Saat tengah malam, kami berjalan turun menuju pantai antara tenda dan rumah perahu dimana tamu pesta lainnya berkumpul untuk menyaksikan kembang api. MC, kembali bertugas, sudah diijinkan melepas topeng, lebih baik untuk melihat langsung.

Jongin memelukku, tapi aku tahu bahwa Taylor dan sangat dekat, mungkin karena kita berada di kerumunan orang banyak sekarang. Mereka mengawasi dimana-mana kecuali di dermaga dimana dua teknisi yang mengurusi kembang api berpakaian serba hitam sedang membuat persiapan akhir.

Melihat Taylor mengingatkan aku pada Leila. Mungkin dia ada disini. Sial. Pikiran itu membuatku merinding, dan aku memilih untuk lebih mendekat pada Jongin yang membuatnya menatap ke arahku saat dia menarikku lebih dekat.

"Kau baik-baik saja, sayang? Dingin?"

"Aku baik." Aku melirik cepat dibelakang kami dan melihat dua pria keamanan lainnya, siapa namanya aku lupa, berdiri sangat dekat. Aku pindah di depannya, Jongin menempatkan kedua tangannya diatas pundakku.

Tiba-tiba, suara klasik boom diatas dermaga dan dua roket melambung ke udara, meledak dengan letusan memekakkan telinga di atas teluk, semua cahayanya sangat mempesona seperti membentuk kanopi berkilau warna oranye dan putih itu tercermin seperti pancuran berkilauan di atas air teluk yang tetap tenang. Mulutku menganga saat beberapa roket ditembakkan lagi ke udara dan meledak dengan serangkaian warna. Aku tidak ingat pernah melihat pertunjukan yang mengesankan ini, kecuali mungkin di televisi, dan tidak terlihat sebagus ini di TV. Mereka semua tepat waktu dengan musiknya.

Rentetan demi rentetan, letusan lalu letusan lagi, dan cahaya demi cahaya saat kerumunan orang banyak mengeluarkan suara ooohs dan ahhs dengan terengah-engah. Di atas dermaga teluk seperti berbagai air mancur cahayanya perak saat ditembakkan keatas dua puluh kaki diatas udara, berubah warna menjadi warna biru, merah, oranye, dan kembali ke perak-dan lebih banyak lagi roket meledak saat musik dimainkan semakin keras. Wajahku mulai terasa ngilu dari senyum konyol keheranan terpampang di atasnya. Aku melirik Fifty, dan ekspresinya sama, mengagumi seperti seorang anak kecil melihat pertunjukan sensasional.

Terakhir rentetan enam roket ditembakkan diatas kegelapan dan meledak secara bersamaan, kita bermandikan dalam cahaya emas yang kemilau saat kerumunan orang banyak serentak menjadi bingung, tepuk tangan sangat antusias.

"Ladies and gentlemen," MC berteriak saat sorakan dan siulan mereda. "Hanya satu catatan untuk ditambahkan pada akhir acara malam yang indah ini; Total sumbangan anda telah terkumpul sebanyak satu juta delapan ratus lima puluh tiga ribu dolar!"

Tepuk tangan spontan meletus lagi, dan keluar di atas dermaga, pesan menyala di atas sungai perak kembang api warna perak membentuk kata-kata "Thank You From Coping Together", gemerlap dan berkilauan di atas air.

"Oh, Jongin. . . itu sangat indah." Aku menyeringai ke arahnya dan Jongin membungkuk menciumku.

"Waktunya pulang," bisik Jongin, tersenyum lebar diwajahnya yang tampan, dan kata-katanya menjanjikan begitu banyak. Tiba-tiba, aku merasa sangat lelah. Jongin melirik ke atas lagi, dan Taylor mendekat, orang-orang pada bubar di sekitar kita. Mereka tak bicara tetapi ada sesuatu lewat di antara mereka.

"Tinggallah bersamaku sebentar. Taylor ingin kita menunggu sampai semua orang bubar."

Oh.

"Aku pikir mungkin pertunjukan kembang api itu akan membuat dia bertambah tua seratus tahun," tambah Jongin.

"Apakah dia tidak suka kembang api?"

Jongin menatap ke arahku penuh sayang dan menggeleng tapi itu tidak menjelaskan. "Jadi, tentang Aspen," katanya, dan aku tahu dia mencoba mengalihkan perhatianku dari sesuatu. Dan itu berhasil.

"Oh. . . Aku belum membayar untuk tawaranku," Aku terkesiap.

"Kau bisa mengirim cek. Aku punya alamatnya."

"Kau benar-benar marah."

"Ya."

Aku menyeringai. "Aku menyalahkan kau dan mainanmu."

"Kau sendiri sekarang sudah cukup bisa diatasi, Sehun. Aku ingat hasilnya sangat memuaskan." Jongin tersenyum dengan seringaiannya. "Ah iya, aku bingung tentang sesuatu yang aku pasang untukmu. Sebenarnya, di mana mereka?"

"Bola perak? Dalam dompetku."

"Aku ingin mereka dikembalikan." Jongin menyeringai ke arahku. "Itu adalah sebuah alat yang terlalu ampuh dibiarkan berada di tangan polosmu."

"Aku khawatir mungkin perlu diatasi lagi, mungkin dengan orang lain?"

Mata Jongin tiba-tiba berkilat berbahaya. "Aku harap tidak akan terjadi," kata Jongin, suaranya dingin. "Tapi tidak, Sehun. Aku ingin semua kenikmatanmu."

Whoa~

"Kau tidak percaya padaku?"

"Tidak diragukan lagi. Sekarang, bisakah aku memilikinya kembali?"

"Aku akan memikirkannya."

Jongin menyipitkan matanya ke arahku. Ada musik sekali lagi dari lantai dansa tapi seorang DJ memainkan jenis tarian yang berdentum, bassnya berdebar keluar dengan irama tanpa henti.

