Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuHina
Warning : OOC. Gaje. AU. MISTYPO. Alur lambat. Dan segala macam kesalahan lain yang ada di dalamnya.
Gak suka gak usah baca..:)
Don't like, don't read, don't bash..^^
Happy Reading...
.
.
.
NIGHTINGALE © Shirayuki Ai
.
.
Letting go means to come to the realization that some people are a part of your history, but not a part of your destiny - Steve Maraboli
.
.
Dulu, Hyuuga Hinata hanyalah murid lugu kesayangan para guru. Taat pada peraturan, hanya berteman dengan segelintir orang saja. Banyak yang membencinya, namun banyak juga yang mengagumi gadis itu. Ada kecantikan, keanggunan tersendiri dari caranya membawa diri. Tak tersentuh. Bagaikan seorang putri yang tak terjamah oleh hiruk pikuk dunia. Namun, bagi pihak yang membencinya, mereka akan mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati, yang sesungguhnya hanya mengungkapkan betapa irinya mereka pada sang gadis Hyuuga itu.
Tapi meskipun demikian, Hinata bukanlah gadis populer macam Sabaku Temari ataupun Yamanaka Ino, yang ceria dan tegas. Dia juga tak seperti Haruno Sakura yang terkenal. Hinata hanyalah Hinata. Gadis pemalu dari keluarga Hyuuga, yang selalu gugup jika harus bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Tentu saja Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Neji punya andil dalam hal ini. Salahkan sifat mereka yang selalu over protective terhadap gadis lembut ini. Berbanding terbalik dengan cara mereka terhadap Hanabi.
Karena itu, Hinata hanya mampu memandang dari jauh punggung Namikaze Naruto. Berharap dari jauh tanpa memiliki keberanian untuk mendekatinya. Tak ada harapan, itulah yang Hinata rasakan. Karena jelas Naruto tak akan memandangnya. Tidak, karena, Haruno Sakuralah yang pemuda itu inginkan. Tidak, karena Haruno Sakura jelas pantas mendapatkan Naruto dibandingkan dirinya. Haruno Sakura yang jelas jauh sempurna darinya, yang menyenangkan. Dua orang yang jelas sangat cocok satu sama lain. Dan Hinata hanya dapat berharap. Berandai-andai bahwa suatu saat Naruto akan menoleh kepadanya.
Pernahkah Hinata merasa cemburu pada Sakura? Tentu saja. Ia hanyalah manusia biasa. Perasaan yang dirasakannya wajar. Hanya saja, Hinata tak pernah membiarkan emosi negatif seperti itu mengkonsumsi dirinya. Tak ada gunanya. Ia lebih baik mensyukuri apa yang ia miliki ketimbang cemburu untuk hal-hal yang belum tentu baik.
Tak bisa dipungkiri, bersahabat dengan Ino dan Temari banyak membawa perubahan bagi dirinya. Perubahan, yang kadang dengan enggan diakui Neji membuatnya merasa kehilangan tempat sebagai pelindungnya. Hinata mulai berpikir tentang masa depan, tentang hal-hal yang ingin dilakukannya nanti. Menyadari bahwa perubahan itu merupakan suatu keharusan. Perlahan tapi pasti Hinata, ibarat bunga mawar yang akhirnya mekar setelah menunggu sekian lama.
Sakura meninggalkan Jepang. Dan Naruto mulai meliriknya. Menyadari keberadaannya. Harapan Hinata satu persatu perlahan menjadi kenyataan. Termasuk kedekatannya kembali dengan Sasuke. Untuk sementara, semua baik.
Hingga Sakura kembali. Dan semuanya berantakan. Hubungannya dan Naruto mencapai titik terendah, hingga membuat Hinata bertanya-tanya apakah ia hanya sekedar pelarian? Hanya pengganti di kala sang pujaan hati menjauh? Satu pertanyaan yang jelas selalu membuat Sasuke menggertakkan giginya dan berlalu pergi dengan raut wajah penuh kemarahan, ketika ia mengungkapkan pemikirannya.
Satu pertanyaan yang jelas ingin ia dapatkan jawabannya ketika ia bertemu dengan Naruto nanti. Ino sudah mewanti-wanti bahwa ia ingin ikut menemaninya bertemu dengan Naruto dan ia sama sekali tak menerima penolakan. Hinata terpaksa menurutinya. Terpaksa karena ia sama sekali tak ingin Neji mengetahuinya. Ia juga sudah mengirim pesan pada Sasuke untuk memberitahunya bahwa ia akan menemui Naruto bersama dengan Ino. Ia tak ingin mengambil resiko menghadapi kemarahan pria itu jika ia mendengarnya dari orang lain. Sasuke pasti tak akan suka. Tapi, setidaknya ia tak akan bisa mencegah pertemuan itu, mengingat dirinya sendiri sedang berada di Inggris sejak dua hari yang lalu.
