Passionate Pleasure
Chapter 12
.
.
Sehun tertegun karena pelukan Jongin. Tapi, Sehun tidak menolak ataupun mendorong Jongin dan melanjutkan niatan awalnya untuk segera pergi dari sana. Ia malah menikmati pelukan yang diberikan Jongin sekarang. Sehun akui, ia menginginkan pelukan ini lebih lama.
Jongin melepaskan pelukannya, menyentuh wajah Sehun, lalu mengangkatnya agar mau menatap Jongin. Sehun lagi-lagi hanya pasrah saja. Ia sudah cukup lelah karena berteriak tadi.
"Kenapa menangis?"
Sehun terkejut saat Jongin bertanya seperti itu. Ia tidak sadar kalau air matanya sudah menetes tadi.
"Aku tidak menangis." Sangkalnya.
"Lalu ini apa?" Tanya Jongin lagi sambil mengusap kedua pipinya, lalu menunjukkan jarinya yang basah pada Sehun, membuat Sehun lebih memilih memalingkan wajahnya ketimbang harus menatap Jongin. Wajahnya terasa panas saat ini.
Detik selanjutnya, Sehun bisa mendengar suara kekehan keluar dari bibir Jongin. Membuat Sehun reflek memalingkan lagi wajahnya agar bertatapan dengan Jongin. Dan, Sehun bersumpah ia melihat Jongin menyeringai di tempatnya.
Pikirannya langsung berpikir negatif. Apa jangan-jangan, tadi itu hanya permainan Jongin saja?
Tapi semua pemikiran negatifnya luntur begitu saja ketika Jongin menciumnya. Sehun bahkan tidak menyadari kapan pemuda itu mendekatkan wajah ke arahnya dan menempelkan bibir ke bibirnya.
Jongin hanya sesekali melumat bibirnya pelan. Dan hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Ciuman kali ini terasa lebih sederhana dan membuat Sehun yakin kalau Jongin tulus dengannya.
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku tahu kau meragukanku, kan?"
Tanya Jongin saat pemuda tan itu sudah melepaskan ciuman ringannya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa." Bantah Sehun lagi. Ia jelas tidak ingin jujur pada Jongin kalau ia memang merasa takut kalau-kalau Jongin hanya mempermainkannya saja tadi.
"Jangan berbohong, terlihat jelas dari ekspresimu tadi. Dan, wow, itu pertama kalinya aku bisa melihat ekspresi seperti itu darimu. Aku benar, kan, Oh Sehun?"
Sehun langsung saja melepaskan tangan Jongin yang berada di pundaknya, "Kau salah. Aku tidak berpikiran yang tidak-tidak."
Sehun masih berusaha menyangkal meskipun wajahnya sudah memanas lagi. Sial. Kenapa wajahnya jadi sering memanas seperti ini. Biasanya ia bisa mengontrol dirinya. Apa ini karena posisinya dengan Jongin yang sangat dekat? Kalau begitu, ia harus mencari tempat yang jauh dari Jongin agar ia bisa mengontrol jantungnya, dan bisa menjadi lebih berkonsentrasi.
Sehun meninggalkan Jongin dari posisinya di depan pintu dan berjalan menuju tempat tidur Jongin. Duduk disana, lalu menatap Jongin tajam, "Keluarkan bukumu." Perintahnya dengan suara yang datar.
"Hey, jangan terburu-buru, baby. Aku belum makan malam. Dan sebaiknya kau juga ikut makan malam denganku, heum?"
Wajah Sehun kembali memerah saat mendengar kata yang digunakan Jongin tadi. Apa itu? Baby? Oh, Sehun bahkan tidak pernah dipanggil dengan nama seperti itu. Untungnya ia masih bisa mengatur ekspresinya, walau dengan wajah memerah.
Sehun bisa melihat Jongin tersenyum kecil. Dan itu melunturkan wajah tegasnya. Otot wajahnya ia rilekskan, dan itu karena senyum Jongin. Sehun tidak percaya Jongin bisa tersenyum seperti itu. Ia ingin melihatnya lagi. Bukan seringaian bodohnya yang sering ia tunjukkan itu.
