Memeriksa kulkas yang isinya mengesankan ini, aku memutuskan memasak omelet Spanyol. Bahkan ada kentang dingin, sempurna. Memasaknya akan cepat dan mudah. Jongin masih diruang kerjanya, tidak diragukan lagi pasti dia sedang menginvasi pribadi orang bodoh, yang tidak curiga data-data pribadinya sedang dipermainkan.
Suatu pemikiran yang tidak menyenangkan dan meninggalkan rasa pahit di mulutku. Pikiranku terusik. Jongin benar-benar orang yang tidak mengenal batas. Aku butuh musik jika aku mau memasak, dan aku akan memasak bukan ala submisif!
Aku berjalan mencari iPod dock disamping perapian dan mengambil iPod Jongin. Aku yakin ada banyak pilihan lagu dari Leila disini, aku agak takut dengan pemikiran ini. Dimana Leila? Aku ingin tahu. Apa yang Leila inginkan? Aku bergidik. Apa yang ditinggalkannya. Aku tidak bisa memahaminya.
Aku mencari lagu dilist ipod yang sangat panjang. Aku ingin mendengar sesuatu yang bersemangat. Hmm, Beyonce - sepertinya bukan selera Jongin. Crazy in Love. Oh ya! Ini cocok untuk menemani aku memasak. Aku menekan tombol repeat dan menyalakan dengan keras. Aku kembali ke dapur dan mengambil mangkuk, membuka lemari es, dan mengambil telur. Aku memecahkan, menuangkannya dan mulai mengocok, sambil menari selama mengocok telur. Membuka kulkas sekali lagi, aku mengambil kentang, ham, dan – Ya! - kacang polong dari freezer. Semua bahan ini akan ku olah. Mengambil panci, aku meletakkannya di kompor, menuangkan sedikit minyak zaitun, dan kembali mengocok.
Tidak ada empati, aku merenung. Apakah ini memang ciri khasnya Jongin? Mungkin semua pria seperti ini, membuat bingung wanita. Aku benar-benar tak tahu karena aku bukan wanita. Mungkin ini bukan pemikiran yang akan menghasilkan suatu titik terang. Aku berharap Baekhyun ada di rumah, dia pasti tahu. Sudah terlalu lama dia berada di Seoul. Baekhyun akan kembali pada akhir minggu setelah liburan dimana Suho ikut juga. Aku ingin tahu apakah mereka masih bergairah seperti cinta pada pandangan pertama mereka.
'Salah satu hal yang aku sukai tentang kamu.'
Aku berhenti mengocok telur. Jongin mengatakan itu. Apakah itu berarti ada sesuatu hal yang lain? Aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak melihat Mrs. Robinson – benar-benar tersenyum dengan tulus, senyum menggelikan. Tangan Jongin memeluk pinggangku, membuatku melompat kaget .
"Pilihan musik yang menarik," bisik Jongin sambil mencium dibawah telingaku. "Rambutmu baunya harum." Jongin mengendus rambutku dan menghirup dalam-dalam.
Hasrat seakan diluruskan dalam perutku. Tidak, aku mengangkat bahu dari pelukannya. "Aku masih marah padamu."
Jongin mengernyit. "Berapa lama kau akan begini terus?" Jongin bertanya, melepas tangannya berpindah ke rambutnya.
Aku mengangkat bahu. "Setidaknya sampai aku sudah makan."
Bibir Jongin berkedut geli. Berbalik mengambil remote control dari meja dan mematikan musiknya.
"Apakah kau yang memasukkan lagu itu pada iPodmu?" Aku bertanya.
Jongin menggelengkan kepala, ekspresinya muram, dan aku tahu itu karena dia – si Gadis Hantu. "Apakah menurutmu dia berusaha mengatakan ingin kembali padamu?"
"Yah, dengan melihat ke belakang, mungkin," kata Jongin pelan. See. Tak ada empati.
"Kenapa lagunya masih di situ?"
"Aku suka semua jenis lagu. Tapi jika membuatmu marah, aku akan menghapusnya."
"Tidak, tidak apa-apa kok. Aku suka memasak sambil mendengarkan musik."
"Musik apa yang ingin kau dengarkan?"
"Buatlah surprise untukku."
Jongin menyeringai ke arahku dan berjalan mendekati iPod dock sementara aku kembali ke kocokan telurku. Beberapa saat kemudian musik mengalun dengan merdu, suara yang menggetarkan jiwa dari Nina Simone memenuhi ruangan. Ini salah satu lagu favorit Tuan Lee: "I Put a Spell on You." Mukaku memerah, berbalik dan menganga pada Jongin. Apa Jongin mencoba mengatakan sesuatu padaku dengan lagu itu? Sudah lama Jongin menanamkan mantranya padaku.
Oh. . . tidak tatapannya berubah, keriangannya telah berganti, matanya gelap, intens. Aku menatapnya, perlahan-lahan terpesona, Jongin seperti predator mendekatiku mengikuti irama pelan dari musik yang menggoda dengan bertelanjang kaki, mengenakan kemeja putih yang tidak dimasukkan, celana jeans, dan tampak membara. Nina menyanyikan, "You're mine" saat Jongin sudah didepanku, niatnya sangat jelas.
"Kumohon, Jongin," bisikku, tanganku mengocok semakin cepat.
"Mohon apa?"
"Jangan lakukan ini."
"Lakukan apa?"
"Ini."
Jongin berdiri di depanku, menatap ke arahku. "Kau yakin?"
Jongin menarik nafas dan dia mengambil kocokan dari tanganku dan meletakkannya kembali dimangkuk dengan telur. Hatiku terasa sudah berada dimulutku. Aku tidak ingin ini tapi aku menginginkannya – sangat. Jongin membuatku sangat frustasi. Hawa yang dikeluarkan Jongin begitu panas dan diinginkan. Aku kini mencoba memutuskan tatapanku menjauh dari tampilan Jongin yang mempesona.
