Passionate Pleasure

Chapter 10

.

.

Jongin tidak ada rencana hari ini. Kemarin ia memang bisa pergi jalan-jalan, dan itu menyenangkan–karena ada Sehun tentunya. Tapi hari ini? Jongin malah ingin merutuki hari libur. Jongin sudah mencoba untuk tidur seharian, tapi ujung-ujungnya hanya tidur sampai siang. Dan Jongin bosan.

Bosan.

Sangat bosan.

Jongin berniat mengambil ponselnya, dan bersamaan dengan itu juga, benda itu berdering menandakan ada yang melakukan panggilan padanya.

Jongin melirik nama yang tertera di layar depan. Mendengus kasar, Jongin menimang, haruskah ia mengangkat teleponnya atau tidak. Jujur saja, ia sedang malas berurusan dengan ayahnya. Tapi dengan sedikit pertimbangan, akhirnya Jongin menekan tombol berwarna hijau itu.

"Hallo?"

"Kau dimana?"

"Dimana lagi kalau bukan asrama?" Jawab Jongin malas.

"Pulang ke rumah sekarang. Ada yang ingin Ayah sampaikan." Tegas dan menuntut. Itulah yang bisa Jongin dapat dari nada ucapan Ayahnya.

Jongin sebenarnya ingin menolak. Tapi ia tahu Ayahnya akan melakukan sesuatu padanya kalau ia menolak. Jadi dengan terpaksa Jongin mengiyakan, lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.

Jongin memang tidak ada rencana hari ini. Dan pulang ke rumah juga tidak ada dalam rencananya. Ia memang tidak terlalu senang pulang ke rumah, kalau rumah saja tidak terasa seperti rumah disana.

Jongin cepat-cepat berdiri, mengambil handuk, dan masuk ke dalam kamar mandi sebelum Ayahnya itu kembali meneleponnya––atau bahkan menyeretnya dari sini.

.

Selesai mandi, Jongin langsung mengambil jaketnya dan memakai sepatu conversenya. Jongin tidak perlu membawa barang-barang yang banyak, karena di rumah pun sebenarnya masih banyak barang-barang yang ia tinggalkan. Meski faktanya, ia jarang pulang ke rumah.

Jongin membuka pintu lalu berjalan keluar. Saat ia berniat mengunci pintu kamarnya, tiba-tiba saja pintu di sebelahnya terbuka. Menampilkan Sehun yang juga sepertinya akan pergi ke suatu tempat.

Entah kenapa, Sehun masih diam saja di depan pintu kamarnya. Begitu juga dengan Jongin yang malah menggigiti bibirnya. Jongin ingat, seharian ini ia belum bertemu dengan Sehun. Dan rasanya ada yang menggigit kecil hatinya saat melihat Sehun untuk yang pertama kali hari ini.

Ah. Jongin memang sudah dibuat gila.

"Hai." Sapa Jongin masih menatap Sehun. Sedang Sehun sendiri masih tetap mematung di tempatnya. Bahkan Sehun tidak membalas ucapan Jongin, membuat Jongin mendesah lelah.

"Baiklah. Kau akan keluar?" Tanya Jongin lagi.

Kali ini Sehun tidak hanya diam, Sehun membalas pertanyaan Jongin dengan gumaman. Jongin jadi gemas dibuatnya. Kenapa masih ada orang yang bersikap begitu dingin di depan umum, tapi bisa bersikap manja di dalamnya––Jongin ingat bagaimana kedekatan Sehun dan Luhan.

Apa itu artinya Sehun memang tidak ingin membuka dirinya untuk Jongin?

Tsk. Sehun memang sangat sulit di dapatkan. Juga sangat sulit di ajak bicara. Tapi bukan Jongin namanya kalau ia sudah menyerah begitu saja. Rasanya memang sedikit menyakitkan kalau Sehun mengacuhkannya dan tidak menganggapnya. Tapi, itu juga salah satu tantangan untuk Jongin untuk mendapatkan Sehun.

Dan Jongin tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik tangan Sehun dan mengatakan padanya kalau ia ingin Sehun bersamanya. Jongin ingin mengajak Sehun pergi dan menggandeng tangannya.

Tapi Jongin tidak juga mengatakan apa-apa. Bahkan saat mereka berdua sudah sampai di depan pintu gerbang asrama. Dan ternyata arah mereka berbeda, Jongin ke arah barat sedangkan Sehun ke arah sebaliknya.