"Apa? Kenapa? Terpesona padaku?"
Sehun reflek menganggukkan kepalanya. Dan sepertinya, dari ekspresi yang diberikan Jongin, Sehun yakin lelaki itu terkejut karena anggukan Sehun.
.
.
Jongin menatap Sehun tak percaya. Apa pemuda itu baru saja menganggukkan kepalanya? Benarkah? Apakah itu jujur?
Damn.
Sehun terlihat manis saat mengangguk tadi.
Ditambah lagi, saat ini, lelaki albino itu malah memandanginya terus dengan wajah polos. Bukan wajah datar yang sangat tidak Jongin sukai itu.
Apalagi, saat ini mereka sudah saling menyatakan perasaan.
Jongin berjalan mendekat ke arah Sehun.
"Aku jadi lapar sekarang Oh Sehun. Jangan memperlihatkan wajah seperti itu." Katanya, dengan seringai mesum terpampang jelas di wajahnya.
"Kau bisa makan kalau begitu."
Dan demi apa, Sehun tidak menangkap sinyal darinya itu? Atau... Sehun hanya berpura-pura tidak mengerti saja? Jongin jadi semakin kacau saat ini.
Jongin menghembuskan nafas pasrah sedetik kemudian, lalu kembali berbalik dan mengambil bungkusan yang tadi ia bawa. Membukanya tepat di depan Sehun, sambil sesekali melirik ekspresi Sehun yang ternyata sedang mengerutkan dahinya samar. Ia menduga, kalau Sehun tidak percaya dengan apa yang dibawa Jongin.
"Kau hanya makan ramen?"
Jongin mengangguk cuek menanggapinya, membuka penutup ramen yang ia pegang, memasukkan air panas ke dalamnya, lalu menutupnya lagi dan menunggu hingga ramen yang ia beli mengembang. Selanjutnya, ia mengambil makanan lain dari bungkusannya lagi.
"Jajangmyun?"
Jongin menoleh pada Sehun yang memperlihatkan wajah bingungnya, dengan banyak kerutan di dahi. Jongin tidak pernah melihat Sehun yang sedang kebingungan seperti sekarang ini. Terlihat berbeda sekali. Satu sekolahnya tidak akan percaya kalau yang di depannya saat ini adalah Oh Sehun si wajah datar.
"Kenapa? Kau tidak suka? Kalau begitu biar buatku saja."
Jongin berucap dengan acuh dan nada yang main-main. Menggoda Sehun mungkin tidak ada salahnya kan.
"Kenapa semua makananmu tidak sehat? Semua berbahan mie." Sehun kembali berucap. Membuat Jongin mengernyit geli mendengarnya. Ternyata, pemuda ini perhatian dengan makanan sehat juga, ya.
"Sudah kubilang kan, kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Yang jelas... aku sedang lapar." Balas Jongin lagi dengan nada main-main di awal, kemudian berganti jadi lebih aneh ketika sampai di kalimat kedua.
Meskipun terdengar cerewet seperti tadi, pada akhirnya Sehun mau menerima jajangmyun yang diberi Jongin. Sehun memakannya dengan pelan. Mungkin Sehun sebenarnya lapar. Sedangkan Jongin sudah menghabiskan ramennya beberapa menit lalu. Dan tiap ia bicara, bau makanan itu menguar dari mulutnya.
Jongin tidak bisa mengeskpresikan perasaannya saat ini. Baru sekitar satu jam lalu saat mereka mulai mengungkapkan perasaan masing-masing. Semua bahkan tidak terduga dan tidak terencana. Jongin sendiri terkejut saat Sehun yang terlebih dulu mengatakan perasaannya, bukannya dirinya.
Tsk, memang sangat sulit untuk ditebak.
Jongin menghabiskan ramennya hanya dalam waktu singkat. Setelahnya, ia hanya memandangi Sehun yang memakan jajangmyunnya dengan pelan-pelan. Senyum samarpun tak luput dari wajah Jongin. Tidak menyangka, lelaki yang dulu hanya ingin ia jadikan mainan, sekarang bisa membuatnya segila ini.
