Passionate Pleasure
Chapter 5
.
.
Gila.
Ini benar-benar gila.
Itulah yang ada dipikiran Sehun saat melihat mata Jongin yang sudah benar-benar memerah, entah karena mabuk –atau karna nafsunya yang terlampau besar.
Jongin menatapnya dengan sangat lembut walaupun dengan mata seperti itu. Matanya seperti sangat berharap pada Sehun. Sehun sendiri pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Jelas dia terkejut. Mulutnya yang sudah memerah dan sedikit membengkak sedikit membuka.
Tapi–
Tunggu, apa maksud Jongin dengan bermain? Bermain apa? Dahinya berkerut tanda tak mengerti.
"Apa maksudmu?"
Akhirnya, setelah beberapa menit, Sehun pun bertanya apa maksud Jongin. Namun yang dia dapati hanya Jongin yang menatapnya semakin intens. Seperti seorang harimau yang tak bisa melepaskan pandangannya pada mangsanya. Membuat Sehun sedikit bergidik ngeri.
Baru saja dia akan membuka mulutnya untuk kembali bertanya, namun–
"Uhm…"
Wajah Sehun memerah saat mendengar desahan tertahan Jongin –yang sialnya terdengar sangat sexy dibibirnya. Ya, benar. Jongin mencium Sehun lagi, kali ini melahapnya dengan rakus. Tangannya menangkup wajah Sehun dan menekan tengkuk Sehun agar ciuman mereka semakin dalam.
Terdengar bunyi kecipak saat dua bibir yang membengkak itu terlepas. Menyisakan sebuah benang tipis diantaranya. Nafas keduanya terengah dengan wajah merah padam, sangat kentara bagaimana ciuman yang mereka lakukan tadi sangat panas dan panjang.
"Kau tau apa yang kuinginkan Oh Sehun–" Ucap Jongin disela nafasnya yang masih memburu, masih berusaha menetralkan sesuatu di rongga kiri dadanya. "Aku menginginkanmu."
Sehun menatap Jongin tak percaya. Dia membesarkan pupil matanya, lalu dengan gerakan cepat membuang wajahnya ke arah lain. Asalkan tidak ke wajah Jongin.
'Brengsek.' Ucap Sehun dalam hati.
.
.
Jongin meninju kaca didepannya dengan amarah yang tidak bisa dikendalikan. Tangannya yang dia gunakan untuk memukul kaca itu mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Namun dia menghiraukan itu.
Sehun–
Orang itu sudah menjatuhkan harga dirinya. Baru sekali ini dia ditolak oleh seseorang. Biasanya setiap wanita yang ingin dia ajak tidur, dengan mudahnya mereka mengatakan 'ya'. Oh– ingat, Sehun bukan wanita.
"Sial." Desis Jongin pelan.
Dia ingat saat Sehun malah mengusirnya dan tidak menjawab apa yang Jongin inginkan. Sehun hanya mengatakan, "Pulanglah.. kau sudah sangat mabuk. Aku juga ingin istirahat."
Jongin juga bodoh sebenarnya. Diaa menurut begitu saja dan menuju pintu dengan dadanya yang bergemuruh. Saat Sehun menutup pintu kamarnya. Jongin baru ingat, kalau sesuatu dibawah sana masih menegang butuh dipuaskan.
Dia jarang sekali melakukan solo. Karena untuk apa melakukan hal semacam itu, kalau ada banyak wanita yang akan memuaskannya.
Jongin menggeram mengingat kalau ini semua karena satu orang– Oh Sehun.
Apa orientasi seksual Jongin memang sudah berubah?
Tidak. Tidak.
Dengan cepat Jongin menggelengkan kepalanya. Mana mungkin hal itu terjadi. Matanya berkilat tajam. Itu hanyalah nafsu. Ia tidak berubah menjadi gay. Tidak akan.
"SIALAN!"
.
.
Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas formal menyesap kopi didepannya dengan perlahan. Terlihat sekali dari gerakannya yang penuh dengan keluwesan dan wibawa. Dia memandang seorang pria lain didepannya yang sedang menunduk, menunggu.
"Suruh anak itu pulang ke Seoul dua minggu lagi. Dan jangan beritahu apapun terlebih dahulu pada anakku."
