Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuHina
Warning :OOC Akut. AU. MISTYPO. Alur lambat. Deskripsi yang panjang. Minim dialog. Dan segala kesalahan lain yang dapat ditemukan di dalam cerita ini.
Gak suka pairingnya gak usah baca..:)
Don't like, don't read, don't bash..^^
Happy Reading...
.
Nightingale©Shirayuki Ai
.
We must let go of the life we have planned, so as to accept the one that is waiting for us.
Joseph Campbell
.
.
.
Hinata terduduk di ranjang kamar barunya. Detik kemudian, ia berbaring telentang, memandang langit-langit kamar dan menghembuskan nafas lelah. Yang diinginkannya sekarang hanyalah menutup mata dan tidur. Ia akan menghubungi keluarganya nanti, setelah ia cukup istirahat.
Ah tapi, mungkin Hizashi ji-san sudah menghubungi ayahnya terlebih dahulu. Atau mungkin Itachi-nii?
Sungguh, Hinata sama sekali tak menduga bahwa ia akan tinggal satu apartemen bersama dengan kakak Sasuke. Apakah ini maksud peringatan tentang serigala lapar? Tapi, Itachi-nii jelas tak ada mirip-miripnya dengan serigala, batin Hinata berkata.
Ia menghela nafas lagi. Seharusnya ia bersyukur bahwa ia akan tinggal bersama dengan si Sulung Uchiha itu . Setidaknya, ia tak tinggal bersama orang asing. Bayangan tinggal bersama seseorang yang tak dikenalnya membuat Hinata bergidik ngeri, tapi kemudian ia teringat bahwa baik ayah ataupun ibunya tak mungkin melakukan itu pada putri sulung mereka.
Hinata memejamkan matanya. Merasa lelah. Dan tak lama kemudian, dengkuran halus terdengar memenuhi ruangan.
.
.
.
.
Ketika Hinata terbangun, hari sudah berganti malam. Gadis itu dengan cepat beranjak dari tempat tidur, melirik sekilas ke arah jam digital yang terletak di atas meja nakas. Warna merah yang menyala di jam itu memudahkannya untuk mengetahui waktu saat ini, sementara tangannya bergerak menekan tombol saklar untuk menghidupkan lampu.
Sudah hampir waktu makan malam, dan Hinata merasa dilema antara harus berganti pakaian, ataukah langsung menyiapkan makan terlebih dahulu. Ia tak ingin menjadi sosok penumpang di rumah orang begitu saja. Setidaknya, ia ingin melakukan sesuatu untuk Itachi-nii yang telah bersedia menampungnya selama di sini. Yah, walaupun itu cuma sekedar menyiapkan makan saja. Tapi, ia juga tak mau menemui Itachi-nii dengan pakaian yang sama dengan apa yang dikenakannya sewaktu ia datang tadi.
Hinata menggigit bibirnya sebelum pada akhirnya mengambil keputusan. Ia bergegas membuka kopernya, dan mencari baju ganti yang pantas dikenakannya. Ia harus cepat-cepat.
Meaki begitu, Hinata justru dikejutkan dengan suasana apartemen yang begitu sunyi ketika ia keluar dari kamarnya. Menoleh kanan kiri, Hinata mencoba memastikan keberadaan Itachi, namun ia sama sekali tak menemukan sosok pria dewasa itu. Apa mungkin Itachi pergi keluar tanpa memberitahunya?
Pemikiran itu terlintas di kepalanya ketika Hinata melangkahkan kakinya menuju dapur. Atau, mumgkin saja Itachi telah berusaha memberitahu Hinata, namun Hinata sama sekali tak menyadarinya?
Ada begitu banyak kemungkinan yang bermunculan membuat kepala Hinata terasa pening. Belum lagi perutnya terasa lapar. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus memasak hanya untuk dirinya sendiri, ataukah ia pun memasak untuk Itachi?
