Jongin membawaku ke belakang rumah dan membuka jendela model Prancis yang mengarah ke ruang duduk yang besar dan nyaman dimana aku belum pernah melihat sebelumnya. Jongin berjalan melalui lorong sepi menuju tangga melingkar dengan anggun, pagarnya terbuat dari kayu mengkilap. Mengambil tanganku dari siku tangannya, membawaku naik ke lantai dua dan sampai lantai lain tingkat tiga. Membuka pintu warna putih, Jongin membawaku masuk ke salah satu kamar tidur.

"Ini kamarku," kata Jongin dengan tenang, berdiri didekat pintu dan mengunci di belakangnya.

Kamarnya besar, terlihat kaku, dan perabotnya tidak banyak. Dindingnya putih seperti warna perabotannya; tempat tidur double bed yang luas, sebuah meja dan kursi, rak penuh dengan buku dan berjajar berbagai piala sepertinya juara kickboxing.

Dindingnya digantungi poster film: The Matrix, Fight Club, The Truman Show, dan dua bingkai poster tokoh kickboxer. Salah satunya bernama Guiseppe DeNatale-aku tidak pernah mendengar tentang dia. Tapi ada yang menarik perhatianku yaitu papan pin putih di atas meja, dipenuhi oleh berbagai macam foto, panji-panji Mariners, dan potongan-potongan tiket. Ini bagian dari Jongin yang masih muda. Perhatianku kembali kepada pria, yang luar biasa tampan sekarang berdiri di tengah ruangan. Jongin menatapku muram, merenung dan seksi.

"Aku belum pernah mengajak seorangpun ke sini," ujar Jongin lirih.

"Belum pernah?" Bisikku.

Jongin menggelengkan kepalanya. Aku menelan ludah mengejang, dan rasa nyeri yang sudah menggangguku selama beberapa jam terakhir ini menderu saat ini, benar-benar terasa karena keinginan. Melihat Jongin berdiri disana diatas karpet mewah warna biru dibalik topengnya. . . itu lebih dari erotis. Aku menginginkan Jongin. Sekarang. Apapun caranya agar aku bisa mendapatkan dia. Aku harus menahan diri untuk melemparkan diriku padanya dan merobek pakaian Jongin.

Perlahan-lahan Jongin melenggang ke arahku. "Kita tak memiliki waktu yang panjang, Sehun, dan apa yang aku rasa saat ini, kita tidak perlu waktu yang lama. Berbaliklah. Biarkan aku membuatmu keluar dari pakaian itu."

Aku berbalik dan menatap pintu, bersyukur bahwa Jongin menguncinya. Membungkuk, Jongin berbisik pelan di telingaku, "Biarkan topengmu tetap disitu."

Aku merintih saat tubuhku mengepal karena merespon. Jongin bahkan belum menyentuhku. Jongin memegang bagian atas kemejaku, jari-jarinya menyentuh kemejaku, dan sentuhannya menggema keseluruh tubuhku. Dengan satu gerakan cepat, ia membuka ritsleting celanaku,membantuku untuk melangkah keluar dari celanaku, kemudian berbalik dan menyampirkan di atas sandaran kursi yang indah. Melepas jasnya, ia meletakkan diatas celanaku.

Sejenak Jongin berhenti, dan menatapku sesaat, tatapannya masuk kedalam diriku, dan aku sendiri bersenang-senang didalam tatapan sensualnya.

"Kau tahu, Sehun," kata Jongin lembut sambil berjalan ke arahku, melepas dasi kupu-kupunya hingga menggantung di salah satu sisi lehernya, lalu melepas tiga kancing atas kemejanya.

"Aku sangat marah saat kau membeli lelangku dengan sangat mahal. Berbagai macam ide melintas dibenakku. Aku harus mengingatkan diriku sendiri untuk tidak menghukummu. Tapi kemudian kau menawarkan diri."

Jongin menatap ke arahku melalui topengnya. "Mengapa kau melakukan itu?" bisiknya.

"Menawarkan diri? Aku tak tahu. Frustrasi. . . terlalu banyak minum alkohol. . . itu alasan yang pantas," gumamku pasrah, sambil mengangkat bahu.

Barangkali untuk mendapatkan perhatian Jongin? Aku membutuhkannya saat itu. Tapi aku lebih membutuhkan Jongin sekarang. Rasa nyerinya makin parah, dan aku tahu Jongin dapat meredakan itu, menenangkan gemuruh ini, diriku seperti binatang mengeluarkan air liur melihat dirinya. Mulut Jongin mengatup menjadi sebuah garis, perlahan Jongin menjilati bibir atasnya. Aku ingin lidah itu menjilati tubuhku.

"Aku bersumpah pada diriku sendiri, aku tak akan memukul pantatmu lagi, meskipun kau memohon padaku."

"Tolong," Aku memohon.