Dan begitu mereka sudah berjalan di arah masing-masing. Jongin tiba-tiba saja berbalik dan menarik tangan Sehun untuk berjalan ke arah yang Jongin tuju juga.

Sehun jelas memberontak kuat-kuat, tapi Jongin tidak menggubris. Jongin sudah rindu Sehun. Dan Jongin akan membawa Sehun ke rumahnya juga, tidak perduli apa yang Ayahnya akan katakan nanti. Dimarahi pun sudah biasa.

"Lepaskan! Kau mau membawaku kemana, Jongin!" Sehun tidak berhenti mronta. Sampai akhirnya Jongin menemukan sebuah taksi dan menghentikan taksi itu lalu masuk ke dalam dengan Sehun di sebelahnya.

"Apa-apaan kau!" Marah Sehun saat pergelangannya berhasil dilepaskan.

Jongin hanya tersenyum aneh menanggapi Sehun, "Ikut saja."

"Bukan hanya kau yang memiliki urusan, kau tahu. Aku juga punya." Ucap Sehun lagi dengan nada yang terdengar kesal.

Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun, lalu meniup-niup wajah Sehun menggoda, "Aku baru kali ini mendengarmu berkata panjang lebar begitu." Lalu menyeringai, "Aku suka."

Sehun hanya diam setelahnya. Dan selama perjalanan itu juga, mereka tidak berbicara apapun. Dengan Jongin yang tersenyum-senyum, dan Sehun yang hanya memandang ke luar jendela.

.

.

Sehun tidak tahu akan dibawa kemana, rencananya pergi ke supermarket gagal karena Jongin. Dan Sehun tidak bisa melakukan apa-apa selain mengumpati Jongin dalam hati.

Dan ketika Sehun merasakan tangannya digenggam erat oleh Jongin, Sehun tahu kalau mereka sudah sampai di tempat yang dituju oleh Jongin.

Tidak familiar. Itulah yang Sehun pikirkan pertama kali saat melihat sebuah rumah besar di depannya. Hampir mirip dengan rumahnya sendiri. Dan Sehun tidak mengerti kenapa Jongin membawanya ke rumah–yang entah rumah siapa ini.

Masih belum jelas. Dan Sehun tidak mau bertanya lebih lanjut pada Jongin.

Jongin masih menarik tangan Sehun sampai mereka sampai di ruang tengah, yang Sehun asumsikan juga sebagai ruang keluarga. Karena dilihat dari tempatnya berdiri sekarang ini, terlihat sofa yang lumayan panjang dan nyaman, juga ada sebuah televisi LED berlayar lebar di depannya.

Ruangan ini juga cukup luas kalau hanya untuk sebuah ruang tamu. Dan letaknya sudah agak lebih masuk ke dalam. Jadi Sehun yakin ini adalah ruang keluarga.

Sehun melirik Jongin yang terlihat seperti mencari-cari seseorang, tetapi mimik wajah yang ditunjukkan Jongin seperti sedang kesal atau–khawatir? Itu yang dipikirkan Sehun sejenak.

"Kau sudah datang?"

Dan Sehun dikagetkan dengan sebuah suara berat yang khas dari belakang mereka. Jongin menoleh ke belakang, membuat Sehun mau tak mau ikut menoleh. Dan Sehun sedikit terkejut begitu tahu siapa yang membuat suara berat khas tadi.

Begitu pula mimik wajah orang itu, yang sempat berubah saat melihat Sehun.

"Ah, siapa disini. Oh Sehun, benar kan?"

Sehun bergeming. Tetap diam. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tidak terlalu kenal dengan pria paruh baya di depannya, tapi ia sangat yakin kalau pria ini adalah rekan kerja ayahnya. Sehun sering melihatnya datang ke rumah dan berbicara dengan ayahnya di ruang kerja.

"Ayah mengenalnya?" Dan mendapati Jongin memanggilnya dengan sebutan Ayah juga membuatnya kaget. Sehun tidak sampai berpikiran kalau pria itu adalah Ayah Jongin, walaupun dengan jelas Sehun bisa saja curiga kalau ini rumah Jongin, dan tentu sang pemilik adalah orangtua Jongin.

Tapi hal itu tidak sempat terpikir oleh Sehun.

Ayah Jongin yang semula masih berdiri di depan mereka––sepertinya Ayah Jongin baru saja keluar dari pintu di belakang mereka tadi, yang Sehun bahkan tidak sadar kalau ada pintu lain disana––mulai duduk di salah satu sofa disana.

