Sehun masih tidak bisa percaya jika saat ini Jongin berada di ruang terapinya. Ketika mereka kecil, Sehun terus membuntuti kakaknya hanya untuk berada di hadapan sahabat baik kakaknya. Namun, karena Jongin memperlakukannya sebagaimana seorang kakak, itu mencemaskan hati mudanya, Sehun selalu mendongak pada Jongin dan Suho.

Sekarang Sehun dalam masa yang sulit untuk mengalihkan pandangannya dari Jongin. Jongin sudah cukup berotot ketika di SMA, tapi ini luar biasa. Pria ini mendefinisikan kembali ide kesempurnaan dari Michelangelo, membuat patung David yang justru terlihat seperti pengecut. Rambut pirang gelapnya di potong pendek dan disisir kedepan dan ketengah.

Membuat elang tiruan terkecil, dan membuatnya tampak lebih baik jika dilihat dari samping. Dan tato itu…Ya Tuhan…tato itu… Desain tribal hitam menenun pola rumit di sekitar lengan atas kanannya, melewati bahu dan otot-otot dadanya, dan melingkar di pertengahan sisi kanan lehernya. Dibagian bawah tulang rusuknya tertulis Fight to Win dalam huruf latin, berakhir di otot yang memotong diagonal dengan—

"Hun?"

Sehun bertemu dengan mata coklat cerdas milik Jongin. "Hmm?"

"Kau akan mulai bicara atau aku harus kembali menggelitikmu?"

Bagus, Sehun, benar-benar halus. Sadarlah, ini hanya Jongin.

Sehun memutar matanya dan berpaling, berharap Jongin tidak melihat air mata yang yang ia tahan. Sehun tersenyum, perlu mengembalikan pembicaraannya tetap ringan. Sehun perlu membuat Jongin tidak memaksanya untuk menceritakan apa yang terjadi.

"Aku bukan bocah delapan tahun lagi Jongin. Jika kau terus seperti ini, aku akan menamparmu dengan gugatan pelecahan seksual,"

Dengan lembut Jongin menyentuh dagunya, memiringkan kepalanya kebelakang dan menatap matanya, dan dengan hanya memanggil namanya sekali. "Sehun…" pertahanan air mata Sehun pun hancur dan membiarkan air mata pertamanya turun.

"Ya Tuhan, ini sangat bodoh. Sungguh, bukan apa-apa." Kata Sehun sambil mengusap air matanya penuh kekesalan dengan jemarinya.

"Ketika seorang pria membuat wanita ataupun pria menangis, ataupun apapun itu tidaklah sepele."

"Dia tidak bermaksud; dia bahkan tidak tahu jika ia melakukannya, hanya saja…" Sehun mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan napas gemetar. "Aku sudah jatuh cinta padanya selama bertahun-tahun tapi ia tidak pernah menyadarinya. Well, tidak seperti itu juga. Hanya saja, tepat sebelum kau muncul, dia meminta nomor telepon sahabat baikku. Dia ingin membawanya ke pesta amal rumah sakit."

"Apakan orang itu akan pergi?"

"Tidak, Kyungsoo tidak akan pernah melakukan hal itu padaku. Sangat menyakitkan ketika mengetahui ia sudah bertemu sekali dan sejak itu ia ingin mengajaknya berkencan. Kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sama, hanya saja ia tidak pernah melihatku."

"Jadi tentu saja dia adalah seorang bajingan buta."

Sehun mendengus dan menggelengkan kepala. "Kau tidak tahu siapa Chanyeol. Pria yang memiliki pesona lebih banyak dari pada sebagian dari Reno. Dia adalah ahli bedah ortopedi yang menakjubkan yang selalu bisa lebih dekat dengan pasiennya. Dia pintar, sukses, dan sangat tampan. Aku tahu aku bisa membuatnya bahagia jika saja ia memberikanku sebuah kesempatan,"

"Jika dia terlalu lambat untuk bergerak, mengapa kau tidak memulainya terlebih dulu?"

Wajah Sehun memanas, ia langsung menundukan pandangannya, menatap jarinya yang bertautan. "Aku tidak bisa. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Dan kalaupun aku melakukannya, dan seandainya dengan sebuah keajaiban dia mengatakan iya, aku…"

"Kau apa?"

"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," bisik Sehun.

