~oOOo~
"Greta, Mr. Kim berbicara dengan siapa?" kepalaku terasa berdenyut penuh ketakutan, tapi bawah sadarku terus berteriak padaku untuk memperhatikan Jongin dengan Mrs Robinson. Tapi aku membuat kesan seolah-olah tak peduli.
"Oh, itu Mrs. Lincoln. Dia yang memiliki tempat ini bersama Mr. Kim." Tampaknya Greta senang sekali menceritakan ini.
"Mrs. Lincoln."
Aku kira Mrs. Robinson sudah bercerai. Mungkin dia menikah lagi dengan orang bodoh yang malang.
"Ya. Dia biasanya tidak disini, tapi salah satu teknisi kami hari ini sakit, jadi dia menggantikannya."
"Apa kau tahu nama pertama Mrs. Lincoln?"
Greta mendongak kearahku, mengerutkan kening, dan mengatupkan bibir warna merah mudanya yang terang, mempertanyakan rasa penasaranku. Sial, mungkin langkah ini terlalu jauh.
"Elena," katanya, agak enggan.
Aku dibanjiri dengan perasaan aneh karena lega, perasaan spiderman-ku ternyata tak mengecewakan. Perasaan spiderman? Bawah sadarku mendengus, perasaan seorang Paedo. Mereka masih asik berdiskusi. Jongin berbicara cepat dengannya, dan Elena terlihat khawatir, sambil mengangguk, meringis, dan menggelengkan kepala. Mengulurkan tangan, dia mengusap lengan Jongin menenangkan sambil menggigit bibirnya. Mengangguk lagi, dan Elena melirikku dan memberiku senyum kecil yang meyakinkan. Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah kaku.
Aku pikir aku terguncang. Bagaimana Jongin bisa mengajakku kesini? Dia membisikkan sesuatu pada Jongin, dan sekilas Jongin melihatku kemudian berbalik kembali padanya dan menjawabnya. Elena mengangguk, dan aku hanya menduga dia berharap Jongin berhasil, karena kemampuan membaca bibirku tidak berkembang sama sekali. Fifty Shades berbalik ke arahku, kegelisahan terukir jelas di wajahnya. Benar-benar sialan. Mrs. Robinson berbalik menuju ruang belakang, menutup pintu di belakangnya.
Jongin mengerutkan kening. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya, tapi suaranya tegang, waspada.
"Tidak juga. Kau tak ingin memperkenalkan aku?" Suaraku terdengar dingin, kaku.
Mulut Jongin menganga, dia terlihat bagaikan aku telah menarik karpet dari bawah kakinya. "Tapi aku pikir. . ."
"Untuk seorang pria yang cerdas, kadang-kadang. . ." Kata-kataku terhenti,sulit untuk melanjutkan. "Tolong, aku ingin pergi sekarang."
"Kenapa?"
"Kau tahu kenapa." Aku memutar mata.
Jongin menatap ke arahku, matanya terbakar. "Maafkan aku,Sehun. Aku tak tahu dia disini. Dia tak pernah disini. Dia sudah membuka cabang baru di Bravern Center, dia biasanya berada disana. Seseorang sakit hari ini."
Aku berbalik dan menuju pintu.
"Kami tak perlu Franco, Greta," bentak Jongin begitu kita keluar dari pintu.
Aku harus menekan dorongan untuk lari. Aku ingin lari cepat dan menjauh. Aku juga memiliki dorongan yang sangat kuat untuk menangis. Aku hanya perlu untuk menjauh dari semua kekacauan ini.
Jongin berjalan tanpa kata disampingku saat aku mencoba untuk merenungkan semua yang keluar dari pikiranku. Aku memeluk diriku sendiri, aku terus menunduk, menghindari pepohonan diSecond Avenue. Dengan bijak, Jongin tak berusaha untuk menyentuhku. Pikiranku yang bergejolak dengan pertanyaan yang belum terjawab. Apa Mr. Mengelak ini mau memberikan pengakuannya?
"Kau biasa mengajak subs-mu kesana?" Teriakku.
"Beberapa dari mereka, ya," kata Jongin pelan, nadanya terpotong.
"Leila?"
"Ya."
"Tempat itu sepertinya masih sangat baru."
"Karena belum lama direnovasi."
"Aku paham. Jadi Mrs. Robinson bertemu dengan semua subs-mu."
"Ya."
"Apakah mereka tahu dia?"
"Tidak, Tak satu pun dari mereka tahu. Hanya kamu."
"Tapi aku bukan sub-mu."
"Tidak, Kau jelas-jelas bukan."
Aku berhenti dan menatap Jongin. Mata Jongin melebar, takut. Bibirnya ditekan menjadi garis keras tanpa kompromi.
"Bisakah kau melihat bagaimana kacaunya ini?" Aku silau menatap Jongin, suaraku memelan.
"Ya. Aku minta maaf." Dan Jongin terlihat sangat menyesal.
"Aku ingin memotong rambutku, sebaiknya disuatu tempat dimana kau tidak meniduri baik itu staf atau pelanggannya."