"Tapi lalu aku menyadari, kau mungkin sangat tak nyaman saat ini, dan itu karena kau tidak terbiasa." Jongin menyeringai padaku dengan sengaja. Bajingan sombong, tapi aku tak peduli karena Jongin sepenuhnya benar.

"Ya," aku menarik napas.

"Jadi, mungkin ada kepastian. . . kebebasan. Jika aku melakukan ini, kau harus berjanji padaku satu hal."

"Apa saja."

"Kau akan menggunakan kata aman jika kau memerlukan, dan aku akan bercinta denganmu, oke?"

"Ya." Aku terengah-engah.

Aku ingin tangan Jongin diatas tubuhku. Jongin menelan ludahnya, lalu meraih tanganku, dan bergerak menuju tempat tidur. Melempar selimut ke samping, Jongin duduk, mengambil bantal, dan menempatkannya disampingnya. Jongin menatap ke arahku berdiri disampingnya dan tiba-tiba menarik tanganku keras, hingga aku jatuh ke pangkuannya. Jongin sedikit bergeser hingga tubuhku beristirahat di tempat tidur, dadaku di atas bantal, wajahku miring ke samping. Sambil membungkuk, ia menjalankan jari-jarinya diantara hiasan bulu-bulu pada topengku.

"Taruh tanganmu dibelakang punggung," bisik Jongin.

Oh! Jongin melepas dasinya dan segera menggunakannya untuk mengikat pergelangan tanganku hingga tanganku terikat dibelakangku, bertumpu dipunggungku.

"Kau benar-benar menginginkan ini, Sehun?"

Aku menutup mataku. Ini pertama kalinya sejak aku bertemu dengan Jongin dan aku benar-benar menginginkan ini. Aku membutuhkannya.

"Ya," bisikku.

"Kenapa?" Tanya Jongin pelan sambil membelai pantatku dengan telapak tangannya.

Aku mengerang begitu tangannya menyentuhku. Aku tidak tahu mengapa. . . Kau mengatakan padaku untuk tidak berpikir terlalu berlebihan. Setelah hari ini - berdebat tentang uang, Leila, Mrs. Robinson, berkas data-dataku, peta daerah yang boleh disentuh, pesta mewah ini, topeng, alkohol, bola perak, lelang. . . Aku menginginkan ini.

"Perlukah aku memberi alasan?"

"Tidak, sayang, kau tidak perlu memberi alasan," kata Jongin.

"Aku hanya berusaha untuk memahamimu."

Tangan kiri Jongin berputar-putar disekitar pinggangku, diam di tempat saat telapak tangannya diangkat dan mendarat keras, tepat di atas persimpangan pahaku. Rasa sakit terhubung langsung dengan rasa nyeri di dalam perutku Oh man. . . Aku mengerang keras. Jongin memukulku lagi, di tempat yang sama. Aku mengerang lagi.

"Dua," bisik Jongin. "Ini sampai dua belas."

Oh! Rasanya sangat berbeda dengan yang dulu - begitu merangsang, menjadi . . . kebutuhan. Jongin membelai pantatku dengan jari tangannya yang panjang, dan aku tak berdaya, terikat dan ditekan ke kasur, diatas belas kasihannya, dan kemauanku sendiri. Jongin memukulku lagi, sedikit ke samping, dan sekali lagi ke sisi lain, lalu berhenti saat perlahan ia menurunkan celana dalamku dan menariknya keluar.

Dengan lembut telapak tangannya mengelus pantatku lagi sebelum meneruskan memukul pantatku-masing-masing pukulannya terasa pedih, kebutuhanku menjadi hilang atau semakin meningkat, aku tak tahu. Aku menyerahkan diriku mengikuti irama pukulan, meresapi dan menikmati juga.

"Dua belas," bisik Jongin lagi dengan suara rendah dan kasar,membelai pantatku lagi dan jari-jarinya menjelajah ke arah organ intimku dan perlahan-lahan dua jarinya tenggelam dalam diriku, jarinya membentuk lingkaran, berputar dan berputar dan berputar-putar, menyiksaku. Aku mengerang dengan keras saat tubuhku mengambil alih, dan aku datang dan datang, menggelepar di sekitar jari-jarinya. Ini sangat intens, tak terduga, dan sangat cepat.

"Itu benar, sayang," Jongin berbisik memuji. Dia melepas ikatan pergelangan tanganku, jari-jarinya masih didalam diriku saat aku berbaring terengah-engah dan kehabisan tenaga dipangkuannya.

"Aku belum selesai denganmu, Sehun," kata Jongin lalu bergeser tanpa mengeluarkan jari-jarinya, memudahkan lututku diatas lantai sehingga posisiku sekarang membungkuk di atas tempat tidur. Jongin berlutut di atas lantai di belakangku dan menarik ritsletingnya lalu menarik jarinya keluar dari dalam diriku, dan aku mendengar suara familiar robekan paket foil.

