Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuHina
Warning : OOC. Gaje. AU. MISTYPO. Alur lambat. Dan segala macam kesalahan lain yang ada di dalamnya.
Gak suka gak usah baca..:)
Don't like, don't read, don't bash..^^
Happy Reading...
.
.
.
NIGHTINGALE © Shirayuki Ai
.
.
.
Anger, resentment and jealousy doesn't change the
heart of others, it only changes yours.
Shannon L. Alder
.
.
.
Jika dulu ada yang mengatakan bahwa ia dan Sasuke suatu saat nanti bisa duduk berdua menikmati perbincangan dengan akrab, tanpa merasa canggung sedikit pun, Hinata pasti tak akan mempercayainya. Ayolah, ini Uchiha Sasuke yang sedang kita bicarakan, pria yang dikenal sebagai makhluk dingin irit kata, yang selalu menebarkan aura tak bersahabat baik disengaja ataupun tidak.
Dan Hinata sendiri dulunya bukanlah pribadi yang bisa dengan mudah bersikap terbuka terhadap orang lain dengan gampangnya. Yah, meskipun Sasuke sendiri tak bisa dikatakan sebagai orang asing yang tak pernah ia kenal. Oh, betapa berbedanya hidupnya sekarang.
Anehnya, ia tak menemukan sebuah alasan untuk mengeluh. Tidak. Hinata percaya, pasti ada alasan di setiap kejadian yang telah terjadi. Meskipun ia sakit, dan kecewa, tapi tetap saja hal itu tak akan mengubah pribadinya. Emosi yang dirasakannya adalah sesuatu yang wajar, dan itu menunjukkan bukti bahwa ia masih memiliki perasaan.
Look underneath the underneath.
Ia teringat ucapan salah satu ucapan senseinya di kampus. Dan tersenyum. Mengakui bahwa ucapan pria itu kadang memang benar adanya.
"Ayo turun. Sampai kapan kau mau senyum sendirian seperti itu."
Dan Hinata seketika tersadar. Ia mengernyitkan dahinya sewaktu mereka berada di pelataran parkir sebuah restoran mewah yang terkenal di Tokyo. Konoha Restaurant milik Senju Tsunade. Ia menoleh ke arah Sasuke yang telah turun, dan menutup pintunya. Ia merapikan bajunya dan bersiap turun tepat ketika pintu mobil di sisinya terbuka.
"Kenapa di sini? Kupikir kita akan makan di tempat biasa." Protesnya dan keluar dari mobil. Sasuke menutup pintu di belakangnya, lalu mengunci mobilnya.
"Privasi." Jawabnya singkat, sembari meletakkan tangannya di punggung Hinata, mengiringnya.
"Tapi pakaianku sama sekali tak pantas, Sasuke-kun." Kata Hinata, dan berhenti berjalan. Sasuke ikut berhenti, dan menatap gadis itu dari atas hingga bawah.
"Tak ada masalah." Kata pria itu sambil mengangkat bahu. "Yang penting kita membayar mereka. Lagipula, aku sedang tak ingin mengambil resiko ada media yang mengikuti kita."
Hinata kembali berjalan mengikuti Sasuke. Memahami alasannya. Jika mereka makan di tempat biasa, dan kebetulan ada media di sekitar mereka, hal ini bisa menjadi skandal. Dan Sasuke jelas tak ingin membahayakan reputasinya serta dikait-kaitkan dengan masalah yang sedang terjadi pada Hinata. Ia bisa mengerti itu. Setidaknya, salah satu keuntungan makan di restoran terkenal adalah penjagaan terhadap keamanan dan privasinya yang ketat.
Mereka lalu berhenti sebentar untuk berbicara dengan penerima tamu, yang terlihat berbinar sewaktu mendapati Uchiha Sasuke berada di hadapannya. Hinata mengamati gadis belia itu menatap Sasuke dengan pandangan memuja, dan meliriknya dengan pandangan tak suka sewaktu Sasuke mengulurkan tangan padanya.
Hinata menahan senyumannya, menyadari bahwa pria itu tak sepenuhnya buta akan atensi yang diterimanya, dan merasa tak nyaman karenanya.
