Passionate Pleasure

Chapter 9

.

.

Sehun menggeliat pelan, merasakan badannya sudah terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia mengerjapkan matanya, memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan sayunya. Tapi, lama kelamaan Sehun merasa ada yang aneh.

Memang ada yang aneh.

Ia merasakan ada sesuatu yang berat diatas perutnya. Bukan hanya itu. Ia juga merasakan ada nafas yang berhembus pelan di lehernya. Terasa hangat.

Dengan perlahan, Sehun menelengkan kepalanya ke kanan. Matanya sedikit membesar saat mendapati Jongin ada disana dengan mata yang masih terpejam pulas. Beberapa detik kemudian, mimik wajahnya mulai menenang.

Sehun berusaha mengingat kejadian semalam. Ia lelah sehabis pulang liburan dengan Luhan hyung. Lalu tiba-tiba saja ada Jongin di kamarnya. Dan itu bukan mimpi.

Lalu––

Sehun menoleh kesamping saat mendengar suara dengungan dari Jongin, "Kau sudah bangun?" Tanya Jongin saat sudah membuka matanya.

Sehun mengerjap lagi. Kali ini terasa aneh. Mereka terlalu dekat. Bahkan terlalu intim. Rasanya Sehun ingin menjauhkan kepalanya jauh-jauh dan menendang Jongin untuk keluar dari kamarnya.

Dan Sehun melihatnya lagi. Seringai di bibir tebal itu. Seringaian yang menandakan suatu bahaya bagi Sehun.

Benar saja. Sehun ingin menonjok Jongin tepat di wajah saat itu. Karena dengan seenaknya tangannya itu mengelus bagian perut datar Sehun. Entah sejak kapan tangan Jongin menyelinap masuk ke dalam bajunya.

"Selamat pagi."

Sehun yang kesadarannya sudah kembali segera menepis tangan Jongin dari sana sebelum tangan itu merambat ke bagian yang lain. Ia juga tidak membalas sapaan Jongin barusan dan malah ingin beranjak dari tempat tidur.

Sebelum tangan Jongin menarik lagi pergelangan tangannya, hingga ia kembali terjatuh ke atas tempat tidur. Bedanya, ia hanya jatuh terduduk. Dan yang membuatnya ingin lebih memukul Jongin saat itu juga adalah Jongin yang saat ini sedang melumat bibirnya.

Hanya sebentar.

Setelahnya, Jongin melepaskan tautan bibir mereka, juga tangan Sehun. Anehnya, Sehun malah tidak beranjak dari sana sedikitpun. Sehun merasakan suatu perasaan aneh saat Jongin melepaskan bibirnya dari atas bibir Sehun. Seperti ada yang hilang.

Sehun mendesah pelan. Sangat pelan. Jongin tidak akan mendengar desahan penuh kekecewaan itu. Karena Jongin sudah kembali memeluk guling dan melanjutkan tidurnya diatas kasur Sehun.

Sehun berdiri dan mengambil handuk dari gantungannya. Ingin sekali mandi dan menyegarkan tubuhnya. Ia butuh air dingin.

.

.

Jongin bersyukur hari ini libur. Jadi ia tidak perlu berangkat ke sekolah. Ia hanya perlu tidur dan tidur sepanjang hari. Tapi itu rencananya sebelumnya. Ia merubah rencananya.

Rencananya saat ini adalah bermesraan dengan Oh Sehun.

Sehun sendiri baru keluar dari kamar mandi beberapa saat lalu. Saat ini Sehun sedang menonton film di sebelah tempat tidur.

Jongin tiba-tiba saja berdiri dan memeluk Sehun dari samping. Membuat Sehun memberontak kecil.

"Lepaskan Kim Jongin.." Desis Sehun.

Bukannya melepaskan, Jongin malah semakin mengeratkan pelukannya. Tidak peduli kalau ia sama sekali belum mandi dan masih bau keringat karena bekasnya semalam ––saat ia melakukan solo.