"Aku menginginkan kamu, Sehun," bisik Jongin. "Aku menyayangimu dan aku membenci itu, dan aku suka berdebat denganmu. Ini sesuatu hal yang baru. Aku perlu tahu bahwa kita akan baik-baik saja. Ini satu-satunya cara yang aku tahu."
"Perasaanku padamu tidak berubah," bisikku.
Kedekatannya sangat luar biasa, terasa menggairahkan. Kim Jongin. Tarikan intim ada disana, semua sistim syaraf synaps-ku mendorong ke arahnya, dewa batinku meningkatkan libidonya. Memandang dadanya, aku menggigit bibir, tak berdaya, didorong oleh hasrat - Aku ingin merasakan Jongin disana. Jongin begitu dekat, tapi dia tidak menyentuhku. Panas tubuhnya menghangatkan kulitku.
"Aku tak akan menyentuhmu sampai kau mengatakan ya," kata Jongin lembut. "Tapi sekarang, setelah tadi pagi benar-benar menyebalkan, aku ingin menenggelamkan diriku padamu dan melupakan semuanya kecuali kita."
Oh. . . Kita. Sebuah kata dengan kombinasi magis, sedikit meyakinkan, kata ganti yang menutup kesepakatan. Aku mengangkat kepalaku untuk menatap wajah tampannya yang serius.
"Aku akan menyentuh wajahmu," Aku mengambil napas, dan sekilas melihat Jongin terkejut yang tercermin dimatanya sebelum dia menyetujui.
Kuangkat tanganku, aku membelai pipinya, dan ujung jariku menyentuh rambut janggut yang mulai tumbuh itu. Jongin menutup matanya dan menghembuskan napas, wajahnya bersandar diatas sentuhanku. Jongin membungkuk perlahan-lahan, dan secara otomatis aku mengangkat bibirku untuk mendekatinya. Bibir kami sudah hampir menyentuh.
"Ya atau tidak,Sehun?" Bisik Jongin.
"Ya." Dengan lembut bibir Jongin menyentuhku, membujuk, memaksa bibirku membuka saat tangannya memeluk diriku, menarikku supaya semakin mendekat padanya.
Tangan Jongin naik keatas punggungku, jarinya meremas rambut dibelakang kepalaku dan menarik-narik dengan lembut, sementara tangan satunya membelai punggungku, memaksaku menempel padanya. Aku mengerang pelan.
"Mr. Kim." Taylor menambahkan suara seperti batuk dan Jongin segera melepaskan aku.
"Taylor," kata Jongin, suaranya dingin.
Kesimbanganku masih belum sempurna aku berbalik dan melihat Taylor berdiri dengan tidak nyaman di ambang pintu ruang keluarga. Jongin dan Taylor saling menatap, saling berkomunikasi tanpa terucapkan diantara mereka.
"Ruang kerjaku," kata Jongin agak keras, dan Taylor segera berjalan melintasi ruangan. "Teruskan nanti," bisik Jongin padaku sebelum mengikuti Taylor keluar dari ruangan.
Aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan hatiku. Sialan. Bisakah aku menolak Jongin untuk satu menit saja? Aku menggeleng, jijik pada diriku sendiri, berterima kasih atas interupsi Taylor tadi, meskipun memalukan.
Aku ingin tahu kenapa Taylor harus mengganggu tadi. Apa yang dia lihat? Aku tidak ingin untuk memikirkan masalah itu. Makan siang. Aku akan membuat makan siang. Aku menyibukkan diri mengiris kentang.
Apa yang Taylor inginkan? Pikiranku berpacu - apa ini tentang Leila? Sepuluh menit kemudian, mereka muncul, saat omelet sudah siap. Jongin tampak serius saat melirikku. "Aku akan briefing mereka jam sepuluh," kata Jongin pada Taylor.
"Kami akan siap," jawab Taylor dan meninggalkan ruang keluarga.
Aku meletakkan dua piring yang sudah hangat dan meletakkannya di meja dapur. "Makan siang?"
"Ya, silahkan," kata Jongin saat ia duduk di salah satu kursi bar. Sekarang dia menontonku dengan hati-hati.
"Ada masalah?"
"Tidak"
Aku cemberut. Jongin tidak mau memberitahuku. Aku menyajikan makan siang dan duduk sampingnya, pasrah berada dalam ketidaktahuan.
"Rasanya enak," gumam Jongin memuji sambil menggigitnya. "Apakah kau ingin segelas anggur?"
"Tidak, terima kasih." Pikiranku harus tetap jernih di sekitarmu, Kim. Memang anggur rasanya enak, meskipun aku tidak begitu lapar. Tapi aku harus makan, aku tahu kalau Jongin akan cerewet jika aku tidak makan.
Akhirnya Jongin mengganggu keheningan kita dan menyalakan musik sejenis klasik yang belum pernah aku dengar sebelumnya.
"Lagu apa ini?" Aku bertanya.
"Canteloube, Songs of the Auvergne. Judulnya 'Bailero'."
"Lagunya enak. Bahasa apa itu?"
"Prancis kuno - sebenarnya Occitan."
"Kau bisa berbicara bahasa Prancis, apa kau tahu artinya?" Mengingat Jongin waktu itu berbicara bahasa Perancis dengan lancar saat makan malam di rumah orang tuanya mendatangi pikiranku.
"Beberapa kata, ya." Jongin tersenyum, tampak santai. "Ibuku bisa bermain alat musik, berbahasa asing, bela diri. Suho bisa bicara bahasa Spanyol; Aku dan Taemin bahasa Perancis. Suho memainkan gitar, aku bermain piano, dan Taemin cello."
"Wow. Dan bela diri? "
"Suho latihan Judo. Taemin menghentak-hentakkan kakinya ke bawah saat berusia dua belas karena menolak." Jongin menyeringai mengingat itu. "Aku berharap ibuku yang sudah mempersiapkan itu."
"Nana seorang ibu yang hebat dalam hal membuat anak-anaknya berprestasi."
"Dia pasti sangat bangga padamu. Aku yakin itu."
Sebuah pikiran suram terlihat di wajah Jongin, sesaat dia seperti tak nyaman. Jongin memandangku dengan hati-hati seolah-olah ia berada di wilayah yang belum terjamah.
