Aku tak bisa menahan sorak kegembiraanku. Bawah sadarku melongo kepadaku - mulutnya terbuka - diam terpana - dan wajahku - tampak menyeringai saat aku menatap penuh kerinduan ke mata Jongin yang melebar, mata tersiksa. Pengakuan lembut yang manis memanggilku sampai beberapa tingkat dasar yang mendalam seolah-olah dia mencari pengampunan; tiga kata kecilnya terasa seperti makanan yang berasal dari surga. Air mata menusuk mataku sekali lagi. Ya, kau mencintaiku. Aku tahu kau mencintaiku. Ini seperti realisasi yang membebaskan seolah-olah beban berat yang menggantung telah hancur dicampakkan.

Pria tampan kacau ini kuanggap sebagai pahlawan romantisku - memiliki semua sifat-sifat - kuat, penyendiri, misterius, tapi Jongin juga rentan dan terasing dan sangat membenci dirinya sendiri. Hatiku membengkak dengan kebahagiaan tapi juga rasa sakit atas penderitaannya. Dan aku tahu pada saat inilah hatiku menjadi besar cukup untuk kami berdua. Aku harap itu cukup besar untuk kami berdua.

Aku meraih keatas untuk menggenggam wajah tampannya yang sangat kusayang dan menciumnya dengan lembut, menuangkan semua cinta yang aku rasakan menjadi satu koneksi yang manis. Aku ingin melahapnya dibawah aliran air panas. Jongin megerang dan memelukku, menahanku seolah-olah aku adalah udara yang ia butuhkan untuk bernapas.

"Sehun," bisik Jongin dengan suara serak, "Aku menginginkanmu, tapi tidak di sini."

"Ya," bisikku sungguh-sungguh ke dalam mulutnya.

Jongin mematikan pancuran dan meraih tanganku, membawaku keluar dan pembungkusku dengan jubah mandiku. Meraih handuk, ia membungkus sekeliling pinggangnya, kemudian mengambil satu yang lebih kecil dan mulai mengeringkan rambutku dengan lembut.

Saat Jongin puas, dia membalutkan handuknya di sekitar kepalaku hingga terlihat di cermin besar diatas wastafel aku seperti memakai kerudung. Dia berdiri di belakangku dan mata kami bertemu di cermin, manik mata hitamnya membara dengan mata cokelat terang, dan itu memberiku sebuah ide.

"Bisakah aku melakukannya juga padamu?" Tanyaku.

Jongin mengangguk, meskipun keningnya berkerut. Aku meraih handuk lain dari tumpukan handuk lembut yang ditempatkan di samping meja rias, dan berdiri berjinjit di hadapannya, aku mulai mengeringkan rambutnya.

Jongin membungkuk ke depan, membuat prosesnya lebih mudah, sesekali aku menangkap wajahnya sekilas dibawah handuk, aku melihat Jongin menyeringai ke arahku seperti anak kecil.

"Sudah lama sekali semenjak seseorang melakukan ini padaku. Sangat lama sekali," bisik Jongin tapi kemudian mengerutkan kening. "Bahkan kupikir tak seseorang pernah mengeringkan rambutku."

"Pastinya Nana melakukan itu? Mengeringkan rambutmu ketika kau masih anak-anak?"

Jongin menggelengkan kepalanya, menghambat prosesku. "Tidak. Dia menghormati batas-batasku dari hari pertama, meskipun itu menyakitkan untuknya. Aku sangat mandiri ketika masih kecil," katanya pelan.

Aku merasakan sebuah tendangan ditulang rusukku saat aku memikirkan seorang anak kecil berambut tembaga merawat dirinya sendiri karena tak ada orang lain yang peduli. Pikiran itu membuatku muak dan menyedihkan. Tapi aku tak ingin perasaan melankolis ini merusak keintiman yang sudah berkembang.

"Yah, aku merasa terhormat," Kataku lembut menggodanya.

"Terima kasih, Sehun. Atau mungkin akulah yang merasa terhormat."

"Itu tidak perlu dikatakan, Mr. Kim," aku menanggapi dengan ketus.

Aku selesai dengan rambutnya, meraih handuk kecil lain, dan bergerak memutarinya untuk berdiri di belakangnya. Mata kami bertemu lagi di cermin, dan Jongin terlihat waspada, sepertinya mempertanyakan untuk memintaku berbicara.

"Bisakah aku mencoba sesuatu?"

Setelah beberapa saat, Jongin mengangguk. Hati-hati, dan sangat lembut, aku menjalankan handuk yang lembut menuruni lengan kirinya, menyerap air seperti manik-manik di kulitnya. Melirik ke atas, aku cek ekspresinya di cermin. Jongin berkedip padaku, matanya terbakar kepadaku.

Aku membungkuk dan mencium otot bisepnya, dan bibirnya terbuka rasanya tak terkira. Aku mengeringkan lengan yang lain dengan cara yang sama, meninggalkan ciuman sekitar bisepnya, dan senyum kecil bermain di bibirnya. Dengan hati-hati, aku mengusap punggungnya di bawah garis lipstik samar, yang masih terlihat. Tidak seluruhnya aku membasuh punggungnya.

"Lagi, seluruh punggung," kata Jongin pelan, "dengan handuk."

Jongin mengambil napas tajam dan menutup matanya saat aku mengeringkan tubuhnya dengan cepat, dengan hati-hati menyentuhnya hanya dengan handuk. Jongin memiliki punggung menarik – lebar, bahunya seperti dipahat, semua otot kecilnya tampak jelas. Dia benar-benar merawat dirinya.

Pemandangan indah ini dirusak oleh bekas lukanya. Merasa kesulitan, aku mengabaikan itu dan menekan dorongan yang sangat kuat untuk mencium satu persatu. Ketika aku sudah selesai Jongin mengembuskan napas, dan aku membungkuk membalasnya dengan memberinya ciuman diatas bahunya. Menempatkan tanganku di sekelilingnya, aku mengeringkan perutnya. Mata kami bertemu sekali lagi di cermin, ekspresinya geli tapi juga waspada.

"Pegang ini." Aku memberikan handuk wajah yang lebih kecil, dan Jongin mengerutkan kening bingung.

"Ingat di Seoul? Kau membuat aku menyentuh diriku sendiri menggunakan tanganmu," tambahku.

Wajah Jongin gelap, tapi aku mengabaikan reaksinya dan meletakkan tanganku di atas tangannya. Kami berdua saling menatap dicermin - keindahannya, ketelanjangannya, dan aku dengan rambut kerudungku - kami hampir terlihat seperti di Alkitab, seolah-olah dari sebuah lukisan baroque di Perjanjian Lama.

Aku meraih tangan Jongin, dimana ia merelakan untuk mempercayakan kepadaku, dan membimbing naik ke atas dadanya untuk mengeringkannya, menyapu dengan handuk perlahan-lahan, dengan canggung melintasi tubuhnya. Sekali, dua kali - sekali lagi. Jongin benar-benar menggerakkannya, kaku karena tegang, kecuali matanya, yang mengikuti tanganku menggenggam di atas tangannya.

Bawah sadarku nampak setuju, Jongin biasanya mengerutkan mulutnya sambil tersenyum, dan aku adalah dalang paling berkuasa. Kecemasan terasa dari punggungnya yang sedikit bergetar, tetapi ia tetap mempertahankan kontak matanya, meskipun matanya bertambah gelap, lebih mematikan. Mungkin menunjukkan rahasianya. Apakah ini tempat yang kuinginkan? Apakah aku ingin menghadapi roh jahatnya?

"Aku pikir kau sudah kering sekarang," bisikku saat aku menjatuhkan tanganku, menatap kedalam mata hitamnya dicermin. Pernapasannya bertambah cepat, bibirnya terbuka.

"Aku membutuhkanmu, Sehun," bisik Jongin.

"Aku membutuhkanmu juga." Dan saat aku mengucapkan kata-kata itu, aku terkejut bagaimana itu memang benar. Aku tidak dapat membayangkan hidup tanpa Jongin, tidak pernah.

