Passionate Pleasure

Chapter 8

.

.

Jongin menghela nafasnya pagi ini. Tidak melakukan aktivitas paginya seperti biasa–apalagi kalau bukan mendatangi kamar Sehun, dan menunggu bocah itu membukakan pintu lalu ia bisa melihat wajah itu di pagi hari sebelum menjalani aktivitas lainnya.

Ya, ini sudah entah hari ke berapa sejak malam itu. Dan Sehun benar-benar membuktikan ucapannya. Dia berhenti menjadi tutornya, atau entahlah. Yang jelas, mulai malam itu ia tidak pernah mendengar kabar apapun lagi tentang masalah les privatnya.

Sial. Sial. Kenapa juga ia harus merasa seperti ini. Sepertinya Jongin sudah benar-benar dibuat gila. Kali ini, ia sungguh-sungguh tidak perduli dengan orientasi seksualnya lagi. Ia sudah berpikir beberapa hari ini. Dan yeah, ia mengira kalau dirinya bukan gay, tetapi ia hanya memiliki gay thing itu kepada Sehun saja.

Buktinya, ia masih merasa bagian bawahnya mengeras setiap menonton video mesum atau sejenisnya, atau dada-dada besar para gadis di sekolahnya. Err. Biarlah pemikiran-pemikiran aneh Jongin itu bertebaran. Tidak akan ada yang peduli.

Yang harus ia pikirkan saat ini adalah, bagaimana caranya ia bisa mendekati Sehun lagi setelah masalah malam itu.

"Kim Jongin!"

Jongin tersentak saat ia mendengar namanya diteriakkan dengan sangat kencang. Ia menoleh ke arah depan. Oh. Ia lupa. Ini kan sedang pelajaran matematika, dan yeah jangan salahkan Jongin kalau ia sampai ditegur karena melamun. Salahkan saja Sehun yang sedang berkeliaran di dalam pikirannya. Uh, so cheessy, Kim.

"Maju ke depan!"

Dan Jongin hanya bisa menuruti apa yang dikatakan gurunya itu. Jongin maju ke depan dengan langkah yang santai. Paling-paling guru itu ingin membahas tentang nilai ulangannya kemarin.

Dan yeah, benar saja. Lihat saja kertas yang disodorkan padanya itu. Itu adalah hasil ulangannya kemarin. Lihat juga bagaimana tinta merah itu menghiasi kertas itu dengan banyak garis-garis dan angka 4 di dalamnya.

"Kenapa nilaimu semakin menurun? Bukankah Sehun sudah mengajarimu banyak hal? Atau jangan-jangan kau yang selalu kabur saat dia mengajarimu?" Tanya Guru Shin penuh penekanan. Menyudutkan Jongin yang kini malah mengerutkan keningnya dalam – tidak mengerti sama sekali.

"Bukankah Sehun sudah berhenti menjadi tutorku?"

Ucap Jongin spontan. Yang malah mendapat bentakan keras dari Guru Shin dan berakhir dengan Jongin yang keluar dari kelas karena diusir oleh guru galak itu.

Tapi bukannya menjalankan perintah –Guru Shin memerintahkan Jongin untuk pergi ke perpustakaan dan menjalani remedialnya dengan mencari rumus sebanyak-banyaknya di perpustakaan – ia malah pergi ke kelas Sehun. Hanya beberapa kelas dari kelasnya sendiri.

Rencananya sih ingin menanyakan tentang les privat itu dan menyindirnya. Tapi semuanya menjadi gagal saat ia tidak melihat ada Sehun di dalam sana. Tasnya pun tidak ada.

Dan untuk kembali ke asrama rasanya tidak mungkin, karena asramanya lumayan jauh dari gedung sekolah. Ia saja ingat bagaimana sulitnya saat ia membawa Sehun yang pingsan saat itu dengan bridal style, padahal jarak sekolah dengan asrama cukup jauh.

