Baru 4 hari yang lalu Sehun merasakkan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang. Sekarang, ia harus kembali bersedih. Pasalnya, sudah 3 hari ini sang kakak tidak datang ke rumah sakit. Bahkan ia tidak bisa menghubungi kakaknya tersebut.
Sehun yang sejak kemarin merajuk pada suster, kini hanya bisa terdiam di tempat tidurnya. Tangan kirinya begitu pegal. Baru saja suster memasangkan kembali infus yang sempat dilepas kemarin. Sehun kembali melewatkan jam makannya. Ia menolak untuk makan sejak kemarin. Alasannya, apalagi jika bukan karena "Kris hyung tidak menjengukku".
Sekelebat ide muncul di kepalanya. Sehun mengambil ponselnya dan mencari nomor kantor hyungnya.
"Yoboseyo? Apa aku bisa bicara dengan Kris hy… maksudku Tuan Wu?"
"Tuan Wu sudah meninggalkan kantor sejak siang tadi. Saya dengar Tuan dan Nyonya besar Wu sedang berada di Korea sejak kemarin. Apa ada yang bisa saya sampaikan?"
Sehun terdiam beberapa saat sebelum menutup panggilan di handphonenya itu.
"Eomma dan appa di Korea?" ujarnya pelan entah pada siapa. "Mungkin mereka mau menjengukku! Sebaiknya aku memberikan kejutan!"
Tanpa pikir panjang Sehun melepaskan infusnya dengan paksa sehingga membuat darah mengalir dari punggung tangannya. Ia segera mencari plester dan mengganti bajunya. Entah kekuatan dari mana hingga ia bisa turun dan berjalan seperti biasa. Padahal sebelumnya tubuhnya begitu lemas sehingga ia selalu meminta bantuan suster.
.
.
.
Di tempat lain tepatnya di kediaman mewah keluarga Wu. Sepasang suami istri beserta seorang anak tampan tengah duduk bersama di meja makan, menikmati makan siang yang tersaji.
Tak ada obrolan lain selain bisnis yang membuat kepala Kris begitu panas. Ia tengah menahan amarahnya sejak kemarin. Pasalnya orang tua nya datang secara mendadak dan hal yang sejak kemarin dibicarakan mereka hanya bisnis yang akan kembali mereka kembangkan di Korea. Tak ada satu kalimatpun yang membahas tentang keadaan Sehun yang masih terbaring di rumah sakit.
Oleh karena itu ketika mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati sajian teh, Kris berani membuka obrolan tentang Sehun.
"Eomma…. Appa…. Sehun masih di rawat di rumah sakit. Ia selalu menanyakan kalian."
Tak ada tanggapan dari kedua orang tuanya itu. Kris mengepalkan tangannya menahan amarah yang semakin memuncak.
"Ini sudah lebih dari 3 tahun sejak terakhir kali ia bertemu dengan kalian. Bahkan tak sedetikpun kalian menyempatkan waktu untuk berbicara dengannya lewat telepon."
"Kami tak punya waktu banyak, kau tau itu." Jawab sang ibu.
"Kalian masih bisa jalan – jalan berkeliling Eropa beberapa bulan yang lalu, dan itu kau bilang sibuk? Sehun sakit! Sehun butuh kalian!"
"Cukup Kris Wu! Kau yang meminta anak itu untuk masuk ke keluarga kita. Kau juga yang berjanji untuk menjaganya. Kami tidak ada waktu untuk mengurus hal yang tidak penting!" jawab sang ayah tak kalah keras dengan sang anak.
"Anak itu juga anakmu, appa!"
"Dia bukan anak kandung kami! Dia hanya anak adopsi! Dan kau yang bertanggung jawab untuk menjaganya!"
"Tetapi paling tidak sedikit saja kalian…."
"Tuan muda, bagaimana bisa anda berada di sini?" seorang pelayan menginterupsi pertengkaran ayah dan anak itu.
Seketika mata Kris membulat ketika mendapati tubuh kurus adiknya menegang di balik pintu ruangan tersebut. Ia membawa sebuket lili putih kesukaan ibunya dengan tangan yang bergetar.
"Sehun-ah…." Kris kehabisan kata – kata. Mungkinkah Sehun mendengar pertengkaran barusan?
"Ah…. Aku… aku… aku hanya ingin mengucapkan selamat datang pada eomma dan appa." Sehun meletakkan buket bunga tersebut di atas meja di dekatnya. "Maaf telah mengganggu kalian." Sehun membungkuk dan kemudian berlari menjauhi ruangan tersebut.