"Apakah kau ingin menari?"

"Aku benar-benar lelah, Jongin. Aku ingin pulang, jika itu boleh."

Jongin melirik Taylor, dia mengangguk, dan kami berjalan memasuki kedalam rumah, mengikuti pasangan tamu mabuk. Aku bersyukur saat Jongin menggenggam tanganku - kakiku terasa pegal mungkin lelah sedari tadi berjalan kesana-kemari.

Taemin terlihat datang mendekat dengan melompat-lompat kecil kearah kita. "Kau tidak akan pulang, kan? Musik yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Ayo, Sehun." Ajak Taemin sambil mengambil tanganku.

"Taemin," Jongin memperingatkan dia. "Sehun capek. Kami akan pulang. Selain itu, besok kami punya hari besar lainnya."

Kita akan melakukan apa?

Taemin cemberut tapi yang mengejutkan, ia tidak memaksa Jongin. "Kapan-kapan kau harus datang minggu depan. Mungkin kita bisa jalan-jalan?"

"Tentu, Taemin." Aku tersenyum, meskipun di belakang pikiranku, aku bertanya-tanya bagaimana karena aku harus bekerja untuk mencari nafkah. Taemin memberiku ciuman singkat dipipiku kemudian memeluk keras, membuat kami berdua terkejut. Sangat mencengangkan, ia menempatkan tangannya langsung pada kerah jasnya, dan Jongin hanya menatap ke arah Taemin, sabar.

"Aku senang melihatmu bahagia," kata Taemin dengan manis dan kini mencium pipi Jongin. "Bye. kalian berdua bersenang-senanglah." Taemin melompat meninggalkan kami. Menghampiri teman-temannya yang menunggu - Lily diantara mereka, wajahnya tanpa topeng terlihat jelas sangat masam. Iseng-iseng aku mencoba melihat keseliling ingin tahu dimana Minho berada.

"Kita harus pamit pada orang tuaku sebelum kita pulang. Ayo." Jongin mengarahkan aku melewati kerumunan tamu kearah Nana dan Jonghyun, mengharapkan kita mendapatkan perpisahan hangat.

"Kumohon, untuk datang lagi, Sehun, sangat menyenangkan kau ada di sini," kata Nana ramah.

Aku agak kewalahan dengan reaksi mereka berdua terhadap aku, dia dan Jonghyun. Untungnya, orang tua Nana sudah beristirahat karena sudah malam, jadi setidaknya aku terhindar antusiasme mereka. Diam-diam, Jongin dan aku berjalan bergandengan tangan menuju depan rumah tempat mobil-mobil yang tak terhitung jumlahnya yang berbaris dan menunggu untuk mengumpulkan tamu. Aku melirik Fifty. Dia tampak bahagia dan santai. Sangat menyenangkan melihat dia seperti ini, meskipun aku menduga ini tidak biasa setelah hari yang demikian luar biasa.

"Apakah kau cukup hangat?" Tanya Jongin.

"Ya, terima kasih." Aku menarik satin yang membungkusku.

"Aku sangat menikmati malam ini, Sehun. Terima kasih."

"Aku juga, dan beberapa bagian lebih dari yang lain." Aku tersenyum.

Jongin menyeringai dan mengangguk, kemudian keningnya berkerut. "Jangan menggigit bibirmu," Jongin memperingatkan dengan cara yang membuat darahku berdesir.

"Apa maksudmu tentang besok adalah hari besar?" Aku meminta untuk mengalihkan perhatian dari diriku sendiri.

"Dr. Greene akan datang untuk menemuimu. Dan, aku punya kejutan untukmu."

"Dr. Greene!" Aku menghentikan.

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena aku benci kondom," kata Jongin pelan. Matanya berkilat diantar cahaya lembut dari lentera kertas, mengukur reaksiku.

"Ini adalah tubuhku," gumamku, kesal karena Jongin tidak meminta pendapatku.

"Ini milikku juga," bisik Jongin.

Aku menatapnya saat para tamu melewati kami, mengabaikan kami. Jongin terlihat begitu sungguh-sungguh. Ya, tubuhku adalah miliknya. . . Jongin tahu lebih baik daripada aku.

Aku mengulurkan tangan, dan Jongin sedikit mengernyit tapi tetap diam. Memegang sudut dasi kupu-kupunya, aku tarik hingga terbongkar, memperlihatkan kancing atas kemejanya. Dengan lembut aku melepaskannya. "Kau tampak panas seperti ini," bisikku.

Sebenarnya Jongin selalu terlihat panas sepanjang waktu, tapi melihatnya seperti ini benar-benar panas.

Jongin menyeringai ke arahku. "Aku harus mendapatkanmu dirumah. Ayo."

Di depan mobil, memberikan sebuah amplop pada Jongin yang kini mengernyit menerimanya dan melirikku saat Taylor mengantarku masuk ke dalam mobil. Taylor tampak lega untuk beberapa alasan. Jongin masuk dan mengulurkan amplop, belum dibuka, saat Taylor dan mengambil tempat duduk mereka di depan.

"Ini ditujukan untukmu. Salah seorang staff memberikannya pada . Tidak diragukan lagi pasti dari hati seseorang yang terpikat kepadamu."

Jongin memutar mulutnya. Jelas ini merupakan konsep yang tidak menyenangkan untuk dia. Aku menatap catatan ini. Dari siapa ini? Menyobek lalu membukanya, aku membaca dengan cepat dalam cahaya redup. Sialan, itu dari dia! Mengapa dia tidak membiarkanku sendiri?

~oOOo~

Aku mungkin salah menilaimu. Dan kau pasti telah salah menilaiku. Hubungi aku kalau kau perlu untuk mengisi salah satu kekosongan - kita bisa makan siang bersama.