Jongin tersentak.
"Sekarang, jika kau mengijinkanku."
"Kau tidak pergi, kan?" Tanya Jongin.
"Tidak, aku hanya ingin memotong rambut sialan ini. Disuatu tempat yang aku bisa menutup mataku, ada orang yang mencuci rambutku, dan melupakan semua masalahku."
Jongin mengacak-acak rambutnya. "Aku bisa meminta Franco datang ke apartemenku, atau tempatmu," katanya pelan.
"Dia sangat menarik."
Jongin berkedip. "Ya."
"Apakah dia masih menikah?"
"Tidak. Dia sudah bercerai sekitar lima tahun yang lalu."
"Mengapa kamu tak bersamanya?"
"Karena hubungan di antara kami sudah berakhir. Aku sudah pernah mengatakan ini." Tiba-tiba alis Jongin berkerut. Dia mengambil ponselnya dari saku jaketnya. Pasti hanya bergetar karena aku tidak mendengar nada deringnya.
" ," bentak Jongin, lalu mendengarkan.
Kami berdiri di Second Avenue, dan aku memandang ke arah anakan pohon pinus didepanku, daunnya berwarna hijau masih baru tumbuh. Keramaian orang-orang melewati kami, tenggelam didalam pekerjaan rumah tangga mereka pada Sabtu pagi. Tidak diragukan sedang merenungi kehidupan pribadi mereka sendiri. Aku ingin tahu apakah mereka termasuk si penguntit yang mantan submisif, mantan Dom yang mempesona ini, dan seorang pria Asia yang tidak memiliki konsep takut tentang privasi dibawah hukum Amerika Serikat.
"Tewas dalam kecelakaan mobil? Kapan?" Jongin memotong lamunanku. Oh tidak. Siapa? Aku mendengarkan lebih dekat.
"Itu dua kali si brengsek itu bisa tidak datang. Dia harus tahu. Apakah dia sama sekali tidak punya perasaan padanya?" Jongin menggeleng dengan muak.
"Ini mulai masuk akal. . . tidak. . . jelaskan mengapa, bukan dimana." Jongin melirik sekeliling kami seakan mencari sesuatu, dan aku mengikuti seperti tindakannya. Tidak ada yang menarik perhatianku. Hanya ada orang yang berbelanja, lalu lintas, dan pohon.
"Dia berada di sini," lanjut Jongin. "Dia sedang mengawasi kita. . . Ya. . . Bukan. Dua atau empat, jam 20.47 . . . Aku belum mulai membicarakan itu." Secara langsung Jongin melihat arahku. Mulai membicarakan apa? Aku mengerutkan kening pada Jongin dan Jongin memandangku dengan hati-hati.
"Apa. . . ," Bisik Jongin dan memucat, matanya melebar. "Aku tahu. Kapan? . . . Baru-baru ini? Tapi bagaimana? . . . Tidak ada pemeriksaan latar belakang? . . . Aku mengerti. Alamat email, alamat rumah, dan foto jika kau punya. . . jam 20.47 , dari sore ini. Kerja sama dengan Taylor." Jongin menutup telepon.
"Ada apa?" Tanyaku, putus asa. Apakah Jongin akan menceritakan padaku?
"Itu tadi ."
"Siapa ?"
"Penasihat keamananku."
"Oke. Jadi apa yang terjadi?"
"Leila meninggalkan suaminya sekitar tiga bulan yang lalu dan lari dengan seorang pria yang tewas dalam kecelakaan mobil empat minggu yang lalu."
"Oh."
"Psikiaternya brengsek itu seharusnya tahu bahwa dia lari," kata Jongin marah. "Menyedihkan, apapun itu. Ayo." Jongin mengulurkan tangannya, dan secara otomatis aku menyambutnya tapi aku menariknya lagi.
"Tunggu sebentar. Kita berada di tengah-tengah diskusi, tentang kita. Tentang dia, Mrs. Robinson-mu."
Wajah Jongin mengeras. "Dia bukan Mrs. Robinson-ku. Kita bisa bicara tentang hal ini di tempatku."
"Aku tak ingin ke tempatmu. Aku ingin memotong rambutku!" Aku berteriak. Jika aku hanya bisa fokus pada satu hal ini. . .
Jongin mengambil ponsel dari sakunya lagi dan memanggil sebuah nomor. "Greta, Kim Jongin. Aku ingin Franco ke tempatku dalam waktu jam satu. Bilang pada Mrs Lincoln. . . Baik." Jongin menutup teleponnya. "Dia akan datang jam satu."
"Jongin. . . !" Aku menyembur, putus asa.
"Sehun, Leila jelas menderita sakit jiwa. Aku tak tahu apakah itu kau atau aku yang dia incar, atau berapa lama dia siap untuk pergi menjauh. Kita akan balik ke tempatmu, ambil barang-barangmu, dan kau bisa tinggal denganku sampai kita berhasil menemukannya."
"Mengapa aku ingin melakukan itu?"
"Karena aku bisa menjagamu supaya kau aman."