"Biarkan aku mencintaimu," kata Jongin serak.

"Ya," jawabku, dan berbalik, Jongin menarikku ke dalam pelukannya, bibirnya menginginkan aku, memohon padaku, memujaku, menghargaiku. . . mencintaiku.

~oOOo~

Jemari Jongin kini tengah digerakkan ke atas dan ke bawah ditulang belakangku saat kami saling menatap, diliputi kebahagiaan setelah kami bercinta, penuh kenikmatan. Kami berbaring bersama, aku memeluk bantal, Jongin berada dihadapanku dengan posisi miring, dan aku menikmati sentuhan lembutnya. Aku tahu bahwa itu memang benar sekarang Jongin perlu menyentuhku. Aku seperti balsem baginya, sumber pelipur lara, dan bagaimana bisa aku menolaknya? Aku merasakan hal yang sama tentang dirinya.

"Jadi kau bisa bersikap lembut," bisikku.

"Hmm. . . jadi tampaknya seperti itu, Sehun."

Aku menyeringai. "Kau tidak begitu terutama saat pertama kali kita. . . um, melakukan ini."

"Tidak?" Jongin menyeringai. "Ketika, aku merampas keperjakaanmu."

"Aku tidak berpikir kau merampasku," aku bergumam dengan sombong - Astaga, aku ini bukan seorang gadis tak berdaya. Aku pria!

"Kurasa, aku menawarkan keperjakaanku dengan bebas dan sukarela. Aku juga menginginkanmu, dan jika aku ingat dengan benar, aku juga menikmati untuk diriku sendiri." Aku tersenyum malu-malu pada Jongin, menggigit bibirku.

"Aku juga, jika aku ingat itu, Sehun. Kami bertujuan untuk saling menyenangkan," gaya bicaranya seperti biasa dan wajahnya melembut, serius. "Dan itu berarti kau milikku, sepenuhnya." Semua jejak humor telah hilang saat Jongin menatapku.

"Ya, aku milikmu," gumamku membalas Jongin. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Silakan."

"Ayah biologismu. . . apa kau tahu siapa dia?" Pikiran ini telah menggangguku.

Alis Jongin berkerut, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Aku tak tahu. Bukankah orang biadab itu juga mucikarinya, bukan yang orang yang baik."

"Bagaimana kau tahu?"

"Mengenai ayahku. . . Jonghyun mengatakan sesuatu padaku."

Aku menatap Fifty-ku penuh harap, menunggu. Jongin menyeringai ke arahku.

"kau sangat haus akan informasi, Sehun," keluh Jongin, menggelengkan kepalanya. "Mucikarinya menemukan tubuh pelacur pecandu itu dan menelepon ke pihak berwenang. Dia butuh empat hari untuk melaporkan penemuan itu. Ia menutup pintu saat ia pergi. . . meninggalkan aku bersama . . . mayatnya." Mata Jongin berkabut mengingat itu. Aku menarik napas dalam-dalam. Baby boy yang malang – ketakutan itu begitu suram untuk direnungkan.

"Kemudian polisi mewawancarainya. Ia menyangkal mentah-mentah bahwa aku ada hubungannya dengan dia, dan Jonghyun mengatakan dia sama sekali tidak mirip aku."

"Apa kau ingat dia terlihat mirip siapa?"

"Sehun, ini bagian hidupku dan aku tidak ingin sering datangiku. Ya, Aku ingat dia mirip siapa. Aku tak pernah melupakan dia." Wajah Jongin bertambah gelap dan mengeras, menjadi lebih kaku, matanya dingin penuh kemarahan. "Bisakah kita bicara tentang sesuatu yang lain?"

"Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu marah."

Jongin menggelengkan kepalanya. "Ini berita yang sudah basi, Sehun. Bukan sesuatu yang ingin aku pikirkan."

"Jadi, apa kejutannya, saat ini?" Aku perlu mengubah topik sebelum dia meninggalkanku dengan semua fifty kekacauannya.

Ekspresi Jongin langsung berubah cerah. "Bisakah aku mengajakmu keluar untuk mencari udara segar? Aku ingin menunjukkan sesuatu."

"Tentu saja." Aku heran betapa cepatnya Jongin berubah - bergairah seperti biasa.

Jongin menyeringai padaku dengan senyum kekanak-kanakan, ceria, senyum yang menyatakan aku baru berumur dua puluh tujuh, dan hatiku menggelinding masuk ke dalam mulutku. Jadi ini adalah sesuatu yang dekat dengan hatinya, aku tahu itu. Jongin memukulku dengan main-main dipantatku.

"Cepat berpakaian. Lebih baik pakai jeans. Aku harap Taylor mengemas beberapa jeans untukmu." Jongin bangkit dan menarik celana boxer-nya keatas.

Oh. . . Aku bisa duduk disini sepanjang hari, menonton Jongin di seluruh ruangan. Dewa batinku setuju, pingsan saat ia mengerling dari kursi malasnya.

"Ayo bangun," tegur Jongin, sangat bossy seperti biasa.

Aku menatap Jongin sambil nyengir. "Hanya mengagumi pemandangan."

Jongin memutar matanya ke arahku. Saat kami berpakaian, aku melihat bahwa kita bergerak dengan sinkron, dua orang saling mengenal dengan baik, masing-masing saling berhati-hati dan sangat sadar dengan yang lainnya, sesekali saling bertukar senyum malu dan saling menyentuh dengan manis. Dan aku baru sadar bahwa hubungan ini sama barunya bagi dia dan aku.

"Keringkan rambutmu," perintah Jongin setelah kami berpakaian.

"Mendominansi seperti biasa." Aku menyeringai pada Jongin, dan ia membungkuk dan mencium rambutku.

"Itu tak akan pernah berubah, sayang. Aku tak ingin kau sakit."

Aku memutar mata ke arahnya, dan mulutnya diputar dengan geli. "Telapak tanganku masih berkedut, kau tahu itu Sehun."

"Aku senang mendengarnya, Mr. Kim Aku mulai berpikir kau sudah kehilangan keunggulanmu," balasku.

"Aku bisa dengan mudah menunjukkan bahwa itu tidak terjadi, sebelum kau memintanya." Jongin menyeret tas krem besar, mengeluarkan sweter rajutan dari tasnya dan menyampirkan di atas bahunya.

Dengan kaus putih dan jins, rambut kusutnya yang indah, sekarang ini, Jongin tampak seolah-olah dia melangkah keluar dari halaman sebuah majalah dengan lembaran kertas mengkilap. Tidak ada seorangpun yang harus terlihat setampan ini. Dan aku tak tahu apakah itu gangguan sesaat dari penampilan sempurnanya semata atau sadar bahwa Jongin mencintaiku, tapi ancamannya tidak lagi membuatku ketakutan. Ini adalah Fifty Shades -ku, ini adalah cara dia.

Saat aku meraih pengering rambut, cahaya nyata dari sebuah harapan mulai berkembang. Kami akan menemukan jalan tengah. Kami hanya perlu mengenali kebutuhan satu sama lain dan mengakomodasi mereka. Aku bisa melakukan itu, benar kan? Aku menatap diriku di cermin meja rias. Aku mengenakan kemeja biru pucat yang sudah dibelikan Taylor dan mengemaskan untukku. Rambutku berantakan, wajahku memerah, bibirku bengkak - aku menyentuhnya, mengingat ciuman Jongin yang membakar, dan aku tidak bisa mencegah sebuah senyum kecil keluar saat aku menatap.

Ya, aku mencintaimu, katanya.

~oOOo~

"Sebenarnya kita mau pergi kemana?" Tanyaku saat kami menunggu petugas valet di lobi.

Jongin menyentuh sisi hidungnya dan mengedipkan matanya padaku penuh rahasia, Tampaknya dia berusaha keras menahan kegembiraannya. Terus terang ini sangat-sangat bukan seperti seorang Fifty yang biasanya. Jongin terlihat seperti ini ketika kami pergi gliding - mungkin itulah yang akan kita lakukan. Aku membalas dengan tersenyum ke arahnya. Jongin menatapku melalui bawah hidungnya, cara yang sama baiknya dengan seringai miringnya. Membungkuk ke bawah, Jongin menciumku dengan lembut.