Memikirkan hal sepele seperti itu membuat dahi Hinata berkerut, dan ia merutuki dirinya yang sama sekali tak langsung meminta nomor ponsel kakak kandung Sasuke itu sejak awal.
Mengulurkan tangan untuk membuka lemari es besar di dapur, Hinata melihat sebuah memo yang tertempel di pintu kulkas. Tulisan tangan rapi milik Itachi. Ia menarik memo yang tertempel di pintu kulkas itu sewaktu melihat ada namanya di sana.
Hina-chan, aku keluar sebentar. Di dalam lemari pendingin ini kau bisa menemukan seluruh bahan makanan yang bisa kau gunakan untuk memasak apapun yang kau inginkan. Jangan khawatirkan aku. Maaf, aku tak bisa menjamumu malam ini. Uchiha Itachi
Yah, setidaknya itu menjelaskan kenapa apartemen ini terasa sunyi. Hinata sedikit cemberut ketika menyadari bahwa ini berarti ia akan makan malam sendirian. Lesu, Hinata sama sekali sedang tak bergairah untuk memasak. Apa artinya jika ia hanya makan seorang diri.
Hinata hanya mengambil sebuah apel untuk menu makan malamnya. Dan segelas susu. Ia lalu berpindah menuju ke ruang santai, dan berencana untuk menonton tv sembari menanti kepulangan Itachi. Tapi, kemudian ia teringat bahwa ia harus mengabari keluarganya di Jepang, teman-temannya, dan Sasuke.
Memberitahu nama yang terakhir itu merupakan kewajiban. Hinata sudah pergi tanpa pamit kepada si bungsu Uchiha itu. Hal itu saja sudah bisa dipastikan mampu membuat Sasuke marah besar. Tapi, kalau ia benar-benar tak memberi kabar, atau lebih parah lagi, pria itu tahu tentang kepergiannya dari Jepang, dan pengaturan tempat tinggalnya sekarang dari mulut kakaknya sendiri dan bukan dari Hinata, bisa dipastikan persahabatan mereka akan berada di ujung tanduk. Dan Hinata sama sekali tak siap mengambil resiko itu.
Sasuke terlalu berharga baginya ...
Oleh karena itu, ia sengaja menyisakan Sasuke di list terakhir orang-orang yang wajib ia hubungi begitu sampai di New York. Hinata tak yakin bagaimana Sasuke bisa menerima fakta bahwa Hinata tak lagi berada di dataran Jepang ketika Sasuke kembali dari Inggris. Dan, ia hanya mampu berharap setidaknya Sasuke begitu mencemaskannya sehingga ketika ia mendengar suara Hinata, pria itu menjadi begitu lega dan lupa akan kemarahannya.
Setiap orang bebas untuk berharap, bukan?
'Tapi, ini Sasuke yang sedang kita bicarakan,' pikiran negatif itu berkata. Meruntuhkan secuil harapan yang Hinata punya dengan kebenarannya. Sasuke jelas bukanlah tipe seseorang yang dapat dengan mudah terusik perhatiannya dari satu topik yang sedang ia bahas. Pria itu pasti marah. Dan Hinata mau tak mau harus menghadapinya.
Gadis itu cemberut, sementara tangannya bergerak membuka satu aplikasi di ponselnya yang biasanya ia gunakan untuk berkomunikasi ketika ia dan Sasuke terpisah jauh. Hinata bisa saja langsung menelponnya, tapi kenapa ia harus berpuas mendengarkan suaranya saja di saat ia bisa sekaligus melihat wajahnya?
Hinata menanti panggilannya dijawab. Menunggu, sembari menggigit apelnya. Ketika sama sekali tak ada jawaban, ia mencoba sekali lagi.
"Apa mungkin Sasuke-kun sudah tidur?" berbisik lirih sambil menatap layar ponselnya dengan sedih, Hinata kembali mencoba untuk yang ketiga kalinya. Ia tahu bahwa perbedaan waktu mereka berkisar lima jam. Hanya saja, biasanya tak peduli selarut apa, Sasuke selalu menyempatkan diri untuk menjawab panggilannya.
