Oh Sehun tidak merasa perlu mengangkat kepalanya saat ia mendengar ketukan dipintu masuk ruang kerjanya. Pasien terapi fisik yang selanjutnya membuat jadwal lebih pagi, yang mana membuatnya jengkel karena ia belum menyelesaikan laporan untuk pertemuan sebelumnya. Sehun mendorong kacamatanya kembali ke tempatnya semula. Pasien itu bisa masuk ke dalam ruangan sepuluh menit lagi setelah ia menyelesai—

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih memaksa, dan niatnya untuk tidak melayani keinginan orang lain hancur, seperti biasanya. Sehun menjatuhkan pulpennya ke atas tumpukan kertas yang berada didepannya, Sehun berkata, "Masuklah."

Kepala dengan rambut hitam tertata sempurna muncul dipinggir pintu. "Semoga aku tidak mengganggumu."

Sebelum Sehun bisa menyuruh hatinya untuk menjaga sikap, jantungnya berhenti berdetak beberapa saat ketika mendengar suara berat lembut nan melow milik Dr. Park Chanyeol, Direktur dari Sport Medicine dan pria terseksi di Northern Nevada Medical Center.

Dengan cepat, otak Sehun memikirkan penampilan fisiknya, mengeluarkan diagnosis seperti biasanya yaitu 'tidak menarik dan kusut.' Menahan desahan kecewaan dan keinginan untuk merapikan rambut yang berantakan, Sehun memberi Chanyeol senyuman terbaiknya. "Tidak juga. Aku tak melupakan pertemuan lagi, kan?"

Lesung pipi kembar milik Chanyeol muncul. "Tidak, hari ini tidak."

Chanyeol berbalik untuk menutup pintu, dan darah di nadi Sehun semakin cepat. Sebagai seorang dokter bedah tulang, kunjungan pria itu ke ruang-kerjanya-yang-tidak-mengesankan ini di Pusat Pengobatan Rehab and Sport cukup sering untuk membicarakan pasien bersama. Tapi tak sekalipun Chanyeol pernah menutup pintu seperti saat ini. Mencoba untuk tidak terburu-buru menyimpulkan, Sehun melambaikan tangannya ke depan. "Silahkan duduk."

"Uh..."

Sehun menengok untuk melihat kearah satu-satunya kursi untuk tamu yang tertimbun dengan folder, koran tua, dan artikel penelitian. Sehun bersumpah ia bisa merasakan pipinya berubah warna saat Chanyeol bergerak cepat kearah mejanya. "Oh Tuhan, aku minta maaf. Ini, biarkan aku —"

"Tidak apa-apa, kau tak perlu—"

"Tidak, aku bersikeras." Sehun mengumpulkan tumpukan kertas sembarang di tangannya. Bukan untuk pertama kalinya, atau bahkan yang ke ratusan kalinya, Sehun berharap ia lebih terorganisir.

Berputar dengan cepat, Sehun mencari tempat untuk menyembunyikan kekacauan itu. Tumpukan kertas sama yang seperti ia pegang, berbaris dilantai tepat di sepanjang dinding ruang kerjanya dan berada diatas tiap inchi meja dan ruang kosong lemari arsip.

Akhirnya Sehun menyerah dan menaruh tumpukan itu ke kursinya sebelum mengembalikan perhatian kepada tamunya. Ya Tuhan, kenapa ia tak bisa menjadi lembut dan sinergi seperti orang lain? Seperti jenis orang yang Chanyeol kencani. "Jadi, apa yang membawamu ke dalam ruang terburuk di dalam rumah sakit sore ini?"

Chanyeol membersihkan tenggorokannya dan membenarkan posisi duduknya. Normalnya, dokter sempurna ini adalah cerminan dari sebuah kepercayaan diri. Itu adalah alasan dari wanita yang umumnya akan mendesah saat Chanyeol berada disekitar. Well, memang itu pesona Chanyeol dan penampilan boneka Ken yang dilengkapi dengan senyum mematikan.

"Makan malam amal tahunan rumah sakit dan pesta dansa tinggal dua bulan lagi, dan sebagaimana seorang pria hanya diharuskan meminjam tuksedo dan tampil, aku khawatir seorang pria juga membutuhkan waktu lebih untuk membuat dirinya merasa menarik."