Mereka mendapatkan tempat di salah satu pojok ruangan, seklusif, membuat mereka tertutup dari pandangan ingin tahu yang mengenal mereka sebagai Uchiha dan Hyuuga. Hinata memandang keluar, menikmati cahaya penerangan yang berasal dari lilin yang berada di atas kolam. Dengan diiringi musik secara live, dan desain interior ruangan yang cantik dan berkelas, semakin menjelaskan kenapa restoran ini disebut-sebut sebagai restoran bintang lima.
Pelayan yang bertugas melayani mereka malam ini memberikan reaksi serupa sama seperti si penerima tamu sewaktu mendapati Uchiha Sasuke berada di sana. Hanya saja, ketika melihat pria itu bersama Hinata raut wajahnya terlihat seakan kalah, dan kembali bersikap formal, yang sangat disyukuri oleh Hinata. Sasuke kelihatannya sudah sangat jengkel dengan perhatian tak diharapkan itu.
Mereka memesan makan malam dan dessert mereka, lalu kemudian terdiam ketika sang pelayan pergi membawa buku menu dan catatan pesanan mereka. Sasuke menghembuskan nafasnya, dan menggulung lengan bajunya.
"Memikirkan apa?"
Hinata tersentak kaget saat Sasuke menanyakan hal itu. Ia menghela nafas, dan menatap jelaga hitam yang memandangnya dengan tajam.
"Kelihatannya, aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu, Sasuke-kun." Kata Hinata sambil tersenyum.
Sasuke mendengus. "Usaha yang bagus. Tapi, aku tak akan terkecoh. Ada apa, Hime?"
Wajah Hinata serasa memanas mendengar panggilan Sasuke untuknya. Ia memutuskan kontak mata mereka, dan membuang muka ke arah lain.
"Tidak ada." Jawabnya cepat.
"Hina."
Kata-kata itu mengandung peringatan, dan Hinata memaksa dirinya kembali memandang Sasuke. Biar bagaimanapun ia harus membicarakan masalah ini dengan Sasuke. Ia tak ingin pria itu merasa menyesal di kemudian hari karena lebih memilih bersamanya daripada teman-temannya. Ia tahu, Sasuke pasti tak suka membicarakan masalah ini, tapi hatinya tetap saja tak ingin membiarkan hubungan persahabatan Sasuke dan sahabat-sahabatnya rusak karenanya. Dari cara Sakura memandangnya tadi saja, ia tahu, Sakura tak menyukainya.
"Apa Sasuke-kun tak menyesal?" tanyanya cepat. "Aku tak apa jika Sasuke-kun ingin berkumpul dengan Naruto dan Haruno-san."
"Apa kau tak menyukai keberadaanku?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya, bersedekap.
Hinata segera menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, tapi mereka sahabatmu."
"Dan mereka telah memonopoliku selama bertahun-tahun. Aku hanya ingin menebus waktu yang tak sempat kuhabiskan bersama denganmu karena mereka." Jawab Sasuke acuh.
Hinata tersenyum. "Tapi, tetap saja. Mereka yang bersamamu di saat-saat penting bagimu, Sasuke-kun." katanya mengingatkan. "Waktu itu, aku masih menjadi bayangan, yang menemanimu di saat gelap."
Sasuke menggeleng. "Kau bukan bayangan, Hinata." katanya melembut. "Tapi cahaya."
Hinata tertawa. "Terdengar seperti rayuan."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Tersenyum. "Aku sedang berusaha merayu. Apakah berhasil?"
Hinata tergelak dengan anggun. "Ya Tuhan, kumohon, jangan praktekkan itu pada gadis lain. Mereka tak akan bertahan menghadapi rayuanmu."
Sasuke terlihat puas akan sesuatu. Ia mencondongkan badannya, sedikit berbisik. "Aku tak perlu merayu, Hime. Mereka yang datang padaku."
Hinata masih tertawa, berusaha menghentikan dirinya. "Nah, itu baru Uchiha yang kukenal. Arogan."
Sasuke kembali ke posisinya semula. "Oh, kita sekarang kembali memanggil nama keluarga, Hyuuga?" Katanya datar, namun Hinata dapat menangkap binar penuh kegelian bermain di matanya.
"Apa itu berarti kau ingin dipanggil Uchiha?" Hinata menantang.
