Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuHina
Warning : OOC. Gaje. AU. MISTYPO. Alur lambat. Dan segala macam kesalahan lain yang ada di dalamnya.
Gak suka gak usah baca..:)
Don't like, don't read, don't bash..^^
Happy Reading...
.
.
.
NIGHTINGALE © Shirayuki Ai
.
When you stop chasing the wrong things
you give the right things a chance to catch
you - Anymous
.
.
Suasana di La Cheers cafe mendadak terasa mencekam, hening tanpa suara. Situasi yang sungguh tak biasa, mengingat reputasi cafe yang selalu selalu sibuk, walaupun sore ini kelihatannya berbeda dari hari biasa dikarenakan pengunjung yang tak terlalu ramai. Meskipun demikian, jika kalian memasang telinga baik-baik dan mencoba mendengarkan dengan seksama, kalian tentu akan mendengarkan gumaman tak jelas dari para pegawai cafe itu akan drama yang sedang terjadi di cafe sederhana ini.
Drama?
Hm... Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat semua orang lebih tertarik untuk memusatkan perhatian mereka pada drama itu ketimbang melanjutkan urusan masing-masing?
Aah, apa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke penyebabnya. Pria itu kini sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan yang memiliki warna rambut sewarna bubble gum dengan mata emerald yang sangat cantik. Seorang wanita yang dikenal masyarakat sebagai model cantik, dan merupakan putri tunggal dari Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki, pengusaha dan artis papan atas di Jepang. Seorang wanita yang baru-baru ini terlibat skandal akan putusnya hubungan antara Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata.
Para pegawai cafe itu memperhatikan secara sembunyi-sembunyi sembari mencoba menebak apa yang akan terjadi kemudian. Lagipula apa yang sedang terjadi saat ini merupakan suatu kejadian langka. Seorang Uchiha Sasuke, menikmati kopinya ditemani oleh seorang gadis muda terkenal, meskipun itu teman masa kecilnya sendiri.
Ah, si dark prince sendiri belum mengeluarkan komentar apapun sewaktu Sakura langsung duduk di hadapannya, meskipun ia sendiri tak mengajaknya bergabung bersamanya. Yang benar saja. Ia berniat bertemu dengan Himenya, tentu saja ia tak membutuhkan orang ketiga untuk merusak acaranya. Dengan perlahan pria itu menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkirnya ke meja tanpa suara. Sebelah alisnya terangkat, menyuruh gadis di hadapannya itu berbicara. Dan ia tahu, kedatangan gadis itu di cafe ini bukanlah kebetulan. Sakura pasti mencarinya di kantor, dan Karin, sekertarisnya merupakan orang yang bertanggungjawab menyebarkan keberadaannya.
"Apa kabar, Sasuke-kun?"
Onyx itu memandang gadis di hadapannya dengan tatapan tak terdefinisikan. Mengumpat dalam hati karena ia harus meladeni gadis ini sementara Hinata bisa datang kapanpun. Ia menyandarkan badannya ke sandaran kursi dan jemarinya mengetuk meja dengan tak sabar.
"Baik." Jawabnya singkat, membuat Sakura terdiam beberapa saat, menyadari bahwa seperti biasanya, ia tak akan mendapatkan jawaban lebih dari beberapa patah kata. Sudah sifat Sasuke yang seperti itu. Tak terlalu banyak bicara, meskipun Itachi-san mengatakan bahwa Sasuke cerewetnya minta ampun kalau sedang bersamanya. Mungkin ia bersikap seperti itu hanya di hadapan keluarganya saja. Tapi, Sakura tak semudah itu menyerah hanya karena minimnya kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.
Sementara Sasuke kembali mendesah pelan. Dilihat berdua bersama Hinata adalah satu hal, dan ia sama sekali tak keberatan dengan hal itu. Tapi bersama Sakura?
Tidak. Ia tak menginginkan Hinata berpikiran macam-macam. Meskipun gadis itu hanya menganggapnya sebagai teman untuk saat ini, ia tetap saja harus berhati-hati, tak ingin ada satu hal pun yang dapat merusak hubungan mereka. Terutama hal itu menyangkut Haruno Sakura.
"Aku lega mendengarnya." sambung gadis itu lagi. "Kita bertiga sudah lama sekali tak-"
"Sakura." Sasuke menyela ucapan gadis itu dengan nada tak sabar. "Berhenti berbasa-basi. Aku sedang menunggu seseorang saat ini."
Sakura tersentak kaget, dan memandang pria yang merupakan salah satu sahabat kecilnya itu. Ia tahu Sasuke memang bukan tipe pria yang suka mengobrol, namun, haruskah ia sekasar itu adanya? Ketidaksabaran terpampang jelas di wajah yang biasanya datar, tanpa ekspresi, tak berniat menyembunyikan kenyataan bahwa kehadirannya tak diinginkan.