Leher Sehun tercekat, dan jemarinya bergerak untuk menyentuh lehernya. Ini dia. Mereka sudah bekerja selama beberapa tahun bersama, sesekali mereka lembur untuk kasus bersama, memesan makanan China yang buruk saat otak mereka menolak untuk berhenti tapi perut mereka tak bisa lagi diabaikan. Pikiran mereka selalu cocok, dan obsesi mereka untuk membantu mempercepat kesembuhan dan lebih baik mengikat mereka lebih erat. Sehun mencintai Chanyeol bertahun-tahun, tapi pria itu tak pernah mengajaknya kencan. Tak pernah melakukan pendekatan, lebih memilih mengencani wanita bisnis yang berkelas yang ia temui saat menghabiskan jam luangnya di Klub Caliente yang mewah diujung jalan.

Tapi sekarang Chanyeol disini. Di dalam kantornya. Membicarakan tentang pesta dansa rumah sakit. Ya Tuhan, mohon jangan biarkan Sehun pingsan.

Sehun menghela nafas pelan, dalam, mencoba untuk biasa. "Apa kau mencoba untuk menanyakan sesuatu padaku, Chanyeol?" Dan gagal total. Sial.

Tangan kuat menyentuh belakang lehernya, dan Chanyeol memberikan ekspresi malu-malu paling manis kepada Sehun. "Ah, yeah. Aku tidak melakukannya dengan baik, kan?"

"Tidak, kau melakukannya dengan baik!" Terlalu antusias. Sangat sial!

"Aku tahu aku seharusnya membicarakan ini sejak lama. Dan aku ingin bertanya dimalam aku melihatmu di Klub Caliente bulan lalu, tapi aku ragu dan kau pergi. Aku berharap aku akan melihatmu lagi disana karena sepertinya tak pantas membicarakan tentang kencan dikantor, ya kan?"

Pikiran Sehun kembali ke satu malam saat ia menginjakkan kaki di keramaian, klub yang sangat mahal. Sahabat baiknya, Do Kyungsoo, baru saja memenangkan kasus yang sangat rumit dan ingin merayakan dengan beberapa kali minum juga berdansa. Bukan pergi ke tempat nongkrong langganan mereka, Fritz's, Kyungsoo meyakinkan Sehun untuk menemuinya di toko daging terdekat dengan sebuah klub. Mereka hanya disana selama beberapa jam sebelum pergi. Klub itu seperti sebuah asrama mahasiswa pria dengan steroid dengan pelanggan country club. Sisa malam mereka habiskan meminum bir dan melakukan perayaan yang semestinya.

"Oh, jangan khawatir," Sehun meyakinkan Chanyeol. "Maksudku, tidak disini. Satu-satunya orang yang mungkin bisa mendengar kita sekarang adalah Mr. Kramer yang sedang berada di treadmill diluar sana, tapi pintunya tertutup dan meskipun terbuka, kurasa ia tidak ingat untuk menyalakan alat bantu pendengarannya, jadi kemungkinan ia mendengar kita—"

"Sehun."

"Maaf." Oh ya Tuhan, bisakah kau diam? Kau mengoceh layaknya idiot! "Apa yang kau bilang?"

Chanyeol menghela nafas dalam-dalam dan mengehembuskannya seperti ia sedang bersiap untuk melompat dari atap rumah sakit daripada mengajaknya kencan. "Aku mencoba untuk meminta nomor telepon temanmu."

"Teman... Apa?"

"Pria yang bersamamu malam itu. Apa dia sedang terikat dengan orang lain?"

"Kyungsoo?" Pikiran Sehun berantakan saat ia mencoba untuk mengikuti tikungan tajam dari tujuan awal pembicaraan ini. Atau itu tujuan yang hanya ia pikirkan. Sehun sangat bodoh. "Um, tidak, ia tidak berkencan dengan seseorang..."

Tiap otot di tubuh Chanyeol mengendur saat ia berdiri, senyumnya kembali menghantamnya dengan kedua lesung pipi di bawah matanya. "Bagus sekali! Bisakah aku mendapatkan nomornya? Aku tak mau menunggu untuk menelponnya dimenit terakhir. Aku juga ingin mengajaknya kencan beberapa kali sebelum acara besarnya. Tuhan tahu kau tak akan bisa bercakap-cakap dengan layak pada saat makan malam amal karena akan banyak orang mengganggu untuk berbasa-basi. Sehun? Apa kau mendengarku?"

"Apa? Tidak. Maksudku, ya, aku mendengarkan. Ya, kau benar. Acara itu jelas tidak kondusif untuk diskusi di kencan pertama." Sehun melayangkan pandangannya ke kekacauan yang berada di atas mejanya. Kyungsoo akan mengalami kepanikan jika melihat hal ini. Sahabatnya sangat terorganisir, selalu merapikan apapun, rambutnya tak pernah berantakan atau memiliki emosi berlebihan disaat tidak tepat. Tambahkan penampilan sempurna boneka lucu dan kau akan mendapatkan wanita yang bisa membuat Park Chanyeol jatuh cinta. Orang yang jelas bukan seperti dirinya.