Namun, ya bagaimana lagi. Ia tidak mungkin membawa Sehun ke ruang kesehatan karena saat itu ruang kesehatan terkunci entah kenapa. Lagipula saat itu ada Sehun bersamanya, jadi ia tidak akan merasa menyesal.

Jadi Jongin memutuskan untuk bertemu dengan Sehun saat pulang dari sekolah nanti.

.

.

"Hyung!"

Laki-laki yang masih mengenakan seragam itu segera berlari saat melihat orang yang paling ditungguinya akhirnya pulang ke rumah setelah sekian lamanya ia menunggu. Laki-laki itu langsung saja memeluk dengan erat pria lain yang sekarang bersandar di dadanya itu.

"Sehun-ah, lepaskan. Aku tidak bisa bernafas."

Mendengar itu, Sehun pun dengan cepat melepaskan pelukannya yang terlalu erat dan meminta maaf berulang kali, membuat pria yang dipeluknya itu terkekeh pelan melihat tingkahnya.

"Luhan hyung. Kau akhirnya pulang, aku sangat merindukanmu." Ucap Sehun dengan nada yang merengek.

Uh, lupakan saja Oh Sehun yang kita kenal selama ini sangat sangat tidak ekspresif dan kurang bersemangat itu. Karena kalau sudah berurusan dengan kakak tercintanya, ia tidak akan pernah memiliki rasa malu lagi.

"Maaf. Tapi sekarang aku sudah ada disini kan, bunny. Woah, kau tumbuh cepat sekali ya, Sehun." Luhan terkekeh lagi melihat Sehun yang sudah berubah banyak. Bahkan tekstur wajahnya pun berubah. Sepertinya ia sadar kalau Sehun sangat jarang mengeluarkan ekspresi.

"Ada apa pulang kemari, hyung?"

"Hanya sebuah urusan penting." Luhan tersenyum manis pada Sehun.

'Ya, urusan yang sangat penting dan harus aku selesaikan sebelum aku terlambat.' Tambahnya dalam hati.

"Kau membolos huh?" Sehun mengangguk pelan mendengar pertanyaan Luhan, "Baiklah. Aku tidak akan menyia-nyiakan kebersamaan kita lagi. Mau bercerita banyak hal padaku?"

Sehun hanya bisa pasrah saat Luhan menarik paksa tangan Sehun dan mengajaknya untuk menuju kamar Sehun, lalu memaksanya lagi untuk bercerita mengenai masa-masa sekolahnya. Dan uh, tidak lupa dengan asrama barunya. Yang pasti Sehun hanya menanggapi dengan malas semua pertanyaan itu.

"Dan, apakah kau sudah punya kekasih? Atau seseorang yang kau sukai, atau menyukaimu?" Tanya Luhan menggebu.

Entah kenapa pertanyaan Luhan yang seperti itu malah membuat Sehun teringat dengan Kim Jongin. Dan itu membuatnya diam. Memikirkannya dalam hati, kenapa ia harus memikirkan lelaki tan itu.

Kim Jongin itu bukan siapa-siapanya. Seharusnya ia bahkan tidak perlu ada urusan dengan lelaki itu. Seharusnya pula ia sadar kalau Jongin hanya menjadikannya mainan, yang mungkin sebentar lagi akan dibuangnya.

Ia ingat sudah tiga hari ini ia tidak melihat Jongin di depan kamarnya lagi untuk menunggunya. Seharusnya itu membuatnya lega. Tapi kenapa rasanya ada yang kurang saat Jongin malah menjauhinya dan menganggap serius ucapan Sehun waktu itu.

Sehun belum mengatakan apapun pada Guru Shin. Atau... ia harus mengatakannya esok hari?

"Bunny? Oh Sehun? Sehunna? Kau melamun?"