Pelupuk mata Hinata mulai terasa panas, dan ia lalu memeluk kedua lututnya. Ia bukan gadis cengeng, tapi di tempat yang asing baginya, jauh dari keluarga dan sahabatnya, Hinata menginginkan sesuatu yang familier baginya. Yang dapat mengingatkannya bahwa tak akan ada sesuatu yang berubah, meski ia berada di benua yang berbeda. Sendirian seperti ini membuat Hinata merasa sedikit sesak.
Ia menyembunyikan wajahnya, dan sesaat kemudian bahunya berguncang. Hinata boleh menangis, kan?
Ia tak harus terus menerus berusaha kuat. Hinata hanyalah gadis biasa, yang tentu saja tak melulu kuat menahan tekanan emosional terus menerus. Di Jepang, tentu saja ia mampu menyembunyikannya dengan baik. Lagipula, di sana ada orang-orang yang ia sayang, dan Hinata sama sekali tak ingin membuat mereka cemas. Tapi di sini, di negara orang dan di apartemen yang asing baginya, Hinata hanya seorang diri. Dan itu memberikan kesempatan bagi pemikiran negatif yang selama ini berusaha ia tekan untuk muncul.
Pemikiran seperti bahwa ia hanya melarikan diri.
Ia berdalih bahwa kepergiannya ke sini hanyalah untuk membantu sang paman sekaligus untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya. Tapi, apakah memang perlu sampai sejauh itu? Bukankah ia juga bisa melakukannya di Jepang?
Hinata menyetujui hal itu, tapi ia tak sekuat itu. Ia belum terlalu kuat melihat Naruto berbahagia bersama orang yang dicintainya, sementara ia sendiri masih berjuang untuk mengumpulkan serpihan hatinya yang berserakan. Ia hanya berpura-pura. Kau tak akan semudah itu mampu berjalan setelah terjatuh dan terluka. Langkah awalmu pasti terseok-seok, dan begitu pula Hinata.
Dan karena itu, ia membutuhkan dan memanfaatkan sebisa mungkin bantuan yang ditawarkan padanya.
Lantas, apakah ini berarti ia pun memanfaatkan kebaikan Sasuke?
Hinata dengan tegas menolak hal itu. Ia berpikir pemikiran seperti itu pun sangat merendahkan Sasuke. Pria itu hanya bersikap baik, dan sebagai balasannya Hinata pun melakukan hal yang sama dengannya. Sebagai seorang sahabat. Tak lebih.
Sama sekali tak ada romansa di antara mereka, meski kadang Sasuke dengan gampangnya mampu membuat rona merah muncul di wajahnya, ataupun membuat jantungnya berdegup kencang lebih dari biasanya. Hinata menyadari Sasuke terlalu tinggi untuk digapai. Begitu kuat. Begitu tak tersentuh. Dan sahabatnya tersayang itu pantas mendapatkan wanita yang mampu mengimbanginya. Wanita, yang bukan Hinata.
Ada perasaan tak rela yang muncul perlahan ketika menyadari bahwa ia dan Sasuke suatu saat nanti akan terpisah.
Bolehkah Hinata bersikap egois kali ini? Bolehkah ia memonopoli seluruh perhatian Sasuke untuk dirinya sendiri saat ini?
Ia terkesiap kaget sewaktu merasakan sofa di sampingnya melesak ke bawah, menyadari ada orang lain telah bergabung dengannya di tempat duduk empuk berwarna putih itu.
Menoleh ke samping dengan cepat tanpa sempat menghapus jejak air matanya, Hinata merasa tubuhnya mendadak kaku.
Onyx itu menatap lurus ke arahnya. Sang pemilik mata mengangkat satu tangannya sebagai salam, sebelum akhirnya berkata dengan suara parau,
"Aku lapar. Bisa buatkan aku sesuatu?"
Dan Hinata hanya dapat menganggukkan kepalanya tanpa mampu berkata apapun lagi.
