Sehun merasakan sakit yang teramat sangat timbul dari perutnya. Ia meringis menahan sakit di atas ranjang rumah sakitnya. Sesuatu seperti memaksa keluar dari tenggorokannya dan akhirnya Sehun muntah di atas ranjangnya. Bukan muntah makanan, tetapi darah. Tubuhnya bergetar seketika mendapati darah yang mengotori selimut dan pakaiannya. Sehun tidak peduli, kini tubuhnya bagai ditusuk ribuan anak panah.
"Sehun!" seorang wanita paruh baya baru saja masuk ke ruangan tersebut dan mendapati keadaan Sehun yang mengenaskan.
"Eomma…." Ujar Sehun di tengah sakitnya.
"Ada apa denganmu?" ujar wanita itu mendekat.
Lagi, Sehun tak kuasa untuk menahan muntahan darah yang keluar dari mulutnya.
"Pergilah eomma! Ini menjijikan!" Sehun menghabiskan seluruh tenaganya dengan berteriak pada eommanya, kemudian kembali terbatuk hebat.
"Tenanglah! Eomma akan memanggil dokter." Wanita itu memencet tombol di dekat ranjang Sehun kemudian kembali pada Sehun yang masih bergelut dengan sakitnya.
Ini pertama kalinya ia melihat kejadian seperti ini. Tak aneh jika wanita itu ikut gemetar melihat anaknya yang terlihat begitu tersiksa.
"Sehun-ah, tetaplah bersamaku."
Sehun tidak mendengarnya. Rasa sakitnya telah melumpuhkan pendengaran dan pandangannya. Yang terdengar hanya bunyi melengking hingga ia tidak dapat mendengar apapun.
Tak lama kemudian seorang dokter serta beberapa suster segera mengambil alih Sehun. Sebisa mungkin mereka membuat Sehun yang diambang kesadarannya tetap sadar dan mendengarkan mereka. Tanpa sadar wanita yang sedari tadi melihat penderitaan Sehun dibawa keluar oleh seorang pria yang diyakini sebagai suaminya. Ia terlihat terpukul melihat bagaimana Sehun begitu tersiksa dengan penyakitnya.
.
.
.
"Sedang apa kalian di sini?!" Kris murka mendapati kedua orang tuanya tengah duduk di depan ruang rawat Sehun. Kris yang sedari tadi berada di kantor segera meninggalkan pekerjaannya demi sang adik yang tengah kembali dalam keadaan kritis.
"Kris-ah, kami sudah berpikir semalam. Mungkin kami salah telah mengabaikan Sehun. Ia juga bagian dalam keluarga ini." Pria gagah yang tengah duduk di samping istrinya yang menangis menjawab pertanyaan Kris dengan tenang.
"Huh? Sadar? Selama 17 tahun dia tumbuh di keluarga kita dan kalian baru sadar?"
"Kami tau kami salah. Kami minta maaf."
"Maaf? Setelah keadaan Sehun seperti ini kalian baru datang dan meminta maaf? Sehun sudah menderita sangat lama! Bahkan tanpa penyakit inipun hidupnya menderita karena kalian tidak pernah mengasihinya! Sehun haus kasih sayang dari kalian tapi dia tidak pernah menuntut. Dan sekarang kalian menuntut maaf darinya? Orang tua macam apa kalian?!" Kris berteriak kalut.
"Cukup! Ayah sudah meminta maaf! Ayah dan ibu bahkan meninggalkan pekerjaan penting demi meminta maaf padanya! Kami menyesal, Kris! Jangan membuat ayah marah!"
"Sudahlah, sayang…. Kris kemarilah." Ibunya yang tengah menangis memanggil Kris memohon.
Seberapa marahpun ia, ibunya tetaplah ibunya, Kris tidak pernah bisa menolak permintaan ibunya yang ia sayangi itu.