Sehun segera tersadar saat Luhan mengguncang bahunya pelan agar sadar dengan segala pemikirannya tentang Jongin. Dan sialnya, mood Sehun menjadi buruk setelahnya. Ia malah mengantuk dan memilih untuk tidur. Membiarkan Luhan berkecamuk dengan pemikiran-pemikirannya sendiri.

.

.

Menghela nafas lagi. Entah sudah ke berapa kalinya Jongin menghela nafasnya hari ini. Dan semua helaan nafas itu munculnya dari orang yang sama, yaitu Oh Sehun –yang sangat sialan menurut Jongin.

Jongin sudah mendatangi kamar asrama Sehun dan ternyata tidak ada siapapun di dalam sana.

Kemana sebenarnya Sehun pergi? Kenapa dia tidak ada di sekolah ataupun di kamarnya? Apa Sehun sudah pindah sekolah? Dan ini semua karenanya?

Jongin menggeram agak keras, berusaha menghilangkan asumsi buruknya tentang tidak adanya Sehun hari ini. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Seperti ada sesuatu yang hilang. Ada perasaan aneh yang menelusup beberapa hari ini tanpa melihat Sehun dari dekat.

Bahkan biasanya ia bisa mengecupi Sehun tanpa ada penolakan.

Jongin terkekeh mengingatnya. Bagaimana Sehun yang selalu saja pasrah saat ia berhasil menyentuhnya. Oh, ia bahkan sampai lupa kalau ia belum tidur dengan gadis lain sama sekali sejak hari dimana Sehun pingsan. Kecuali berciuman. Itu tidak termasuk.

Hari terakhir ia berciuman dengan gadis lain pun sudah lumayan lama. Yaitu sejak pagi saat ia mengecup bibir Sehun dan mengucapkan terimakasih. Uh. Sepertinya Kim Jongin sudah mulai berubah, hm..

Jongin sepertinya memang akan gila – atau memang sudah benar-benar gila. Yang ia pikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya mendekati Oh Sehun yang sangat susah bahkan untuk diajak bicara. Sedangkan ia sendiri sudah memberi kesan buruk sejak awal pertemuan mereka.

Apa Jongin harus bersikap manis? Eww, itu bukan gayanya sama sekali.

Jongin menghela nafas lagi –uh yeah, ia sudah bosan melakukan hal itu. Biarlah ia menjadi dirinya sendiri saja. Menjadi romantis sangat-sangatlah bukan gayanya. Dan sepertinya, itu juga berlaku untuk Sehun yang sangat terlihat kalau dia juga seorang yang hopeless romantic.

Jongin juga tidak bisa menghubungi Sehun. Bodohnya ia yang tidak pernah meminta nomor ponselnya. Sial.

.

.

Sudah hampir seminggu, dan Jongin belum juga bertemu Sehun. Anehnya, guru di sekolahnya pun tidak ada yang membahas mengenai Sehun. Termasuk teman Sehun yang bernama Baekhyun itu.

Ia sudah menanyakan keberadaan Sehun pada Baekhyun. Tapi yang ia dapatkan malah makian dan tatapan tajam dari makhluk pendek itu.

Begini katanya...

"Mau apa kau mencari Sehun? Jangan berani-berani ya mendekatinya, dasar brengsek. Kau pasti hanya ingin mendapatkan tubuh Sehun saja. Kalau kau masih mendekati Sehun lagi, lihat saja. Aku akan menggigitmu!"

Cih. Aneh sekali kan teman Sehun yang itu. Berusaha terlihat garang, padahal ia tidak mungkin takut dengan ancaman kecil seperti itu.

Tapi ada satu hal yang Jongin pikirkan dari kata-kata Baekhyun selanjutnya. Yaitu, "Asal kau tahu saja, bodoh. Sehun itu tidak menyukai tipe-tipe pemberontak sepertimu, bertingkah sok dan seorang player, dia itu tidak pernah menyukai anak-anak pembuat masalah sepertimu. Jadi jangan banyak berharap."

Jongin menghela nafas lelah.

