Aku sedang memasuki sebuah dunia lain. Wanita muda yang menatapku balik dari cermin kelihatan layak di sebuah acara karpet merah. Baju ini pas untuk tubuh kurus yang aku miliki. Aku memerah dari gerakan konstan dari bola perak. Ya, mereka akan menjaminku memiliki beberapa warna di pipiku malam ini. Menggelengkan kepala karena keberanian ide-ide erotis Jongin, lebih baik aku pergi mencari Shades Fifty-ku.

Jongin berbicara dengan Taylor dan tiga pria lainnya di depan ruang masuk, punggungnya di depanku. Ekpresi terkejut dan terpesona mereka menyadarkan Jongin akan kehadiranku. Dia berputar saat aku berdiri dan menunggu dengan canggung.

Astaga! Mulutku kering. Jongin terlihat sangat mempesona. Jas hitam, dasi kupu-kupu hitam, dan ekspresi wajahnya saat dia menatapku adalah suatu kekaguman. Jongin berjalan ke arahku dan mencium kepala rambutku.

"Sehun. Kau terlihat mempesona."

Aku memerah atas pujian Jongin di depan Taylor and para pria lain. "Segelas sampanye sebelum kita pergi?"

"Please," Bisikku, terlalu cepat.

Jongin mengangguk ke Taylor yang menuju ke serambi dengan tiga orang pengikutnya. Di ruang besar, Jongin mengambil sebotol sampanye dari lemari es.

"Tim Keamanan?" Tanyaku.

"Perlindungan tertutup. Mereka berada di bawah kendali Taylor. Dia terlatih dalam hal itu, juga" Jongin memberiku segelas sampanye.

"Dia sangat serbaguna."

"Ya." Jongin tersenyum. "Kau tampak tampan,Sehun. Bersulang" Jongin mengangkat gelasnya, dan aku mendentingkannya dengan gelasku. Sampanyenya berwarna mawar pucat. Rasanya segar yang nikmat dan ringan.

"Bagaimana perasaanmu?" Jongin bertanya, matanya memanas.

"Baik, terima kasih." Aku tersenyum manis, tak menunjukan apapun, aku paham benar kalau perkataan Jongin barusan mengacu pada bola perak.

Jongin menyeringai ke arahku. "Ini, kau akan membutuhkan ini."

Jongin memberiku kantong beludru besar yang sedang terletak di meja dapur. "Buka saja," katanya diantara tegukan sampanye.

Penasaran, aku merogoh kantong itu dan mengeluarkan sebuah topeng masquerade perak rumit dengan bulu biru kobalt yang bergumpal membentuk seperti mahkota di atasnya.

"Ini topeng pesta," Jongin menyatakan terus terang.

"Iya aku tahu."

Topengnya indah. Sebuah pita perak berulir sekitar tepi dan renda halus perak indah yang terukir di sekitar bagian mata.

"Ini akan memamerkan mata indahmu, Sehun."

Aku nyengir padanya, malu-malu. "Apakah kau akan memakai juga?"

"Tentu saja," tambah Jongin, mengangkat alis, dan dia menyeringai. Oh. Ini akan menyenangkan.

"Ayo. Aku ingin menunjukkan sesuatu." Jongin mengulurkan tangannya, Ia membawaku keluar ke lorong ke pintu samping tangga.

Jongin membukanya, menampilkan sebuah ruangan besar kira-kira seukuran dengan playroom, yang pasti berada langsung di atas kami. Kamar yang satu ini diisi dengan buku-buku. Wow, sebuah perpustakaan, setiap dinding penuh dari lantai sampai langit-langit. Di tengah adalah sebuah meja biliar ukuran penuh yang diterangi oleh lampu Tiffany berbentuk prisma segitiga panjang.

"Kau memiliki perpustakaan!" Aku berdecak kagum, kewalahan dengan kegembiraan.

"Ya, ruang permainan bola seperti Suho menyebutnya. Apartemen ini cukup luas. Aku menyadari hari ini, ketika kau menyebut menjelajahi, bahwa aku tak pernah memberimu tur. Kita tak punya waktu sekarang, tapi aku pikir aku akan menunjukkan ruangan ini, dan mungkin menantangku untuk permainan biliar dalam waktu yang tak terlalu lama."

Aku menyeringai pada Jongin. "Coba saja."

Aku diam-diam memeluk diriku dengan gembira. Kris dan aku akrab di meja billiard. Kami sudah bermain selama tiga tahun terakhir. Aku jago dengan tongkat kayu. Kris adalah guru yang baik.

"Apa?" Jongin bertanya, geli.

Oh! Aku benar-benar harus berhenti mengekspresikan setiap emosiku begitu aku merasakannya, aku memarahi diriku sendiri.

"Tidak," kataku cepat.

Jongin menyipitkan matanya. "Yah, mungkin Dokter Flynn dapat mengungkap rahasiamu. Kau akan bertemu dengannya malam ini."

"Paranormal yang mahal?" Astaga.

"Ya, orang yang sama. Dia ingin sekali bertemu denganmu." Jongin meraih tanganku dan dengan lembut menggosokkan ibu jarinya di buku-buku jariku saat kami duduk di belakang Audi menuju utara.

Aku menggeliat, dan merasakan sensasi di pangkal pahaku. Aku menahan diri untuk mengerang, karena Taylor ada di depan, tidak mengenakan iPod-nya, dengan salah satu dari orang-orang keamanan yang namanya aku pikir adalah Sawyer. Aku mulai merasakan nyeri yang samar nikmat diperutku, yang disebabkan oleh bola-bola itu. Iseng-iseng, aku bertanya-tanya, berapa lama aku bisa bertahan tanpa, um. . . pelepasan? Aku membuka kakiku. Saat aku lakukan itu, sesuatu yang telah mengelitik di belakang pikiranku tiba-tiba muncul.

"Darimana kau mendapatkan lipstick?" aku bertanya pada Jongin dengan pelan.

Jongin menyeringai padaku dan menunjuk ke depan. "Taylor," katanya.

Aku langsung tertawa terbahak-bahak. "Oh." Dan berhenti dengan cepat - bola-bola itu. Aku menggigit bibir. Jongin tersenyum padaku, matanya berkilauan licik. Jongin tahu pasti apa yang dia lakukan, si bangsat yang seksi.

"Tenang," Jongin mendesah. "Jika terlalu banyak. . . " Suaranya menghilang, dan ia dengan lembut mencium setiap buku jariku satu per satu, kemudian dengan lembut mengisap ujung jari kelingkingku.