"Dan kembali ke masa-masa awal kita bertemu? Tidak terima kasih. Aku tak ingin menghancurkan jerih payah yang kulakukan untuk membuatmu memanggilku dengan nama kecilku."
Hinata tersenyum mengenang masa kecil mereka. "Kau begitu menakutkan sewaktu kecil, Sasuke-kun." Katanya menghela nafas. "Dan Neji-nii memberiku dua pilihan untuk nama panggilanmu."
Alis Sasuke terangkat mendengar informasi itu. Meminta Hinata untuk melanjutkan dengan isyarat tanpa kata.
"Ahiru atau nama keluargamu." Hinata menambahkan dengan malu-malu. "Dan kupikir, aku tak ingin membuatmu marah dengan sebutan itu, dan berpikir akan lebih aman jika memanggilmu Uchiha."
"Kenapa tak memanggilku dengan namaku?"
Hinata kali ini terlihat ragu untuk melanjutkan.
"Hime."
"Aku tak ingin dianggap sebagai fan girl mu, Sasuke-kun."
Sasuke menyeringai. "Apakah itu berarti sekarang kau adalah fan girlku?"
Kepala Hinata terangkat, menatapnya dengan tak percaya. "Sasuke-kun!"
Sasuke mengedipkan sebelah matanya. "Tenang saja, Hime. Kau memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkanku dibandingkan mereka."
Hinata mengerucutkan bibirnya, menggondok heran. Bagaimana mungkin orang lain buta akan sifat jahil Sasuke. Pria itu tak jauh beda dengan Ita-nii. Siapapun yang menganggap mereka berdua pastilah tak mengenal Sasuke sebaik yang mereka kira.
Tapi, Hinata lega. Meskipun mereka sempat terpisah, dan tak terlalu dekat dibandingkan masa kecil mereka, ia dan Sasuke diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang itu.
Dan untuk itu, ia berterima kasih pada Naruto. Pria itulah yang,bertanggungjawab mengembalikan kedekatannya dan Sasuke seperti dulu. Dan tidak, Hinata tak membenci Naruto. Tidak sama sekali. Ia hanya kecewa. Dan itu wajar. Setelah apa yang mereka lalui selama ini, dengan mudahnya Naruto menyingkirkannya begitu saja. Hinata berpikir ia pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik daripada ini.
Tapi, Hinata tak akan mendendam. Emosi negatif yang seperti itu akan berpengaruh buruk pada dirinya. Jika Naruto memang menginginkan perpisahan, Hinata akan mengabulkannya. Ia berharap Naruto akan mendapatkan kebahagiaannya bersama Sakura. Dan Hinata sendiri pun akan mencari kebahagiaannya.
Menanggapi ucapan Sasuke tadi, wajah Hinata memanas, dan ia tahu dengan jelas wajahnya,pasti terlihat bagaikan lobster rebus. Dan kenapa ruangannya terasa menghangat ya?
"Tidak terima kasih. Aku tak ingin berhadapan dengan para fansmu dan dijadikan objek kemarahan mereka."
Sasuke masih terlihat puas akan sesuatu. "Aku akan melindungimu."
Hinata mendengus, dan merasa lega luar biasa sewaktu makan malam mereka datang. Setidaknya, ia tak harus menghadapi godaan Sasuke lagi, dan menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Sasuke mengamati Hinata secara diam-diam ketika gadis itu menikmati steaknya. Ia menikkmati rona merah yang menghiasi pipi gadis itu, dan merasa puas akan pencapaiannya hari ini. Siapa yang pernah menduga bahwa ia akan mengatakan kata-kata murahan seperti itu untuk menggoda gadis yang ia sukai. Tapi, ia sama sekali tak peduli. Sasuke memiliki satu misi, dan ia akan melakukan apapun untuk memenuhi misi itu.
Lagipula, bersama Hinata, ia tak peduli apakah ia harus bersikap konyol. Selama ia bisa menjadi alasan gadis itu tersenyum, ia akan melakukan apapun yang ia bisa.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan mengerutkan kening sewaktu merasa melihat rambut berwarna pink dan kuning bersama. Ia menggeleng dan berharap semoga orang-orang itu bukanlah seseorang yang ia kenal. Sudah cukup gangguan dari Sakura tadi sore. Hinata sama sekali tak membutuhkan gangguan dari perempuan berambut pink itu dan si baka-dobe secara bersama-sama. Dan Sasuke tak ingin seseorang mengganggu acara ehm.. kencannya.
