.

Ketiganya kini berada di dalam mobil. Sang ayah menyetir sedangkan sang ibu serta Kris duduk di kursi belakang menjaga Sehun yang masih kesakitan. Kris tidak mengatakan sesuatu sejak tadi. Ia benci ketika harus melihat Sehun menderita seperti ini. Ia bahkan berharap Sehun kehilangan kesadarannya daripada merasakan sakit yang ia yakini sangat menyiksa itu.

"Sial!" sang ayah terdengar mengumpat bersamaan dengan laju mobil yang semakin melambat dan kemudian berhenti.

"Ada apa, appa? Kenapa berhenti?" tanya Kris panic.

"Jalanan ditutup. Mereka belum beres membersihkan salju di jalanan." Kekalutan terdengar dari nada suara sang appa.

Keadaan di mobil hening seketika. Keinginan Kris yang berharap Sehun untuk kehilangan kesadarannya akhirnya terkabul. Tetapi hal itu ternyata semakin membuat ketiganya cemas. Rumah sakit sudah dekat, sedangkan itu adalah satu – satunya akses jalan terdekat menuju rumah sakit. Mereka tak mungkin berputar lebih jauh dan mengambil resiko kehilangan Sehun lebih tinggi.

"Aku akan menggendong Sehun ke rumah sakit." Ujar Kris memecah keheningan.

"Kris?" ujar sang ibu terkejut.

"Kau yakin nak?" kini giliran sang ayah yang terdengar menyetujui perkataan Kris.

"Rumah sakit tinggal 2 blok dari sini. Aku akan membawanya. Appa dan eomma lebih baik memutar. Kita bertemu di rumah sakit."

Dengan sigap sang ibu segera menambahkan baju hangat untuk Sehun pakai. Ia tak ingin udara dingin di luar memperburuk keadaan putranya yang kini telah tak sadarkan diri.

"Berhati-hatilah, Kris. Kami akan segera menyusul." Ujar sang ayah setelah Kris turun dari mobil bersamaan dengan Sehun yang kini sudah berada di punggungnya.

Kris mulai berlari menyusuri trotoar. Ia tak lagi memperdulikan hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Ia rela merasakan dingin yang menusuk melewati kulitnya yang tidak tertutup pakaian. Semua ini demi adiknya yang tenang di punggungnya. Jika tadi erangan Sehun membuatnya panic, kini ketenangan itu bahkan yang membunuh batinnya secara perlahan.

"Bertahanlah, Hun…. Hyung mohon."

.

.

.

Kris duduk terdiam di depan ruangan tempat Sehun ditangani. Ia biarkan kedua orang tuanya saja yang berbicara pada dokter itu. Ia tak berani untuk mendengar keadaan Sehun yang jelas tidak baik – baik saja. Sejak tadi tangannya tak berhenti bergetar. Bukan karena cuaca yang dingin, tetapi karena kekalutan tak juga pergi dari hati dan pikirannya.

Seketika sepasang mata tajam itu mengalihkan pandangannya ketika ia melihat Sehun dibawa keluar oleh beberapa perawat. Sontak ia berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati kedua orang tuanya.

"Sehun baik – baik saja? Apa yang akan mereka lakukan?" tanyanya panic melihat sekilah wajah Sehun yang nampak pucat dengan mata terpejam rapat.

"Sehun akan dioperasi." Ujar ayahnya pelan. "Ia mendapat donor sumsum tulang belakang. Tetapi walaupun begitu, operasi ini cukup beresiko mengingat kondisi Sehun yang tidak baik."

"Lalu kenapa appa biarkan?! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya! Lebih baik aku membawanya kembali ke Korea daripada harus kehilangannya!"

"Kris, tenanglah! Ini satu – satunya jalan untuk menyelamatkan adikmu. Jika tidak, keadaannya akan semakin memburuk."

"Tapi aku tidak ingin kehilangannya, appa. Tidak dengan cara apapun." Kris meluruh dalam tangisnya. Ia akhirnya mendudukan tubuhnya yang lemas di atas lantai. Menangis seakan ia akan kehilangan sebagian nyawanya.

"Kita hanya bisa berdoa yang terbaik."