Sekarang aku tahu Jongin melakukan ini dengan sengaja. Aku menutup mataku saat hasrat gelap terbentang di seluruh tubuhku. Aku menyerah sesaat pada sensasinya, otot-ototku menegang dalam diriku. Oh my. Ketika aku membuka mata lagi, Jongin menatapku tajam, seorang pangeran kegelapan. Itu pasti karena jaket jasnya dan dasi kupu-kupu, tapi dia tampak lebih tua, mutahir, si cabul yang amat tampan dengan niat tak bermoral. Jongin membawa nafasku pergi. Aku menjadi budak seksnya, dan jika aku percaya padanya, Jongin adalah milikku. Pikiran ini membawa senyum ke wajahku, dan seringai jawabannya menyilaukan.

"Jadi apa yang bisa kita harapkan di acara ini?"

"Oh, hal-hal yang biasa," Jongin berkata dengan lembut.

"Tidak biasa bagiku," Aku mengingatkannya.

Jongin tersenyum dengan gairah dan mencium tanganku lagi. "Banyak orang memamerkan uang mereka. Lelang, undian, makan malam, berdansa dan menari — ibuku tahu bagaimana caranya untuk mengadakan pesta." Jongin tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya sepanjang hari ini, aku membiarkan diriku merasa sedikit bersemangat tentang pesta ini. Ada antrian mobil mahal menuju jalan masuk sebuah rumah besar berwarna abu-abu. Lentera kertas merah muda pucat dan panjang menggantung sepanjang jalan, dan saat kami lebih dekat ke Audi, aku bisa melihat mereka di mana-mana. Dalam cahaya sore hari, mereka terlihat magis, seolah-olah kami sedang memasuki kerajaan ajaib. Aku melirik Jongin. Cocok sekali untuk pangeranku — dan kegembiraan kekanak-kanakanku merekah, menutupi semua perasaan lainnya.

"Pasang topeng," Jongin nyengir, dan saat dia mengenakan topeng hitam sederhananya, pangeranku berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih sensual. Semua yang bisa aku lihat di wajahnya adalah mulutnya yang seperti dipahat and rahangnya yang tajam.

Astaga. . . Detak jantungku melompat saat melihat dirinya. Aku mengencangkan topengku dan tersenyum padanya, mengabaikan rasa lapar yang mendalam dalam tubuhku. Taylor menarik ke jalan masuk, dan seorang valet membuka pintu Jongin. Sawyer melompat keluar untuk membuka pintuku.

"Siap?" Jongin bertanya.

"Sepertinya aku siap."

"Kau terlihat mempesona, Sehun." Jongin mencium tanganku dan keluar dari mobil.

Sebuah karpet hijau gelap terhampar di sepanjang lintasan menuju ke salah satu sisi rumah, mengarah ke halaman mengesankan di bagian belakang. Jongin melingkarkan lengannya secara protektif ditubuhku, meletakkan tangannya di pinggangku, saat kami mengikuti karpet hijau bersama dengan orang-orang elit Seattle mengenakan riasan terbaik mereka dan mengenakan segala macam topeng dengan lentera menerangi jalan. Dua orang fotografer mengarahkan tamu-tamu untuk berpose untuk mengambil foto dengan latar belakang rumah tanaman yang ditebari tanaman menjalar.

"Mr. Kim." Salah satu fotografer memanggil.

Jongin mengangguk mengakui dan menarikku dekat saat kami berpose dengan cepat untuk foto. Bagaimana mereka tahu itu Jongin? Tak diragukan lagi dari rambut tembaga sulit-diatur yang menjadi ciri khasnya.

"2 fotografer?" Aku bertanya pada Jongin.

"1 orang dari koran The Seattle Times; 1 orang lagi untuk souvenir. Kita bisa membeli hasilnya nanti."

Oh. Fotoku di pers lagi.

Leila sekilas memasuki pikiranku. Ini adalah caranya dia menemukanku, berpose dengan Jongin. Pikiran ini mengganggu, meskipun pikiranku lalu terhibur karena aku tak akan dikenali di balik topengku. Pada akhir barisan, para penyaji berpakaian putih memegang nampan gelas penuh dengan sampanye, dan aku bersyukur ketika Jongin memberiku segelas - efektif mengalihkanku dari pikiran gelapku.

Kami mendekati pergola putih besar yang tergantung dihiasi lentera kertas dengan versi yang lebih kecil. Di bawahnya, lantai dansa hitam dan putih kotak-kotak yang bersinar dikelilingi oleh pagar rendah dengan pintu masuk di tiga sisi. Pada setiap pintu masuk berdiri dua patung es angsa berdetil rumit. Sisi keempat pergola ditempati oleh panggung di mana kuartet alat musik gesek bermain dengan lembut, sebuah lagu lembut dan mendayu yang aku tidak kenali. Panggung terlihat dibangun untuk sebuah band besar tapi belum ada tanda-tanda para musisi. Aku pikir ini pasti untuk nanti. Mengambil tanganku, Jongin membawaku diantara patung angsa ke lantai dansa dimana tamu lain berkumpul, mengobrol sambil memegang gelas sampanye.

"Berapa banyak orang yang datang?" Aku bertanya pada Jongin, terkejut oleh besarnya tenda.

"Aku kira sekitar tiga ratus. Kau harus bertanya pada ibuku." Jongin tersenyum ke arahku dan mungkin itu karena aku hanya bisa melihat senyum yang mencerahkan wajahnya, namun dewa batinku sudah pingsan.

"Jongin!"

Seorang laki-laki muda muncul keluar dari kerumunan dan melempar pelukan di lehernya, dan segera aku tahu dia itu Taemin. Dia mengenakan kemeja putih ramping seluruh badan berbahan kain sifon dengan topeng Venetian indah dengan detil halus yang cocok. Dia tampak luar biasa. Dan untuk sejenak, aku tak pernah merasa begitu bersyukur atas setelan baju yang telah Jongin berikan padaku.

"Sehun! Oh, Sayang, Kau terlihat tampan dan manis." Taemin memberiku pelukan cepat. "Kau harus datang dan bertemu teman-temanku. Tak satu pun dari mereka percaya bahwa Jongin akhirnya punya pacar."

Aku melirik panik sekilas pada Jongin, yang mengangkat bahu tanda menyerah yang menunjukan aku-tahu-dia-tak masuk akal-aku-harus-hidup-dengan-nya-untuk-bertahun-tahun, dan membiarkan Taemin membawaku ke kelompok empat orang yang terdiri dari 2 pria muda dan 2 wanita, semua berpakaian rapi yang mahal dan tanpa cela. Taemin membuat perkenalan singkat. Tiga dari mereka jelas tampan, manis dan baik, tapi Lily, aku pikir namanya, menilaiku dengan masam dari balik topeng merahnya.