Kris masih mematung di tempatnya, termasuk kedua orang tuanya. Ketiganya menyimpulkan bahwa Sehun mendengar semua pertengkaran tersebut. Tanpa sadar Kris melangkahkan kakinya untuk menyusul Sehun. Tetapi saat di ambang pintu ruang keluarga tersebut Kris berhenti dan menatap kedua orang tuanya.
"Walaupun Sehun tidak pernah merasakan kehangatan dari kalian, ia tetap sangat menyayangi kalian dan selalu menunggu saat – saat yang tepat untuk menunjukannya. Dan bahkan ia mengingat bunga yang eomma suka, benar begitu eomma?" ujarnya sebelum kembali berusaha menyusul Sehun.
.
.
.
Kris sudah kehabisan akal untuk mencari Sehun kemana lagi. Ia sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari adik kesayangannya itu. Ia juga bahkan ikut mencari sendiri keberadaan adiknya. Tetapi hasilnya nihil.
Sejak tadi jantung Kris berdetak sangat cepat. Ia begitu mengkhawatirkan adiknya. Belum lagi pihak rumah sakit yang menghubunginya dan mengatakan Sehun dalam keadaan yang tidak baik.
"Harus kemana lagi aku mencarimu!" Kris berteriak depresi di tengah sebuah taman bermain di dekat apartement nya.
Ia pikir Sehun akan bersembunyi di apartmentnya. Tetapi nyatanya ia tidak menemukan siapapun di sana. Rambut yang selalu tertata rapih itu kian berantakan setiap kali Kris mengacak rambutnya depresi.
Tetapi sebuah ingatan hinggap di kepalanya yang sudah hampir pecah itu. Ingatan di mana Sehun mengatakan ia ingin ke rumah kecilnya. Rumah kecil yang mereka bangun. Hati kecil Kris yakin Sehun berada di sana. Dengan segera ia memasuki mobilnya dan meluncur ke rumah kecilnya itu.
.
.
.
Air mata itu tidak keluar lagi. Tetapi walaupun begitu, perasaan yang mengganjal di hatinya tetap tidak bisa tersalurkan. Pria berkulit pucat itu tengah meringkuk memeluk lututnya di sebuah bangunan rumah berukuran kecil yang menghadap ke kota Seoul. Sebuah bangunan yang jauh dari keramaian karena berada dalam wilayah pribadi keluarga Wu.
Sejak tadi badannya gemetar. Entah ketakutan mengingat semua ucapan yang memilukan hatinya tadi atau kedinginan karena udara yang semakin dingin. Sehun ingin sekali menghilang saat itu juga. Kenyataan memang terlalu pahit untuk diterima. Apalagi untuk bocah polos seperti Sehun.
"Apa yang harus kulakukan? Bukan sebaiknya kau membawaku saja, Tuhan?" ujarnya di sela – sela kesedihannya.
Tanpa ia sadari seseorang tengah berlari menuju dirinya. Pemuda bertubuh jangkung itu mengenali sosok adiknya dalam sekali tatap.
"Syukurlah Sehun-ah kau berada di sini. Hyung mencarimu kemana – mana."
Sehun terlonjak mendapati sang hyung sudah berada di hadapannya. Ia berusaha mati – matian menuju kemari seorang diri dengan sakit di seluruh tubuhnya demi menghindari orang yang kini telah kembali berada di hadapannya.
"Sehun-ah…" Kris maju selangkah. Hatinya hancur ketika Sehun menolak untuk berdekatan dengannya. "Sehun-ah jangan seperti ini hyung mohon."
"Kenapa hyung selalu membohongiku?" ujarnya dengan air mata yang kembali lolos dari kedua mata indahnya.
"Bukan seperti itu, Sehun-ah."
"Pertama soal penyakitku, dan sekarang… kenapa hyung tidak pernah mengatakan bahwa aku itu anak adopsi?"
"Dengarkan hyung dulu, ya?"
"Pantas saja eomma dan appa tidak pernah mau bermain denganku. Hyung juga kini selalu menghindariku.
"Sehun-ah…."
"Ahh tidak… ini bukan salahmu. Kehidupanku saja yang memang terlalu menyedihkan. Mungkin sebaiknya aku mati sekarang."
Mendengar hal itu, Kris segera menarik Sehun dalam dekapannya.
"Hentikan Sehun-ah, hentikan! Maafkan hyung membuatmu seperti ini. Kau pantas membenci hyung. Tapi kumohon jangan pernah katakan kata – kata terkutuk itu. Kau tau hyung tidak bisa hidup tanpamu!"
Kris menangis sambil mendekap tubuh kecil adiknya. Ia begitu miris ketika merasakan tubuh Sehun yang semakin kurus dari waktu ke waktu.
.
.
.