"Kau menggodaku huh?" Tanya Jongin seduktif di telinga kiri Sehun. Sehun sendiri meremang mendengar suara berat Jongin berbisik di telinganya.

Jongin tersenyum miring ketika mengetahui kalau tubuh Sehun sedikit menegang dalam pelukannya.

Jongin benar-benar jadi tidak kuat melihat Sehun yang seperti ini. Tidak disangka ia akan benar-benar menyukai Sehun dan membuatnya berubah haluan, dari straight menjadi uhm, gay.

Jongin merutuki Sehun yang terus-terusan menggodanya tanpa sadar. Anak itu tidak ingin disentuh, tapi dia sendiri yang memancing Jongin.

Lihat saja baju yang dikenakan Sehun sekarang. Sweater berwarna putih panjang ––bahkan melewati jari-jarinya, hanya ujungnya saja yang terlihat. Dan juga celana pendek santai selutut.

"Kau sengaja memakai baju yang kebesaran, huh?" Ucap Jongin lagi pelan, kali ini kepalanya ia letakkan di bahu Sehun. Mengirup bau badan Sehun yang sehabis mandi, "Sabunmu wangi. Atau, memang badanmu wangi?"

Sehun menggeram pelan. Jongin terkekeh mendengarnya. Itu pertama kali Jongin mendengar Sehun menggeram seperti itu. Biasanya anak itu hanya akan diam dan menampangkan wajah dinginnya saja. Dan Jongin yakini, kalau sudah seperti ini, pasti Sehun sudah sangat jengkel.

Jongin mengangkat tubuh Sehun dengan tiba-tiba, membuat Sehun berjengit dan sedikit meronta, "Kau melakukan apa, Kim Jongin?" Desis Sehun lagi.

Sekarang Sehun sudah berhadap-hadapan dengan Jongin sepenuhnya. Dan jarak antara mereka juga sangat dekat. Sehun diam. Menunggu apa yang akan dilakukan Jongin selanjutnya. Dan melihat seringai Jongin, Sehun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tangan Jongin melingkari tubuh Sehun, menautkan jari-jarinya di belakang pinggang Sehun.

Jongin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sehun. Melihat Sehun tidak terlalu berontak membuatnya sedikit senang, apalagi wajah Sehun yang sedikit memperlihatkan semburat merah. Tapi tetap saja, Sehun itu flat. Wajahnya bisa begitu tidak ada ekspresi.

Giliran Jongin yang menggeram. Kenapa sepertinya akan jadi sangat sulit sekali mendapatkan Sehun. Sehun bahkan tidak mengizinkannya untuk mengenal Sehun lebih dekat lagi. Yang Jongin ketahui tentang Sehun? Sepertinya minim sekali. Atau bahkan, tidak ada.

Jongin meraup bibir Sehun sambil menutup matanya. Meresapi bagaimana lembutnya bibir Sehun yang sudah menjadi candu untuknya itu, bahkan sejak pertama Jongin ingin mempermainkan Sehun.

Jongin hanya melumatnya pelan. Tidak terburu-buru juga tidak lama. Hanya sebentar. Dan sentuhan terakhir bibirnya diatas bibir Sehun adalah dengan menarik belahan bibir bawah Sehun dengan belahan bibirnya sendiri, lalu menjilatnya pelan.

Jongin membuka matanya, dan terkejut mendapati Sehun yang ternyata sedang memandanginya. Apa Sehun tidak menutup matanya?

"Mau pergi keluar hari ini?"

Dan dengan tiba-tiba pula, kata-kata itu keluar dari mulut Jongin.

.

.

Ini adalah hari libur yang jarang sekali. Karena sekolah mereka hanya memperbolehkan murid-muridnya untuk keluar di hari Sabtu dan Minggu. Tapi hari ini berbeda, ini hari Jumat. Free Day istilahnya. Biasanya tiap tiga bulan sekali memang akan ada hari lain selain Sabtu dan Minggu, dimana mereka boleh pergi sesuka mereka.