Ia menyentuh bandul kalung berbentuk kipas yang terbuat dari berlian, yang kini tergantung di lehernya. Hadiah dari Sasuke sebagai ucapan selamat atas wisudanya. Hadiah yang membuatnya harus bertahan menghadapi godaan dari Ino dan Temari, bahkan Shikamaru. Ia menggelengkan kepalanya, merasa wajahnya memanas mengingat Sasuke yang tak menampilkan ekspresi apapun sewaktu Hinata memprotes hadiahnya, meskipun matanya yang berkilat jahil menunjukkan bahwa ia tak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Ia jelas menikmatinya.
"Nee-chan?" Hanabi membuka pintu kamar Hinata, tanpa mengetuk lagi. "Ino nee-san ada di bawah menunggumu. Kalian akan pergi?"
Hinata berdiri mengambil tas tangan dan ponselnya.
"Yup. Ino-chan akan menemaniku menemui Naruto." Jawabnya dan berniat melangkah keluar dari kamar, tapi Hanabi menghalangi jalan keluar. Dahinya mengernyit, dan ia bersedekap.
"Menemui makhluk itu? Untuk apa?"
Hinata mencolek hidung adiknya sambil tersenyum. "Ada Ino yang menemaniku, Hana-chan. Karena itu tak usah khawatir."
Hanabi terlihat berpikir dengan serius. Ia berpikir dengan penuh dengan pertimbangan, dan wajah calon kakak iparnya yang seakan sedang mengingatkan tugasnya muncul di benaknya.
"Aku ikut."
"Eh? Apa?"
.
.
.
.
Hinata mengaduk lattenya sembari memandang ke luar. Naruto belum datang dan bahkan tak memberi kabar sama sekali. Ia menghela nafas, menyadari bahwa untuk kesekian kali kelihatannya pria itu sama sekali tak bisa menepati janjinya untuk datang tepat waktu. Ino dan Hanabi yang duduk beberapa meja dari tempat Hinata terlihat bosan mengamati dan lebih memilih untuk menikmati cake.
Pikiran Hinata kembali berkelana sekali lagi. Besok lusa, ia akan berangkat ke New York. Impiannya untuk meneruskan studinya terpaksa harus ditunda selama satu tahun karena sang paman meminta bantuannya untuk bekerja di Hyuuga Corp sebagai sekretaris pengganti untuk sementara waktu. Bagi sebagian orang, sekretaris memang terlihat seperti pekerjaan sepele, tapi tidak di Hyuuga Corp. Setiap arsip dan file yang masuk, wajib diperiksa terlebih dahulu, memastikan bahwa itu sesuai keinginan sang paman. Pengaturan jadwal, pengecekan data dan segalanya bergantung pada si sekretaris. Karena itu sang paman sangat mempercayai Sarutobi Kurenai sebagai tangan kanan kepercayaannya selama ini, dan ketika wanita itu hamil dan ingin berhenti, sang paman malah berkompromi dan memberikan waktu setahun untuk beristirahat. Di sinilah peran Hinata muncul. Ia jelas tak dapat mengatakan tidak pada sang paman yang telah banyak membantunya selama ini. Sang paman yang telah menyelamatkan nyawanya sewaktu ia nyaris menjadi korban penculikan ketika ia masih kecil. Dan jika ia terpaksa harus menunda pendidikannya selama setahun, ia tak akan mengatakan protes apapun. Sang paman membutuhkan bantuannya, siapakah ia untuk menolak hal itu? Terlebih lagi jika sang ayah juga memintanya untuk membantu sang paman. Hinata bukan orang baru dalam dunia bisnis. Sang ayah dan kakak telah mengajarinya sejak ia kecil. Hanya saja, ia tak merasa tertarik sama sekali untuk menggeluti dunia itu. Ia memang minim pengalaman, tapi ia bukan gadis bodoh.
Sesungguhnya, Hinata merasa sedikit sedih meninggalkan kehidupannya di Jepang, tapi terkadang kau harus pergi dari tempat yang memberimu banyak kenangan pahit jika ingin memulai awal yang baru. Dan Hinata berharap, dengan kepergiannya, suatu saat nanti jika ia kembali, ia tak akan merasa sesak jika bertemu dengan masa lalunya. Ia bisa memandang mereka tanpa harus dibayang-bayangi oleh perasaan sedih.
Ia bisa mengerti keengganan Ino dan Hanabi untuk membiarkannya bertemu dengan Naruto seorang diri. Mereka jelas tahu bagaimana hancurnya dia saat itu. Bagaimana ia menyalahkan dirinya sendiri atas situasi yang terjadi. Dan bagaimana ia menolak untuk melakukan apapun selama berhari-hari.