"Buka kakimu," Jongin menggeram dan aku mematuhinya. Membelai pantatku dan memudahkan masuk ke dalam diriku.

"Ini akan menjadi cepat, sayang," gumam Jongin dan meraih pinggulku, ia menarik keluar kemudian mendorong keras ke dalam diriku.

"Ah!" Aku menjerit, terasa begitu penuh seperti disurga.

Jongin menekan keras menyelaraskan rasa ingin di dalam perut langsung menyala, lagi dan lagi, mencabut dengan keras, lalu mendorong dengan manis,perasaanku seperti mau meledak, tahu apa yang aku butuhkan. Aku mendorong kebelakang untuk mengimbanginya, dorongan dibalas dorongan.

"Sehun, jangan," Jongin mendengus, mencoba untuk menenangkan aku. Tapi aku menginginkan Jongin begitu banyak, dan aku menggesek-gesekkan padanya, menyesuaikan dorongannya untuk mendorong balik.

"Sehun, sial," desis Jongin saat orgasme datang, dan suara siksaan itu menyebabkan aku datang lagi, berputar ke dalam orgasme yang berlangsung terus dan terus yang memerasku keluar dan membuatku kehabisan tenaga dan terengah-engah.

Jongin membungkuk dan mencium bahuku kemudian menarik keluar dari diriku. Menempatkan tangannya di tubuhku, mengistirahatkan kepalanya di tengah punggungku, dan kami berbaring seperti ini, berdua berlutut di samping tempat tidur, berapa lama? Berapa detik? Bahkan berapa menit sampai pernapasan kami menjadi tenang. Rasa sakit di dalam perutku telah menghilang, dan semua yang kurasakan adalah menyejukkan, menenangkan, terpuaskan.

Jongin bangkit dan mencium punggungku. "Aku percaya kau berutang dansa kepadaku, Sehun," bisiknya.

"Hmm," aku menanggapi, menikmati hilangnya rasa sakit dan diliputi perasaan senang.

Jongin duduk kembali dan menarikku dari tempat tidur ke pangkuannya. "Kita tak punya banyak waktu. Ayo."

Jongin mencium rambutku dan memaksaku untuk berdiri. Aku mengeluh tapi duduk kembali di tempat tidur sambil mengambil celana dalamku dari lantai dan memakainya. Dengan malas aku berjalan ke kursi untuk mengambil celanaku. Aku menyadari sekali bahwa aku tidak melepas sepatuku selama kencan gelap kita.

Jongin mengikat dasi kupu-kupunya, setelah selesai merapikan diri dan tempat tidurnya. Ketika aku memakai celanaku kembali, aku melihat foto-foto di papan pin. Jongin masih remaja sangat tampan bahkan pada saat cemberut: dengan Suho dan Taemin di lereng ski; sendirian di Paris, memperlihatkan latar belakang Arc de Triomphe; di London, New York, Grand Canyon; Opera House di Sydney, bahkan Tembok Besar China. Master Grey sudah banyak traveling pada saat usianya masih muda.

Ada potongan tiket berbagai konser: U2, Metallica, The Verve, Sheryl Crow, New York Philharmonic menampilkan orkestra Prokofiev Romeo dan Juliet - musik eklektik campuran apa! Dan di sudut, ada sebuah foto seorang wanita muda ukuran paspor. Warna hitam putih. Dia tampak familier, tapi tidak selama hidupku, aku tidak bisa menebaknya. Bukan Mrs Robinson, syukurlah.

"Siapa ini?" tanyaku.

"Bukan seorang yang penting," gumam Jongin saat ia memakai jasnya dan meluruskan dasi kupu-kupunya.

"Bolehkah aku menaikkan ritsleting celanamu?"

"Silakan. Lalu mengapa fotonya ada di papan pinmu?"

"Inilah kecerobohanku. Bagaimana dasiku?" Jongin mengangkat dagunya seperti seorang anak kecil, dan aku menyeringai meluruskan dasinya.

"Sekarang sempurna."

"Seperti kamu," bisik Jongin dan meraihku, menciumku penuh gairah. "Merasa lebih baik?"

"Jauh lebih baik, terima kasih, Mr. Kim."

"Kenikmatan ini semua milikku, Sehun."

~oOOo~

Para tamu sedang berkumpul di lantai dansa. Jongin menyeringai padaku - kami datang tepat pada waktunya - dan ia menuntunku menuju lantai kotak-kotak.

"Dan sekarang, ladies dan gentlemen, saatnya untuk dansa pertama. Mr Kim Jonghyun dan Dr Nana, apakah anda sudah siap?"

Jonghyun mengangguk setuju, lengannya disekitar Nana.

"Ladies dan gentlemen dari Lelang Dansa Pertama, apakah Anda sudah siap?"

Kami semua mengangguk setuju. Taemin dengan seseorang yang tidak aku kenal. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan Minho?

