Passionate Pleasure
.
Warning! Chapter ini punya adegan yang nggak pantes dibaca sama orang yang lagi puasa. Jadi, buat yang puasa bacanya waktu udah buka puasa aja. Daripada batal gara-gara menghayati adegannya :D Saya bisanya publish sekarang sih, gak bisa nanti u,u jadi yang puasa, bisa dibaca nanti malam. Yang gak puasa... Selamat membaca ^^
Chapter 2
.
.
Suasana dikelas 2-B itu masih terasa menegangkan, juga membingungkan. Murid disitu bertanya-tanya apa yang dilakukan murid paling nakal sekaligus paling populer datang ke kelas mereka, ditambah lagi pukulan yang ditujukannya untuk Yongguk barusan.
Laki-laki itu sedikit membenarkan lengan bajunya dan juga dasinya yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Rambutnya yang sedikit berantakan menambahkan kesan keren laki-laki itu.
"Annyeong… Yongguk-ah~ masih ingat denganku? Kim Jongin"
Yongguk merasakan asin di bibirnya, ia sedikit menjulurkan lidahnya untuk menyentuh bibirnya yang agak sobek. Yongguk kembali menatap Jongin dengan tatapan nyalangnya.
"Aku tidak berurusan denganmu, Kai.."
"Tapi aku berurusan dengannya…" Jongin menunjuk Sehun dengan ibu jarinya ke samping sambil melirik Sehun sedikit. Yongguk tersenyum meremehkan.
"Dengannya? Kau sekarang sedang mengincarnya huh? Kau sudah berubah menjadi namja gay?"
"Aku? Aniyo~" Jawab Jongin dengan santai dan bernada di akhir kalimatnya. Sedikit bermain tidak apa-apa mungkin.
"Kau terlalu lama, Yongguk-ah~ aku sudah menunggu sejak kau memanggilnya tadi, tapi kau malah tidak bertindak apa-apa, dia juga. Jadi aku saja yang memukulmu kan?"
Jongin berbalik kearah Sehun, dan mendapati Sehun yang sedang menatap Jongin datar namun kentara sekali menyiratkan ketidaksukaan. Datar dan dingin, namun tajam.
"Aku dengar, kau yang akan mengajariku matematika. Wah, benar-benar sebuah takdir ya… Baiklah, aku tunggu pengajaranmu.. Kapanpun kau ingin memulainya. Aku pergi, dan lanjutkan permainan kalian tadi… Dan kau, Oh Sehun pukulah dia, jangan ragu-ragu. Fighting~!" Jongin mengucapkan kata-kata penyemangat yang dibuat-buat sambil tangan kirinya dikepalkan di udara.
Setelah mengucapkan kalimat yang begitu panjang. Jongin melangkahkan kakinya keluar dari kelas tersebut dengan tangan kanan didalam sakunya, dan tangan kirinya melambai diatas kepalanya. Seperti mengucapkan selamat tinggal untuk Sehun dan Yongguk.
Sebagian dari para gadis dikelas itu memekik karena menurut mereka Jongin tadi keren sekali. Ada juga yang tidak sampai memekik tapi begitu mengagumi Jongin karna gayanya yang cool.
Yongguk mendengus kasar melihat Jongin yang keluar dari kelas, lalu menatap Sehun dengan tajam. Dia benar-benar tidak suka dengan Sehun, karena menurutnya Sehun terlalu kaku dan sombong. Menurutnya juga, Sehun itu pandai mengambil hati para guru, itu juga yang membuat Yongguk tidak suka dengan Sehun. Alasan yang tidak masuk akal sebenarnya.
Yongguk menendang meja Sehun dengan keras dan segera kembali ke bangkunya dibelakang. Dia duduk menyender dikursinya, sambil memegang sudut bibirnya yang sedikit berdarah karena perbuatan Jongin tadi, lalu mendecih pelan.
.
.
Jongin saat ini sedang bersama teman-temannya yang terkenal sebagai pembuat onar sama seperti dirinya di sebuah gudang sekolah yang mereka renovasi sendiri sebagai ruang mereka untuk bersantai atau saat ingin membolos.