Menjadi sosok yang seakan kehilangan pegangan hingga akhirnya Sasuke mengulurkan pelampung, menyelamatkannya. Dahi mulus tanpa kerutan itu mengernyit menyadari bahwa ia tak akan bertemu Sasuke untuk terakhir kalinya sebelum ia berangkat. Pria itu pasti tak akan senang. Oh, Hinata percaya Sasuke bahkan akan menyusulnya ke New York hanya untuk memprotes tindakannya yang pergi tanpa menunggunya kembali ke Jepang. Ia bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana raut wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu akan mengerut tak setuju. Bagaimana onyx itu akan menggelap. Dan Hinata sontak merasa geli membayangkannya.
Uchiha Sasuke jelas menjadi salah satu sosok penting dalam hidupnya. Sahabat yang berharga. Sahabat yang jelas menariknya keluar dari kegelapan di saat ia membutuhkannya.
"Maaf, aku terlambat!"
Suara itu jelas mengagetkan Hinata dari lamunannya. Ia menatap ke arah Namikaze Naruto yang baru saja duduk di hadapannya, berusaha mengatur nafasnya. Pria itu melonggarkan ikatan dasinya, dan tersenyum memandang Hinata yang sama sekali belum mengatakan apapun, hanya menatapnya tanpa kata.
"Jalanan macet, Hina-chan." katanya sambil tertawa, menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.
Hinata mengernyit sewaktu mendengar Naruto memanggil namanya dengan familiaritas yang kini terasa aneh. Dan reaksi itu tentu saja tak dilewatkan oleh Naruto, yang kemudian berhenti tertawa. Suasananya kini terasa canggung.
"Kau sudah lama menunggu, Hinata?" Tanyanya sekali lagi, berusaha menghilangkan kebisuan yang terjadi di antara mereka.
Hinata hanya menggeleng sambil tersenyum. "Apa kabar, Naruto-san?"
Dan Naruto terdiam. Panggilan resmi itu seakan menghantamnya. Seakan mereka tak pernah memiliki hubungan apapun kecuali pertemanan.
"Ah, aku b-baik." Jawab Naruto pelan sembari mengangkat tangannya, memanggil pelayan untuk mendekat. Untuk sesaat ia merasa lega ketika pelayan cafe tersebut langsung bergegas datang mendekatinya. Ia memesan secangkir kopi hangat, sebelum pandangannya kembali kepada Hinata.
"Aku senang mendengarnya." Jawab Hinata sembari mengaduk lattenya.
"Dan kau sendiri? Bagaimana kabarmu?" Naruto balik bertanya.
"Aku baik-baik saja. Sedikit sibuk akhir-akhir ini, tapi aku baik."
Naruto menganggukkan kepalanya, lega mendengar jawaban gadis itu. "Dan ah, selamat juga atas wisudamu, Hinata." Naruto tersenyum tulus. "Kudengar kau menjadi valedictorian?"
Hinata mengangguk. "Terima kasih." Bisiknya lirih.
Dan keduanya kembali terdiam.
Hinata menghela nafas. Ia sungguh merasa tak nyaman dengan situasi ini. Ia mencuri pandang ke arah Naruto yang kini sedang menerima kopinya sambil tersenyum.
Sang pria nyaris tak berubah. Ia masih sama seperti dulu. Hanya saja, Hinata dapat melihat gurat kelelahan yang membayang di matanya, meskipun pria itu berusaha menyembunyikannya.
"Jalanan macet sekali ya akhir-akhir ini?" Naruto meringis mendengarkan dirinya mengucapkan kata-kata itu. Ia kembali menggaruk kepalanya, tertawa, yang kemudian langsung berhenti ketika Hinata memandangnya tanpa kata. Ia terdiam kembali.
Suasana semakin terasa canggung.
"Kenapa?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Hinata. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, seakan kaget dengan dirinya sendiri. Sebelah alis Naruto terangkat, meminta tanpa kata agar Hinata meneruskan ucapannya.
Mengatur nafasnya, Hinata mencengkram tas tangannya, yang berada di pangkuan dengan erat. "Kenapa kau mengajakku bertemu, Naruto-san?"
Naruto kembali terdiam. Sejujurnya ia sendiri tak tahu apa alasannya pastinya mengapa ia mengajak sang gadis bertemu. Ia hanya tahu ia ingin melihat wajahnya. Ia ingin merasakan kedamaian hati yang selalu ia rasakan setiap kali Hinata berada di dekatnya.
Bohong. Ia tahu bukan itu alasannya sebenarnya. Ia merindukan gadis ini. Sejak pertemuan terakhir mereka di restoran malam itu, raut wajah Hinata seakan membayang di benaknya. Dan juga raut wajah Sasuke. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada hubungan apa di antara mereka? Apakah Hinata kini telah bersama Sasuke? Secepat itukah sang gadis melangkah maju dan melupakannya? Bukankah Hinata selama ini selalu menyukainya? Selalu menunggunya?