"Tapi-"
Jongin melotot ke arahku. "Kau akan tinggal di apartemenku meskipun aku harus menyeretmu kesana dengan rambutmu."
Aku menganga kearah Jongin. . . ini sudah melampaui keyakinan. Fifty Shades sudah berubah warnanya menjadi warna-warni. "Aku pikir kau bereaksi terlalu berlebihan."
"Aku tidak. Kita bisa melanjutkan kembali diskusi ini ditempatku. Ayo."
Kulipat tanganku dan membelalak pada Jongin. Ini sudah semakin jauh. "Tidak," Kataku dengan keras kepala. Aku harus membuat pendirian.
"Kau berjalan sendiri atau aku yang akan menggendongmu. Aku tak keberatan dengan cara manapun, Sehun."
"Kau tak akan berani." Aku cemberut pada Jongin.
Tentu saja Jongin tidak akan membuat kekacauan di Second Avenue? Hell,pria sepertiku akan sangat malu jika Jongin benar- benar melakukan itu.
Jongin setengah tersenyum padaku, tapi senyumnya tak mencapai matanya. "Oh, sayang, kita berdua tahu, jika kau mengajukan tantangan, aku akan merasa sangat senang untuk mengambilnya."
Kami saling memelototi - dan tiba-tiba tangannya ke bawah, mengelilingi pahaku, dan mengangkatku. Sebelum aku tahu itu, aku sudah berada diatas bahunya.
"Turunkan aku!" Aku berteriak. Oh, rasanya lega bisa menjerit.
Jongin mulai melangkah sepanjang Second Avenue, mengabaikan aku. Tangannya menggenggam dengan kuat sekitar pahaku, dia memukul keras pantatku dengan tangannya yang bebas.
"Kim Jongin!" Aku berteriak.
Orang-orang sekitar mulai melihat kamu. Mungkin kejadian ini bisa menjadi sangat memalukan?
"Aku akan jalan! Aku akan jalan."
Jongin menurunkan aku ke bawah, bahkan sebelum dia berdiri tegak, aku menghentakkan kakiku menuju apartemenku, mendidih, mengabaikan Jongin. Tentu saja, Jongin disampingku saat ini, tapi aku terus mengabaikannya. Apa yang akan aku lakukan? Aku sangat marah, tapi aku bahkan tidak yakin apa yang membuat aku marah - ada begitu banyak. Saat aku dalam perjalanan pulang, aku membuat daftar dalam hati:
1. Mengangkat diatas bahu - tidak bisa diterima untuk siapa pun yang berusia diatas enam tahun.
2. Mengajakku ke salon yang Jongin miliki dengan mantan kekasihnya – bagaimana Jongin bisa jadi sebodoh itu?
3. Tempat yang sama Jongin mengajak submisif-nya - sama bodohnya dengan di tempat kerja.
4. Bahkan tidak sadar bahwa ini adalah ide yang buruk dan Jongin seharusnya menjadi pria yang cerdas.
5. Memiliki mantan pacarnya yang gila. Bisakah aku menyalahkan Jongin untuk itu? Karena aku sangat marah; ya, aku bisa.
6. Mengetahui nomor rekening bank-ku itu juga termasuk setengah penguntit.
7. Membeli SIP - Jongin mempunyai uang lebih banyak daripada akalnya.
8. Bersikeras aku tinggal dengan Jongin - ancaman dari Leila pasti lebih buruk daripada ketakutannya . . .
Jongin tidak menyinggung itu kemarin. Oh tidak, kenyataan akhirnya terungkap. Sesuatu telah berubah. Apa itu bisa? Aku berhenti, dan Jongin juga ikut berhenti.
"Apa yang terjadi?" Kataku mendesaknya.
Jongin mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Dengan Leila."
"Aku sudah cerita padamu."
"Tidak, kau belum menceritakan. Ada sesuatu yang lain. Kemarin kamu tidak memaksaku pergi ke tempatmu. Jadi apa yang terjadi?"
Jongin bergeser tidak nyaman.
"Kim Jongin! Katakan padaku!" Aku membentak.
"Kemarin dia berhasil memperoleh senjata berizin."
Oh sial. Aku menatap Jongin, berkedip, dan merasakan darah mengalir dari wajahku saat aku menyerap berita ini. Mungkin aku akan pingsan. Menduga Leila ingin membunuh Jongin? Tidak.
"Itu berarti dia baru saja membeli pistol," bisikku.
"Sehun," kata Jongin, suaranya penuh keprihatinan.
Jongin menempatkan tangannya di pundakku, menarikku mendekat dengannya. "Aku pikir dia tak akan melakukan sesuatu yang bodoh, tapi aku hanya tak ingin mengambil risiko denganmu."
"Aku tidak. . . bagaimana denganmu?" Bisikku.
Jongin mengernyit ke arahku, dan aku membungkus lenganku disekelilingnya dan memeluknya dengan keras, wajahku berada di dadanya.
Jongin tampaknya tidak memikirkan itu. "Ayo kita kembali," bisik Jongin, ia menunduk dan mencium rambutku, dan hanya itu.