Perlu diketahui kalau Jongin adalah anak dari pemilik sekolah ini. Tentu saja sudah banyak yang tau, karena ayah Jongin sendiri lah yang mengumumkannya saat upacara penerimaan murid baru angkatan Jongin. Tapi, Jongin terlihat biasa saja. Dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Jongin bukanlah orang yang suka memanfaatkan kekuasaannya. Dia terlalu cuek. Jadi wajar saja jika guru-guru masih berani pada Jongin. Ayah Jongin juga yang mengatakan, agar tidak sungkan untuk menghukum Jongin jika dia melakukan kesalahan fatal.
"Hei! Jongin-ah. Kenapa wajahmu? Tidak seperti biasanya.."
Jongin melirik Jongdae –Atau ia lebih suka dipanggil dengan sebutan Chen– sebentar, lalu kembali ke pikirannya lagi. Jongdae yang merasa diacuhkan segera memukul pundak Jongin dengan komik yang ia pegang dengan kencang, membuat yang dipukul berteriak kencang.
"YAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Jongdae menatap Jongin dengan berani. Ia mengangkat kepalanya tinggi seperti ingin menantang Jongin. Tidak sadarkah ia kalau sudah membuat Jongin naik pitam karenanya. Jongin juga merasa bingung kenapa dia bisa berteman dengan orang bodoh dan menyebalkan juga cerewet seperti Jongdae.
"Apa? Apa? Kau ingin marah? Kau duluan yang mengacuhkanku Kim Jongin!"
Kris –salah satu teman Jongin- hanya menatap pertengkaran bodoh Jongin dengan Jongdae dengan tatapan heran, namun wajahnya tetap datar. Dia juga heran, kenapa Jongin sangat berbeda kalau sudah bersama mereka. Tidak seperti image Jongin yang dingin, playful, dan terkesan menakutkan kalau didepan siswa yang lain.
"Kalian berdua sama-sama bodoh. Berhentilah bertengkar karena hal bodoh!"
Kris sudah tidak tahan lagi saat mendengar keduanya tidak berhenti saling mengejek dengan mengucapkan kata bodoh, seperti 'kau bodoh' atau 'dasar bodoh'. Siapa yang benar-benar bodoh disini?
Keduanya pun akhirnya terdiam. Jongdae lebih memilih untuk berpindah tempat dan kembali membaca komiknya. Kris masih dapat mendengar umpatan-umpatan kecil yang diucapkan Jongdae. Ia menatap Jongin yang sekarang kembali menampilkan wajah datarnya.
"Kau kenapa? Kau tidak bermain dengan mainan-mainanmu itu huh?"
Jongin menoleh sedikit kearah Kris yang sekarang mendekat ke tempat Jongin duduk. Jongin juga sebenarnya tidak tau kenapa dia bisa seperti ini. Memikirkan tentang mainan, dia malah memikirkan laki-laki pucat yang akan menjadi tutornya nanti. Sebuah seringai terlihat diwajahnya. Kris bergidik melihat perubahan raut wajah Jongin yang cepat sekali berubah. Mengerikan.
"Aku bahkan menemukan mainan yang lebih baru."
Jongin berucap pelan. Namun Kris masih bisa mendengarnya. Tentu saja, melihat posisi mereka yang sangat dekat seperti ini. Jadi itu arti seringaian yang ada diwajah Jongin. Kris menghela nafas, namun sedetik kemudian ia menjadi penasaran. Siapa mainan baru yang dimaksud Jongin. Dan itu tandanya Jongin sudah membuang Krystal yang sudah menjadi mainan Jongin selama 4 bulan ini. Menarik. Kris penasaran bagaimana reaksi Krystal nantinya. Tapi Kris jadi mengingat sesuatu, jadi dia berniat bertanya pada Jongin.
"Ah ya, Jongin. Jadi kenapa kau pindah ke lantai tiga?"
Jongin menolehkan kepalanya kearah Kris. Menatapnya sebentar, lalu menjawab pertanyaan Kris.
"Hanya ingin saja…"
Kris tau Jongin tidak berkata jujur. Dia makin curiga, apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan mainan barunya? Eyy, Kris menghilangkan pemikiran anehnya. Itu tidak mungkin, Jongin bukan gay.