Pria yang sedang menunduk itu mengangguk, tanda dia mengerti. Dan setelahnya, dia segera berlalu. Kembali meninggalkan atasannya yang kini sedang menatap sebuah pigura foto, yang berisikan sebuah keluarga kecil dengan tiga orang pria –termasuk dirinya, dan juga dua orang anak laki-laki serta seorang wanita yang bisa dipastikan adalah anak-anak dan istrinya.
"Kau pasti akan suka dengan kejutan ini –anakku."
.
.
Jongin menerima panggilan dari seseorang pagi itu. Dia mengerang frustasi sambil mengacak surai coklatnya yang sudah berantakan karena semalam dia tidak bisa tidur dan memilih minum sedikit wine sampai akhirnya dia tertidur sendiri di kasurnya.
Semalam, terpaksa ia harus melakukan solo karena 'benda' miliknya itu mulai terasa ngilu. Kalau tidak segera ditidurkan, mungkin dia juga tidak akan bisa tidur. Tapi ternyata perkiraannya salah. Bahkan saat masturbasi saja, yang dipikirkan olehnya adalah –Sehun.
Jadilah dia kembali meminum alkohol, walaupun hanya sebotol wine.
Dia terlalu malas beranjak dari tempat tidurnya. Padahal bel masuk akan berbunyi setengah jam lagi. Dan jarak dari asrama menuju sekolah juga lumayan jauh.
Jongin terdiam. Tidak tahu harus bagaimana. Setelah kejadian semalam yang sudah membuatnya seperti kehilangan akal sehat. Dan sekarang dia harus meladeni ayahnya –yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Setelah sedikit berperang dengan otaknya. Jongin pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dia memilih sekolah rupanya.
.
.
Sehun membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali dengan agak tergesa. Bel akan berbunyi sepuluh menit lagi. Itu tandanya Sehun sudah benar-benar terlambat. Memang, jarak antara asrama ke sekolah tidak sampai sepuluh menit. Tapi tetap saja, bagi seorang Oh Sehun, itu adalah pertama kalinya dia terlambat seperti ini.
Dan Sehun tidak ingin terlalu naïf untuk tidak mengakui, kalau orang itu lah penyebab dia bisa terkena insomnia.
Orang itu–
–Jongin.
Entah kenapa wajah Jongin masih saja membayang diingatannya. Sampai sekarang.
Bagaimana wajah dengan mata sayunya–
Bibir tebalnya yang sudah pernah mendarat di bibirnya–
Suara Jongin –mulai dari desahan; erangan; gumaman; dan lenguhan– yang sexy–
Oh, sial. Oh Sehun, sepertinya kau harus memeriksakan dirimu ke dokter setelah ini. Lihatlah wajahmu yang biasanya datar itu memerah. Bagaimana setelah kau hampir diperkosa dua –atau tiga kali oleh orang yang sama, yang biasanya kau tanggapi biasa saja tapi setelah perlakuan lembut yang mungkin hanya sekali semalam itu bisa membuatmu seperti anak gadis seperti ini.
Sehun hanya tidak mengerti, kenapa Jongin sering melakukan hal itu padanya. Dia selalu menganggap kalau Jongin itu brengsek. Hanya ingin memenuhi kebutuhan pribadinya –seperti nafsu?
Sehun terus melangkah, dia sudah melewati kamar Jongin yang sudah terkunci. Otaknya memutar ingatan. Sehun menghembuskan nafas berat. Hari ini adalah hari pertama Sehun akan menjadi tutor dari seorang Kim Jongin.
.
.
Jongin benar-benar malas untuk mengikuti pelajaran, jadi setelah istirahat nanti dia tidak akan kembali lagi ke kelas. Rasanya dia butuh sesuatu –atau seseorang untuk dijadikan pelampiasan.
Jongin menghentikan langkahnya. Dapat terlihat bagaimana bibir itu menampikkan seringai. Mungkin sedikit bermain tidak apa. Jongin segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, mendial nomor seseorang yang mungkin bisa dia jadikan pelampiasan.
"Aku tunggu di toilet pria~ honey~"
Hanya dengan mengucapkan kalimat seperti itu. Jongin langsung mematikan panggilan dan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku. Kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Dengan seringai yang masih tercetak jelas diwajahnya. Bersiaplah, The Devil is Coming.
.
.