Jongin tidak ingin aku bicara denganmu, tetapi aku akan lebih senang sekali bisa membantu.

Jangan salah paham, aku setuju pada hubungan kalian, percayalah - tapi bantu aku, Jika kamu menyakiti hatinya ... ia sudah cukup terluka. Hubungi aku

(206) 279-6261

Mrs Robinson

~oOOo~

Brengsek, dia menandatanganinya atas nama Mrs. Robinson! Jongin menceritakan perihal diriku padanya. Bajingan itu.

"Kamu memberitahunya?"

"Memberitahu siapa, apa sih?"

"Bahwa aku memanggilnya Mrs. Robinson," tukasku.

"Ini dari Elena?" Jongin terkejut.

"Ini konyol," Jongin mengomel, sambil mengacak-acak rambutnya, dan aku bisa mengetahui bahwa dia kesal. "Aku akan mengatasinya besok. Atau Senin," ia bergumam sengit.

Meskipun aku malu mengakuinya, sedikit bagian diriku merasa bangga. Bawah sadarku mengangguk bijak. Elena benar-benar masa lalu Jongin, dan ini pasti bisa menjadi lebih baik. Aku memutuskan untuk tidak berbicara apa-apa untuk sekarang tapi menyimpan catatannya, dan memberinya isyarat, jaminan untuk meringankan suasana hatinya, aku menyerahkan bolanya kembali pada Jongin.

"Sampai lain kali," bisikku.

Jongin melirikku, dan sulit untuk melihat wajahnya dalam gelap, tapi kupikir dia menyeringai. Ia meraih tanganku dan meremasnya. Aku memandang keluar jendela di kegelapan malam, merenungkan apa yang sudah terjadi sepanjang hari ini. Aku sudah belajar banyak tentang Jongin, memperoleh begitu banyak detail yang hilang seperti – salon kecantikan, dan daerah mana yang tidak dan boleh disentuh, masa kecilnya - tapi masih banyak lagi untuk ditemukan.

Dan bagaimana tentang Mrs. R? Ya, ia peduli pada Jongin,itu tampak jelas begitu dalam. Aku bisa melihat itu, dan Jongin juga peduli padanya - tapi tidak dengan cara yang sama. Aku tidak tahu harus memikirkannya lagi. Semua informasi ini membuatku sakit kepala. Jongin membangunkan aku saat kami sudah tiba di depan Escala.

"Apa perlu aku mengangkatmu masuk kedalam?" tanya Jongin lembut.

Aku menggelengkan kepalaku masih mengantuk. Tidak akan. Saat kami berdiri di dalam lift, aku bersandar kepadanya, menempatkan kepalaku di bahunya. berdiri di depan kami, bergeser tidak nyaman.

"Hari ini sangat melelahkan,Sehun?"

Aku mengangguk.

"Capek?"

Aku mengangguk.

"Kau tak banyak bicara."

Aku mengangguk dan Jongin menyeringai.

"Ayo. Aku akan membawamu ke tempat tidur." Jongin mengambil tanganku saat kami keluar lift, tapi kami berhenti di ruang depan ketika mengangkat tangannya keatas. Dalam sekejap, aku langsung terjaga. berbicara ke lengan bajunya. Aku tidak tahu ia memakai radio.

"Akan kulakukan, T," katanya dan berbalik menatap kami."Mr Kim, ban Audi Tuan Oh Sehun telah disayat dan dicoret memakai cat diseluruh permukaannya."

Sialan. Mobilku! Siapa yang melakukan? Dan aku langsung tahu jawabannya begitu pertanyaan itu muncul dalam pikiranku. Leila. Aku melirik Jongin, dan mukanya terlihat pucat.

"Taylor khawatir pelakunya mungkin sudah memasuki apartemen dan mungkin masih ada. Dia ingin memastikan."

"Aku tahu," bisik Jongin. "Apa rencana Taylor?"

"Dia akan naik lift service dengan Ryan dan Reynolds. Mereka akan melakukan pemeriksaan lalu memberi tahu kita kalau semua sudah bersih. Saya akan menunggu dengan Anda, Sir."

"Terima kasih, ." Jongin mengencangkan lengannya di sekitarku.

"Hari ini hanya akan menjadi lebih baik dan lebih baik," Jongin mendesah dengan sengit, mengendus rambutku. "Dengar, aku tak bisa berdiri di sini dan menunggu. , jaga Sehun. Jangan biarkan dia lepas dari pengawasanmu sampai kau tahu semua jadi jelas. Aku yakin Taylor bereaksi berlebihan. Leila tidak bisa masuk ke apartemen."

Apa?

"Tidak, Jongin - kau harus tinggal denganku," aku membujuknya.

Jongin melepaskanku. "Lakukan seperti yang aku katakan,Sehun. Tunggu disini."

Tidak!

" ?" Kata Jongin.

membuka pintu serambi untuk membiarkan Jongin memasuki apartemen lalu menutup pintu kembali dan berdiri di depannya, menatap tanpa ekspresi ke arahku. Sialan. Kim Jongin! Berbagai hasil akhir mengerikan melintas di dalam pikiranku, tapi yang bisa aku lakukan adalah berdiri dan menunggu.

~oOOo~

kembali berbicara kearah dalam lengan bajunya lagi. "Taylor, Mr. Kim telah memasuki apartemen." tiba-tiba tersentak dan meraih earpiece, menarik itu keluar dari telinganya, mungkin menerima beberapa makian kuat dari Taylor. Oh tidak-jika Taylor khawatir. . .

"Tolong biarkan aku masuk," aku memohon.

"Maaf, Tuan Oh Sehun. Ini tidak akan lama." mengangkat kedua tangannya sebagai suatu gerakan defensif. "Taylor dan pria-pria lain baru masuk ke apartemen sekarang."