"Apa kau tahu bagaimana kau membuatku bahagia?" guman Jongin.

"Ya. . . Aku tahu persis. Karena kau melakukan hal yang sama padaku."

Petugas valet datang membawa mobil Jongin, dengan senyum ceria. Astaga, semua orang begitu bahagia hari ini.

"Mobil Bagus, Sir," gumamnya sambil menyerahkan kuncinya.

Jongin mengedipkan mata dan memberinya tip lumayan banyak, menjijikkan. Aku mengerutkan kening padanya. Dengan terang-terangan.

~oOOo~

Ketika kami meluncur menembus lalu lintas, Jongin tenggelam dalam pikirannya. Suara seorang wanita muda keluar melalui speaker; Merdu, penuh, warna suaranya lembut, dan aku seperti terbawa dalam kesedihannya, suaranya menggetarkan jiwa.

"Aku perlu berputar. Seharusnya tidak memakan waktu yang lama," kata Jongin tanpa sadar, mengalihkan perhatianku pada lagunya. Oh, mengapa? Aku tertarik untuk mengetahui kejutannya. Dewa batinku melompat-lompat seperti anak lima tahun.

"Tentu," bisikku.

Sesuatu yang tidak beres. Tiba-tiba, Jongin terlihat muram. Dia memasuki areal parkir dealer mobil besar, menghentikan mobilnya, dan menoleh kearahku, ekspresinya waspada.

"Kita perlu membeli mobil baru untukmu," kata Jongin.

Aku menganga pada Jongin. Sekarang? Di hari Minggu? Apa-apaan ini? Dan ini adalah dealer mobil Saab.

"Bukan Audi?" tanyaku bodoh, satu-satunya hal yang bisa aku pikirkan untuk bertanya, dan menyetujui Jongin, mukanya benar-benar memerah. Ya ampun - Jongin malu. Ini adalah yang pertama.

"Kupikir kau mungkin menyukai sesuatu yang lain," gumam Jongin. Dia hampir menggeliat. Oh, tolong . . . Ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menggodanya.

Aku menyeringai. "Sebuah Saab?"

"Ya. Saab 9-3. Ayo."

"Ada apa denganmu dan mobil asing?"

"Jerman dan Swedia membuat mobil paling aman di dunia,Sehun."

Benarkah? "Kupikir kau sudah memesan lagi Audi A3 untukku?"

Jongin menatapku muram tampak geli. "Aku bisa membatalkan itu. Ayo."

Keluar mobil dengan lancar, Jongin berjalan anggun ke sampingku dan membuka pintu untukku. "Aku berutang padamu, hadiah kelulusan," kata Jongin lembut dan mengulurkan tangannya untukku.

"Jongin, Kau benar-benar tak perlu melakukan ini."

"Ya, aku perlu. Kumohon. Ayo." Nada suaranya mengatakan Jongin tidak mau dianggap enteng.

Aku pasrah pada nasibku. Sebuah Saab? Apakah aku ingin Saab? Aku cukup menyukai Audi Khusus submisif. Itu sangat bagus. Tentu saja, sekarang cat putihnya itu sudah disiram dengan satu ton cat. . . Aku bergidik. Dan dia masih di luar sana. Aku meraih tangan Jongin, dan kami berjalan memasuki showroom.

Troy Turniansky, si salesman, menempel ketat pada Fifty seperti sebuah setelan murah. Dia bisa mencium aroma penjualan. Aksennya kedengarannya aneh seperti Atlantik tengah, mungkin Inggris? Sulit untuk menebaknya.

"Sebuah Saab, sir? Keluaran terbaru?" Dia menggosok-gosokkan tangannya dengan kegirangan.

"Baru." Bibir Jongin dikatupkan menjadi garis keras. Baru!

"Jenis apa yang anda inginkan, Sir?" Dan nada bicaranya begitu menjilat.

"Sedan Sport 9-3 2.0T."

"Pilihan yang sangat hebat, Sir."

"Apa warnanya, Sehun?" Jongin mencondongkan kepalanya.

"Em. . . hitam?" Aku mengangkat bahu. "Kau benar-benar tak perlu melakukan ini."

Jongin mengernyit. "Hitam tidak gampang dilihat pada malam hari."

Oh, demi Tuhan. Aku menahan godaan untuk memutar mataku.

"Kamu punya mobil hitam."

Jongin merengut padaku.

"Kalau begitu kuning kenari terang." Aku mengangkat bahu. Jongin meringis - kuning kenari jelas bukan warna kesukaannya.

"Warna apa yang kau inginkan untukku?" Tanyaku seolah-olah Jongin seorang anak kecil, yang mana dalam beberapa hal dia memilikinya. Pemikiran yang tidak kusukai-sedih dan serius sekaligus.

"Silver atau putih."

"Silver. Kau tahu aku akan mengambil Audi," aku menambahkan, didera oleh pikiranku.

Troy pucat, dia merasakan akan kehilangan penjualan. "Mungkin Anda ingin jenis convertible, Tuan?" tanyanya, mengatupkan tangannya dengan antusiasme.

Bawah sadarku mengernyit jijik, merasa malu selama urusan pembelian mobil ini, tetapi dewi batinku mentakelnya ke lantai. Convertible? tergiur! Jongin mengerutkan kening dan menatapku.

"Convertible?" tanya Jongin, menaikkan satu alisnya.

Aku memerah. Sepertinya ia memiliki hotline langsung menuju ke arah dewa batinku, yang tentu saja, Jongin memilikinya. Ini saat paling tidak nyaman. Aku menunduk menatap tanganku.

Jongin menoleh ke Troy. "Bagaimana statistik keselamatan pada convertible?"

Troy merasakan ketidak percayaan dari Jongin, dia mengutamakan keselamatan, mengoceh tentang segala macam statistik. Tentu saja, Jongin ingin aku aman. Ini adalah semacam agama baginya, dan dia seperti seorang yang fanatik, dia mendengarkan dengan penuh perhatian pada bualan Troy. Fifty benar-benar peduli.

Ya. Aku mencintaimu. Aku ingat bisikannya, kata-kata tersedaknya pagi ini, dan sebuah lelehan menyala menyebar seperti madu hangat melewati pembuluh darahku. Pria ini – Pemberian Tuhan kepada seorang pria sepertiku– mencintaiku. Aku menemukan diriku nyengir dengan tolol kearahnya, dan saat Jongin melirik ke arahku,geli namun bingung dengan ekspresiku. Aku hanya ingin memeluk diriku sendiri, aku merasa sangat bahagia.

"Apa pun yang kau pikirkan, aku juga menginginkannya, Sehun," guman Jongin waktu Troy berbalik menuju komputernya.

"Aku memikirkanmu, Mr. Kim."

"Benarkah? Yah, kau jelas terlihat memabukan." Jongin menciumku sekilas.

"Dan terima kasih untuk menerima mobil ini. Rasanya lebih mudah daripada yang terakhir kali."

"Yah, ini bukan Audi A3." Jongin menyeringai. "Itu bukan mobil untukmu."

"Aku menyukainya."

"Sir, jenis 9-3? Saya punya satu di dealer kami yang berlokasi di Beverly Hills. Kita bisa mendatangkan ke sini untuk anda dalam dua hari lagi." Troy berseri dengan kemenangan.

"Pasti dua hari lagi?"

"Ya, Pak."

"Baik." Jongin mengeluarkan kartu kreditnya, atau itu punya Taylor? Pemikiran yang menakutkan. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Taylor, jika Leila masih berada di dalam apartemen.

Aku menggosok dahiku. Ya, itu semua adalah bagian masalah masa lalu Jongin, juga.

"Anda akan membayar dengan ini, Mr..." Troy melirik nama di kartunya - "Kim."