"Jaaaadi... bisakah aku mendapatkan nomornya? atau kau mungkin akan bertindak sebagai sahabat protektif dan akan menanyai niatku yang sesungguhnya terlebih dulu," Chanyeol menggoda. "Mungkin bertanya padaku mengapa kau pikir aku cukup pantas untuknya, hal-hal yang seperti itu?"

Sehun tak bisa menahan senyuman kecil diujung bibirnya. "Seperti kau tak baik untuk orang lain saja. Kau menarik, pintar, tampan, dan sukses. Bagaimana itu bisa dikategorikan sebagai 'tak cukup pantas' oleh standar siapapun?"

Chanyeol berkedip. "Aku cukup menarik, kan? Pastikan kau bilang pada Kyungsoo hal itu saat ia bilang padamu aku menelponnya. Hanya itu saja, jika kau memberikanku nomornya."

"Oh! Benar, maaf. Uh..." Sehun melihat sekitar untuk mencari Post-it (pesan tempel) atau secarik kertas. Sehun tahu ia punya beberapa, dan jika Sehun bisa berhenti dan berpikir untuk beberapa saat, Sehun akan mengetahui dimana benda itu berada, tapi lima menit terakhir ia telah mendengarkan pengakuan frontal dan kini dirinya tak bisa berfungsi.

Menyerah,Sehun mengambil penanya dari tangan Chanyeol dan menuliskan nomor telepon Kyungsoo di telapak tangan Chanyeol. Sehun memaksa dirinya sendiri untuk melepaskan Chanyeol sebelum ia melakukan hal bodoh seperti menambahkan tanda seru dan 'secara tidak sengaja' menggunakan tenaga yang berlebihan untuk menulis tanda titik, melukai kulit Chanyeol yang lembut dengan ujung pulpennya.

"Ini dia. Sudah. Sekarang kau harus membiarkanku bekerja. Aku, um, ada pasien yang akan datang kesini beberapa menit lagi."

"Kalau begitu, aku tak akan menyita waktumu lagi. Terima kasih, Sehun." Chanyeol menggunakan tangannya yang bebas tinta untuk memegang gagang pintu dan membukanya sebelum berbalik dan menambahkan, "Aku berutang satu padamu."

Sehun menyisipkan senyum yang ia harap setidaknya senyum palsu di wajahnya yang sebaik ia bisa. "Aku akan mengingatnya, dokter."

Segera setelah Chanyeol pergi Sehun jatuh ke kursinya, bahkan tak perduli untuk memindahkan tumpukan kertas saat ia melakukannya. Ini bukan sesuatu yang baru. Faktanya, diabaikan oleh orang lain adalah sudah biasa. Sekarang, Sehun sudah kebal terhadap hal semacam itu. Apa istilahnya? Kuno. Ya, itu dia. Sekarang, ini sudah menjadi masalah kuno, dan itu bukan pertama kalinya seorang pria yang Sehun sukai malah menyukai sahabatnya. Tapi rasanya sakit. Sangat sakit.

Sehun tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Sehun takkan pernah menjadi objek gairah dokter itu. Dan meskipun sisi realistis di dalam dirinya bilang itu bukan masalah—semua yang ia butuhkan hanyalah kecocokan dan bersahabat dengan orang lain—saat masa depannya datang sebagai tujuan yang tajam, pemimpi didalam dirinya membiarkannya untuk terisak dalam air mata yang mengaburkan dunia yang berada di depan matanya.

~oOOo~

"Bisakah kau menunjukan arah ke departemen fisioterapi?" dimana beberapa orang bodoh yang sombong akan memberikanku latihan yang lebih cocok untuk balita, pada dasarnya ini adalah proses pengebirianku

Pernyataan bahwa Kim Jongin sedang dalam mood yang buruk mungkin terlalu sepele, tapi bukan berarti resepsionis rumah sakit pantas menerima amarahnya. Jongin mendengarkan ketika petugas resepsionis itu memberikan arahan dan berterima kasih ketika ia selesai.

Semakin dekat Jongin mencapai tujuannya, semakin keras otot-ototnya menggumpal. Dia seharusnya tidak disini. Seharusnya Jongin sudah kembali ke Vegas, merawat cideranya dengan pelatih dan tim dokter. Bukan kota Sparks, Nevada—yang mana masih termasuk Reno dan mengkhawatirkan karena terlalu dekat dengan kota kelahirannya, bagian utara Sun Valey. Saat ini Jongin harus bekerja sama dengan seseorang yang tidak memiliki konsep sama sekali tentang olah raganya atau tentang betapa pentingnya Jongin untuk kembali ke markasnya secepat mungkin untuk melakukan persiapan menjelang pertandingan ulang itu.

