Passionate Pleasure

Chapter 11

.

.

Sehun terbangun di tengah malam. Biasanya dia memang seperti ini, hanya untuk mengambil minum, lalu kembali melanjutkan tidurnya. Tapi kali ini Sehun tidak menemukan apapun di nakas di dekatnya, jadi Sehun harus turun dari tempat tidur Jongin lalu pergi ke dapur.

Sekilas, Sehun melirik Jongin yang masih tidur dengan pulasnya. Wajahnya hampir saja merona saat mengingat kejadian semalam. Itu sangatlah memalukan baginya. Ditambah lagi, Sehun mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan.

Sehun menghembuskan nafas pelan. Biarlah ia menghadapi Jongin besok saja. Semakin ia memikirkannya semakin ia merasa malu.

Sehun mengambil gelas yang tergantung di lemari penyimpanan, lalu mulai mengisi penuh gelasnya dengan air putih. Sehun meminumnya sedikit demi sedikit. Tapi, belum habis air di dalam gelasnya, Sehun dikagetkan dengan kedatangan seseorang.

Langsung saja ia menurunkan gelasnya dan memegangnya di tangan saja. Sedikit menunduk pada sang pemilik rumah, yang sepertinya juga terbangun––atau malah belum tidur sama sekali.

Sehun hanya berdiri diam di tempatnya saat ayah Jongin mulai menuang air ke dalam gelas. Dan setelahnya, kata-kata itu muncul dari bibir tuan Kim. Membuat Sehun hanya semakin terdiam di tempat.

Sehun menatap tuan Kim dengan tatapan yang sulit diartikan, "Apa maksudnya?"

Sehun sempat melihat tuan Kim tersenyum kecil, "Aku tahu Jongin menyukaimu." Jeda sebentar, dan Sehun hanya bisa memalingkan wajahnya ke sisi lain, "Mungkin, kau juga menyukai anakku."

"Anda tenang saja. Aku tidak menyukai Jongin." Potong Sehun cepat. Ia tidak mau terjadi hal yang tidak mengenakkan disini.

Sehun baru akan berjalan kembali ke kamar setelah sebelumnya menunduk lagi pada tuan Kim untuk pamit. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, tuan Kim kembali mengucapkan kalimat yang membuat Sehun terkejut.

"Aku tidak akan melarang hubungan kalian. Aku menyayangi Jongin. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Aku harap kau bisa membantunya, Oh Sehun."

Sehun enggan untuk kembali berbalik. Sehun terlalu bingung harus bagaimana. Dan setelah ia merasa kalau tuan Kim sudah berlalu lebih dulu darinya, ia mengehmbuskan nafas pelan. Tidak mengerti dengan ucapan tuan Kim. Apa yang bisa Sehun bantu?

.

.

Sehun masuk ke dalam kamar Jongin. Ia kembali merebahkan dirinya di samping Jongin, memperhatikan bagaimana Jongin saat tidur. Sehun tidak mengerti, kenapa ada sesuatu yang menyergap perasaannya.

Kalau biasanya saja Sehun sering terbangun dengan Jongin berada satu tempat tidur dengannya. Bagaimana nanti kalau Jongin sudah tidak ada disini lagi?

Dan pengakuannya semalam sebelum mereka tidur itu, sesuatu yang memalukan bagi Sehun. Tapi ia tidak merasa menyesal. Tidak tahu kenapa ia malah sedikit lega saat tidak sengaja mengatakannya.

Tsk. Lihat saja wajah itu, bagaimana Jongin bisa tidur senyenyak itu saat dirinya sedang ada masalah. Sehun jadi mengingat bagaimana awal pertemuan mereka satu bulan lalu. Seandainya Sehun tidak pindah ke asrama, mungkin ia tidak akan bertemu Jongin dan Jongin tidak akan masuk ke dalam kehidupannya.

Sehun menggerakkan tubuhnya untuk mendekat pada Jongin. Lebih mendekati Jongin lagi, dan akhirnya melelapkan diri disana. Jarak mereka bahkan sangat dekat. Sampai nafas teratur Jongin saja bisa Sehun rasakan.

.

.

Hari pun berganti. Matahari sudah tinggi, sepertinya mereka terlalu lama tertidur. Terutama Jongin, kenapa anak itu masih saja tidur padahal sudah siang begini? Mereka juga harus ingat kalau besok mereka sekolah. Dan Sehun sedang tidak ingin mendapat hukuman apapun.

Sehun duduk dari tidurnya, menyibak selimut yang entah kapan ia gunakan, lalu berdiri dan melangkah ke arah balkon kamar Jongin. Sehun butuh udara segar.