.
.
.
.
"Aku sebenarnya marah padamu."
Itu adalah kalimat pembuka yang disampaikan oleh Sasuke setelah ia selesai menghabiskan makan malam yang dimasakkan oleh Hinata, dan kini sedang menuangkan anggur ke gelasnya.
"Hmm ..." Hinata hanya menjawabnya dengan gumaman. Ia sedang sibuk membereskan piring bekas mereka makan, dan meletakkannya di basin dapur.
"Hinata." tegur Sasuke. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Hinata menghentikan kegiatannya mencuci piring, dan mengambil lap untuk mengeringkan tangannya. Gadis itu berbalik, dan tersenyum canggung pada Sasuke.
"A-aku hanya tak ingin membuatmu khawatir."
Ucapan itu hanyalah sebuah kebohongan, dan baik Hinata maupun Sasuke mengetahui hal itu. Memijit pangkal hidungnya sebelum menghembuskan nafas lelah, Sasuke pada akhirnya duduk kembali di kursi counter dapur.
"Justru dengan tak mengabariku, kau justru membuat rasa khawatirku menjadi berlipat ganda, Hime."
"A-aku bisa kok menjaga diriku sendiri." Hinata merajuk, cemberut.
Sasuke terkekeh. "Mungkin. Tapi, itu tetap saja tak mampu meruntuhkan instingku untuk selalu melindungimu."
Nah, ucapan yang seperti ini, yang meluncur dari bibir Sasuke, yang mampu membuatnya salah tingkah. Terlalu manis, dan membuat jantung Hinata memompa darah lebih kencang daripada biasanya.
"A-aku tak serapuh itu, Sasuke-kun." sungutnya, lalu menarik kursi dan ikut duduk. "Lagipula, tak mungkin 'kan, hanya karena aku tak mengabarimu lantas kau menyusulku kemari?"
"Bagaimana jika itu justru kenyataannya, Hinata?"
"Eh?"
Sasuke mengedikkan bahunya, menghabiskan anggur di gelasnya dalam sekali tegukan. "Kau tahu, aku benci terpisah jauh darimu. Tapi, kau malah membuat batas kesabaranku habis dengan tak memberi kabar apapun padaku."
Hinata mengerutkan kening, memiringkan kepalanya dengan sikap bertanya. "Kenapa?" tanyanya.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kau sampai seperti itu?" Hinata kembali bertanya. Sulit rasanya memahami alasan Sasuke begitu saja. Mereka bersahabat, itu jelas. Tapi, itu tak berarti mereka harus selalu bersama bukan?
Sasuke menggertakkan giginya. Hinata sepertinya benar-benar mencoba batas kesabarannya kali ini. Yah, kalau memang kebenaran yang gadisnya itu inginkan, Sasuke akan memberikannya. Lagipula, ia sendiri sudah berjanji pada dirinya ketika meninggalkan daratan Inggris, bahwa ia akan memulai pengejarannya terhadap Hinata secara terang-terangan.
Sasuke benar-benar akan memulai langkah untuk menjadikan gadis itu menjadi miliknya. Dan tak akan ada seorang pun yang mampu menghentikannya kali ini. Tidak Naruto. Tidak Sakura. Tak ada. Sasuke tak akan membiarkannya lagi.
"Karena kau terlalu berharga untukku, Hyuuga." pria itu menjawab dengan nada tenang. Intensitas tatapan matanya menahan Hinata untuk tetap memandangnya. Sasuke mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi gadis itu, mengelusnya menggunakan buku jarinya, merasakan tekstur halus kulit gadis itu,
"Sa-Sasuke-kun ..."Hinata berbisik lirih.
"Jadi sebaiknya kau membiasakan dirimu, Hinata. Karena aku jelas akan selalu berada di dekatmu, tak peduli kau menginginkannya atau tidak."
Hinata merasa dirinya lupa bagaimana caranya bernafas. Kalimat itu. Tatapan Sasuke. Suasana ruang makan yang diterangi lampu temaran. Semuanya ...