"Apakah kau sudah memutuskan apa yang akan kau kenakan nanti malam? Atau apa aku perlu membantu memilihkan pakaian untukmu?"
Nadanya tiba-tiba berubah kasar. Whoa! Jongin terdengar marah. Mengapa? Apa yang sudah kukatakan tadi?
"Mm. . . belum. Apakah kau yang memilih semua pakaian itu?"
"Tidak, Sehun, aku tidak melakukan itu. Aku memberikan daftarnya dan ukuranmu ke pembelanja pribadi di Neiman Marcus. Mereka yang menyesuaikan. Hanya perlu yang kau tahu, aku telah memerintahkan keamanan tambahan untuk malam ini dan beberapa hari mendatang. Leila sedang dalam kondisi tidak stabil dan dia belum ditemukan disuatu tempat di jalan-jalan Seattle, aku berpikir itu merupakan tindakan perlindungan yang baik. Aku tak ingin kau pergi tanpa pendamping. Oke?"
Aku berkedip padanya. "Oke." Apa yang terjadi dengan aku-harus-memiliki-kau-sekarang-Kim?
"Bagus. Aku akan briefing mereka. Aku tak akan lama."
"Mereka sudah di sini?"
"Ya."
Dimana? Mengambil piringnya, Jongin menempatkannya di bak cuci piring dan langsung menghilang dari ruangan. Apa itu tadi? Jongin seperti beberapa orang yang berbeda dalam satu tubuh. Bukankah itu gejala dari skizofrenia? Aku harus mencari di Google nanti.
Aku mengambil piringk, segera mencucinya, dan kembali ke kamar tidurku sambil membawa berkas bertuliskan 'OH SEHUN'. Menuju lemari pakaian, aku mengeluarkan tiga kemeja beserta jasnya. Nah, Sekarang yang mana?
~oOOo~
Berbaring di tempat tidur, aku memandang Mac-ku, iPad-ku, dan ponsel-ku. Aku merasa kewalahan dengan teknologi sekarang. Aku menyeting transfer daftar lagu Jongin dari iPad-ku ke Mac, kemudian membuka Google untuk surfing internet. Aku berbaring ditempat tidur sambil menatap Mac-ku saat Jongin masuk.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Jongin bertanya dengan lembut.
Sejenak aku merasa panik, bertanya-tanya apakah aku harus membiarkan Jongin melihat website hasil searchingku tadi tentang: Gangguan kepribadian ganda dan gejala-gejalanya. Berselonjor di sampingku, Jongin melihat halaman website itu dengan geli.
"Kenapa membuka situs ini?" Tanya Jongin acuh tak acuh.
Kekasaran Jongin telah telah hilang - Jongin yang main-main sudah kembali. Bagaimana aku bisa mengimbangi ini?
"Penelitian. Pada kepribadian yang rumit." aku berusaha terlihat tanpa ekspresi.
Bibir Jongin berkedut dengan senyum ditekan. "Sebuah kepribadian rumit?"
"Kelinci percobaanku."
"Aku sekarang menjadi kelinci percobaan? Apa ini kegiatan sambilanmu sekarang? Atau mungkinkah ini penelitian ilmiahmu? Disaat aku berpikir aku adalah segalanya. Sehun, Kau melukai hatiku."
"Bagaimana kau tahu itu adalah kamu?"
"Tebakan Liar." Jongin menyeringai.
"Memang benar bahwa kau adalah satu-satunya orang yang aku tahu secara intim bahwa kau kacau, bergairah, dan gila kontrol."
"Kupikir aku adalah satu-satunya orang yang kau kenal secara intim." Jongin melengkungkan alis.
Aku memerah. "Ya. Memang begitu adanya."
"Apakah kau sudah sampai pada kesimpulannya?"
Aku berbalik dan menatap Jongin yang kini berbaring miring di sampingku dengan kepala bertumpu pada sikunya, ekspresinya lembut dan geli. "Aku pikir kau membutuhkan terapi intensif."
Dengan lembut Jongin memainkan rambutku. "Aku pikir aku membutuhkanmu. Ini."
Jongin memberiku lipstik. Aku mengerutkan kening padanya, bingung. Hell Ini warna merah seperti pelacur dan aku ini Pria.
"Kau ingin aku memakai ini?" Aku menjerit pelan. Jongin tertawa.
"Tidak, Sehun, tidak kecuali kau mau." kata Jongin datar sambil duduk di atas tempat tidur bersila dan menarik bajunya ke atas kepalanya.
Oh.
"Aku menyukai idemu dengan memetakan daerah yang boleh disentuh."
Aku menatap Jongin dengan tatapan kosong. Memetakan daerah yang boleh disentuh?
"Daerah yang boleh dan tidak boleh disentuh," kata Jongin memberi penjelasan.
"Oh. Aku hanya bercanda."
"Dan aku? tidak."
"Kau ingin aku menggambarkannya dengan lipstik?"
"Pada akhirnya ini akan dibersihkan."
Ini berarti aku bisa menyentuhnya dengan bebas. Senyum kecil keheranan tampak di bibirku, dan aku menyeringai pada Jongin. "Bagaimana dengan sesuatu yang lebih permanen seperti di rajah?"
"Aku bisa membuat tato." Mata Jongin menyala penuh humor.
Kim Jongin bertato? Tubuhnya yang indah ditandai dengan banyak tato? jangan sampai!
"Jangan ditato!" Aku tertawa untuk menyembunyikan rasa ngeriku.
"Kalau begitu pakai lipstik." Jongin menyeringai. Mematikan Mac, aku mendorongnya ke samping. Rasanya sangat menyenangkan.
"Ayo." Jongin memegang tangannya padaku. "Duduklah diatasku."
Aku menekuk kakiku, menjadi posisi duduk, dan merangkak mendekatinya. Jongin berbaring di tempat tidur namun lututnya tetap ditekuk. "Bersandarlah pada kakiku."
Aku merangkak di atas Jongin dan duduk mengangkang seperti yang diinstruksikan. Mata Jongin melebar dan hati-hati. Tapi juga geli. "Sepertinya kau sangat antusias melakukan ini," komentar Jongin dengan masam.