Selama yang bisa Jongin ingat—ia adalah petarung. Bertarung di dalam olah raga yang sangat Jongin cintai di atas segalanya—Mixed Matrial Arts atau MMA—untuk sampai ke puncak, dan kemudian berusaha keras memaksa dirinya agar berada di sini. Lima belas tahun kemudian, Jongin adalah salah satu dari petarung terkaya kelas berat ringan di UFC, dengan rekor 34-3 dan jutaan penggemar. Tentu saja tidak ada yang lebih penting dari mendapatkan kembali kesehatannya saat ini, karena jika Jongin tidak sembuh tepat waktu untuk melakukan pertandingan ulang, karirnya akan tamat.

Seorang Dokter bicara di telepon dan memeriksa berkas-berkas Jongin di sekitar sudut ruangan dan menabraknya. Pria itu bahkan tidak berbalik untuk meminta maaf, ia hanya terus berjalan menelusuri lorong itu. Jongin mengatupkan rahangnya dan memegang bahu kanannya, menunggu rasa sakitnya mereda. Bahkan hanya dari sebuah benturan kecil, sakitnya sangat terasa.

Jongin mendapatkan salah satu cidera terberat yang bisa di dapatkan oleh seorang petarung; robeknya tendon bahu. Dan yang lebih memalukan lagi, cidera ini tidak didapatkannya ketika bertarung. Jongin mengalami cidera sialan ini ketika sedang berlatih untuk perebutan gelar. 34 tahun bagi seorang petarung sudah cukup tua, apalagi yang sudah berada disana sepanjang hidupnya, dan tubuhnya mulai menunjukan hal itu, penuh luka karena cidera terkutuk.

Jongin menghindar ke samping ketika berpapasan dengan seorang wanita tua yang berjalan seperti siput tanah, ia mengutuki pelatihnya, Butch, yang sudah mengirimnya ketempat ini. Tidak lama setelah menjalani operasi untuk memperbaiki bahu kanannya, dokter dari camp olahraga harus pulang untuk mengurus ayahnya yang sedang sakit. Scotty diperkirakan tidak akan kembali dalam beberapa bulan kedepan, dan karena Jongin adalah satu-satunya yang cedera di camp itu, Butch menempatkannya di PT (physical therapy) lokal untuk sementara waktu. Tapi jika Jongin tetap mengikuti kata-kata pria ini, ia tidak akan siap bertarung sampai usianya 50 tahun, jadi ia mengurus terapinya sendiri.

Sayangnya, Butch mengetahui apa yang akan dilakukannya dan dia meminta Jongin untuk tidak mendengarkan kata-kata pengganti Scott dan bersikap santai. Tapi Jongin tidak mengerti makna bersikap santai itu. motonya lebih dari sekedar motivasi rata-rata. Dia hidup dengan prinsip 'Lakukan yang terbaik atau kau tidak akan mendapatkan apapun' dan 'Jika kau tidak datang untuk menang, lebih baik kau tetap tinggal di rumah saja.' kata-kata itu sudah ditanamkan pada dirinya sejak ia sudah berani membantah perintah ayahnya.

Jongin menolak untuk menerima kemungkinan tidak mendapatkan kesembuhan total dalam dua bulan kedepan, hingga kehilangan kesempatan untuk merebut kembali gelarnya. Setiap tahun, olahraga itu selalu menghasilkan petarung yang lebih muda dan lebih baik, dan itu menjadi halangan untuk petarung yang lebih tua dalam bersaing. Itulah sebabnya Jongin berlatih sekeras mungkin. Selalu saja ada beberapa orang yang menginginkan sabuknya dan selalu mencoba menyingkirkannya untuk mendapatkan sabuk itu, sehingga Jongin harus melatih dan mempersiapkan dirinya lebih keras lagi untuk menjaga sabuk itu. Jongin begitu marah ketika Butch memberinya ultimatum: tinggalkan kamp dan lakukan PT dengan benar, atau Jongin akan ditarik mundur dari pertarungan.

Persetan dengan hal itu. Baiklah, terserah. Jongin sudah membuat pelatihnya senang dengan pergi ke PT sialan itu. Tapi itu bukan berarti dia tidak akan melakukan hal berbeda dari latihan rutinnya. Jongin tidak punya waktu untuk bermain-main. Jongin harus sesegera mungkin kembali ke Vegas sehingga ia bisa merebut kembali apa yang menjadi haknya.