Semua kemarahanku langsung musnah, tapi masih belum terlupakan. Hilang karena beberapa ancaman berbahaya yang ditujukan pada Jongin. Sebuah pemikiran yang tidak nyaman.
~oOOo~
Dengan serius aku mengemas, memasukkan ke koper kecil dan menempatkan Mac-ku, Ponsel, iPad-ku, dan Charlie Tango dalam ransel.
"Charlie Tango dibawa juga?" Tanya Jongin.
Aku mengangguk dan dia memberiku senyuman kecil yang ramah.
"Jungkook akan kembali hari Selasa," aku bergumam.
"Jungkook?"
"Saudara Baekhyun. Ia tinggal di sini sampai dia menemukan tempat di Seattle."
Jongin menatap kosong ke arahku, tapi aku melihat kebekuan yang menyusup ke matanya. "Yah, itu bagus bahwa kau akan tinggal denganku. Memberi dia ruang lebih banyak," kata Jongin pelan.
"Aku tak tahu kalau dia punya kunci. Aku nanti harus kembali."
Jongin menatap ke arahku tanpa ekspresi tapi tidak mengatakan apa-apa. "Itu sudah semuanya."
Jongin mengambil koperku, dan kami berjalan keluar pintu. Saat kami berjalan memutar ke belakang gedung menuju tempat parkir, tanpa sadar aku melihat dari atas bahuku. Aku tidak tahu apakah perasaan paranoid telah mengambil alih atau apakah ada seseorang benar-benar sedang mengawasiku.
Jongin membuka pintu penumpang Audi dan menatapku dengan penuh harap. "Apakah kau mau masuk?" Tanya Jongin.
"Aku pikir aku yang akan mengemudi."
"Tidak aku yang akan mengemudi."
"Apa ada yang salah dengan cara mengemudiku? Jangan bilang kau sudah tahu apa aku lulus tes mengemudiku. . . Aku tak akan terkejut dengan kecenderunganmu sebagai tukang penguntit." Mungkin Jongin tahu bahwa aku hanya salah sedikit pada saat tes tulis.
"Masuk ke mobil, Sehun," bentak Jongin dengan marah.
"Oke." Aku buru-buru masuk kedalam.
Sejujurnya, tenang, maukah kau? Mungkin Jongin juga memiliki perasaan tidak enak yang sama. Ada seseorang digelapan mengawasi kami - yah, seseorang bermuka pucat dengan rambut cokelat dan mata cokelat yang benar-benar mirip denganmu dan mungkin betul-betul bersenjata api dengan sembunyi-sembunyi. Jongin keluar menuju ke jalan raya.
"Apa semua submisif-mu berambut cokelat?"
Jongin mengerutkan kening dan melirikku cepat. "Ya," Jongin bergumam.
Kedengarannya tidak pasti, dan aku berpendapat Jongin sedang berpikir, apakah Mrs. Robinson ada hubungannnya dengan ini?
"Aku hanya ingin tahu."
"Sudah kubilang. Aku lebih suka berambut cokelat."
"Mrs. Robinson tidak berambut cokelat."
"Mungkin itu sebabnya," gumam Jongin. "Dia membuatku tidak menyukai pirang selamanya."
"Kau bercanda," Aku terkesiap.
"Ya. Aku hanya bercanda," Jongin menjawab, kesal.
Aku memandang keluar jendela tanpa ekspresi, mencari-cari yang berambut cokelat dimana-mana, meski tak satupun dari mereka adalah Leila.
Jadi, Jongin hanya suka berambut cokelat. Aku ingin tahu mengapa? Apakah Mrs. Luar biasa Glamor – Meski Sekarang Sudah Menjadi – Robinson Tua - benar-benar membuat dia tidak menyukai pirang? Aku menggelengkan kepalaku –Kim Jongin otak kacau.
"Ceritakan tentang dia."
"Apa yang ingin kau ketahui?" Alis Jongin mengkerut, dan nada suaranya mencoba untuk memperingatkanku.
"Ceritakan tentang kerja sama bisnismu itu."
Jongin tampak rileks, senang membicarakan masalah pekerjaan. "Aku mitra pasif. Aku tak terlalu tertarik pada bisnis kecantikan, tapi dia membangun menjadi usaha yang sukses. Aku hanya berinvestasi dan membantu dia memulai usaha ini."
"Kenapa?"
"Aku berutang padanya."
"Oh?"
"Saat aku DO dari Harvard, ia meminjamkan seratus ribu dolar untuk memulai bisnisku." Sialan. . . dia kaya juga.
"Kau DO?"
"Jurusan itu bukan keinginanku. Aku bertahan kuliah hanya sampai dua tahun. Sayangnya, orang tuaku tak begitu memahami."
Aku mengerutkan kening. Mr. Jonghyun dan Dr. Nana tidak menyetujui, aku tidak bisa membayangkannya.
"Tampaknya kau tidak terlalu buruk setelah DO. Kau ambil Jurusan apa?"
"Politik dan Ekonomi."
Hmm. . . ilmu hitung.
"Jadi dia kaya?" Gumamku.