Padahal tak lama tadi, Hinata baru saja menangisi keadaannya. Tapi dalam sekejap, kehadiran Sasuke mampu menjungkirbalikkan segalanya, mengacaukan perasaannya, meski Hinata tak sepenuhnya menolak.
Dan karena itu, ia pun sama sekali tak menghindar sewaktu Sasuke mendaratkan sebuah kecupan manis di dahinya. Ia justru tersenyum manis sewaktu Sasuke berbisik pelan ketika menempelkan dahi mereka.
"Tadaima, Hime."
Dan menjawabnya dengan bisikan lirih ...
"Okaeri, Sasuke-kun."
.
.
.
.
Sakura merapikan bajunya sebelum sekali lagi menekan bel. Ia menekan rasa cemas yang entah kenapa mendadak menyergapnya sewaktu ia berdiri di depan pintu masuk rumah keluarga Uchiha. Padahal sejak ia kecil, Sakura sudah berulang kali berkunjung kemari. Dan seharusnya, ia tak perlu lagi merasa gugup seperti ini.
"Loh, Sakura-chan?"
Uchiha Mikoto kelihatannya baru saja kembali dari acara berbelanja bersama dengan seseorang yang sama sekali asing bagi Sakura. Wanita yang telah melahirkan dua orang anak lelaki tampan itu menaiki undakan tangga di jalan menuju pintu masuk, dan tersenyum cerah, menyambut Sakura.
"Sudah lama sekali kau tak kemari." Mikoto berkata lembut, dan membuka pintu, mempersilahkan mereka masuk.
Tersenyum canggung, Sakura pun menjawab dengan pelan. "Aku minta maaf, ba-san. Ada beberapa hal yang sama sekali tak bisa kutinggalkan."
Mikoto mengangguk paham. "Maksudmu, Naruto?" katanya enteng, dan menggiring mereka menuju ke ruang tamu. "Ah, aku akan meminta Matsumoto menyiapkan minum dan makan untuk kita bertiga. Hikari, kau tak apa kan kutinggal sebentar?"
Wanita berambut gelap, yang rupanya bernama Hikari itu mengangguk, lalu duduk di salah satu sudut sofa. Sakura pun mengikuti gerakannya dan ikut duduk, berusaha terlihat santai. Ia mengamati wanita dewasa di depannya yang terlihat tenang, sama sekali tak terpengaruh oleh keberadaan Sakura sama sekali. Dan Sakura sendiri bertanya-tanya siapa teman dari Uchiha Mikoto itu, meski wajahnya sendiri tak terasa asing.
"Jadi," Mikoto kembali memasuki ruangan dan duduk di samping wanita yang bernama Hikari itu. "ada perlu apa kemari, Sakura? Jika kau bermaksud ingin menemui Sasuke, dia sedang tak ada di tempat saat ini."
Sakura menggeleng cepat. "Aku hanya ingin mengunjungi ba-san saja kok." katanya. "Lagipula, sudah lama rasanya aku tak kemari. Kupikir, aku bisa sekalian mengajak ba-san keluar, dan kita mungkin bisa berbelanja bersama."
Mikoto tertawa. "Ah, kalau soal berbelanja, kau sama sekali tak perlu khawatir soal itu." ia menyikut sahabatnya dengan pelan. "Ada Hikari di sini yang selalu bisa menemaniku kapanpun."
Sakura merasa kecewa. Mikoto seolah-olah menolak begitu saja tawarannya untuk pergi bersama. Ia melirik ke arah wanita di samping Nyonya Uchiha itu, dan menyadari bahwa wanita itu pun juga sedang menatapnya.
"Lalu, apa kau berencana akan menetap di Jepang selamanya? Kudengar juga kau akan bertunangan dengan Naruto?"
Sakura memaksa dirinya kembali memandang Mikoto, dan seulas senyum simpul terukir di bibirnya.