Dan ternyata pemandangan dari sini lumayan juga, masih banyak pepohonan yang bisa Sehun lihat. Sehun juga bisa melihat langsung langit dari sini. Sedangkan di bawahnya, ada kolam renang yang cukup luas, dengan taman buatan kecil di sebelahnya.

Tiba-tiba, Sehun merasakan ada sepasang tangan besar yang mencoba menyelinap ke pinggangnya. Menariknya pelan, hingga Sehun merasa bagian belakang tubuhnya bertabrakan dengan tubuh lain, yang tentu saja adalah Jongin.

"Menikmati pemandangan huh?" Bisiknya di telinga Sehun. Sehun hanya diam tidak menanggapi. Membiarkan Jongin merengut kesal di belakangnya.

"Kau bau." Ucap Sehun tiba-tiba.

Sehun berbalik, melepaskan pelukan Jongin dan menghadap ke arah Jongin dengan wajah yang tanpa ekspresi, tapi tidak sedingin biasanya. Sehun tidak ada niatan untuk merubah sikapnya pada Jongin, itu bukan gayanya sekali.

Sehun bisa melihat Jongin yang mulai mengendus baunya sendiri, lalu tanpa Sehun bayangkan, Jongin malah menyeringai setelahnya, "Ini bau yang sensual, kau tahu." Dan lagi-lagi Sehun tidak menanggapi. Masa bodohlah dengan ucapan Jongin. Terserah apa katanya saja. Kenapa Jongin begitu konyol sekarang?

Seringai itu bahkan tidak hilang juga. Dan Sehun tahu ada sesuatu yang mungkin akan salah. Ini adalah sinyal bahaya untuknya, "Mau mandi bersama?"

Boom. Benar kan. Itu tanda bahaya.

Dan sebelum Sehun bisa menghindar, Jongin sudah terlebih dahulu mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga ke kamar mandi. Sehun rasanya ingin mengutuk Jongin saat ini juga. Ia masih belum mau memperlihatkan tubuhnya!

Jadi Sehun dengan cepat berbalik sebelum Jongin mendorongnya lagi. Sehun menatap Jongin tajam, "Aku mandi setelahmu. Aku lebih memilih tidak mandi ketimbang harus berbagi kamar mandi denganmu."

Jongin menaikkan kedua alisnya, menatap Sehun dengan seringai andalannya. Tapi meski begitu, Jongin menurutinya juga. Tapi, sekali lagi, seringai Jongin adalah hal yang berbahaya menurut Sehun. Tapi seperti biasa pula, Sehun tidak bisa––atau tidak mau menghindar, dan membiarkan Jongin melakukan sesukanya.

Seperti beberapa detik kemudian, Jongin dengan sangat cepat meraup bibir Sehun dengan bibirnya. Memasukkan kedua belah bibir Sehun ke dalam bibirnya, melumat keduanya sekaligus. Setelahnya, Jongin kembali menyeringai dan berlalu ke dalam kamar mandi.

Selepasnya Jongin pergi, Sehun menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya lagi. Tanpa di duga, Sehun mengulum bibirnya sendiri setelahnya. Senyum kecil juga tidak luput dari wajah manisnya.

Sehun menunggu Jongin dengan sabar. Ia sudah menyampirkan handuk yang dipakainya semalam di pundak. Sambil menunggu, Sehun berjalan mengelilingi kamar Jongin yang lumayan rapi untuk ukuran berandal seperti Jongin.

Semuanya tersusun sangat rapi. Tidak ada barang yang salah tempat atau salah urutan. Preposisinya sangat tepat. Entah siapa yang membersihkan kamar Jongin saat anak itu tidak dirumah dan sedang di asrama. Sehun cukup nyaman berada disini.

Anehnya, Jongin jarang sekali terlihat pulang ke rumah ini. Anak itu lebih memilih untuk pergi ke club bersama teman-temannya. Sehun tahu, karena rata-rata semua orang di sekolah membicarakan Jongin. Tentu dari sisi positif––yang menurut Sehun sebenarnya adalah sisi negatif.

Mana ada orang yang mengelu-elukan kejelekan seseorang seperti teman-temannya yang memuji Jongin karena dia tampan dan suka bermain perempuan?

Ah.

Kenapa perasaan itu muncul? Aneh sekali. Biasanya Sehun tidak merasakan apa-apa saat mendengar Jongin yang senang bermain perempuan, bahkan ia sudah pernah melihat Jongin bercumbu dengan gadis lain sebelumnya.