"Tentu saja kami semua berpikir Jongin itu gay," kata Lily menghina, menyembunyikan kebenciannya dengan senyum lebar palsu.

Taemin cemberut padanya. "Lily, jaga sikapmu. Jelas Jongin memiliki selera yang sangat baik terhadap seseorang yang dipilih jadi pasangannya sekalipun Gay. Jongin hanya sedang menunggu orang yang tepat untuk datang, dan itu bukan dirimu!"

Lily memerah sewarna topengnya, seperti halnya aku. Mungkinkah pembicaraan ini bisa lebih tidak nyaman lagi?

"Nona-nona dan Tuan-tuan, bisakah aku mengklaim kencanku kembali, please?" Jongin melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku ke sisinya.

Keempat orang tadi terlebih Lily memerah, nyengir dan gelisah, senyum mempesonanya melakukan apa yang selalu terjadi. Taemin melirikku dan memutar matanya, dan aku harus tertawa.

"Senang bertemu denganmu," kataku saat Jongin menyeretku pergi. "Terima kasih," aku berkata lagi pada Jongin ketika kami telah menjauh.

"Aku lihat Lily bersama Taemin. Lily orang yang jahat."

"Lily menyukaimu," Aku menggerutu datar.

Jongin bergidik. "Yah, perasaan itu tidak berbalas. Ayo, aku memperkenalkanmu kepada beberapa orang."

Aku menghabiskan setengah jam kemudian dengan suatu perkenalan memusingkan seperti angin puyuh. Aku bertemu 2 orang aktor Hollywood, 2 orang CEO lagi, dan beberapa dokter ahli dalam terkenal... Astaga . . . tidak mungkin aku akan mengingat semua nama-nama orang itu. Jongin menjagaku tetap berada dekat di sisinya, dan aku bersyukur.

Terus terang, kekayaan, kemewahan, dan skala kemewahan acara ini terasa mengintimidasiku. Aku belum pernah melakukan hal seperti ini dalam hidupku. Penyaji berpakaian putih bergerak dengan mudah melalui kerumunan tamu yang semakin ramai dengan botol sampanye, terus menambahkan isi gelasku dengan keteraturan yang mengkhawatirkan.

Aku tidak boleh minum terlalu banyak. Aku tidak boleh minum terlalu banyak, aku mengulanginya untuk diriku sendiri, tapi aku mulai merasa pusing, dan aku tak tahu apakah itu karena sampanye, suasana yang dipenuhi misteri dan kegembiraan yang tercipta oleh topeng, atau bola perak rahasia. Rasa nyeri samar di bawah pinggangku menjadi mustahil untuk diabaikan.

"Jadi Anda bekerja di SIP?" Tanya seorang pria botak bertopeng setengah beruang atau apakah itu seperti anjing?

"Dengar–dengar ada rumor suatu pengambilalihan yang tak berperasaan."

Aku memerah. Memang ada pengambilalihan yang tak berperasaan dari seorang pria yang memiliki lebih banyak uang daripada akal sehat dan merupakan penguntit tingkat unggul.

"Aku hanya seorang asisten rendahan, Mr Eccles. Aku tak tahu tentang hal –hal ini."

Jongin sendiri tak berkata apapun dan tersenyum hambar kepada Eccles.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya!" Pembawa acara, memakai sebuah topeng harlequin hitam dan putih yang keren, menyela kami. "Silakan ambil kursi anda. Makan Malam telah terhidang."

Jongin meraih tanganku, kami mengikuti kerumunan orang yang mengobrol ke arah tenda besar. Interiornya terlihat menakjubkan. Tiga Kandelar besar tergantung rendah memberikan kemilau berwarna pelangi di atas lapisan sutra berwarna gading di langit-langit dan dinding. Setidaknya tiga puluh meja, dan mereka mengingatkanku ruang makan pribadi di Heathman — gelas-gelas kristal, kain linen putih bersih menutupi meja dan kursi, dan di tengah-tengah, tampilan indah dari bunga peoni pink pucat terangkai di sekitar tempat lilin perak. Terbungkus kain sutra halus di sampingnya adalah sekeranjang kue-kue.

Jongin menanyakan penempatan tempat duduk dan membawaku ke sebuah meja di tengah. Taemin dan Nana sudah ada di situ, tenggelam dalam percakapan dengan seorang pria muda yang aku tak tahu. Nana mengenakan gaun hijau mint dengan topeng Venesia berkilauan yang cocok. Dia tampak berseri-seri, tidak tegang sama sekali, dan dia menyapaku dengan hangat.

"Sehun, menyenangkan bisa melihatmu lagi! Dan juga terlihat begitu cantik."

"Ibu," Jongin menyapa dengan kaku dan mencium kedua pipinya.

"Oh, Kim Jongin kenapa sangat formal!" Nana menegur Jongin sambil menggoda.

Orang tua Nana, Mr. and Mrs. Kim bergabung di meja kami. Mereka tampak riang dan muda, meskipun sulit dikatakan dibawah topeng perunggu mereka yang seragam. Mereka gembira bisa melihat Jongin.

"Nenek, Kakek, bolehkan aku memperkenalkan Oh Sehun?"

Mrs. Kim langsung mendatangiku. "Oh, akhirnya Jongin menemukan seseorang, sangat bagus dan manis sekali! Yah, aku harap kau membuatnya menjadi seorang 'pria jujur'." semburnya, menjabat tanganku.

Astaga. Aku berterima kasih kepada langit untuk topengku.

"Ibu, jangan membuat Sehun malu." Nana datang menyelamatkanku.

"Abaikan orang tua bodoh konyol itu, sayangku." menjabat tanganku. "Dia pikir karena dia sudah tua, dia memiliki hak yang diberikan Tuhan untuk mengatakan apapun omong kosong yang muncul dalam kepalanya."

"Sehun, ini teman kencanku, Minho." Taemin dengan malu memperkenalkan pria mudanya. Dia memberiku senyuman nakal dan mata cokelatnya menari geli ketika kami berjabat tangan.

"Senang bertemu denganmu, Minho." Jongin menjabat tangan Minho saat dia menilainya dengan tajam.

