.
Hari – hari berikutnya Sehun semakin memperlebar senyum di bibirnya. Pasalnya sang ibu yang selalu didengarnya sebagai seseorang yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya barang sedetik kini membawa semua pekerjaan itu ke rumah.
"Agar eomma bisa menjagamu, Sehun-ah." Jawabnya ketika Sehun bertanya.
Alhasil hampir setiap hari Sehun bertemu dengan model – model cantik yang akan menampilkan koleksi busana sang ibu di fashion show nanti.
Sedangkan sang ayah yang memang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di kantor, kini tidak pernah terlambat untuk makan malam. Ia selalu pulang tepat waktu. Ia bahkan hampir selalu membawakan sesuatu untuk Sehun ketika ia pulang kerja. Alasannya, tentu saja karena sang ayah tidak memberikannya cukup perhatian selama ini.
"Eumh, eomma dan appa sangat perhatian padaku, hyung. Aku baik – baik saja kau tidak usah khawatir."
"Kau sudah meminum obatmu?"
"Sudah, tenanglah kau semakin cerewet ketika aku tidak ada."
"Ya! Bagaimanapun juga aku tetap mengkhawatirkanmu!"
"Yang harusnya dikhawatirkan itu kau, hyung! Hyung kan tinggal sendiri. Jangan melakukan hal – hal yang bodoh, ok?"
"Aku tidak bodoh seperti dirimu, Sehun Wu!"
"Aku juga tidak bodoh, hyung!"
Diam kemudian menginterupsi percakapan keduanya untuk beberapa saat.
"Hyung..."
"Hmm?"
"Besok pengobatan pertamaku di sini."
"Tenanglah, ada eomma dan appa bersamamu."
"Tapi aku benci semua dokter yang berbicara istilah kedokteran dalam bahasa Inggris. Aku tidak mengerti."
"Pfft... ya! Kau hanya perlu mengikuti prosedur, tidak usah dimengerti perkataan mereka. Aku baru tau bahasa Inggrismu seburuk itu."
"Bahasa Inggris ku tidak buruk hyung! Ini masalah istilah kedokteran!"
"Baiklah... baiklah... kau akan baik – baik saja! Percayalah..." Kris mengerti sang adik tengah merajuk.
"Hmm..."
"Tidurlah... di sana sudah malam bukan? Hyung masih banyak pekerjaan."
"Iya, aku tidur. Good night, hyung."
"Good night, Sehun-ah."
Sehun memutuskan sambungan telepon, lalu ia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya yang berantakan. Dan ia pun menatap ke arah langit gelap yang dihiasi bintang, melayangkan jauh pikirannya ke arah langit yang luas. Bukan... bukan dokter – dokter itu yang ditakutinya. Ia hanya takut jika ia tidak bisa bertahan saat Kris tidak ada di sampingnya.
"Aku merindukanmu, hyung."
.
.
.
Pintu masuk keluarga Wu terbuka lebar menyambut seorang pria yang baru saja datang. Pria itu datang dengan mengenakan jaket kulit serta syal berwarna merah. Ia berjalan dengan santainya memasuki rumah yang sudah bertahun – tahun tidak ia singgahi. Ia pun menatap berkeliling, mencoba menyatukan potongan – potongan kecil masa kecilnya di rumah itu.
"Kris, kau sudah datang!" sang ibu menyambut anak sulungnya dengan wajah bahagia. Tak lupa ia menghadiahkan sebuah pelukan rindu pada sang anak yang tingginya jauh melampaui dirinya.
"Akhirnya aku bisa terbebas dari pekerjaanku." Kris membanggakan dirinya. "Di mana Sehun?"
"Ia sedang istirahat di kamarnya. Jangan coba – coba kau bangunkan dia! Ia hampir tidak tidur tadi malam."
"Ne, eomma." Tapi nyatanya setelah mengatakan itu Kris tidak juga beranjak dari hadapan ibunya.
"Kenapa? Eomma pikir kau merindukannya."
"Eomma, aku juga merindukanmu..." Kris kembali memeluk ibunya erat. Betapa rindunya ia memeluk ibunya seperti sekarang. Ia senang akhirnya sang ibu sudah berubah.
"Aish, anak eomma sudah besar. Ayo sana kau juga harus istirahat."
"Iya..."
Kris menapaki tangga menuju lantai dua rumah tersebut. Kemudian ia langsung mengarah menuju pintu yang ia yakini sebagai kamar adiknya. Tanpa mengetuk, Kris membuka pintu dihadapannya perlahan.