"Dia merasa bosan jadi ibu rumah tangga, Sehun. Suaminya sangat kaya –usaha perkayuannya sangat sukses." Jongin menyeringai. "Dia tidak mengijinkan dia untuk bekerja. Kau tahu, dia suka kontrol. Sebagian besar pria seperti itu." Jongin segera memberiku senyuman miring.
"Benarkah? Seorang pria suka mengontrol, pasti dia seorang makhluk mistis?" Kupikir aku tak bisa menjawab dengan sindiran yang lebih lagi. Karena aku sendiri juga Pria.
Senyuman Jongin semakin lebar.
"Dia meminjamimu uang suaminya?"
Jongin mengangguk dan sedikit senyuman nakal muncul dibibirnya.
"Itu sama sekali tidak menyenangkan."
"Dia sudah mendapatkan uangnya kembali," kata Jongin muram saat ia memasuki garasi bawah tanah di Escala. Oh?
"Bagaimana?"
Jongin menggelengkan kepalanya, bila mengingat terutama kenangan suram sambil parkir di samping Audi Quattro SUV.
"Ayo- Franco sebentar lagi akan tiba di sini."
~oOOo~
Didalam lift Jongin menatap ke arahku. "Masih marah padaku?" Jongin bertanya masalahnya dengan terus terang.
"Sangat."
Jongin mengangguk. "Oke," kata Jongin dan menatap lurus ke depan.
Taylor yang menunggu kita saat kita masuk serambi. Bagaimana dia selalu tahu dimana kita berada? Dia mengambil koperku.
"Apakah sudah menghubungi?" Tanya Jongin.
"Ya, Sir."
"Dan?"
"Semuanya sudah diatur."
"Bagus. Bagaimana dengan putrimu?"
"Dia baik-baik saja, terima kasih, Sir."
"Bagus. Kami menunggu penata rambut yang akan datang jam satu, Franco De Luca."
"Tuan Oh," Taylor mengangguk padaku.
"Hai, Taylor. Kau punya seorang anak perempuan?"
"Ya Tuan."
"Berapa umurnya?"
"Umurnya tujuh tahun."
Jongin menatap ke arahku dengan tidak sabar.
"Dia tinggal dengan ibunya," Taylor mengklarifikasi.
"Oh, begitu."
Taylor tersenyum padaku. Ini benar-benar tidak aku duga. Taylor adalah seorang ayah? Aku mengikuti Jongin ke ruang besar, penasaran dengan informasi ini. Aku melihat sekeliling. Aku tidak pernah di sini sejak aku meninggalkannya.
"Apa kau lapar?" Aku menggelengkan kepala.
Jongin menatap ke arahku sebentar dan memutuskan untuk tidak berdebat. "Aku harus menelepon beberapa orang. Anggaplah seperti di rumah sendiri."
"Oke."
Jongin menghilang ke ruang kerjanya, meninggalkan aku berdiri didalam galeri karya seni yang sangat banyak yang dia sebut rumah dan bertanya-tanya apa yang harus kulakukan dengan diriku sendiri.
Pakaian! Mengambil ranselku, aku berjalan ke lantai atas, ke kamar tidurku dan memeriksa lemari pakaian. Masih penuh dengan pakaian - semua baru dengan label harga masih menempel. Tiga kemeja model panjang, jas ada tiga, dan tiga lagi untuk pakaian sehari-hari. Semua ini pasti mahal harganya. Aku memeriksa label salah satu kemeja: $ 2.998. Ya ampun. Aku merosot ke lantai. Ini bukan aku. Aku meletakkan kepalaku di tanganku dan mencoba untuk memproses beberapa jam sebelumnya. Sangat melelahkan.
Mengapa, oh mengapa aku jatuh cinta pada seseorang yang jelas-jelas sinting - tampan, sialan seksi, lebih kaya dari orang yg sangat kaya, dan gila? Aku mengeluarkan Ponsel-ku dari ransel dan menelepon ibuku.
"Sehun, Sayang! Sudah begitu lama. Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Oh, kau tahu. . . "
"Apa ada yang salah? Kau masih belum berhasil memahami Jongin?"
"Bu, ini rumit. Aku pikir dia itu gila. Itulah masalahnya."
"Ceritakan tentang hal itu. kadang-kadang kita tidak tepat membaca gelagat seseorang yang mencintai kita. Lee sedang bertanya-tanya apakah kepindahan kami ke Seoul itu sudah tepat."
"Maksudnya?"
"Ya, dia bicara tentang kembali ke Vegas."
Oh, seseorang memiliki masalah,dan aku bukan satu-satunya. Jongin muncul di ambang pintu.
"Ternyata kau disini. Aku pikir kau sudah kabur." Jelas Jongin merasa lega.
Aku mengangkat tanganku keatas yang mengindikasikan bahwa aku sedang menelepon. "Maaf, Ma, aku harus pergi. Nanti aku akan menelepon lagi."
"Oke, sayang – Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu, Ma." Aku menutup telepon dan menatap Fifty. Jongin mengerutkan kening, tampak canggung dan aneh.