~oOOo~

Jongin membukakan pintuku, dan aku naik kembali ke dalam kursi penumpang.

"Terima kasih," kataku ketika Jongin duduk disampingku.

Jongin tersenyum. "Sama-sama, Sehun."

Musik mulai menyala lagi saat Jongin menyalakan mesin.

"Siapa ini?" Aku bertanya.

"Eva Cassidy."

"Dia memiliki suara yang indah."

"Benar, dulunya ya."

"Oh."

"Dia meninggal waktu masih muda."

"Oh."

"Apakah kau lapar? Kau tidak menghabiskan semua sarapanmu." Jongin melirik cepat ke arahku, ketidak setujuannya diuraikan di wajahnya. Uh-oh. "Ya."

"Kita makan siang dulu." Jongin mengendarai menuju pantai kemudian mengarah ke utara sepanjang Jalan menuju Alaska.

Ini hari indah yang lain di Seattle. Rasanya menyenangkan, tidak seperti beberapa minggu terakhir, aku merenung. Jongin tampak bahagia dan rileks saat kami duduk kembali sambil mendengarkan suara manis Eva Cassidy, suaranya menggetarkan jiwa dan pesiar menyusuri jalan raya. Pernahkah aku merasa senyaman ini sebagai teman bicaranya sebelumnya? Aku tak tahu.

Aku tidak cemas dengan suasana hatinya, yakin bahwa Jongin tidak akan menghukumku, dan ia tampaknya lebih nyaman denganku, juga. Jongin belok kekiri, mengikuti jalan pantai, dan akhirnya berhenti di sebuah tempat parkir di seberang marina yang luas.

"Kita akan makan disini. Aku akan membukakan pintumu," kata Jongin seperti kebiasaannya yang aku tahu itu tidak bijaksana untuk melakukan sendiri, dan aku mengawasinya bergerak mengitari mobil. Akankah ini akan jadi membosankan?

Kami berjalan sambil bergandengan tangan menuju pantai dimana marina membentang di depan kita. "Begitu banyak kapal," bisikku takjub.

Ada ratusan kapal dalam segala bentuk dan ukuran, naik-turun di atas ketenangan, perairan marina yang tenang. Suara keluar disana dari puluhan layar yang tertiup angin, berkibar ke sana kemari, menikmati cuaca yang bersahabat. Itu merupakan suatu pemandangan, diluar ruangan yang menyehatkan. Angin berhembus agak kencang, jadi aku menarik jaketku untuk membungkusku.

"Dingin?" Tanya Jongin dan memelukku erat-erat.

"Tidak, hanya mengagumi pemandangan."

"Aku biasanya memandangi sepanjang hari. Ayo, lewat sini." Jongin mengarahkan aku memasuki bar yang besar di pinggir laut dan berjalan menuju konter.

Dekorasi lebih mirip New England daripada Pesisir Barat – dindingnya dicat putih, perabotan biru muda, dan dilengkapi perahu yang menggantung dimana-mana. Tampak cerah, tempat yang ceria.

"Mr. Kim!" Bartender menyapa Jongin dengan hangat. "Apa yang bisa saya bantu untuk anda siang ini?"

"Dante, selamat siang." Jongin menyeringai saat kami berdua duduk di kursi bar.

"Laki-laki penuh dengan pesona ini, Oh Sehun."

"Selamat Datang di Tempat SP." Dante memberiku senyum yang ramah.

Dia berkulit hitam dan tampan, matanya yang gelap menilaiku dan tampaknya tidak menemukan apa yang diinginkan. Aku melihat kerlipan salah satu telinganya yang bertahta berlian besar. Aku langsung menyukai dia.

"Apa yang ingin kau minum, Sehun?"

Aku melirik Jongin, yang memandangku dengan penuh harap. Oh, dia membiarkan aku memilih.

"Panggil aku Sehun, dan aku akan memesan apa pun yang diminum Jongin." Aku tersenyum malu-malu pada Dante. Fifty jauh lebih baik dalam hal anggur dibanding aku.

"Aku ingin bir. Ini adalah satu-satunya bar di Seattle dimana kau bisa mendapatkan bir Adnams Explorer."

"Bir?"

"Ya."

Jongin menyeringai ke arahku. "Tolong dua Explorer, Dante."

Dante mengangguk dan menyiapkan bir di bar.

"Mereka membuat sup kental seafood rasanya lezat, di sini," kata Jongin. Dia bertanya padaku.

"Sup kental dan bir kedengarannya menyenangkan." Aku tersenyum padanya.

"Dua sup kental?" Tanya Dante.

"Ya." Jongin nyengir padanya.

Kami ngobrol saat kami makan, ini belum pernah kita lakukan sebelumnya. Jongin terlihat santai dan tenang - dia tampak lebih muda, bahagia, dan bersemangat terlepas dari semua yang terjadi kemarin. Jongin menceritakan sejarah Grey Enterprises Holdings, dan semakin dia mengungkapkan, semakin aku merasakan semangatnya untuk memperbaiki masalah perusahaan, Jongin berharap bisa mengembangkan teknologi, dan mimpinya membuat tanah di dunia ketiga lebih produktif.

Aku mendengarkan dengan terpesona. Jongin lucu, pintar, dermawan, dan tampan, dan Jongin juga mencintaiku. Pada gilirannya, Jongin menggangguku dengan bertanya tentang Tuan Lee dan ibuku, tentang tumbuh dewasaku di hutan yang subur di Montesano, dan dimisili singkatku di Seoul dan Vegas.

Jongin ingin tahu buku favoritku dan film, dan aku terkejut betapa banyak kami memiliki kesamaan. Saat kami membahas novel karya Thomas Hardy, itu seperti mengejutkanku dia beralih dari tokoh Hardy's Alec ke Angel, kehinaan menjadi cita-cita yang tinggi dalam waktu yang singkat. Jam dua lebih ketika kami menyelesaikan makanan kami. Jongin membayar tagihan dengan Dante, yang ingin memberikan salam perpisahan pada kami.

"Ini adalah tempat yang menyenangkan. Terima kasih untuk makan siangnya," kataku saat Jongin mengambil tanganku dan kita meninggalkan bar.

"Kami akan datang lagi," kata Jongin, dan kami berjalan-jalan di sepanjang pantai. "Aku ingin menunjukkan sesuatu."

"Aku tahu. . . dan aku tak sabar untuk melihatnya, apa pun itu."

Kami berjalan bergandengan tangan di sepanjang marina. Ini adalah siang yang menyenangkan. Orang-orang keluar menikmati hari Minggu - berjalan dengan anjingnya, mengagumi kapal, mengawasi anak-anak mereka yang berlarian sepanjang area untuk pejalan kaki. Ketika kami turun menuju ke marina, kapal terlihat lebih besar. Jongin membawaku ke dermaga dan berhenti di depan sebuah kapal catamaran yang sangat besar.

"Aku pikir kita akan berlayar siang ini. Ini adalah kapalku."

Ya ampun. Paling tidak panjangnya empat puluh, mungkin lima puluh kaki. Dua lambung ramping warna putih, sebuah dek, kabin yang luas, dan menjulang ke atas sebuah tiang layar yang sangat tinggi. Aku tak tahu tentang kapal, tapi aku bisa mengatakan yang satu ini pasti spesial.

"Wow. . . ," gumamku keheranan.

"Dibangun oleh perusahaanku," kata Jongin bangga dan hatiku membengkak.

"Dia telah dirancang dari bawah sampai ke atas oleh arsitek perkapalan yang terbaik di dunia dan dibangun di sini di Seattle di dokku. Dia digerakkan dengan listrik hybrid, papan asimetris berbentuk seperti belati, atasnya sebuah layar besar berbentuk persegi -"

"Oke. . . Kau sudah membuatku bingung, Jongin."

Jongin menyeringai. "Dia kapal yang hebat."

"Dia terlihat benar-benar kokoh, Mr. Kim."

"Betul, Sehun."

"Apa namanya?"