"Aku selalu bersemangat untuk semua informasi, Mr. Kim, dan itu berarti kau akan rileks, karena aku akan tahu di mana batas-batasnya."
Jongin menggelengkan kepalanya, seakan tak percaya bahwa dia membiarkan aku menggambar seluruh tubuhnya. "Buka lipstik itu," ia memberi perintah.
Oh, Jongin benar-benar menjadi seorang bossy, tapi aku tak peduli.
"Ulurkan tanganmu."
Aku memberikan tanganku yang lain pada Jongin. "Tangan satunya yang memegang lipstik."
Dan kini Jongin memutar matanya ke arahku.
"Apakah kau memutar mata padaku?"
"Ya."
"Itu sangat tidak sopan, Mr. Kim. Aku kenal beberapa orang yang melakukan kekerasan karena seseorang memutar matanya."
"Apakah kamu sekarang akan seperti itu?" Nadanya ironis. Aku mengulurkan tanganku yang memegang lipstik, dan tiba-tiba Jongin duduk jadi hidung kami saling menyentuh.
"Siap?" Jongin bertanya dengan lirih, mengguman pelan, itu membuat tegang semuanya dan menegang dalam diriku. Oh wow.
"Ya," bisikku.
Kedekatan ini sangat menggoda, tubuhnya yang mendekat mengencang, aroma Kim Jongin bercampur dengan wanginya sabun mandiku. Jongin menuntun tanganku hingga lekuk bahunya.
"Tekan ke bawah," Jongin mengambil nafas, dan mulutku menjadi kering saat ia mengarahkan tanganku turun, dari atas bahunya, sekitar siku lengannya kemudian menuruni bagian dadanya.
Lipstiknya meninggalkan jejak, garis warna merah darah di belakangnya. Jongin berhenti di bagian bawah tulang rusuk ini lalu mengarahkan aku melintasi perutnya. Jongin menegang dan menatap, wajahnya tanpa ekspresi, menatapku, tetapi di balik pandangan kosong, aku melihat dia menahan diri. Keengganannya nampak ditahan dengan tegas, garis rahangnya mengencang, dan ketegangan terlihat di sekitar matanya. Saat melintas di tengah perutnya dia bergumam.
"Bagian atas di sisi yang lain."
Jongin melepaskan tanganku. Aku meniru garis yang telah aku gambar di sebelah kirinya. Kepercayaan yang dia berikan padaku memabukkan tapi marah karena faktanya aku bisa merasakan sakitnya. Ada tujuh luka bekas yang kecil disekelilingnya berwarna putih bertebaran di dadanya, dan itu sangat dalam, terasa menyakitkan untuk melihat ini, kejahatan atas penodaan tubuh yang indah ini. Siapa yang melakukan ini terhadap seorang anak kecil?
"Lihatlah, aku bisa menggambarnya," bisikku, menahan emosiku.
"Tidak, kau tidak bisa," jawab Jongin, dan dengan jari telunjuknya menelusuri garis sekitar pangkal lehernya. Aku mengikuti garis jarinya dengan warna merah. Selesai, aku menatap ke dalam mata abu-abunya.
"Sekarang punggungku," bisik Jongin bergeser jadi aku harus turun darinya, kemudian ia berbalik di atas tempat tidur dan duduk bersila diatas punggungnya.
"Ikuti garis seperti didadaku, semua garis mengelingi sisi yang lain." Suara Jongin lirih dan serak. Aku lakukan seperti yang dia katakan, sampai garis merah melintasi tengah punggungnya, aku menghitung bekas luka ditubuhnya yang indah. semuanya ada sembilan.
Sialan. Aku harus melawan keinginan yang sangat besar untuk mencium masing-masing bekas luka itu dan menghentikan air mata yang menggenang di mataku. Jenis hewan apa yang melakukan hal ini? Kepala Jongin sedang menunduk, dan tubuhnya tegang saat aku menyelesaikan rangkaian garis di sekeliling punggungnya.
"Sekitar lehermu juga?" Bisikku.
Jongin mengangguk, dan aku menggambar garis lain bergabung dengan garis pertama tadi disekitar pangkal leher bawah rambutnya.
"Selesai," bisikku, Jongin seperti mengenakan rompi kulit aneh dengan warna pelacur-merah membara. Bahunya merosot karena Jongin rileks, perlahan Jongin berbalik menghadapku lagi.
"Mereka adalah batas-batasnya," kata Jongin perlahan, matanya gelap dan matanya melebar. . . dari rasa takut? Dari nafsu? Aku ingin melemparkan diri pada Jongin untuk memeluknya erat, tapi aku menahan diri dan menatap Jongin dengan bertanya-tanya.
"Aku bisa hidup dengan itu. Saat ini aku ingin melemparkan diriku padamu," bisikku. Jongin memberiku senyum nakal dan mengulurkan tangannya, mengisyaratkan permohonan.
"Yah, Sehun, aku milikmu."
Aku menjerit dengan gembira kekanak-kanakan dan melontarkan diriku ke lengannya menjatuhkannya ke tempat tidur. Jongin berputar, membiarkan dirinya tertawa kekanak-kanakan penuh kelegaan bahwa cobaan itu telah berakhir. Entah bagaimana, aku berakhir bawah tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sekarang, melanjutkan yang tadi," Jongin mengambil nafas dan mulutnya menciumku sekali lagi.
~oOOo~
Kedua tanganku mengepal dirambut Jongin saat mulutku berciuman panas dengan mulut Jongin, menikmatinya, merasakan nuansa lidahnya beradu dengan lidahku. Dan ia pun sama, menikmatiku. Rasanya seperti berada di surga. Tiba-tiba Jongin menyeretku dan menggenggam ujung kaosku, menariknya diatas kepalaku dan melemparkannya ke lantai.
"Aku ingin merasakanmu," Kata Jongin dengan bernafsu dimulutku.