"Maaf. Kupikir kau sedang bersantai menikmati kopimu sendirian, karena itu aku menyusulmu kemari." Jawab gadis itu, tak ingin membiarkan pria di hadapannya itu tahu bahwa ucapannya tadi telah melukai hatinya. Seolah-olah kehadirannya sama sekali tak penting. Tak berharga.
"Hn. Lalu, ada perlu apa?"
Sakura tersenyum cerah. "Aku hanya ingin bertemu saja. Sejak aku kembali, kau terus-terusan sibuk, meninggalkanku bersama Naruto-kun. Dan oh ya, selamat atas penobatanmu sebagai The Most Wanted Bachelor.. Waah, wanita-wanita yang mengejarmu pasti akan semakin banyak."
Sasuke sama sekali tak peduli akan hal itu. Ia bahkan tak peduli wanita-wanita yang mengejarnya. Ia cuma menginginkan satu orang. Tapi, untuk saat ini, untuk saat ini , yang paling ia inginkan hanyalah Sakura mengatakan apa yang menjadi alasannya sampai repot-repot mencarinya, dan cepat-cepat pergi dari hadapannya. Bukannya mengatakan hal-hal bodoh seperti saat ini. Untuk seseorang lulusan ivy league, ia sangat mengecewakan. Dan untuk seseorang yang mengaku sudah mengenal Sasuke, harusnya ia sadar bahwa Sasuke sama sekali tak berniat mengobrol.
Sakura benar-benar menguji kesabarannya. Memangnya kapan ia pernah menunjukkan ketertarikan terhadap dunia fashion. Mengoceh tentang hal tak berguna seperti itu. Sungguh, Sasuke merasa menyesal meladeninya.
Semakin lama Sakura berbicara di depannya seperti ini, semakin besar kemungkinan orang-orang akan membicarakan mereka. Ayolah, model terkenal dan CEO tampan yang menjadi incaran ditemukan sedang menikmati kopi berdua. Itu akan menjadi headline bagus. Dan para pemburu berita tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sasuke sama sekali tak tertarik untuk digosipkan berdua dengannya. Ia bahkan tak tertarik dengan gadis seperti Haruno Sakura. Sounds harsh, tapi memang itulah kenyataannya. Meskipun banyak orang mengatakan Sakura adalah paket lengkap, beauty and brain, Sasuke tetap tak bergeming.
For him, shes's the one...
Ia melayangkan pandangannya keluar, dan matanya membelalak lebar waktu melihat sesosok gadis berambut indigo yang sedang melambaikan tangannya pada seseorang yang berada di range rover yang sedang melaju di jalan.
"Shit!" umpatnya sembari berdiri dengan tiba-tiba. Ia mengeluarkan uang untuk membayar kopinya beserta dengan tip yang lumayan besar bagi pegawai cafe itu, lalu bergegas keluar, meninggalkan Sakura serta semua orang yang ada di sana sewaktu pria itu bergegas keluar dari cafe tersebut.
Sakura memutar badannya, dan menoleh, memandang keluar, mengikuti arah kemana pria itu menghilang. Ia merasa terluka keberadaannya dianggap hanya sebatas angin lalu, sekaligus penasaran dengan apa yang membuat Sasuke berlaku diluar karakternya. Raut wajah cantiknya tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya sewaktu ia mengenali sesosok gadis berambut indigo yang kini sedang tersenyum lembut ke arah pangeran emo itu. Suara gumaman dengan intonasi beragam mulai terdengar di telinganya, mengomentari dua orang yang sekarang sedang menjadi pusat perhatian tanpa mereka sadari itu. Ada yang bergumam penuh kekecewaan, ada yang penuh rasa iri, dan sisanya berkomentar tentang betapa serasinya dua orang itu.
Kedua tangan Sakura terkepal erat. Jealousy is an ugly thing. Tapi tidak, Sakura sama sekali sekali tak cemburu. Ia hanya tak suka dengan fakta bahwa Sasuke, yang notabene sahabat kecilnya, meninggalkannya hanya untuk seorang gadis seperti Hinata. Gadis yang sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan dengannya.
Benarkah begitu?
Benarkah bahwa ia sama sekali tak cemburu?
Dan benarkah bahwa Hinata adalah seorang gadis yang tak ada apa-apanya?
Tapi, kenapa sewaktu melihat mereka berdua, ia tiba-tiba dipenuhi dengan rasa tak suka akan keberadaan Hinata di dekat Sasuke?
Jika Hinata memang gadis biasa, yang tak bisa dibandingkan dengannya, kenapa gadis itu mampu membuat Sasuke melupakannya seakan-akan ia hanya kotoran yang menempel di bajunya?
Sakura menegakkan kedua bahunya. Ah, kenapa ia bisa begitu bodoh? Kenapa ia bisa begitu mudah terpengaruh dengan pikiran konyol seperti itu? Sasuke tentu saja tak akan meninggalkannya hanya karena gadis lemah seperti Hinata. Pria itu tentu saja tak akan mengorbankan persahabatan mereka begitu saja. Kalaupun iya, Sakura tak akan membiarkannya. Sasuke pasti hanya kasihan kepada gadis itu, mengingat hubungannya dan Naruto harus berakhir. Tak lebih dari itu.