"Mengapa kau bersembunyi disini?" Tanya Jongin.
"Aku tidak sembunyi. Aku merasa putus asa."
"Putus asa?"
"Untuk semua ini, Jongin." Aku melambaikan tanganku ke arah pakaian.
"Bisakah aku masuk kesitu?"
"Ini lemarimu."
Jongin mengernyit lagi dan duduk dibawah, bersila, menghadap kearahku. "Itu hanya pakaian. Jika kau tak menyukainya aku akan mengembalikannya."
"Kau membelinya sangat banyak, kau tahu?"
Jongin berkedip padaku dan mengelus dagunya. . . rambut yang mulai tumbuh di dagunya. Jari-jariku terasa gatal ingin menyentuhnya. "Aku tahu. Aku berusaha melakukan yang terbaik," bisik Jongin.
"Kau berusaha dengan keras."
"Seperti denganmu juga, Tuan Oh."
"Mengapa kamu melakukan ini?"
Mata Jongin melebar dan kembali terlihat khawatir. "Kau tahu kenapa."
"Tidak, aku tak tahu."
Jongin mengacak-acak rambutnya. "Kau seorang pria yang membuatku frustasi."
"Kau bisa memiliki submisif rambut coklat yang menyenangkan. Seseorang mengatakan, 'mau seberapa tingginya?' setiap kali kau menyuruhnya melompat, tentu saja asalkan dia diijinkan untuk bicara. Jadi mengapa aku, Jongin? Aku benar-benar tak mengerti."
Sejenak Jongin menatap padaku, dan aku tak tahu apa yang Jongin pikirkan. "Kamu membuatku melihat dunia dengan cara berbeda, Sehun. Kau tidak menginginkan uangku. Kau memberiku. . . harapan," kata Jongin lembut.
Apa? yang penuh dengan bayangan ini sudah kembali.
"Harapan dari apa?" Jongin mengangkat bahu.
"Lebih." Suara Jongin pelan dan tenang. "Dan kau benar. Aku terbiasa dengan submissive yang selalu melakukan apa yang kukatakan, Saat aku menyuruh, mereka melakukan persis apa yang kuinginkan. Ini membuatku cepat bosan. Ada sesuatu tentang kau, Sehun, yang memanggilku secara mendalam yang tak ku mengerti. Seperti suara panggilan sirene. Aku tak bisa menolakmu, tapi aku tak ingin kehilangan dirimu."
Jongin mendekat dan meraih tanganku. "Tolong jangan lari, aku ingin kau memiliki sedikit kepercayaan dan sedikit kesabaran pada diriku. Kumohon."
Jongin terlihat begitu putus asa dan rapuh. . . Astaga, itu menggangguku. Menyangga diatas lututku, aku membungkuk ke depan dan mencium lembut bibir Jongin.
"Oke. Kepercayaan dan kesabaran, aku bisa hidup dengan itu."
"Baik. Karena Franco sudah ada disini."
~oOOo~
Franco berperawakan kecil, gelap, dan gay parah. Aku menyukai dia. Tapi bukan dalam artian aku menyukai seperti aku menyukai Kim Jongin.
"Rambut yang indah!" bicaranya penuh semangat agak berlebihan, mungkin aksen Italia yang dibuat-buat. Aku yakin dia berasal dari Baltimore atau tempat lain, tapi semangatnya menular padaku.
Jongin mengarahkan kita berdua ke kamar mandinya, lalu buru-buru keluar, dan masuk kembali membawa kursi dari kamarnya.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua," gumam Jongin.
"Grazie (terima kasih), Mr. Kim." Franco menoleh padaku. "Bene (baik), Sehun, Apa yang akan kita lakukan dengan rambutmu?"
~oOOo~
Jongin duduk di sofanya, sedang meneliti sepertinya lembaran kertas pekerjaannya. Mengalun lembut musik mellow klasik terdengar diruang keluarga. Suara seorang wanita penuh gairah, menyanyikan dengan sepenuh jiwa dalam lagunya. Ini menakjubkan. Jongin mendongak dan tersenyum, mengalihkan perhatianku dari musik itu.
"Lihat! Aku sudah bilang padamu dia akan menyukai potongan ini," kata Franco dengan antusias.
"Kau tampak cantik, Sehun," kata Jongin memuji.
"Pekerjaanku disini sudah selesai," seru Franco.
Jongin berdiri dan berjalan mendekati kami. "Terima kasih, Franco."
Franco berbalik, memelukku dengan erat, dan mencium kedua pipiku. "Jangan biarkan orang lain memotong rambutmu, bellissima (cantik) Sehun!"
Aku tertawa, sedikit malu dengan keakraban itu meskipun aku tahu ada sedikit tatapan tidak suka dari mata Jongin saat ini melihat perlakuan Franco tadi padaku. Jongin mengantarkan dia ke pintu ruang depan dan tidak lama kembali lagi.
"Aku senang rambutmu tidak banyak berubah," kata Jongin sambil berjalan ke arahku, matanya cerah. Dia mengambil sehelai rambutku di antara jari-jarinya.