"Sekarang kita bisa mulai. Silahkan, Sam!" Seorang pemuda berjalan menuju panggung di tengah riuhnya tepuk tangan, berbalik kearah band belakangnya dan menjentikkan jari. Lagu familier "I've Got You Under My Skin" memenuhi ruangan.

Jongin tersenyum ke arahku, membawaku dalam pelukannya, dan mulai bergerak. Oh, Kim Jongin berdansa dengan sangat anggun, mudah untuk diikuti. Kami saling menyeringai seperti idiot saat ia memutarku di lantai dansa.

"Aku suka lagu ini," bisik Jongin, menatap ke arahku.

"Sepertinya sangat pas."

Jongin tidak lagi menyeringai, tapi serius.

"Kau berada di bawah kulitku juga," aku menanggapi. "Atau kau berada dikamar tidurmu."

Jongin mengatupkan bibirnya tapi dia tak bisa menyembunyikan rasa gelinya. "Oh Sehun," Jongin menegurku dengan menggoda, "Aku tak tahu kau bisa begitu kasar."

"Mr. Kim, begitu juga aku. Aku pikir semua itu karena pengalaman baru-baru ini. Mereka telah sangat mendidik."

"Untuk kita berdua." Jongin serius lagi, dan itu bisa jadi hanya kita berdua dan band.

Kita seperti berada di dalam gelembung pribadi kita sendiri. Saat lagu selesai kami berdua bertepuk tangan. Penyanyinya Sam membungkuk anggun dan memperkenalkan pemain band-nya.

"Bolehkah aku menggantikan?" Aku mengenali pria yang menawarku di lelang. Dengan enggan Jongin membiarkan aku, tapi dia juga merasa geli juga.

"Silahkan. Sehun, Ini John Flynn. John, ini Sehun."

Sial!

Jongin menyeringai ke arahku dan meninggalkan kami menuju salah satu sisi lantai dansa.

"Bagaimana kau melakukannya, Sehun?" Kata Dr. Flynn lancar, dan aku menyadari dia berasal dari Inggris.

"Halo," aku tergagap.

Bandnya membawakan lagu lain, dan Dr Flynn menarikku ke dalam pelukannya. Dia jauh lebih muda daripada yang kubayangkan, meskipun aku tak bisa melihat mukanya. Dia mengenakan topeng mirip dengan Jongin. Dia tinggi, tapi tidak setinggi Jongin, dan dia bergerak tidak seanggun Jongin.

Apa yang akan kukatakan padanya? Mengapa Jongin begitu kacau? Mengapa dia mengajukan tawaran padaku? Ini satu-satunya yang ingin kutanyakan, tapi entah bagaimana itu sepertinya tidak pantas.

"Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Sehun. Apakah kau menikmati acara ini?" tanyanya.

"Ya," bisikku.

"Oh. Aku harap aku tidak bertanggung jawab atas perubahan hatimu." Dia memberiku senyum singkat hangat yang membuatku sedikit lebih nyaman.

"Dokter Flynn, anda seorang psikiater. Ceritakan padaku."

Dia menyeringai. "Masalahnya itu, bukan? Sekelumit tentang psikiater?"

Aku tertawa. "Aku khawatir apa yang mungkin aku ungkapkan, aku hanya sedikit menyadari dan merasa terintimidasi. Tapi sebenarnya aku hanya ingin bertanya tentang Jongin."

Dia tersenyum. "Pertama, ini adalah pesta jadi aku sedang tidak praktek," ia berbisik penuh konspirasi. "Dan kedua, aku benar-benar tak bisa membicarakan Jongin. Selain itu," dia menggoda, "kami membutuhkan biaya sampai Natal."

Aku terkesiap kaget.

"Itu lelucon seorang dokter, Sehun."

Mukaku memerah, merasa malu, kemudian merasa sedikit kesal. Dia membuat lelucon biaya yang dikeluarkan Jongin. "Anda hanya menegaskan apa yang sudah aku katakan pada Jongin. . . bahwa anda adalah seorang penipu yang mahal," aku menegurnya.

Dr. Flynn mendengus dengan tertawa. "Kau bisa tahu disana."

"Anda dari Inggris?"

"Ya. Lahir di London. "

"Bagaimana Anda bisa tinggal di sini?"

"Situasi yang menyenangkan."

"Anda tidak memberikan banyak jawaban, Benarkah?"

"Tak banyak yang bisa diceritakan. Aku benar-benar orang yang sangat membosankan."

"Itu sangat merendahkan diri sendiri."

"Ini adalah ciri khas orang Inggris. Bagian dari karakter bangsa kami."

"Oh."

"Dan aku bisa menuduhmu hal yang sama, Sehun."

"Bahwa aku orang yang membosankan, Dr. Flynn?"

Dia mendengus. "Tidak, Sehun, kau tidak banyak omong."

"Tak banyak yang bisa diceritakan." Aku tersenyum.

"Aku sangat meragukannya." Dia tiba-tiba mengerutkan kening.