Jongin menarikku ke samping hingga aku bisa melihat namanya: 'Nana'. Aku terkejut.

"Kau memberi nama seperti nama ibumu?"

"Ya." Jongin memiringkan kepalanya ke satu sisi, bingung. "Mengapa kau merasa aneh?"

Aku mengangkat bahu. Aku terkejut - ia selalu telihat seperti ambivalen menerima kedekatan ibunya.

"Aku mengagumi ibuku, Sehun. Kenapa tidak aku memberi nama kapalnya dengan namanya?"

Aku memerah. "Bukan, maksudku bukan itu. . . hanya saja. ."

Sial, Bagaimana bisa aku mengeluarkan kata-kata ini?

"Sehun, Kim Nana menyelamatkan hidupku. Aku berhutang sesuatu padanya."

Aku menatap Jongin, dan membiarkan rasa hormat dalam pengakuan lembutnya yang diucapkan, membersihkan sangkaanku. Ini jelas bagiku, untuk pertama kalinya, bahwa Jongin mencintai ibunya. Lalu mengapa dia menegang dan bersikap aneh seperti memiliki dua sifat yang bertentangan terhadap ibunya?

"Apakah kau ingin menaiki kapal?" Tanya Jongin, matanya cerah, bersemangat.

"Ya." Aku tersenyum.

Jongin terlihat gembira dan menyenangkan dalam satu paket nikmat dan lezat. Menggenggam tanganku, Jongin melangkah menaiki tangga kecil kapal sambil menuntunku hingga kami berdiri di dek, dibawah kanopi yang kaku. Salah satu sisinya ada meja dan bangku berbentuk U yang ditutupi dengan kulit warna biru muda, yang bisa diduduki sedikitnya delapan orang. Aku melirik melalui pintu geser ke bagian dalam kabin dan melompat, terkejut ketika aku melihat seseorang disana.

Seorang pria tinggi berambut pirang membuka pintu geser dan muncul – semua kecoklatan, berambut keriting dan bermata cokelat-mengenakan kaos polo lengan pendek warna merah muda yang sudah pudar, celana pendek, dan sepatu untuk berlayar. Kira-kira umurnya awal tiga puluhan.

"Mac." Jongin berseri-seri.

"Mr. Kim! Selamat datang kembali."

Mereka berjabat tangan.

"Sehun, ini Liam McConnell. Liam, pacarku, Oh Sehun."

Pacar! Dewa batinku serasa melakukan gerakan menari balet, mengangkat satu kaki belakang dan lengan terentang dengan cepat. Jongin masih menyeringai selama dalam posisi seperti ini. Aku harus membiasakan untuk kata-kata ini - itu bukan pertama kalinya dia mengatakan itu, tapi mendengar Jongin mengatakannya masih membuatku bergetar.

"Bagaimana kabarmu?" Liam dan aku berjabat tangan.

"Panggil aku Mac," katanya hangat, dan aku tidak dapat menebak aksennya. "Selamat datang dikapal ini, Tuan Oh Sehun."

"Sehun, saja," gumamku, malu. Dia memiliki mata cokelat tua.

"Bagaimana kondisinya, baik, Mac?" Jongin menyela dengan cepat, untuk sesaat aku pikir dia berbicara tentangku.

"Dia siap untuk rock and roll, Sir," Mac berseri-seri.

Oh, Kapal, The Nana. Tololnya aku.

"Ayo kita segera berangkat berlayar."

"Kau yang akan menjadi nahkodanya?"

"Ya." Jongin berkedip pada Mac dengan seringaian jahat yang cepat. "Mau tur singkat, Sehun?"

"Ya, silakan." Aku mengikuti Jongin masuk kedalam kabin.

Sebuah sofa dengan bahan kulit krem berbentuk L tepat di depan kami, dan di atasnya jendela lengkung yang sangat besar memperlihatkan pemandangan panorama marina. Di sebelah kiri adalah area dapur - sangat nyaman, semua terbuat dari kayu berwarna pucat.

"Ini adalah bar utama. Di sampingnya dapur," kata Jongin, melambaikan tangannya ke arah dapur.

Jongin mengambil tanganku dan membawaku melewati kabin utama. Ini sangat luas. Lantainya dari kayu pale yang sama. Tampak modern dan rapi dan ada lampunya, bernuansa sejuk, tapi semuanya sangat fungsional, seolah-olah dia tidak menghabiskan banyak waktu di sini.

"Kamar mandi di salah satu pintu ini." Jongin menunjuk dua pintu, kemudian membuka pintu kecil bentuknya aneh persis di depan kami dan melangkah masuk. Kami berada dalam kamar tidur mewah.

Oh. . . Kabinnya berisi tempat tidur king size dan spreinya berwarna biru pucat dan tempat tidur terbuat dari kayu pale seperti di Escala. Tentu saja Jongin memilih tema dan mencocokkan untuk itu.

"Ini adalah kabin nahkoda." Jongin menatap ke arahku, mata hitamnya bersinar. "Kamu orang pertama yang berada disini, selain keluargaku," Jongin nyengir. "Mereka tidak masuk hitungan."

Mukaku memerah di bawah tatapan panasnya, dan denyut nadiku bertambah cepat. Benarkah? Untuk pertama yang lain. Jongin menarikku ke dalam pelukannya, jari-jarinya mengacak-acak rambutku, dan menciumku, lama dan keras. Kami berdua terengah-engah ketika dia menarik diri.

"Mungkin kita harus meresmikan ranjang ini," bisik Jongin di mulutku. Oh, di laut! "Tapi tidak sekarang. Ayo, Mac akan menarik jangkar."

Aku mengabaikan kekecewaan yang menusuk saat ia meraih tanganku dan menuntunku kembali melewati bar. Jongin menunjukkan pintu lain. "Kantor di sana, dan di depan sini ada dua kabin lagi."

"Jadi berapa banyak yang bisa tidur di kapal?"

"Ada enam berth (tempat tidur tingkat di kapal/kereta api). Aku hanya pernah mengajak keluargaku sendiri di kapal ini. Meskipun aku ingin berlayar sendirian. Tapi tidak saat kamu di sini. Aku perlu mengawasimu." Jongin membuka lemari dan menarik keluar sebuah baju pelampung merah terang. "Sini."

Memasukkan dari atas kepalaku, Jongin mengencangkan semua tali, sebuah senyum samar-samar bermain di bibirnya. "Kau menyukai aku mengikatanmu, bukan?"

"Dalam bentuk apapun," kata Jongin, seringai jahat bermain-main di bibirnya.

"Pikiranmu mesum."

"Aku tahu." Jongin mengangkat alisnya dan senyumnya melebar.

"Mesumku," bisikku.

"Ya, milikmu."

Setelah benar-benar terikat, Jongin memegang sisi jaket dan menciumku.

"Selalu," Jongin menarik nafas, kemudian melepaskan aku sebelum aku punya kesempatan untuk merespon. Selalu! ya ampun.

"Ayo." Jongin meraih tanganku dan menuntunku keluar, naik beberapa langkah, dan memasuki dek atas menuju kokpit yang sempit, di ruangan ini ada roda kemudi kapal yang besar dan kursi tinggi. Di haluan kapal, Mac sedang melakukan sesuatu dengan tali.

"Ditempat inikah kau belajar semua trik talimu?" Aku bertanya pada Jongin dengan polos.

"Menyimpulkan tali dengan kencang sudah terbukti sangat berguna," kata Jongin, menatapku menilai.

"Sehun, kedengarannya kau sangat penasaran. Aku suka rasa ingin tahumu, sayang. Aku lebih dari senang untuk mendemonstrasikan apa yang bisa aku lakukan dengan tali itu." Jongin menyeringai ke arahku, dan aku memandangnya kembali tanpa ekspresi seolah-olah dia kesal padaku. Wajahnya segera berubah.

"Kena kau." Aku menyeringai. Mulutnya diputar dan Jongin menyempitkan matanya.