"Begitu lembut," bisik Jongin, menatap ke arahku. "Apa kau masih marah padaku?" Aku mengangguk dan Jongin tersenyum. "Apa tepatnya yang membuatmu marah padaku?"
Aku memutar mata. "Kau ingin daftarnya?"
"Ada daftarnya?"
"Sangat panjang."
"Bisakah kita membicarakannya di tempat tidur?"
"Tidak" Aku cemberut padanya dengan kekanak-kanakan.
"Setelah selesai makan siang. Aku lapar, dan itu bukan hanya makanan," Jongin memberikan senyum tidak senonoh.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mempesonaku dengan sexpertise-mu."
Jongin menahan senyumnya. "Secara spesifik apa yang mengganggumu, Sehun? Katakan saja."
Oke.
"Apa yang menggangguku? Yah, kau menginvasi data-data pribadiku, bahkan kau mengajakku ke tempat dimana mantan simpananmu bekerja dan kau membawa semua kekasihmu yang ingin wax kesana, Kau menyeretku dijalan seperti aku seorang anak berusia enam tahun-dan untuk melengkapi semua itu, kau membiarkan Mrs. Robinson-mu menyentuhmu!" Suaraku meningkat menjadi lebih tinggi.
Jongin mengangkat alisnya, dan selera humornya langsung hilang. "Hanya itu Daftarnya. Untuk lebih jelasnya sekali lagi-dia bukan Mrs. Robinson-ku."
"Dia bisa menyentuhmu," aku mengulangi.
Jongin mengatupkan bibirnya. "Dia tahu dimana."
"Apa artinya itu?"
Jongin mengacak-acak rambutnya dan menutup matanya sebentar, seolah mencari beberapa petunjuk dari Tuhan. Jongin menelan ludah. "Aku dan Kamu tidak memiliki aturan. Aku tak pernah memiliki hubungan tanpa aturan, dan aku tak pernah tahu dimana kau akan menyentuhku. Itu membuatku gugup. Sentuhanmu benar-benar..." Jongin berhenti, mencari kata-kata. "Ini hanya berarti lebih. . . lebihnya jauh banyak."
Lebih? Jawabannya benar-benar tidak bisa ditebak, aku merasa seperti dilempar, dan ada sedikit kata dengan makna yang sangat besar menggantung diantara kami lagi. Sentuhanku berarti. . . lebih. Sialan. Bagaimana aku bisa untuk menolak ketika Jongin mengatakan hal ini? Manik mata hitamnya mencari-cari reaksiku lewat mataku, mengawasi, gelisah. Secara coba-coba aku meraihnya dan kecemasan bergeser menjadi tanda bahaya. Jongin mundur ke belakang dan aku menjatuhkan tanganku.
"Batas keras," segera Jongin berbisik seperti kesakitan, wajahnya terlihat panik.
Aku tidak bisa tidak merasakan kekecewaan yang menekanku. "Bagaimana perasaanmu jika kau tidak bisa menyentuhku?"
"Tidak enak dan ada yang kurang," kata Jongin segera.
Oh, Fifty Shades-ku. Menggelengkan kepalaku, aku memberinya sedikit senyuman, senyum menenangkan kemudian Jongin rileks. "Suatu hari, kau harus memberitahuku persis mengapa ini adalah batas keras, kumohon."
"Suatu hari," bisik Jongin, dalam sekian detik sepertinya Jongin mulai bangkit lagi dari kerentanannya. Bagaimana Jongin bisa berubah begitu cepat? Dia orang yang paling tidak bisa diduga yang aku tahu.
"Jadi, sisa daftarmu. Menginvasi data-data pribadimu," mulut Jongin digerak-gerakkan sambil merenungkan ini. "Karena aku tahu nomor rekening bankmu?"
"Ya, itu sangat keterlaluan."
"Aku memeriksa latar belakang semua submisifku. Aku akan menunjukkan padamu." Jongin berbalik dan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Dengan patuh aku mengikutinya, bingung.
Dari lemari arsip yang terkunci, ia menarik sebuah map. Tulisan ketikan pada label: OH SEHUN. Sialan. Aku memelototi Jongin. Dan Jongin mengangkat bahu meminta maaf.
"Kau bisa menyimpannya," kata Jongin pelan.
"Yah, ya ampun, terima kasih," tukasku.
Aku membolak-balik isinya. Jongin memiliki salinan akte kelahiranku, Ya Tuhan, batas kerasku, NDA, kontrak - Astaga- nomor jaminan sosialku, rangkuman pengalaman kerja.
"Jadi, kau tahu aku kerja di toko Clayton?"
"Ya."
"Jadi itu bukan suatu kebetulan. Kau tidak sekedar mampir? Kau sengaja mengunjungiku waktu itu"
"Tidak. Dan iya."
Aku tak tahu apakah harus marah atau merasa tersanjung. "Kau benar-benar brengsek. Kau tahu itu?"
"Aku tidak melihatnya seperti itu. Apa yang aku lakukan, aku harus hati-hati."
"Tapi ini data-data pribadi."