Apa Sehun memang benar-benar sudah pindah dari asrama ini? Atau malah jangan-jangan Sehun pindah ke sekolah lain, dan itu karenanya? Karena ia yang mengganggu Sehun setiap hari?

Yang benar saja...

"Kau kenapa? Semakin terlihat seperti orang yang tidak waras."

Jongin menoleh, mendapatkan Jongdae yang duduk di sebelahnya dengan wajah yang lemas.

"Kris juga sama denganmu. Aku heran dengan kalian, beberapa hari ini kalian seperti orang gila yang kurang makan."

Yeah, Jongin tahu penyebabnya. Itu pasti karena masa lalu Kris yang kembali lagi ke Korea dan pasti mereka sudah bertemu. Tapi ia juga yakin Kris belum mengatakan apa-apa pada mantan kekasihnya itu. Kalau sudah, Kris tidak akan terlihat kacau seperti dirinya.

"Masih belum ada kabar tentang mainanmu itu? Kau sudah memastikan perasaanmu?"

"Jangan sebut dia mainan. Dia bukan mainanku lagi." Bukannya menjawab, Jongin malah menatap tajam Jongdae. Sedangkan yang ditatap tajam hanya memperlihatkan wajah biasa sajanya.

"Jadi kau sudah memastikannya ya? Benar-benar jatuh cinta rupanya.."

Jongdae mengalihkan pandangannya ke depan, tidak berani menatap mata Jongin yang semakin menajam.

"Memang kenapa kalau aku jatuh cinta?" Benar kan, kata-kata yang keluar dari mulut Jongin sudah terlanjur sinis, dan Jongdae menyesal tidak mengingat tempramen Jongin yang sulit dikendalikan.

"Tidak ada. Hanya.. semoga kau tidak mempermainkannya saja."

Mata Jongin mengecil. Ia sudah bisa mengendalikan perasaannya sekarang. Ia menatap gedung asrama di seberang sana dengan sendu, "Mendapatkannya begitu sulit. Mana bisa aku mempermainkannya. Sebelum itu terjadi saja, aku yang harus rela kalah. Bukan dia yang terperangkap."

Jongdae memandang Jongin lama, merasa Jongin sedikit memiliki perubahan karena Sehun. Jongdae tersenyum. Baguslah, Jongin sudah mulai bisa berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

Walaupun Jongdae dan Jongin sering sekali bertengkar. Sebenarnya mereka sudah saling menyayangi seperti saudara betulan. Begitu juga Kris yang sudah mereka anggap sebagai kakak tertua.

Mereka tidak pernah bisa bermusuhan lebih dari dua hari. Tidak bisa.

.

.

"Terimakasih ya hyung sudah mengantarkan aku sampai ke asrama. Aku tidak percaya akan kembali kesini."

Sehun bergumam di kalimat terakhirnya. Tapi sayangnya, Luhan mendengarnya. Membuatnya mengernyit bingung kenapa Sehun terdengar seperti tidak ingin kembali ke asrama sekolahnya.

"Kau tidak ingin tinggal di asrama? Kau bisa tinggal dengan hyung, Hun." Ucap Luhan perhatian.

Sehun menggeleng pelan, "Tidak apa, hyung. Hyung lebih baik pulang sekarang..."

Luhan mengangguki ucapan Sehun, ia juga terlalu lelah setelah perjalanan panjang mereka, "Baiklah. Kau juga sebaiknya setelah ini langsung istirahat."

Sehun mengangguk sekali lagi, lalu mulai melihati Luhan yang sedang menyalakan mesin mobilnya dan dengan perlahan menghilang di tikungan di depan Sehun.

Sehun berjalan dengan tas yang berada di punggungnya, badannya terasa lelah sekali. Dan ia butuh istirahat. Ia juga perlu melupakan semua pemikiran-pemikiran yang berkecamuk dari lima hari yang lalu saat ia pertama bertemu dengan Luhan lagi.