Suasana kelas 2-1 saat itu benar-benar rebut –seperti biasa. Dan sudah ditebak, sang duo idiot –Baekhyun dan Chanyeol lah yang paling berisik. Sedangkan seorang anak laki-laki berkulit albino sedang memegangi kepalanya, seperti menahan rasa sakit dikepalanya.
Sehun beranjak dari kursinya dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruang kelas yang hanya akan membuat kepalanya semakin pusing. Untungnya saat ini sedang jam kosong, yang harusnya diisi kelas etika, namun gurunya tidak dapat hadir karena urusan keluarga. Sebenarnya Sehun sedikit merasa senang, karena sejujurnya dia tidak begitu menyukai kelas etika.
Sehun mulai mempercepat langkahnya. Dia malas kalau harus berjalan menuju ruang kesehatan. Jadi ia lebih memilih toilet saja. Karena, Sehun dapat bersumpah kalau kepalanya saat ini seperti dihantam batu yang sangat besar, dan ruang kesehatan itu jaraknya sangat jauh.
Sehun masuk kedalam toilet pria, namun langkahnya berhenti diambang pintu. Dia mendengar suara-suara yang aneh dari salah satu bilik didalam kamar mandi. Sehun melangkah dengan hati-hati, berusaha mendengar lebih jelas. Siapa yang tahu kalau itu hanya halusinasinya saja karena sakit dikepalanya.
Namun saat melangkah makin kedepan, Sehun makin jelas mendengar suara itu.
"Nghh.. ahh.."
Itu suara… anak perempuan. Yang sedang… mendesah?
Sehun mengerutkan dahinya. Berani sekali ada orang yang melakukan hal semacam itu dikamar mandi. Memang, kamar mandi ini bukan kamar mandi yang sering didatangi murid murid. Tapi tetap saja. Bagaimana kalau ada guru yang lewat dan mendengar mereka.
Sehun mengedikkan bahunya acuh. Peduli apa dia. Yang dia pedulikan saat ini adalah kepalanya yang makin pening. Dia sudah tidak peduli lagi. Baru saja tangannya ingin menyalakan keran lalu membasuh kepalanya. Namun, suara tadi terdengar lagi. Kali ini lebih terdengar pasrah dan makin cepat. Hanya satu kata, yang membuatnya seketika diam dan membatu.
"Ahhn... Jonginhh.. j-jangan kencang-kencanghh.. nanti a-ada yanghh melihathh..hh.. tanda ituhh dileherkuh.. uhh."
Sehun tidak salah dengar kan? Itu.. Jongin?
Sehun mengepalkan tangannya erat. Kenapa rasanya dia sangat marah mendengar nama Jongin disebutkan oleh perempuan itu. Apa yang sebenarnya mereka lakukan didalam?
Sehun terdiam, kepalan tangannya melemas. Bodoh. Harusnya dia sadar sejak awal, kalau Jongin hanya ingin bermain selama ini. Dia sudah melupakan niat awalnya berlari ke toilet. Dengan cepat Sehun berjalan keluar dan membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras. Cukup membuat dua orang berbeda jenis kelamin yang berada didalam salah satu bilik itu terkejut.
"I-itu apa J-jongin? A-apa kita ketahuan?"
Jongin hanya diam tak menanggapi pertanyaan perempuan yang ada dalam pangkuannya saat ini. Pakaian perempuan itu sangat berantakan, kancing baju atasnya sudah lepas dan roknya tersingkap sampai ke pahanya.
Jongin menyuruh perempuan itu berdiri, yang jelas saja dituruti. Dengan langkah cepat, Jongin keluar dari dalam bilik itu. Rambutnya berantakan akibat remasan perempuan yang sedang dicumbunya di toilet tadi. Jongin bejalan menuju pintu keluar, matanya bergerak ke kanan mencari orang yang menjadi saksi atas aktivitasnya tadi. Mungkin orangnya belum jauh, mengingat di kanan dan kirinya hanya ada lorong lurus.
Saat matanya bergerak ke arah kiri. Matanya sedikit membesar. Dia melihat seseorang yang tergeletak lemas. Jongin jelas tau siapa orang itu. Itu.. Sehun.
Jadi, Sehun yang mendengar aktivitas Jongin tadi. Dan dia juga yang membuat suara bedebam keras tadi.
Tanpa disadari, Jongin sedikit mengangkat sudut bibirnya. Benar, itu Sehun.