Kris merasakan pelukan hangat sang ibu yang sejak tadi terdiam. Ia membisikkan sesuatu yang mungkin bisa menenangkan Kris.

"Sehun pernah mengatakan ini pada eomma. Ia bilang ia akan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan hanya untukmu. Jadi, jangan halangi perjuangannya. Eomma yakin Sehun akan bertahan."

.

.

.

Jarum jam yang kian berganti tak menyulutkan tekad Kris yang terus menunggu di depan ruang operasi. Ia tak mau meninggalkan tempat itu barang sedetikpun. Ia tak mau meninggalkan sang adik yang tengah berjuang.

Sang ayah dan ibu nya pun nampak khawatir dengan Kris yang terdiam sejak tadi. Mereka terkejut melihat Kris menangis seperti tadi. Wajah yang dikaruniai keangkuhan itu meluruh seketika dalam tangis karena kondisi sang adik. Ia tak lagi menangis, tetapi tatapan matanya tidak bisa berbohong.

Ketika pintu terbuka, ketiga orang tersebut segera mendekati sang dokter yang keluar dari ruang operasi. Kris tidak ingin mengetahui apapun lagi. Ia hanya ingin melihat sang adik di dalam.

"May I see him?" ujarnya dengan Bahasa Inggris yang fasih.

Sang dokter mengangguk membuat Kris langsung membuka pintu di hadapannya. Kini kembali kedua orang tua Kris dan Sehun yang berhadapan dengan sang dokter. Wajah sang dokter tak begitu baik, ada suatu hal yang berkecamuk di pikirannya. Ia pun mengakhiri suasana tak menyenangkan itu dengan membawa kedua orang di hadapannya menuju ruangannya.

.

.

.

"Operasinya berhasil, tetapi tubuh Sehun tidak merespon dengan baik. Ia koma, dan jika dalam waktu lima hari ia tidak memberikan respon apapun, kami terpaksa mencabut semua alat bantunya. Jika tidak, ia akan terus menderita. Kami telah melakukan yang terbaik untuk menolongnya. Tetapi semua ini tergantung pada kemauan Sehun." Begitulah penjelasan sang dokter yang berhasil ditangkap oleh Tuan dan Nyonya Wu.

"Apa tidak ada cara lain? Kami tidak mungkin kehilangan Sehun begitu saja." Tanya tuan Wu kalut.

"I'm sorry, Mr. Wu. There's nothing else we can do"

.

.

.

Nyatanya ada seseorang lain yang tengah bersedih di sebelah ranjang rawat Sehun. Ia memang tak tau kondisi Sehun yang sebenarnya, tetapi melihat keadaan adiknya yang seperti sekarang membuatnya berprasangka buruk.

"Kenapa kau tak bangun? Bukankah kau sudah dioperasi? Seharusnya kau bangun, Sehun-ah. Kau tidak boleh tertidur... kau tidak seharusnya tertidur…."

Ia tak dapat lagi menahan isak tangisnya. Ditambah pelukan hangat dari sang ibu yang juga menangis, membuatnya terisak lebih kencang. Sang ayah berada di sisi lain ranjang Sehun. Mengelus surai kecoklatan yang dimiliki pemuda yang tengah menutup matanya damai.

"Sekarang semua tergantung padamu, Sehun-ah. Appa percaya padamu. Kau tidak akan mengecewakan kami, bukan?"

.

.

.

Sesuai dugaan, sesaat setelah Kris mendengar kondisi Sehun yang sebenarnya, pria itu langsung meninggalkan tempat yang membuat dadanya sesak itu. Ia membanting pintu dengan cukup keras sebelum akhirnya berlari meninggalkan kedua orang tuanya bersama dengan Sehun yang masih menutup rapat matanya.

Kris tidak memiliki tujuan. Ia hanya ingin berlari dari kenyataan pahit yang mencengkeram kuat nasib sang adik. Kris tidak peduli dengan udara dingin di luar yang membekukan tangannya. Ia tak peduli seberapa kali ia hampir terjatuh karena salju di bawah sepatunya. Kris hanya ingin tenang. Ia ingin bernapas.

.

.

.