Ia menemukan sang adik tengah berbaring di atas kasurnya yang nyaman. Tertidur damai di balik selimut yang menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Kris duduk di sampingnya tanpa mengeluarkan suara, tak ingin mengganggu sang adik yang tengah beristirahat.
Sudah dua bulan mereka berpisah, tak heran jika Kris sangat merindukan adiknya tersebut. Tapi kemudian ia merasa sedih ketika menyadari adiknya yang semakin kurus dari waktu ke waktu. Wajahnya semakin pucat dan juga pipinya semakin tirus, jangan lewatkan lingkaran hitam dibawah matanya. Ia sadar adiknya sedang melewati masa – masa tersulitnya.
Kris ingat percakapan dengan ayahnya seminggu yang lalu. Ayahnya mengatakan bahwa keadaan Sehun semakin memburuk dari waktu ke waktu. Walaupun segala pengobatan dan alat yang canggih telah tersedia, keadaan Sehun tidak kian membaik. Hanya saja, sekarang semangat hidup Sehun lebih tinggi daripada sebelumnya. Ini semua berkat keluarga yang memeluknya erat.
Ayahnya bahkan mengatakan serangan – serangan penyakit Sehun semakin sering terjadi. Bahkan tak jarang ia mengeluhkan linu di punggung dan seluruh tubuhnya yang membuatnya tak bisa tidur hampir semalaman. Kris sadar kepindahan Sehun ke Vancouver tidak membuat keadaannya lebih baik. Tetapi setidaknya, hal ini membuat keadaan keluarganya lebih baik. Mereka menjadi lebih dekat satu sama lain.
Tanpa Kris sadari matanya yang terasa berat itu mulai menutup perlahan. Membawanya ke alam mimpi di samping adiknya yang masih terlelap.
.
.
.
"Hyung... hyung..." suara parau Sehun membangunkan Kris yang tengah tertidur di sampingnya. "Hyung sudah berada di sini!" ujarnya girang.
"Sehun-ah..." jawab Kris masih setengah sadar.
"Hyung!" Sehun lagi – lagi mempertontonkan gigi putihnya. Hal itu otomatis membuat Kris tersenyum walaupun dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Tidurmu nyenyak?" tanya Kris dengan suara khas bangun tidur.
"Eumh! Tapi aku lebih senang karena terbangun dan melihatmu berada di sini!"
"Hyung juga... jadi biarkan hyung tidur 15 menit lagi, ok?" tanpa persetujuan Sehun, Kris kembali menutup matanya.
Sang adik hendak membuka mulutnya untuk protes, tetapi ia sadar bahwa kakaknya pasti sangat lelah setelah perjalanan panjang. Ia sadar sang kakak butuh waktu untuk beristirahat. Setidaknya kini rasa rindunya pada sang kakak sedikit terobati.
.
.
.
Seluruh anggota keluarga Wu akhirnya berkumpul di meja makan. Mereka mengobrol dan tertawa bersama tanpa adanya rasa canggung lagi.
Kris makan paling lahap malam itu. Sudah lama sekali saat terakhir kalinya Kris merasakan masakan sang ibu.
"Hyung! Pelan – pelan! Kau tidak akan kehabisan makanan." Protes Sehun yang sedikit aneh melihat cara sang kakak makan.
"Ya! Aku lapar!" mungkin begitulah maksud Kris yang mulutnya dipenuhi oleh makanan.
Sang ibu dan sang ayah hanya tertawa melihat kelakuan anak sulung mereka. Kini mereka sadar, mereka terlalu lama meninggalkan Kris sampai tidak sadar anak sulungnya sudah tumbuh besar sekarang. Tetapi kemudian fokus sang ibu terpecah ketika melihat Sehun yang telah menyimpan sumpitnya di sebelah mangkuk nasi. Bahkan nasi di hadapannya hanya berkurang sedikit.
"Sehun-ah, kau tidak menghabiskan makananmu?" tanya sang ibu pada Sehun yang tengah asik mentertawakan sang kakak.
"Engg... aku sudah kenyang eomma." Jawabnya ragu karena ketauan kembali menyisakan makanan.
"Bagaimana bisa kenyang, bahkan nasimu hanya berkurang sedikit. Ayo habiskan!"
"Sebenarnya perutku sedang tidak enak, aku takut muntah."
"Tak apa, setidaknya ada makanan yang masuk ke dalam perutmu."
"Taaa..." perkataan Sehun tiba – tiba saja terpotong karena tiba – tiba saja Kris memasukan potongan daging ke dalam mulut Sehun.
"Makan yang banyak, dan jangan banyak merajuk!" ujar Kris.