"Maafkan eomma dan appa, ya? Kami sangat menyesal. Kami sadar bahwa Sehun begitu menyayangi kami berdua. Kami hanya takut jika kami terlalu dekat dengan Sehun, kami akan menorehkannya luka yang sama seperti yang kami lakukan padamu. Itulah mengapa eomma dan appa tidak pernah mau punya anak lagi. Kami sadar bahwa Sehun merupakan malaikat bagimu. Kami juga ingin berbagi kebahagiaan kami dengannya. Membagi kasih sayang kami padanya. Kau mau kan memaafkan eomma dan appa?"
Kris hanya terdiam mendengar perkataan sang ibu. Jauh dalam hatinya, ia begitu senang ketika akhirnya sang ibu dan ayah sadar akan kehadiran Sehun.
"Eomma tau ini terlambat, tapi tak ada salahnya jika keluarga kita memulai segalanya dari awal. Eomma tau kau menghawatirkan Sehun, eomma dan appa juga menghawatirkannya. Apalagi setelah eomma melihatnya kesakitan seperti tadi. Eomma tidak bisa membayangkan apa yang telah dilaluinya selama ini."
"Dia begitu tersiksa, eomma. Walaupun dia nakal, aku sangat menyayanginya."
"Eomma tau. Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu menyayangi Sehun."
Keluarga itu duduk menunggu hasil pemeriksaan dengan perasaan yang lebih tenang. Masing – masing dari mereka memanjatkan doa demi keselamatan Sehun.
.
.
.
Sang ibu terlihat terlelap di atas sofa dengan selimut yang melindungi tubuhnya. Ia menolak untuk pulang setelah mendengar keadaan Sehun yang kian memburuk dan dinyatakan koma. Kris juga terlelap dengan posisi duduk yang kurang nyaman. Hanya sang ayah yang masih terjaga dan menatap anak keduanya yang masih betah bermimpi.
"Sehun-ah, walaupun appa tidak pernah menghabiskan waktu denganmu selama ini, izinkan appa dan eomma untuk mengukir kebahagiaan di hidupmu. Jadi, cepatlah bangun agar kita bisa bermain bersama." Ujarnya seraya mengusap rambut Sehun perlahan.
.
.
.
Kris kembali meninggalkan setumpuk pekerjaannya ketika mendengar kabar bahwa Sehun sudah siuman. Setelah tiga hari, akhirnya adik kesayangannya itu bangun dari tidurnya. Kris tidak dapat mengutarakan bagaimana perasaannya yang mendadak menjadi begitu ringan mendengar hal itu. Tanpa ia sadari kini ia tengah berada di depan pintu ruangan Sehun. Entah mengapa perasaan lega itu tiba – tiba saja menghilang, digantikan oleh rasa takut. Ia takut Sehun akan membencinya. Tapi dengan sedikit keberanian ia akhirnya membuka pintu itu.
Kris melihat kedua orang tuanya masih di sana. Mereka tengah berbicara dengan Sehun yang masih terbaring lemah dengan alat – alat medis yang masih menempel di tubuhnya. Ketiganya menyadari Kris datang.
"Bicaralah padanya." Ujar sang ibu yang kemudian keluar ruangan tersebut disusul sang suami.
Kris memberanikan diri mendekati Sehun. Ia menatap adiknya yang juga menatap dirinya dengan mata sayunya itu.
"Bagaimana perasaanmu, hm? Kenapa membuat hyung khawatir? Apa mimpimu begitu indah?"
Sehun tersenyum, dan itu membuat Kris lega. Adiknya tidak membencinya.
"Maaf, hyung…." jawabnya lemah.
"Tidak, jangan meminta maaf. Hyung tidak mau mendengar maafmu. Yang terpenting sekarang kau sadar."
"Hyung aku senang…."
"Hm?"
"Aku senang karena hyung kembali seperti semula. Hyung tidak membenciku lagi kan?"
"Hyung tidak pernah membencimu, Sehun-ah. Hanya saja….."
"Tidak apa – apa, aku mengerti. Aku nakal kan?" Kris hanya tersenyum mendengar respon Sehun. "Hyung aku lelah…."