"Kenapa?"
Bahkan, suara dan nada datarnya membuat Jongin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Jongin benar-benar sudah tidak waras.
"Oh Sehun..." Panggilnya. Membuat Sehun yang baru saja menyendokkan jajangmyunnya menoleh menatap ke arahnya.
Mengikuti naluri, Jongin mendekatkan kepalanya pada Sehun, dengan perlahan-lahan.
.
.
Sehun menahan nafas saat jarak antara dirinya dan Jongin semakin menipis. Tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu juga. Sehun bahkan tidak berani menghembuskan nafasnya.
Aroma ramen dari mulut Jongin juga menguar, membuat Sehun sedikit berdesir di tempatnya sekarang. Dan disaat Jongin menutup matanya, Sehun juga mengikuti Jongin dengan menutup erat kedua matanya. Disaat yang bersamaan, Sehun bisa merasakan sesuatu yang lembut bergerak diatas bibirnya. Menyesap bibirnya dengan pelan dan penuh perhatian.
Kulit Sehun meremang. Tangannya yang masih memegang piring jajangmyunnya lemas. Sehun tidak tahu, ciuman Jongin bisa memberikan efek seperti ini. Jongin sering menciumnya, tapi kali ini rasanya lebih berbeda. Sehun merasakan perasaan tulus dari kecupan-kecupan lembut yang diberi Jongin pada bibirnya.
Jongin juga tiba-tiba saja mengambil piring jajangmyun dari tangannya dan meletakkannya entah dimana. Yang jelas, saat ini, Jongin bisa melakukan hal yang lebih pada Sehun.
Selang beberapa menit, Sehun baru membalas ciuman Jongin, sesekali melumatnya bergantian. Masih terasa ramen yang dimakan Jongin tadi, bercampur dengan rasa jajangmyun yang ia makan.
Bukannya merasa jijik atau risih, yang ada rasa hangat itu terus menjalar di kedua pipinya. Menambah rona merah disana.
Ciuman mereka semakin intens, sesekali terdengar desahan pelan keluar dari bibir mereka. Tangan Sehun bahkan sudah melingkar di leher Jongin erat, meremas rambut belakang Jongin dan mendorongnya agar lebih memperdalam ciuman mereka.
Jongin dengan senang hati memenuhi permintaan tidak langsung Sehun.
"Eungh...nnh..."
Sehun mengerang pelan begitu lidah Jongin bermain-main dengan miliknya. Melilit dan menghisap daging tanpa tulang milik Sehun.
Sehun yakin sekali wajahnya sudah berwarna sangat merah sekarang. Rasa hangat itu terus menerus menjalar hingga ke wajahnya. Apalagi ketika Jongin mengangkat tubuhnya, dan membaringkannya di atas tempat tidur, lalu menindih tubuhnya.
"I can't help it." Ucap Jongin saat melepaskan tautan mereka berdua. Dengan napas yang masih terengah-engah dan saling beradu. Sehun menyelami mata Jongin, tatapan itu sarat akan keinginan yang besar, tapi Sehun tahu, Jongin berusaha menahannya.
Benar-benar perjuangan yang besar sepertinya. Selama ini, Jongin selalu melakukan hal-hal yang Sehun anggap pelecehan. Tapi, baru Sehun ingat dan sadari, kalau selama itu juga, Jongin tidak pernah melakukan lebih. Padahal, bisa saja lelaki itu melanjutkan pelecehannya sampai yang ia inginkan, 'kan?
Dan baru Sehun ingat juga, kalau sebelumnya Jongin bahkan sempat meminta izin sebelum melakukan itu padanya. Yang berujung dengan pengusirannya malam itu. Dan lucunya, lelaki tan itu menurut padanya.
Sehun tersenyum kecil mengingatnya. Ia mengalungkan lagi tangannya pada leher Jongin, dan menariknya mendekat kebawah.
"Lakukan yang ingin kau lakukan." Ucapnya.