"Hwuuungg!" protes Sehun dengan mulut dipenuhi daging.
.
.
.
"Hyung, kapan salju akan turun?" tanya Sehun ketika kakak beradik itu tengah menikmati dinginnya udara ditemani bintang – bintang.
"Entahlah, mungkin beberapa hari lagi."
"Aku ingin melihat salju pertama. Kuharap aku tidak sedang tertidur."
"Jika kau tertidur, akan ku bangunkan."
Sehun tersenyum kecut. Ia yakin sang kakak mengerti maksud dari kata tertidur yang ia ucapkan.
"Aku senang hyung di sini. Akhirnya aku merasakan sebuah keluarga yang utuh dan penuh kehangatan. Terimakasih hyung telah membawaku masuk ke dalam keluarga ini."
"Jangan mengatakan hal itu, Sehun-ah. Aku tidak peduli masa lalu kita. Aku akan melupakannya dan sebaiknya kau juga begitu. Karena memang seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Mungkin aku tidak bisa merasakan masakan seperti makan malam tadi jika kau tidak ada. Sudah kubilang, kau itu hadiah Tuhan yang paling berharga untukku."
Sehun tersenyum mendengar perkataan Kris. Sebenarnya ia merasa sedikit geli ketika sang kakak berkata manis seperti itu. Sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang terkesan dingin dan angkuh.
"Ya! Kau mentertawakanku?" Kris langsung menyerang Sehun, menggelitiki titik – titik geli di tubuhnya.
"Hahahahha tidak hyuuuuuuungg...hahahahha..."
"Rasakan iniiii..." Kris terus menggelitiki Sehun tanpa ampun.
Tetapi kemudian...
"Ugh... hyung..." Sehun kemudian memegang punggungnya yang mulai terasa sakit.
Seketika Kris menegang memandang panik sang adik.
"Kenapa? Ada apa Sehun-ah? Punggungmu sakit?"
"Hanya sedikit, sudah biasa." Jawab Sehun dengan ringisan di wajahnya.
"Apa perlu kita ke rumah sakit?"
"Aish kau berlebihan. Ini hanya sakit punggung, bukan apa – apa."
"Tapi..."
"Aku hanya butuh istirahat, hyung. Ayo lebih baik kita kembali ke dalam."
Kris kemudian bersiap di hadapan Sehun.
"Kau sedang apa, hyung?"
"Ayo naik ke punggungku!"
"Aish! Aku bukan anak kecil lagi!"
"Cepat, cerewet! Jika tidak kau kutinggalkan di sini!"
Sehun yang walaupun terdengar menolak tetapi kegirangan ketika menaiki punggung Kris. Ia memeluk nyaman kakaknya itu.
"Ya! Bagaimana bisa adikku seringan ini! Sudah kubilang kau harus banyak makan, cerewet!"
"Hyuuung... berhenti memanggilku cerewet!"
Kris tidak menjawab, ia tiba – tiba merasa sedih. Kris merasakan Sehun mempererat pelukannya. Iapun berjalan sedikit pelan, agar Sehun bisa tertidur nyaman di punggungnya. Ketika memasuki rumah, ia melihat sang ayah tengah duduk di depan perapian dengan secangkir teh di tangan.
"Apakah ia tertidur?" tanya Kris memastikan.
Sang ayah mengangguk dan kemudian mendekati mereka berdua. Ia mengelus pelan kepala Sehun, memastikan sang anak aman.
"Ia mengeluh sakit lagi?" tanyanya.
"Tadi ia sempat mengeluhkannya, tapi kemudian tertidur."
"Baguslah, kau juga beristirahatlah, Kris."
"Iya, appa." Kris mulai kembali melangkahkan kakinya.
"Kris."
"Ya?"
"Selamat datang."
Kris tersenyum mendengar sambutan sang ayah. Banyak perubahan dengan hadirnya Sehun di keluarga ini. Walaupun perubahan itu datang setelah bertahun – tahun lamanya dan dengan perjuangan yang sangat besar. Semua perjuangan itu akhirnya terbayar sekarang.
.
.
.
"Hyung... banguuunn... hyung!" Sehun berusaha membangunkan Kris dengan menggoncang – goncangkan tubuhnya.
"Emmhh... Sehun-ah ini hari Minggu!"
"Ayo hyung bangun! Lihat keluar!"
"Setengah jam lagi, hyung janji." Jawab Kris sambil menggeser tubuhnya menghindari Sehun.
"Hyung menyebalkan! Kalau begitu aku keluar sendiri!"