"Aku mungkin harus menghadapimu nanti, tapi sekarang, aku harus mengemudikan kapalku." Jongin duduk di tempat kontrol, menekan tombol, dan suara mesin menderu menyala.

Mac bergerak dengan berlari cepat kembali ke sisi kapal, menyeringai ke arahku, dan melompat turun ke dek bawah dimana ia mulai melepas talinya. Mungkin dia juga tahu beberapa trik tali. Ide itu muncul tanpa diundang masuk ke dalam pikiranku dan aku merasa malu. Bawah sadarku melotot ke arahku. Secara psikis aku mengangkat bahu padanya dan melirik Jongin - aku menyalahkan Fifty.

Ia mengangkat mic radio panggil untuk berkomunikasi dengan penjaga pantai saat Mac menyatakan kita siap berangkat. Sekali lagi, aku terpesona oleh keahlian Jongin. Dia begitu kompeten. Apakah ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pria ini? Lalu aku ingat upaya sungguh-sungguhnya untuk memotong dadu paprika di apartemenku pada hari Jumat. Pikiran itu membuatku tersenyum.

Jongin mengerakkan perlahan-lahan The Nana keluar dari dermaga dan menuju pintu masuk marina. Di belakang kami, ada sedikit orang-orang berkumpul di dermaga untuk menonton keberangkatan kami. Anak-anak kecil melambaikan tangan, dan aku balas melambai. Jongin melirik dari atas bahunya, kemudian menarikku diantara kakinya dan menerangkan dengan cepat berbagai gadget di kokpit.

"Pegang roda kemudinya," perintah Jongin, sifat bossy-nya seperti biasa, tapi aku melakukan seperti yang dia katakan.

"Aye, aye, kapten!" Aku tertawa. Meletakkan tangannya tepat di atas tanganku, ia terus mengarahkan tentu saja kami keluar dari marina, dan dalam beberapa menit, kami berada di laut lepas, memukul-mukul kedalam laut biru yang dingin kawasan Puget Sound.

Menjauh dari dinding pelindung tempat penampungan marina, angin bertambah kuat, hempasan dan gulungan laut di bawah kami. Aku tidak bisa untuk tidak menyeringai, merasakan gairah Jongin – rasanya sangat menyenangkan. Kami membuat putaran besar sampai kami mengarah kebarat menuju Olympic Peninsula, angin di belakang kami.

"Waktunya berlayar," kata Jongin, bersemangat. "Sini - kau pegang sendiri. Tentu saja terus pertahankan kapal ini."

Apa?

Jongin menyeringai melihat reaksi ngeri di wajahku. "Sayang, ini sangat mudah. Tahan kemudi itu dan pertahankan matamu pada cakrawala diatas haluan. kamu bisa melakukan dengan baik, kau selalu bisa melakukan. Ketika layar naik, kau akan merasa ditarik. Hanya menahan supaya dia stabil. Aku akan memberi sinyal seperti ini..." -Jongin membuat gerakan seperti memotong tenggorokannya- "dan kau dapat mematikan mesinnya. Tombolnya di sini." Jongin menunjuk tombol hitam yang besar.

"Paham?"

"Ya." Aku mengangguk panik, merasa panik. Astaga - aku tidak mengira akan melakukan apapun!

Jongin menciumku cepat, kemudian dia turun dari kursi kapten dan berjalan ke depan kapal untuk bergabung dengan Mac dimana ia mulai membentangkan layar, melepas tali, dan mengoperasikan kerekan dan katrol. Mereka bekerja sama dengan baik sebagai tim, berteriak dengan berbagai istilah bahari satu sama lain, dan itu membuatku panas karena melihat Fifty berinteraksi dengan orang lain sedemikian rupa hingga Jongin menjadi ceria. Mungkin Mac adalah teman Fifty. Jongin sepertinya tidak punya banyak teman, sejauh yang aku tahu, tapi kemudian, aku juga tidak memiliki teman banyak. Yah, tidak punya di sini, di Seattle. Satu-satunya teman yang aku miliki sekarang sedang liburan berjemur diri diSeoul, Pantai Daecheon.

Tiba-tiba aku tersengat saat mengingat Baekhyun. Aku merindukan teman sekamarku lebih dari yang kupikirkan saat dia pergi. Aku berharap dia berubah pikiran dan pulang dengan kakaknya Jongkook, daripada memperpanjang liburannya dengan Suho saudara Jongin.

Jongin dan Mac menaikkan layarnya. Layar terbentang penuh dan menggelembung keluar saat angin berusaha merebut itu dengan lapar, dan kapal tiba-tiba bergerak maju, melesat ke depan. Aku merasakan itu pada roda kemudinya. Whoa! Mereka bisa menaikkan headsail, dan aku menyaksikan dengan terpesona saat headsail berkibar diatas tiang. Angin menangkap itu, membentang kencang.

"Tahan supaya stabil, sayang, dan matikan mesinnya!" Jongin berteriak kepadaku diantara deru angin, memberiku isyarat untuk mematikan mesinnya.

Aku hanya bisa mendengarkan suaranya saja, tapi aku mengangguk antusias, menatap pria yang kucintai, seluruh tubuhnya tersapu angin, gembira, dan mempertahankan diri terhadap hempasan dan olengnya kapal. Aku menekan tombol, deru mesin langsung berhenti, dan The Nana melesat menuju Olympic Peninsula, meluncur melintasi air seolah-olah dia terbang.

Aku ingin berteriak dan menjerit dan bersorak - ini pasti menjadi salah satu pengalaman yang paling menggembirakan dalam hidupku - kecuali mungkin glider, dan mungkin juga Red Room of Pain. Sialan, Kapal ini bisa bergerak! Aku berdiri tegak, mencengkeram roda kemudi, berusaha menahannya dan Jongin berada di belakangku sekali lagi, tangannya di atas tanganku.

"Bagaimana menurutmu?" Jongin berteriak diantara deru angin dan ombak.

"Jongin! Ini fantastis."

Jongin berseri-seri, tersenyum lebar, telinganya menempel di telingaku. "Kamu tunggu sampai sampai spinneynya naik."

Jongin menunjukkan dengan dagunya ke arah Mac, yang sedang membentangkan spinnaker - sebuah layar warna merah penuh, itu warna sebuah kegelapan. Yang mengingatkan aku pada dinding di ruang bermainnya.

"Warna menarik," aku berteriak.

Jongin memberiku senyum licik dan mengedipkan mata. Oh, itu disengaja. Balon-balon spinney mengelembung - besar, bentuknya aneh seperti elips - membuat The Nana bertambah kecepatannya. Menemukan arahnya, dia berkecepatan diatas suara.

"Layar asimetris. Untuk mempercepat." Jongin menjawab. pertanyaanku yang tak terucap.

"Sungguh menakjubkan." Kupikir tak ada satu katapun yang lebih baik untuk dikatakan.

Aku memiliki senyum paling konyol di wajahku saat kami bergerak diatas air, menuju kemegahan Pegunungan Olympic dan Kepulauan Bainbridge. Melihat kebelakang, aku melihat Seattle mengecil di belakang kami, Mount Rainier di kejauhan. Aku belum pernah benar-benar menghargai betapa indahnya dan hamparan pemandangan sekeliling Seattle adalah hijau, subur, dan tenang, pepohonan yang tinggi dan tebing menjorok di sana-sini.

Ini liar tapi keindahannya tenang diatas kemilaunya sore yang cerah itu mengambil napasku menjauh. Ketenangannya sangat menakjubkan dibandingkan dengan kecepatan kami saat kami bergerak melintasi air.

"Berapa kecepatannya bergerak?"

"Dia bergerak 15 knot."

"Aku tak tahu apa artinya."

"Ini sekitar 17 mil per jam."

"Apakah hanya segitu? Rasanya ini jauh lebih cepat."

Jongin meremas tanganku sambil tersenyum. "Kau tampak cantik, Sehun. Ada baiknya untuk melihat beberapa warna di pipimu. . . dan itu bukan dari warna merah karena malu. Kau terlihat seperti yang kau lakukan difoto Kris."