Dan tanpa aba-aba lagi, mereka kembali berciuman, namun hanya sebentar. Karena Jongin lebih memilih mengeksplor kulit leher Sehun setelahnya. Meninggalkan beberapa bercak merah yang menandakan bahwa Sehun sekarang adalah miliknya.
Jongin mengangkat kepalanya, menatap Sehun yang masih mengatur nafasnya dengan dalam. Ada banyak ketulusan di mata Jongin, begitu juga Sehun yang juga menatap dalam netra milik Jongin.
"Entah kenapa, aku menjadi tidak berani menyentuhmu lebih jauh." Kekeh Jongin pelan, "Padahal, dulu aku sangat ingin memakanmu."
Sehun mengangkat alisnya bingung.
"Mungkin... lain kali. Aku bisa menahannya. Aku ingin kau memberikan itu sebagai hadiah untukku nanti. Jadi, ajari aku belajar, hm?"
Sehun tertegun mendengarnya. Tidak tahu harus bereaksi apa. Jujur, ia juga merasa belum siap dan juga takut untuk melakukan hal lebih jauh. Ditambah lagi, mereka baru saling menyatakan perasaan. Dan itu belum ada satu jam lamanya.
Sehun juga tidak menyangka kalau Jongin akan meminta Sehun mengajarinya.
"Aku jadi tidak ingin berpisah denganmu. Jadi, aku harus bisa tetap disini. Lalu setelahnya, aku akan meminta hadiahku. Bagaimana?"
Bohong kalau Sehun tidak terpesona. Lelaki yang ada diatasnya ini begitu keren malam ini. Uh.
"Baiklah." Dan itu adalah jawaban Sehun.
.
.
Jongin merubah posisinya yang sebelumnya menindih Sehun menjadi miring, menghadap Sehun. Tangannya masih melingkar di pinggang Sehun, dan setelahnya menarik tubuh Sehun mendekat ke arahnya.
Jongin berbohong kalau ia bisa menahannya. Nyatanya, ia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak memakan Sehun. Hanya saja, Jongin sedang berusaha. Dan ternyata rasanya sakit. Ugh. Untung ia tidak memakai celana yang terlalu sempit dan ketat.
"Ayo ceritakan tentang dirimu."
Mungkin cara ini bisa membuat Jongin lebih baik. Ia bisa dapatkan itu lain kali. Yang penting, sekarang ia bisa menyentuh Sehunnya kapanpun tanpa penolakan lagi, kan?
"Apa yang harus aku ceritakan?"
"Semua?"
Sehun terlihat berpikir. Sepertinya dia merasa geli kalau harus menceritakan semuanya pada Jongin.
"Itu bukan gayaku sama sekali."
Jongin memutar bola matanya malas. Ia kira, ia bisa mengetahui segalanya tentang Sehun malam ini. Tapi, yang namanya Kim Jongin, jelas saja tidak akan menyerah begitu saja. Ia tetap ingin mengorek semuanya tentang Sehun.
"Kalau begitu biar aku yang bertanya." Katanya.
"Tidak mau."
Shit.
"Kenapa kau begitu dekat dengan Luhan?"
Diam.
"Karena dia kakakku?" Jongin sedikit mengulum bibirnya begitu Sehun menjawab pertanyaannya. Itu artinya, Sehun masih mau merespon.
"Kenapa kau bisa begitu manja saat dengan Luhan? Sedangkan denganku, kau berbeda tiga ratus lima puluh derajat?"
"Karena dia kakakku?"
Ini tidak akan berhasil. Jongin menghembuskan nafasnya sedikit frustasi.
"Apa kau hanya akan seperti itu dengannya saja?"
Hening lagi, sebentar.
"Uhm... aku tidak tahu harus memulai darimana. Tapi sepertinya, aku cukup percaya denganmu."
Jongin mengernyit tidak mengerti. Apa maksud Sehun dengan perkataannya itu. Dan sebelum ia bertanya apa maksudnya, Sehun sudah mendahului start darinya.