"Tidurlah, hyung akan di sini."
Sehun kemudian menutup matanya kembali. Sedangkan Kris hanya duduk diam di sampingnya. Menatap wajah Sehun yang terlihat damai dalam tidurnya.
"Hyung tidak ingin kehilanganmu, percayalah."
.
.
.
"Apa? Vancouver? Kenapa?" Kris terkejut mendengar pernyataan ibu dan ayahnya yang akan membawa Sehun ke Vancouver, tempat tinggal kedua orang tuanya.
"Pengobatan di sana lebih baik, Kris. Lagipula, eomma dan appa ingin memperbaiki hubungan kami dengan Sehun."
"Tapi kondisinya belum membaik untuk bepergian jauh! Dan bagaimana denganku?"
"Kita bisa menunggu. Tapi kau harus tetap menyelesaikan pekerjaanmu di sini. Kudengar kantormu sedang sangat sibuk." Ujar sang ayah.
"Aku tidak bisa jauh dari Sehun!"
"Kau bisa menyusulnya nanti, Kris. Ambilah liburan setelah kau membereskan pekerjaanmu. Kau juga ingin kami lebih dekat dengan Sehun, bukan?" Kini sang ibu yang berbicara.
Kris terdiam memikirkan perkataan sang ibu. Ibunya benar, ini adalah kesempatan baik untuk memperbaiki hubungan keluarga mereka.
"Apa jawaban Sehun?"
Sang ibu menghela napas mendengar pertanyaan itu.
"Sehun belum menjawabnya."
"Aku akan mengizinkan kalian membawa Sehun, tapi setelah aku mendengar Sehun mengatakan ya."
.
.
.
Kris tengah menyuapi makan malam Sehun. Tetapi yang disuapi malah sibuk memindah – mindahkan channel TV.
"Ya! Sehun-ah makan yang benar! Kenapa susah sekali menyuapimu." Kris menggerutu.
"Aku sudah kenyang, hyung. Buburnya pahit!" Sehun sudah kembali merajuk kali ini.
"Kau sedang sakit, jelas saja pahit. Ayo habiskan!"
"Pahiiiiit! Tidak mau! Aku ingin coklat!"
"Jika sudah baikan hyung akan belikan sebanyak apapun. Sekarang habiskan dulu makan malammu!"
"Tidaaak!"
"Sehun Wu!"
Perdebatan kakak adik itu tidak ada habisnya. Sehun begitu keras kepala. Akhirnya Krispun menyerah dan menaruh mangkuk bubur yang masih bersisa itu di meja. Ia pun akhirnya mengikuti Sehun menonton TV.
"Sehun-ah..."
"Hyung-ah..."
"Aish!"
"Waae?"
"Kau akan ikut eomma dan appa ke Vancouver?"
Sehun terdiam mendengar pertanyaan Kris. Kemudian ia menatap wajah tampan sang kakak yang masih menatap ke arah TV. Rupanya Kris terlalu takut mendengar jawaban Sehun.
"Waeyo?" tanya Sehun penasaran.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku... aku hanya penasaran dengan jawabanmu."
"Apa hyung tidak ingin aku pergi?"
Kini Kris yang menatap adiknya.
"Ini kesempatanmu untuk mengganti seluruh waktu yang telah eomma dan appa sia – siakan, Sehun-ah. Walaupun aku tidak begitu percaya bahwa dengan setumpuk pekerjaan mereka, mereka tetap bisa merawatmu."
"Lalu bagaimana dengan hyung?"
"Aku pasti akan menyusulmu ketika pekerjaanku selesai."
Sehun menunduk dan mentautkan jari tangannya satu sama lain. Ia tengah kebingungan dengan semua ini.
"Ada yang mengganggumu?" Kris merasakan kegundahan hati Sehun.
"Tidak, hanya saja... aku belum terbiasa untuk tinggal bersama eomma dan appa, apalagi tinggal jauh darimu. Apa eomma dan appa tidak akan membenciku lagi?"