"Aku hanya ingin bertemu. Tak bolehkah?" Naruto akhirnya menjawab setelah menyadari Hinata menunggu jawabannya.
"Setelah sekian lama, dan kau baru ingin bertemu sekarang?" Ada nada tak percaya dalam nada suara Hinata, dan ia menggeleng. "Untuk apa?"
Naruto terdiam. Bingung memilih kata untuk menjawab pertanyaan sang gadis. Ia mengaduk kopinya, sembari merangkai kata dalam pikirannya.
"Karena kata-katamu waktu itu." Ujar Naruto pelan. "Sewaktu terakhir kali kita bertemu? Di kantorku."
"Kata-kataku?" Kedua alis Hinata terangkat. "Tentang aku menyerah itu? Kenapa? Apa hubungannya?"
"Itu-"
"Semuanya sudah selesai, Naruto-san. Aku tahu aku memang tak cukup berharga untuk berharap kau akan mengejarku, menemuiku-"
"Bukan begitu!" Sela Naruto agak keras, membuat Hinata terdiam. "Percayalah, aku ingin menemui waktu itu. Aku ingin sekali mengejarmu, menjelaskan bahwa segala yang terjadi hanya kesalahpahaman, bahwa Sakura dan aku tak memiliki hubungan apapun waktu itu. Bahwa kami hanya berteman."
Hinata sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun, membuat Naruto menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi, aku memikirkan kembali segala perbuatan dan tindakanku selama ini. Aku sama sekali tak dapat mengabaikan fakta bahwa kau memang benar, aku memang menempatkan Sakura sebagai prioritas utamaku dibandingkan kau yang berstatus kekasihku. Aku memang lebih memfokuskan perhatianku padanya daripada kepadamu."
"Katakan padaku Naruto-san. Apakah aku hanya pelarian bagimu? Apa-"
"-jangan bercanda, Hinata! Kau jelas bukan pelarian bagiku!" Sapphire itu menggelap marah, tak suka dengan ucapan Hinata. "Aku memang menyayangimu, dan memang menginginkanmu!"
"Dan begitu mudahkah perasaanmu beralih ketika dia kembali?"
"Aku." Ucapan Naruto terhenti di tengah jalan. "Aku terjebak dengan perasaan masa laluku." Ia membuang mukanya, merasa muak pada dirinya sendiri.
Hinata menggelengkan kepalanya, dan meminum lattenya dalam diam. Ia sadar akan tatapan serius Naruto yang tertuju kepadanya, namun ia mati-matian menahan emosinya. Seorang Hyuuga harus bersikap dingin dalam menanggapi setiap permasalahan yang terjadi. Dan Hinata bertekad untuk melakukan itu. Ia tak akan memperlihatkan kelemahannya di hadapan Naruto. Tidak lagi.
"Terjebak dengan perasaan masa lalu yang membuatku terlihat bagaikan onggokan sampah yang tak berharga dan bisa disingkirkan setiap waktu?"
"Demi Tuhan, Hinata!" Naruto berkata frustasi, menahan diri agar ia tak menaikkan suaranya dan membuat perhatian semua orang yang ada di cafe ini tertuju pada mereka. "Berhenti memandang remeh dirimu!"
Hinata menatap tajam Naruto. "Kenapa tidak?" Balasnya. "Bukankah memang itu kenyataannya?" ia tertawa miris. "Bahwa aku hanya seorang gadis bodoh yang bisa kau permainkan selama Haruno-san meninggalkanmu?" Ia mencengkram bajunya, tepat di bagian jantungnya berada. "Aku ... Sejak dulu.. Pandanganku hanya terpaut padamu. Dan aku sudah lama menyerah untuk berharap bahwa suatu saat kau akan mengalihkan tatapanmu itu ke arahku. Lagipula, siapa yang akan tertarik pada Hyuuga Hinata jika di sampingnya ada Haruno Sakura, kan?"
Tangan Hinata yang lain terhenti di udara, menyetop ucapan apapun yang ingin dilontarkan oleh Naruto. Ia butuh ini. Ia harus melakukan ini. Mengeluarkan segala perasaan yang selama ini membuatnya sesak. Jika ia ingin melangkah maju, ia harus berdamai dengan masa lalunya. Dan Naruto harus mendengarkannya kali ini. Mendengarkan segala hal yang ia dulu anggap sebagai bentuk kekhawatiran konyol yang tak beralasan.
"Tentu saja, aku menyerah Naruto-san. Aku sudah merasa senang melihat kau bahagia. Setidaknya, jika pria yang aku cintai bahagia, akupun bahagia. Jadi bayangkan betapa kaget dan senangnya aku sewaktu kau mulai mengalihkan perhatianmu padaku. Betapa bahagianya aku sewaktu kau mengatakan perasaanmu, dan menyatakan keseriusanmu dengan menemui Neji-nii dan Hana-chan. Aku menutup mata seolah tak peduli dengan peringatan mereka. Aku bahagia. Orang yang selalu kuperhatikan sejak dulu akhirnya membalas perasaanku."