Jongin mendorong terbuka pintu ganda dan masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang mirip dengan bagian dalam YMCA (Young Men's Christian Association, organisasi Kristen yang memberikan support dalam bidang olah raga). Treadmill, eliptik, angkat beban, dan bola latihan. Tidak ada sparring Cage. Tidak ada matras lantai. Tidak ada sansak. Namun ada seorang pria tua kisaran 80 tahun berjalan begitu lambat di atas treadmill, yang membuatnya praktis tidak bergerak.

"Ini menyebalkan," gumamnya ketika sampai di sebuah kantor kecil dengan nama PT nya, Oh Sehun, pada pintu yang tertutup sebagian. Jongin mengangkat tangannya untuk mengetuk sebelum menunjukkan dirinya, tapi berhenti saat ia mendengar isakan pelan dari seseorang berambut coklat yang tertunduk di belakang meja.

Setidaknya ia mengasumsikan itu adalah sebuah meja. Sangat sulit menjelaskan apa yang berada di bawah tumbukan berkas dan dokumen itu. alih-alih mengetuk, Jongin malah berdehem. "Maaf, apakah ini waktu yang tidak tepat?"

Pria itu memutar kursinya hingga menghadap ke dinding dibelakangnya, menekan lututnya pada lemari arsip dan menggumam kata serapah yang tentu saja Jongin bertaruh, dia tidak terlalu sering menggunakannya di depan publik. Meskipun Jongin belum melihat wajahnya, ia merasakan sebuah kecanggungannya lumayan manis.

Ketika ia meraih tisu dari suatu tempat di lantai dan meniup hidungnya, itu mengingatkan Jongin, bahwa pria manis ini sedang dalam masa yang rentan. "Aku bisa kembali,"

"Tidak, tidak," dia membersihkan hidungnya dan menunjuk kebelakang tanpa berbalik. "Anda bisa duduk sebentar di ruang sebelah, aku akan segera menyusul,"

Ide yang baik. Terlebih karena kebenciannya melihat seorang pria bersedih, baginya menghibur wanita yang ia kenal saja sudah cukup buruk, apalagi yang ia tidak kenal sama sekali,terlebih itu Pria.

Jongin memasuki ruangan itu, menyandarkan pinggulnya di meja yang empuk, tanpa sadar merenggangkan buku-buku jarinya ketika ia menunggu. Itu hanya sesaat sebelum pria manis itu melenggang masuk, matanya memeriksa berkas Jongin, sambil berjalan lurus kearah meja kecil di sepanjang dinding.

"Aku benar-benar minta maaf tentang kejadian tadi," kata Sehun. "Berikan aku sedikit waktu untuk mempelajari berkas ini lebih lanjut, dan kita akan memulai urusan ini,"

"Ya silahkan," sesuatu dalam suaranya menusuk-nusuk otak Jongin. Sepertinya ia pernah mendengar suara itu sebelumnya.

"Oke, Mr. Kai, mari kita lihat pada—"

Mereka membeku ketika mengenal masing-masing sosok di hadapan mereka.

"Hun?"

"Jongin?"

Sudah beberapa tahun lamanya—mungkin, enam tahun, atau tujuh tahun, atau lebih, dia tidak bisa mengingatnya—sejak terakhir kali dia melihat adik dari sahabat baiknya. Wajahnya berjerawat dengan mata memerah habis menangis sehingga ia hampir tidak menyadari bahwa pria manis itu adalah Sehun, tapi bintik muka di sudut luar mata kirinya yang samar-samar berbentuk hati mengingatkannya. Hal itu nyaris tidak terlihat di bawah bingkai gelap kacamata yang ia kenakan.

"Astaga," kata Sehun, meremas pinggang Jongin dengan kuat. Sudah sangat lama Jongin tidak pernah bertemu seseorang dari kota kelahirannya, selain kakak Sehun, dia adalah orang yang selalu ingin ia temui.

Jongin membalas pelukan Sehun. Rambutnya tercuim seperti campuran bunga dan musim panas, begitu berbeda dengan ramuan parfum menyengat yang biasa digunakan oleh pria.

Sehun melepaskan pelukannya, duduk kembali di bangku putar di belakang mejanya. "Aku tidak percaya itu kau. Tunggu, mengapa catatanku tertulis Kim Kai?"

Jongin terkekeh pada nama konyol yang ia gunakan untuk samarannya. "Ini adalah nama samaran," bermaksud untuk menghapus penampilan menyedihkan yang diakibatkan oleh sesuatu sebelum ia datang, Jongin memberikannya senyuman nakal dan menambahkan. "Dan kadang-kadang menjadi status keberadaanku,"

Alis Sehun berkerut untuk beberapa saat ketika ia meresapi kata-kata Jongin, kemudian pipinya memerah dan matanya terbelalak. "Jongin!"