Ia memandang Hinata yang sedang mengelap mulutnya, dan menjauhkan pringnya.
"Aku ssnang kita makan di sini." Ucap Hinata dengan wajah cerah. "Biasanya Neji-nii yang selalu memaksaku ke sini."
"Memaksa?" Sasuke bertanya heran, sembari memanggil seorang pelayan untuk menyingkirkan piring kotor dan membawa dessert mereka.
Hinata mengangguk. "Kau kan tahu aku bukan penggemar hal-hal fancy semacam ini. Dan Neji-nii biasanya menjadikanku sebagai tameng dari fansnya."
Sasuke mengangguk. "Kurasa kau harus membiasakan dirimu mulai dari sekarang."
Hinata memiringkan kepalanya dengan heran. "Kenapa?"
"Karena aku berencana membawamu untuk setiap makan malam yang harus kuhadiri di luar." Jawab Sasuke santai dengan nada serius.
Hinata terdiam. Otaknya sedang sibuk memproses ucapan Sasuke sebelum ia terperangah. "Eh?"
Dan sebelum Hinata sempat protes, chocolatte mousse Hinata sudah datang. Sasuke mengernyitkan kening menatap makanan manis itu.
"Sasuke-kun mau?"
Sasuke kembali menyeringai, membuat curiga Hinata bahwa Sasuke yang berada di depannya ini adalah saudara kembar Sasuke yang tak pernah dikenalnya. Sasuke yang selama ini ia tahu tak pernah menggodanya separah ini.
"Kau mau menyuapiku?"
Dan sendok itu berhenti di udara. Hinata menarik nafas, dan menggembungkan kedua pipinya. "Sasuke-kun!" Desisnya jengkel.
"Kenapa? Aku toh tak keberatan."
Dan Hinata menggerutu dan meletakkan sendoknya, lalu memandang Sasuke dengan tatapan tak setuju, sebelum pada akhirnya matanya membelalak kaget. Sasuke memperhatikan perubahan sikap Hinata, yang mendadak diam sebelum menoleh ke belakang.
Curse his luck.
Kalau Sasuke tak mempertimbangkan imagenya, Sasuke pasti mengumpat keras. Kenapa selalu saja ada halangan baginya ketika mereka berdua?
Ia menatap Uzumaki Naruto, dan Haruno Sakura dengan tatapan tajam, yang diabaikan oleh dua orang itu. Sakura menunjukkan ketidaksukaan dengan apa yang dilihatnya, sementara Uzumaki Naruto memandang Hinata dengan tatapan aneh.
"Hinata." Kata Naruto pelan dengan nada berbisik.
Hinata menatap langsung ke mata biru yang kini menatapnya tajam, tak percaya. "Naruto." Jawab Hinata pelan, setelah berhasil menguasai dirinya.
Sasuke sama sekali tak menyukai situasi yang terjadi saat ini. Jika apa yang Sakura katakan tadi sore memang benar, berarti kedua orang tua Naruto pun pasti berada tak jauh dari sini. Ia berdecak. Kenapa selalu saja ada yang mengganggu acaranya. Sial.
Ia menatap Hinata yang kini terlihat gelisah di bawah tatapan Naruto, dan menyipitkan matanya. "Berhenti menatapnya seperti itu, dobe."
Pria berambut pirang, bermata biru, berkulit tan itu seakan tersentak kaget, dan memandang Sasuke. "Maaf, aku hanya kaget." katanya sembari tertawa, meski hanya tawa pura-pura, dan mereka semua menyadari itu. Sakura melingkarkan lengannya di lengan Naruto. Hinata memandang ke arah lengan yang saling terkait itu, dan di balik meja makan kedua tangannya terkepal erat.
"Kebetulan sekali. Bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami? Lebih ramai lebih menyenangkan." Katanya sembari tersenyum menantang pada Sasuke. "Tak apa kan Naruto-kun?"