Tapi kali ini entah apa yang salah. Dadanya menyeruak nyeri mengingat hal-hal itu. Sehun juga jadi teringat dengan kejadian saat ia memergoki Jongin dengan seorang gadis yang entah sedang melakukan apa di toilet saat itu––sebenarnya Sehun tahu jelas mereka sedang apa––yang berakhir dengan dirinya di kamar asrama Jongin.

"Hei? Melamun?"

Sehun mengerjap beberapa kali, lalu mendongak untuk mendapati Jongin yang sedang memandangnya geli. Kenapa wajah lelaki itu harus seperti itu sih? Membuat Sehun semakin bingung saja.

Sehun dengan cepat berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Jongin yang masih menatapnya aneh dan dilanjutkan dengan kekehan pelan yang keluar dari bibir Jongin.

Tch. Manis sekali.

Yang tidak Sehun sadari, bahwa wajahnya memerah samar saat ia menatap Jongin tadi. Tapi tentu saja Jongin menyadari rona tipis itu. Membuatnya tersenyum seperti orang sakit jiwa. Yeah, Jongin memang sudah gila, bukan seperti lagi.

.

.

Jongin dan Sehun berjalan beriringan siang itu. Mereka memutuskan untuk pulang lebih awal. Alasannya karena Sehun memiliki banyak tugas, dan anak itu harus membereskan kamar asramanya pula. Ah, tidak lupa hari ini ia harus menjadi tutor Jongin.

"Malam ini jangan lupa datang ke kamarku."

Jongin berhenti berjalan, membuat Sehun ikut berhenti disampingnya. Jongin mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

Oh, Sehun benci ini. Pasti laki-laki itu sudah berpikiran yang tidak-tidak.

Sementara Jongin menunjukkan wajah mesum nan main-mainnya, Sehun hanya seperti biasa menatapnya datar dan sedikit jengah, jadi ia melanjutkan, "Untuk les-mu."

Jongin semakin menaikkan alisnya, meski hasilnya akan tetap sama, karena itu sudah yang paling tinggi yang ia bisa. Seringainya malah semakin melebar, "Aku kira kau akan menyerahkan dirimu padaku." Ucapnya menggoda.

"Never, Kim."

Jongin mengedikkan bahunya sambil masih menyeringai, lalu kembali melanjutkan langkahnya, mengikuti Sehun yang sudah terlebih dahulu berjalan jauh di depannya. Jongin merasa aneh sekali dengan dirinya.

Membayangkan malam nanti ia akan berdua bersama Sehun––lagi. Oh, ayolah, mereka sudah sangat sangat sangat sering bersama-sama, tapi kenapa Jongin tidak bosan-bosan dengan Sehun? Kekuatan cinta memang berbeda. Uh. Menggelikan.

Ditambah, dengan Sehun yang mengajaknya terlebih dahulu. Biasanya kan hanya Jongin yang akan memutuskan, dan Sehun hanya akan diam dan masa bodoh.

"Apa balasannya untukku kalau aku pergi? Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Goda Jongin.

"Terserah kau. Kalau kau ingin menuruti ucapan Ayahmu sih, tidak pergi pun tidak masalah."

Shit. Kenapa Sehn santai sekali mengucapkan hal itu? Jongin sampai berhenti sejenak di belakang Sehun yang masih berjalan. Bahkan Jongin tidak sampai berpikir, kalau tadi itu juga termasuk kalimt Sehun yang agak panjang.

Jongin memandangi punggung Sehun dengan sendu. Sampai akhirnya Sehun memutar badannya dan Jongin segera mensejajarkan kembali kakinya dengan kaki Sehun.

Sehun cepat sekali berubah. Baru tadi malam dia mengatakan pada Jongin untuk tidak pergi, dan Jongin sudah berkata tidak akan. Walaupun ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya sih. Tapi tetap saja, harusnya Sehun tidak berubah menjadi dingin lagi padanya.

Jadilah sepanjang perjalanan, mereka hanya diam dan sesekali melempar pandangan. Berinteraksi hanya pada saat-saat tertentu, sampai akhirnya mereka sampai di depan kamar asrama mereka.

Sehun sendiri langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutupnya lagi. Sedangkan Jongin masih berdiri disana. Dan akhirnya, bukannya masuk ke dalam asramanya, Jongin lebih memilih untuk berkunjung ke asrama kedua temannya. Entah sejak kapan mereka di abaikan oleh Jongin. Huh.

Dan saat Jongin sampai di kamar Kris, ternyata ada Jongdae juga disana. Suatu kebetulan memang.

Jongin segera melempar tubuhnya ke sofa terdekat, membuat Jongdae menatap Jongin heran. Sedangkan Kris hanya mengira-ngira kenapa Jongin tumben bermain ke kamarnya. Apa kamar Sehun sudah menjadi tempat yang membosankan? Oh, Kris malah memikirkan hal yang negatif sekarang.