Hinata berhenti sejenak, menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya yang kini ia rasa terlalu emosional. Ia tak ingin menangis. For God's sake. Naruto tak mengeluarkan komentar apapun, memandang diam tanpa kata sang gadis yang jelas dalam perjuangan mentalnya.
Hinata tersenyum. "2 tahun lebih bersamamu semuanya terasa indah, menyenangkan. Meskipun aku selalu dilanda kekhawatiran bahwa semua ini tak akan berlangsung lama. Bahwa suatu saat, semua yang aku perjuangkan akan berakhir dengan sia-sia. Kita hampir memasuki tahun ke-3 bersama. Dia kembali. Dan kau mulai terasa jauh. Aku mencoba meyakinkan diriku, bahwa ini bukan apa-apa. Dan tak seharusnya aku berpikiran seperti ini. Bahwa aku seharusnya percaya padamu." Hinata menunduk. Tangannya terkulai lemah di pangkuannya. "Aku bahkan mengatakan hal ini padamu, dan kau hanya menganggapku berpikiran terlalu jauh. Tapi bagaimana mungkin aku tidak berpikiran seperti itu, Naruto? Bagaimana mungkin aku tidak merasa takut jika kekasihku terus menerus membatalkan janjinya hanya karena dia? Bagaimana aku tak merasa khawatir jika kekasihku lebih sering menghabiskan waktu bersama orang lain yang bukan kekasihnya? Janji yang terus menerus dibatalkan, aku yang terus menerus dibuat menunggu bagaikan orang bodoh. Pandangan kasihan yang ditujukan oleh orang-orang yang berada di tempat yang sama ketika aku menunggumu dan kau lagi-lagi membatalkannya karena dia?"
Hinata mengangkat kepalanya, dan Naruto merasa jantungnya seakan diremas sewaktu melihat bulir bening mulai mengalir turun dari sudut mata sang gadis di hadapannya.
"Aku lelah Naruto. Apa yang terjadi waktu itu.. Its like a wake up call for me. Aku lelah dibuat menunggu olehmu. Aku lelah menanti ucapan bahwa kau mencintaiku. I'm done being tossed aside." Sang gadis tiba-tiba mengeluarkan uang dari tasnya, meletakkannya di meja, dan berdiri. "Maaf. Aku harus pergi."
Dan ia pun berlalu. Naruto hanya mampu memandangi kepergiannya tanpa mampu bergerak dari tempatnya duduk. Ia bisa melihat sesosok gadis berambut pirang ikut berlari keluar, menyusul Hinata.
Menundukkan kepalanya. Rekaman kejadian tadi seakan terus menerus terulang di kepalanya. Ia telah membuat Hinata menangis. Ia telah membuat gadis baik hati itu terluka. Ia telah... Oh damn it. Ia ingin memukul dirinya sendiri sekarang. Sasuke memang benar, ia memang pantas mendapatkan pukulan itu. Ya Tuhan, ia memang pria yang tak berperasaan. Egois. Hanya peduli pada diri dan perasaannya sendiri. Ia bersalah pada Hinata. Ia dan Sakura. Mereka berdua bersalah. Hinata pantas membenci mereka.
Suara kursi di tarik, membuat Naruto mendongakkan kepalanya. Ia mengernyit mendapati sosok Hyuuga Hanabi duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Hinata, dengan kedua tangan tersilang di depan dadanya. Matanya tajam tanpa ada senyuman bermain di wajah ceria itu. Sejenak, Naruto dapat melihat kemiripannya dengan sang kakak, Hyuuga Neji.
"Apa kau puas?" Tanyanya datar. "Menyakiti kakakku seperti itu?"
Naruto merasa perutnya seakan ditinju. Puas? Seburuk itukah anggapan mereka padanya?
"Berbanding terbalik dengan sikap semua orang, aku justru berterima kasih atas tindakanmu." Hanabi kembali berkata. Ia mengangkat bahu dengan malas. "Karena jika kau tak melakukan kesalahan, dia tak akan mungkin bisa masuk ke kehidupan Hina nee-chan seperti sekarang."
Sang Hyuuga termuda itu lalu berdiri. Nyaris tersenyum melihat wajah Naruto yang kini mengeras.
"Apa maksudmu?"
Hanabi tak lagi menahan dirinya, seulas senyum mengembang di bibirnya, meskipun senyum itu terlihat bagaikan senyum kepuasan karena berhasil menempatkan orang yang tak ia sukai di posisi yang paling tak mengenakkan.