"Aku tidak menyalahgunakan informasi. Siapapun bisa mendapatkan itu jika mereka memiliki setengah pikiran untuk itu, Sehun. Untuk memiliki kontrol aku membutuhkan informasi. Begitulah caraku mengontrol seseorang." Jongin menatap kearahku, ekspresinya ketat dan tidak terbaca.
"Kau menyalahgunakan informasi. Kau memasukkan uang dua puluh empat ribu dolar yang tidak aku inginkan ke account-ku."
Mulut Jongin menekan ke dalam garis keras. "Sudah kubilang. Memang segitu Taylor berhasil menjualkan mobilmu. Luar biasa, aku tahu, tapi kau merobeknya."
"Tapi Audi. . . "
"Sehun, apakah kau tahu berapa banyak uang yang aku dapatkan?"
Mukaku memerah, tentu saja tidak. "Mengapa aku harus tahu? Aku tak perlu tahu uang yang ada rekening bank-mu, Jongin."
Mata Jongin melunak. "Aku tahu. Itulah salah satu hal yang aku sukai darimu."
Aku menatap Jongin, terkejut. Sukai dari aku?
"Sehun, aku memperoleh uang sekitar seratus ribu dolar per jam."
Mulutku menganga. Itu adalah jumlah uang yang benar-benar gila.
"Dua puluh empat ribu dolar bukanlah apa-apa. Mobil, buku Tess, pakaian, itu bukan apa-apa." Ujar Jongin lembut.
Aku menatap Jongin. Dia benar-benar tidak tahu. Luar Biasa.
"Seandainya kau jadi aku, bagaimana perasaanmu tentang semua. . . pemberian ini datang kepadamu?" Tanyaku.
Jongin menatapku dengan pandangan kosong, dan itu dia, masalahnya sederhana - empati atau kurangnya empati itu. Keheningan membentang diantara kami. Akhirnya, Jongin mengangkat bahu.
"Aku tak tahu," kata Jongin, dan ia tampak benar-benar bingung.
Hatiku membengkak. Ini dia, tentu saja inilah inti dari Fifty Shades-nya. Jongin tidak bisa menempatkan dirinya pada posisiku. Nah, sekarang aku tahu.
"Rasanya tidak menyenangkan. Maksudku, Kau sangat murah hati, itu membuatku tidak nyaman. Aku sudah sering mengatakan ini berulang kali."
Jongin mendesah. "Aku ingin memberimu dunia, Sehun."
"Aku hanya menginginkan kamu,Jongin. Tidak dengan semua kekayaanmu."
"Mereka bagian dari kesepakatan. Bagian dari aku."
Oh, ini semakin tak jelas arahnya.
"Bagaimana kalau kita makan?" Aku bertanya. Ketegangan diantara kita semakin menarik.
Jongin mengernyit. "Tentu."
"Aku akan memasak."
"Bagus. Karena tidak ada makanan di dalam lemari es."
"Apa akhir pekan Mrs. Jones libur? Jadi akhir pekan kebanyakan kau makan potongan daging dingin?"
"Tidak"
"Oh?"
Jongin mendesah. "Submisif-ku yang memasak,Sehun."
"Oh, tentu saja." Mukaku memerah. Bagaimana mungkin aku bisa begitu bodoh? Aku tersenyum manis padanya. "Ingin makan apa, Sir?"
Jongin menyeringai. "Apapun yang nyonya masak," katanya muram.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Jadi, udah sedikit ngerti kan? Dari awal itu Jongin emang udah kepincut sama Sehun pas wawancara diperusahaannya, jadi Jongin langsung cari data-data Sehun. Trus pas pertemuan ditoko tempat kerja Sehun pun itu emang Jongin sengaja buat nemuin Sehun, wkwk
Btw, duit Jongin banyak ya, bayangin aja 100ribu dollar perjam,kalo sehari berarti berapa? Dikali sebulan. Udah gitu dikali berapa tahun coba perusahaan itu bergerak? Doohh kipas kipas milyaran dollar lah ya, wkwk
Jadi bagaimana kelanjutan hubungan Jongin dan Sehun?
Sampai ketemu di next chapter berikutnya~
Oh ya, buat readers yang kemaren kontak2an sama aku. maaf lupa ga kabar-kabar kalo line aku yang itu udah ga aktif, kalo mau add line aku yang satunya '0420_cha' , nanti kita ngefangirl ChanHun,KaiHun,story dsb. Kalo mau curhat juga bisa, gini-gini aku pendengar yang baik kok. Wkwk
Oke Pai~~
.
.
.
Thanks to review CH 5 :
Minnie163 , 1006Nz , driccha , YunYuliHun , ninoch , kaihunlicious , JongOdult , izzsweetcity , exohye , ohohkim , jongen , Sekar Amalia , kkamjonghun22 , jiraniatriana , Phcxxi , utsukushii02 , My jeje, yeon1411 , windaii5 , fitrysukma39 , sehunskai , vitangeflower , dialuhane , Erna606 , SeoulG , bottomsehunnie , VampireDPS , shixunaa , Jongin's Grape .