Aku memerah, tapi musik sudah selesai dan Jongin sekali lagi berada disisiku. Dr Flynn melepaskanku.

"Sangat menyenangkan bertemu denganmu, Sehun." Dia memberiku senyum hangat lagi, dan aku merasa bahwa aku baru saja melewati beberapa jenis tes yang tersembunyi.

"John." Jongin mengangguk padanya.

"Jongin." Dr. Flynn balas mengangguk, berbalik, berjalan dan menghilang melewati kerumunan. Jongin menarikku ke dalam pelukannya untuk dansa berikutnya.

"Dia jauh lebih muda dari apa yang kubayangkan," gumamku padanya. "Dan sangat tidak bijaksana."

Jongin memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Tidak bijaksana?"

"Oh ya, dia menceritakan semuanya," kataku bercanda.

Jongin menegang. "Nah, kalau seperti itu, ayo kita pergi. Aku yakin kau tak ingin berhubungan lebih lanjut denganku," katanya lembut.

Aku berhenti. "Dia tidak mengatakan apa-apa!" Suaraku terdengar panik.

Jongin berkedip sebelum wajahnya dibanjiri dengan perasaan lega lalu menarikku ke dalam pelukannya lagi. "Kalau begitu mari kita nikmati dansa ini."

Jongin menatap kebawah, meyakinkan aku, kemudian memutarku. Mengapa ia berpikir bahwa aku ingin meninggalkannya? Sangat tidak masuk akal. Kami berdansa sampai dua lagu lagi, dan aku menyadari aku butuh ke kamar kecil.

"Aku tidak akan lama." Saat aku berjalan ke kamar kecil, aku ingat aku meninggalkan dompetku di meja makan, jadi aku berbalik menuju tenda. Saat aku masuk, ruangan masih menyala tapi sangat sepi, kecuali satu pasangan di ujung sana, mereka benar-benar butuh kamar! Aku meraih dompetku.

"Sehun?"

Sebuah suara lembut mengejutkanku, dan aku berbalik melihat seorang wanita mengenakan gaun panjang yang ketat, beludru warna hitam. Topengnya unik. Menutupi wajah dan hidungnya, juga menutupi rambutnya. Menakjubkan dengan ikatan yang rumit warna emas.

"Aku sangat senang kau sendirian," katanya lembut. "Aku sudah ingin bicara denganmu sepanjang malam."

"Maaf, aku tak tahu anda siapa." Dia menarik topeng dari wajahnya dan melepaskan rambutnya.

Sial! Mrs. Robinson.

"Maaf, aku mengejutkanmu."

Aku ternganga padanya. Sialan - apa apa yang diinginkan wanita ini? Aku tak tahu aturan sosial apa yang berlaku ketika bertemu dengan penganiaya anak-anak yang terkenal. Dia tersenyum manis dan memberi isyarat bagiku untuk duduk di kursi. Karena aku yang tidak memiliki lingkup referensi, aku melakukan seperti yang dia katakan demi kesopanan, masih terkejut, bersyukur bahwa aku masih mengenakan topengku.

"Aku akan singkat, Sehun. Aku tahu apa yang kau pikirkan tentang aku. . . Jongin sudah mengatakan kepadaku."

Aku menatapnya tanpa ekspresi, tidak memberikan jawaban, tapi aku senang bahwa dia tahu. Menghemat waktuku untuk memberitahunya, dan dia memburuku ingin bicara. Sebagian dari diriku sangat penasaran ingin mendengar apa yang bisa dia katakan. Ia berhenti sejenak, melirik diatas bahuku.

"Taylor mengawasi kita."

Aku mengintip sekitarku untuk melihatnya mengamati depan pintu tenda. Sawyer bersamanya. Mereka sedang mencari-cari di mana saja kecuali kearah kami.

"Dengar, kita tak memiliki banyak waktu," katanya buru-buru. "Pasti jelas bagimu bahwa Jongin jatuh cinta kepadamu. Aku tak pernah melihatnya seperti ini, tidak pernah." Dia menekankan kata terakhir.

Apa? Mencintaiku? Tidak. Kenapa dia mengatakannya padaku? Untuk meyakinkan aku? Aku tak mengerti.

"Dia tidak akan memberitahumu karena ia mungkin tak menyadari, meskipun aku sudah mengatakan kepadanya, tapi itulah Jongin. Dia sangat tak terbiasa dengan perasaan positif dan emosi yang mungkin dia miliki. Ia terlalu banyak tinggal dengan hal yang negatif. Tapi agaknya kau akan mengetahuinya. Dia berpikir bahwa dia tidak layak."