"Lakukan?" Jongin mencoba berpikir apa yang dimaksudkan oleh Sehun, tapi dia tidak tahu. Kecuali… "Sehun kau pernah berkencan setelah perceraianmu, kan?"

"Ini konyol, Jongin, biarkan aku turun."

Jongin tidak bergeming. "Kau pasti bercanda. Kau tidak punya pacar?"

"Aku harus memberitahumu Kim Jongin, ketidak percayaanmu membuatku tidak ingin membicarakan masalah ini denganmu, jadi biarkan saja masalah ini dan kami akan membuatkanmu jadwal untuk minggu depan."

"Oke, Oke, maafkan aku," kata Jongin, menempatkan tangannya di lengan atasnya. Ia meringis ketika rasa nyeri menyerang bahunya. Ia tidak bermaksud untuk membuatnya lebih terganggu dari sebelumnya. Jongin mengerjapkan matanya karena sakit itu. "Tunggu, apa maksudmu dengan 'minggu depan'? Bukankah setidaknya kita mempunyai sesi harian?"

"Untuk sebagian besar, Ya. Tapi karena sekarang hari jum'at, kita akan memulainya minggu depan. selain itu, kau bukanlah satu-satunya pasienku. Aku memiliki jadwal yang padat."

Sial, sekarang apa? Jongin membutuhkan lebih banyak perhatian daripada hanya sekedar beberapa hari dalam seminggu.

"Mungkin kau harus menyewa PT yang berdedikasi. Kau tahu, seseorang yang bisa bersamamu selama 24 jam, 7 hari seminggu. Untuk bekerja bersamamu dan menjagamu dari overtraining. Jika kau masih seperti yang kuingat, kau tidak memiliki konsep untuk menahan diri."

"Sempurna. Itulah yang kubutuhkan. Dengan jenis perawatan seperti itu, aku akan siap untuk bertarung pada malam pertarungan." Jongin melangkah mundur dengan senyum puas dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu dan barang-barangmu nanti,"

~oOOo~

Sehun sudah turun dari atas mejanya dan sekarang ia memutar kepalanya dengan begitu cepat membuat Jongin khawatir mungkin Sehun akan membutuhkan sebuah terapi untuk memperbaiki salah uratnya. "Apa?"

"Ini hanya akan masuk akal jika kau tinggal bersamaku sampai aku sembuh, Hun. Ayolah, dulu aku juga pratis tinggal ditempatmu sewaktu kecil. jadi kita bisa melakukan terapi dengan bahuku lebih sering dan kau bisa memastikan aku tidak melakukan hal bodoh. Dan kau tahu sendiri, aku dijamin akan melakukan hal bodoh."

Jongin menonton Sehun yang berjalan melintasi ruang kecil itu untuk mengambil bajunya. "Meskipun gagasan tentang tinggal bersamamu selama dua bulan itu tidak menggangguku, tapi ada masalah kecil dalam pekerjaanku."

"Aku akan membayar untuk waktu luangmu, tentu saja. dua kali lipat jika kau mau—uang bukanlah masalah."

Sehun memberikannya perintah memakai baju dengan gerakannya melemparkan baju ke dadanya. "Tentu saja kau benar; uang bukanlah masalah. Aku punya setidaknya delapan minggu waktu liburan yang belum terpakai, semenjak aku tidak memiliki alasan untuk mengambilnya. Masalahnya adalah bahwa ide itu sangatlah menggelikan!"

Jongin harus berpikir cepat, atau dia akan kehilangan kesempatan ini, dan sesuatu di dalam hatinya menekannya agar tidak kehilangan kesempatan ini. Jongin membutuhkan Sehun dimanapun yang ia inginkan selama dua bulan ini. Jongin begitu yakin seyakin namanya. Tiba-tiba trik yang sempurna muncul di benaknya, dan meskipun gagasan ini memberikannya kegembiraan dan kecemasan dengan jumlah yang setara, ia tetap mencobanya.

"Aku akan mengajarimu bagaimana mendapatkan dokter itu jika kau melakukannya untukku."