Jangan katakan bahwa Taemin menderita karena saudaranya ini suka menguasai juga. Aku sendiri memilih untuk tersenyum simpati pada Taemin. Lance dan Janine, Teman Taemin, adalah pasangan terakhir di meja kami, tapi belum ada tanda kehadiran Mr. Jonghyun. Tiba-tiba, ada desisan mikrofon, dan suara Mr. Jonghyun membahana karena sistem pengeras suara, menyebabkan celoteh suara mereda. Jonghyun berdiri di panggung kecil di salah satu ujung tenda, mengenakan topeng Punchinello emas yang mengesankan.

"Selamat datang, nyonya-nyonya dan tuan-tuan, untuk pesta amal tahunan kami. Saya berharap bahwa Anda menikmati apa yang kami telah persiapkan untuk Anda malam ini dan Anda akan merogoh kocek Anda untuk mendukung pekerjaan fantastis yang tim kami lakukan dengan "Mengatasi Bersama", seperti yang Anda tahu, ini tercetus oleh ide awal yang sangat dekat di hati istri saya, dan saya sendiri."

Aku melirik gugup Jongin, yang menatap tanpa ekspresi, aku pikir, kearah panggung. Jongin melirik padaku dan menyeringai.

"Aku akan menyerahkan acara sekarang pada pembawa acara kita. Silakan duduk, dan menikmati acara," Jonghyun menyelesaikan. Tepuk tangan sopan mengikuti, kemudian obrolan di tenda dimulai lagi.

Aku duduk antara Jongin dan kakeknya. Aku sedang mengagumi tempat kartu kecil putih dengan kaligrafi perak halus yang tertulis namaku saat pelayan menyalakan lilin dengan pemantik panjang lancip. Jongin bergabung dengan kami, memelukku, mengejutkanku.

"Senang bertemu denganmu lagi, Sehun," gumamnya. Dia benar-benar terlihat sangat mencolok dalam topeng emas yang luar biasa.

"Ladies and gentlemen, silakan mencalonkan pimpinan meja," panggil Pembawa Acara.

"Ooo-aku, aku!" Kata Taemin segera, meloncat antusias di kursinya.

"Di tengah meja Anda akan menemukan sebuah amplop," lanjut Pembawa Acara. "Semua orang menemukan, mengemis, meminjam, atau mencuri tagihan dengan nominal tertinggi yang anda dapat kelola, menulis nama Anda di atasnya, dan ditempatkan dalam amplop. Pimpinan meja, silahkan dijaga dengan hati-hati amplop tersebut. Kita akan membutuhkannya nanti."

Astaga. Aku tidak membawa uang. Betapa bodohnya - ini kan acara amal! Jongin terlihat mengeluarkan dompetnya, lalu mengeluarkan lembaran uang dua ratus dolar. "Ini," kata Jongin.

Apa?

"Aku akan membayarmu kembali," Bisikku.

Mulut Jongin berputar sedikit, dan aku tahu dia tidak senang, tapi ia tak berkomentar. Aku menulis namaku menggunakan penanya — berwarna hitam, dengan motif bunga putih di tutup—dan Taemin mengambil semua amplop. Di depanku aku menemukan lagi kartu dengan tulisan kaligrafi perak — menu kami.

Sebuah Pesta Topeng untuk Bantuan "Mengatasi Bersama"

Menu :

Ikan Salmon Saus Tartare dengan Krim Asam Lembut dan Mentimun diatas Roti Brioche panggang

Anggur Alban Estate Roussanne 2006

Dada Bebek Muscovy Panggang

Ubi Sunchoke Tumbuk Lembut,

Buah Ceri Manis Panggang dengan daun Thyme

Hati Angsa

Anggur Châteauneuf-du-Pape Vieilles Vignes 2006

Anggur Domaine de la Janasse

Cake Chiffon Kacang Walnut dengan Tepian Gula Tabur

Manisan Buah Ara, Sabayon, Es Krim Maple

Anggur Vin de Constance 2004 Klein Constantia

Roti dan Keju Lokal Pilihan

Anggur Alban Estate Grenache 2006

Kopi dan Kue-kue Kecil Manis

Nah, ini rupanya yang akan bertanggung jawab atas sejumlah gelas kristal berbagai ukuran yang memenuhi mejaku. Pelayan kami kembali, menawarkan anggur dan air. Di belakangku, sisi tenda di mana kami masuk sedang ditutup, sementara di depan, dua penyaji menarik kain kanvas tenda, menampilkan matahari terbenam di Seattle dan Teluk Meydenbauer. Ini adalah pandangan yang benar-benar menakjubkan, lampu berkelap-kelip dari Seattle di kejauhan dan sinar temaram oranye gelap dari teluk mencerminkan langit yang opal. Wow. Ini terasa begitu tenang dan damai.

10 orang penyaji, setiap orang memegang 1 piring, datang berdiri diantara kami. Dengan perintah hening, mereka menyajikan kami dengan makanan pembuka dengan penuh serempak, lalu menghilang lagi. Ikan salmon kelihatannya lezat, dan aku menyadari bahwa aku lapar.

"Lapar?" Jongin berbisik sehingga hanya aku yang bisa mendengar. Aku tahu maksudnya bukan makanan, dan otot didalam perutku langsung merespon.

"Sangat," Bisikku, dengan berani bertemu matanya, dan bibir Jongin terbuka saat dia menarik napas. Ha! Lihat . . . dua orang juga bisa bermain dalam permainan ini.

Kakek Jongin langsung mengajakku mengobrol. Dia adalah orang tua yang hebat, sangat bangga dengan putrinya dan ketiga anaknya. Rasanya aneh memikirkan Jongin sebagai seorang anak dengan memori bekas luka bakarnya terlintas begitu saja dalam pikiranku, tapi dengan cepat aku menepisnya. Aku tak mau memikirkan itu sekarang, walaupun ironisnya itu semua adalah alasan dibalik pesta ini.

Aku berharap Baekhyun ada disini bersama Suho. Dia akan sangat cocok disini — banyaknya garpu dan pisau diletakkan di depannya tidak akan mengecilkan hati Baekhyun - dia akan memimpin meja. Aku membayangkan dia berebut kekuasaan dengan Taemin tentang siapa yang harus menjadi pimpinan meja. Pikiran ini membuatku tersenyum. Percakapan di meja mulai surut dan mengalir. Taemin menghibur, seperti biasa, dan cukup berbeda dengan Minho yang malang, yang sebagian besar tetap tenang sepertiku. Nenek Jongin adalah yang paling vokal. Dia juga memiliki rasa humor menggigit, biasanya dengan mengorbankan suaminya. Aku mulai merasa kasihan sedikit pada Mr. Kim.