Menjadi hari yang paling menyenangkan bagi yang bisa keluar.

Dan hari ini, adalah kali pertama Sehun pergi dari asrama untuk bermain bersama murid sekolahnya sendiri––sebenarnya hanya satu orang.

Dan itu cukup membuat Baekhyun dan Chanyeol yang baru melewati gerbang asrama menjadi heran. Sehun memakai pakaian yang cukup rapi dan keren, membuat mereka berasumsi kalau Sehun akan pergi. Ditambah lagi, Sehun tidak hanya sendiri, tapi bersama dengan seseorang––Jongin.

"Jangan menatapku seperti itu."

Sehun mulai sedikit risih diperhatikan dengan intens oleh Baekhyun. Sehun memang sudah ingin membuka dirinya untuk Baekhyun. Sedikit membuat Chanyeol terperangah, karena melihat Sehun berbicara sesantai itu.

"Kau akan pergi kemana dengannya?" Tanya Baekhyun sinis sambil mengedikkan dagunya pada Jongin.

Sedangkan Jongin, hanya berdiri dengan angkuh. Tidak terlalu memperdulikan ucapan Baekhyun barusan.

Banyak gadis-gadis yang mulai memperhatikan Jongin. Karena banyak dari mereka yang tahu kalau Jongin adalah player, sebagian dari mereka––yang kemungkinan adalah whore mulai menggoda Jongin dari jauh.

Anehnya, Jongin tak mau peduli dan hanya menatap mereka datar. Tapi, itu malah diartikan salah oleh Baekhyun yang melihat.

"Lihat saja, dia seperti whore attention." Jongin mulai tidak terima dengan perkataan Baekhyun, kenapa teman Sehun ini begitu peduli dengan hubungannya dengan Sehun? Dan apa itu tadi, whore attention? Dia tidak seperti itu, bitch.

Sehun sedikit melirik Jongin yang sudah mulai emosi dengan wajah datarnya. Sehun berusaha untuk tersenyum tipis pada Baekhyun.

"Dia memang seperti itu kan. Aku baik-baik saja. Kau lebih baik pergi sebelum err, temanmu itu bosan."

Reflek Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Seperti seorang idiot, "Aku tidak bosan!" Bantahnya cepat.

Sehun bisa melihat Baekhyun yang menghela nafasnya, lalu Baekhyun mulai berpamitan pada Sehun sambil mengatakan kata 'Baiklah'. Sebelumnya, Baekhyun bahkan sempat menatap tajam Jongin. Mungkin Baekhyun takut Sehun akan diapa-apakan, karena Baekhyun sudah memergoki Jongin beberapa kali.

Setelah duo idiot itu pergi. Jongin mendekatkan dirinya pada Sehun dan berkata, "Apa maksudnya 'dia memang seperti itu kan.'? Kau mau mengatakan apa dengan kalimat itu, hum?"

Sehun tidak menjawab, dan hanya menatap Jongin datar, "Kau mau mengajakku kemana?"

Dan Jongin menghela nafasnya kasar saat itu juga.

.

.

Jongin menggeram sambil mengacak rambutnya frustasi. Kenapa rencananya malah berjalan tidak lancar begini. Berniat mengajak Sehun pergi ke taman bermain, tapi pemuda pucat itu tidak mau menaiki wahana apapun. Apa Jongin salah membawa Sehun?

"Kau tidak suka berada disini? Kalau kau tidak suka, kita bisa pergi." Ucap Jongin final.

Sehun menolehkan kepalanya pada Jongin, memandang lelaki tan itu sambil menggigit bibirnya, seperti ingin berbicara sesuatu yapi takut untuk mengatakannya.

Dan Jongin menikmati ekspresi itu. Salah satu ekspresi yang tidak pernah Jongin lihat juga. Ah, Jongin harus sering-sering memancing Sehun untuk mengeluarkan mimik wajah.