Jongin menarik Sehun untuk duduk di sebelahnya ketika Ayahnya juga memerintahkan untuk duduk. Sepertinya Tuan Kim juga agak curiga dengan Jongin dan Sehun, karena Jongin masih saja memegang erat tangan Sehun.

Sehun sudah mencoba untuk melepaskan diri, tapi Jongin tetap saja tidak ingin melepaskan. Sehun merasa ada yang aneh dengan Jongin. Jongin terlihat lebih khawatir, wajahnya juga sedikit mengeras.

"Jadi ada apa Ayah menyuruhku pulang?"

Ayah Jongin terlihat menimang, dan diam untuk sejenak. Sebelum kemudian memjawab dengan suara yang tegas dan tidak bisa dibantah.

"Ayah berpikir, kalau setelah lulus nanti, Ayah ingin kau pindah ke luar negeri."

Sehun bisa merasakan tangannya yang di genggam semakin erat oleh Jongin. Sehun tidak menyangka ia akan mendengar hal ini secara langsung juga. Sehun juga merasa kalau Jongin sedang menahan emosinya yang bisa saja meledak saat itu.

Dan entah karena reflek atau tidak, Sehun balas mengeratkan genggamannya. Walaupun sejujurnya Sehun sama sekali tidak tertarik dengan keadaan yang sekarang sedang ada di depannya ini. Harusnya Sehun tidak ikut Jongin tadi.

"Apa maksud Ayah?"

Dan tanpa menunggu banyak waktu, Tuan Kim menjawab, "Jika kau masih membuat banyak keonaran dan nilaimu yang menurun, mungkin memang lebih baik kau sekolah di luar negeri."

Sekali lagi. Sehun benar-benar tidak nyaman dengan keadaan ini. Kenapa juga ia harus berada disini, di antara dua orang pria, yang satu berstatus sebagai ayah, dan yang satu adalah anaknya. Sehun tidak mengerti.

Tapi Sehun juga tidak bisa menyangkal, kalau bukan hanya Jongin saja yang terganggu dengan penuturan Ayahnya itu. Jujur. Sehun merasa sedikit... tidak rela. Tidak terima. Lidahnya terasa gatal ingin mengucapkan sesuatu. Tapi tidak bisa. Karena Sehun tahu, ia tidak berhak.

Jongin tidak jua membuka suaranya lagi. Sampai akhirnya, Tuan Kim tiba-tiba saja sudah berjalan ke pintu tempatnya keluar tadi dan hampir saja menghilang di dalam sana. Jongin masih bergeming.

Dengan berani, Sehun menoleh ke arah Jongin. Dan tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat ternyata Jongin sedang menatapnya sendu. Sehun tahu ada sesuatu dibalik tatapan itu. Tapi Sehun hanya bisa balas menatap Jongin, tanpa ada maksud apa-apa.

Dan secara tiba-tiba, kepala Jongin sudah berada di ceruk leher Sehun sekarang. Memeluk Sehun. Tidak terlalu erat, namun hangat. Sehun tidak berbohong tentang hal itu.

Mereka hanya seperti itu dalam beberapa menit. Setelah Jongin melepaskan pelukannya, dia langsung menarik Sehun berdiri dan membawanya ke kamar Jongin.

"Baiklah. Anggap kau tidak mendengar apapun tadi. Lupakan saja."

Sehun hanya memperhatikan Jongin yang sekarang sedang mengobrak-abrik lemari pakaiannya––mencari pakaian yang cocok untuk Sehun. Karena beberapa detik yang lalu, Jongin menyarankan sebaiknya mereka mandi. Hari mulai menjelang malam dan mereka memang belum membersihkan diri.

Jongin menyerahkan satu pasang kaus dan juga celana pendek pada Sehun. Membuat Sehun menerimanya tanpa memperhatikan terlebih dahulu. Sehun masih belum tahu ingin bicara apa. Jadi ia hanya mengucapkan terimakasih dengan nada yang pelan.

Namun tentu Jongin bisa mendengarnya, "Aku akan mandi di kamar mandi luar. Kau mandi di dalam saja. Kau pasti tahu bagaimana cara menyalakan air hangat kan? Baiklah, aku akan keluar."

Sehun hanya bisa diam, membiarkan Jongin terus bicara tanpa harus tahu apa jawaban Sehun dari pertanyaannya mengenai air hangat. Sehun juga hanya diam saat Jongin berjalan keluar dari kamarnya tanpa menoleh lagi.

Ah, perasaannya lagi-lagi terasa aneh. Kali ini terasa lebih menyiksa.

.

.