Awalnya, Sakura merasa sangat bersalah karena telah memaksa masuk kembali ke dalam kehidupan Naruto. Namun, Kushina-ibu Naruto-sendirilah yang mengatakan bahwa ia harus memperjuangkan perasaannya. Dan ia tak harus merasa bersalah karena bukan ia yang memaksa masuk, melainkan Hinata. Gadis itulah yang memaksa masuk. Ia sama sekali belum lupa bahwa gadis itulah yang menyatakan perasaannya pada Naruto waktu kelulusan sekolah mereka. Pastilah, begitu mendengar Sakura meninggalkan Jepang, gadis itu merasa punya kesempatan untuk memiliki Naruto. Dan tentu saja berhasil. Sakura mendengus tak suka memikirkan hal itu.
Lagipula, jika perasaan Naruto terhadap Hinata memang kuat, harusnya ia tak akan tergoda dengannya kan? Hinata itu hanya pelarian Naruto selama Sakura tak ada. Dan kini, ia telah kembali, ia hanya mengambil apa yang menjadi miliknya sejak awal.
Naruto dan Sasuke, mereka adalah miliknya sejak awal, dan ia tak akan membiarkan seorang pun, termasuk Hyuuga lemah itu, merebutnya. Hinata hanya pemain baru dalam kehidupan mereka. Ia yang bersahabat lebih dulu dengan dua orang itu. Ia yang pertama kali mengenal Sasuke dan Naruto sejak usia delapan tahun, dan terus bersama mereka. Hyuuga Hinata bukanlah siapa-siapa.
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Dagu terangkat penuh kesombongan dan kepercayaan diri yang tak terbantahkan.
Oh girl, one day your ignorance will become your downfall...
Penuh antisipasi, para pegawai La Cheers mengamati live drama yang terjadi di hadapan mereka saat ini. Beberapa dari mereka bahkan mendesak maju dan menghentikan pekerjaan mereka, mengintip ke arah pintu luar sewaktu Haruno Sakura akhirnya bergerak. Mereka penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Sasuke jika cat fight benar-benar akan terjadi tepat di depan matanya.
.
.
.
.
Hinata baru saja menurunkan tangannya, setelah range rover yang dikendarai oleh Shikamaru menjauh meninggalkannya. Seulas senyum terukir di bibirnya. Berkumpul bersama sahabat-sahabatnya selalu saja membuat semangatnya kembali lagi. Ia terkikik geli menyadari Sasuke pasti akan memarahinya karena telah membuang waktunya yang berharga.
Bukan memarahi sih, lebih tepatnya mungkin merajuk. Pria itu pasti tak suka menjadi pusat perhatian para wanita selama menunggu. Walaupun ia berada di tempat langganannya, yang ia tahu dapat diandalkan untuk menjaga privasinya, tetap saja, tak akan membuat para wanita berhenti mengejarnya ataupun sekedar meliriknya.
Ia sering berkomentar tentang ketidaknyamanannya menjadi pusat perhatian karena itu membuatnya kehilangan ketenangan yang selama ini ia jaga. Dan Hinata sama sekali tak menyalahkannya. Ia sendiri sama sekali tak menyukai hal itu. Menjadi bagian dari keluarga Hyuuga, secara otomatis menempatkan dirinya di bawah sorotan media. Segala macam tindakannya selalu menjadi konsumsi media. Dan ia harus berlaku hati-hati karena sedikit saja ia melakukan kesalahan, seluruh media bisa saja berbalik menyerang.
Sama seperti keinginannya yang lebih memilih untuk melanjutkan kuliahnya di bidang kedokteran daripada bisnis membuatnya menjadi sorotan. Beberapa media bahkan menyebutnya sebagai kambing hitam keluarga, mengatakan bahwa ia sama sekali tak mampu berkecimpung di dunia bisnis. Mengatakan bahwa ia lemah, dan membandingkannya dengan sang adik yang justru lebih menunjukkan potensi sebagai salah satu penerus bisnis keluarga setelah sang kakak.
Tentu saja berita sampah seperti itu membuat Hyuuga Neji mencak-mencak bak cacing kepanasan. Ia bahkan berniat mendatangi satu persatu majalah yang menyebarkan artikel murahan itu, dan bertukar kata dengan mereka. Dan percayalah bertukar kata dengan Neji dalam kasus seperti ini tak pernah bermakna positif.
Hinata sama sekali tak peduli akan artikel itu. Terserah orang lain mau berbicara apa, selama keluarganya selalu mendukungnya, ia akan terus melangkah. Ayah dan ibunya jelas-jelas bangga karena ia berhasil masuk ke Todai dengan meraih nilai tertinggi untuk ujian masuknya. Para tetua di keluarga Hyuuga merasa senang karena meskipun Hinata tak memilih bisnis sebagai karirnya, gadis itu tetap memiliki nilai sempurna yang dapat mereka banggakan. Dan tentu saja, mereka suka dengan fakta bahwa Hinata berani memperjuangkan impiannya dan tak membiarkan seorang pun mendiktenya. Para tetua tersebut tentu akan lebih kecewa jika Hinata lebih memilih untuk menuruti ucapan mereka begitu saja.