Oh. Aku merasa begitu tak berdaya. Berdiri terpaku, aku mendengarkan dengan rajin suara sekecil apapun, tetapi semua yang aku dengar adalah napasku yang semakin kuat. Keras dan dangkal, kulit kepalaku terasa berduri, mulutku kering, dan aku merasa lemas. Tolonglah, biarkan Jongin baik-baik saja, aku berdoa dalam hati. Aku tak tahu berapa banyak waktu berlalu, dan tetap saja kami tak mendengar apapun. Tentunya tak ada suara bagus - tak ada tembakan.

Aku mulai mondar-mandir di sekitar meja di lobi dan memeriksa lukisan di dinding untuk mengalihkan perhatian sendiri. Aku tak pernah benar-benar melihat mereka sebelumnya : semua lukisan figuratif, semua lukisan bertema religius - the Madonna and child, semua ada enam belas. Betapa anehnya ini kan? Jongin bukanlah orang yang religius, kan? Semua lukisan di ruang besar lukisan abstrak - ini begitu berbeda. Mereka tak mengalihkan perhatianku terlalu lama - dimana Jongin? Aku menatap dan dia melihatku tanpa ekspresi.

"Apa yang terjadi?"

"Belum ada berita, Tuan Oh Sehun."

Tiba-tiba, gagang pintu bergerak. berputar seperti gasing dan menarik pistol dari sarung bahunya. Aku membeku.

Jongin muncul di pintu. "Semua bersih," katanya, mengerutkan keningnya pada , yang menempatkan senjatanya kembali segera dan melangkah mundur untuk membiarkan aku masuk.

"Taylor bereaksi berlebihan," Jongin menggerutu saat ia mengulurkan tangannya untukku.

Aku berdiri sambil menganga padanya, tidak dapat bergerak, memperhatikan setiap detail kecil: rambut acak-acakan, ketegangan melingkari matanya, rahang tegang, dua kancing paling atas kemejanya terbuka. Aku pikir aku pasti menua sepuluh tahun.

Jongin mengernyit padaku dengan keprihatinan, matanya gelap. "Tak apa-apa, Sayang." Katanya sambil bergerak ke arahku, membungkusku dalam pelukannya, dan mencium rambutku.

"Ayolah, kau lelah. Tempat tidur. "

"Aku sangat khawatir," bisikku, bersukacita dalam pelukannya dan menghirup aroma manis dirinya dengan kepalaku di dadanya.

"Aku tahu. Kami semua gelisah."

telah menghilang, mungkin masuk ke apartemen.

"Sejujurnya, para mantanmu sekarang membuktikan mereka menjadi lebih membangkang dari yang dulu, ," aku menggerutu dengan masam. Jongin relaks.

"Ya." Jongin melepaskanku dan mengambil tanganku, membawaku melintasi lorong dan masuk ke ruang besar. "Taylor dan krunya sedang memeriksa semua lemari pakaian dan lemari. Aku tidak berpikir dia ada di sini."

"Kenapa dia ada di sini?" Sejujurnya ini terasa tidak masuk akal.

"Tepat sekali."

"Bisakah dia bisa masuk?"

"Aku tak melihat bagaimana dia bisa. Tapi Taylor terlalu berhati-hati kadang-kadang."

"Apakah kau sudah mencari di playroom-mu?" Bisikku.

Jongin melirik cepat ke arahku, alisnya berkerut. "Ya, itu terkunci-tapi Taylor dan aku telah memeriksanya."

Aku mengambil napas dalam-dalam.

"Apakah kau ingin minum atau apa?" Tanya Jongin.

"Tidak." Kelelahan menyapu seluruh tubuhku-aku hanya ingin pergi tidur.

"Ayo. Mari aku menempatkanmu ke tempat tidur. Kau tampak lelah." Ekspresi Jongin melembut. Aku mengerutkan kening. Dia tidak ikut juga? Apakah Jognin ingin tidur sendirian? Aku lega ketika ia membawaku ke kamarnya. Aku memegang catatan Mrs. Robinson.

"Ini." Aku memberikannya pada Jongin. "Aku tak tahu apakah kau ingin membaca ini. Aku ingin mengabaikannya."

Jongin membacanya dengan cepat sebentar dan rahangnya menegang. "Aku tidak yakin kekosongan apa yang ia dapat ini," katanya acuh.

"Aku perlu bicara dengan Taylor." Jongin menatap ke arahku. "Biar aku bantu melepas pakaianmu."

"Apakah kau akan memanggil polisi tentang mobil itu?" Tanyaku sambil berbalik.

"Tidak. Aku tak ingin polisi yang terlibat. Leila membutuhkan bantuan, bukan intervensi polisi, dan aku tak ingin mereka di sini. Kita hanya harus melipat gandakan upaya kita untuk menemukan dia." Jongin membungkuk dan memberikan ciuman lembut di bahuku.

"Pergi ke tempat tidur," Jongin memerintahkan dan kemudian dia pergi.

Aku berbaring, menatap langit-langit, menunggu dirinya untuk kembali. Begitu banyak yang terjadi hari ini, begitu banyak pikiran untuk difikirkan. Darimana untuk memulainya?

~oOOo~

Aku terbangun dengan tersentak - belum sadar sepenuhnya. Aku tertidur? Berkedip dalam cahaya redup lorong yang masuk melalui pintu kamar yang sedikit terbuka, aku menyadari bahwa Jongin tidak bersamaku. Dimana dia?

Aku melirik keatas. Berdiri di ujung tempat tidur adalah bayangan. Seorang wanita, mungkin? Berpakaian hitam? Sulit untuk mengatakannya. Dalam keadaan bingungku, aku mengulurkan tangan dan menyalakan lampu samping tempat tidur, kemudian berputar kembali untuk melihat tetapi tidak ada seorang pun di sana. Aku menggelengkan kepalaku. Apakah aku cuma membayangkan? memimpikan itu? Aku duduk dan melihat sekeliling ruangan, suatu kegelisahan, ketidaknyaman yang tersembunyi mencengkeramku - tapi aku sendirian.