Aku berbalik dan mencium Jongin. "Kau tahu bagaimana menunjukkan pada seorang saat menyenangkan, Mr. Kim."

"Kami bertujuan untuk saling menyenangkan, Sehun." Jongin mencium belakang leherku, mengirim kelezatan yang menggelitik dibawah tulang punggungku.

"Aku suka melihatmu bahagia," bisik Jongin dan mengencangkan pelukannya di sekelilingku.

Aku menatap keluar diatas birunya lautan yang luas, bertanya-tanya apa yang mungkin aku melakukan di kehidupan sebelumnya untuk memiliki senyum keberuntungan dan mengirimkan pria tampan ini kepadaku. Ya, kau seorang pria brengsek yang beruntung, bawah sadarku membentak. Tapi kau berhasil menghapusnya. Dia tidak akan mau hubungan vanila sialan ini selamanya. . . kau harus berkompromi.

Aku membelalak secara mental melihat kesinisannya, wajah kurang ajarnya dan aku menyandarkan kepala ke dada Jongin. Tapi dalam hati aku tahu bawah sadarku benar, tapi aku menghalau pikiran itu. Aku tak ingin merusak hariku. Satu jam kemudian, kami berlabuh di teluk kecil, tempat terpencil Pulau Bainbridge. Mac telah pergi ke daratan dengan perahu karet - untuk apa, aku tak tahu - tapi aku merasa curiga karena begitu Mac menyalakan mesin tempel di perahu karetnya, Jongin meraih tanganku dan praktis menyeretku memasuki ke kabinnya, seorang pria dengan sebuah misi.

Sekarang Jongin berdiri di depanku, memancarkan sensualitasnya yang memabukkan saat jari terlatihnya membuka tali jaket pelampungku dengan cepat. Jongin melemparkannya ke salah satu tempat dan menatapku penuh perhatian, matanya gelap, membesar. Aku sudah tersesat padahal Jongin sama sekali belum menyentuhku.

Jongin mengangkat tangannya ke wajahku, dan jari-jarinya bergerak turun ke daguku, sepanjang tenggorokan, tulang dadaku, membakarku dengan sentuhannya, sampai kancing pertama blus biruku.

"Aku ingin melihatmu," Jongin menarik nafas, dengan terampil melepas kancing itu. Membungkuk, Jongin menanamkan ciuman lembut di bibirku yang terbuka.

Aku terengah-engah dan bergairah, terangsang oleh pengaruh dari kombinasi antara keindahannya yang memikat, seksualitas tubuhnya di dalam kungkungan kabin ini, dan goyangan lembut kapalnya. Jongin berdiri kembali.

"Lepaskan pakaian untukku," Jongin berbisik, matanya terbakar.

Oh my. Aku begitu senang untuk mematuhi. Tanpa melepas tatapanku, perlahan aku melepaskan kancing satu persatu, menikmati tatapan panasnya. Oh, ini adalah hal yang memabukkan. Aku bisa melihat gairahnya - itu terlihat jelas di wajahnya. . . dan di tempat lain. Aku membiarkan bajuku jatuh ke lantai dan meraih kancing jeansku.

"Stop," perintahnya. "Duduklah."

Aku duduk di tepi tempat tidur, dan dalam satu gerakan Jongin berlutut di hadapanku, menguraikan salah satu tali sepatuku kemudian sepatu yang satunya lagi, menariknya satu persatu, diikuti dengan kaus kakiku. Dia mengambil kaki kiriku dan menaikkannya, menamankan ciuman lembut dibelakang ibu jariku, lalu mengigitnya.

"Ah!" aku mengerang saat aku merasakan efeknya di pangkal pahaku. Jongin berdiri dengan satu gerakan anggun, tangannya memegangku, dan menarikku bangkit dari tempat tidur.

"Lanjutkan," katanya dan berdiri, mundur kebelakang untuk menontonku.

Perlahan-lahan aku menggeser ritsleting jeansku kebawah dan mengaitkan ibu jariku dibagian ikat pinggang celana ini kemudian mendorong jeans turun sampai kakiku. Senyum lembut bermain di bibirnya, tapi matanya masih gelap. Dan aku tak tahu apakah itu karena bercinta denganku tadi pagi, maksudku benar-benar bercinta denganku, dengan lembut, dengan manis, atau jika itu karena Jongin begitu semangat mendeklarasikannya - ya. . . Aku mencintaimu - tapi aku tidak merasa malu sama sekali. Aku ingin menjadi seksi untuk pria ini.

Jongin layak melihat keseksian diriku - Jongin membuat aku merasa seksi. Oke, semua ini baru bagiku, tapi aku belajar di bawah pengawasan pakarnya. Dan sekali lagi, begitu banyak yang baru baginya juga. Itu seperti menyeimbangkan permainan jungkat-jungkit di antara kami, sedikit, kupikir.

Aku mengenakan beberapa pakaian dalam baruku- celana putih- merek desainer terkenal dengan harga yang sangat mahal. Aku melangkah keluar dari celana jeansku dan berdiri disana, tapi aku tidak lagi merasa murahan. Aku merasakannya. Perlahan, aku menurunkan celana dalamku, membiarkannya jatuh ke pergelangan kakiku, dan melangkah keluar darinya, terkejut oleh keanggunanku. Berdiri dihadapan Jongin, aku telanjang dan tidak merasa malu, dan aku tahu itu karena Jongin mencintaiku. Aku tidak lagi harus bersembunyi.

Jongin tak mengatakan apapun, hanya menatap ke arahku. Yang aku lihat adalah gairahnya, bahkan kekagumannya, dan sesuatu yang lain, kebutuhannya begitu dalam - kedalaman cintanya untukku. Tangannya ke bawah, mengangkat ujung sweaternya yang berwarna krem, dan menarik ke atas kepalanya, diikuti dengan T-shirtnya, menyingkapkan dadanya, mata abu-abunya yang tegas tak pernah lepas menatapku. Sepatu dan kaus kakinya dilepas sebelum dia memegang kancing celana jinsnya. Sebelum melepas kancingnya, aku berbisik, "Biarkan aku melepasnya."

Bibir Jongin mengatup sebentar lalu membentuk kata ooh, dan dia tersenyum. "silahkan saja."

Aku melangkah kearah Jongin, menyelipkan jariku tanpa rasa takut di ban pinggang celana jinsnya, dan menariknya jadi Jongin terpaksa untuk mengambil langkah lebih dekat kepadaku. Jongin terengah-engah tanpa sadar atas keberanianku yang tak terduga, kemudian tersenyum ke arahku. Aku melepaskan kancing, tapi sebelum aku membuka ritsletingnya, aku membiarkan jari-jariku mengembara, menelusuri bagian tubuhnya yang mengeras dibalik jeansnya yang lembut. Jongin melenturkan pinggulnya mengarahkan ke telapak tanganku dan sekilas menutup matanya, menikmati sentuhanku.

"Kau semakin berani, Sehun, sangat berani," bisik Jongin dan menjepit wajahku dengan kedua tangannya, membungkuk dan menciumku dalam-dalam.

Aku meletakkan tanganku dipinggul Jongin - setengah pada kulit dinginnya dan setengah lagi diikat pinggang celana jinsnya.

"Kau juga," bisikku dibibir Jongin saat ibu jariku menggosok pelan-pelan membuat lingkaran diatas kulitnya, dan dia tersenyum.

"Menuju kesana."

Aku menggerakkan tanganku ke bagian depan celana jinsnya dan menurunkan ritsletingnya. Jariku berani bergerak melewati rambut pubis menuju bagian tubuhnya yang mengeras, dan aku menggenggamnya erat-erat. Jongin mengeluarkan suara rendah ditenggorokannya, napasnya wangi menghanyutkanku, dan Jongin menciumku lagi, dengan penuh cinta. Saat tanganku bergerak di atasnya, di sekelilingnya, membelainya, meremasnya erat-erat, ia menempatkan tangannya di sekelilingku, tangan kanannya menempel rata ditengah-tengah punggungku dan jari-jarinya menyebar. Tangan kirinya di rambutku, menahan kepalaku dekat dengan mulutnya.