"Tentu saja aku berbicara tentang calon kakak iparku... Uups, seharusnya aku tak boleh bilang." Hanabi berkata dengan nada menyesal, meskipun raut wajahnya sama sekali bertentangan dengan apa yang dikatakannya. Matanya terlihat berbinar-binar, terutama ketika tangan Naruto yang terletak di meja terkepal erat. Ia menunduk, bertekad semakin menambah luka pada sang pria yang dengan brengseknya menyakiti sang kakak.
"Tou-san dan okaa-san sudah setuju. Dan kami pun demikian. Hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum pernikahan akan terjadi..."
Kepala Naruto mendongak, menatap Hanabi dengan dingin. "Hinata tak akan menikah dengan siapapun kecuali denganku."
Hanabi tertawa. "Ingat posisimu, Namikaze-san." Ia melambai-lambaikan tangannya. "Kau sudah punya kekasih. Siapa kau sehingga berhak mengatakan bahwa kakakku akan menikah denganmu." Ia mendengus.
"Hinata mencintaiku, dan akan selalu begitu."
Hanabi mengangkat alisnya, berpura-pura kaget. "Aku mungkin masih berusia 14 tahun, Namikaze-san, tapi aku bukan gadis kecil yang bodoh dan naif. Satu hal yang aku tahu, perasaan bisa berubah. Untuk apa nee-chan memilih seseorang yang selalu mengabaikannya daripada seseorang yang selalu berusaha membahagiakannya." Ia tersenyum kembali. "Senang berjumpa denganmu, Namikaze-san. Kuharap kita tak perlu bertemu kembali dan membuang waktu seperti ini."
Naruto berdiri. "Pria itu... Sasuke kah?"
Hanabi yang baru berjalan beberapa langkah, mrnolehkan kepalanya. "Aku tak akan menyebutkan nama. Belum boleh. Tapi...," Ia tersenyum. "Pria itu sahabat nee-chan sejak kecil." Katanya santai. "Keluarga kami bersahabat sejak dulu."
Kali ini sang gadis Hyuuga berjalan tanpa menoleh kembali. Ia menuju ke kasir untuk membayar pesanannya sekaligus memesan cinnamon rolls untuk di bawa pulang.
Mau menikahi nee-channya? Jangan membuat Hanabi tertawa. Sang gadis kecil itu sungguh tak habis pikir dengan ucapan Naruto tadi. Merasa terganggukah pria itu dengan fakta bahwa kakaknya melangkah maju meninggalkannya selamanya? Kenapa ia merasa tak suka? Bukankah ia yang lebih dulu melangkah maju dengan gadis berambut gulali itu? Ia membaca di berita bahwa pesta pertunangan mereka akan segera dilaksanakan. Tak ingin membuang waktu lagi kelihatannya.
Hanabi mendengus kembali. Ia berjalan keluar cafe sambil merogoh ponselnya yang berada di dalam tas, tanpa memperhatikan depan.
Ia terhuyung ke belakang ketika merasa bahunya ditabrak oleh seseorang. Mengangkat kepalanya, berniat meminta maaf karena telah menabrak. Namun kata-kata yang telah dirangkainya urung keluar dari bibirnya sewaktu menyadari bahwa orang yang ditabraknya tak lain adalah Haruno Sakura, yang kini menatapnya.
Gadis itu menjentikkan jemarinya di depan wajah Hanabi dengan tak sabar. "Bukankah harusnya kau mengatakan sesuatu?"
Menegapkan badannya, Hanabi mengangkat alisnya. She's a spoiled Hyuuga, jelas ia tak terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Dan ia tak menyukainya sama sekali.
"Aku baru saja akan meminta maaf, tapi sikapmu barusan jelas membuatku mengurungkan niat." Jawab Hanabi jujur. Ia memandang ke sekeliling, mencoba mencari di mana mobil Yamanaka Ino terparkir.
Sakura mendengus, membalikkan badan dengan jengkel sembari menggerutu. "Kakak dan adik sama saja. Tak tahu diri."
Mata Hanabi menyipit tajam. Tadinya ia jelas menolak untuk melanjutkan kontak di antara mereka, namun mendengar gerutuan seperti itu membuatnya terhina. Menjelekkan dirinya, ia masih bisa terima. Tapi menjelekkan nee-chan yang disayanginya, jangan harap Hanabi akan membiarkannya begitu saja.
"Tak tahu diri?" Desisnya. "Bukankah kata-kata itu lebih pantas untukmu. Pengacau hubungan orang?"
Hanabi jelas berbeda dengan Hinata. Jika sang kakak selalu berhati-hati dengan ucapannya, Hanabi justru tak pedulian. Ia akan mengatakan apa yang dipikirkannya. Melakukan apapun yang ingin ia lakukan. Bahkan Hyuuga Hiashi pun terkadang hanya bisa menghela nafas melihat kelakukan si firecracker Hyuuga ini. Berlidah tajam sama seperti sang kakak tertua.