Sehun sendiri masih menggesek-gesekkan kepalan tangannya dengan gugup. Bingung, apa ia harus mengatakannya atau menahannya saja. Sehun tidak mau harga dirinya jatuh di depan Jongin dan karakternya akan keluar.

"Kau kenapa?"

Sehun mengalihkan pandangannya agar tidak lagi menatap Jongin. Ia tidak ingin Jongin tahu kalau dirinya sedang menginginkan sesuatu.

Tapi, mata Sehun menangkap sesuatu––tepatnya seseorang yang baru saja lewat di daerah depan sana. Dan ia jelas tau siapa orang itu. Tapi, dia tidak sendirian. Dan Sehun tidak bisa tak terkejut begitu mendapati orang yang sedang bersama kakaknya adalah orang yang ia kenal.

Sehun bergegas mengikuti mereka. Membuat Jongin disebelahnya semakin bingung dan mengikuti Sehun dari belakang. Niatnya untuk bertanya terhenti setelah melihat siapa yang diikuti oleh Sehun.

Jongin membelalakkan matanya. Itu... Kris hyung. Dan, dia juga bersama dengan... apa itu mantan pacar Kris yang sering diceritakan olehnya?

Tapi kenapa Sehun mengikuti mereka. Dan tatapan itu, kenapa wajah Sehun terlihat seperti khawatir, terkejut, bingung, ah entah, Jongin juga sulit mendeskripsikan bagaimana Sehun saat itu.

Jongin sudah berpikiran macam-macam, mengenai Sehun yang menyukai Kris atau apalah itu.

Dan sebelum ia bisa mencegahnya juga, Sehun sudah berlari ke arah Kris dan orang itu. Jongin meneriakkan namanya, membuat kedua orang di depan mereka ikut menoleh. Dan ekspresi terkejut juga tak luput dari wajah Kris dan lelaki di sebelahnya itu.

"Hyung..."

Jongin tidak tahu Sehun memanggil siapa sampai akhirnya salah satu dari mereka maju dan menggenggam erat tangan Sehun.

"Bunny..."

Dan orang itu adalah lelaki yang bersama Kris tadi. Entah kenapa Jongin merasa dada sebelah kirinya sedikit berdenyut ngilu saat Sehun memeluk laki-laki itu dengan erat juga.

.

.

Jongin sedang duduk bersama dengan Kris saat ini. Mereka menunggu dua orang lainnya lagi yang sedang membeli sekotak es krim di seberang sana. Jongin sedikit lega ketika mengetahui fakta yang sebenarnya.

"Aku baru tahu kalau Sehun adalah adik Luhan. Pantas saja aku tertarik saat melihatnya pertama kali."

Dahi Jongin berkerut, "Jangan tertarik padanya lagi, hyung."

Kris terkekeh pelan mendengar Jongin. Sepertinya Jongin serius dengan Sehun, dan sudah tidak memperdulikan orientasi seksualnya lagi. Kris cukup senang mendengarnya. Setidaknya Jongin tidak akan memainkan banyak perasaan orang lagi. Atau setidaknya Jongin tidak akan bermain-main lagi.

"Tenang saja. Ada Luhan disana. Aku tidak mungkin menyukai adik dari kekasihku senidiri kan?"

Jongin dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Kris, "Kekasih? Kalian kembali bersatu? Sejak kapan?"

Kadang, Kris juga tidak menyukai sifat Jongin yang selalu saja penasaran dengan apapun dengan cerita Kris. Dan mulai menanyakan banyak pertanyaan. Membuat Kris tidak percaya kalau itu adalah Jongin yang terkenal dingin––walaupun tidak sedingin Sehun.

Kris mulai bercerita tentang bagaimana ia yang bertemu dengan Luhan beberapa hari lalu––ingat, Kris adalah pengurus asrama, dia bisa keluar semaunya tetapi tidak berlebihan. Saat itu ia menggunakan waktunya itu untuk bertemu dengan Luhan.