Jongin dan Lance bicara dengan bersemangat tentang perangkat yang perusahaan Jongin kembangkan, terinspirasi oleh prinsip Schumacher "Kecil itu Indah". Sulit untuk mengikutinya. Jongin tampaknya berniat memberdayakan masyarakat miskin di seluruh dunia dengan perangkat teknologi angin yang tidak perlu listrik atau baterai dan pemeliharaan yang minimal.

Memperhatikannya begitu penuh semangat menakjubkan. Jongin bergairah dan berkomitmen untuk meningkatkan kehidupan yang kurang beruntung. Melalui perusahaan telekomunikasi itu, dia berniat menjadi yang pertama di pasaran dengan ponsel angin. Wah. Aku tak tahu. Maksudku, aku tahu tentang gairahnya tentang memberi makan dunia, tapi ini. . . Lance tampaknya tidak dapat memahami rencana Jongin untuk memberikan teknologi cuma-cuma dan tidak mematenkannya.

Aku bertanya-tanya bagaimana Jongin memperoleh semua uangnya jika ia begitu bersedia untuk memberikan semua itu. Sepanjang makan malam barisan pria dengan jaket makan malam yang pantas dan topeng gelap berhenti di meja kami, ingin bertemu dengan Jongin, menjabat tangannya, dan berbasa-basi. Dia memperkenalkanku ke beberapa orang tapi tidak yang pada yang lain. Aku penasaran mengetahui mengapa bisa terjadi perbedaan. Di saat salah satu percakapan tersebut, Taemin bersandar di dekatku dan tersenyum.

"Sehun, maukah kau membantu dalam lelang?"

"Tentu saja," aku merespon, terlalu bersedia.

Ketika makanan penutup disajikan, malam sudah turun dan aku merasa benar-benar tak nyaman. Aku perlu menyingkirkan bola-bola ini. Sebelum aku sempat permisi, pembawa acara muncul di meja kami, dan dengannya — jika aku tidak salah — adalah Nona Eropa Kuncir Kuda. Siapa namanya? Hansel, Gretel . . . Gretchen. Dia memakai topeng tentu saja, tapi aku mengenalnya ketika tatapannya tidak berpindah dari Jongin. Dia memerah dan aku dengan egois gembira Jongin tak mengenal dia sama sekali.

Pembawa Acara meminta amplop kami dan dengan sangat terlatih dan fasih, meminta Nana untuk menarik keluar uang pemenang. Itu punya Minho, dan keranjang terbungkus sutra diberikan kepadanya. Aku bertepuk tangan dengan sopan, tapi aku menyadari tak mungkin untuk berkonsentrasi lagi.

"Permisi," bisikku ke Jongin. Dia menatapku tajam. "Apakah kau perlu ke kamar rias?"

Aku mengangguk.

"Aku akan mengantarmu," Kata Jongin gelap.

Ketika aku berdiri, semua pria-pria lain disekeliling meja juga berdiri bersamaku. Oh, sopan sekali.

"Jangan, Jongin! Kau tidak akan mengantar Sehun — Aku saja." Taemin sudah berdiri sebelum Jongin bisa protes.

Rahangnya menegang, aku tahu Jongin tak senang. Sejujurnya aku juga, aku juga memiliki. . . kebutuhan. Aku mengangkat bahu meminta maaf padanya, dan ia duduk dengan cepat, mengundurkan diri. Saat kami kembali, aku merasa sedikit lebih baik, meskipun kelegaan menghilangkan bola belum seketika seperti yang aku harapkan. Mereka sekarang tersimpan dengan aman didompetku. Mengapa aku pikir aku bisa bertahan semalaman? Aku masih berhasrat - mungkin aku bisa membujuk Jongin untuk membawaku ke rumah perahu nanti. Aku memerah dengan pikiran itu dan melirik padanya saat aku mengambil kursiku.

Jongin menatapku, bayangan senyuman melintasi bibirnya. Phew . . . Jongin tidak lagi marah karena kehilangan suatu kesempatan, meskipun mungkin aku yang marah. Aku merasa frustasi — bahkan jengkel. Jongin meremas tanganku, dan kami berdua mendengarkan Jonghyun dengan penuh perhatian, yang kembali keatas panggung membicarakan tentang "Mengatasi Bersama". Jongin memberiku kartu lain — sebuah daftar barang berharga untuk lelang. Aku membacanya dengan cepat.

Barang-barang Pemberian Lelang Dan Pemberi Dermawan Untuk "Mengatasi Bersama"

Pemukul Baseball Bertandatangan The Mariner – Dr. Emily Mainwaring

Dompet. Tas dan Gantungan Kunci Gucci – Andrea Washington

Voucher 1 hari untuk 2 orang di Salon Esclava, Braeburn Center – Elena Lincoln

Desain Kebun dan Halaman – Gia Matteo

Coffret & Parfum Kecantikan Terpilih Coco De Mer – Elizabeth Austin

Cermin dari Venesia – Tuan Dan Nyonya J. Bailey

2 Kotak Anggur Pilihan Sendiri dari Alban Estates – Alban Estates

2 Tiket VIP Konser XTY – Nonya L. Yesyov

1 Hari Balapan di Sirkuit Daytona – EMC Britt Inc.

Buku 'Pride & Prejudice' oleh Jane Austen Edisi Pertama – Dr.A. F. M. Lace-Field

Mengendarai sebuah Aston Martin DB7 selama 1 hari – Tuan Dan Nyonya L. W. Nora

Lukisan Minyak 'Into the Blue' oleh J. Trouton – Kelly Trouton

Kursus Gliding – Klub Penerbang Seattle

Liburan Akhir Pekan untuk 2 Orang di Hotel Heathman, Portland – The Heathman

Liburan Akhir Pekan Menginap di Aspen, Colorado (6 orang) – Mr. Kim Jongin

1 Minggu Menginap di Kapal Pesiar The Susie Cue yang Berlabuh di St Lucia (6 orang) – Dr. & Mrs. Larin

Liburan Akhir Pekan Menginap di Danau Adriana, Montana (8 orang) – Mr. & Dr. Kim

Ya Ampun. Aku berkedip ke Jongin. "Kau punya properti Di Aspen?" Desisku.

Lelang sedang berlangsung, dan aku harus menjaga suaraku tetap rendah. Jongin mengangguk, terkejut dengan celetukanku dan jengkel, kurasa. Jongin meletakkan jarinya dibibirku untuk menyuruhku diam.

"Apakah kau punya properti di tempat lain?" Bisikku.

Jongin mengangguk lagi dan mencondongkan kepalanya ke satu sisi sebagai suatu peringatan. Seluruh ruangan meledak dengan sorakan dan tepuk tangan, salah satu dari hadiah terjual seharga 12 ribu dolar.