Beberapa botol beer dan rokok menemaninya di sudut kota Vancouver pada akhirnya. Ia kebingungan mencari pelampiasan yang lebih baik selain dua teman kecilnya itu. Asap mengepul dari bibirnya, menghangatkan sedikit tubuhnya yang kedinginan karena cuaca yang dingin. Ia tak menangis, tak juga merasa kesal. Ia hanya merasa kecewa karena tak bisa memberikan kebahagiaan lebih lama kepada sang adik.

Kris tersenyum kecut mengingat janjinya pada sang adik dulu. Janji bahwa ia akan selalu menjaga dan memberikan kebahagiaan pada sang adik. Tapi lihat sekarang, kebahagiaan yang baru sebentar itu harus kembali direnggut dari hidup sang adik yang amat dikasihinya.

Liquid yang berada di dalam botol itupun kembali berpindah ke mulut Kris yang kemudian berlanjut pada kerongkongannya. Sayangnya walaupun sudah berpindah ke botol kedua, hal itu belum juga membuat Kris mabuk.

Tanpa ia sadari seorang lelaki tua tengah memperhatikannya. Ia menatap iba pada pria berwajah Asia yang tengah duduk sendiri menikmati minuman dan rokoknya dengan raut kesedihan. Tak segan – segan sang lelaki tua itupun mendekat.

"Mind if I join you?" tanyanya sopan, tak ingin membuat Kris terganggu.

Kris yang merasa menjadi lawan bicara sang lelaki tua akhirnya menepuk – nepuk tempat di sebelahnya setelah sebelumnya mengatakan tidak. Ia pun tak segan membagi botol beer nya yang masih terisi penuh dan juga menyodorkan kotak rokok nya.

"You look so pitiful, kid."

"Yes, I am." Kemudian kekehan kecil keluar dari bibirnya yang sedikit memucat.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Kehidupan."

"It's complicated. You will never find the answer."

"Yea, kau benar."

Keheningan kembali menyergap. Hanya kepulan asap yang dihasilkan dari rokok yang diisap oleh kedua pria itu.

"Pernahkah kau ditinggalkan oleh orang yang paling kau sayang?" tanya Kris memecah keheningan.

"Yeah. Istriku meninggal sepuluh tahun lalu. Kami tak memiliki anak karena kanker rahim yang dideritanya."

"Kau sedih?"

"Tepatnya aku marah. Aku marah pada Tuhan karena membiarkan kebahagiaan yang dibangun belum lama itu harus kembali direnggut olehnya."

"Exactly."

"Tapi kau tidak bisa menyalahkannya begitu saja."

Kris sontak mengalihkan pandangannya pada pria tua di sampingnya ketika ia mengatakan hal yang bertolak belakang dari sebelumnya. Sang pria tua tersenyum melihat ekspresi Kris sebelum melanjutkan perkataannya.

"Tuhan itu Maha Adil. Ia memberikan kita kebahagiaan dan juga cobaan. Ia mengambil kebahagiaan kita dengan memberikan kebahagiaan lain. Danaku bahagia dengan keputusannya."

"I don't get it. You're supposed to be sad or even mad."

"Well, I was. But not too long. Ia memberikan kebahagiaan pada keluarga kecil kami, kemudian ia memberikan kami cobaan. Tentu saja itu menjadi tahun – tahun terpahitku. Tapi aku yakin Tuhan memberikan cobaan itu dengan memberikan kebahagiaan lain. Aku akhirnya lega ketika Tuhan mengambil istriku kembali ke sampingnya."

"Wait…. You didn't love her anymore?"

"Not like that, kid. I love her, I love her very much. And for that reason, I let her go. Aku bahagia karena Tuhan mengakhiri penderitaannya selama bertahun – tahun. Aku sungguh tak tega melihat ia menderita. Kemudian saat ia pergi, aku tau bahwa ia bahagia karena terlepas dari penderitaannya."

Kris terdiam mendengar penuturan pria tua itu. Sedikit – sedikit ia mengerti maksud di balik kata – kata yang pria itu ucapkan.

"Jadi, kau mengatakan bahwa aku harus belajar merelakan?"