Pemikiran-pemikiran mengenai satu orang. Siapa lagi kalau bukan Kim Jongin.

Yang ia sendiri tidak mengerti kenapa ia harus memikirkan pemuda itu.

Baru saja Sehun akan memasukan kunci kedalam lubang kunci pintunya. Tapi saat tangannya tidak sengaja memutar knop, pintunya terbuka.

Dengan heran, Sehun masuk kedalam kamarnya. Tidak ada siapapun disana, tapi kenapa pintunya tidak terkunci. Seingatnya sebelum ia pergi, ia sudah mengunci pintunya. Apa pintunya rusak?

Sehun akan memikirkan itu besok. Ia yakin tidak akan ada yang akan berbuat jahat disini. Mungkin ia bisa menghubungi tukang kunci keesokan harinya.

Dengan cepat, Sehun melepaskan tas punggungnya dan langsung merebahkan dirinya di kasurnya. Kasur ini berbeda dengan yang ada di rumah orangtuanya. Tapi kenapa ada yang aneh...

Sehun menghirup dalam bau yang menguar dari bantalnya –tidak, tepatnya dari tempat tidurnya. Kenapa bisa ada bau Jongin disini? Apa lagi-lagi ini hanya fantasinya saja?

Sehun memejamkan mata, berusaha tertidur dengan banyak bau badan Jongin yang masuk ke dalam indera penciumnya. Ia merasa nyaman. Aroma ini menenangkan sekali. Dan semakin membuatnya teringat dengan si brengsek itu.

Bayangan-bayangan di kepala Sehun seketika memudar saat merasakan ranjangnya bergerak. Bukan, maksudnya, kasurnya saja. Sehun berubah khawatir, takut ada seseorang yang masuk ke kamarnya dan mencelakainya –lupakan tentang tidak akan ada yang akan berbuat jahat.

Sehun dengan cepat membuka matanya. Tapi yang di dapatinya adalah wajah Jongin yang berada diatasnya, dan hanya berjarak beberapa senti saja dengan wajahnya. Badannya diperangkap oleh Jongin dibawah lelaki itu. Mengurungnya dengan kedua lengannya berada di sisi kanan dan kiri kepala Sehun.

Ia bisa merasakan mata cokelat Jongin yang sedang memandangnya dalam. Seakan-akan mengatakan sesuatu yang hanya bisa dilihat dari tatapan mata. Sehun membalas tatapan itu, membuatnya ingin terjatuh ke manik hazel itu.

Apa ini lagi-lagi hanya ilusi karena ia kelelahan? Kalaupun iya, Sehun harap ia bisa segera tidur dan tidak berpikiran macam-macam lagi.

Tapi ia menyadari satu hal. Dengan jarak sedekat ini, kalau ini memang hanya bayangan, kenapa Sehun bisa mencium kalau bau dari tempat tidurnya semakin menguat saja. Seolah-olah memang Jongin ada disini.

"Oh Sehun."

Dan suara berat dan dalam itu menyadarkan Sehun kalau ini sama sekali bukan bayangannya saja. Ini nyata. Semakin nyata saat Sehun merasa Jongin yang memeluk tubuhnya dan menempelkan tubuh mereka sampai tidak ada jarak lagi.

Jongin menenggelamkan kepalanya ke leher Sehun, membuatnya bisa merasakan hangat nafas Jongin menerpa kulit leher Sehun yang sensitif.

Sehun memejamkan mata erat-erat, meresapi kehangatan dan kenyamanan yang saat ini tengah ia rasakan. Jongin benar ada disini.

"Kau benar Oh Sehun." Jongin mulai meracau di lehernya, "Aku kira kau benar-benar pergi dari sini karena aku. Aku kira kau benar-benar tidak menyukaiku dan pergi. Sekarang lebih baik, karena kau ada disini. Kau membenciku juga tidak masalah." Ucapnya panjang lebar.