Aku mengusap wajahku. Jam berapa sekarang? Dimana Jongin? Alarm mengatakan bahwa sekarang jam dua lima belas subuh. Memanjat turun dengan grogi dari tempat tidur, aku berangkat untuk mencari dia, bingung oleh imajinasi yang terlalu aktifku. Aku melihat hal-hal aneh sekarang. Ini pasti menjadi reaksi terhadap peristiwa dramatis tadi malam.

Ruang utama kosong, satu-satunya cahaya berasal dari tiga lampu pendulum di atas bar sarapan. Tapi pintu studinya terbuka, dan aku mendengar Jongin sedang berbicara ditelpon.

"Aku tak tahu mengapa kau menelepon pada jam segini. Aku tak punya apapun untuk kukatakan padamu. . . Well, Kau bisa katakan sekarang. Kau tak perlu meninggalkan pesan."

Aku berdiri tak bergerak di pintu, menguping dengan rasa bersalah. Siapa yang dia ajak bicara?

"Tidak, Kau yang dengarkan. Aku tanya padamu dan sekarang aku akan memberitahumu. Tinggalkan dia sendirian. Dia tak ada hubungannya denganmu. Apakah kau mengerti?"

Jongin terdengar ingin berkelahi dan marah. Aku ragu-ragu untuk mengetuk.

"Aku tahu maksudmu. Tapi aku serius, Elena. Tinggalkan dia sendirian. Apakah aku perlu mengulanginya tiga kali untukmu? Apakah kau mendengarku? . . . Baiklah. Selamat Malam."

Jongin membanting telepon di atas meja. Oh, sial. Aku mengetuk pintu dengan ragu-ragu.

"Apa?" Jongin menggeram, dan aku hampir ingin lari dan bersembunyi.

Jongin duduk di meja dengan kepala di tangannya. Dia mendongak, ekspresinya ganas, tapi wajahnya melembut segera ketika ia melihatku. Matanya lebar dan hati-hati. Jongin tampak begitu lelah dan hatiku sesak melihatnya. Jongin berkedip, dan matanya menyapu ke kakiku dan kembali lagi. Aku memakai salah satu dari T-shirt miliknya.

"Kau seharusnya berada dalam satin atau sutra, Sehun," Jongin mendesah. "Tapi bahkan memakai kausku pun kau terlihat cantik."

Oh, pujian tak terduga.

"Aku merindukanmu. Datanglah ke tempat tidur." Jongin bangkit perlahan dari kursi masih dalam kemeja putih dan celana panjang hitam. Tapi sekarang matanya bersinar dan penuh janji. . . tapi ada jejak kesedihan juga.

Jongin berdiri di depanku, menatapku tajam tetapi tidak menyentuhku. "Apakah kau tahu apa artinya dirimu buatku?" Jongin bergumam. "Jika sesuatu terjadi padamu, karena aku..." Suaranya menghilang, alisnya berkerut, dan rasa sakit yang berkilat di wajahnya hampir teraba. Dia terlihat begitu bimbang. Ketakutannya sangat jelas.

"Tak ada yang akan terjadi padaku," aku meyakinkan Jongin, suaraku menenangkan.

Aku menggapai dan mengelus wajahnya, menjalankan jariku melalui pangkal janggut di pipinya. Itu ternyata lembut. "Jenggotmu tumbuh dengan cepat," bisikku, tak dapat menyembunyikan keheranan dalam suaraku terhadap pria yang indah dan kacau ini yang berdiri di hadapanku.

Aku menelusuri garis bibir bawahnya kemudian menelusuri jariku ke tenggorokannya, dengan noda samar lipstik di pangkal lehernya. Jongin menatap ke arahku, masih belum menyentuhku, bibirnya terbuka. Aku menjalankan jari telunjukku sepanjang garis lipstik, dan Jongin menutup matanya. Nafas lembutnya berubah jadi cepat. Jari-jariku mencapai tepi kemejanya, dan aku membuka kancing tertutup berikutnya.

"Aku tak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin membuka kemejamu, "bisikku.

Mata Jongin terbuka lebar, menilaiku dengan hati-hati. Tapi dia tak bergerak, dan tak menghentikanku. Sangat perlahan aku membuka kancingnya, memegang bahan kemeja menjauh dari kulitnya, dan pindah ke kancing berikutnya, mengulangi prosesnya - dengan pelan, berkonsentrasi pada apa yang aku lakukan.

Aku tak ingin menyentuh Jongin. Well, aku ingin. . . tapi aku tak akan melakukannya. Pada kancing keempat, muncul kembali garis merah, dan aku tersenyum malu-malu ke arahnya.

"Kembali ke wilayah sendiri." Aku menelusuri garis dengan jari-jariku sebelum melepas kancing terakhir. Aku menarik kemejanya terbuka dan pindah ke mansetnya, melepaskan manset hitam dengan batu dipolesnya satu persatu.

"Bolehkan aku menanggalkan bajumu?" Aku bertanya, suaraku rendah.

Jongin mengangguk, matanya masih lebar, saat aku menggapai dan menarik baju ke atas bahunya. Jongin membebaskan tangannya sehingga dia berdiri di depanku telanjang dari pinggang ke atas. Dengan bajunya yang terlepas, ia tampaknya memulihkan keseimbangannya. Dia menyeringai ke arahku.

"Bagaimana dengan celanaku, Nona Steele?" Jongin bertanya, mengangkat alis.

"Di kamar tidur. Aku ingin kau di tempat tidurmu."

"Apakah kamu mau sekarang? Sehun, kau tak pernah puas."

"Aku tak bisa berpikir mengapa." Aku mengambil tangannya, menariknya dari ruang studi, dan membawanya ke kamar tidurnya. Ruangan ini dingin.