"Tapi kau tau kan resikonya nanti kalau kau berpindah kamar seperti itu?" Kris melanjutkan bertanya pada Jongin.
"Tenang saja. Aku sudah mengurusnya. Aku hanya ingin lebih dekat dengan mainanku saja…"
Jongin secara tidak sadar mengucapkan sesuatu tentang mainannya. Dan hal itu membuat Kris sedikit membuka mulutnya, hal yang pikirkan tadi kembali memenuhi kepalanya. Jadi dia bertanya lagi dengan pelan.
"Mainanmu… adalah… seorang laki-laki?"
Jongin menoleh, mengangkat kedua alisnya. Lalu mengucapkan hal yang membuat Kris makin terkejut. Benar-benar tidak mungkin, tapi itulah yang terjadi.
"Memangnya kenapa? Lama dipikir, aku juga ingin sepertimu dan Chen. Bermain dengan namja, tenanglah aku hanya bermain. Aku tetap bukan gay, seperti kalian."
Itulah yang diucapkan Jongin beberapa waktu yang lalu sebelum Jongin pergi dari ruangan itu entah kemana. Ucapan Jongin tadi, benar-benar menyindirnya. Itu sama saja mengatakan kalau Kris adalah seorang gay. Dia mengembuskan nafasnya kasar.
.
.
Jongin membasuh wajahnya dengan air. Jongin saat ini sedang berada di toilet. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Jongin melihat siapa yang masuk melalui kaca didepannya, Jongin menaikkan sudut bibirnya tipis saat melihat seseorang yang sepertinya belum sadar dengan keberadaan Jongin disini, Oh Sehun. Sehun berjalan ke sisi kiri Jongin, membasuh wajahnya dengan kedua tangannya. Terlihat sekali raut sangat lelah diwajah laki-laki itu. Jongin terus memperhatikan Sehun dengan intens, dengan seringai masih menempel diwajahnya.
Sehun melepas kedua tangannya dari wajahnya saat dirasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Dia menoleh ke samping, dan sedikit terkejut melihat Jongin disana. Namun setelahnya, wajahnya kembali seperti biasa. Mereka bertatapan sangat lama. Hanya tatapan biasa yang saling mereka lemparkan. Bukan tatapan mengancam, ataupun tatapan yang ramah.
Namun tiba-tiba, Jongin mendorong Sehun sampai punggungnya membentur dinding dibelakangnya dengan keras. Sehun meringis pelan, lalu menatap Jongin dengan tajam. Sehun tidak mengerti apa yang ada dipikiran Jongin, apa yang diinginkan oleh laki-laki didepannya yang kini telah mengurung Sehun dengan tangan kanannya yang menopangnya di dinding. Sedangkan tangan kirinya mencengkeram bahu Sehun dengan agak keras.
Jongin memperhatikan Sehun yang saat ini sedang memandang Jongin dengan tatapan tajamnya. Mengintimidasi Jongin, seakan mengatakan 'apa-yang-kau-inginkan' dan juga 'lepaskan-aku'. Jongin tidak mengindahkan tatapan Sehun, tangannya perlahan turun ke pinggang Sehun. Jongin dapat melihat kalau Sehun sedikit tersentak dengan apa yang dilakukannya. Dan itu membuat Jongin semakin menggencarkan aksinya. Jongin mendengar ringisan pelan Sehun saat tangan kirinya meremas pelan pinggang laki-laki albino itu. Jongin masih memandangi wajah Sehun yang saat ini sangat dekat dengannya, menurutnya wajah Sehun sangat cantik. Jika saja Sehun seorang perempuan, pasti permainannya akan lebih menyenangkan.
Dengan cepat Jongin menarik pelan pinggang Sehun dengan tangan kanannya sehingga kedua tangan Jongin saat ini sudah berada dipinggang Sehun, memegangnya erat. Hal itu membuat badan mereka lebih dekat lagi, bahkan menempel. Sehun menegang merasakan perbuatan Jongin. Dia tidak tau harus berbuat apa. Jongin yang menatapnya lekat dan badan mereka yang menempel.