Dan Luhan mengatakan semuanya. Tentang dia yang waktu itu tidak bisa berpamitan karena ibunya yang memilih untuk pindah keluar negeri setelah bercerai dengan ayahnya––dan ayah Sehun. Lalu saat Luhan mengatakan kalau ia masih mencintai Kris.

Begitulah pertemuan singkat mereka yang akhirnya waktu membiarkan mereka kembali bersama lagi.

"Dan aku harap, kau tidak akan mempermainkan calon adik iparku, Jong. Kau harus mulai belajar tentang ketulusan. Dan berhentilah bermain-main."

Jongin sangat menyukai Kris. Kris adalah salah satu senior, sekaligus sahabatnya yang bisa Jongin percaya. Kris bisa mendengar berbagai ceritanya, dan tidak akan memarahi Jongin kalau ia salah. Cara Kris memarahinya adalah dengan berkata santai seperti tadi.

Tapi walaupun begitu, ucapan Kris memang tidak bisa dibiarkan.

"Tenang saja, hyung. Aku akan berusaha untuk mendapatkan hati Sehun."

Kris tersenyum mendengarnya. Dan bersamaan dengan itu, Luhan dan Sehun kembali dengan dua kotak es krim di tangan mereka. Wajah mereka terlihat senang. Dan Jongin sedikit geli dengan ekspresi yang diberikan Sehun.

"Jadi sedari tadi kau menginginkan itu, huh?" Ucap Jongin. Semburat mereah terlihat di pipi Sehun samar, dan Sehun kembali mendatarkan wajahnya lalu duduk di sebelah Jongin––karena Luhan duduk di sebelah Kris, dan meja mereka berhadap-hadapan.

Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun, dengan seringai nakalnya ia berkata, "Boleh aku meminta es krimmu?"

Sehun hanya meliriknya sebentar sebelum akhirnya kembali menyendoki es krimnya satu sendok penuh dan memasukkannya ke dalam mulut. Tapi sebelum Sehun menelan es krim itu. Kepalanya sudah ditarik Jongin dan mata Sehun membulat disaat Jongin menciumnya.

Jongin menggerakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Sehun. Mengambil es krim yang belum mencair dari mulut Sehun lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Sebelumnya, ia sempat melilitkan lidahnya di lidah Sehun.

"Terimakasih. Itu sangat manis."

Jongin menjilat bibirnya sendiri setelah mengatakan hal itu. Dan tanpa ia sadari, dua orang di seberang mereka sudah terlihat akan mengebiri Jongin dan memotong mayatnya hidup-hidup. Kris memandang Jongin ngeri.

"Jangan berbuat mesum pada adikku!" Teriak Luhan keras sambil memukul kepala Jongin dengan sendok.

Jongin meringis. Kris menahan tawanya. Dan Sehun, tanpa bisa ia tahan lagi, memperlihatkan senyum tipisnya, lalu kembali memakan es krim vanilla nya dengan cepat.

.

.

Jongin menggandeng tangan Sehun ketika mereka berjalan pulang menuju asrama. Yang berkulit lebih putih terlihat tidak suka, tapi Jongin tetap saja memegang tangan Sehun dengan erat. Tidak membiarkan tangan itu lepas.

Kris tidak pulang bersama mereka. Karena dia masih mengantar Luhan pulang kerumahnya. Kris membawa mobil by the way.

Mungkin hari ini memang tidak terlalu baik untuknya dengan Sehun. Tapi setidaknya Jongin merasa perkembangannya sudah lumayan.

Jongin jadi tahu kalau Sehun ternyata memiliki kakak laki-laki yang juga manis. Jongin jadi tahu kalau ayah dan ibunya pernah bercerai lalu menikah lagi dengan pasangan baru masing-masing. Jongin juga tahu kalau Sehun itu suka dengan es krim.

Terkekeh pelan, Jongin kembali mengingat bagaimana Sehun yang seperti ingin mengatakan sesuatu tapi di tahannya. Dan ternyata itu adalah es krim.

