.

"Eh? Apaa?!" Pekiknya dan menuntut penjelasan pada Ino, namun gadis itu sudah keburu masuk ke dalam mobil, membuat Hinata buru-buru menyusulnya. Membanting pintu hingga menutup, ia memaksa Ino yang duduk di depan berbalik menghadapnya.

"Ino..." rengeknya, memaksa sahabat perempuannya itu memberikan secarik informasi tentang ucapannya tadi. Sasuke-kun memukul Naruto-kun? Apa yang terjadi?

Ino membalikkan badannya. "Sebaiknya kau bertanya langsung pada si emo satu itu. aku hanya mendengar dari Sai-kun kalau waktu itu Sasuke datang ke kantor dan meminta ice-pack. Satu-satunya penjelasan yang ia berikan pada Sai-kun hanyalah ia habis menghajar makhluk kuning menyilaukan yang begitu bodoh melepaskan mutiara indah yang sangat berharga."

Hinata menyandarkan badannya di sandaran mobil, kaget mendengarkan fakta yang baru disampaikan Ino barusan. Ia tak tahu yang mana yang lebih mengejutkannya. Sasuke yang memukul Naruto ataupun Sasuke yang begitu cepat tahu tentang putusnya hubungan mereka.

Mengingat temperamen Sasuke yang menyamai Neji, Naruto beruntung Sasuke hanya melayangkan tinjunya. Meskipun ia tahu, Naruto pasti dapat melindungi dirinya sendiri. Hanya saja, Uchiha muda itu mengerikan jika sedang melindungi sesuatu, dan dalam hal ini, Hinatalah yang sedang ia lindungi.

Jika ada sesuatu yang ia ketahui tentang Sasuke adalah betapa protekifnya pria itu terhadapnya. Suatu kenyataan yang awalnya menolak ia sadari sewaktu Neji mengungkapkannya.

Aneh memang, pria yang ia kenal sejak kecil namun tak pernah akrab dengannya itu, bisa sangat protektif terhadapnya. Tapi, beberapa tahun berlalu dapat merubah segalanya. Termasuk hubungan persahabatannya dengan pria itu. Kini, ia dapat menyebut Sasuke sebagai salah satu orang yang penting baginya.

Tapi kenapa?

Kenapa Sasuke melakukannya?

Ia tak seberharga itu hingga mengakibatkan Sasuke harus menodai persahabatannya dengan Naruto.

Keningnya berkerut memikirkan jawaban itu, sementara Ino sedang sibuk mengomentari cara menyetir Shikamaru yang menurutnya terlalu lamban.

"Temui saja dia jika kau penasaran." celetuk Ino, yang menyadari kernyitan di dahi Hinata sewaktu ia menoleh ke belakang. "Dan sebelum kau protes, aku yakin Sasuke pasti bersedia menyediakan waktu untukmu." godanya sambil tersenyum geli sebelum mengalihkan pandangannya lagi pada Shikamaru. "Kita ke tempat Choji dulu. Ia selalu ingin kita kumpul sebentar dan melihat usahanya yang sukses besar."

Hinata cemberut, dan mengeluarkan handphonenya, mencari no telepon Sasuke di kontaknya,lalu mulai mengetik sms. Pria Uchiha itu bukanlah sosok yang menggandrungi sosial media untuk berkomunikasi. Ia lebih memilih sms dan telepon.

Sasuke-kun. Apa kau sedang sibuk?

Terkirim.

Ia menggenggam handphonenya dengan erat, menoleh ke luar jendela. Menikmati pemandangan sembari menanti hingga mereka sampai ke tujuan. Ia sedikit terlonjak kaget, merasakan handphone di pangkuannya bergetar.

Satu pesan diterima.

Tidak. Ada apa?

Hinata tersenyum. Sasuke ini. Meskipun sedang sibuk, selalu saja menjawab tidak. Ia segera mengetik balasannya.

Ada yang ingin kubicarakan. Bisa bertemu?

Terkirim.

Ia hanya ingin kejelasan saja. Kenapa Sasuke melakukannya? Lagipula, ia juga ingin bertemu pria itu. Entah kenapa Sasuke selalu memberinya perasaan tenang jika bersamanya, meskipun kadang ia merasa terintimidasi oleh tatapan tajamnya.

Panggilan masuk? Sasuke-kun?

Ia mengangkat segera telpon itu, menempelkannya si telinga. Dan sesaat kemudian, suara khas pria, datar dan dalam, namun terdengar sangat maskulin mengalun jernih di telinganya.

"Ingin bertemu dimana?"

Straight to the point. Uchiha Sasuke langsung menanyakan hal itu tanpa berbasa-basi lagi. Hinata menghela nafas, tak mampu berkomentar apapun tentang sifat pria yang satu ini.

"Bagaimana kalau di La Cheers saja. Itu dekat tempat kerjamu?"

"Kau dimana sekarang?"

Hinata mengangkat sebelah alisnya sewaktu Sasuke balas menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan. Tapi, ia mengerti maksud terselubung pertanyaan itu. Pria itu hanya heran kenapa Hinata memilih tempat itu untuk bertemu.

"Aku sedang bersama Ino-chan dan Shika-kun sekarang, dan kami berencana untuk ke Akamichi restaurant untuk bertemu dengan Choji-kun. Restorannya hanya berjarak beberapa blok dari Sharingan Building. Bagaimana?" tanyanya ragu, sembari menggigit bibir bawahnya, salah satu kebiasaan buruknya ketika ia sedang gugup. Dan kelihatanya, Uchiha yang satu itu terlalu mengenalnya dengan baik, karena detik berikutnya ia berkomentar.

"Berhenti menggigit bibirmu, Hyuuga. Dan baiklah. Sampai bertemu satu jam lagi."

Telepon terputus sebelum Hinata dapat melanjutkan ucapannya. Wajah Hinata terlihat bagaikan kepiting rebus. Ino yang menoleh, untuk yang kesekian kalinya, ke belakang mengangkat sebelah alisnya yang tertata rapi dengan pandangan menanti penjelasan.

Hinata hanya mampu mengutuk Sasuke dalam hati. Mengutuk pria yang tahu jelas tentang kebiasaannya itu.

Aiish...

Ia jadi merasa malu untuk bertemu. Salahkan si pantat ayam itu yang paham betul cara menggodanya. Hmmmm, mungkin sedikit telat tak akan jadi masalah kali ini.

Membiarkan pria itu menunggu sebentar sepertinya menarik. Hitung-hitung balas dendam karena membuat pasokan darah berkumpul di wajahnya...

Dan Hinata hanya menggelengkan kepalanya, membuat rambutnya yang tergerai ikut bergoyang. Ia tersenyum manis pada Ino.

"Tak ada. "

Dan sisa perjalanan ke tempat Choji pun berlangsung dalam diam...

.

.

.

.

Hellloooo...

Chapter 1 done. :)

Ai sebelumnya mo mnta maaf kalau fic ini masih banyak kekurangan. Banyak typo dll...

Dan, Ai juga mo ngucapin terima kasih buat yang sudah ngereview, ngefav, ama ngefollow fic amburadul buatan Ai ini. Bahagiaaa rasanya ternyata masih ada juga yang ngeluangin waktunya buat baca fic tak berharga punya Ai ini. Terima kasih sekali lagi...

Shirayuki Ai

Signed out.