Jongin tidak bisa berhenti tertawa meskipun ingin. Ekspresi terkejut diwajah Sehun benar-benar lucu. "Ayolah, Hun-Hun, kau tidak bisa terus-terusan polos seperti itu setelah bertahun-tahun."

"Kepolosanku atau kekuranganku bukanlah urusanmu Kim Jongin. Dan sebagai peringatan: jika seseorang mendengar kau memanggilku dengan panggilan konyol itu, aku akan menusukmu tepat di lehermu dengan penaku,"

Jongin mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Cukup adil, Sehunnie."

Sehun memutar matanya, tapi Jongin segera mengintrupsi sebelum pria manis itu mulai marah. "Omong-omong tentang nama, ada apa dengan Oh Sehun? Aku tidak melihat cincin. Apa kau sedang dalam perlindungan seorang saksi atau apa?"

Sehun mengalihkan pandanganya, tiba-tiba merasa perlu untuk merubah kembali name tagnya. "Tidak. Aku pernah menikah sebentar ketika diperguruan tinggi. Suho mungkin tidak memberitahumu tentang ini, karena kami kawin lari dan ini tidak bertahan lama," Sehun berdeham dan tersenyum pada Jongin, tapi hampir tidak menyentuh pipinya, apalagi matanya. "kau tahu bagaimana itu. Anak muda labil dan semuanya. Aku hanya tidak pernah repot-repot mengganti nama belakangku lagi, tapi setidaknya aku masih memiliki inisial nama yang sama, kan?"

Usaha pria manis itu dalam menyamarkan perasaannya yang sebenarnya mengingatkan Jongin akan apa yang sedang di alaminya. Sesuatu atau seseorang sudah menyakitinya, dan itu langsung menggugah naluri melindunginya. Biar bagaimanapun, Sehun bukanlah pria sembarangan. Dia tumbuh besar mengikuti kemanapun kakaknya, Oh Suho dan Jongin. Dan karena Suho, yang juga seorang petarung UFC, sedang berada di Hawaii dengan kamp pelatihannya hingga tidak bisa membantu adiknya, Jongin akan dengan senang hati akan menggantikannya.

"Kenapa kau menangis Hun?"

"Oh, itu?" Sehun melambaikan tanganya tak acuh. "Tidak apa-apa. Aku mendapat alergi musiman yang mengerikan dan kadang-kadang itu terjadi sangat buruk hingga terkadang aku terdengar seperti sedang terisak, menangis tersedu-sedu, begitulah."

Jongin mendengus. "Itulah sebabnya aku dan Suho tidak pernah membiarkanmu ikut dalam 'petualangan' licik kami. Kau adalah pembohong yang sangat buruk dan tidak akan bertahan lebih dari lima detik dalam introgasi orang tua."

Sehun berdiri, menempatkan tangannya di pinggang. "Oke, menurut pelatihmu, kau adalah pasien yang sangat menyedihkan, jadi kita berdua memiliki kesalahan masing-masing. Sekarang, kalau kau tidak ingin menyia-nyiakan waktumu dengan obrolan yang tidak berguna, biarkan aku mengevaluasi cederamu,"

Jongin mengenali keberadaan dinding pertahanan ketika ia menemukannya. Sehun tidak akan bicara tentang hal itu… belum. Dengan suatu cara Jongin pasti akan mengetahuinya. "Oke, periksalah Sehun," Jongin menyentuh tulang belikat dengan tangan kirinya, menarik t-shirtnya keatas kepala, berusaha keras untuk tidak menggerakan tangan kananya terlalu banyak. Dia melemparkan t-shirtnya kekursi di sudut ruangan.

"Berapa banyak PT yang kau temui sejak oprasi itu?"

"Aku tidak tahu, jumlah yang biasa, sepertinya. Satu sesi dalam sehari atau lebih. Tapi ini tidak cukup, jadi aku melakukan latihan tambahan di sisi lain."

Sehun berhenti dan mengangkat alis pada Jongin. "Dengan kata lain, kau sudah berlebihan dalam melakukan hal ini, yang justru malah kontraproduktif untuk pemulihanmu,"

"Berlebihan itu suatu istilah subjektif,"

"Tidak Jongin. Melakukan Lebih dari apa yang di katakan dokter atau terapismu adakah berlebihan. Jika aku akan membantumu, kau harus melakukan sesuai dengan apa yang kukatakan. Jika kau bisa melakukannya, aku akan membuatmu sesehat sebelumnya dalam waktu sekitar 4 bulan."