Jongin mendorongku turun ke tempat tidur, menekanku ke kasur, mulut dan tangannya bergerak ke dadaku. Jemariku bergulung dirambutnya saat ia mencium salah satu putingku diantara bibirnya dan menariknya dengan kuat. Aku menjerit saat sensasinya menyapu seluruh tubuhku, meracuniku, dan mengencangkan seluruh otot dihole dan penisku.
"Ya, sayang, biar aku mendengar desahanmu," bisik Jongin pada kulitku yang terasa sangat panas.
Aku ingin Jongin dalam diriku, sekarang. Dengan mulutnya, Jongin bermain dengan putingku, menariknya, membuatku menggeliat dan meronta dan berhasrat padanya. Aku merasakan kerinduannya bercampur pemujaan. Seolah-olah dia memujaku.
Jongin menggodaku dengan jari-jarinya, putingku mengeras dan memanjang dibawah sentuhan terampilnya. Tangan Jongin bergerak kecelana denimku, dan dengan cekatan membuka kancingnya, menarik reslitingnya turun, dan memasukkan tangannya ke dalam celana dalamku, menarik penisku. Napasnya mendesis keluar saat jarinya meluncur masuk dalam holeku. Aku mendorong panggulku sampai ke telapak tangannya, dan Jongin membalas dengan menggesekan penisnyanya dengan penisku.
"Oh, Sayang," desah Jongin di atasku, menatap intens mataku. "Kau begitu tegang." Suaranya penuh dengan keheranan.
"Aku menginginkanmu," bisikku. Mulut Jongin bergabung dengan mulutku lagi, dan aku bisa merasakan nafsu putus asanya akan kebutuhannya padaku.
Ini hal baru — tidak pernah seperti ini kecuali mungkin ketika aku kembali dari Seoul — dan kata-kata Jongin sebelumnya melayang kembali kepadaku. . . Aku perlu tahu apakah kita akan baik-baik saja setelah ini. Ini adalah satu-satunya cara yang aku tahu. Pikiran itu terurai dipikiranku. Mengetahui bahwa aku memiliki efek yang bisa mempengaruhi Jongin, bahwa aku bisa memberi Jongin kebahagiaan, melakukan ini — dewa batinku mendengkur dengan penuh kenikmatan.
Jongin duduk, menggenggam ujung celana jinsku, menariknya kuat, diikuti celana dalamku. Menjaga matanya tetap menatapku, dia berdiri, mengambil sebuah foil paket dari sakunya, dan melemparkannya ke arahku, kemudian melepas celana denim dan boxernya dengan satu gerakan cepat. Aku merobek bungkusan itu dengan tidak sabar, dan ketika Jongin berada di sampingku lagi, aku perlahan-lahan menggulung kondom keatas penisnya. Jongin menarik kedua tanganku dan dia berguling ke punggungnya.
"Kau, Di atas," perintah Jongin, menarikku supaya mengangkanginya. "Aku ingin melihatmu."
Oh.
Jongin menuntunku, dan aku dengan ragu-ragu menurunkan tubuhku keatas tubuhnya, menutup matanya dan melenturkan pinggulnya untuk bertemu denganku, mengisiku, meregangku, mulutnya membentuk huruf O sempurna saat Jongin menghembuskan napas.
Oh, ini terasa nikmat — menguasainya, menguasaiku. Jongin memegang tanganku, dan aku tak tahu apakah itu untuk menjagaku atau menahanku agar tidak menyentuhnya, meskipun aku memiliki peta sentuhan.
"Kau rasanya sangat nikmat," Bisik Jongin.
Aku bangkit lagi, mabuk dengan kekuasaanku terhadapnya, menonton Kim Jongin perlahan terlepas dibawahku. Jongin melepaskan tanganku dan menarik pinggulku, dan aku meletakkan tanganku dilengannya. Penis Jongin menusukku dengan tajam, menyebabkan aku menjerit.
"Itu benar sayang, rasakan aku," kata Jongin, suaranya tertahan.
Aku mengangkat kepalaku keatas dan melakukannya sama seperti itu. Hal ini adalah yang bisa dilakukannya dengan baik. Aku bergerak—melawan gerakannya dengan simetri sempurna — melumpuhkan semua pikiran dan alasan. Aku merasa hilang dalam sensasi kehampaan ini. Atas dan bawah. . . lagi dan lagi. . . Oh ya. . . Membuka mataku, Aku menatapnya, napasku memburu, dan Jongin pun menatap ke arahku, matanya membara.
"Sehun-ku." Sebut Jongin.
"Ya," Suaraku serak. "Selalu."
Jongin mengerang dengan nyaring, menutup matanya lagi, menjatuhkan kepalanya kebelakang. Oh My. . . melihat Jongin terlepas cukup untuk menutup nasibku, dan aku lepas dengan bersuara keras, dengan kelelahan, berputar-putar, dan roboh diatas tubuhnya.
"Oh,sayang," Jongin mengerang saat menemukan pelepasannya, menahanku tetap diam dan dia terlepas.
Kepalaku di dada Jongin di daerah yang tak boleh disentuh, pipiku bersandar di tulang dadanya. Aku terengah-engah, merasa hangat, dan aku menahan dorongan untuk mengerutkan bibirku dan menciumnya. Aku hanya berbaring di atas tubuh Jongin, menangkap nafasku. Jongin mengusap rambutku, dan tangannya berjalan di punggungku, membelaiku saat nafasnya tenang.
"Kau sangat mempesona."
Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya, ekpresiku ragu-ragu. Jongin mengerutkan dahinya dan tiba-tiba duduk, mengejutkanku, lengannya melingkar di tubuhku, menahanku agar tak bergerak dari tempatku. Aku mencengkeram otot bisepnya saat hidung kami bertemu.
"Kau. Sangat. Cantik," Kata Jongin lagi, nadanya tegas. "Dan kau kadang-kadang sangat manis."
Aku menciumnya lembut. Jongin mengangkatku dan keluar dari tubuhku. Aku meringis saat Jongin melakukannya. maju kedepan,menciumku lembut. "Kau tak menyadari betapa menariknya dirimu, kan?"