"Aku akan memberitahumu nanti," Jongin berkata pelan. "Aku ingin pergi bersamamu," Jongin menambahkan dengan sedikit mendongkol.

Yah, Jongin belum memberitahukannya. Aku cemberut dan menyadari bahwa aku masih bersungut-sungut, dan tak heran, ini adalah efek yang membuat frustasi dari bola-bola itu. Suasana hatiku semakin gelap melihat Mrs. Robinson masuk dalam daftar donor yang dermawan. Aku melihat sekilas sekitar tenda untuk melihat apakah aku bisa menemukannya hadir disini, tapi aku tak bisa melihat rambut yang menunjukan dirinya. Tentunya Jongin akan memperingatkanku jika dia diundang malam ini.

Aku duduk dan membiarkannya saja, bertepuk tangan ketika diperlukan, saat setiap barang terjual dengan sejumlah uang yang menakjubkan. Penawaran pindah ke tempat Jongin di Aspen dan mencapai 20 ribu dolar.

"Satu kali, Dua Kali," Pembawa Acara memanggil.

Dan aku tak tahu apa yang merasukiku, tapi tiba-tiba aku mendengar suaraku sendiri melengking dengan jelas diantara kerumunan orang. "24 ribu dolar!"

Setiap orang yang memakai topeng di meja berputar kearahku dengan terkejut penuh kekagumaan, reaksi paling besar dari semuanya adalah yang datang dari sebelahku. Aku mendengar tarikan napas tajam dan merasakan kemurkaannya membasahiku seperti gelombang pasang.

"24 ribu dolar, untuk pria manis berpakaian warna hitam, satu kali, dua kali . . . Terjual!"

~oOOo~

Gila, apakah barusan aku benar-benar melakukan itu? Pasti ini efek dari alkohol. Aku sudah minum sampanye ditambah empat gelas anggur yang jenisnya berbeda. Aku melirik Jongin yang asyik bertepuk tangan. Sial, dia pasti sangat marah, padahal tadi kita berdua sudah mendapatkan suasana hati yang baik. Bawah sadarku akhirnya memutuskan untuk menampilkan wajahnya seperti lukisan 'the Scream' karya Edvard Munch.

Jongin membungkuk kearahku, senyum palsu yang lebar terpampang di wajahnya, mencium pipiku kemudian bergerak lebih dekat untuk berbisik di telingaku dengan sangat dingin, suaranya terkontrol. "Aku tak tahu apakah harus menyembah di kakimu atau memukul pantatmu habis-habisan,Oh Sehun."

Oh, aku tahu apa yang aku inginkan sekarang. Aku menatap Jongin, berkedip melalui topengku. Aku hanya berharap bisa membaca apa yang kulihat dimatanya.

"Aku akan mengambil opsi kedua, please," bisikku agak takut saat tepuk tangan sudah mereda.

Bagian bibirnya ditarik keatas saat Jongin menghirup napas dalam-dalam. Oh mulut itu yang aku inginkan diatas tubuhku, sekarang. Aku merasa nyeri karena Jongin yang kini memberiku senyum tulus berseri-seri yang membuatku terengah-engah.

"Apa kau merasa menderita? Kita harus melihat apa yang bisa kita lakukan tentang itu," bisik Jongin saat ia menjalankan jarinya sepanjang rahangku.

Sentuhannya menggema di kedalaman sana, jauh ke dalam dimana rasa nyeri yang sudah muncul dan semakin berkembang. Aku ingin melompat padanya disini, sekarang juga, tapi kami duduk kembali untuk menonton lelang selanjutnya. Aku nyaris tak bisa duduk diam.

Jongin memeluk bahuku, ibu jarinya secara berirama membelai punggungku, mengirim kenikmatan terasa menggelenyar menuruni tulang belakangku. Tangannya yang bebas mengambil tanganku, membawanya ke bibirnya, kemudian membiarkannya beristirahat di pangkuannya. Perlahan dan sembunyi-sembunyi, aku begitu terlambat menyadari permainannya, ia menempatkan tanganku diatas kakinya dibagian tubuhnya yang mengeras.

Aku terkesiap, dan tiba-tiba panik melihat sekeliling meja, tapi semua mata tertuju pada panggung. Aku bersyukur karena topengku. Memanfaatkan ini sepenuhnya, perlahan-lahan aku mulai membelai, membiarkan jari-jariku mengeksplorasi. Jongin masih menempatkan tangannya di bahuku, aku menyembunyikan jariku yang begitu berani, sementara ibu jarinya menelusuri dengan lembut di atas tengkuk leherku.

Mulutnya terbuka saat ia terengah-engah dengan lembut, dan reaksi itu hanya aku yang bisa lihat akibat dari sentuhanku yang sudah berpengalaman. Tapi itu sangat berarti. Jongin menginginkan aku. Semuanya yang ada dibawah pusar terasa menggelitik. Hal ini membuat seperti rasa yang tak bisa tertahankan. Seminggu di Danau Adriana, Montana adalah tempat terakhir yang dilelang. Tentu saja Jonghyun dan Nana memiliki rumah di Montana, dan penawaran meningkat dengan cepat, tapi aku hampir tidak menyadarinya. Aku merasakan Jongin semakin membesar dibawah sentuhan jariku, dan itu membuatku merasa begitu berkuasa.

"Terjual, untuk seratus sepuluh ribu dolar!" MC mengumumkan pemenangnya. Seluruh ruangan bertepuk tangan dengan riuh, dengan enggan aku mengikuti, demikian juga dengan Jongin, merusak kesenangan kita.

Jongin menoleh padaku dan bibirnya berkedut. "Siap?" Suaranya diantara meriahnya sorak-sorai.

"Ya," kataku menjawab.

"Sehun!" Taemin memanggil.

"Sudah waktunya!"

Apa? Tidak. Jangan lagi! "Waktu untuk apa?"

"Lelang Dansa Pertama. Ayo!" Taemin berdiri dan mengulurkan tangannya.

Aku melirik Jongin melihat dia cemberut pada Taemin, dan aku tak tahu apakah harus tertawa atau menangis, tapi tawa itu yang menang. Tak tahan merasakan perutku seperti diaduk-aduk karena tertawa seperti anak sekolahan, sekali lagi kami digagalkan oleh tingginya kekuasaan seorang Kim Taemin. Jongin memandang tajam kearahku, dan setelah sesaat, samar-samar ada jejak senyum dibibirnya.