"Kau membuka pintu balkon?" Jongin bertanya, cemberut ke arahku saat kami tiba di kamarnya.

"Tidak" Aku tak ingat melakukan hal itu. aku ingat memindai ruangan ketika aku terbangun. Pintu pasti ditutup tertutup. Oh, sial. . . Semua darah surut dari wajahku, dan aku menatap Jongin saat mulutku jatuh terbuka.

"Apa?" Tukas Jongin, sambil menatapku.

"Ketika aku terbangun. . . ada seseorang di sini," Aku berbisik. "Kupikir itu imajinasiku."

"Apa?" Jongin terlihat ngeri dan berlari ke pintu balkon, mengamati keluar, kemudian melangkah kembali ke kamar dan mengunci pintu di belakangnya.

"Apakah kau yakin? Siapa?" Jongin bertanya suaranya ketat.

"Seorang wanita, kupikir. Itu gelap. Aku baru saja terbangun."

"Berpakaianlah, "geraman Jongin padaku dalam perjalanan kembali masuk. "Sekarang!"

"Pakaianku di lantai atas," aku merengek.

Jongin menarik buka salah satu laci di lemarinya dan mengeluarkan sepasang celana olahraga. "Pakai ini."

Celananya terlalu besar, tapi Jongin sedang tidak bisa diajak berdebat. Jongin terlihat menyambar T-shirt juga, dan cepat memasangnya di atas kepalanya. Meraih telepon samping tempat tidur, ia menekan dua tombol.

"Dia masih di sini," Jongin mendesis ke telepon. Sekitar tiga detik kemudian, Taylor dan salah satu petugas keamanan lainnya, buru-buru masuk ke kamar tidur Jongin. Jongin memberi mereka ikhtisar dari apa yang telah terjadi.

"Berapa lama?" Taylor menuntut, menatapku, semua tentang bisnis. Dia masih mengenakan jaketnya. Apakah orang ini pernah tidur?

"Sekitar sepuluh menit," aku bergumam, untuk beberapa alasan merasa bersalah.

"Dia tahu apartemen ini seperti punggung tangannya," kata Jongin. "Aku akan membawa Sehun pergi sekarang. Dia bersembunyi di sini di suatu tempat. Cari dia. kapan Gail kembali?

"Besok malam, Pak."

"Dia tak boleh kembali sampai tempat ini aman. Paham?" Bentak Jongin.

"Ya, Pak. Apakah Anda akan pergi ke Bellevue?"

"Aku tak ingin mengarahkan masalah ini kepada orang tuaku. Pesankan aku di tempat lain."

"Ya. Aku akan meneleponmu."

"Bukankah kita semua sedikit bersikap berlebihan?" aku bertanya.

Jongin menatap tajam padaku. "Dia mungkin punya pistol," dia menggeram.

"Jongin, dia berdiri di ujung tempat tidur. Dia bisa menembakku tadi, kalau itu yang ingin dia lakukan."

Jongin berhenti sejenak untuk mengendalikan emosinya, kupikir. Dengan suara lembut Jongin berkata mengancam, "Aku tak siap untuk mengambil risiko. Taylor, Sehun membutuhkan sepatu."

Jongin menghilang ke dalam lemari sedangkan pria keamanan menjagaku. Aku tak ingat namanya, Ryan mungkin. Dia tampak bergantian menyusuri lorong dan ke jendela balkon. Jongin muncul beberapa menit kemudian dengan tas kulit, mengenakan jeans dan blazer bergaris-garisnya, memasangkan sebuah jaket denim di bahuku.

"Ayo."

Jongin meremas tanganku erat-erat, dan aku harus praktisnya berlari untuk bersaing dengan langkah panjangnya menuju ke ruang besar.

"Aku tak percaya dia bisa bersembunyi di suatu tempat di sini," aku bergumam, menatap keluar pintu balkon.

"Ini adalah tempat yang besar. Kau belum melihat semuanya."

"Kenapa kau tidak memanggil dia. . . katakan padanya kau ingin berbicara dengannya?"

"Sehun, dia sedang dalam kondisi tidak stabil, dan dia mungkin membawa senjata," kata Jongin kesal.

"Jadi kita kabur begitu saja?"

"Untuk saat ini - iya."

"Seandainya dia mencoba untuk menembak Taylor?"

"Taylor mengetahui dan memahami senjata," kata Jongin dengan jijik. "Dia akan lebih cepat dengan pistol daripada dia."

"Tuan Choi pernah masuk tentara. Dia mengajarkanku untuk menembak."

Jongin mengangkat alisnya dan sejenak tampak benar-benar bingung. "Kau, dengan pistol?" Kata Jongin heran.

"Ya." Aku merasa terhina. "Aku bisa menembak, Mr. Kim, lagi pula aku ini pria,kau sendiri yang selalu memperlakukanku seperti wanita jadi sebaiknya kau berhati-hati. Bukan hanya mantan sub gilamu yang kau harus khawatirkan."

"Aku akan mengingatnya dipikiranku, Sehun," Jongin menjawab datar, geli, dan rasanya enak untuk mengetahui bahwa bahkan dalam situasi tegang yang aneh ini, aku bisa membuatnya tersenyum.

Taylor bertemu dengan kami di lobi dan memberiku koper kecilku dan sepatu Converse hitam milikku. Aku terkejut bahwa dia mengemas beberapa pakaianku. Aku tersenyum malu-malu padanya dengan rasa syukur, dan senyumnya balasannya adalah cepat dan meyakinkan. Sebelum aku bisa menahan diri-aku memeluknya, keras. Taylor terlihat terkejut, dan ketika aku melepaskan pelukannya, dia terlihat memerah di kedua pipinya.

"Hati-hati," gumamku.

"Ya, Tuan Oh Sehun," Taylor bergumam.