"Oh, aku sangat menginginkanmu, sayang," Jongin menarik nafas, dan tiba-tiba melangkah mundur untuk melepaskan celana jeans dan boxernya dalam satu gerakan cepat, lincah.

Jongin begitu indah, pemandangan yang sangat indah walaupun saat keluar dari pakaian, setiap inci dari dirinya. Jongin adalah kesempurnaan. Keindahannya hanya dinodai oleh bekas lukanya, pikirku dengan sedih. Dan lukanya jauh lebih dalam dari sekedar kulitnya.

"Ada apa, Sehun?" Bisik Jongin dan dengan lembut membelai pipiku dengan buku jarinya.

"Tidak ada apa-apa. Cintailah aku, sekarang."

Jongin menarikku ke dalam pelukannya, menciumku, memutar tangannya diatas rambutku. Lidah kami terjalin, Jongin berjalan mengarahkan aku mundur ke tempat tidur dan dengan lembut menurunkan aku atasnya, mengikuti aku turun hingga Jongin berbaring di sampingku,menjalankan hidungnya sepanjang rahangku saat tanganku pindah ke rambutnya.

"Apakah kau tahu bagaimana istimewanya aromamu, Sehun? ini tak tertahankan." Kata-kata Jongin selalu melakukan apa yang mereka lakukan - darahku terbakar, mempercepat denyut nadiku - dan ia menjalankan hidungnya menuruni tenggorokanku, melintasi dadaku, menciumku penuh sayang saat melakukannya.

"Kau begitu indah," bisik Jongin, sambil mencium salah satu nipple ku dan dengan lembut menghisapnya. Aku mengerang saat tubuhku melengkung menjauh dari tempat tidur.

"Biarkan aku mendengar suaramu, sayang."

Tangan Jongin berjalan turun ke pinggangku, dan perasaanku melayang karena sentuhannya, kulit terhadap kulit - mulutnya lapar di putingku dan jari panjangnya sangat terlatih membelai dan mengusapku, menyayangiku. Berpindah menelusuri atas pinggulku, diatas pantatku, dan menuruni kaki menuju lututku, dan selama ini dia lakukan sambil mencium dan mengisap nippleku - oh my. . .

Merenggut lututku, tiba-tiba Jongin menyentak kakiku keatas, melingkarkannya diatas pinggulnya, membuatku berhasrat, dan aku merasakan bukannya melihat, Jongin merespon sambil menyeringai dikulitku. Dia berguling sehingga aku duduk diatasnya dan mengulurkan sebuah paket foil. Aku bergeser mundur, mengambilnya dengan tanganku, dan aku tidak bisa menolaknya diatas segala keindahannya.

Aku membungkuk dan menciumnya, membawanya memasuki mulutku, memutar-mutarkan lidahku di sekelilingnya, kemudian mengisap dengan keras. Jongin mengerang dan melenturkan pinggulnya hingga penisnya semakin dalam di mulutku. Mmm. . . dia terasa nikmat. Aku ingin dia didalam diriku. Aku duduk dan menatapnya; Jongin terengah-engah, mulutnya terbuka, mengawasiku dengan penuh perhatian.

Dengan terburu-buru aku merobek, membuka kondom dan menggulungkan itu di atasnya. Jongin mengulurkan tangannya padaku. Aku mengambil satu tangannya dengan tanganku yang lain, menempatkan diriku di atasnya, lalu perlahan-lahan mengklaim dia sebagai milikku. Jongin mengerang pelan di tenggorokannya, menutup matanya. Merasakan dirinya berada didalam diriku. . . meregangkan. . . mengisiku - aku mengerang dengan lirih – rasanya seperti di surga. Dia menempatkan tangannya di atas pinggulku dan menggerakkan aku ke atas, kebawah, dan mendorong ke dalam diriku. Oh. . . rasanya begitu nikmat.

"Oh, Sayang," bisik Jongin, dan tiba-tiba Jongin duduk hingga hidung kami saling menyentuh, dan sensasinya luar biasa - begitu penuh.

Aku megap-megap, mencengkeram lengan atasnya saat Jongin meremas kepalaku dengan tangannya dan mata hitamnya menatap ke dalam mataku dengan intens, membakar penuh gairah.

"Oh, Sehun. Apa yang kau perbuat hingga aku merasakan ini," Jongin berbisik dan menciumku penuh gairah dengan semangat yang kuat.

Aku membalas ciumannya, pusing dengan perasaan nikmat dari dirinya yang terkubur di dalam diriku.

"Oh, aku mencintaimu," bisikku.

Jongin mengerang seolah-olah menyakitkan mendengar bisikkan kata-kataku dan berguling, membawaku bersamanya, tanpa melepaskan keintiman kita yang nikmat ini, sampai aku berbaring dibawahnya. Aku membungkus kakiku di sekeliling pinggangnya. Jongin menatap ke arahku memuja dengan kagum, dan aku yakin aku meniru ekspresinya saat aku meraihnya untuk membelai wajah tampannya. Sangat perlahan, Jongin mulai bergerak, menutup matanya saat ia melakukan dan mengerang dengan lembut. Goyangan lembut perahu, kedamaian dan ketenangan yang sepi dikabin hanya dirusak oleh campuran tarikan napas kami saat ia bergerak perlahan masuk dan keluar dari dalam diriku, begitu terkontrol dan begitu nikmat – terasa seperti disurga.

Jongin menempatkan salah satu tangannya di atas kepalaku, tangannya di rambutku dan membelai wajahku dengan tangan yang satunya saat ia membungkuk untuk menciumku. Jongin membungkusku seperti kepompong, karena dia mencintaiku, perlahan-lahan bergerak masuk dan keluar, aku menikmati. Aku menyentuhnya - menempel pada garis batas kerasnya - lengannya, rambutnya, punggung bawahnya, pantat yang indah - dan napasku bertambah cepat saat iramanya terus menerus mendorongku lebih cepat dan lebih cepat lagi. Jongin mencium mulutku, daguku, rahangku, kemudian menggigit daun telingaku. Aku bisa mendengar napas pendeknya dengan setiap dorongan lembut dari tubuhnya. Tubuhku mulai bergetar. Oh. . . Perasaan ini yang sekarang sudah kukenal dengan baik. . . Aku begitu dekat. . . Oh. . .

"Benar, sayang. . . berikan padaku. . . kumohon. . . Sehun," gumam Jongin dan kata-katanya adalah kehancuranku.

"Jongin," Aku berteriak, dan Jongin mengerang saat kami berdua datang bersama.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Mwahahaha XD

Ini sebenernya antara pengen ngakak pas baca bagian to be continuednya. Setelah kemaren galau sekarang ehem yaaa~ wkwkwk
Dan ini part terpanjang yang aku post, 7000+ words. Tepuk tangan~ wkwk

Sengaja update hari ini, soalnya besok aku udah ga bisa update. Mau perjalanan ke tangerang. Mau liat Chanyuuull, dkk. Kkk~ Otomatis ga pegang laptop. Dan aku ga mau php sama kalian tentang update cepet ff ini. Jadi tara~~

Disini ada yang nonton juga kah? Udah siap kah? Kkk~
aku minta doain lancar-lancar aja disananya nanti *bow*
ada yang mau ketemuan disana? Wkwk mayan nambah temen nongkrong disana. Hehehe

Sepertinya aku ga mau cuap-cuap panjang~ sampai ketemu lagi di next chapter berikutnya~ minggu depan ! kkk~
jangan lupa reviewnya,

Pai~~~ ^^)/

.

.

Thanks to review Ch11 :

yeon1411 , guest 1 , kkamjonghun22 , JongOdult , driccha , bibblebubblebloop , utsukushii02 , sehun-chanbaek , Sekar Amalia , Awkaihun , auliavp , Erna606 , kaihunlicious , Ilysmkji , fitry sukma 39 , dia luhane , BraveKim94