Kris sudah akan mengeluarkan suaranya saat Jongdae ternyata mengambil start darinya, "Ada apa denganmu? Sudah bosan bermain dengan Sehun? Tumben sekali datang kemari. Aku kira kau sudah lupa dengan kami." Sarkas. Itu yang bisa disimpulkan dari perkataan Jongdae.

Kris memicingkan matanya pada Jongin, ikut penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Jongin. Sedangkan Jongin juga terlihat melirik Jongdae sebal.

"Siapa yang mengatakan begitu?" Ucapnya kesal.

Jongdae mengangkat bahunya, "Perkataan yang mana? Yang kau bosan dengan Sehun, atau yang kau lupa dengan kami huh?"

Jongin memutar bola mata. Jengah dengan mulut pedas Jongdae. Demi apapun, ia sedang tidak mood sekarang untuk membalas semua ucapan sarkastik Jongdae. Pikirannya terlalu kacau untuk menanggapi dan memikirkan balasan sarkastik.

Jongin hanya mengumpat pelan karena pikiran berkecamuknya.

"Aku sedang tidak ingin berdebat, hyungdeul." Jongin berucap dengan pelan, memuat Jongdae bungkam. Mungkin lelaki berwajah kotak itu menyadari ekspresi Jongin yang terlihat banyak masalah.

"Hei, maaf. Aku hanya bercanda. Ada masalah apa?"

"Candaanmu tidak lucu sama sekali." Balas Jongin tajam. Jongdae mengunci mulutnya setelah itu.

Tapi setelah beberapa menit mereka diam, akhirnya Jongin mau menceritakan semua masalahnya. Mulai dari Ayahnya yang menyuruhnya pindah ke luar negeri kalau nilainya tidak memuaskan, sampai sikap Sehun yang sulit sekali ditebak.

"Aku bahkan tidak tahu, kenapa Sehun bisa berubah secepat itu. Apa dia ingin aku pergi?" Tanya Jongin dengan nada orang yang putus semangat. Hanya karena Oh Sehun ia bisa begini. Cih, lucu sekali.

"Melihatmu seperti ini benar-benar aneh, Jong. Tck, aneh sekali." Komentar Jongdae setelah Jongin selesai menceritakan semuanya. Memang benar. Biasanya Jongin yang akan membuat para gadis-gadis menjadi bingung dan galau.

Tapi coba saat ini? Jongin yang selalu menjadi tersangka, sekarang malah menjadi korban. Jongdae ingin tertawa tapi ia menahannya, karena suasananya tidak tepat sekarang.

"Jangan bercanda lagi." Sengit Jongin. Ia sendiri malu saat menceritakan ini semua, tapi memang mau kemana lagi ia bercerita? Cih.

"Kris, kenapa kau diam dari tadi? Cepat bicara." Jongdae menyenggol bahu Kris yang sedari tadi hanya diam tidak bicara sepatah kata apapun.

Kris terlihat berpikir, keningnya sampai berlipat saking kerasnya ia berpikir.

"Bodoh."

Giliran Jongin dan Jongdae yang mengernyit bingung. Sekalinya mengeluarkan kata, yang diucapkan malah kata 'bodoh'.

"Apa maksudmu?" Oh lihat. Jongin sudah tidak memanggilnya dengan embel-embel hyung. Matanya menatap tajam Kris seolah meminta penjelasan, bagian dimana ia terlihat bodoh.

"Hanya datang saja ke kamarnya malam nanti, dan kau akan mengetahui jawabannya. Dasar tidak peka." Telak Kris sambil berlalu dan berkutik dengan ponselnya. Sepertinya sedang bertukar pesan dengan Luhan-nya.

Jongin memandangnya dengan tatapan tidak mengerti. Ia juga sempat berpikir apa memang ia yang tidak peka? Tapi tidak peka tentang apa?

Sigh.

Jongin beranjak dari sofa yang di dudukinya. Berniat kembali ke kamarnya sendiri. Entah melakukan apa. Mungkin memanjakan 'adik'nya? Ah, tapi itu bukan Jongin sekali.

Jongin sudah tidak bernafsu menjamah gadis-gadis lain lagi. Bisa-bisa Sehun menjadi marah seperti waktu itu. Itu sih menurutnya saja, tapi saat mengingat kejadian di toilet waktu itu tidak bisa membuat Jongin tidak tersenyum setelahnya.

Jongdae yang melihat kepergian Jongin hanya merasa aneh. Ia sendiri tidak tahu apa maksud Kris dengan tidak pekanya itu. Baru akan ia tanyakan hal itu, tapi ucapannya tertelan lagi saat melihat Kris yang sudah asik bertelepon dengan seseorang. Wajahnya sumringah sekali.