Sehun berpikir untuk menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari Jongin. Namun sial, junior mereka dibawah sana malah bergesekan dan membuat Jongin sedikit mengerang. Jongin menatap Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa itu malah membuat Sehun merasakan hawa panas yang menjalar di pipinya saat mendengar erangan Jongin tadi. Sehun dengan gerakan cepat menunduk dalam, merutuk dirinya sendiri dengan apa yang sudah dipikirkan dan dirasakannya.
"Kau mau bermain-main denganku, hm?"
Jongin mengeratkan pegangannya pada pinggang Sehun, membuat sang empunya memekik agak keras karena memang Jongin memegangnya dengan sangat keras. Sehun mengangkat lagi kepalanya, menatap Jongin yang masih menatapnya dengan tatapan lapar.
"Kau… apa maumu? Lepaskan aku!"
Sehun berucap dengan mata yang benar-benar menusuk, dan terdengar dari nada Sehun yang ditekan disetiap kata, kalau dia benar-benar tak suka dengan perlakuan Jongin. Walaupun jujur saja, Sehun belum pernah sedekat ini dengan namja lain selain dengan hyung-nya.
Jongin bukannya melakukan apa yang diperintahkan Sehun, sekarang dia malah melingkarkan tangan kirinya dipinggang Sehun, lagi-lagi menarik Sehun agar lebih dekat. Padahal demi apapun saat ini mereka sudah sangat menempel. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegang wajah cantik Sehun. Mengelusnya secara perlahan, hingga turun sampai ke leher Sehun.
"Hanya ingin sedikit bermain, bukankah kau yang terlebih dulu mengajakku?"
Sehun merasakan firasat buruk saat mendengar nada yang keluar dari bibir tebal yang sekarang ini mendekatkan wajahnya. Sehun ingin pergi dari sini sekarang juga, namun ia tidak bisa berbuat apapun. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak, ia takut jika melakukan perlawanan yang lebih, kejadian tadi akan terulang lagi dan membangunkan sesuatu yang berada dibawah sana.
Jongin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun yang sekarang terlihat gelisah, sebuah garis miring tipis terlukis dibibir Jongin. Dia merasa kalau Sehun benar-benar manis saat seperti ini. Membuatnya sedikit kehilangan akal sehatnya sendiri.
Sehun tidak bisa menghindar saat wajah Jongin tinggal beberapa senti didepannya, mungkin jika Sehun bergerak sedikit saja kedepan, bibir mereka sudah pasti bertemu. Namun, Sehun semakin terkejut saat merasakan Jongin sedikit menggeser kepalanya ke leher bagian kanan Sehun. Mata Sehun membola, dia dapat merasakan sesuatu yang kenyal dan basah dilehernya. Dia tau persis apa yang sedang dilakukan Jongin.
Jongin menjilat permukaan leher putih Sehun dengan lembut, lalu sedikit menghisapnya, dan menjilatnya lagi. Badan Sehun sedikit bergetar menerima perlakuan Jongin. Ini pertama kali untuknya diperlakukan seperti itu. Jongin terus melakukan hal itu beberapa kali –hisap, jilat, hisap, jilat- sampai Jongin merasakan nafas Sehun yang mulai berantakan, Jongin kembali menyeringai disela jilatannya. Dia mengeratkan lagi tangannya dipinggang Sehun karena dirasakan sedikit mengendur.
Sehun tidak mengerti kenapa dia hanya diam saja diperlakukan dengan sangat tidak sopan seperti ini oleh Jongin. Dia tidak bisa berbohong kalau ia menikmati hisapan serta jilatan dilehernya.
"Akhh."
Sehun sedikit memekik saat merasakan gigitan dilehernya. Namun setelahnya, yang dia rasakan kembali menjadi hisapan dan jilatan serta kuluman seperti sebelumnya. Sehun yakin sudah ada beberapa hickey disana.