"Jangan mengomentari hal yang bukan urusanmu, anak kecil. Umurmu bahkan belum pantas mengurusi masalah orang dewasa!" Sakura membentaknya. Sungguh anggota Hyuuga itu benar-benar orang yang sangat menyebalkan.
"Oh, jadi kau termasuk orang dewasa?" Hanabi menyeringai kembali, sama sekali tak merasa takut kepada Sakura yang kini sudah berdiri di depannya. Mereka kini sudah menjadi pusat perhatian beberapa orang, dan Hanabi tak bisa lagi bergembira lebih dari ini. Semoga saja ada wartawan yang meliput kejadian ini. Ia berniat membuat sosok di hadapannya ini semakin jelek di mata publik. "Kupikir kau bagaikan anak kecil yang iri karena kehilangan mainannya." Ia tertawa. "Dan ah, aku memang anak kecil, tapi apa kau lupa.. Ah ya. Kau bahkan tak tahu bagaimana rasanya dibesarkan di lingkungan Hyuuga. Tinggal di sana bisa membuatmu dewasa sebelum waktunya." Ia menambahkan dengan nada berbisik.
"Hana-chan. Ayo pulang. Hina-chan sudah menunggu di mobil." Yamanaka Ino muncul dari belakang Hanabi dengan raut wajah ceria. Ia tadi melihat dari jauh adik kesayangan sahabatnya sedang mengobrol dengan seseorang dan berniat mengingatkannya. Karena itu ia segera mendekatinya tanpa melihat siapa lawan bicara Hanabi.
"Ino-pig."
Suara itu membuat gerakan Ino berhenti ditempat dan ia segera menoleh. Sakura berdiri tepat di hadapannya. Ia menoleh lagi ke arah Hanabi, yang hanya mengangkat bahu.
"Haruno-san." Jawab Ino membalas sapaan Sakura dengan formal. Mereka dulu mungkin berteman akrab tapi ada hal-hal tertentu yang dapat membuat sebuah hubungan pertemanan menjadi renggang. Dan dalam hal ini, sikap Sakura yang lebih memilih untuk memutuskan hubungan persahabatannya demi seorang Uchiha Sasuke lah penyebabnya.
"Wah, sekarang semua orang menganggapku asing. Pertama Sasuke, lalu kau." Sakura tertawa. Lalu raut wajahnya mengeras. "Pasti ini semua karena gadis lemah itu."
"Lemah?" Hanabi berkata tak percaya. "Nee-chanku tidak lemah!"
Sakura menoleh ke arah Hanabi. "Benarkah? Lalu kenapa kalian yang maju dalam pertarungannya? Kenapa bukan dia sendiri? Selalu berlindung di belakang orang lain..Menjijikkan!"
Hanabi berusaha maju, ingin melakukan sesuatu terhadap Sakura, namun Ino, dengan kekuatan yang sama sekali tidak Hanabi sangka, mencengkram lengannya, menahannya di tempat.
"Karena banyak yang mencintainya, dan rela mengotori tangannya demi gadis itu. Tapi kurasa orang sepertimu tak akan mengerti hal itu, bukan?" Ino menjawab sambil tersenyum. Ia menarik Hanabi agar berdiri di sisinya dengan tenang.
Tangan Sakura terkepal erat. Emerald menajam. "Apa kau bermaksud mengatakan bahwa Sasuke-kun mencintainya juga?"
Ino terkikik geli. Rambutnya yang dikuncir ekor kuda bergoyang. "Astaga, Haruno! Aku mengatakan banyak orang, dan kau langsung menyimpulkan Sasuke!"
Sakura mendengus. "Tentu saja, bodohnya aku. Sasuke-kun jelas tak akan sudi berdekatan dengannya."
Hanabi melirik ke arah Ino yang kini terlihat seperti baru saja mendapatkan hadiah. "Benarkah? Aku pikir kau sudah tahu. Astaga! Jadi kau belum tahu sama sekali? Ya ampun..."
"Apa maksudmu? Tahu apa?" Sakura mendadak mengernyitkan keningnya. Ia tersentak kaget waktu mendapati Naruto yang tiba-tiba berdiri di sampingnya, entah sejak berapa lama.
Ino tersenyum. "Hina-chan itu cinta pertama Sasuke loh." Ia menoleh. "Iya kan Hanabi? Dan bukan begitu, Namikaze-san? Sebagai sahabatnya, kurasa kau pasti mengetahui hal ini."
Kill two birds with just one stone.
"A.. Apa?"
Hanabi mengangguk puas, bahagia melihat wajah putri tunggal keluarga Haruno itu memucat. "Sasuke-nii sendiri yang bilang. Bagaimana tidak? Nee-chan dan Sasuke-nii itu sudah saling kenal sejak lama. Sejak mereka berumur 6 tahun."