Aku terguncang. Jongin mencintaiku? Dia tidak mengatakan itu, dan wanita ini sudah mengatakan padanya bahwa bagaimana perasaannya? Betapa anehnya. Seratus bayangan menari-nari di dalam kepalaku: iPad, gliding, terbang untuk menemuiku, semua tindakannya, sifat posesifnya, seratus ribu dolar untuk sebuah dansa. Apakah ini namanya cinta? Dan mendengarnya dari wanita ini, setelah dirinya mengkonfirmasikan padaku, terus terang, tak menyenangkan. Aku lebih suka mendengarnya dari Jongin sendiri. Hatiku mengkerut. Dia merasa tidak layak? Mengapa?

"Aku belum pernah melihatnya begitu bahagia, dan jelas kau juga memiliki perasaan untuk dia."

Seulas senyum singkat melintas di bibirnya. "Itu bagus sekali, dan aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua dalam segala hal. Tapi apa yang ingin aku katakan adalah jika kau menyakitinya lagi, aku akan mencarimu, dan tak akan menyenangkan ketika aku melakukannya." Dia menatapku, mata birunya dingin menembus masuk ke dalam benakku, mencoba mencapai di balik topengku.

Ancamannya begitu mencengangkan, begitu aneh yang menyebabkan tanpa sengaja, tawa tak percaya lolos dariku. Dari semua hal yang bisa dia katakan padaku, ini adalah yang paling tidak terperkirakan.

"Kau pikir ini lucu, Sehun?" Dia berdesis dengan cemas. "Kau tidak melihatnya Sabtu lalu."

Wajahku suram dan menjadi gelap. Pikiran bahwa Jongin tidak bahagia bukan salah satu yang enak untuk diingat, dan Sabtu lalu aku meninggalkannya. Dia telah pergi dengannya. Gambaran itu membuatku mual. Mengapa aku duduk di sini mendengarkan omong kosongnya dari semua orang? Perlahan-lahan aku berdiri, memandangnya dengan saksama.

"Aku tertawa pada kelancanganmu, Mrs. Lincoln. Jongin dan aku tak ada hubungannya denganmu. Dan jika aku meninggalkan dia dan kau datang mencariku, aku akan menunggu - jangan ragukan itu. Dan mungkin aku akan memberikan pelajaran padamu mewakili anak lima belas tahun yang kau lecehkan dan mungkin jadi lebih kacau bahkan lebih dari sebelumnya."

Mulutnya langsung menganga.

"Sekarang permisi, aku punya hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada membuang waktuku denganmu."

Aku berbalik dengan tumitku, memacu adrenalin dan kemarahan mengalir melalui tubuhku, berjalan menuju pintu masuk tenda dimana Taylor sedang berdiri bersamaan dengan kedatangan Jongin, yang tampak bingung dan khawatir.

"Rupanya kau disini," gumamnya, lalu mengerutkan kening saat ia melihat Elena.

Aku melangkah melewatinya, tidak mengatakan apa-apa, memberinya kesempatan untuk memilih - dia atau aku. Dia membuat pilihan yang tepat.

"Sehun," Jongin memanggilku.

Aku berhenti dan menghadapi saat Jongin menangkap tanganku. "Ada apa?"

Jongin menatap ke arahku, kepeduliannya terukir di wajahnya.

"Mengapa kau tak bertanya pada mantanmu?" Desisku ketus.

Mulutnya diputar dan matanya dingin. "Aku bertanya padamu," kata Jongin, suaranya lembut tapi dengan suara rendah sedikit mengancam.

Kami saling melotot. Oke, aku bisa melihat ini akan berakhir menjadi pertengkaran jika aku tidak memberitahunya.

"Dia mengancam akan mendatangiku jika aku menyakitimu lagi - mungkin dengan sebuah cambuk," Aku membentaknya. Berkedip, wajahnya terlihat lega, mulutnya melembut dengan humor.

"Tidak bisakah ironi itu hilang darimu?" Kata Jongin, dan aku bisa mengatakan dia berusaha keras untuk menahan rasa gelinya.

"Ini tidak lucu, Kim Jongin!"

"Tidak, kau benar. Aku akan bicara padanya." Jongin membuat wajahnya serius, meskipun dia masih menekan rasa gelinya.

"Kau tak akan melakukan seperti itu." Aku melipat tanganku, amarahku muncul lagi. Jongin berkedip padaku, terkejut oleh ledakan kemarahanku.

"Lihat, Aku tahu kau terikat dengannya secara finansial, memaafkan permainan kata-katanya, tapi ..." Aku berhenti. Apa yang aku ingin Jongin lakukan? Membiarkan Mrs R turut campur? Berhenti menemuinya? Bisakah aku melakukannya?

"Aku ingin ke kamar kecil." Aku melotot kearahnya, mulutku cemberut.

Jongin mendesah dan memiringkan kepalanya ke satu sisi. Bisakah dia terlihat lebih panas? Apa karena topengnya atau hanya dirinya?

"Tolong jangan marah. Aku tak tahu dia ada di sini. Dia mengatakan dia tidak datang." Nada suaranya menenangkan seolah-olah Jongin bicara dengan anak kecil. Ibu jarinya menelusuri sepanjang bawah bibirku yang cemberut.