"Dulu setelah kelahiranku, eomma dan appa memutuskan untuk tidak lagi memiliki anak. Bagi pasangan yang workaholic seperti mereka, memiliki anak lagi adalah suatu hal yang merepotkan. Apalagi mereka sudah dikaruniai anak pertama laki – laki yang dapat meneruskan bisnis mereka. Masa kanak – kanak ku begitu menyedihkan. Aku selalu bermain sendiri di rumah, itulah mengapa aku sangat suka sekolah. Aku selalu merengek pada eomma dan appa untuk memberiku adik kecil yang bisa kuajak main. Dan tak lama kemudian kau datang secara tidak terduga."
.
.
Flashback
.
Suara tangisan kencang seorang bayi bergema di rumah mewah keluarga Wu. Seorang pria kecil terbangun dari tidurnya karena suara tangisan dan petir yang menggelegar di luar. Ia menuju ruang keluarga di mana suara bayi itu berasal. Matanya membulat ketika menemukan seorang bayi di pangkuan pengasuhnya. Ayah dan ibunya tengah kebingungan memperhatikan bayi itu.
"Eomma, appa… apa itu adik kecil untukku?" tanya Kris kecil polos.
"Bukan sayang. Eomma juga tidak tau adik kecil itu berasal dari mana."
Kris tidak memperdulikan perkataan ibunya, ia mendekati bayi kecil yang masih menangis kencang itu.
"Wah…." Ia terperangah melihat bayi itu. "Adik kecil, jangan menangis. Bibi Lee, kenapa ia terus menangis? Dan kenapa adik kecil begitu dingin?"
"Ia tadi kehujanan, Kris-ah. Ini selimut lamamu, adik kecil boleh pinjam kan?"
"Tentu saja! Akan kubawakan selimut kesayanganku juga!"
Saat itulah Kris rasa Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat kecil di kehidupannya.
.
.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah tiga hari tinggal di keluarga Wu, tuan dan nyonya Wu memutuskan untuk mengirim bayi itu ke panti asuhan. Mereka rasa bayi itu bukan tanggung jawab mereka, dan mereka tidak akan bisa mengurus bayi itu. Tentu saja Kris menolak dan terus menangis saat orang dari panti asuhan akan mengambil 'adik'nya.
"Tidak boleh! Adik kecil tidak boleh pergi dari sini!"
"Kris-ah, kau tau eomma dan appa sibuk. Kami tidak akan bisa menjaganya."
"Kalau adik kecil dibawa, aku tidak ada teman bermain lagi! Bibi itu tidak boleh membawa adik kecil!"
"Appa akan membelikanmu mainan yang banyak, bagaimana?"
"Tidak! Kris hanya ingin adik kecil!"
Kedua orang dewasa itu menghela napas, lalu kemudian mereka sedikit menjauh untuk berunding.
"Tuan, nyonya, maaf jika saya lancang. Tetapi tidak ada salahnya anda mengadopsi anak itu, Kris sudah terlalu sayang padanya. Lagipula ada saya yang akan membantu menjaganya. Mungkin Tuhan akan memberikan keberuntungan melalui anak itu."
Tuan Wu mendekati Kris yang masih merajuk.
"Kau janji akan menjaganya?"
"Tentu saja! Dia adikku!"
"Baiklah, dia akan tinggal. Tapi kau harus menjagannya, kau janji?"
"Aku berjanji appa, eomma. Kris akan menjaga Sehun sampai kapanpun!"
"Sehun?" kini nyonya Wu yang heran mendengar nama itu.
"Ya, Sehun. Nama yang bagus kan? Aku ingin menamainya Sehun!"
.
Flashback end
.
.
"Aku sudah berjanji untuk selalu menjagamu, Sehun-ah. Walaupun kau bukan adik kandungku, kau adalah karunia terbesar yang Tuhan titipkan padaku. Kumohon jangan membenciku, atau orang tua kita. Kau tidak salah, tidak ada yang salah, ini hanya sebuah rahasia yang terbongkar. Rahasia yang bahkan kuharap tidak pernah ada. Kau mengerti kan Sehun….. Astaga Sehun-ah!"
Kris mendapati Sehun tengah menahan rasa sakitnya. Napasnya memburu dengan sangat cepat, belum lagi darah yang mengalir dari kedua hidungnya.
"Sehun-ah!" Kris mencoba menyadarkan Sehun yang hampir menutup matanya. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
Rasanya Sehun ingin memberontak dan membiarkan dirinya dalam rasa sakit yang tidak pernah berhenti itu. Tetapi tubuhnya sulit untuk digerakkan. Bahkan matanya terasa sangat berat. Ia hanya bisa pasrah ketika Kris memindahkannya ke punggung dan berlari menuju mobil. Ia merasakan kehangatan di tubuhnya saat Kris menyelimutinya, dan kemudian matanya terpejam.