Ah, kedua temannya sudah benar-benar jatuh cinta. Lalu, kapan dirinya akan menyusul?

.

.

Sehun baru saja menutup bukunya. Sudah pukul 9 malam dan Jongin belum datang juga ke kamarnya. Sehun berdecih pelan, namun decihannya terdengar seperti orang yang kecewa. Ia malas kalau sudah begini.

Tapi dalam hati, Sehun tidak bisa memungkiri kalau ia bingung, ada satu petanyaan yang ingin ia tanyakan. Apa Jongin serius dengan ucapannya tadi? Saat dia mengatakan tidak akan datang. Dan apa Jongin sebenarnya memang ingin pergi ke luar negeri?

Sehun berdecih lagi. Kali ini lebih pelan lagi.

Sehun berencana akan menunggu Jongin sedikit lebih lama lagi. Dan jika Jongin tidak datang juga...

Mungkin Sehun akan––

Argh. Sial. Sehun tidak mengerti dirinya ini kenapa. Apa eksistensi Jongin di hidupnya yang tenang itu sudah terlalu berlebihan? Kenapa rasanya hanya membayangan lelaki tan itu tiba-tiba menghilang membuat Sehun gusar. Padahal lelaki itu baru mengganggunya dalam waktu satu bulan.

Sehun masih menunggu. Tapi ternyata setelah satu jam menunggu, Jongin tidak datang juga.

Sehun beranjak dari tempat tidurnya, lalu menuju pintu dan membukanya. Sepi sekali. Chanyeol dan Baekhyun juga sepertinya sudah tidur. Biasanya suara mereka tetap terdengar kalau Sehun keluar dari kamarnya. Tapi malam ini tidak ada suara apa-apa.

Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar Jongin. Berhenti disana untuk beberapa menit. Lalu mulai berpikir apa alasan ia mendatangi kamar Jongin? Untuk apa ia melakukan ini? Tsk.

Sehun hanya berdiri disana dan tidak melakukan apa-apa. Sampai saat tanganya akan mengetuk pintu, terdengar suara yang familiar dari sampingnya.

"Oh Sehun?"

Oh. Sehun tertangkap.

Sehun berbalik dan menemukan Jongin, masih menggunakan pakaian terakhir yang dikenakannya tadi siang. Dengan beberapa kantung pelastik di tangannya. Sehun penasaran dari mana saja Jongin sampai lupa kalau ada les dengan Sehun.

"Ada apa?"

Dan wajahnya itu benar-benar minta ditonjok. Bisa-bisanya Jongin masih bertanya ada apa pada Sehun.

Sehun hanya membalas tatapan Jongin datar. Tidak berniat menjawab pertanyaan Jongin sebelumnya. Sehun memandang Jongin dengan tatapan tidak biasanya. Kembali menjadi dingin.

Jongin mengeluarkan kunci kamarnya dari dalam saku, "Masuklah." Lalu mempersilakan Sehun untuk masuk ke dalam kamarnya.

Sehun masuk terlebih dahulu, dan menemukan tempat yang sudah familiar di ingatannya. Karena Sehun sudah pernah kemari beberapa kali. Bukan keinginannya, hanya saja, itu Jongin yang membawanya kemari.

Jongin duduk di atas sebuah kursi, setelah meletakkan kantung pelastik di tangannya ke atas meja di depannya.

"Ada apa?" Tanya Jongin lagi.

Sehun mendengus, lalu menatap Jongin tajam, "Kau tidak lupa kan? Seharusnya malam ini aku mentutorimu. Jangan buang waktuku kalau kau memang tidak ingin aku ajari."

Tatapan Jongin menyendu, Sehun sadar itu.

"Maaf. Aku lupa." Jawab Jongin.

Sehun hanya diam saja. Tidak bicara lagi. Ia sudah akan keluar, kalau suara Jongin tidak menghentikan langkahnya dan membuatnya berbalik.

"Sebenarnya kau anggap aku apa?"

Terkejut. Tentu. Jongin menanyakan hal seperti itu pada Sehun, membuat Sehun ikut memikirkan hal itu.

.

.

Sehun masih diam. Belum menjawab pertanyaan Jongin. Jongin sudah tidak kuat untuk tidak menanyakan hal ini pada Sehun, ia cukup bingung dengan keadaannya.

Dan kalau memang Jongin sudah tidak bisa mendapatkan Sehun, lebih baik ia menuruti ucapan Ayahnya untuk pergi ke luar negeri. Mungkin disana ia bisa memulai semuanya dari awal lagi. Menyukai para gadis yang tentunya hot. Dia tidak akan jadi gay kan?