Mikoto mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, wajah penuh senyum itu berubah menjadi sedikit menyelidik.
"Meski harus kuakui, Sakura-chan. Aku sedikit terganggu dengan adanya skandal yang mewarnai hubunganmu dan Naruto."
"Skandal?" Sakura berpura-pura tak mengerti, meski ia sepenuhnya tahu apa maksud Mikoto.
"Bahwa kau menjadi pihak ketiga rusaknya hubungan Hinata dan Naruto."
Sebenarnya tak ada nada penuh tuduhan dalam ucapan itu, tapi entah kenapa Sakura merasa tertohok mendengarnya. Terutama jika yang mengatakan hal itu adalah ibu dari salah satu temannya sejak kecil. Tapi, Sakura adalah Sakura. Dan ia menolak untuk menjadi biang penyebab keretakan hubungan dua orang itu. Lagipula, ia sama sekali tak bersalah. Jika Naruto memang mencintai Hinata, ia sama sekali tak akan pernah membiarkan Sakura kembali merangkak masuk ke dalam hatinya.
"Itu semua tak benar, ba-san." Sakura menjawab dengan tenang, tersenyum sewaktu pelayan keluarga Uchiha meletakkan nampan berisikan teh hangat dan kue kering sebagai cemilan mereka. "Aku sama sekali tak pernah menjadi perusak dalam hubungan siapapun, terlebih lagi hubungan temanku sendiri."
Mikoto memberikan secangkir teh hangat pada Hikari, lalu menuangkan teh untuknya sendiri.
"Rasanya aneh saja, bahwa kau langsung mengambil tempat sebagai kekasih Naruto tak lama setelah mereka putus." Mikoto kembali berkomentar. "Kuharap Hina-chan baik-baik saja."
Sakura memperhatikan Hikari tersenyum tipis sembari meniup tehnya yang masih mengepul.
"Dia gadis kuat." komentarnya sesaat kemudian.
Sakura berdehem, mencoba mengalihkan perhatian Mikoto agar tertuju kepadanya. Sebenarnya, ia memiliki alasan kemari. Ada sesuatu yang ingin ia buktikan kebenarannya, dan ia tak akan bisa melewati harinya dengan tenang hingga ia mendapatkan jawabannya.
"Mikoto ba-san mengenal Hinata-san kah?" tanyanya dengan pelan.
Kali ini Mikoto memandangnya dengan tatapan aneh. "Apa Sasuke tak pernah memberitahumu?"
"Eh?"
"Kupikir media terlalu membesar-besarkan berita tentang keluarga kita yang menjadi rival bisnis, Mikoto." Hikari, pada akhirnya berkata panjang. Ia memandang lurus pada Sakura, yang sama sekali tak siap mengetahui kebenaran yang kini ditawarkan di depan matanya. "Jadi akhirnya aku bertemu langsung denganmu, Haruno-san. Perkenalkan, namaku Hyuuga Hikari. Ibu dari Hyuuga Hinata."
.
.
.
.
"Eeh, jadi Sasuke-kun akan tinggal di sini juga?" Hinata berkata dengan nada tak percaya. Kini ia dan Sasuke sudah berpindah tempat dari dapur ke ruang santai.
"Memangnya kenapa?" Sasuke mengacak rambut sang gadis dengan gemas. "Kau seperti terdengar tak suka."
"Bu-bukan begitu. " Hinata mengelak ketika tangan Sasuke kembali terulur. "Bagaimana dengan pekerjaanmu di Jepang?"
"Gampang. Nanti Itachi yang akan mengurusnya?"
"Eh?!"
Mendengus, Sasuke lalu mengambil bantal sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Hinata dengan pelan. "Kami bertukar posisi. Aku yang akan mengambil alih bisnis di sini, sementara Itachi terdepak kembali ke Jepang."
Hinata mencibir sembari mengusap ujung hidungnya.
"Memangnya Itachi-nii mau?"
"Dia pasti mau."
"Pasti?"