.
.
.
Pria tampan itu kini hanya bisa berdoa dengan perasaan kalut di depan ruangan tempat adiknya mendapatkan pertolongan. Sudah lewat dari 30 menit dan sang dokter belum juga keluar. Ia masih ingat bagaimana keadaan Sehun sebelum ia bawa kemari.
"Aku bodoh, Sehun-ah, maafkan aku."
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu dan langsung menghampiri Kris yang nampak frustasi.
"Ada apa dengannya? Kondisinya sangat menurun. Dan kau kemana saja 4 hari ini? Kau tau Sehun tidak akan mau makan jika kau tidak menjenguknya. Bahkan ia melewatkan jadwal terapinya kemarin. Kris kau tau kondisinya makin parah dari waktu ke waktu. Hal kecil saja dapat membahayakannya."
Kris terpaku melihat dokter separuh baya yang sudah merawat Sehun dari awal menceramahinya. Ia sadar ia salah. Ia bahkan membiarkan Sehun menyiksa dirinya sendiri.
"Mianhae, uisa-nim." Kris tidak tau lagi apa yang harus dikatakannya.
"Tidak perlu meminta maaf padaku. Masuklah, Sehun masih tidur. Dan jangan membebani pikirannya, Kris." Sang dokter menepuk pundak Kris pelan lalu berlalu di hadapannya.
Dengan langkah yang berat Kris mulai memasuki ruangan yang sudah familiar itu. Sehun tertidur nyaman di atas tempat tidurnya. Napasnya terdengar stabil dibalik masker oksigennya. Wajahnya yang walaupun terlihat pucat masih terlihat tampan. Kris memperhatikan wajah adiknya sendu.
"Hyung menyakitimu, huh? Hyung melanggar janji hyung sendiri, maafkan aku ya Sehun?"
Sehun masih tidak bergeming. Kris kembali menangis di samping Sehun sampai tanpa sadar ia tertidur.
.
.
.
Keesokan harinya saat Kris terbangun ia panik ketika tidak mendapati Sehun berada di ranjangnya. Tetapi akhirnya ia tenang saat menyadari adik kesayangannya itu tengah berdiri menatap ke luar jendela.
"Sehun-ah, syukurlah kau baik - baik saja." Ujar Kris mendekati Sehun yang tidak bergeming di tempatnya. "Sehun?"
Kris mendapati Sehun tengah kembali menangis dalam diamnya.
"Hyung…. apa aku harus pergi saja dari rumah? Aku juga tidak ingin merepotkanmu lagi."
"Kau bicara apa? Jangan pernah berpikiran seperti itu! Sudah, lebih baik kita lupakan kejadian kemarin. Kau tidak perlu memikirkan apapun."
"Tapi hyung…."
"Ayo kembali ke tempat tidurmu! Hyung tidak mau kau berbicara dan berpikiran macam – macam lagi, ara?" Kris mulai terdengar tidak sabar sehingga membuat Sehun sedikit takut.
Sehun dengan malas kembali ke tempat tidur dan langsung bersembunyi di balik selimutnya.
"Sehun-ah, sebenarnya hyung ingin menemanimu hari ini. Tapi hyung ada rapat penting. Kau berjanji akan baik – baik saja kan?" sampai beberapa detik kemudian Kris tidak mendapat jawaban dari Sehun. "Hyung simpulkan diam itu sebagai jawaban iya. Hyung mohon kau jangan melakukan tindakan yang bisa membuat hyung gila. Dan juga, hyung sudah meminta penjaga untuk berjaga di depan pintu kamarmu, antisipasi jika kau akan kabur lagi. Hyung pergi, Sehun-ah."
.
.
.
TBC
.
.
.
Early update wkwkkwkw
Tadinya mau update weekend ini, tapi mumpung ada waktu jadi sekalian aja deh wkwk
gimana? udah panjangan kan sekarang? wkwkw yang kemaren itu emang sengaja dibikin pendek pendek buat warming up, yaa semoga aja memuaskan yang sekarang wkwkwk
BTW ada yang nanya aku pernah bikin ff hunhan sama hunkai brothership di tempat lain, iyaa itu blog aku sebelum akhirnya pindah kesini ( .com)
Buat update yang sekarang segini dulu aja yaaa sampai menunggu chapter selanjutnyaa, semoga ga bosen wkwkwk
makasih yang udah review di chapter kemareen makasih banyaak
jangan lupa review nya juga yaa di chapter ini ^^
many thanks...