Jongin mengernyit padaku dan kemudian melihat penuh tanya pada Taylor, yang tersenyum sangat samar dan menyesuaikan dasinya.

"Beritahu aku ke mana tujuanku." Kata Jongin.

Taylor merogoh jaketnya, mengeluarkan dompetnya, dan memberikan Jongin kartu kredit.

"Anda mungkin ingin menggunakan ini ketika Anda sampai di sana."

Jongin mengangguk. "Pemikiran bagus."

Ryan bergabung dengan kami. " dan Reynolds tak menemukan apa-apa," katanya kepada Taylor.

"Temani Mr. Kim dan Tuan Oh ke garasi," perintah Taylor.

Garasi sepi. Yah, ini hampir jam tiga di pagi hari. Jongin mengantarku ke kursi penumpang R8 dan menempatkan tasku dan tasnya di bagasi di bagian depan mobil. Mobil Audi di samping kami terlihat benar-benar kacau-setiap ban disayat, cat putih berceceran di atasnya. Ini mengerikan dan membuatku bersyukur bahwa Jongin membawaku ke tempat lain.

"Gantinya akan tiba pada hari Senin," kata Jongin muram ketika dia duduk di sampingku.

"Bagaimana dia bisa tahu itu mobilku?"

Jongin melirik cemas padaku dan mendesah. "Dia memiliki Audi A3. Aku membeli satu untuk semua submisifku - itu salah satu mobil paling aman di kelasnya."

Oh. "Jadi, bukan hadiah kelulusan, sebenarnya ya."

"Sehun, meskipun itu yang aku harapkan, kau belum pernah jadi submisifku, sehingga secara teknis itu adalah hadiah kelulusan." Jongin keluar dari tempat parkir dan menuju pintu keluar.

Meskipun itu yang Jongin harapkan. Oh tidak. . . bawah sadarku menggeleng sedih. "Apakah kau masih berharap?" Bisikku.

Telepon dalam mobil bergetar. "Kim," bentak Jongin. "Fairmont Olympic. Memakai namaku."

"Terima kasih, Taylor. Dan, Taylor, berhati-hatilah."

Taylor terdiam. "Ya, Pak," katanya dengan tenang, dan Jongin menutup telepon.

Jalan-jalan di Seattle sepi, dan Jongin mengendarai sampai Fifth Avenue menuju I-5.

Setelah sampai di jalan penghubung antar negara bagian, di menginjak pedal gas, menuju utara. Jongin mengemudi begitu cepat aku sejenak terlempar di kursiku. Aku mengintip ke arahnya. Jongin terlihat tenggelam dalam pikirannya, memancarkan keheningan yang mematikan. Dia tak menjawab pertanyaanku.

Jongin sering melirik di kaca spion, dan aku sadar dia memeriksa bahwa apakah kita tidak sedang diikuti. Mungkin itu sebabnya kami berada di I-5. Aku pikir Fairmont berada di Seattle. Aku menatap ke luar jendela, mencoba untuk merasionalisasi pikiranku yang lelah dan terlalu aktif. Jika dia ingin menyakitiku, dia memiliki kesempatan yang luas di kamar tidur.

"Tidak, Itu bukan apa yang aku harapkan, tidak lagi. Aku pikir itu sudah jelas." Jongin memotong introspeksi diriku, suaranya lembut.

Aku berkedip pada Jongin, menarik jaket denimnya lebih rapat di sekitar tubuhku, dan aku tak tahu apakah dingin yang berasal dari dalam diriku atau dari luar. "Aku khawatir bahwa, kau tahu. . . bahwa aku tidak cukup untukmu."

"Kau lebih dari cukup. Demi Tuhan Sehun, apa yang harus aku lakukan?"

Ceritakan tentang dirimu. Katakan kau mencintaiku. "Mengapa kau pikir aku akan meninggalkanmu ketika aku bilang Dr. Flynn telah mengatakan kepadaku semua hal yang diketahui tentangmu?"

Jongin mendesah dengan berat, menutup matanya sejenak, dan untuk waktu yang lama dia tidak menjawab. "Kau tak bisa mulai memahami kedalaman dari kebobrokanku, Sehun. Dan itu bukan sesuatu yang ingin aku bagi denganmu."

"Dan kau benar-benar berpikir aku akan pergi, jika aku tahu?" Suaraku tinggi, tak percaya. Tidakkah Jongin mengerti bahwa aku mencintainya? "Apakah kau pikir begitu picik tentangku?"

"Aku tahu kau akan pergi," kata Jongin sedih.

"Kim Jongin...Aku pikir itu sangat tidak mungkin. Aku tak bisa membayangkan hidup tanpamu," selamanya...

"Kau pernah meninggalkanku sekali - aku tak ingin mengalaminya lagi."

"Kata Elena dia menemuimu Sabtu lalu," bisikku pelan.

"Dia tidak menemuiku." Jongin mengerutkan kening.

"Kau tidak pergi menemuinya, ketika aku pergi?"

"Tidak," bentak Jongin, jengkel. "Aku hanya bilang aku tidak menemuinya - dan aku tidak suka untuk diragukan," tegurnya.

"Aku tidak pergi ke mana pun akhir pekan lalu. Aku duduk dan membuat glider yang kau berikan padaku. Butuh waktu lama sekali buatku," tambah Jongin pelan.

Hatiku menegang lagi. Mrs Robinson mengatakan Jongin menemuinya. Apakah Mrs Robinson menemuinya atau Jongin tidak menemuinya? Mrs Robinson berbohong. Kenapa?

"Bertentangan dengan apa yang Elena pikir, aku tidak bergegas menemuinya dengan semua masalahku, Sehun. Aku tidak bergegas menemui siapa pun. Kau mungkin pernah memperhatikan – bahwa aku bukan seorang yang banyak bicara." Jongin mengencangkan pegangannya pada roda kemudi.