Neji bahkan selalu mendukungnya, tak peduli dengan apapun, sementara Hanabi bersinar bangga penuh kekaguman dan hormat terhadap nee-chan nya yang selalu terfokus dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Bagi gadis yang baru berusia empat belas tahun itu, Hinata merupakan sosok nee-chan yang ideal. Sahabat-sahabat dekatnya bahu membahu menyemangatinya. Lalu, jika orang-orang terdekatnya saja tak mempermasalahkan hal itu, mengapa ia harus repot-repot memikirkan hal yang jelas sama sekali tak berguna.
Terkadang ia sering menggelengkan kepala membaca berita yang menjelek-jelekkan dirinya, mengatakan bahwa ia terlalu pemalu, sama sekali tak pantas menjadi bagian keluarga Hyuuga yang terkenal keras, angkuh, dan arogan.
Jika ia tak pantas, lalu siapa yang lebih pantas? Mereka?
Yang benar saja.
Ia berani bertaruh bahwa orang-orang yang mengejeknya itu pasti tak akan mampu bertahan tinggal di mansion Hyuuga selama seminggu, berhadapan dengan sang ayah. Hyuuga Hiashi, meskipun ia adalah orang yang sangat menyayangi keluarganya, pria itu merupakan sosok keras dalam mendidik putra-putrinya. Tak ada sama sekali yang namanya bermanja-manja, meskipun sejak kelahiran Hanabi, ia sudah tak terlalu menekan Neji ataupun Hinata menjadi sosok yang sempurna.
"Kau berhutang padaku, Hyuuga."
Suara bisikan tepat di telinganya itu membuat tengkuknya merinding, dan ia segera menoleh ke belakang, hanya untuk mendapati Sasuke berdiri begitu dekat dengannya. Tubuh tegap yang masih berbalut seragam kerja, lengkap dengan jasnya, membuat Hinata terdiam beberapa saat. Ia mengamati pria itu dari atas hingga bawah, dan untuk kesekian kalinya mendapati dirinya memahami alasan mengapa para wanita tertarik kepada pria di hadapannya ini. Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya, sembari menyeringai kecil, tak ingin melewatkan satu kesempatan pun untuk membuat rona merah di kedua pipi gadis yang ia cintai itu.
"Jangan khawatir, Hyuuga. Nikmati saja waktumu untuk mengamatiku."
Kata-kata penuh kepuasaan dibarengi dengan penuh kepercayaan diri membuat Hinata tersadar akan tindakannya. Dan ia jelas dapat merasakan pipinya memanas. Ia meremas tali tasnya erat, dan membuang muka, menolak untuk menatap onyx yang berbahaya itu. Sasuke terkekeh.
Sungguh, gadis dihadapannya ini benar-benar menarik.
Sialan. Pria itu sudah dua kali membuat pasokan darahnya berkumpul di wajahnya, terutama di pipinya. Ia bahkan tak memerlukan usaha keras untuk melakukannya. Hinata sama sekali tak percaya bahwa ada omongan yang mengatakan bahwa Sasuke adalah sosok dingin, dan pendiam. Siapapun yang mengatakan itu pastilah bukan seseorang yang mengenal pria itu dengan baik. Pria itu jelas-jelas tak jauh berbeda dari Itachi-nii dan Neji-nii yang jahil, dan sangat suka menjadikan dirinya sebagai korban kejahilan mereka.
Sekejap kemudian dahinya berkerut heran. Ada yang aneh. Kenapa Sasuke menunggunya di luar?
"Ke-kenapa Sasuke-kun di luar?" tanyanya pada akhirnya. Ia memiringkan kepalanya, mencoba melirik ke dalam cafe dari jendela kaca dan menemukan bahwa cafe itu tak terlalu ramai.
"Aku bosan menunggumu, dan berniat pulang. Lalu melihatmu disini." Jawab pria itu datar.
Hinata cemberut. Seandainya ia tak mengenal Sasuke dengan baik, ia pasti tak tahu bahwa ucapannya itu hanya candaan.
Oh, tidakkah gadis itu menyadari bahwa ia termasuk dari orang-orang yang memiliki kesempatan langka dalam daftar orang yang bisa membuat seorang Uchiha Sasuke menunggu? Daftar yang hanya berisi dengan nama Uchiha Mikoto. Bahkan Uchiha Fugaku dan Uchiha Itachi pun tak termasuk dalam daftar itu, meskipun pada akhirnya ia harus menghadapi ceramah dari sang ayah dan baka-aniki nya.
Tapi, tentu saja gadis itu tak menyadarinya. Tidak, karena ia tak pernah bertanya. Dan tidak, karena Sasuke tak berniat menjelaskan.
