Sesuai janji nggak update lama - lama hehehe
Langsung ajaaaa
Happy reading
Oh iya, diingetin lagi ini FF BROTHERSHIP yaaa hehehe bukannya nggak mau bikin ff yaoi, tapi aku gabisaaa kalo baca sih suka *tergantung cast nya*
.
.
.
Flashback
.
Sudah hampir dua minggu Sehun di rawat di rumah sakit ini. Ia meninggalkan sekolah dan rumah untuk hal yang bahkan ia tidak ketahui pasti. Sehun tidak mengetahui alasan kenapa ia dirawat selama ini. Kris hanya bilang ia kelelahan dan butuh waktu istirahat di rumah sakit. Tapi bahkan orang yang mengurungnya di sini sudah dua hari tidak menampakkan batang hidungnya.
"Sebenarnya aku kenapa?" tanya Sehun pada suster yang tengah mempersiapkan obatnya.
"Kau kelelahan, Sehun-ssi. Sekarang minum obatmu."
"Aku tidak sakit. Aku tidak mau minum obat!"
"Kau harus meminum obatmu, Sehun-ssi." Suster itu dengan sabar meminta Sehun untuk tetap meminum obatnya.
"Tidak! Sebelum hyung datang! Kenapa semua orang bersikap aneh padaku? Aku tidak mau minum obat untuk suatu hal yang tidak jelas!"
"Ayolah, nanti hyungmu marah jika kau tidak meminum obat."
"Hyung bahkan tidak datang. Aku tidak mau minum obat sebelum ada yang menjelaskan apa yang terjadi di sini."
"Kan sudah kukatakan bukan, kau kelelahan. Dan ini obat untuk membantumu menjadi semakin kuat. Mengerti?" ujarnya masih sabar.
"Shireo! Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan."
"Baiklah, aku akan menghubungi hyungmu agar ia bisa memarahimu karena kau tidak mau minum obat."
Sehun berpikir mendengar suster mengatakan hal tersebut. Lalu ia mengambil obatnya satu persatu dan meminumnya.
"Nah, tidak sulit bukan?" ujar sang suster ketika Sehun selesai menenggak obat terakhir.
"Aku ingin sendiri." Balas Sehun seraya membaringkan tubuhnya.
Sang suster pun mengikuti keinginan Sehun. Sehun kembali sendiri, tetapi ia tidak terlelap. Ia menyusun rencana di kepalanya.
.
.
.
Dengan jaket dan topi yang dikenakannya, ia memasuki apotik yang berada tidak jauh dari apartmentnya. Lelaki jangkung bertopi itu ialah Sehun. Ia berencana untuk mengetahui apa yang terjadi padanya dengan mencari tau jenis obat yang ia minum.
"Ada yang bisa kami bantu?" ujar salah satu penjaga toko.
"Bisa tolong cari tau ini obat apa?" Sehun memberikan beberapa botol obat kepada penjaga tersebut.
"Sebentar, kami akan memeriksanya."
Sehun mengangguk. Ia melihat jam di tangannya, pukul 5 sore. Kemungkinan para suster itu belum mengetahui misi kaburnya saat ini. Sehun tidak tahan lagi dengan semua ini. Ia berpikir semua orang tengah membohonginya.
"Jika kalian tidak mau memberitauku, akan kucari tau sendiri." Tekadnya.
Tak berapa lama kemudian penjaga toko tadi kembali.
"Ini sejenis obat pereda rasa sakit. Dan dilihat dari dosisnya ini sepertinya obat untuk penderita kanker."
"Kanker?" Sehun merasa tubuhnya mendingin seketika ketika mendengar kata tersebut. "Apa kau tidak salah, tuan?"
"Tidak, nak. Kurasa ini memang resep obat untuk penderita kanker. Ngomong – ngomong dari mana kau dapat obat ini?"
Sehun terdiam. Tangannya bergetar mengambil kembali obat – obat tadi.
"Seorang teman, ya seorang teman." Jawabnya takut. "Terimakasih tuan." Ia segera keluar dari apotik tersebut.
Sehun berlari dan tanpa sadar ia sudah berhenti di depan gedung apartment nya. Tubuhnya masih bergetar, tetapi ia tetap harus mencari bukti lain yang kemungkinan disembunyikan kakaknya.
Dengan lemas ia memasuki gedung di hadapannya. Setibanya di apartmentnya, Sehun segera masuk ke kamar Kris dan mencari yang ia butuhkan. Tanpa susah payah, Sehun menemukan sebuah amplop coklat berlogo rumah sakit di atas meja kerja Kris yang berantakan.
Sehun membuka perlahan isi amplop tersebut dan membaca kata demi kata dengan jelas. Tak butuh waktu lama sampai tubuh yang sejak tadi bergetar itu untuk akhirnya terduduk di lantai. Sehun merasa dunianya hancur seketika. Tetapi bukan kenyataan kanker yang membuatnya sangat sedih, tetapi kebohongan Kris padanya. Kris membohonginya.
.
.
.
Jam di dinding sudah menujukkan waktu 10 malam, tapi orang yang Sehun tunggu sejak tadi belum juga pulang. Jejak – jejak air mata masih nampak di wajahnya yang pucat. Ia terus menggenggam surat keterangan penyakitnya sejak tadi. Ketika jarum panjang di dinding tepat mengarah ke menit 45 Sehun mendengar pintu depan terbuka. Seketika tubuhnya kembali menegang.
Sosok tinggi itu memasuki ruang tengah tempat Sehun menunggu. Tetapi ada yang aneh dari kakaknya itu. Kris sangat berantakan. Sehun tetap menunggu sampai ketika matanya dan mata Kris akhirnya bertemu.