Jongin juga jadi lebih banyak tahu hal-hal yang tidak ia ketahui sebelumnya tentang Sehun dari Luhan. Sehun yang menyukai bubble tea, Sehun yang math addicted––terlihat kalau Sehun begiu menguasai matematika.

Jongin masih menggandeng tangan Sehun sampai ke depan kamar mereka berdua. Jongin tidak rela untuk berpisah sebenarnya. Ingin menginap lagi, sepertinya Sehun tidak akan suka. Jadi daripada dirinya membuat Sehun marah, lebih baik ia tidur di kamarnya sendiri saja.

"Terimakasih sudah mau berjalan-jalan denganku."

Ucapnya sambil tersenyum di hadapan Sehun.

Lalu tanpa aba-aba, Jongin tiba-tiba menangkup kedua pipi Sehun dan mendekatkan wajahnya. Sehun mengira kalau Jongin akan menciumnya lagi. Kalau sampai itu terjadi, Sehun benar-benar akan menganggap Jongin raja mesum.

Kiss

Tapi ternyata tidak. Jongin memang mencium Sehun. Tapi bukan di bibir. Jongin mengecupnya di kening. Dan Sehun merasa dadanya berdesir pelan, juga perutnya yang melilit aneh. Sehun tidak tahu kenapa bisa merasakan hal itu.

Yang Sehun tahu, ia hanya merasa nyaman dan... tenang.

"Kau lebih banyak diam semenjak pulang kemarin malam." Jongin memberi sedikit jeda pada ucapannya, tangannya masih bertengger di pipi Sehun. Lalu Jongin melanjutkan, "Aku harap ini bukan karena hal yang waktu itu."

Sehun masih diam. Matanya menatap Jongin yang juga tengah menatapnya dalam, seakan-akan menyelami matanya. Dan Sehun tidak kuat dibuatnya. Sehun tidak ingin terjatuh semakin dalam ke mata Jongin. Sehun tidak mau tersakiti seperti sebelum-sebelumnya.

Tapi mata itu berkata tulus. Ada sesuatu yang terlihat sungguh-sungguh disana.

"Ternyata begitu sulit ya.." Jongin bergumam pelan, masih sambil menatap Sehun dalam. Sebelum akhirnya menempelkan lagi bibirnya di bibir Sehun sekilas. Dan pergi berlari ke dalam kamarnya sendiri. Meninggalkan Sehun yang malah mematung.

Memang mesum. Pikir Sehun.

.

.


To Be Continued


A/N : Hello :3 Maaf super telat updatenya TTvTT

Entah kapan gitu, sebenernya saya udah mau update, tapi ternyata modem saya abis TvT gak jadi deh –waktu itu tengah malem, dan saya udah ngebut. Bisa dibayangin gimana keselnya pas tau ternyata modem abis hiks

Tapi ini udah diisi lagi, dan saya bisa update. :**

Semoga masih ada yang inget. Saya emang cliffhanger banget. Suka menggantung sana sini -_- jadi sabar ya nunggu cerita saya :"") /ciumsatu-satu/

Mau basa basi dulu deh. Ada yang sering buka wattpad gak disini? Siapa penulis favorit kalian di wattpad? Penulis BL a.k.a bxb a.k.a yaoi tapi ya haha

Kalo saya ngefans banget sama bang Rendi Febrian /jangan-baca-ceritanya-nanti-kalian-gak-kuat/ sama kak kincirmainan :D ada juga heterochromer /yang-ini-baca-aja-dijamin-bikin-perut-menggelinjang/ ada lagi Fandrias94, aaahh.. author favorit saya semua :') yang ceritanya juga gak lanjut lanjut /plakk/ :'D

Oh ya, maaf belum bisa bales review satu-satu lagi. Tapi saya seneng baca review kalian xD lucu lucu gitu :D makasih ya reviewnya /cium-muah-muah/

Maaf juga kalo makin pendek. Saya ngebut nulis ini TTvTT

Sekarang, saya minta reviewnya, boleh? :D

See you next week. Bhay~~