Dari sudut matanya, Sasuke dapat melihat Hinata mengernyit tak nyaman, dan ia kembali merutuki Sakura dalam hati. Naruto pun terlihat tak nyaman dengan situasi yang terjadi, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Kupikir tak masalah. Oi teme, ayolah. Kapan lagi kita bisa berkumpul bersama!" Mencoba mengabaikan perasaan bersalah yang mencubit hatinya, Naruto berkata dengan nada riang. Berpura-pura mengabaikan raut wajah Hinata yang dengan jelas menampilkan ekspresi bahwa dia rela berada di manapun selain di tempat ini.
Sasuke menghela nafas, dan memandang Hinata yang kini mengalihkan pandangannya ke arah luar. Ia kembali menatap Naruto dan Sakura. "Aku sedang makan malam bersama Hinata." Katanya singkat.
"Kupikir kalian sudah selesai," timpal Sakura. "Kau bisa bergabung dengan kami kan."
Sasuke mendengus. "Hanya aku saja?" Katanya, menyadari bahwa Sakura hanya merujuk pada dirinya.
Naruto tersenyum cerah. "Tentu saja, Hinata juga ikut." katanya, meskipun ia menyadari situasi tak mengenakkan pasti terjadi jika Hinata bergabung.
Hinata menoleh ke arah Naruto dengan cepat, seolah tak percaya. Matanya menyipit. Sasuke mulai waspada. Oh Tuhan, salahkah ia jika menginginkan satu malam yang tenang tanpa kekacauan seperti ini?
Hinata bergabung bersama keluarga Namikaze plus Sakura? Yang benar saja. Walaupun Namikaze Minato selalu bersikap ramah, bukan berarti Kushina akan berlaku demikian. Wanita itu pasti tak akan membuang kesempatan untuk membanggakan bahwa Naruto telah memilih seseorang yang tepat. Dengan kata lain, ia pasti meremehkan Hinata. Dan selama Sasuke berada di dekat Hinata, ia tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
"Aku tak ingin mengganggu." jawab Hinata seraya menggeleng,tak menutupi bahwa dengan jelas ia merasa tak nyaman akan situasi yang dihadapinya sekarang. Dari sudut matanya, Sasuke dapat melihat gadis itu bergerak gelisah di kursinya.
"Ayolah Sasuke-kun." Bujuk Sakura. "Kapan lagi kita bisa berkumpul bersama?"
"Aku tak apa." Jawab Hinata sembari berdiri. "Aku bisa menelpon Ko dan memintanya menjemputku."
Sasuke menatap tajam Hinata. "Duduk, Hyuuga." Katanya tegas, membuat Hinata langsung menurutinya dan Naruto mengernyit. Sasuke mengalihkan perhatiannya kepada Naruto dan Sakura. "Kalau kalian berani bertanggungjawab dan menjelaskan kepada Hiashi-sama kenapa Hinata pulang sendirian tanpa aku yang mengantarnya, maka aku akan ikut."
"Hiashi-sama?" Naruto berkata kaget.
Sasuke memandangnya. "Kau tak berpikir bahwa aku langsung membawa Hinata pergi begitu saja kan?" ujarnya datar.
"Kalau begitu, aku yang akan berbicara dengannya." Kata Sakura dengan tak sabar, mengeluarkan ponselnya. Sasuke mengangguk.
"Then by all means, go ahead Haruno." Ujar Sasuke, sementara Hinata memandang Sakura dengan tatapan tak percaya. Naruto sendiri segera menghentikan gerakan Sakura, lalu menggeleng.
"Jangan mencari masalah." Katanya tegas.
"Tapi aku hanya memberitahu bahwa Sasuke-kun akan bergabung bersama kita sehingga ia tak bisa menjadi sopir pribadi Hyuuga-san pulang." Bantah Sakura keras kepala, mencoba melepaskan cekalan Naruto.
"Hyuuga Hiashi bukanlah orang yang ingin kau lawan Sakura." Kata Naruto. "Dan jika ia mempercayakan Hinata pada Sasuke, maka Sasuke wajib menjaganya." Tambahnya menatap pada orang yang bersangkutan dengan getir.
"Hn. Dan ayahku juga tak akan senang jika aku membiarkan Hyuuga kesayangannya pulang sendirian. Bahkan ibuku akan membunuhku."