"Kau tak akan tega padaku, Uchiha." Jawab gadis itu, mendongakkan kepalanya sembari tersenyum lembut. Lalu matanya mendadak menatap tajam. "Pasti ada alasan yang membuatmu keluar."
"Hn."
Dan tak ada penjelasan lainnya, membuat Hinata menghela nafas. Bertemu dengan Sasuke benar-benar membuat sisi cerewetnya muncul. Hanabi bahkan sering berkomentar bahwa nee-chan nya seperti menjadi sosok yang berbeda jika berhadapan dengan pangeran pantat ayam itu. Meskipun demikian, entah kenapa sang adik sepertinya sangat mengagumi -mengutip ucapan adik- sang pangeran pantat ayam.
"Mau masuk kembali?" Tawarnya, dan membalikkan badannya menuju pintu masuk cafe. Namun Sasuke menahan tangannya, dan menariknya ke arah yang berlawanan.
"Tidak. Ayo pergi."
Pria itu jelas tak ingin ambil resiko Hinata bertemu dengan Sakura. Waktunya masih belum tepat.
"Sasuke-kun?"
"Hyuuga-san?"
Damnit!
Hinata membelalakkan matanya, dan Sasuke dapat merasakan genggaman tangan gadis itu padanya mengerat. Ia menoleh ke belakang dan kembali mengutuk keberadaan Sakura yang berjalan mendekat ke arah mereka. Gadis itu pasti langsung bergerak sewaktu menyadari pemilik rambut indigo ini.
Hinata sendiri tak tahu harus berbuat apa. Ia kembali memandang Sasuke, mendadak memahami sikap pria itu yang hanya ingin melindungi dirinya. Pria itu jelas tahu bahwa dirinya sama sekali belum siap menghadapi konfrontasi secara langsung seperti ini. Dan memandang Sakura yang terlihat cantik seperti biasanya, berjalan dengan penuh percaya diri ke arah mereka, membuat gadis itu merasa dirinya bagaikan itik buruk rupa sekali lagi. Perasaan yang sudah lama tak lagi menyerangnya semenjak ia lulus sekolah.
"Jangan biarkan keberadaannya mengintimidasimu, Hime."
Dan berbekal bisikan itu, kepercayaan dirinya seakan kembali. Sudah cukup ia membiarkan dirinya terintimidasi oleh kehadiran Sakura sewaktu mereka sekolah. Sudah cukup ia membiarkan semua orang mencapnya sebagai gadis yang tak pantas terlahir di keluarga Hyuuga karena ia lebih memilih bersikap bagaikan commoner.
Ia teringat masa sekolahnya di Konoha High School, dimana semua orang selalu berbisik tentangnya, menjelek-jelekkannya secara diam-diam.
Mengatakan ia tak menjadi sasaran bully di sekolah hanya karena ia memiliki nama Hyuuga di belakang namanya.
Mengatakan bahwa ia tak pantas untuk menyukai pewaris Namikaze karena dibandingkan dengan Haruno Sakura, ia jelas kalah telak.
Mengatakan bahwa segala nilai yang diperolehnya hanya karena ia beruntung.
Mengatakan bahwa ia hanyalah gadis lemah yang tak bisa apa-apa bahkan untuk melindungi dirinya sendiri.
"Haruno-san." jawabnya pelan, namun tak ada nada gugup dalam suaranya sewaktu membalas sapaan gadis yang berbalutkan pakaian mahal, yang kini berdiri tepat di hadapannya. Seperti kata Sasuke, ia tak akan membiarkan sikap Sakura mengintimidasinya. Ia seorang Hyuuga, dan mungkin sudah saatnya ia menunjukkan kepada semua orang bahwa bukan hanya Neji dan Hanabi, yang mampu bersikap seperti Hyuuga Hiashi, sang ayah.
Sakura menajamkan matanya, mendelik sewaktu mendapati tangan Sasuke yang menggenggam erat tangan Hinata. Ia mengepalkan tangannya, tak menyukai sama sekali apa yang dilihatnya. Ia mengalihkan pandangannya ke Sasuke, memasang senyum manisnya, berkata dengan nada merajuk.
"Sasuke-kun, jadi karena Hyuuga-san ya, lalu kau meninggalkan aku sendiri di dalam?" katanya. Ia menatap Hinata seolah meminta maaf. "Ternyata kau ingin menyapanya ya?"
Sasuke tak bergeming, merasa tak perlu terpancing akan permainan Sakura. Sementara Hinata sendiri hanya mengerjap-ngerjapkan matanya dengan informasi yang baru ia dengar. Menoleh ke arah pria di sampingnya, ia mengerutkan keningnya.
"Kau tak bilang kalau kau ada janji sebelumnya." katanya.
Sasuke hanya mengangkat bahu. "Karena memang tidak." Jawabnya.
"Oh."