"YA! YA! YA! Kau mau kemana?!" Kris akhirnya berhasil membuka matanya kala mendengar ancaman Sehun.
Sehun yang sudah berada di pintu kamar Kris memandang sang kakak kesal.
"Untuk apa hyung tau?! Tidur saja!" ujarnya sebal kemudian meninggalkan ruangan itu.
"YAAAAA! Sehun Wu!"
Kris hendak berdiri ketika menyadari jendela kamar yang sudah dipenuhi salju. Ia berjalan menuju jendela dan menghapus embun di jendela kamarnya untuk melihat keluar. Salju turun tadi malam, menyisakan gundukan gundukan berwarna putih yang menghiasi setiap sudut halaman rumah bahkan jalanan di luar sana. Bibir Kris otomatis mengukir sebuah senyuman di wajahnya yang masih terlihat mengantuk. Kemudian secepat kilat membuka lemari besarnya, mencari mantel dan juga syal yang bisa membuat tubuhnya hangat.
Kris kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati Sehun yang juga sudah siap dengan mantel, syal, beanie, dan sepatu boots nya.
"Ya! Kau akan meninggalkanku?"
Sehun tidak menjawabnya dan berjalan meninggalkan Kris.
"Ya... kau marah pada hyung?" Kris menghetikan langkah Sehun dengan menghalangi langkahnya.
"Hyung berbohong! Kau bilang akan membangunkanku jika salju turun." Sehun mulai merajuk.
"Aish, hyung bahkan tidak tau salju turun tadi malam. Ayo sekarang kita bermain salju!"
Kris menarik tangan Sehun ketika ia sadar sang adik tidak memakai sarung tangan.
"Yaaa... kau berani bermain salju tidak memakai sarung tangan?"
"Habis, aku tidak bisa menemukan sarung tanganku." Adunya.
"Ish, untung hyung membawa dua." Ujarnya seraya memasangkannya ke tangan Sehun.
.
.
.
Kedua kakak beradik itu tengah sibuk membuat boneka salju saat dua pasang kaki juga memasuki halaman belakang.
"Aigo... apa yang kalian lakukan pagi – pagi seperti ini." Sang ibu tengah memandangi kedua anaknya dengan senyuman membingkai di wajahnya yang masih terlihat cantik walaupun sudah tua.
"Eomma... appaa... ayo kita membuat boneka salju bersama!" ajak Sehun menarik lengan kedua orang tuanya.
"Kau harus tau, Sehun-ah. Appa ini jago membuat boneka salju. Nah... ayo kita mulai membuatnya!"
Keempatnya mulai membuat boneka salju masing – masing, dengan di selingi oleh pertarungan bola salju. Setelah satu jam, akhirnya keempat boneka salju itupun berhasil dibuat, berikut dengan hiasan – hiasannya. Mereka memandang keempat boneka salju itu dengan puas. Kini halaman luas itu sudah dihiasi dengan empat buah boneka salju yang dibuat oleh para pemilik rumah itu.
"Ayo masuk, eomma akan membuat coklat panas." Ujar sang ibu yang mengundang langkah kaki ketiga pemuda di sampingnya.
Saat hampir memasuki teras rumah, terdengar sesuatu yang terjatuh di atas salju. Sontak ketiga orang yang berada di depan membalikan badannya untuk mengecek apa yang terjadi. Ternyata suara itu dihasilkan oleh Sehun yang kini telah berlutut di atas salju. Ia memeluk dirinya sendiri, merasakan sakit yang kian merambat di tubuhnya. Wajah itu tak lagi dihiasi oleh senyuman manis miliknya, melainkan wajah yang penuh kesakitan.
"SEHUN!" sang ayah yang pertama kali tersadar dari keterkejutannya. Ia segera melangkah mendekati Sehun yang bahkan kini tidak bisa mendengar panggilannya.
Sehun merasa telinganya berdengung sehingga ia tidak bisa mendengar apapun. Tapi ia tak peduli, rasa sakit di tubuhnya menyita semua perhatiannya. Ia mengerang cukup keras, berusaha melawan rasa sakit yang ia rasakan. Peluh menghiasi wajahnya, tak sesuai dengan cuaca yang begitu dingin.
.
.
.
TBC
.
.
.
AAAAAA Really sorry for the late update
kinda busy with school work
ya, tadinya chapter ini mau the cheesiest of the story, tapi gajadi...
hehehehe
maaf banget sekali lagi karena update nya lama
makasih yang udah review di chapter sebelumnya
buat new readers welcome jugaaa ^^
walaupun chapter ini late update banget, jangan lupa review nya yaaa :D
THAAAAANNNKKKSSSS