Aku memerah. Kenapa Jongin selalu membicarakan tentang ini?
"Semua laki-laki itu mengejarmu — tidakkah itu suatu petunjuk yang cukup?"
"Laki-laki? Siapa?"
"Kau mau daftarnya?" Jongin mengerutkan dahinya. "Si Fotografer, dia menggilaimu, pemuda di toko perkakas tempatmu bekerja, kakak laki-laki teman se apartemenmu, bosmu," tambahnya getir.
"Oh, Jongin, itu tidak benar."
"Percayalah padaku. Mereka menginginkanmu. Mereka menginginkan apa yang jadi milikku." Jongin menarikku mendekatinya, aku mengangkat kedua lenganku ke bahunya, tanganku dirambutnya, memandangnya dengan geli.
"Milikku," ulang Jongin, matanya bersinar posesif.
"Ya, milikmu." Aku menenangkannya, tersenyum.
Jongin tampak tenang, dan aku merasa sangat nyaman telanjang di pangkuannya di tempat tidur yang penuh cahaya sabtu sore. Siapa yang mengira? Tanda lipstik masih membekas pada tubuh indahnya. Aku mencatat beberapa noda mengotori penutup selimut, dan bertanya-tanya sekilas apa yang Mrs. Jones akan lakukan pada hal itu.
"Jalurnya masih utuh," gumamku dan dengan berani menelusuri tanda di bahunya dengan jari telunjukku. Jongin menegang, tiba-tiba berkedip.
"Aku ingin pergi menjelajah."
Jongin memandangku dengan skeptis. "Apartemen?"
"Tidak. Aku berpikir tentang peta harta karun yang telah kita gambar di tubuhmu." Jariku sudah gatal ingin menyentuhnya.
Alis Jongin terangkat dengan heran, dan ia berkedip dengan ketidakpastian. Aku mengusap hidungku ke hidungnya.
"Dan apa itu persisnya, Sehun?"
Aku mengangkat tanganku dari bahunya dan menjalankan ujung jariku di wajahnya. "Aku hanya ingin menyentuhnya dimana aku diijinkan."
Jongin menangkap jari telunjukku dengan giginya, menggigitnya dengan lembut.
"Ow," Aku protes dan Jongin nyengir, sebuah geraman pelan keluar dari tenggorokannya.
"Oke," kata Jongin, melepaskan jariku, tapi suaranya bercampur dengan ketakutan. "Tunggu." Jongin menunduk di belakangku, mengangkatku lagi dan melepas kondomnya, menjatuhkannya sembarangan di lantai disamping tempat tidur.
"Aku benci benda itu. Aku punya pikiran bagus untuk menelpon Dr. Greene untuk memberimu suntikan."
"Kau pikir ahli kandungan terkenal di Seattle akan datang dengan berlari?"
"Aku bisa sangat meyakinkan," gumam Jongin, mengusak pelan rambutku. "Franco melakukan pekerjaan bagus pada rambutmu, aku suka lapisan-lapisannya."
Apa?
"Berhenti mengalihkan pembicaraan."
Jongin menggeserku kembali jadi aku mengangkangi dirinya, aku bersandar pada lututnya yang tertopang, kakiku di kedua sisi pinggulnya.
Jongin bersandar di lengannya. "Sentuhlah," kata Jongin tanpa humor.
Jongin terlihat gugup, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Menjaga mataku tetap menatap matanya, aku mengulurkan tangan dan menelusuri jariku di bawah garis lipstik, melintasi seluruh otot di perutnya yang terpahat sempurna. Jongin tersentak dan aku berhenti.
"Tidak apa-apa. Hanya perlu sedikit . . . penyesuaian diri dari diriku. Tak ada seorang pun menyentuhku dalam waktu yang lama," bisik Jongin.
"Mrs. Robinson?" Kata-kata muncul begitu saja tanpa diminta keluar dari mulutku, dan luar biasanya, aku berhasil menjaga semua kepahitan dan kebencian keluar dari suaraku.
Jongin mengangguk, ketidaknyamanannya jelas. "Aku tidak ingin berbicara tentang dia. Itu akan merusak suasana hatimu yang sedang baik."
"Aku bisa mengatasinya."
"Tidak, Kau tidak bisa, Sehun. Kau melihat 'merah' setiap kali aku menyebutkan tentang dia. Masa laluku adalah masa laluku. Itu fakta. Aku tidak bisa mengubahnya. Aku beruntung bahwa kau tidak memiliki masa lalu, karena itu akan membuatku gila jika kau memilikinya."
Aku cemberut padanya, tapi aku tak ingin bertengkar. "Menyebabkanmu gila? Lebih dari dirimu sekarang?" Aku tersenyum, berharap untuk meringankan suasana hati kami.
Bibir Jongin berkedut. "Gila karenamu," bisiknya.
Hatiku membengkak dengan sukacita. "Bolehkan aku menelpon Dr. Flynn?"
"Aku pikir itu tidak perlu lagi," kata Jongin datar. Bergeser kembali sehingga dia menjatuhkan kakinya, aku menempatkan kembali jemariku diperutnya dan membiarkannya melintasi kulitnya. Jongin terdiam sekali lagi.
"Aku suka menyentuhmu." Jariku meluncur ke pusarnya kemudian menuju selatan di sepanjang happy trail-nya. Bibir Jongin terbuka saat napas berubah, matanya menggelap dan ereksinya berputar dan berkedut di bawahku. Astaga. Ronde Kedua.
"Lagi?" Bisikku.
Jongin tersenyum. "Oh ya, Sehun, lagi."
~oOOo~
Suatu cara yang nikmat menghabiskan hari sabtu siang. Aku berdiri di bawah pancuran, dengan main-main membersihkan tubuhku, merenungkan hal yang terjadi 2 jam yang lalu. Jongin dan hubungan vanilla sepertinya berjalan dengan baik. Jongin bercerita begitu banyak hari ini. Ini mengejutkan, aku mencoba mencerna semua informasi untuk merefleksikan apa yang telah aku pelajari: rincian penghasilannya - Wow, Jongin sangat kaya, dan untuk seseorang pengusaha yang begitu muda, itu luar biasa — dan berkas-berkas yang Jongin miliki tentang aku dan semua submisif berambut coklatnya.