Oh. Tidak. Maksudnya, Jongin hanya menyukai Sehun sebagai lelaki. Tidak dengan lelaki yang lainnya. Ia masih menyukai para gadis pula, walaupun semenjak ia dekat dengan Sehun, ia sudah tidak pernah mendekati para gadis dan menyentuh para gadis lagi.

Kalau ia ke luar negeri. Disana tidak ada Sehun. Artinya, Jongin tidak gay kan?

"Menganggapmu apa? Bukannya kita hanya dekat? Memang kita memiliki hubungan apa? Teman?"

Sehun berucap dengan lirih, namun Jongin yakin ia mendengar suara Sehun yang sedikit bergetar di tengah-tengah. Damn.

"Kau hanya seorang pemain. Lalu kau ingin menjadikanku salah satu mainanmu kan. Aku tahu kau masih menyukai para gadis di luar sana. Jadi kenapa kau terus mengikutiku? Aku membencimu, asal kau tahu. Aku tidak pernah ingin berhubungan dengan orang lain, terutama seorang pembuat masalah sepertimu.

Aku ingin menghindarimu sebisaku. Tapi kau terus-terusan mengikuti dan menggangguku. Sampai akhirnya aku terbiasa denganmu. Kenapa? Kenapa sekarang seperti akulah yang terlihat menyakitimu? Aku membencimu."

Itu ucapan terpanjang dari seorang Oh Sehun. Nada bicara Sehun naik, tidak seperti biasanya. Tapi, itu bukan teriakan. Jongin tidak tahu harus bicara dan membalas apa. Memang semuanya benar. Jongin hanya ingin mempermainkan Sehun awalnya.

Jongin bahkan tidak pernah mengatakan pada Sehun yang sebenarnya. Kalau ia benar-benar menyukai Sehun. Jongin hanya terus-terusan mengikuti Sehun dan menggodanya saja. Sekarang, bukannya mendapat jawaban atas pertanyaannya sendiri, Jongin malah diberi pertanyaan yang sama membingungkannya.

"Ayahmu mengatakan padaku. Kalau aku bisa membantumu menaikkan nilaimu, kau tidak akan pergi ke tempat lain. Dan kau malah tidak ingin belajar. Sudah jelas kalau kau memang ingin pergi kan? Itu artinya kau hanya mempermainkanku kan?"

Suara Sehun melirih. Dan Jongin tidak bisa bilang kalau ia tidak terkejut dengan perkataan Sehun. Benarkah ayahnya bilang begitu pada Sehun?

"Aku hanya terbiasa denganmu. Aku tidak ingin kau pergi.. dan kau sudah mengatakan kau tidak akan pergi."

Jongin tertegun lagi. Jantungnya berdegup kencang. Benarkah ini Sehun? Kenapa lelaki albino itu terlihat berbeda sekarang? Jongin tidak suka melihat wajah Sehun yang gusar dan sedikit memerah.

Jongin teringat saat semalam Sehun mengatakan padanya untuk tidak pergi. Jadi, Sehun masih mengharapnya ada disini?

Sehun benar-benar akan pergi setelah ia memutar kenop pintu kamarnya. Tapi Jongin dengan reflek yang cepat juga segera menarik Sehun hingga dia berbalik dan memeluk pinggang serta leher Sehun erat.

.


To Be Continued


A/N : Shoo, akhirnya selesai juga part 11 nya hihi

Maaf ya ngaret banget. Makin gaje. Feelsnya gak dapet, dan kalimatnya juga agak memusingkan. Saya sendiri gak ngerti ini saya nulis apa :D

Ini udah chapter terpanjang loh, sampe 3k. Biasanya saya nulis gak sampe 3k. Soalnya emang sengaja aja. Tapi part ini tuh nanggung aja gitu, jadi saya bikin sampe 3k :D

Oke. Semoga masih ada yang mau baca cerita gaje saya ini ya.

Saya berterima kasih banget kalian masih pada mau baca cerita ini. Udah mau review, fav, and follow :3

Terimakasihhh ^^

Thanks To and Review :

zhulfiana : ini udah next ya ^^ makasih udah mau baca~~

Shafa Putri : Ini udah dilanjut kok... maaf kalo lama sekali TvT

pjsbilxo : Ya ampun, dapet anak darimana? Bhaha. Itu mereka udah peluk-pelukan tuh... taudeh, udah jadi apa belum xD

chikenbubbletea : Iya bener. Sehun jauh dari kata uke, mungkin gara-gara yang makin tinggi aja, terus umurnya juga udah 20an gitu... imagenya diganti deh, dari remaja-remaja imut jadi mas-mas macho lol. Sayangnya, saya emang buat cepet, jadinya langsung pagi. Tapi tenang aja, chapter berikutnya, saya buat mereka mesra-mesraan lololol

hanhyewon357 : Sehun bakal tetep ngetutorin Jongin~ nah Jongin juga nanti jadi tutornya Sehun bhaha. Mereka saling nyatain tuh. Jongin sih udah terang-terangan suka sama Sehun ya...