"Ayahku dan Ibuku sudah bercerai. Kehidupan rumah tangga mereka memang bisa dibilang sudah tidak baik saat aku dan Luhan hyung masih kecil. Bahkan mungkin, lebih dari itu. Mereka dijodohkan untuk urusan bisnis, dan mereka tidak pernah bisa menolak. Aku sedikit senang, karena aku bukan salah satu anak dari kakekku."
Jongin mendengarkan betul-betul cerita Sehun. Karena, kapan lagi ia bisa mendengar Sehun sendiri yang menceritakan semua tentang dirinya. Yang ia ketahui tentang Sehun itu mungkin baru dua persen, dan ia ingin meningkatkannya lagi.
"Jadi, beberapa tahun lalu, eum, sepertinya tiga tahun yang lalu. Mereka bercerai. Dan tepat satu tahun kemudian, Ayahku menikah dengan istri pilihannya. Yang sekarang menjadi Ibuku. Luhan hyung, juga pindah ke China setelah ia lulus kuliah. Karena Ibu memang ada di China.
Aku tidak menyalahkan Ayah atau Ibu sama sekali. Ibuku yang sekarang juga sangat baik dan perhatian padaku, bahkan melebihi perhatian Ibu kandungku, aku erm begitu sayang dengannya. Juga Ayah yang selalu sibuk bekerja. Karena sejak kecil aku juga selalu bersama Luhan hyung, jadi saat dia pergi aku merasa kesepian.
Aku tidak punya teman yang bisa diajak bercerita. Memang temanku satu-satunya itu adalah Luhan hyung saja. Makanya, aku bisa jadi lebih manja saat bersama Luhan hyung. Tapi aku juga menyayangi Ayah dan kedua Ibuku. Mereka, meskipun sibuk. Mereka tetap orang yang paling berharga untukku."
Hening.
Jongin tidak menyangka, ternyata banyak juga yang tidak ia ketahui tentang Sehun. Mungkin masih banyak lagi yang harus ia ketahui nantinya.
Disaat hening itu, tiba-tiba saja lampu kamar Jongin padam.
"Ah, ada apa ini?" Jongin menggerutu pelan. Ia berniat turun dari tempat tidur dan menelepon Kris untuk bertanya tentang apa yang terjadi. Namun, ia mengurungkan niatnya saat merasakan ada yang memegang tangannya erat dengan tangan yang bergetar.
Jongin menoleh ke samping, "Hun?"
Tidak ada jawaban. Maka Jongin langsung menangkap tangan Sehun yang memegang lengannya, lalu menariknya lebih mendekat lagi.
"Aku takut gelap. Jangan pergi."
Dan, Jongin terkesiap. Sehun takut gelap? Satu fakta yang baru ia ketahui lagi dari Sehun. Mungkin, masih ada banyak hal lagi yang tersembunyi dari diri Sehun. Dan Jongin harus tahu semuanya.
Jongin menggenggam tangan Sehun erat. Pertanda ia tidak akan meninggalkan Sehun. Pertanda kalau ia ada disini bersama Sehun, dan tidak akan kemana-mana.
Tubuh Sehun mulai stabil, Jongin yang tadinya dapat merasakan kalau tubuh di sampingnya bergetar, sekarang sudah tidak merasakan getaran itu lagi.
"Aish, kenapa tiba-tiba listrik bisa padam begini, sih. Harusnya asrama ini bisa menangani masalah kecil seperti ini." Gerutu Jongin dengan suara pelan. Ia masih tidak percaya kalau listrik asrama bisa padam se-lama ini.
Sehun bahkan sudah tidak bergerak lagi. Membuat Jongin sedikit panik kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Sehun. Mungkinkah Sehun pingsan karena terlalu takutnya?
Jadi, Jongin mulai memanggil-manggil Sehun pelan. Saat Jongin tidak mendapat jawaban apapun, ia langsung menggoncang tubuh Sehun sambil masih memanggil-manggilnya.
"Hm? Aku masih sadar." Jawab Sehun sambil menggeser tubuhnya semakin mendekat ke arah Jongin. Jongin sampai speechless dibuatnya. Kalau memang belum tidur, kenapa tidak menjawab panggilannya tadi.