Aku ingin tahu apakah mereka semua ada dalam lemari arsip? Hati kecilku mengerutkan bibirnya padaku dan menggelengkan kepalanya — jangan pernah berpikir kesana. Aku cemberut. Hanya satu intipan kilat? Dan ada Leila — berpotensi memiliki senjata, di suatu tempat — dan selera musik jeleknya masih di iPod Jongin. Tapi lebih buruk lagi, Mrs. Paedo Robinson, aku tak bisa memahaminya di kepalaku, dan aku tak mau. Aku tak ingin dia menjadi momok berambut-berkilau dalam hubungan kami.
Jongin benar, aku bisa meledak menjadi gila bila memikirkan dia, jadi mungkin lebih baik jika aku tak memikirkannya. Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan mengeringkan diri, dan aku tiba-tiba dicengkram oleh kemarahan yang tak terduga. Tapi siapa yang tak akan meledak menjadi gila? Kenapa orang normal, waras melakukan itu pada seorang pemuda lima belas tahun? Berapa banyak dia berkontribusi pada kekacauannya? aku tidak mengerti dirinya. Dan lebih buruk lagi, Jongin bilang dia membantunya. Bagaimana? Aku berpikir tentang bekas-bekas lukanya, perwujudan fisik gamblang dari masa kanak-kanak yang mengerikan dan pengingat memuakkan dari luka mental yang ia harus tanggung.
Fifty-ku yang manis dan bersedih. Jongin mengatakan hal-hal penuh kasih seperti saat ini. Jongin gila karenaku. Menatap bayanganku, aku tersenyum karena teringat kata-katanya, hatiku meluap sekali lagi, dan wajahku berubah menjadi senyuman konyol. Mungkin kita bisa membuat ini berhasil. Tapi berapa lama Jongin akan ingin melakukan hal ini tanpa ingin memukulku karena aku melewati beberapa aturan yang sewenang-wenang?
Senyumku menghilang. Ini adalah sesuatu yang aku tak tahu. Ini adalah bayangan yang menggantung di atas kami. Kinky Fuckery, ya, aku bisa melakukan itu, tetapi lebih? Bawah sadarku menatapku dengan kosong, untuk pertama kali tidak menawarkan kata-kata bijak yang menyebalkan. Aku kembali ke kamarku untuk berpakaian. Jongin di lantai bawah sedang bersiap-siap, melakukan apapun yang dia ingin lakukan, jadi aku punya kamar untuk diriku sendiri. Seperti juga kemeja di lemari, aku punya satu laci penuh pakaian dalam baru. Aku memilih kemeja hitam kreasi dengan label harga 540 dolar. Memiliki hiasan garis line putih sangat halus berwarna perak dan pasangan celana yang ringkas,sangat indah, terbuat dari sutra asli. Aku sedang meraih kemeja ketika Jongin masuk tanpa pemberitahuan.
Whoa~ Apa Jongin tidak bisa mengetuk terlebih dulu! Jongin berdiri tidak bergerak, menatapku, manik mata hitamnya berkelip dengan nafsu. Aku memerah diseluruh tubuhku. Jongin memakai kemeja putih dan celana hitam panjang, leher kemejanya terbuka. Aku bisa melihat garis lipstick masih menempel dan dia masih menatapku.
"Apa yang bisa aku bantu, Mr. Kim? Aku menganggap ada suatu tujuanmu berkunjung daripada menganga menatap kosong padaku."
"Aku lebih suka menikmati tatapan kosongku, terima kasih, Sehun," gumam Jongin muram, melangkah lebih jauh ke dalam ruangan dan menatapku dalam-dalam. "Ingatkanku untuk mengirim catatan pribadi terima kasih kepada Caroline Acton."
Aku mengerutkan kening. Siapa dia?
"Pembeli pribadi dari Neiman," kata Jongin, menjawab pertanyaan tak terucapku dengan menakutkan.
"Oh."
"Aku cukup terganggu."
"Aku bisa melihatnya. Apa yang kau inginkan, Jongin." Aku memberinya tatapan 'tidak ada omong kosong'-ku.
Jongin membalas dengan senyum miring dan menarik bola perak telur dari sakunya, menghentikan langkahku. Astaga! Apa Jongin ingin memukul pantatku? Sekarang? Kenapa?
"Ini bukan seperti yang kau pikirkan," kata Jongin cepat.
"Terangkan padaku," aku berbisik.
"Kupikir kau bisa memakai benda ini malam ini." Dan implikasi dari kalimat itu menggantung di antara kami saat ide itu masuk dipikiranku.
"Di acara ini?" Aku terkejut.
Jongin menggangguk lambat, matanya mengelap. Oh my.
"Kau akan memukul pantatku nanti?"
"Tidak." Untuk sesaat, aku merasakan sekilas tikaman kecil kekecewaan.
Jongin terkekeh. "Kau ingin aku melakukannya?"
Aku menelan ludah. Aku tak tahu.
"Yah, yakinlah aku tak akan menyentuhmu seperti itu, bahkan jika kau memohon padaku." Oh! Ini adalah berita baru.
"Apakah kau ingin bermain permainan ini?" Jongin melanjutkan, memegang bola. "Kau selalu bisa mengeluarkannya kalau terlalu lama."
Aku menatap padanya. Jongin terlihat begitu licik dan menggoda, rambut baru-habis-bercinta berantakannya, mata gelap menari dengan pikiran erotis, mulut yang terpahat indah, bibir yang terangkat dengan sebuah senyum geli yang seksi.
"Oke," aku menyetujui tanpa protes dengan lembut. Hell, yes! Dewa batinku telah menemukan suaranya dan memekik dari lantai diatas atap.
"Good Boy," Jongin menyeringai. "Kemarilah, dan aku akan memasukkannya, setelah kau memakai sepatumu."