Kimoh1412 : Gengsi gengsi, apalagi si Sehun, muka flatnya minta ditampar gitu ya kan. Tapi kasian, ntar pipinya merah, malah jadi kena sasar Jongin :D

izzsweetcity: later baby~ xD beberapa chapter lagi bakal saya bikin mungkin ya esek-eseknya. Saya tahu Jongin sebenernya udah gak tahan. Demi cintanya ke Sehun aja dia mau nahan nahan xD

kaihunn : Chapter ini udah lumayan panjang belum? Buat ff ini, ini udah lumayan loh :D makasih udah mau baca ya :3

Nagisa Kitagawa : Sehun udah mau nyosor juga, setelah sekian lama cuma ah-uh-oh *yeay!* xD Mereka udah melankolis gitu, enaknya dibikin status gak yaaaa... bahaha

JongOdult : Sedalem lauut itu ucapannya Sehun mah wkwk. Iya, Jongin mah gak peka... harusnya dia mau belajar yang rajin biar gak usah ke luar luar negeri segala...

Grey378 : Haha, tapi ayahnya Jongin baik koook disini, gak kaya ayahnya YoungDo. Ayahnya Jongin Cuma mau yang terbaik aja buat Jongin xD

AlexandraLexa : Sudah lanjut :3 maaf membuat menunggu lama ^^

GaemGyu92 : Sungguuuuh xD Sehun kan belum siap bangun pagi tanpa Jongin... biasanya kan muka mesumnya Jongin ada dimana-mana lol

cooly224 : Sudaaaahh :))

sehunskai : Sehun kan emang gitu. Kalo gak dingin, ntar gak greget xD Sehun suka beneran kok, tapi masih dikit dikit. Progres lah ya... karena terlalu terbiasa sama si Kim :D

icha : Jangaaann, ntar blong remnya kalo di gas terus xD

Ilysmkji : Iya bener kan, bener kan? Kalo gak pasti itu lebih seru. Tapi tuh mereka udah saling bikin kepastian. Udah terlalu lelah kali ya xD gak papa, saya juga lelah liat mereka gitu terus. Eh tapi... mereka kan belum jadian yaa... hihi :3

Haemi Wytha Kim444 : Ya ampun nak, panjang sekali username kamu xD Drama banget ya mereka, ckck, giliran yang satu udh mau suka balik, eh malah mau ditinggalin. Untung Sehun berani ngomong jangan pergi ke Jongin. Coba kalo enggak... udah menggantung hubungan mereka xD

SpringBee : Sehun emang nyebelin. Dimana-mana pasti bikin orang sebel sama dia gara-gara wajahnya yang terlalu datar. Bayangin aja ada orang kayak Sehun, langsung saya cium /eh/ Jangaaan, Sehun lebih baik kalo tsundere gitu. Lebih greget. Hehe. Makasih ya udah mau review. Saya juga baca review kamu di ff saya yang lain kok. Sampe di review semua gitu xD makasih sekali lagi :D

papatwerk : AAA saya tau itu fluffy xD walaupun gak yakin juga fluffynya sampe level berapa wkwk saya emang pengennya bikin yang fluff fluff aja sih, semoga aja gak gagal xD makasih udah mu review :D

kjiftosh : Nanti lain cerita kalo Sehun sampe menjanda haha. Eh, jadian aja belom loh, kok udah menjanda aja xD

KaiHunnieEXO : Akhirnya Sehun mau ngilangin gengsi terus ngomong kaya gitu ke Jongin ya aaaa itu pasti Jongin deg deg deg pas dengernya haha /kebawasuasana/ liat nanti aja, kalo Jongin mau belajar, dia pasti gak pergi... ayahnya Jongin kan temen ayahnya Sehun gitulah. Nanti saya ceritain di cerita aja deh kalo gitu xD sorry I cant fast update hiks :') semoga masih mau baca ya hihi

Dini : Kedepannya bakal saya buat banyaaaak sweet moment. Buat Pedekatenya gitu xD

auliavp : Makasih udah mau baca sama review :3 Sehun udah mulai membuka diri kok :3 ini udah ya, next chapternya...