Sakura segera menyela kembali, masih dengan senyum manisnya, memandang Hinata
"Naruto-kun dan aku ingin mengajakmu makan malam bersama di tempatnya, Sasuke-kun. Kushina-baasan sengaja ingin merayakan acara kecil-kecilan untuk Naruto-kun. Sebagai orang yang penting baginya, kita harus hadir."
Hinata mengernyit sewaktu Sakura menekankan kata-kata orang yang paling penting, seolah menyindirnya. Kenapa Sakura bersikap seakan membencinya? Memangnya apa yang sudah dilakukannya? Kalaupun ada pihak yang ingin marah disini, harusnya itu Hinata kan? Lalu, kenapa malah Sakura yang bersikap seolah-olah Hinata sudah merebut mainannya.
Tak cukup puaskah ia telah mengacaukan hubungannya dengan Naruto? Tak cukup puaskah ia telah membuat Hinata menangis selama berhari-hari? Apakah gadis di hadapannya ini tak memiliki perasaan bersalah sama sekali? Ia berusaha keras untuk mencoba tak membenci Sakura, mencoba menerima semuanya dengan lapang dada, tapi hal itu akan sulit untuk dilakukan jika Sakura sendiri bersikap seperti ini.
Ia yang menjadi korban disini. Lalu kenapa Sakura bertingkah seakan-akan ia yang jahat? Ia tahu ia memang bukan orang yang penting bagi Naruto, tapi tak perlu menamparnya sedemikian rupa, kan?
"Aku sudah punya janji dengan Hinata. " Jawab Sasuke lagi.
"Tak apa Sasuke-kun. Kita bisa berbicara lain kali." Hinata berkata, melepaskan genggaman tangannya dan menyentuh lengan pria itu seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja jika janji mereka dibatalkan.
Sungguh Hinata tak apa. Dan ia pun tak berniat membuat Sasuke harus memilih antara dirinya dan sahabatnya. Ia sadar dirinya bukanlah prioritas pria itu.
"Nah, Hyuuga-san sudah mengatakan tak apa." Sakura berkata dengan ceria, bergerak untuk merangkul lengan pria itu. Namun Sasuke justru menghindar dari rangkulan tangannya.
"Tunggu aku di mobil." Bisiknya pada Hinata, yang sekilas tampak bingung namun tak mempertanyakan keputusan Sasuke. Ia berbalik, dan berjalan menuju Lamborghini Veneno milik pria itu yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri, tanpa mengucapkan apapun kepada Sakura.
Sasuke mengamati Hinata yang masuk ke mobil kebanggaannya selama beberapa saat, sebelum mengalihkan perhatiannya pada Sakura. Kali ini, onyx itu jelas memancarkan ketidaksukaan terhadap sikap Sakura, sementara sang gadis balik menantang dan bersedekap.
"Memilih orang lain dan mengabaikan sahabatmu sekarang, begitu?" Komentar gadis itu tajam. "Aku kecewa padamu, Sasuke-kun."
Mengabaikan ucapan Sakura, ia berkata "Berhenti mengganggunya, Haruno." Kata-kata itu dilontarkan tanpa intonasi, namun bagi orang-orang yang mengenal Uchiha Sasuke tahu bahwa ada peringatan yang terselip dalam ucapan itu.
Sakura sudah terlalu lama mengenal Sasuke untuk gentar dengan ancamannya. "Jadi sekarang aku Haruno, huh? Dan hanya karena Hyuuga itu. Untuk apa kau bergaul dengan gadis, yang bahkan selalu bersembunyi di belakang nama besar keluarganya?"
"Tak ada hubungannya denganmu-"
"Aku dan Naruto sahabatmu, Sasuke!" bentak Sakura, tak lagi memperdulikan bahwa semua orang memperhatikan mereka. "Dan kau lebih memilih menghabiskan waktumu bersama orang lain!"
"Dengan siapa aku menghabiskan waktu adalah urusanku, Haruno." Sasuke berkata dengan nada dingin, membalikkan badannya dan meninggalkan Sakura. "Dan dia jauh lebih baik daripada backstabber seperti kalian."
Ia menemukan Hinata duduk di mobilnya dengan kepala tertunduk, kedua tangannya mengepal erat di pangkuan. Sasuke menghembuskan nafas lelas, dan kembali merutuki sikap Sakura yang berlebihan. Sungguh, gadis itu sering membuatnya sakit kepala akibat kelakuannya yang bertindak seolah-olah dirinya adalah miliknya seorang.
"Jika kau sudah selesai mengasihani dirimu sendiri, apa kau tahu dimana tempat yang bagus untuk makan malam?"
Gadis itu tersentak, dan menoleh menatapnya. Dan Sasuke mengumpat dalam hati sewaktu melihat ada jejak halus bekas air mata di wajah cantik itu. Dadanya seolah tercubit menyadari bahwa lagi-lagi ia tak mampu melindungi gadis ini.
Sang gadis kembali menatap ke depan, menolak bertatapan langsung dengan manik hitam yang entah kenapa terlihat marah akan sesuatu. Mungkin saja padanya. Ia yang bertanggungjawab membuat pria itu harus mengorbankan waktu berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Seandainya ia tak berada di sana, Sasuke mungkin tak perlu terjebak dengan gadis menyedihkan sepertinya.