Sakura mendengus. "Jangan melebih-lebihkan Sasuke-kun. Fugaku jii-san bukan tipe orang yang seperti itu, dan Mikoto baa-san tak mungkin membunuhmu." Yang benar saja, mustahil kedua orang tua Sasuke memperlakukan Hinata seperti itu. Fugaku adalah sosok yang dingin bahkan setiap kali ia dan Naruto mengunjungi rumah Sasuke, ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana pria itu bersikap dingin. Dan Uchiha Mikoto terlalu menyayangi Sasuke untuk membiarkan sedikit bahaya pun menyentuhnya alih-alih mencelakakannya. Sasuke terlalu berlebihan.
Sasuke mengernyit waktu merasakan tendangan Hinata di kakinya, dan nada memperingatkan dari lirikannya. Ia mengacuhkan itu, dan berniat membalas ucapan Sakura ketika meja mereka kedatangan tamu lagi. Kali ini dalam bentuk seorang wanita berambut merah dan seorang pria berambut pirang. Namikaze Minato dan Kushina.
"Naru-kun, Sakura-chan, kenapa kalian malah berhenti di sini?" tanya wanita itu dengan wajah heran, dan memandang ke meja tempat pandangan Sakura dan Naruto tertuju. Ia mengangkat alisnya yang tertata sempurna sewaktu melihat Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata sedang duduk berdua, dan kelihatannya sedang menikmati makanan penutup mereka menilik dari chocolatte mousse milik Hinata yang kini terabaikan.
"Ah, ada Sasuke-kun dan Hyuuga-san rupanya." kata wanita itu. "Selamat malam. Kebetulan sekali bertemu di sini."
Sasuke mengangguk, meskipun yang ia ingin katakan bahwa ia sama sekali tak mengharapkan 'kebetulan' pada saat seperti ini. Ia bisa melihat Hinata yang hanya mengangguk sekilas.
"Ah, kami sedang merayakan keberhasilan Naruto-kun hari ini." Namikaze Minato berkata dengan ramah. "Bagaimana jika kalian bergabung? Semakin ramai akan semakin menyenangkan."
Sakura bersedekap. "Itu juga yang kukatakan dari tadi pada mereka, Minato Jii-san."
Hinata tak tahan lagi. Ia tiba-tiba berdiri, dan sedikit menundukkan kepalanya. "Maaf Namikaze-san. Ayahku sudah menunggu kepulanganku saat ini."Ia menoleh ke arah Sasuke. "Aku permisi ke belakang sebentar, jika Sasuke-kun ingin bergabung dengan mereka, seperti yang kukatakan tadi, aku akan menelpon Ko."
Dan ia pun berlalu pergi. Kushina memandangi kepergian Hinata dengan mata menyipit tak suka. "Kasar sekali." Katanya. Ia menoleh ke arah Sasuke. "Bagaimana mungkin kalian bisa bersama?"
Sasuke mendelik tak suka. Sejak kapan ibu Naruto sibuk mengurusi urusan pribadinya, sementara Naruto sendiri sedang memandang Sasuke dengan tatapan tak terbaca.
"Aku harus mengantar Hinata pulang." Kata Sasuke kemudian. Matanya menyipit sewaktu ia melihat Sakura memisahkan diri dari mereka.
"Kenapa?" Tanya Naruto pelan. Dan Sasuke memandangnya.
"Aku berjanji pada ayahnya, dobe. Dan juga Hanabi." Jawab Sasuke datar.
Ekspresi wajah Naruto terlihat keras. "Kau tahu dengan baik bukan itu maksud pertanyaanku."
"Seseorang harus berada di pihaknya, dobe." kata Sasuke sambil mengangkat bahu. "Dan membereskan kekacauan yang telah kau buat."
"Kenapa harus kau?" Balas Naruto, dan Minato merasa kedua pemuda di hadapannya berhak mendapatkan privasi tanpa ia dan Kushina berada di dekat mereka. Tapi Kushina menolak.
"Kenapa tidak." jawab Sasuke enteng. Naruto tahu dengan jelas alasannya, namun menolak mengakui hal itu. Cih, itu urusannya. Terserah Naruto ingin percaya atau tidak, yang jelas ia sudah memilih melepaskan Hinata, dan Sasuke hanya mengambil kembali haknya dari awal.