"You got the point then. It maybe hard and take some times. But you have to think about the person you love. No matter how sad you will be, you have to think about their happiness."

Kris kembali terdiam. Ia berpikir keras tentang semua yang pria tua itu katakan. Tentang berusaha untuk merelakan.

"Well, I need to leave now. Kau juga harus pulang, kid. It's getting cold."

"Thank you…. For your lesson. I look forward to meet you again someday."

"Thanks for the beer and cigars."

Sang pria tua akhirnya melangkah pergi, meninggalkan Kris yang kembali bersama pikirannya. Tanpa sadar salju turun dan mendarat di ujung hidungnya yang mancung. Kris tersenyum mengingat Sehun yang begitu menyukai salju.

"Apa kau bahagia jika hyung merelakanmu, Sehun-ah? Kau tau hyung akan bahagia jika kau bahagia." Ujarnya sebelum mengumpulkan tekadnya dan kemudian berdiri.

Ia bertekad akan menyerahkan semua keputusan ini pada Sehun, seperti yang ayahnya katakan. Apapun hasilnya, yang terpenting adalah Sehun bahagia.

.

.

.

Kedua orang tuanya nampak heran melihat Kris yang begitu tenang di dalam ruangan Sehun. Berbeda dengan semalam ketika ia meninggalkan tempat itu dengan emosi, pagi ini Kris hanya duduk diam di samping Sehun sambil terus memandanginya.

"Kau tak apa, nak?" tanya sang ibu yang khawatir dengan Kris.

"Aku baik, eomma. Hanya saja sedang memikirkan sesuatu."

"Apa itu?"

"Apa Sehun benar – benar bahagia memiliki kakak sepertiku selama ini?"

"Kris, harus berapa kali Sehun membuktikannya? Dengan ia bertahan sampai sekarang pun itu berarti ia sangat bahagia menjadi adikmu."

"Kau benar, eomma. Tapi jika Sehun memang harus pergi, setidaknya aku ingin mendengarnya mengatakan selamat tinggal."

.

.

.

Lima hari berlalu dengan cepat. Sedangkan keajaiban yang ditunggu tak kunjung terjadi. Hasil menyatakan bahwa tidak ada respon sedikitpun dari tubuh Sehun, dan dokterpun sudah menyerah. Mereka menyarankan untuk merelakan Sehun pergi. Bukan bermaksud untuk membunuh Sehun secara tidak langsung, tetapi kini merelakan Sehun pergi adalah jalan yang terbaik.

Kris tak lagi menahan dirinya. Perasaan marah, sedih, dan kecewa menyatu menjadi satu di dalam hatinya. Ia sudah cukup bersabar lima hari ini. Bersabar untuk selalu setia mengharapkan keajaiban itu datang walau untuk waktu yang sebentar. Ia hanya ingin mendengar suara adiknya. Ia ingin mengucapkan kata perpisahan.

Kini giliran Kris untuk berbicara pada Sehun untuk yang terakhir kalinya sebelum sang dokter mencabut semua alat di tubuh Sehun. Kris memandang sedih adiknya yang hanya terdiam tanpa respon apapun.

"Kau tak ingin mengatakan sesuatu pada hyung? Kau tak ingin mengucapkan selamat tinggal?" ujarnya dengan air mata yang mulai mengaliri pipinya.

"Sungguh Sehun, kau boleh pergi. Hyung tak akan lagi menghalangimu. Asalkan kau mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu. Apa kau tak tau betapa hyung merindukan suaramu yang manja itu? Apa kau tak tau betapa hyung melihat matamu terbuka? Untuk yang terakhir kali ini saja kabulkan permintaan hyung."

Kris tak mengusap air mata yang terus terusan keluar. Ia biarkan air mata itu lolos bersama dengan isak tangis kepedihannya. Cukup lama ia menangis dan Sehun masih tak memberikan respon atas semua permintaannya itu. Sampai suatu tangan mencengkram erat pundaknya. Seolah mengatakan bahwa inilah akhir dari penantian mereka. Inilah sebuah takdir yang memang harus diterima keluarga kecil itu.

.

.

.

THE END

.

.

Yeaap the end wkwkwk

Go ahead for the epilogue!