Namun, dia segera sadar saat melihat keadaan pria yang kulitnya sudah pucat itu sudah bertambah pucat sekarang. Dengan langkah panjang, Jongin menghampiri Sehun. Memangku kepala Sehun diatas pahanya. Mulai menepuk pipi Sehun sambil memanggil namanya, tetapi tidak ada respon dari tubuh Sehun yang sekarang terlihat sangat lemas.
Tanpa pikir panjang, Jongin langsung menggendong Sehun ala bridal dan membawanya ke ruang kesehatan. Ia sudah tidak peduli kalau nantinya akan ketahuan membolos. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Sehun. Entah kenapa dia bisa sangat khawatir sekarang dengan bocah albino ini.
Sepertinya Jongin memang harus memeriksakan otaknya, jantungnya, bahkan sepertinya semua organ tubuhnya bermasalah. Dan itu hanya dikarenakan oleh Sehun. Seorang pria. Laki-laki.
Saat Jongin berada disekitar laki-laki dalam gendongannya itu, semuanya terasa salah. Walaupun dia ingin menyangkalnya, tapi dia sendiri sadar dia juga tidak bisa menyangkalnya terus. Kalau dia mulai menyukai laki-laki albino itu. Dia menyukai Oh Sehun.
.
.
Chanyeol yang memang sedang berjalan-jalan dengan Baekhyun karena bosan dikelas, tidak sengaja melihat Jongin yang sedang menggendong seorang laki-laki berkulit putih yang sepertinya dia mengenalnya.
Kepalanya memicing. Sebenarnya dia tidak begitu kenal dengan Jongin, namun dia juga penasaran apa yang akan dilakukan Jongin pada laki-laki yang tidak asing dalam ingatannya itu. Akan tetapi Chanyeol tidak bisa mengingatnya.
"Kau kenapa Yeol?"
Chanyeol menoleh dan menemukan Baekhyun yang sudah memegang snack ditangannya. Dia mengernyitkan alisnya, jadi dari tadi dia menunggu, ternyata Baekhyun pergi ke kantin? Sial. Tau begitu dia ikut tadi.
"Kau ke kantin? Kenapa tidak memberitahuku?!"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Chanyeol terdiam sejenak.
"Untuk apa? Kau saja tidak mau aku ajak keluar tadinya."
Chanyeol diam. Masih diam. Dan jelas saja, itu membuat Baekhyun sedikit geram lalu memukul belakang kepala Chanyaeol.
"Ya! Dasar bodoh! Huh."
Chanyeol meringis, sakit sekali. Ia tidak berlebihan, Baekhyun benar-benar memukulnya kali ini. Chanyeol harus ingat kalau bocah didepannya ini menguasai beladiri hapkido.
"Omong-omong, aku tidak melihat Sehun tadi dikelas. Dia kemana ya.."
Ucapan Baekhyun yang tiba-tiba, membuat Chanyeol menautkan alis.
Oh, Sehun yang itu.
Teman sebangku Baekhyun itu.
Oh Se Hun... Anak yang menempati kamar asrama baru dilantai tiga.
Laki-laki berkulit pucat itu.
Oh Se–
Tunggu! Dia ingat! Laki-laki berkulit putih yang digendong oleh Jongin tadi. Itu seperti Sehun! Ya benar! Itu Sehun!
Akhirnya dia ingat juga. Tapi dia bingung, kenapa Sehun bisa ada digendongan Jongin? Dan kenapa wajahnya bertambah pucat tadi? Dan juga, dia seperti pingsan tadi.
Chanyeol sengaja tidak memberitau Baekhyun tentang hal ini. Mengingat kalau Baekhyun itu sangat keras dan pantang menyerah untuk berteman dengan Sehun. Bahkan sepertinya Baekhyun sangat menyayangi Sehun walaupun dengan jelas Sehun selalu dingin padanya.
.
.
Sehun membuka matanya perlahan. Dia memegang kepalanya yang masih sedikit pusing. Dia mengernyit saat menyadari kalau dia ada didalam sebuah ruangan. Kamar. Dan kamar ini terasa tidak asing baginya.
"Kau sudah bangun?"
Sehun menoleh. Ah. Dia ingat, ini kamar Jongin. Sehun mengalihkan pandangannya ke lantai, memutuskan matanya dari Jongin yang sedang bersandar di depan pintu sambil membawa sebuah nampan.