"Jonghyun bilang kau tak bicara selama dua tahun."

"Apakah iya?" Mulut Jongin tertekan menjadi garis keras.

"Aku agak sedikit memompa dia untuk memberi informasi." Malu, aku menatap jari-jariku.

"Jadi apa lagi yang Ayahku katakan?"

"Dia mengatakan ibumu adalah dokter yang memeriksamu ketika kau dibawa ke rumah sakit. Setelah kau ditemukan di apartemenmu."

Ekspresi Jongin tetap kosong. . . hati-hati.

"Dia mengatakan belajar piano membantu. Dan Taemin."

Bibir Jongin melengkung menjadi senyum menyukai saat disebut namanya. Setelah beberapa saat Jongin berkata, "Dia berusia sekitar enam bulan ketika ia tiba. Aku sangat senang, Suho sendiri terlihat kurang begitu senang. Dia sudah harus bersaing dengan kedatanganku. Dia sempurna." Suara kagum yang manis namun sedih dalam suara Jongin mempengaruhiku.

"Sekarang tidak begitu, tentu saja," Jongin bergumam, dan aku ingat upaya sukses Taemin pada pesta untuk menggagalkan niat mesum kami. Itu membuatku tertawa.

Jongin memberiku pandangan samping. "Kau menemukan bahwa itu lucu, Oh Sehun?"

"Dia tampaknya bertekad untuk memisahkan kita."

Jongin tertawa datar. "Ya, dia cukup berhasil." meraih ke samping dan meremas lututku. "Tapi kita berhasil pada akhirnya." Jongin tersenyum lalu melirik di kaca spion sekali lagi.

"Kupikir kita tidak sedang diikuti." Jongin memutar dari I-5 dan kembali ke pusat kota Seattle.

"Bisakah aku menanyakan sesuatu tentang Elena?" Kami berhenti di lampu lalu lintas. Jongin menatapku cemas.

"Jika kau harus," Jongin bergumam sambil cemberut, tapi aku tak membiarkan sikap cepat marahnya menghalangiku.

"Kau bilang beberapa waktu lalu bahwa ia mencintaimu dengan cara yang kau anggap dapat diterima. Apa artinya itu?"

"Bukankah sudah jelas?" tanya Jongin.

"Tidak jelas untukku."

"Aku berada di luar kendali. Aku tak tahan untuk disentuh. Aku tak tahan sampai sekarang. Untuk anak remaja 14-15 tahun dengan hormon yang mengamuk, itu adalah masa yang sulit. Dia menunjukkan caranya untuk melepaskan tekanan."

Oh.

"Taemin bilang kau dulu seorang yang suka berkelahi."

"Tuhan ada apa dengan keluargaku yang banyak bicara? Sebenarnya kau itu orang yang sangat ingin tahu,Sehun."

Kami sudah berhenti di lampu lagi, Dan Jongin menyipitkan matanya padaku. "Kau membujuk informasi dari orang-orang." Dia menggeleng pura-pura jijik.

"Taemin sukarela memberikan informasi tersebut. Bahkan, dia sangat terbuka. Dia khawatir kau akan memulai perkelahian di tenda jika kau tidak memenangkanku di lelang," aku bergumam jengkel.

"Oh, sayang, tak ada bahaya dari hal itu. Tidak mungkin aku akan membiarkan orang lain berdansa denganmu."

"Kau membiarkan Dr. Flynn."

"Dia selalu pengecualian dari setiap aturan." Jongin meluncur ke jalan masuk bercabang yang mengesankan dari Hotel Fairmont Olympic dan parkir dekat pintu depan, di samping air mancur dari batu kuno.

"Ayo." Jongin memanjat keluar dari mobil dan mengambil barang-barang kami.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Holla~ muncul lagi setelah hibernasi yang lumayan panjang kayanya *ditendang readers* wkwk

Makin rumit aja kek nya, si kembarannya Sehun udah berani nongol dikediamannya Jongin. Wkwk si Mrs Robinson juga roman-romannya niat banget buat cemburu Sehun nih. Wkwk

Dan BOOM!

Sebelumnya mau curcol Kemaren ada yang bilang kalau ff remake satu ini di anak tirikan.

Hmmm~ sebenarnya si ada benarnya dan tidaknya. Hahaha

Benarnya? Ya karena ini memang story novel yang sangat panjang jadi kadang aku sengaja menyelesaikan ff remake lainnya dulu.

Tidaknya? Aku tidak pernah menganak tirikan semua ff remake ku btw, wkwk hanya saja dalam pengerjaannya ff remake darker ini memang lebih lama dari ff remake lainnya. Jadi jika ff remake lain aku bisa mengerjakannya hanya kurang lebih 3 hari. Maka ff darker ini bisa memakan 1minggu lebih sendiri. Jadi mohon pengertiannya yaa~ kerjaanku kan ga hanya mantengin laptop buat garap ini semua ^^;;

Aku sendiri tahu hutang ff ku semakin banyak, wkwk tapi setiap ada waktu kosong semua ff remake itu semua selalu aku kerjakan kok.

Jadi ya sekali lagi aku mohon pengertiannya buat para readers sekalian~ *bow

Ah iya promosi dikit,wkwk
disini ada yang mau gabung dalam grup ChanHun-KaiHun family? Kalo iya invite akun Line aku (chaca_0420) dulu nanti aku undang ke grup. Hehe

Buat kelanjutannya, ditunggu ya~

Jangan lupa buat yang udah baca reviewnya ^^ thank you~~ *bow* XOXO

.

.

Thanks to review CH 9 :

Ilysmkji , VeyKim , kaihulicious , JongOdult , Sekar Amalia , Rima19exo , Kkamjonghun22 , YunYuliHun , Jongshixun , utsukushii02 , VampireDPS , dia luhane , fitry sukma 39 , BraveKim94 , vitangeflower , alita94 .