Sehun hampir tertidur, tapi ia masih bisa mendengar ucapan-ucapan aneh Jongin. Dan jika saja ia tidak merasakan kalau lama-kelamaan badan Jongin terasa berat. Jadi ia menyuruh Jongin turun dari badannya.

Tapi bukannya menurut, laki-laki itu malah memberikan beberapa kecupan-kecupan kecil di lehernya. Ia bisa merasa lehernya terkena sesuatu yang basah dan lembab, yang ternyata adalah bibir Jongin.

Lalu Sehun juga bisa merasakan Jongin yang menghirup dalam leher Sehun, sebelum akhirnya memilih untuk berbaring disebelahnya.

Ia yang sudah cukup mengantuk memilih untuk tidak terlalu peduli –walau kenyataannya ia lebih dari peduli.

Sehun memiringkan badannya, membuka kedua matanya yang langsung berhadapan lagi dengan manik mahoni itu. Jongin juga sedang menatapnya intens. Dengan senyum tipis yang hanya akan terlihat dari jarak Sehun ini saja.

Yang Sehun bingungkan adalah, kenapa Jongin menjadi sediam ini dan tidak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak. Itu tidak berarti ia senang diperlakukan seperti sebelumnya oleh Jongin. Ia hanya terlalu bingung, juga, penasaran.

Dan yang terjadi selanjutnya juga diluar kendalinya. Ia tidak tahu kenapa ia malah mendekatkan dirinya ke Jongin dan memeluk Jongin seperti memeluk boneka lalu menenggelamkan kepalanya ke dada Jongin, dan mulai beralih ke alam mimpi.

.

.

Jongin memandangi Sehun yang terlihat begitu damai. Ia sudah benar-benar merindukan wajah ini. Dan mendapati Sehun yang memeluknya seperti tadi membuatnya terkejut juga senang. Tentu saja ia senang, dan membalasnya dengan senang hati pula.

Jongin menyingkirkan anak rambut yang jatuh ke wajah Sehun. Menundukkan wajahnya, lalu mencium kening Sehun, turun ke kedua kelopak mata Sehun yang tertutup, semakin turun ke hidung mancungnya, ke kedua pipinya yang masih terlihat menggemaskan, dan yang terakhir mengecup bibir Sehun, sedikit melumatnya pelan.

"Hanya biarkan seperti ini malam ini saja." Gumamnya lirih. Lalu menyusul Sehun untuk tenggelam dalam mimpi.

Tidak menyadari kalau sebenarnya Sehun juga terbangun sejak Jongin mengecup kedua matanya. Tanpa sadar, Sehun mengeratkan pelukannya pada Jongin dan kembali menidurkan dirinya, dengan pelukan nyaman Jongin.

.

.

Jongin terbangun di tengah malam, karena Sehun yang bergerak-gerak tak tenang. Ia baru tahu kalau Sehun tidur seperti ini. Ugh.

Ia menunggu beberapa saat sampai Sehun tenang, lalu mencoba untuk tidur. Tapi, sayang sekali, begitu ia akan memejamkan mata, Sehun bergerak lagi dengan tiba-tiba. Memeluknya dengan lebih erat –oh, bukan hanya itu...

Sehun juga menggesekkan pahanya dengan milik Jongin. Gyaah. Jongin mengerang dalam hati. Kenapa Sehun bisa kacau seperti ini kalau tidur malam.

Jongin, kau harus bisa menahan dirimu. Tahan. Oh, tidak. Jangan lihat wajah itu. Jangan lihat bibirnya!

Jongin menggigit bibirnya, merasakan ereksinya sudah semakin parah.

Mungkin sedikit menyentuh tidak apa kan...? Tanyanya bimbang dalam hati.

Jongin dengan perlahan menggerakkan tangannya mendekat ke Sehun. Mengelus dada yang bergerak naik turun teratur itu dengan pelan. Membuka beberapa kancing atas kemeja yang Sehun pakai –oh, ia baru ingat kalau Sehun masih memakai kemeja.