Ino menatap Sakura dengan tatapan mengejek. "Jadi berhenti bersikap seolah kau satu-satunya wanita yang dekat dengannya selain ibunya. Hina-chan sudah lebih dulu berhubungan dengan Sasuke. Jauh sebelum kau mengenalnya, Haruno Sakura."
Dan Sakura merasa lantai yang dipijaknya runtuh. Kegelapan menerkamnya.
.
.
.
Hinata menghela nafas sekali lagi. Menggelengkan kepala berusaha menghilangkan kenangan tentang pertemuannya dengan Naruto terakhir kali, juga mengenai apa yang terjadi setelahnya berdasarkan cerita Hanabi dan Ino. Ia tak ingin mengingat itu. Lupakan. Lupakan, pikirnya berulang-ulang. Bukankah karena itu ia akhirnya berada di sini? Meninggalkan Jepang dan menjauh dari segalanya. Ia hanya berharap semoga Sasuke tak membunuhnya setelah ini. Ia pergi tanpa mengatakan apapun. Ia bahkan tak menelponnya sama sekali.
Ya. Hinata kini berada di New York. Jauh dari keluarga dan sahabatnya. Berada di kota metropolitan yang tak pernah tidur. Berada di Upper East Side, di depan pintu sebuah apartemen, calon tempat tinggalnya selama satu tahun ke depan. Menggenggam erat secarik kertas berisikan alamat yang ia dapat dari sang ayah. Sejenak ia merasa heran kenapa sang ayah menyuruhnya tinggal si tempat ini sementara mereka sendiri memiliki rumah di sini?
Tapi, jelas sang ayah tak mengatakan apapun. Hanya sang kakak yang memberinya informasi bahwa ia akan tinggal di tempat orang yang dipercaya oleh ayah mereka. Meskipun raut wajah sang kakak yang terlihat sama sekali tak suka dengan kenyataan itu sempat membuatnya curiga. Hinata mengerutkan kening. Ucapan sang kakak sewaktu mengantarnya di bandara juga membuatnya bingung.
Apa maksud Neji-nii yang bilang aku harus berhati-hati terhadap serigala lapar ya?
Berbeda dengan sang kakak yang sepertinya sama sekali tak rela dengan kepergian sang adik, ayah dan ibunya terlihat bangga dengan kenyataan bahwa anak gadis mereka telah beranjak dewasa. Meskipun ia juga mencurigai bahwa sang ibu yang melarang sang ayah untuk bertindak aneh-aneh lagi, dan menyetujui sikap Neji untuk mengurung Hinata dari dunia luar. Hanabilah yang paling mencurigakan di antara mereka semua. Hinata berpikir imouto nya itu akan menangis, dan berusaha menghalangi sang kakak agar pergi. Tapi, yang ada ia malah tersenyum sumringah dengan Ino,Temari dan Shikamaru di sisinya. Wajah mereka terlihat seperti puas akan sesuatu. Benar-benar membuat Hinata penasaran. Tapi, tetap saja ia melangkahkan kakinya memasuki pesawat.
Sang paman sama sekali tak menjemputnya ketika ia akhirnya tiba di New York, hanya mengirimkan mobil jemputan karena ia sama sekali tak bisa meninggalkan pekerjaan di kantor. Dan Hinata merasa hal itu bukan masalah, mengingat ia sendiri tak ingin membuat repot sang paman.
Tapi, berdiri di depan pintu apartemen seorang diri seperti ini membuatnya ragu. Berdoa dalam hati, ia mengulurkan tangannya untuk menekan tombol intercom.
Hening sama sekali tak ada jawaban.
Hinata mengerutkan keningnya, menggigit bibir bawahnya ketika pikiran buruk mulai bermunculan. Kami-sama, di apartemen ini ada orang kan? Ia tidak mungkin menunggu terus-terusan di depan pintu seperti ini.
Menekan tombol kembali, ia memejamkan mata. Berdoa semoga pintu terbuka.
Ia menghela nafas dan menundukkan kepalanya sewaktu pintu dibuka. Yang pertama ia lihat adalah sepasang kaki yang terbalut celana putih panjang. Pandangan Hinata naik ke atas, melihat pinggang sang pemilik badan, yang mengenakan kaos berwarna hitam.
Lalu, lavender dan onyx bertemu. Nafas Hinata seakan terhenti. Kedua matanya membelalak lebar sewaktu sadar bahwa sosok di hadapannya sedang menyeringai padanya.
"I... Itachi-nii?"
#################
To be continue
#################
Holaaaa... Ai balik lagi..:)
Maafkan karena di chap ini No sasuhina moment..T^T. Tapi janji deh, di next chapter bakal moment mereka...:D
Terima kasih yang udah follow, fave fic ini..
Tebar peluk dan cium...#digampar..
Anyways, Jangan lupa review ya..
Salam Hangat
Shirayuki Ai