"Ck, apapun yang kau pikirkan, sebaiknya berhenti sampai di situ, Hyuuga." Sasuke berkata lagi, dan menyalakan mesin mobilnya. Ia mengulurkan tangan mengatur pendingin mobil, dan menepuk puncak kepala Hinata. "Tak seorang pun bisa membuatku melakukan apa yang tak ingin kulakukan. "
Hinata terdiam, meresapi kalimat yang dilontarkan oleh Sasuke. Mencoba mengartikannya.
Tak seorang pun bisa membuatku melakukan apa yang tak ingin kulakukan.
Sasuke sama sekali tak menyalahkannya. Sasuke sama sekali tak merasa terpaksa bersamanya. Sasuke lebih memilihnya daripada bersama Sakura dan Naruto yang notabene adalah sahabatnya. Sasuke...
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lengan pria itu.
"Terima kasih, Sasuke-kun."
Pria itu tak menjawab dan menoleh ke luar. Hinata menyandarkan badannya kembali ke sandaran kursi berwarna merah itu, sedikit merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia melewatkan sedikit momen penting, ketika wajah Sasuke sedikit memerah karena kata-katanya, dan sentuhan lembut gadis itu di lengannya.
.
.
.
Hanabi berlari dengan penuh semangat menuju ruang keluarga. Ia tersenyum sumringah mendapati salah satu pria favoritnya berada di sana, sedang menikmati secangkir teh hangat.
"Sasuke-nii!" remaja berusia empat belas tahun itu segera melompat memeluk pria yang suatu saat nanti pasti menjadi bagian keluarga mereka. Katakan itu instuisinya sebagai perempuan.
"Hey there,brat!" Goda Sasuke sambil mengacak rambut Hanabi dan tertawa ketika gadis itu protes. Entah kenapa, setiap kali ia melihat wajah Hanabi, ia selalu teringat sangkaan Fugaku, yang mengira ia menginginkan Hanabi. Yang benar saja, Hanabi lebih cocok menjadi adiknya, daripada pengantinnya. Dan lebih mudah untuk diganggu.
"Aku Hanabi, Sasu-nii. Bukan brat.." Celetuknya tak setuju, dan merapikan rambutnya. "Sasu-nii makan malam di sini?"
Sasuke menundukkan kepalanya, menyuruh gadis kexil itu mendekat, seolah mengajak berkonspirasi. "Aku ingin mengajak gadisku makan malam bersama, apakah boleh?"
Mata Hanabi bersinar-sinar seakan ia baru saja mendapatkan hadiah. Kenapa Sasuke-nii menanyakan itu padanya. Tentu saja boleh. Bahkan, ia akan dengan senang hati membungkus nee-channya dan memberikannya pada pria Uchiha itu.
Kekagumannya pada Sasuke dimulai sejak lama, sejak ia melihat Sasuke-nii berlatih bersama Neji-niisan di dojo mereka. Jarang-jarang ada teman kakak tertua mereka yang mampu menandinginya dalam kendo, tapi Uchiha muda itu membuktikan dirinya sebagai lawan tangguh. Alasan lainnya, sewaktu ia mangkir dari latihan, dan mendengar ternyata Uchiha yang dikaguminya ini datang bersama kedua orang tuanya, meminta izin untuk mendapatkan Hinata-neechannya. Bahkan Naruto-baka itu saja gentar menghadapi ia dan Neji-nii. Tapi Sasuke-nii dengan mantapnya datang menghadap. Padahal ia dan nee-chan sama sekali belum terikat hubungan apapun. Baginya dan Neji-niisan, tindakan Sasuke yang meminta izin pada mereka terlebih dahulu, membuat mereka yakin bahwa Uchiha Sasukelah orang yang tepat bersama Hinata.
Sungguh, Hanabi semakin bertambah kagum. Dan fakta bahwa calon kakak iparnya ini luar biasa tampan juga merupakan salah satu faktor pendukung lainnya. Aah, ia tak sabar menanti keponakannya. Karena itu, sebisa mungkin, ia akan berusaha membantu Sasuke-nii nya.
Ia segera melompat berdiri. "Aku akan memastikan nee-chan tampil sempurna untuk kencan kalian" katanya, lalu berlari meninggalkan Sasuke sendirian dengan pikirannya.
Ia mengeluarkan handphonenya dan dengan sengaja memilih mode silent agar malamnya bersama Hinata tak terganggu. Cukup sore tadi saja, ketika Sakura mendadak muncul, dan mengacaukan segalanya.
Ia merutuki ketololannya yang membiarkan Sakura bertingkah semaunya selama ini. Ketololannya yang membiarkan semua orang percaya bahwa Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke tak pernah saling kenal sebelumnya. Ketololannya yang tak mampu mengungkapkan perasaannya, dan membuat Sakura berpikir bahwa hanya ia yang memiliki hak sahabat terhadap dirinya.