Dan akhirnya Jongin mendapatkannya. Ia mengelus dada Sehun yang sekarang bisa ia rasakan karena tidak ada penghalang lagi. Dengan lembut mengusap nipple Sehun, lalu mencubitnya pelan. Membuat Sehun mendesah pelan dalam tidurnya.

"Ngh, Jong."

Jongin diam. Tangannya tidak lagi bergerak mengusap. Malah, ia kini melepaskan tangannya dari sana dan kembali mengancingkan lagi kemeja Sehun dengan cepat, takut Sehun akan terbangun.

'Shit. Sehun, kau mendesahkan namaku dalam tidurmu.' Dan cukup, Jongin tidak bisa menahan diri lagi.

Ia dengan perlahan dan tanpa suara bangun dari tempat tidurnya dan mengendap-endap masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan keran untuk meredam suara –ia yakin Sehun tidak akan bangun karena ini. Dan berusaha untuk menidurkan si kecil di bawah sana.

Sial. Ia harus melakukan itu dengan tangannya sendiri lagi? Demi apapun ia baru melakukan solo dua kali, termasuk yang satu ini. Dan keduanya karena Oh Sehun.

.

.


TBC


A/N : Bersambung. Yeah! :D

Maaf kalo bersambungnya pas gak tepat gitu. Maaf juga kalo masih belum keliatan momentnya, karena emang belum mau bikin mereka lovey dovey :D

Ini aja si Jongin lagi beruntung aja, pas si Sehun lagi capek-capeknya pulang dari liburan. Terus kebetulan juga si Sehun 'agak' kangen Jongin. Ahaha.

Terus entah kenapa saya pikir si Jongin malah kaya OOC gitu. Out banget dari karakter awalnya dia yang bad, bastard, dumbass lol :D

Aslinya sih masih, tapi masa sampe akhir dia gituin Sehun mulu. Kan kasian Sehunnya kalo Cuma mau dijadiin pelampiasan napsu doang /meh/. Usahanya si Jongin juga yang harus bisa menahan napsu biar bisa deket sama Sehun.

Tapi saya usahain karakternya gak bener-bener ilang kok. Apalagi Sehun yang nanti bakal tetep saya buat tsundere :D ngomong nggak, padahal dalam hati dia suka /laah? -_-

Ntar adegan gitugitunya pas mereka udah resmi aja ya. Aneh rasanya kalo dibuat pas mereka masih kaya gini. Grepe grepe dulu aja wkwk. Kasian tuh si Jongin, main sendirian. Kalian bantuin gih /LOL/ xD

Oke abaikan yang itu...

Makasih buat yang udah mau capek-capek review chapter kemarin yang sebenernya aneh gitu. Pointless banget lah ya. Tapi tetep, makasih udah review :))

Yang jawab Luhan. Bener. Yang jawab Luhan sama Kris, juga bener. Saya gak mau nutupin dan sok misterius, soalnya ya emang udah ketebak xD gak ada karakter lain sih yang cocok buat ini.. jadi maaf kalau gak suka sama couplenya ^^

NB : Buat yang besok ujian kaya saya, semangat! :^)


Thanks To :

auliavp ; Nagisa Kitagawa ; GaemGyu92 ; ooh ; umaelf936 ; yeon1411 ; OhstupidSehun ; YunYuliHun ; Sekar Amalia ; Kim Sohyun ; kjinftosh ; Octa918 ; sayakanoicinoe ; exobabyyhun ; KimKaihun8894 ; Lucky8894 ; JongOdult ; Kim Kai ; ; Oh Yuugi ; utsukushii02 ; ; Guest ; kenlee1412 ; ohhanniehunnie ; Jongin's Grape ; ; xohunte ; Kimoh1412 ; exolweareone9400 ; kaihunn ; Zelobysehuna ; vitangeflower ; yunacho90 ; Seyeollie ; amiikim28 ^^