Frisky-kun : Ya ampun, saya terharu baca reviewnya :') sampe ngebut baca :') padahal menurut saya ini ff abal banget, karena saya masih amatir juga :'D saya juga harapnya ini cerita gak stuck nantinya... tapi saya juga gak bisa janji kalo soal update cepet xD aww, terimakasih juga udah mau baca sama review, udah mau nungguin juga :3 Semoga chapter ini gak mengecewakan... :')

CatMeowGirl : Thankyou~~ :3 review lagi yaa hihi

yeon1411 : MAKASIH UDAH MAU NUNGGU AAAAA Saya terharu :')

Dazzling Kaise : Itu udah mau jelas kok hubungan mereka, tinggal lihat ke chapter depan, atau depannya lagi xD ayahnya kan maunya Jongin jadi anak baik gitu wkwk, typical ayah pengusaha lah ya... mana mau anaknya jadi bandel kan xD

IneedU : Aduuh, maaf kalo kurang panjang :") Saya soalnya nargetin wordsnya sekitaran segitu. Tapi mungkin emang chapter kemarin lebih pendek ketimbang yang lain. Mungkin karena saya lelah xD maaf yaa... ini udah lumayan panjang belum? Iya, kan saya ceritanya suka banget moton-motong adegan, biar greget /plaakkk/ xD

: So sweett kan. Jadi ngiri sama mereka xD makasih udah review ya ^^

utsukushii02 : Iya dong, kan Sehun nurut itu jarang. Dia kan sukanya berontak berontak tapi mau gitu kalo sama Jongin xD

Jisooya : Samaaaa, saya juga jadi makin suka KaiHun wkaka ;D

Kim Sohyun : Jongin gak akan pergi kok, kan ada Sehun, tenang aja xD makasih reviewnya :3 maaf juga gak bisa cepet cepet updatee..

kenlee1412 : ya ampun jangan nyengir nyengir gaje xD ntar disangkanya orang gila lagi hehe :D makasih udah mau baca sama review yaa :3 semoga chapter ini gak aneh :D

echi : Kan Thehunnie tsun tsundere xD jadinya malu malu mau~~

vipbigbang74 : saya gak update cepet ya TvT maaf ya :")

ParkJitta : wkaka iya duh, kok saya berasa sering ngasih php gini ya... udah siap di kamar, di ranjang, eh malah kepotong. Censored gitu lol xD

vietrona chan : Doakan aja biar Jongin mau rajin belajar biar gak jadi pergi xD

fyodult : Aaaa, saya ikut seneng kalo kamu suka :D mereka emang kadang gemesin, kadang nyebelin juga xD

Kaihunbear : Iya kayanya emang udah cukup tsundere. Itu Sehun udah mulai luluh kok xD Cuma yaa gitulah, masih gengsi gengsi xD

vitangeflower : Ini udah lanjut yaaaa :D

Rofa575 : Makasih udah bilang seruu xD udah dilanjut yaaa :3

Ubannya Sehun : bhaha yang Sehun basah-basahan itu ya. Ya ampun serius itu Sehun bikin teriak tanpa suara gitu wkaka. Apalagi kalo seandainya tiba-tiba ada Jongin yang ikut gabung terus mereka joged seksi bareng :3 pasti seksi aaaaa. Ayo request ke SMent xDxD

HilmaExotics : Sehun udah mulai luntur xD

Sekar Amalia : gak papa, kalo emang lupa kan dibaca ulang aja xD saya juga kadang sering gitu kok /plaakk/ xD makasih udh mau baca dan review yaaa :3 saya seneng kalo kamu suka ceritanya /ceilah/ hihi

Wendyblu : Rate nya kan emang udah M xD mau dinaikin sampe apalagi wkaka. Nanti saya naikin ratenya jadi M++ :D

Rilakkuma8894 : Iya kan... giliran mau pergi aja si Sehun bilang suka. Eamng dasar itu bocah wkwk xD

Guest : Makasih udah mau baca ya :3

exobabyyhun : Ya ampun... kamu yang pertama review chapter 10 kemarin :D maaf malah jadi di bawah, soalnya saya balesnya dari yang paling atas, biar ga bolak balik xD makasih udh mau nunggu loh :3 saya berasa gak pantas aja huhu, padahal ff saya ini agak aneh hihi... :D

P.S : Makasih banget yang udah review sampe banyak kaya gitu :') saya serius jadi terharu, ternyata masih ada yang suka sama cerita buatan saya ini. Walopun agak absurd gitu. Tapi saya seneng kalo kalian suka :D Saya juga berasa nge php-in pembaca deh soal rate M nya xD haha. Later baby~ xD Thankyouuu :*******