Jika Uchiha Madara sampai mengetahui hal ini, ia pasti akan menjadi korban ejekan pria tua itu.
Sial, pikirnya. Sakura bisa saja mengacaukan progress yang telah susah payah ia capai. Dan kekacauan di saat seperti ini bukanlah hal yang tepat .
Sebenarnya apa sih bom yang telah dilontarkan Hinata sehingga membuat Sasuke kalang kabut seperti ini?
Apakah ada hubungannya dengan keinginan gadis itu untuk meneruskan kuliahnya dan menjadi dokter bedah syaraf?
Tentu saja iya. Memangnya menjadi dokter syaraf itu mudah. Membutuhkan waktu empat belas tahun studi. Yang benar saja. Masa ia harus menunggu selama itu? Kalau bisa, ia malah ingin mengikat gadis itu sesegera mungkin. Hinata terlalu berharga untuk dilepas begitu saja. Dan ia yakin, banyak pria di luar sana yang menginginkan gadisnya, terlebih lagi setelah kandasnya hubungannya dengan Naruto. Ia tak akan bisa bernafas dengan lega sebelum Hinata resmi menjadi miliknya, dan mengganti nama keluarganya menjadi Uchiha.
Meskipun ia sudah memperoleh izin keluarga, tetap saja semua tak berarti apapun jika Hinata tak memiliki perasaan yang sama. Oh, ia memiliki kepercayaan diri tinggi bahwa ia akan mendapatkan gadis itu. Hanya saja, ia tak menginginkan kontestan lain yang dapat menghambat keinginannya. Ayolah. Hinata berasal dari keluarga baik-baik. Terpelajar, dan santun. Orang tua mana yang tak terpincut ingin menjadikan gadis itu sebagai bagian dari keluarga mereka. Meskipun Uzumaki Kushina sama sekali tak beranggapan seperti itu, bukan berarti yang lain memiliki pemikiran yang sama sepertinya.
Baguslah. Setidaknya satu pemain sudah tersingkir. Dan Sasuke bisa berkonsentrasi penuh berjuang memdapatkan atensi gadis itu.
"Sasuke-kun?"
Sasuke mendongakkan kepalanya, dan terdiam mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu masuk ruang keluarga dengan sikap malu-malu. Gadis itu memilih mengenakan sebuah dress berkerah tinggi tanpa lengan sederhana, sepanjang lutut, yang dipermanis dengan sebuah ikat pinggang kecil. Rambut panjangnya terurai, duhiasi sebuah bando mungil berwarna merah. Wajahnya polos tanpa make-up meskipun ia bisa melihat bibir gadis itu terpoles lip-gloss.
Namun yang paling membuatnya terpana adalah warna yang dipilih Hinata malam ini.
Dress berwarna biru dongker, yang entah kenapa sewarna dengan kemeja yang ia kenakan saat ini. Tas kecil berwarna putih yang tersampir di bahunya, sewarna dengan cardigan yang berada di tangannya. Flat shoes menjadi pilihannya malam ini.
"Hinata nee-chan cantik kan, Sasuke-nii? Sempurna untuk kencan kalian."
Dari belakang Hinata menyembul kepala Hanabi, yang menyeringai penuh persekongkolan.
"Hana-chan." Protes Hinata dengan wajah bersemu merah, kemudian memandang Sasuke seolah meminta maaf.
Kenapa raut wajah Hinata merasa bersalah seperti itu? Jika Hanabi saja tak keberatan menyebut bahwa makan malam bersama mereka sebagai kencan, siapa dia menolak hal itu. Menggoda Hinata sedikit mungkin tak ada salahnya. Ia lalu menaikkan sebelah alisnya. "Jadi, ini kencan?" Tanyanya dengan nada seolah kaget, dan menahan seringainya ketika Hinata menoleh, dan cemberut.
"Sasuke-kun...!"
.
.
.
.
Dan chapter 2 pun selesai...
Maaf klo alur crtanya terkesan lambat... Ai lgi didera sama yang namanya writer block nih... Huaa...di chappie 2 ini aja sampe harus Ai edit berapa kali..#sigh
Sekali lagi buat yang review, follow, fave story Ai makasih ya #tebarpelukdanCium...
Klo ad yang belom jelas ama ficnya bisa pm Ai..:p #ngareeep
Sekalian Ai juga mo kasih tw, buat Sweet Temptationnya masih dalam proses pengerjaan. Berhubung Ai sempet hiatus, Ai malah bingung ndiri mo ngelanjutinnya gmn..smpe malah baca ulang lagi. Tapi, ujung2nya Ai malah agak jengkel ama karakter Hinata, alhasil Chapter 8nya baru ketulis smpe 2k words, sebelum pada akhirnya Ai menjerit histeris... T.T
Tapi, bakal Ai lanjutin kok. Yang jelas sebelum ketemu ama Minggu lagi, chappie 8 pasti udah dipublish..;)
Shirayuki Ai
Signed out..xoxo