"Apa? Tidakkah Butch mengatakan bahwa pertandingan ulangku akan berlangsung dua bulan lagi? Aku harus bertanding pada pertandingan itu, Sehun. Diaz memiliki sabukku, dan aku akan mengambilnya kembali,"

Sehun menggeleng. "Jongin itu gila. Bahkan walaupun aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk penyembuhanmu, aku tidak bisa menjamin kau bisa siap untuk bertarung secepat itu."

"Omong kosong. Kau harus mengatakannya secara professional, tapi kau harus tetap memperhatikan siapa yang menjadi pasienmu. Aku tidak seperti orang-orang lain yang kau tangani. Aku tidak seperti pasien-pasienmu yang berharap normal. Aku adalah atlet yang sangat terlatih dan sudah pulih dari berbagai macam cidera selama lima belas tahun terakhir dibandingkan dengan seratus pasienmu jika disatukan,"

Sehun mengehela nafas. "Mari lihat apa yang sebenarnya kita hadapi sekarang, yang pertama, oke, jagoan? duduk."

Jongin melompat ke meja dan mencoba untuk tidak tegang karena gagasan tangannya dimanipulasi. Dia memiliki toleransi tinggi terhadap rasa sakit, tapi bukan berarti pemeriksaannya itu tidak akan membuatnya meringis.

"Ulurkan lenganmu kesamping, dan coba untuk tetap begitu ketika aku mendorongnya ke bawah."

Jongin terdiam sejenak sebelum melakukan gerakan itu dengan menggumamkan kutukan. Sehun berpura-pura tidak menyadarinya dan memberikannya lebih banyak tes kekuatan, dimana Jongin berhasil menjaga teriakannya di dalam kepalanya sendiri. Meneriakinya.

"Oke, yang terakhir Jongin. Tempatkan tanganmu didepan perutmu, dan coba untuk menahannya disana ketika aku menariknya menjauh dari tubuhmu."

Jongin menggertakan rahangnya dan mengepalkan tangan kirinya, mencoba untuk memikirkan hal lain, selain rasa sakit yang luar biasa dari bahunya. Tapi, seburuk apapun rasa sakit itu, fakta bahwa dirinya begitu lemah dan tidak bisa menyembunyikannya adalah hal yang jauh lebih buruk.

"Baiklah, kau bisa rileks sekarang," Sehun membuat beberapa catatan dalam berkasnya, kemudian berbalik dan bertanya, "Pada skala nyeri satu sampai sepuluh, dengan yang kesepuluh adalah ukuran rasa paling mengerikan yang bisa kau bayangkan, bagaimana perasaanmu saat ini?"

"Empat mungkin. Atau bahkan tiga,"

Sehun mengangkat alisnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Lupakan sikap jantan sialanmu, Kim Jongin. Aku tidak menantang kejantananmu disini. Jika kau ingin aku melakukan pekerjaanku, maka kau harus seratus persen jujur padaku."

Jongin menatap Sehun dengan tatapan yang seakan menciutkan pria itu. namun Sehun sama sekali tidak bergeming. Jongin tentu sudah memuji Sehun dengan sikapnya pada tatapannya jika ia tidak sedang jengkel dengan keseluruhan situasi ini.

"Oke, enam." Gerutu Jongin.

"Tapi beberapa hari ini lebih baik,"

"Jangan khawatir, itu normal. Sekarang berbaring menelungkup di atas meja. Aku ingin melakukan beberapa hal lagi."

"Kau sangat suka memerintah diusia tuamu, kau tahu itu?" Jongin sedikit kecewa ketika Sehun tidak terpancing dengan kata-katanya, tapi melontarkan Mm-hmm secara sarkastis ketika Jongin meletakan tubuhnya di atas meja. Dengan lengan kirinya menjadi tumpuan wajahnya. Ia memejamkan matanya ketika Sehun mulai memeriksa tubuhnya.

Ujung jari lembutnya memeriksa otot di sekitar bahunya. Jongin tidak tahu apa yang sebenarnya sedang di cari Sehun, tapi ia berharap Sehun tetap mencarinya untuk sementara waktu. Sentuhannya terasa jauh lebih baik daripada yang biasa Jongin terima. Tentu saja tangan Jhonny tidak selembut itu, tapi ini jauh lebih dari itu. Ini adalah tehnik yang digunakannya; seakan-akan dirinya bukanlah seorang petarung yang terbuat dari otot-otot keras yang membutuhkan penanganan kasar, dorongan jari, tapi seorang pria yang membutuhkan pijatan lembut setelah hari yang panjang.