Sasuke melirik ke arahnya. "Ini pembicaraan antar pria, Hime. Kau tak perlu tahu."
Hinata merenggut. Lalu, ia mendadak menyadari sesuatu. Raut wajah sumringah adik tersayangnya. Tatapan tak rela dari Neji dan ayahnya. Mereka tahu. Demi Tuhan, anggota keluarganya tahu bahwa Sasuke akan menyusulnya dan mereka merahasiakannya dari Hinata!
"Kenapa wajahmu berkerut seperti itu?"
Hinata menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Keluargaku tahu bahwa kau akan menyusulku kemari." ujarnya.
"Um, ya?" Sasuke sama sekali tak mengerti kemana arah pembicaraan Hinata, karena itu ia hanya mengikuti alur saja.
"Dan yang dimaksud serigala lapar oleh Neji-nii itu adalah Sasuke-kun?"
"Hah?" Sialan si Sadako, Sasuke merutuk dalam hati.
"Lalu, jika Itachi-nii benar akan kembali ke Jepang, apa ini artinya aku hanya akan tinggal berdua saja dengan Sasuke-kun?"
Berdua saja ...
Tak tahukah Hinata bahwa kata-kata itu memberikan dampak kepada si bungsu Uchiha itu? Biar bagaimanapun Sasuke adalah pria normal yang memiliki hasrat terhadap wanita, terlebih ini adalah wanita yang dicintainya.
Memang benar, pada awalnya semua ini adalah idenya. Menawarkan diri untuk menjaga Hinata selama ia berada di New York kepada Hyuuga Hiashi. Tapi, waktu itu yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana Hinata terlindungi dan ia bisa mengawasinya, menjaganya setiap saat. Dan tinggal bersama di bawah atap yang sama merupakan usul yang paling masuk akal dibandingkan usul-usul yang ada. Sasuke merasa yakin bahwa ia mampu mengontrol dirinya.
Sekarang, Sasuke masih yakin ia mampu mengontrol dirinya. Namun tidak dengan pikirannya. Kelihatannya ini tak semudah yang pernah dibayangkannya. Dan tak tahu kenapa, Sasuke memiliki firasat bahwa ia akan sering berada di bawah guyuran air dingin nantinya.
"Kenapa?" Sasuke akhirnya berkata, dan merendahkan suaranya hingga terdengar menggoda. "Takut akan terpesona dengan pesonaku, Hime?"
Hinata merona.
Sasuke suka. Suka sekali akan hal itu.
"Bu-bukan begitu?" Hinata menggelengkan kepalanya. "Jika kita tinggal berdua saja, bagaimana nanti jika ada yang salah paham?"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Salah paham dan mengira kita sepasang kekasih, begitukah maksudmu? Tak apa. Aku juga tak akan menolak jika calon istriku begitu manis sepertimu."
"Sasuke-kun!" Hinata berkata dengan sebal. "Seriuslah sedikit."
"Siapa yang sedang bercanda, Hime?"
"Leluconmu itu sama sekali tak lucu." Hinata bangkit dari sofa, memiliki keinginan untuk kembali ke kamar, menjauh dari Sasuke yang mendadak menyebalkan karena terus-terusan menggodanya.
Tapi, Sasuke mencengkram pergelanan tangannya, menariknya membuat Hinata jatuh ke pelukan Sasuke. Gadis itu terkesiap, dan berusaha beringsut menjauh. Namun Sasuke menahan kedua tangannya di dadanya.
"Sasuke-kun, lepaskan aku."
"Dengar baik-baik, Hinata. Karena aku hanya akan mengatakan ini satu kali saja." Sasuke berkata tegas, memaksa Hinata beradu pandang dengannya.
"Aku tak peduli dengan apa pendapat orang. Yang aku pedulikan hanya dirimu. Apapun yang terjadi, yang tahu kebenarannya itu hanya kita sendiri. Dan asal kau tahu saja, aku memang berniat untuk menjadikanmu istriku ..."
.
.
.
.
***To Be Continue***