Sehun masih lebih melihat lantai berwarna putih itu daripada merespon Jongin yang sekarang sudah ada tepat disampingnya dan meletakkan nampan yang dia bawa diatas meja nakas. Sehun meliriknya sebentar. Dan dia dapat melihat sebuah bubur dan air putih serta beberapa obat-obatan diatas nampan tersebut.
"Ini, makanlah.. Tadi, aku menemukanmu pingsan di samping pintu toilet.."
Sehun mengepalkan tangannya. Karena Jongin yang berbicara tentang toilet, dia jadi ingat tentang suara perempuan di toilet yang mendesahkan nama Jongin tadi. Entah kenapa rasanya dia sedikit tidak suka. Dia juga tidak mengerti kenapa, dia bisa saja pura-pura tidak mendengar tadi. Tapi, itu sebelum dia mendengar nama Jongin disebut.
"Aku mau kembali ke kamarku.."
Sehun menurunkan kakinya dari atas tempat tidur Jongin dan mulai beranjak, melangkahkan kakinya menuju pintu. Dan Jongin hanya membiarkan Sehun, dia hanya terdiam sambil memandang punggung Sehun.
Sehun memegang gagang pintu dan berniat menariknya kalau saja dia tidak mendengar suara langkah yang bisa dibilang terburu menuju ke arahnya. Dan dalam sekejap, Sehun merasakan hangat menjalar ke tubuhnya. Tangan seseorang yang kini berada dipinggangnya, melingkarkannya dengan erat. Jongin memeluknya. Dan itu membuat Oh Sehun sedikit berjengit dan membatalkan niatnya, entah karena apa.
Saat tersadar, Sehun berusaha menggerakkan badannya agar terlepas dari Jongin. Dia tidak ingin hal yang terjadi beberapa kali dalam seminggu ini terulang lagi kali ini. Walaupun dia tidak dapat menyangkal kalau pelukan Jongin kali ini terasa berbeda, lebih lembut dan.. hangat. Dan itu sedikit membuat Sehun terasa nyaman.
Jongin mengeratkan pelukannya, lalu meletakkan kepalanya di pundak Sehun menyamankannya disana. Dia bergumam pelan.
"Jangan pergi dulu. Aku tidak ingin kau jatuh lagi nanti. Aku sudah membuatkanmu bubur, harusnya kau memakannya dulu.
Baru kau boleh pergi, heum.."
.
.
To Be Continued…
.
.
A/N : Huaa, TBC lagi. Dan maaf kalau gak sesuai keinginan atau banyak kesalahan atau kekurangan :') Maafkan saya juga yang tidak bertanggungjawab ini readers-nim~ udah berapa bulan ya saya nggak lanjut ffs saya? Jadi merasa bersalah gitu :') Jadi semenjak saya jadi kakak senior paling tua alias kelas dua belas, tugas saya makin banyak. Menumpuk kayak flake nya manusia purba #nahloh. Udah susah nyari waktu buat nulis...
Dan mungkin nanti status fanfics saya bakal ada tulisannya 'slow update'. Saya juga lama hiatus baca ff disini :') dan waktu saya balik, ternyata banyak author yang sudah pensiun ya :') banyak yang menghilang dari , terutama authors favorit saya TvT
Ditambah lagi, sekarang udah susah nyari feel buat KaiHun. Sehun makin tinggi udah kaya tiang beneran. Dan Jongin semakin boncel gendut gendut chubby gitu, bikin dia malah jadi uke imut TvT saya sedih deh liatnya... Kai sama Sehunnya sih masih banyak moment, tapi udah kaya Jongin yang lebih imut huhu
Nahkan jadi curhat. Jadi ceritanya, saya minta maaf buat para readers yang mungkin masih nunggu cerita ini. Sampe ada yang lewat Private Message juga :') terimakasih ya...
Kotak Reviewnya juga belum bisa dibalas di chapter ini...
Saya Cuma bisa ucapin terimakasih yang sebanyak-banyaknya udah mau review :D
Dan karena saya juga udah berbulan-bulan nggak update. Mungkin tiga hari lagi saya bakal update ff ini lagi~ untuk Let It Out, saya kena WB besar :') entah bakal dilanjut apa nggak :')
Oke, segini aja dulu cuaps gak jelasnya. Bye readers-nim~ ^^
P.S : Jangan lupa review nya^^