Jongin mendengar isakan lembut, dan ini membuat otaknya kembali bertanya-tanya, apa yang sudah membuatnya sekacau ini. Tumbuh sebagai kakak kedua Sehun, membuat Jongin menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk. Apapun itu, Sehun sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya—"Ah, sialan!"

"Maaf,"

"Ya, betul." Kata Jongin kecut. "Itu mungkin sebuah balasan karena menggunakan kelinci floppy-mu sebagai target panah," Jongin tidak bisa melihat wajah Sehun, tapi Jongin tahu Sehun tersenyum ketika ia bicara. "Aku lupa tentang semua itu. Suho dihukum selama tiga hari dan ibuku harus menjahit semua lubang kecil itu secara bersamaan. Ibuku bilang dia adalah seorang pahlawan perang yang harus dioprasi untuk ditambal sebelum menerima medali dari presiden,"

"Ibumu selalu pandai bercerita. Aku dan Suho memintanya untuk memberikan semua informasi latar belakang misi pura-pura kami ketika kecil."

"Ibu adalah hal yang paling spesial. Aku merindukan dongeng sebelum tidurnya."

Orang tua Sehun meninggal karena kecelakaan mobil pada musim panas, setelah Jongin dan Suho lulus dari SMA, dan Sehun berumur tiga belas tahun. Suho memutuskan untuk mengurus Sehun dari pada menyerahkannya pada sanak saudaranya, itulah sebabnya karirnya di MMA tidak sejauh Jongin. Itu adalah hal yang sangat terhormat, dan jelas ia sudah melakukan pekerjaan yang baik juga. Namun kemudian kenyataan itu menyentak Jongin. "Ini karena seseorang yang sedang kau cintai, kan?"

Tangan Sehun berhenti sesaat, tapi ini sudah cukup sebagai jawaban yang Jongin butuhkan. "Apakah nyeri jika kutekan disini?"

Seperti sensasi terbakar yang parah, sebuah kemarahan asing muncul sebagaimana pada umumnya kebanyakan pria, sampai-sampai ia tidak bisa mengarahkannya pada orang yang pantas. Jongin mendorong tubuhnya dengan lengan kirinya, hingga berhadapan dengan Sehun.

"Apa yang kau lakukan? Aku belum selesai."

"Tidak sampai kau katakan siapa orang itu dan apa yang sudah ia lakukan." Geram Jongin.

"Jongin—"

"Quid pro quo,Sehun. Katakan padaku siapa yang membuatmu menangis, dan kenapa. Dan aku berjanji akan mencarinya, memburunya, dan menendang giginya masuk ketenggorokannya untuk menunjukannya padamu."

Jongin hampir menyesali ancaman kasarnya ketika wajah Sehun memucat, tapi jika ini adalah satu-satunya jalan untuk mengetahuinya, maka Jongin tidak peduli. "Kemari, duduklah disini, kita akan bertukar tempat." Kata Jongin sambil berdiri.

Ketika Sehun membuka mulutnya untuk membantah, Jongin menyipitkan matanya, untuk menunjukan pada Sehun bahwa ia tidak sedang main-main. Sehun menghela nafas pasrah dan melakukan apa yang Jongin katakan, meskipun tidak dengan senang hati.

"Nah sekarang kau pasiennya," terlepas dari rasa sakit yang disebabkan pada bahunya, Jongin menguatkan tangannya di kedua sisi pinggulnya, mencegah pemikiran Sehun untuk melarikan diri sepertinya adalah sebuah alternatif yang baik.

"Jadi, Mr. Oh," kata Jongin sambil menatap mata cokelat Sehun yang lembut. "Katakan padaku dimana yang sakit,"

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Belum apa-apa Chanyeol udah ngeselin, ya kan? Bikin Sehun nangis pula. Gak peka ish! *tendang Chanyeol* wkwk

Karena kemaren banyak yang minta YAOI jadi ane buatin versi YAOI yaa~

How?

Next or stop? Haha

Review please~^^

.

.

Thanks to review :

nin nina , sehuniesm , Sekar Amalia , dialuhane , baekhyung , bottomsehunnie , levy95 , KrisYeolGalaxySHHRN, aoixo , uniqueena , sehunskai , pinkuhun , hunhips , sita2312, Rizsasa , fitrysukma39 , JongOdult , ParkJitta, binisehun, vitangeflower, Zelobysehuna, ohhanniehunnie, ThatXX94 , Jongin's Grape , xohunte, fiyaKH , HilmaExotics, auliavp , kjinftosh , SUKA PAKE CAPSLOCK, exolweareone9400 , alita94, Keteknyakai, utsukushii02, izzsweetcity , shixunaa, sukha1312, Dazzlingcloud, rytyatriaa , exostalker, Hun'Ae, minkook94.