"Apa kalian akan membiarkan Hyuuga itu merusak persahabatan kalian?" Tanya Kushina tak percaya. "Ya Tuhan, jangan membuat malu hanya karena gadis sepertinya."
"Gadis sepertinya?" Ulang Sasuke, seakan menantang Kushina melanjutkan ucapannya.
"Dia gadis yang terlalu lemah. Terlalu penurut. Terlalu lembut. Seakan tak mampu berdiri sendiri tanpa ada orang lain yang menopangnya. Dan selain itu," Kushina mengerling ke arah Naruto dan Sasuke secara bergantian. "Kau memilih menghabiskan waktu bersama gadis sepertinya dibandingkan sahabat kecilmu. Itu mengecewakan."
Sasuke melirik tajam. "Hati-hati Kushina baa-san. Gadis sepertinya itu, memiliki darah Hyuuga mengalir di nadinya." Dan senyuman aneh bermain di bibir Sasuke. "Dan siapa bilang hanya Naruto dan Sakura yang merupakan sahabat kecilku. Ayahku bersahabat akrab dengan Hiashi jii-san."
Dan Kushina terdiam, terutama ketika Minato meletakkan tangannya di bahunya, seakan memperingatkannya agar merangkai perkataannya dengan hati-hati. Namikaze Corp memang perusahaan besar, tapi Hyuuga merupakan sang raja dalam dunia bisnis, politik dan pemerintahan. Satu-satunya yang dapat menyaingi mereka hanyalah keluarga Uchiha. Dan mengingat sepak terjang dua keluarga itu, bukan hal yang mustahil jika Sasuke dan Hinata sudah mengenal satu sama lain sejak lama.
"Tapi bukan berarti kau harus bergerak secepat itu?" Balas Naruto, menjambak rambutnya.
"Kau sendiri tak menunggu waktu lama untuk bersama Sakura." Balas Sasuke sambil mengangkat bahu. Ia lalu berdiri. "Jangan mencampuri urusanku, atau kalian akan menemukan keluarga Uchiha dan Hyuuga berdiri di belakangku." Ia lalu berjalan meninggalkan Naruto dan kedua orang tuanya menuju kasir.
Ck, malahan ia yang repot harus berjalan kasir karena mereka. Padahal ia bisa saja tinggal meminta pelayan mengantarkan billnya dan membayar di tempat tanpa harus repot-repot berurusan dengan kasir.
Mungkin lain kali, ia harusnya mengajak Hinata makan malam di apartemennya saja. Lebih aman. Dan resiko bertemu pengacau seperti Naruto dan Sakura sangat minim. Ia mengeluarkan ponselnya, dan mengirimkan pesan singkat pada Hinata bahwa ia menunggunya di luar.
Semoga saja gadis itu tak merutuki makan malamnya yang berubah jadi bencana ini.
Hinata sendiri sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan pertemuannya dengan Naruto, Sakura, dan kedua orang tua Naruto. Ia hanya kaget. Itu saja. Bertemu dengan mereka secara kebetulan tentu saja tak pernah masuk dalam rencana makan malamnya.
Naruto.
Bertemu dengannya anehnya tak membuatnya merasakan perasaan hangat yang biasa dirasakannya setiap kali ia bertemu dengan mata berwarna sapphire yang indah itu. Mungkin karena hatinya sudah menerima fakta bahwa hubungan mereka sudah benar berakhir dan rekonsiliasi diantara mereka sudah tak memungkinkan untuk terjadi.
Lagipula, bulan depan ia akan meninggalkan Jepang. Jadi tak ada alasan baginya untuk terpaku dengan masa lalu. Hinata mengeringkan kedua tangannya sewaktu merasakan ponselnya bergetar, dan segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Tersenyum begitu membaca pesan yang baru saja ia terima.
Menyimpan kembali ponselnya, Hinata segera berjalan keluar dari kamar kecil, hanya untuk menemukan Sakura sedang bersandar sambil bersedekap di dinding.
Ketika Sakura menghalangi jalannya, dan Hinata mengangkat alisnya, bingung.
"Jauhi Sasuke." Hanya itu yang disampaikan oleh Sakura. Tak ada basa-basi. Hanya peringatan.
Hinata mendongakkan kepalanya. "Kenapa?"
Sakura bersesekap. "Berhentilah memanfaatkan kebaikannya, Hyuuga. Dia itu hanya kasihan padamu."