"Maaf, aku hampir ketiduran tadi." Lanjut Sehun lagi.
Jongin bisa bernafas lega, "Aku kira kau tidak sadarkan diri, Hun. Aku takut kalau kau benar-benar pingsan."
.
.
Tidak ada yang bicara lagi setelah itu. Lampu masih belum menyala. Dan Jongin masih memeluk erat tubuh Sehun. Mencoba membuat Sehun merasa aman juga merasa nyaman. Dan Sehun tidak bisa menyangkal kalau berada di pelukan Jongin memang sedikit banyak menenangkannya.
Ia masih merasa takut dengan keadaan yang gelap begini. Namun, karena ada Jongin yang berada di sampingnya. Memeluknya erat. Membuatnya bisa merasa tenang.
Sehun tidak bisa bayangkan bagaimana kalau ia tidak jadi ke kamar Jongin tadi. Sudah dipastikan ia sudah sangat drop saat ini.
Sehun sendiri tidak ingat, darimana ia bisa mendapatkan fobia ini. Ketakutannya dengan tempat yang gelap seperti tidak beralasan, tetapi ia merasa begitu takut. Mungkin, karena di dalam gelap ia akan merasa kalau ia sendirian, dingin, dan tidak dapat melihat apa-apa.
Saat ini pun, Sehun sama sekali tidak bisa melihat apapun di sekitarnya. Kecuali, tubuh Jongin yang bisa ia rasakan hangatnya.
"Ceritakan tentangmu..."
Dan entah kenapa, Sehun bisa menanyakan hal itu setelahnya.
Sehun tahu Jongin belum tidur. Sehun tahu dari cara bernafas Jongin, serta kasur yang bergerak-gerak menandakan kalau Jongin yang sedang membenarkan posisinya.
"Aku?"
"Hm."
"Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Kau juga menanyakan padaku tadi. Sekarang, giliranmu."
Hanya dengungan pelan yang terdengar, tanda kalau Jongin sedang berpikir. Tetapi Jongin tidak kunjung menjawabnya juga, membuat Sehun menjadi sedikit tidak sabar.
Begitu ingin menanyakannya untuk yang kedua kalinya. Sehun malah mendengar suara helaan nafas Jongin yang terbilang cukup keras. Sehun berasumsi kalau bercerita mengenai kehidupannya –kehidupan Jongin– cukup sensitif.
"Baiklah. Supaya impas, aku akan menceritakan sedikit. Hanya sedikit, ya."
Sehun tersenyum kecil, lalu hanya bergumam mengiyakan.
"Namaku Kim Jongin,"
Sehun mengerutkan dahi mendengar bagaimana permulaan Jongin. Apa yang itu juga harus diucapkan? Ia kan sudah tahu nama Jongin.
"Aku murid kelas 12. Aku dijuluki player di sekolahku, dan... erm... ya, aku memang player karena aku suka mempermainkan mereka."
Mungkin wajah Sehun sudah memanas saat ini. Memanas karena menahan kesal. Kenapa kalimat yang barusan terasa mengganggunya sekali?
"Aku juga seorang troublemaker yang tidak disukai kebanyakan murid dan juga guru. Itu karena aku tidak suka diatur dan tidak suka dengan aturan. Aku punya caraku sendiri. Aku–"
"Jangan ceritakan yang aku sudah tahu." Sehun memang sengaja memotong perkataan Jongin. Sehun ingin sesuatu yang bisa dibagi dengannya, dan hanya akan ia saja yang tahu.
Jongin terkekeh, membuat Sehun semakin mendatarkan wajahnya. Meskipun Jongin tidak akan pernah melihat ekspresi wajahnya itu.
"Aku suka ayam goreng. Aku tidak bisa memasak, itu karena aku hanya tinggal berdua dengan Ayahku dan aku adalah anak tunggal."
Disini, nada Jongin terdengar lirih di telinga Sehun. Sehun sudah bisa menebak kalau anak itu memang tidak tinggal dengan Ibunya.