"Dansa pertama akan bersamaku, oke? Dan itu tidak di lantai dansa," Jongin berbisik bergairah ke telingaku.

Tawaku mereda karena mengantisipasi kebutuhanku yang terbakar. Oh, ya! Dewa batinku seperti bermain skating dan melakukan tiga putaran yang sempurna di atas sepatu esnya.

"Aku akan menantikan itu." Aku mencondongkan tubuhku dan mencium lembut bibir Jongin. Melirik sekelilingku, aku menyadari bahwa semua tamu kami di meja itu seperti keheranan. Tentu saja, mereka belum pernah melihat Jongin bersama teman kencannya sebelumnya. Jongin tersenyum lebar padaku. Dan dia tampak. . . bahagia. Wow.

"Ayo,Sehun," omel Taemin. Mengambil tangannya yang terulur, aku mengikutinya ke panggung dimana kurang lebih sudah ada sepuluh wanita berkumpul, dan samar-samar aku memperhatikan dengan gelisah bahwa salah satunya adalah Lily. Dan aku pria satu-satunya? Hey! Apa Taemin gila?!

"Gentleman, ini adalah puncak acara pada malam ini!" Suara MC bersemangat. "Inilah saatnya untuk anda semua yang sudah menantikan acara ini! Kesebelas wanita cantik dan satu pria manis ini semuanya telah setuju untuk melelang dansa pertama mereka untuk penawar tertinggi!"

Oh tidak. Aku tersipu dari ujung kepala sampai ujung kakiku. Aku tak menyadari apa artinya ini. Betapa memalukan!

"Ini tujuannya mulia," Taemin berbisik padaku, merasakan ketidaknyamananku.

"Selain itu, Jongin pasti akan memenangkannya." Taemin memutar matanya. "Aku tak bisa membayangkan dia membiarkan orang lain mengalahkan penawarannya. Dia tak pernah melepaskan tatapannya padamu sepanjang malam."

Ya, fokus untuk tujuan mulia, dan Jongin pasti memenangkannya. Ayo kita hadapi semua ini, dia tak akan kekurangan uang receh satu ataupun dua sen. Tapi itu artinya Jongin akan mengeluarkan uang lebih banyak untukmu! bawah sadarku menggeram padaku. Tapi aku tak ingin dansa dengan orang lain - aku tidak bisa berdansa dengan orang lain - dan pengeluaran uang itu bukan untukku, Jongin menyumbangkan untuk amal. Seperti dua puluh empat ribu dolar yang sudah Jongin keluarkan? Bawah sadarku menyempitkan matanya. Sial. Aku sepertinya sudah berhasil lolos dengan tawaran impulsifku. Mengapa aku berdebat dengan diriku sendiri?

"Sekarang, gentleman dan ladies, silahkan berkumpul, dan menangkan yang menurutmu terlihat menarik, apakah bisa menjadi pasanganmu untuk dansa pertama ini. Sebelas gadis cantik dan satu pria manis yang sudah memenuhi persyaratan."

Astaga! Aku merasa seperti berada didalam pelelangan pasar daging. Aku mengawasi, merasa ngeri, karena setidaknya dua puluh pria dan beberapa wanita berjalan menuju area panggung, termasuk Jongin, berjalan dengan anggun diantara meja dan berhenti sejenak untuk menyapa beberapa orang di sana. Begitu para penawar berkumpul, MC memulainya.

"Hadirin sekalian, dalam tradisi pesta topeng kita harus menjaga misteri di balik topeng dan tetap memanggil nama pertamanya saja. Untuk yang pertama kita memiliki Jada yang cantik."

Jada cekikikan seperti anak sekolahan. Mungkin aku tidak akan begitu seperti tidak pada tempatnya. Dia memakai gaun yang terbuat dari bahan taffeta warna biru laut dari kepala sampai ujung kaki, memakai topeng yang sesuai. Dua pemuda melangkah maju dengan penuh harap. Beruntunglah Jada.

"Jada bisa berbicara bahasa Jepang dengan fasih, seorang pilot pesawat tempur yang memenuhi syarat, dan pesenam Olimpiade. . . hmm." Kata MC-nya sambil mengedipkan matanya. "Gentleman, apalagi yang bisa saya tawarkan?"

Jada melongo, terkejut pada MC-nya, jelas-jelas bicaranya sangat ngawur. Dia membalas dengan menyeringai malu-malu pada dua calon penawar.

"Seribu dolar!" Salah satu berteriak. Dengan cepat penawaran meningkat sampai lima ribu dolar.

"Satu. . . dua. . . terjual!" MC mengumumkan dengan lantang, "Untuk pria yang bertopeng!" Dan tentu saja semua pria memakai topeng jadi semua yang disana tertawa sambil mencemooh, tepuk tangan, dan bersorak. Jada tersenyum lebar pada pemenang dan segera keluar panggung.

"Lihat? Ini menyenangkan!" bisik Taemin. "Aku berharap Jongin memenangkan kamu, meski. . . Kita tak ingin adanya perkelahian," tambahnya.

"Perkelahian?" Aku menjawab dengan ngeri.

"Oh ya. Dia sangat pemarah ketika masih muda." Taemin bergidik.

Jongin berkelahi? Padahal dia tampak sopan, berpengalaman, menyukai musik Paduan suara Tudor (bangunan bergaya arsitek Inggris)? Aku tidak bisa membayangkannya. MC-nya mengalihkan perhatianku dengan memperkenalkan seorang wanita muda berikutnya bergaun warna merah, dengan rambut panjang hitam legam.

"Gentleman, bolehkah aku memperkenalkan Mariah yang luar biasa ini. Apa yang bisa kita katakan tentang Mariah? Dia seorang matador berpengalaman, memainkan cello sampai tingkat konser, dan dia seorang juara lompat galah. . . bagaimana gentleman? Silakan, berapa tawarannya untuk berdansa dengan Mariah yang menyenangkan ini?"

Mariah melotot pada MC dan seseorang berteriak, sangat keras, "Tiga ribu dolar!" Seorang pria bertopeng dengan rambut dan berjenggot pirang. Ada satu yang mengimbangi penawaran itu, dan Mariah dilepas empat ribu dolar. Jongin memperhatikan aku seperti elang. Seorang Petarung dari keluarga Kim, siapa yang akan tahu?

"Kapan?" Aku bertanya pada Taemin yang kin melirikku, bingung. "Kapan Jongin berkelahi?"

"Awal remaja. Membuat orang tuaku gila, pulang dengan bibir sobek dan mata lebam. Jongin dikeluarkan dari dua sekolah. Ia sering menyebabkan luka serius pada lawan-lawannya."