Hinata hanya mengangkat bahu. Kata-kata Sakura tak akan berpengaruh apapun selama ia tahu kebenarannya. Dan kata kasihan tak ada hubungannya dengan sikap Sasuke kepadanya. Kenapa Sakura mencekalnya seperti ini? Merasa terancam dengan kehadiran Hinata kah? Tapi kenapa? Bukankah Hinata tak pernah sedikit pun mengganggunya? Kenapa gadis Haruno itu bersikap seakan-akan Hinata adalah lintah pengganggu yang harus disingkirkan?
Kesal dengan sikap Hinata yang sepertinya menganggap enteng dirinya, Sakura kehilangan kesabarannya. Ia tak peduli lagi jika kata-katanya terdengar kasar.
"Kau benar-benar menyedihkan Hyuuga. Bahkan untuk mempertahankan seorang pria saja kau tak mampu. Sekarang, kau mengemis di hadapan Uchiha. Apa kau tak punya harga diri? Kupikir keluarga Hyuuga keluarga terhormat."
Jika ada satu hal yang Hinata benci, itu adalah orang-orang yang menjelekkan keluarganya. Ia mencintai Hyuuga dan seluruh keluarganya. Menjelek-jelekkannya, ia tak masalah. Tapi, mengatai Hyuuga, sama saja mencari musuh dengannya. Hinata bisa saja membalas ucapannya dengan kasar, tapi hal seperti itu sama sekali tak pantas.
Jadinya, ia hanya menatap Sakura dengan tajam, membuat gadis berambut pink itu mundur selangkah, tak menyangka Hinata akan menatapnya dengan sedemikian rupa.
"Jika kau berpikir bisa mengintimidasiku, kau salah besar, Haruno. Aku dibesarkan di Hyuuga, dan yang sedang kau lakukan saat ini, hanya permainan anak kecil." ucapnya. "Sekedar peringatan untukmu, berhati-hatilah. Reputasimu bisa hancur jika kau salah memilih lawan."
Hinata melangkah melewati Sakura, sebelum akhirnya berhenti ketika ia berada di belakang gadis itu.
"Mengenai Sasuke. Selama ia tak menginginkan aku meninggalkannya, aku akan terus di sampingnya. Kau dan siapapun tak akan bisa membuatku pergi darinya."
Dan Hinata pun berjalan meninggalkan Sakura, yang terlihat tak menyangka mendapat respon seperti itu dari Hinata. Di pintu keluar, ia menemukan Sasuke yang sedang berdiri menantinya, dengan kedua tangan terbenam di saku celananya.
"Kau tak apa?" Tanya Sasuke begitu Hinata mendekat. Gadis itu hanya tersenyum sembari mengangguk. Memantapkan hati saat melihat Sasuke yang memandangnya dengan penuh kekhawatiran, bahwa ia tak akan membiarkan ucapan Sakura mempengaruhi pikirannya.
"Ayo pulang, Sasuke-kun." Katanya. "Besok, aku harus menemui Hizashi jii-san."
Sasuke menoleh. "Kenapa?"
Hinata hanya mengangkat bahu. "Aku tak tahu. Tou-san tak bilang apapun."
Dahi Sasuke mengernyit. Setahunya Hyuuga Hizashi berdomisili di New York, memimpin perusahaan Hyuuga yang ada di sana. Kenapa ia tiba-tiba ingin bertemu Hinata? Dilandai rasa curiga, Sasuke memutuskan bahwa ia akan menghadap Hiashi besok.
Puas dengan pemikiran itu, ia menatap Hinata yang berjalan di sampingnya dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Untuk saat ini, Sasuke berpikir, aku akan menikmati waktuku bersama Hinata.
.
.
.
To be continue
.
.
Huraaaay. Chap 3 selesai. Next chpter brarti bisa skiip saat Hinata berada di NY dan alasan kenapa Hizashi ingin bertemu dgn Hina-chan...:D
Terima kasih buat para readers-san yang sudah Fave, follow story ini.
Terima kasih juga buat para flamers, yang sudah rela membuang waktunya yang berharga buat menuliskan sepenggal emosi di kolom review saya ataupun di Pm..
Salam hangat
Shirayuki Ai