"Aku tidak tahu dimana Ibuku. Yang aku tahu, aku hanya memilki Ayah. Terkadang, dia memang sulit untuk mengerti apa keinginanku. Tapi, aku tahu dia menyayangiku. Dia Ayah yang baik walaupun suka mengaturku. Dan itu salah satu kenapa aku jadi menjauh dari Ayah.
Aku lebih senang tinggal di asrama dibanding pulang ke rumah. Karena rumahku, tidak bisa disebut sebagai rumah. Aku lebih suka pergi bersama teman-temanku ke club malam, dan bermain dengan wanita. Miris sekali.
Sekalinya aku pulang ke rumah, yang ada aku hanya dimarahi. Kadang aku memang merindukan masa kecilku. Dimana Ayah masih belum begitu sibuk dan masih berusaha menjagaku dirumah. Untungnya, aku sempat merasakan kasih sayang Ayah saat kecil."
Sehun hanya bisa terdiam begitu Jongin berhenti bicara. Mungkin itu sudah ada di ujung ceritanya. Mereka tidak terlalu berbeda. Hanya saja, Sehun masih memiliki Ibu –bahkan dua Ibu– yang menyayanginya dan masih memberinya perhatian yang cukup.
Ayahnya juga. Sesibuk apapun Ayahnya, Sehun tahu pria itu masih memperhatikannya dari jauh. Sesekali, Sehun juga menerima panggilan telepon dari Ayahnya itu.
Begitu juga Jongin. Jongin hanya tidak tahu bagaimana Ayahnya memperhatikannya. Mungkin saja, bahkan, Ayah Jongin tahu semuanya tentang Jongin.
Sehun jadi teringat bagaimana percakapan singkatnya dengan Ayah Jongin malam kemarin.
Ayahnya hanya tidak ingin Jongin berada dalam masalah lagi. Bukan hanya untuknya sendiri, tapi juga untuk kebaikan Jongin. Sehun mengerti itu.
"Ayahmu adalah orang yang baik. Aku menyukainya."
Sehun mendengar gumaman bertanya dari Jongin. Sehun jujur tentang itu. Ayah Jongin memang baik.
"Yeah, dia memang baik. Aku tidak tahu kalau kau sempat bicara dengannya."
"Hanya sedikit. Dan dia memintaku untuk mengajarimu, tahu."
Jongin terkekeh lagi. Sehun mengerti, Jongin bukan orang yang lemah hanya karena hidupnya. Jongin hanya butuh sedikit lagi pengertian dan perhatian, dan dia bisa bahagia. Bahkan mungkin, Jongin punya bahagianya sendiri.
.
.
To Be Continued
A/N : Hey, sorry for very very very late update. Kayaknya saya janjinya kemarin tiga hari ya? :') Sampe berbulan-bulan gini. Saya sibuk banget kelas 12 ini :'( Saya gak tau seribet ini jadi anak kelas 12. Apalagi udah mau Ujian, terus ditambah puyeng sama persiapan buat masuk perguruan tinggi. Ada yang sama puyengnya sama saya gak disini? Kalo ada, ayo kita tos :D
Maaf kalo ceritanya makin gaje dan aneh. Apalagi, adegan diatas itu... apa itu? apa? Saya juga nggak ngerti itu apaan. Mau bikin satu part isinya KaiHun aja. Duh, ini juga udah mau kelar ceritanya. Daaann... lagi-lagi saya bikin NC gagal :'D
Bikin NC itu gak gampang ya, ada cobaannya. Pasti tiap mau adegan nganu, saya langsung berasa aneh gitu. Susah banget mau nulis enaenanya, astagah. Padahal Jongin udah nggak tahan, duh. Tapi, karena saya udah nurutin kemauan kalian yang baca, saya bakal bikin NCnya. Tapiiiii, saya gak janji bakal hot. lol. Saya masih dibawah umur /plakkk/ :3
Last but not least, saya minta reviewnya dalam bentuk apapun (kritik atau saran). Dan maaf, kali ini gak bisa balas review kalian satu-satu^^
Sankyu~~ LubYuOl ~