Jongin keluar dari kamar mandi. Mandi air dingin ternyata tidak buruk. Air dingin itu bisa membuat kepalanya juga menjadi dingin dan lebih tenang dibanding sebelumnya.

Jongin membuka pintu kamarnya pelan. Ingin tahu, apa Sehun sudah memakai bajunya atau belum. Jongin memberi Sehun bajunya yang agak kecil di badannya, mengingat tubuh Sehun yang kurus dan tubuhnya yang sedikit lebih besar.

Tapi yang Jongin temui disana hanyalah kamarnya yang masih kosong. Itu tandanya Sehun masih ada di dalam kamar mandi. Jongin tersenyum miring menyadari Sehun yang mandi sangat lama.

Sambil menunggu Sehun, Jongin berbaring di atas tempat tidurnya. Jongin membayangkan malam ini ia akan tidur bersama lagi dengan Sehun.

Kalau dipikir-pikir, mereka terlalu sering tidur bersama. Berpelukan. Berciuman. Tapi, tidak ada sesuatu yang jelas diantara mereka.

Memang, hubungan yang jelas itu sama sekali bukan gaya Jongin. Tetapi dengan Sehun, entah kenapa Jongin ingin lebih serius. Dan memang benar juga, kalau ia sebelumnya bukanlah seorang err.. gay. Tapi ia hanya menyukai Sehun, tidak dengan pria lain––ingat, ia bahkan menggigil membayangkan Jongdae telanjang, itu menjijikkan.

Terhanyur dalam pikirannya sendiri. Jongin sampai tidak menyadari kalau Sehun sudah keluar dari kamar mandi. Jongin segera menoleh begitu ia menyadarinya, lalu senyuman miring khasnya itu kembali muncul.

"Sudah selesai mandi, princess?"

Damn. Jongin tidak tahu bagaimana cara Sehun mengontrol wajahnya supaya bisa tetap datar dan tidak merespon ucapan Jongin sama sekali. Sehun juga sulit sekali dibuat merona. Sepertinya, Sehun bukan orang yang suka digombali. Tsk.

Jongin memperhatikan Sehun dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Ada perasaan aneh yang menghinggap di dadanya saat melihat Sehun yang seperti itu.

Melihat Sehun memakai baju miliknya bukan salah satu bayangannya atau keinginannya. Tapi saat melihatnya langsung seperti ini, membuat sesuatu di dalam rongga dadanya berdesir. Rasanya ingin terus saja melihat Sehun memakai baju-baju miliknya yang lain.

Berbagi kaus yang pernah ia pakai. Dan celana pendek itu bahkan terlihat pas di kaki kecil Sehun.

Jongin tersenyum samar, sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah Sehun yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya. Rambut itu masih basah, karena masih ada air yang terlihat turun dari sana.

Jongin menggerakkan tangannya, memberi kode pada Sehun agar menghampirinya. Jongin lagi-lagi tersenyu mendapati Sehun yang menurut saja pada Jongin. Apa Jongin pernah bilang kalau ia suka dengan Sehun yang penurut seperti ini? Karena Sehun sangat jarang menurut.

Jongin mendudukkan Sehun di antara kakinya yang ia lebarkan. Jongin mengambil handuk yang masih tersampir manis di leher Sehun, lalu meletakkannya di kepala Sehun. Mengusaknya pelan dengan handuk itu.

Aroma sampo dari rambut Sehun menguar tiap Jongin mengusaknya. Dan tidak tahu sejak kapan, Jongin bisa begitu menyukai aroma dari sampo miliknya sendiri. Aneh rasanya kalau ia bisa tergoda dengan bau miliknya sendiri. Shit.

Dan tanpa Jongin bisa kendalikan juga, kepalanya sudah mendekat dan menghirup dalam-dalam rambut Sehun. Lalu perlahan, kepalanya turun hingga ke leher Sehun. Mengecup pelan leher itu. Dalam hati, Jongin terus membisik pada dirinya sendiri agar bisa mengontrol nafsunya.

Tapi setelah beberapa saat, Jongin tidak tahu siapa yang memulai terlebih dulu. Siapa yang pertama memutar tubuh Sehun hingga berhadap-hadapan dengan Jongin. Dan siapa yang pertama kali saling mendekatkan wajah hingga saat ini mereka sudah saling mengecup bibir satu sama lain.

Jongin merasa seperti terserang suatu penyakit yang aneh. Berlebihan mungkin. Tapi memang begitu rasanya. Disaat ia sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa perutnya bisa terasa seperti disini penuh oleh serangga-serangga kecil menggelikan. Tapi ia bisa menyukai rasa geli itu.