Aku menganga pada Taemin.

"Apa Jongin tidak bilang padamu,Sehun?" Taemin mendesah. "Jongin cukup mendapat reputasi buruk diantara teman-temanku. Jongin benar-benar sosok yang tak disukai selama beberapa tahun. Tapi itu berhenti saat umurnya sekitar lima belas atau enam belas." Taemin mengangkat bahu.

Ya ampun. Bagian lain dari teka-teki akhirnya sedikit terungkap.

"Jadi, berapa tawaran untuk Jill cantik ini?"

"Empat ribu dolar," suara berat berseru dari sebelah kiri. Jill menjerit gembira. Aku berhenti memperhatikan lelang.

Jadi Jongin bermasalah di sekolah, berkelahi. Aku ingin tahu mengapa. Aku terpaku padanya. Lily mengawasi kami dengan seksama.

"Dan sekarang, izinkan saya untuk memperkenalkan pria manis yang cantik ini."

Oh sial, itu aku. Aku melirik gugup pada Taemin, dan dia mendorongku ke tengah panggung. Untungnya, aku tidak jatuh, tapi merasa malu sekali berdiri di pamerkan untuk semua orang. Ketika aku melihat Jongin, dia menyeringai ke arahku. Si brengsek.

"Sehun ini bisa memainkan enam alat musik, fasih berbahasa Mandarin, dan antusias pada yoga. . . baik, gentleman dan ladies..." Bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya Jongin menyela padanya, melotot pada MC melalui topengnya.

"Sepuluh ribu dolar."

Aku mendengar Lily terkesiap tak percaya di belakangku. Oh astaga.

"Lima belas."

Apa? Kita semua menoleh pada seorang pria, tinggi berpakaian tanpa cela berdiri di sebelah kiri panggung. Aku berkedip pada Fifty. Sial, apa yang akan Jongin lakukan? Rupanya Jongin menggaruk dagunya dan memberikan senyum ironis aneh pada orang asing itu. Jelas sekali Jongin mengenalnya. Orang asing itu mengangguk sopan pada Jongin.

"Nah, gentleman! Kita memiliki penawaran yang tinggi malam ini." kegembiraan MC terpancar melalui topeng harlequinnya saat ia menoleh, menatap Jongin.

Ini adalah pertunjukan besar, mengeluarkan uang hanya untukku. Aku ingin meratap.

"Dua puluh," Jongin membalas dengan tenang. Celotehan orang banyak langsung diam. Semua orang menatap kearahku, Jongin, dan Mr Misterius di samping panggung.

"Dua puluh lima," kata orang asing itu.

Mungkinkah ada yang lebih memalukan dari pada ini? Jongin menatapnya tanpa ekspresi, tapi Jongin sendiri malah tampak seperti geli. Semua mata tertuju pada Jongin. Apa yang akan Jongin lakukan? Hatiku ada di dalam mulutku. Aku merasa mual.

"Seratus ribu dolar," katanya suaranya nyaring sangat jelas dan lantang menggema di tenda.

"Apa-apaan itu?" terdengar suara Lily mendesis di belakangku, dan sepertinya terkesiap karena kecewa dan penonton merasa geli.

Orang asing itu tertawa mengangkat tangannya keatas untuk mengalah, dan Jongin nyengir kepadanya. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Taemin melompat naik-turun dengan gembira. Bawah sadarku menatap Jongin, benar-benar terkesima.

"Seratus ribu dolar untuk Sehun yang mempesona ini! Satu . . dua . . ." MC menatap orang asing itu dan dia menggelengkan kepalanya pura-pura menyesal dan membungkuk sangat sopan. "Terjual!" Teriak MC penuh kebanggaan.

Saat suara tepuk tangan yang memekakkan telinga dan sorak-sorai, Jongin melangkah maju untuk mengambil tanganku dan membantuku turun dari panggung. Jongin menatap ke arahku dengan senyum geli saat aku berjalan turun, mencium punggung tanganku kemudian menyelipkan ke dalam siku lengannya, dan membawaku menuju pintu keluar tenda.

"Siapa tadi?" Aku bertanya.

Jongin menatap ke arahku. "Seseorang yang bisa kau temui nanti. Sekarang, aku ingin menunjukkan sesuatu. Kita punya waktu sekitar tiga puluh menit sampai Lelang dansa Pertama selesai. Setelah itu kita harus kembali ke lantai dansa supaya aku bisa menikmati dansa yang sudah aku bayar."

"Dansa yang sangat mahal," aku bergumam tidak setuju.

"Aku yakin itu akan bernilai setiap sennya." Jongin tersenyum nakal ke arahku.

Oh, Jongin punya senyum yang mulia, dan rasa nyeri itu muncul lagi, tumbuh didalam tubuhku. Kami keluar halaman. Aku pikir kami akan menuju rumah perahu, tapi sungguh mengecewakan, sepertinya kita akan menuju lantai dansa dimana big band kini sedang bersiap-siap. Setidaknya ada dua puluh musisi, dan ada beberapa tamu yang berseliweran, merokok dengan sembunyi-sembunyi tapi karena sebagian besar berada di tenda, jadi kami tidak terlalu menarik perhatian.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOO~

Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku tuh bener-bener stuck dipart ini yang bikin latepost, karena apa? Karena ini acara pesta dimana pertemuan keluarga yang jujur rada keder buat ngerombak biar bisa sedemikian rupa dan yaahhh big sorry jika part ini bakal ada typo berserakan,dsb*bow*

Dari kemaren udah banyak banget yang chat,inbox tanya ini kapan dipost dan hehe serius pengen dipost tapi kadang 'ntar aja deh,masih belum sreg' wkwk

Maafkeun author yang lagi suka ngaret ngepost story ini yaa~ *bow*

Jadi gimana kelanjutannya? Review please~ ^^

Ah sedikit ada bocoran, bakal ada story baru yang bakal dipost, remake lagi sih. Haha

Dan yang bakal aku tanyain disini, sekarang maincastnya mau siapa? ChanHun? KaiHun? Yaoi or GS ? review yaaa~ ^^

.

.

Thanks to review CH 7 :

Rima19exo , Pita252 , yeon1411 , kaihunlicious , jiraniatriana , YunYuliHun , kkamjonghun22 , Babybear , yellowfishh14 , exohye , ninoch , fitrysukma39 , izzsweetcity , JongOdult , Minnie163 , VampireDPS , Ilysmkji , utsukushii02 , My jeje , digrain , Sekar Amalia ,dialuhane , fyodult .