"Mereka tidak pernah membencimu, Sehun-ah. Berhentilah berpikiran seperti itu! Mereka hanya baru saja sadar tentang hadirmu di kehidupan mereka."
Sehun masih saja terdiam.
"Kau tau hyung akan melakukan apapun demi membuat keadaanmu membaik. Termasuk merelakanmu pergi ke Vancouver. Eomma dan appa telah menyiapkan semuanya, termasuk waktu yang mereka miliki. Kau hanya perlu percaya dan semua akan baik – baik saja."
"Berjanjilah satu hal padaku, hyung. Aku tidak ingin hyung menutupi satu halpun dariku lagi. Janji?" Sehun menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Kris.
"Janji." Kris pun dengan mantap menyetujui permintaan Sehun. "Jadi... kau akan pergi?"
"Seperti yang hyung minta."
.
.
.
Sehun terlihat tengah membereskan barang – barangnya. Sejak tiga hari yang lalu kondisinya dinyatakan membaik dan bisa pergi ke Vancouver. Tanpa membuang waktu lagi, Tuan dan Nyonya Wu segera mempersiapkan semuanya. Sehunpun akhirnya akan meninggalkan Korea besok pagi.
Ia menatap berkeliling suasana kamarnya. Kamar yang sudah lama sekali tidak ia tempati sejak pindah bersama Kris ke apartment. Tak banyak memori yang ia ingat di kamar tersebut. Satu – satunya yang tidak pernah ia lupa adalah ketika Kris mengajaknya untuk pindah ke sebuah apartment dan meninggalkan rumah yang selalu sepi itu.
Tanpa sadar pintu kamar terbuka. Nyonya Wu memperhatikan anaknya yang kini terdiam di ujung tempat tidurnya. Dikelilingi oleh koper dan tas yang siap dibawa pergi jauh.
"Kau belum tidur, Sehun-ah? Besok kita pergi pagi sekali." Ujarnya di sebelah Sehun.
"Hyung belum datang?"
Sang ibu menggeleng, "Sepertinya hyungmu akan tidur di apartment malam ini. Ia menitipkan ucapan selamat tinggal pada eomma tadi."
"Eomma... boleh aku tidur di apartment bersama hyung malam ini?" ujarnya dengan wajah penuh harap.
"Tapi besok kita harus pergi pagi sekali."
"Kumohon... aku tidak akan bertemu hyung untuk waktu yang lama."
Sang ibupun tersenyum mengingat kedekatan kedua anaknya itu, "baiklah, tapi besok pagi eomma dan appa akan segera menjemputmu, ok?"
"Eumh!"
.
.
.
Sehun memasuki kamar tidur sang kakak yang bernuansa abu terang. Sang kakak terlihat tengah menatap suasana malam kota Seoul yang dihiasi oleh lampu – lampu. Ia tidak sadar bahwa kini adiknya tengah berada di belakangnya sampai ia melihat bayangan Sehun di kaca.
"Sehun-ah? Bukankah kau besok pergi pagi sekali? Sedang apa di sini?"
"Eomma mengizinkanku untuk menginap di sini. Bolehkan hyung?"
Kris menuntun adiknya untuk tidur di kasur yang berukurang king size tersebut. Iapun menyelimuti Sehun dengan sayang. Kris menyadari ketakutan di mata Sehun.
"Tenanglah, semua akan baik – baik saja. Kau akan baik – baik saja."
"Hyung juga akan baik – baik saja?"
"Tentu saja."
"Hyung akan menjengukku kan?"
"Setelah semua pekerjaanku selesai, aku akan langsung terbang menemuimu. Sekarang kau tidur. Kau harus banyak istirahat."
"Selamat malam, hyung."
"Selamat malam, Sehun-ah."
Malam itu kakak beradik tersebut tertidur bersama. Menghabiskan malam terakhir sebelum keduanya dipisahkan oleh jarak keesokan harinya. Kris memeluk Sehun yang sudah terlihat damai dalam tidurnya. Ia memandangi adiknya dengan tatapan sedih. Berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Terutama kesehatan adiknya yang amat disayanginya.