Jongin juga tidak bisa menjabarkan dengan kata-kata yang cukup bagaimana Sehun mau membalas ciumannya kali ini. Biasanya, hanya Jongin yang bergerak. Tapi sekarang, Sehun bahkan ikut melumat bibir atasnya dan bergantian dengan bibir bawahnya.

Jongin merapatkan tubuh mereka hingga kini Sehun sudah duduk di atas paha Jongin dan tangannya melingkar di leher Jongin. Posisi Sehun yang berada sedikit di atas Jongin membuat Jongin lebih mudah untuk melancarkan aksinya.

Jongin tidak bisa berhenti untuk merasakan bibir tipis merah Sehun. Ia menggigit pelan bibir bawah Sehun, membuat Sehun mengerang pelan. Jongin sudah lama tidak mndengar suara desahan dan erangan Sehun.

Sial. Sial. Jongin terus merutuk dalam hati. Bagaimana Sehun bisa semenggoda ini malam ini?

"Eungh.."

Suara itu terdengar lagi. Membuat Jongin melahap bibir Sehun lebih kasar. Sesuatu di balik celana trainingnya pun mulai naik ke atas. Jongin menggeram pelan dalam ciuman mereka. Sialan. Hanya begini saja, junior kecilnya sudah bisa dibuat terbangun.

Jongin mengelus punggung belakang Sehun, naik turun. Begitu terus sampai akhirnya berhenti di pinggang Sehun, Jongin meremasnya pelan. Sehun berjengit sedikit karena remasan itu. Lenguhan pelan juga terdengar di indera Jongin.

Merasa kekurangan oksigen. Jongin melepaskan bibirnya dari bibir Sehun. Dengan perlahan, mulai membuka mata yang sebelumnya tertutup rapat. Tangannya naik ke atas, ke bagian belakang kepala Sehun. Lalu menariknya mendekat, menempelkan dahi mereka berdua.

Bibir Sehun terlihat bengkak dan berwarna merah. Yang Jongin yakini, bibirnya juga sama bengkaknya dengan milik Sehun.

"Aku tidak akan berbuat lebih dari ini. Aku tidak akan memaksamu."

Suara berat Jongin terdengar seperti bisikan pelan di telinga Sehun.

Tangan Sehun sendiri masih berada di leher Jongin, bahkan semakin mengerat. Dan meskipun wajahnya masih terlihat datar, namun kesan dingin dari laki-laki itu sudah menghilang. Digantikan dengan sesuatu yang Jongin sendiri sulit menjelaskan, namun ia tahu tatapan Sehun padanya... berbeda.

"Jangan pergi."

Dan ucapan yang keluar dari bibir itu membuat Jongin tidak bisa mengalihkan tatapannya lagi, dan terkunci dalam mata cokelat milik Sehun. Jongin juga bisa merasakan tangan Sehun yang mengerat di belakang lehernya.

"Tidak akan."

Dan tanpa bisa dicegah lagi. Jongin kembali meraup bibir ranum itu lagi, mengecupnya berkali-kali sebelum akhirnya menyelipkan lagi bibirnya diantara bibir kecil Sehun.

Sambil terus berciuman. Jongin membalik tubuh mereka, dan membaringkan Sehun di atas tempat tidur, dengan ia diatasnya. Masih berciuman lembut. Jongin melupakan sejenak sesuatu yang sudah bangun di antara selangkangannya. Jongin tentu tidak mau merusak momen mereka malam ini.

Tentu saja. Ini kejadian langka. Jongin juga tidak bisa menahan senyuman di bibirnya. Yang kali ini memang senyuman yang tulus. Bukan seringai atau senyuman yang biasa ia tunjukkan.

Dan Jongin meralat ucapannya mengenai hari ini yang membosankan.


To Be Continued


A/N : Hello everybadeh~ Sorry for late update TvT

Saya mulai sibuk sama les sekolah, susah ngambil waktu buat ngetik :D

Tapi nih, saya kasih chapter 10. Maaf kalau kurang sreg, maaf juga kalau karakternya makin kacau. Duh. Susah banget bikin karakter tsundere ternyata ya TvT

Saya gak tau mau nulis gimana lagi :D Errmm.. Pokoknya, jangan lupa review :D

Thankyou ^^

Maaf lagi, belum bisa balas review satu-satu. Nanti kalau ada waktu, saya balas lewat PM ^^

Bhay~