Sepatuku? Aku berputar dan melirik pada sepatu kulit hitam ke abu-abuan yang cocok dengan kemeja yang aku pilih untuk dipakai. Sudah ikuti saja apa mau Jongin! Dewa batinku menyalak padaku.
Jongin mengulurkan tangannya untuk mendukungku saat aku melangkah masuk ke sepatu Louis Vuitton Mens Leather Shoes, berharga 3295 dolar. Aku pasti paling tidak 2 inci lebih tinggi sekarang. Jongin membawaku ke sisi tempat tidur dan tidak duduk, tapi berjalan ke arah satu-satunya kursi di ruangan ini. Mengambilnya, ia membawanya dan meletakkannya di depanku.
"Ketika aku mengangguk, kau membungkuk dan berpegangan pada kursi, Mengerti?" kata Jongin parau.
"Ya."
"Bagus. Sekarang buka mulutmu," Perintah Jongin, suaranya masih rendah.
Aku lakukan seperti aku diberitahu olehnya, berpikir bahwa Jongin akan menempatkan bola di mulutku lagi untuk melumasi mereka. Tidak, Jongin menyelipkan jari telunjuknya masuk ke mulutku. Oh . . .
"Hisap," Kata Jongin. Aku meraih dan menggenggam tangannya, menahannya tetap stabil, dan melakukan apa yang aku diberitahu olehnya — lihatkan, aku bisa menurut, ketika aku ingin menurut. Jongin terasa seperti sabun. . . hmm. Aku menghisap keras, dan aku dihargai ketika matanya melebar dan bagian bibirnya terbuka saat Jongin menarik nafas. Aku tak akan memerlukan pelumas pada tingkat ini.
Jongin menempatkan bola dimulutnya saat aku mengulum jarinya, memutar-mutar lidahku di seputar jarinya. Ketika Jongin mencoba untuk menariknya, aku mengatupkan gigiku. Jongin menyeringai kemudian menggeleng, mengingatkan aku, jadi aku melepaskannya. Jongin mengangguk, dan aku membungkuk dan memegang sisi kursi. Melepas celanaku lalu menggerakkan celana dalamku ke satu sisi dan dengan sangat perlahan Jongin menyelipkan jarinya ke dalam holeku, berputar-putar dengan santai, jadi aku bisa merasakannya, di semua sisi.
Aku tidak dapat menahan erangan yang lolos dari bibirku. Jongin mencabut jarinya sebentar dan dengan kehati-hatian yang lembut, memasukkan bola satu persatu, mendorongnya masuk dalam diriku. Setelah mereka berada di posisinya, Jongin merapikan celana dalamku begitupun celanaku kembali ke tempatnya dan mencium punggungku. Menjalankan kedua tangannya ke atas masing-masing kakiku mulai dari pergelangan kaki ke paha, "Kau punya kaki yang indah, indah sekali, Sehun," gumamnya.
Berdiri, Jongin mencengkeram pinggulku dan menarik belakang tubuhku kearahnya jadi aku bisa merasakan ereksinya. "Mungkin aku akan bercinta denganmu dengan cara ini ketika kita pulang nanti, Sehun. Kau bisa berdiri sekarang."
Aku merasa pusing, terlampau terangsang saat berat dari bola mendorong dan menarik dalam diriku. Merunduk dari belakangku Jonginn memberiku ciuman di bahuku.
"Aku membeli ini untuk kau kenakan di Pesta Gala sabtu lalu." Jongin menempatkan lengannya di sekitarku dan mengulurkan tangannya. Dalam telapak tangannya bersandar sebuah kotak merah kecil dengan Cartier tertulis di tutupnya. "Tapi kau meninggalkanku, jadi aku tak pernah punya kesempatan untuk memberikannya kepadamu."
Oh!
"Ini adalah kesempatan keduaku," gumam Jongin, suaranya kaku dengan beberapa emosi yang tidak tersebut namanya. Dia terlihat gugup.
Ragu-ragu, aku meraih kotak itu dan membukanya. Di dalamnya bersinar sebuah gelang rantai panjang. Masing-masing memiliki empat berlian, salah satu di dasar, ada celah, cantik, sederhana, dan klasik. Apa yang akan aku pilih sendiri, jika aku pernah diberi kesempatan untuk berbelanja di Cartier.
"Ini indah," bisikku, dan karena mereka gelang kesempatan kedua, aku menyukainya. "Terima kasih."
Jongin relaks didekatku saat ketegangan meninggalkan tubuhnya, dan ia mencium keningku. "Kau mengenakan baju yang aku belikan?" Tanya Jongin.
"Ya? Apakah itu bagus?"
"Tentu saja. Aku akan membiarkanmu bersiap-siap "
Jongin keluar dari pintu tanpa menengok ke belakang.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Dan, yeah ini telat berapa hari? Haha
Maaf keun~ aku bentar lagi mau UTS jadi tugas segunung musti digarap dulu,ga sempet buat garap ff ini dan hari ini baru sempet,mian~ huhu T~T
Dosen pada jahat sih, ngasih tugas udah kek mau skripsi aja, udah gitu kerjaan akhir bulan guys, tau kan gimana ribetnya? Haha
Okehh jadi buat next minggu depan doakan ada waktu buat ngepost yaa, maaf banget yaa ini ngaret. Tolong buat pengertiannya. Habis selese ini semua bakal rajin update seperti semula kok, janji bulan depan rajin update lagi. Buat pengertiannya,gomawo~ ah ya dan minta doa buat UTS aku nanti yaaa~ hehehe *hug*
Jadi gimana kelanjutannya? Bagaimana pesta dikediaman keluarga Kim Jongin ? Ditunggu next chapternya yaa~ byeee~ ^^;;
.
.
Thanks to review CH 6 :
JongOdult , Kim Jonghee , bublle106 , izzsweetcity , VampireDPS , exohye , FSD , Jongin's Grape , ninoch , Jaemblo , YunYuliHun , fitrysukma39 , utsukushii02 , windaii5 , shixunaa , yeon1411 , vitangeflower , Minnie163 , driccha , SeoulG , jiraniatriana , Sekar Amalia , My jeje , dialuhane , CatMeowGirl .