"Jangan sampai Elena merusak malam kita, kumohon, Sehun. Dia benar-benar sudah basi."

Basi menjadi kata yang berlaku, aku pikir tanpa kenal belas kasihan, saat ia mengangkat ujung daguku dan dengan lembut mencium bibirku. Aku menghela napas menyetujuinya, berkedip menatapnya. Dia meluruskan dan mengambil sikuku.

"Aku akan menemanimu ke kamar kecil hingga kau tak mendapat gangguan lagi." Jongin membawaku menyeberangi halaman menuju toilet temporarer yang mewah. Taemin mengatakan mereka sudah memesan untuk acara ini, tapi aku tak tahu toiletnya mewah.

"Aku akan menunggumu di sini, sayang," kata Jongin.

Saat aku keluar, suasana hatiku telah berubah. Aku telah memutuskan tidak membiarkan Mrs. Robinson merusak malamku karena mungkin itulah yang dia inginkan. Jongin sedang menelepon, agak jauh dan di luar jangkauan pendengaran segelintir orang tertawa dan mengobrol di dekatnya. Saat aku mendekat, aku bisa mendengarnya. Jongin sangat tegas.

"Mengapa kau berubah pikiran? Aku pikir kita sudah sepakat. Yah, jangan ganggu dia. . . Ini adalah hubungan reguler pertama yang pernah kumiliki, dan aku tak ingin kau mengacaukannya dengan kepedulianmu yang tidak pada tempatnya untukku. Biarkan. Dia. Sendiri. Aku serius, Elena." Jongin berhenti, mendengarkan.

"Tidak, tentu saja tidak." Jongin mengerutkan kening begitu dalam saat ia mengatakan ini. Melirik ke atas, dia melihat aku menatapnya. "Aku harus pergi. Selamat malam." Jongin menekan tombol off.

Aku memiringkan kepalaku ke salah satu sisi dan menaikkan alis padanya. Mengapa Jongin menelepon dia? "Bagaimana kabarnya si basi?"

"Dongkol," jawab Jongin sinis. "Apa kamu ingin dansa lagi? Atau ingin pulang?" Jongin melirik sekeliling. "Kembang api akan dinyalakan lima menit lagi."

"Aku suka kembang api."

"Kita akan tinggal dan menontonnya." Jongin meletakkan lengannya padaku dan menarikku mendekat.

"Jangan biarkan dia menyela di antara kita, kumohon."

"Dia peduli padamu," aku bergumam.

"Ya, dan aku terhadapnya . . . sebagai seorang teman."

"Aku pikir itu lebih dari persahabatan dengannya."

Alis Jongin mengkerut. "Sehun, Elena dan aku. . . itu rumit. Kami memiliki sejarah bersama. Tapi hanya itu, sejarah. Seperti yang sudah pernah aku katakan kepadamu berulang-ulang, dia hanya teman baik. Itu saja. Tolong, lupakan dia." Jongin mencium rambutku.

Untuk kepentingan agar hal itu tidak merusak malam kita, aku membiarkan saja. Aku hanya mencoba untuk memahaminya. Kami berjalan bergandengan tangan kembali ke lantai dansa. Bandnya masih memainkan lagu.

"Sehun." Aku berbalik melihat Jonghyun berdiri di belakang kami.

"Aku bertanya-tanya, apa kau akan memberiku kehormatan untuk berdansa berikutnya denganmu." Jonghyun mengulurkan tangannya kepadaku.

Jongin mengangkat bahu dan tersenyum, melepaskan tanganku, dan membiarkan Jonghyun membawaku ke lantai dansa. Sam memimpin band memainkan lagu

"Come Fly with Me ", dan Jonghyun melingkarkan tangannya di pinggangku dan lembut memutarku ke dalam kerumunan.

"Aku ingin berterima kasih atas sumbangan yang murah hati untuk acara amal kami, Sehun." Dari nada suaranya, aku menduga secara tak langsung dia bertanya entah kenapa aku mampu melakukannya.

"Mr. Kim..."

"Panggil aku Jonghyun, kumohon, Sehun."

"Aku senang bisa menyumbang. Aku tiba-tiba mendapat uang. Aku tidak membutuhkannya. Dan itu sepertinya untuk tujuan mulia." Dia tersenyum ke arahku, dan aku menggunakan kesempatan untuk beberapa pertanyaan polos. Carpe diem (menikmati hari ini tanpa memikirkan masa depan), alam bawah sadarku mendesis dengan tangan belakangnya.

"Jongin menceritakan sedikit tentang masa lalunya, jadi aku pikir itu tepat untuk mendukung pekerjaan anda," aku menambahkan, berharap bahwa ini mungkin mendorong Jonghyun untuk memberiku sedikit pandangan tentang misteri yang ada pada anaknya.