"Shit!" Kris mengumpat. "Pantas saja handphone ku sejak tadi berbunyi. Sedang apa kau di sini, Sehun-ah? Ayo kembali ke rumah sakit." Kris mendekati Sehun yang masih terduduk.
"Oh, shit!" ia kembali mengumpat ketika melihat amplop coklat yang berada di tangan Sehun.
"Kenapa hyung membohongiku?" Sehun kembali menangis.
"Sehun-ah."
"Kenapa hyung tidak mengatakannya padaku?" kini Sehun berteriak. Ia meluapkan hal yang sejak kemarin mengganjal di hatinya. "Kenapa hyung malah menghindariku?!"
Kris hendak berbicara tetapi Sehun kembali memotongnya.
"Apa hyung sudah tidak sayang padaku? Apa hyung lelah mendengarkan rengekanku? APA HYUNG AKAN MEMBIARKANKU MATI SENDIRIAN DI RUMAH SAKIT?!"
"CUKUP SEHUN! Kau tidak mengerti!" untuk yang pertama kalinya Kris membentak Sehun. Sehun terisak di tempatnya. Tubuhnya gemetar, ia tidak biasa menghadapi pertengkaran dengan kakaknya. Dan kini, dengan keadaan Kris yang mabuk dan emosinya yang memuncak, Sehun begitu ketakutan di tempatnya.
"Kau tidak mengerti kenapa aku menyembunyikannya darimu. Kau juga tidak mengerti kenapa aku menghindarimu. Lihat dirimu sekarang, aku tidak memberitaumu saja kau sudah kabur seperti ini. Jika aku ada di sampingmu, kau akan terus – terusan merengek. Lalu aku harus jawab apa? Berkata jujur? Aku tau sekali sifatmu, dan kuyakin kau akan mengamuk lebih dari ini. Apa yang kau harapkan?"
Sehun tetap terdiam di tempatnya.
"Lihat aku Sehun Wu!"
Bentakkan Kris sangat keras sampai Sehun dengan refleks menurutinya. Penglihatannya tampak buram. Bukan hanya karena air mata yang sejak tadi keluar, tetapi karna kepalanya sudah sangat pusing.
"Bagaimana bisa aku membiarkanmu mati?" nada suaranya melunak, "Bagaimana bisa hyung hidup tanpamu, Sehun-ah? Mungkin hyung juga lebih baik mati.... Sehun-ah? Kau mendengarkanku?"
Nyatanya kesadaran Sehun perlahan hilang. Ia sudah terlalu lelah menghadapi ini. Sehun akhirnya tergeletak di kursi, meninggalkan Kris yang terus menyerukan namanya. Hal yang ia dengan terakhir kalinya adalah Kris membisikkan,
"Hyung melakukan ini semua karena hyung tidak rela kehilanganmu."
Lalu semuanya menjadi gelap.
Saat terbangun keesokan harinya, Sehun mendapati dirinya tengah kembali berada di rumah sakit. Dan Kris berubah sejak saat itu.
.
Flashback end
.
.
.
Sehun terbangun dari tidurnya, ia kembali memimpikan hal yang terberat dalam hidupnya. Hari sudah sore dan hyung nya belum kembali. Tadi pagi Sehun melihat laptop dan tas kerja hyungnya, tapi ia tidak melihat Kris di ruangannya. Dan akhirnya ia tau dari suster bahwa Kris pergi ke suatu tempat.
"Mungkin hyung memang lelah menjagaku."
Tanpa sengaja ekor mata Sehun menangkap setumpuk buku dan komik di meja sebelah tempat tidurnya. Matanya berbinar mengenali setumpuk buku itu. Kepalanya kemudian mendongak ke arah pintu masuk yang terbuka menampakkan sosok jangkung kakaknya.
"Hyung! Hyung tadi ke rumah kecil kita?" tanya Sehun masih dengan binar di matanya.
Yang ditanya hanya mengangguk dan tersenyum tipis melihat Sehun kembali tersenyum.
"Hyung bahkan membawa buku – buku favorite ku! Gomawo hyung!"
Sehun masih dengan euphoria di atas tempat tidurnya membuka setiap halaman buku dan komik lamanya. Sedangkan Kris sudah berada di dekat jendela, kembali menatap lembayung senja di luar sana.
"Aku sangat merindukan tempat itu, hyung. Nanti jika kondisiku membaik, hyung harus berjanji untuk membawaku kesana, ok?"
Hening. Kris tidak menjawab permintaan Sehun. Tetapi tak lama kemudian, Sehun melihat sang kakak mengangguk pelan mengiyakan permintaannya. Dan karena hal itu pula Sehun kembali terlonjak di atas tempat tidurnya. Ia sangat senang, karena setidaknya Kris kembali menunjukkan kasih sayang padanya.
"Gomawo hyung, aku senang sekali."
Tanpa Sehun sadari, Kris meloloskan setetes air mata dari mata tajamnya. Kris juga merasa sangat bahagia melihat Sehun kembali tersenyum karena hal kecil yang ia lakukan. Juga, tak lupa ia memanjatkan doa agar Sehun kembali membuka matanya esok pagi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Segitu lagi dulu aja yaaa semoga bisa mengobati penasarannya.
Tadinya pengen minggu depan updatenya, cuma karna takut minggu depan sibuk banyak tugas jadi deh hadiah tahun baru ajaa wkwkw
BTW HAPPY NEW YEAR! Semoga harapan di tahun sebelumnya yang belum tercapai bisa tercapai di tahun ini, dan semoga harapan harapan barunya juga cepat terlaksana, aamiin.
jangan lupa review nya yaaa
Thanks juga sama yang udah review di chapter sebelumnya, I really appreciate that ^^