Jongin menggigit-gigit kecil leher Sehun yang sekarang banyak meninggalkan bercak merah karena ulahnya. Namun satu yang dia ketahui, dia berhasil membuat sebuah kissmark disitu, berwarna biru keunguan. Dan, Sehun yang menikmati perbuatannya dan tidak melawan sama sekali membuat Jongin semakin ingin melakukan lebih. Walaupun menurutnya dia pasti sudah gila sekarang.
Jilatan Jongin naik dari leher Sehun menuju ke dagunya, naik lagi ke pipinya. Jongin dapat melihat kalau Sehun menatapnya dengan tatapan datar namun ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dari tatapan itu. Tangan kanan Jongin yang tadinya berada dileher Sehun kini bergerak ke bibir Sehun, mengusapnya perlahan. Jongin masih menjilati pipi kanan Sehun, kembali turun dan berhenti di bibir Sehun, mengecupnya singkat namun ia melakukannya berkali-kali.
Sehun lagi-lagi sedikit membesarkan pupil matanya. Sehun dapat merasakan bibir tebal Jongin yang tadinya mengecup bibirnya berulang-ulang kini melumatnya sedikit kasar dan terburu-buru. Sehun juga merasakan tangan Jongin mulai mengelus punggungnya dielakang. Sehun segera tersadar dan merasa kalau ini salah. Dia tidak akan mudah terbuai seperti tadi kali ini, dengan cepat dia mendorong tubuh Jongin , namun seperti pertama kali. Jongin lebih kuat dibandingkan Sehun. Padahal Sehun sudah benar-benar mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Jongin makin memperdalam kulumannya di bibir Sehun. Tangan kanannya bergerak kebelakang leher Sehun dan mendorong kepala Sehun agar dia bisa lebih dalam lagi merasakan bibir manis Sehun. Sepertinya ini akan menjadi candu baginya.
Sehun benar-benar tidak bisa melawan Jongin. Jantungnya berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Nafasnya pun mulai terengah. Ia hanya berharap Jongin tidak melakukan lebih dari ini. Tapi sepertinya Sehun tidak bisa menunggu lebih lama karena Jongin yang sekarang semakin liar mengklaim bibir tipisnya. Sehun benar-benar berharap keajaiban datang menolongnya. Kalau tidak, ia juga bisa jatuh kedalam permainan Jongin ini.
Siapapun tolong hentikan mereka.
.
.
To Be Continue
A/N : Bersambung again~~ Maaf kalo pendek... xD Jangan bully saya karena aneh ceritanya TvT saya amatiran... banyak typo juga mungkin.. yah, pokoknya EYD saya kurang tepat TvT dicampur-campur juga pake bahasa Korea... :D maklumi saya ya.. Saya juga butuh kritik dan saran :D
Dan, selamat buat yang nebak itu Jongin, karena tebakan kalian benar lol. Klise yakan? xD
P.S : Makasih buat yang udah review chapter kemarin. Makasih juga buat yang udah review Songfic abal saya 'Notice Me'. Ada sekuelnya kok itu :3
P.S.S : Dan buat Let It Out. Mungkin belum bisa saya update, serius deh saya kena WB mulu tiap mau lanjutin LIO. Malahan dapetnya ide baru mulu /nyengir/ :D
Terakhir, saya mau bilang makasih sekali lagi. Dan jangan lupa Review ya guls :) review kalian sangat berharga buat saya :') maaf belum bisa balas satu-satu. Chapter depan mungkin bakal saya jawab xD Dan buat para author yang udah review, saya terharu :") ThankU ^^
Special Thanks :
Exolweareone9400; GaemGyu92 ; levy95 ; Byun Aeri ; got heartattack ; JongOdult ; D. ; Kimoh1412 ; whirlwind27 ; Zelobabysehuna ; MinnieWW ; sevhoen ; auliavp ; KrisyeolDragonPhoenix ; coffe latte ; ; xohunte ; ParkJitta ; Nagisa Kitagawa ; HilmaExotics ; kaihun ; Silent reader ; sehuniesm ; binisehun ; sehunskai ; ThatXX94 ; my love double b ; Hann Hunnie ; yunacho90 ; avs1105 ; Xing1002 ; vantasfic ; Yessi94esy ; KaiHunnieEXO ; Ath Sehunnie ; vitangeflower