Jonghyun terkejut. "Apakah dia melakukan? Itu tidak biasa. Kau tentu memiliki efek yang sangat positif pada dirinya, Sehun. Aku tak penah berpikir aku melihatnya begitu, begitu. . . ceria."

Aku memerah.

"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu malu."

"Yah, menurut pengalamanku yang terbatas, dia orang yang sangat tidak biasa," Aku bergumam.

"Dia memang seperti itu," Jonghyun setuju dengan tenang. "Waktu kecil Jongin terdengar amat sangat traumatis, dari apa yang dia ceritakan kepadaku." Jonghyun mengerutkan kening, dan aku khawatir jika aku sudah melewati batas.

"Istriku adalah dokter yang sedang bertugas ketika polisi membawa dia masuk. Dia hanya tinggal kulit dan tulang, dan mengalami dehidrasi yang sangat parah. Dia tidak mau bicara." Jonghyun mengerutkan kening lagi, tersesat pada ingatan yang sangat mengerikan, meskipun musik – temponya bertambah cepat mengelilingi kita.

"Sebenarnya, dia tidak bicara selama hampir dua tahun. Ia memainkan piano yang akhirnya membawa dia keluar dari dirinya sendiri. Oh, dan kedatangan Taemin, tentu saja." Dia tersenyum menatapku penuh sayang.

"Dia bermain sangat indah. Dan dia sangat berbakat, Anda harus sangat bangga padanya," nadaku seperti bingung. Sialan. Tidak bicara selama dua tahun.

"Amat sangat. Dia, sangat tekun, sangat pandai, pemuda yang sangat cerdas. Tapi antara kau dan aku, Sehun, melihat dia seperti malam ini - ceria, dia bertindak seperti usianya – benar-benar menggetarkan hati ibunya dan aku. Kami berdua mengomentari hari ini. Aku percaya kami harus berterima kasih padamu untuk itu."

Aku pikir aku merasa malu sampai ke akar-akarku. Apa yang harus aku katakan untuk ini?

"Dia selalu menyendiri. Kami tidak pernah pikir kami akan melihat dia dengan seseorang. Apa pun yang kau lakukan, jangan berhenti. Kami suka melihat dia bahagia." Tiba-tiba dia berhenti. Seolah-olah dia sudah melewati batas. "Maaf, aku tak bermaksud membuatmu tidak nyaman."

Aku menggelengkan kepala. "Aku juga suka melihat dia bahagia," aku bergumam, tak yakin harus berkata apa lagi.

"Yah, aku sangat senang kau datang malam ini. Kami benar-benar senang melihat kalian berdua bersama-sama."

Saat lagu berakhir "Come Fly with Me" berangsur menghilang, Carrick melepaskan aku dan membungkuk, dan aku juga membungkuk memberi hormat, mencerminkan kesopanan.

"Sudah cukup dansanya dengan orang tua." Jongin sudah berada di sisiku lagi.

Jonghyun tertawa. "Kurang dari 'tua', nak. Aku sudah memiliki momenku." Jonghyun mengedipkan mata padaku dengan bercanda dan berjalan ke arah kerumunan.

"Aku pikir ayahku menyukaimu," Jongin bergumam sambil menonton ayahnya berbaur dengan orang banyak.

"Apa yang tidak disukai?" Aku mengintip genit ke arahnya sambil berkedip.

"Pendapat bagus telah dibuat, Sehun." Jongin menarikku ke dalam pelukannya saat band mulai memainkan 'It Had to Be You.'

"Dansalah denganku," bisik Jongin menggoda.

"Dengan senang hati, Mr. Kim." Aku tersenyum menanggapi, dan Jongin membawaku melintasi lantai dansa sekali lagi.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOO~

Dan lagi, Iya aku tahu ini ngaret banget, tapi serius ini kuliah lagi banyak sekali tugas dari dosen. Padahal udah mau UAS masih aja dosennya tega ngasih tugas seabrek, sedih T~T

Aku minta maaf, bener-bener minta maaf jika seandainya part ini benar-benar mengecewakan, typo's bertebaran atau apapun itu.

Untuk kelanjutan cerita, ya aku usahain update cepet juga. Tapi ga bisa janji kapan. Yang jelas iya minggu depan tapi ya itu, ga bisa janji kapan.

Maaf ya, aku kebanyakan ngaret *bow*

.

.

Thanks to review CH 8 :

bublle106 , JongOdult , BraveKim94 , jjongin , chaeyong88 , kkamjonghun22 , YunYuliHun , Kim Jonghee , vitaminexo , izz sweetcity , Rima19exo , VampireDPS , ninoch , kaihun bubble , ohunie , Pita252 , winda ii 5 , Ilysmkji , jiraniatriana , Erna606 , vitangeflower , digrain , utsukushii02 , Minnie163 , fitry sukma 39 , Sekar Amalia , dia luhane , alita94 , kaihunlicious , Keteknyakai .