.
.
.
Pagi harinya Kris menemukan sosok yang dipeluknya malam tadi sudah tidak berada di tempatnya. Rupanya ia terlambat bangun dan tidak sempat mengantarkan Sehun ke bandara. Kris menemukan sebuah note di atas meja kerjanya.
Hyung aku pergi. Jaga dirimu baik – baik.
Sehun
p.s Eomma membawakanmu makanan, jadi habiskanlah!
Kris tersenyum menemukan pesan itu. Ia rasa kini adiknya sudah berada di dalam pesawat, mengingat kini waktu sudah menunjukan pukul 10. Belum apa – apa ia sudah merindukan adiknya yang nakal itu.
.
.
.
Sehun menatap keluar jendela selama perjalanan. Menatap kota yang akan ditinggalinya entah untuk berapa lama. Lampu – lampu yang menyala sepanjang jalan yang dipenuhi oleh guguran daun – daun tanda penghujung musim gugur. Itu berarti musim dingin sudah ada di depan mata. Ia selalu suka melihat salju pertama turun bersama Kris. Tetapi kini ia hanya berharap sang kakak dapat datang tepat waktu saat salju pertama turun.
"Sehun-ah, ayo turun!" tanpa sadar ia sudah sampai di rumah orang tuanya.
Sehun menatap bangunan besar di hadapannya. Rumah bergaya Eropa itu hampir sama besarnya dengan rumahnya yang di Korea. Bedanya di sini ia tinggal bersama kedua orang tuanya, tidak di apartment bersama sang kakak.
Sang ibu menuntunnya masuk diikuti sang ayah. Sehun merasa sedikit kedinginan mengingat suhu yang semakin menurun menyambut musim dingin. Ia mengeratkan jaket yang dipakainya.
"Kau kedinginan?" tanya sang ibu.
"Sedikit, eomma."
"Ayo, kurasa mereka sudah membereskan kamarmu." Sang ibu mengantarkan Sehun ke kamarnya.
Sehun terpesona dengan kemegahan rumah kedua orang tuanya ini. Walaupun dari luar tampak seperti kastil, tetapi interiornya begitu modern. Kamarnya bernuansa putih dan biru, seperti kamar anak lelaki pada umumnya.
"Maaf jika kau tidak menyukai kamarnya, kami masih bingung apa yang kau sukai."
"Aku suka, eomma appa! Terimakasih!" jawab Sehun dengan senyuman lebar khasnya.
"Syukurlah. Lebih baik kau istirahat, ini hampir pagi kau pasti lelah."
Sehun akhirnya menutup pintu kamar barunya setelah mengucapkan selamat istirahat kepada kedua orang tuanya. Ia berjalan ke arah jendela yang langsung mengarah ke halaman depan yang luas. Ia tersenyum bahagia, karena akhirnya ia bisa bersama kedua orangtuanya walaupun sang kakak belum bisa bergabung.
Sampai saatnya ia merasakan kantuk yang teramat sangat, akhirnya Sehun menyerah dan merebahkan tubuhnya. Tak berapa lama kemudian ia sudah tertidur lelap.
.
.
.
TBC
.
.
.
hohoho update tengah malem lagi wwkwkk
baru beres ngerjain tugas langsung update wkwkwk
ga lama kan? masih pada nungguin kan?
tadinya mau dinanti nanti sih takutnya bosen, cuma yaaa gimanaa ceritanya udah nanggung di lanjut wkwkwk sebelum minggu depan aku uas
jangan bosen yaaaa bentar lagi beres ko kayanyaa
makasih banyak yang udah review di chap sebelumnyaa
jangan pada lupa review juga ya di chapt ini
.
.
(p.s) buat yang kemaren nanya ff kaihun yang di blog judulnya Our Dreams ( 2013/07/15/oneshot-our-dream/)
THANKS SEMUANYA KISSEU :****