Sehun sudah dalam perjalanan keluar dari ruangan pemeriksaan, ia sudah menolaknya Jongin dan tawaran menjadi teman serumahnya,tapi kata-kata sederhana itu bisa membuat tubuhnya terpaku beberapa meter dari ambang pintu. Sehun sudah terpancing, sekarang ia hanya perlu menariknya hati-hati, atau ia akan kehilangan pria manis itu dan kesempatannya untuk pertandingan ulang. Jongin mendekati Sehun perlahan-lahan dari belakang saat Jongin akan bicara.

"Aku akan mengajarimu bagaimana bersikap, apa yang harus dikatakan…apapun yang kau perlu ketahui untuk membuatnya menyadari keberadaanmu. ada satu hal yang kutahu, apa yang wanita lakukan yang bisa membuat pria benar-benar memperhatikannya."

Kepala Sehun menoleh kesamping. Bukan gerakan besar, tapi cukup untuk membuat Jongin tahu bahwa ia sudah mendapatkan perhatian pria manis ini. "Kau akan tunduk dan melakukan apapun maumu dalam waktu singkat. Aku jamin itu."

Waktu berjalan bagai slow motion. Denyut nadi Jongin berpacu di telinganya ketika ia mengunggu Sehun meneriakinya idiot atau kemarahan yang besar dan Suho akan mengulitinya hidup-hidup karena mengajari Sehuncaranya merayu, seharusnya ia memikirkan dua kali tentang tawarannya, tapi dia tidak bisa menariknya kembali.

Sehun menggelengkan kepalanya, seakan menolak pikirannya sendiri. "Maaf, tapi—"

Sebelum Sehun mengatakan kata penolakannya, seorang pria berambut gelap menjulurkan kepalanya dari pintu. "Sehun, aku minta maaf mengganggu, tapi aku sepertinya sudah menghapus, uh," pria itu melirik Jongin dan berdeham. "Nomor telepon pasien yang kau berikan sebelumnya. Karena aku dalam perjalanan keluar, kupikir aku bisa mendapatkannya lebih cepat darimu. Aku membawa kertas."

Dasar. Brengsek. Butuh segala kendali diri untuk membuatnya tidak menghajar pria itu saat ini juga. Bahwa pria ini adalah satu-satunya yang Sehun sukai dan tidak mungkin ia memperkenalkan dirinya sebagai Dokter Clueless Dumbass.

Jongin menyaksikan Sehun menatap lama pada dokter itu, hampir seolah-olah ia terjebak dalam suatu monolog internal dan lupa bawa waktu masih berputar di sini, di dunia nyata. Sesuatu tentang memberikannya nomor pasien itu sudah membuatnya terguncang. Ketika pria itu berdeham dan mengulurkan kertas, Sehun tersadarkan.

"Tentu saja dokter Park," setelah dengan cepat menulis sebuah nomor telepon di kertas itu Sehun berkata. "Ini,"

"Oke, terima kasih. Sampai jumpa lagi."

Jongin menunggu. Tiga detik berlalu…tujuh…dua belas. Pada akhirnya Sehun menegakkan bahunya, berbalik dan berkata. "Kita sepakat."

~oOOo~

Sehun bergelung di ujung sofanya, menarik lutut ke dadanya. Ia memegang buku di kedua tangannya, meskipun matanya menatap baris-baris berwarna hitam, pikirannya tidak menyerap sepatah katapun.

Perutnya mengejang. Sehun belum makan malam karena terlalu gugup. Yang terus terang aneh karena itu hanya Jongin. Sahabat baik kakaknya. Pria yang praktis pernah tinggal di rumahnya ketika ia masih kecil. Pria yang ia impikan menjadi bagian terbaik dalam dekade kedua hidupnya...pria yang sangat mungkin menjadi pria terseksi yang pernah dilihatnya dan yang gambaran tubuh setengah telanjangnya seperti terbakar sendiri di dalam kelopak matanya karena setiap kali ia menutupnya Jongin disana menunggu untuknya dan sekarang Jongin menginap di rumahnya—

Whoa! Bernafas, boy, bernafas. Sehun menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya pelan, merasa sedikit lebih baik. Awalnya Sehun bersikeras daripada pindah ke kamar suite hotel bersama Jongin, Jongin pindah ke apartemennya. Itu tidak masuk akal untuk mereka berdua menginap di luar, dan dengan begitu sangat kecil kesempatan dirinya diserang fans berat Jongin.

Jongin muncul setengah jam yang lalu, ia menunjukkan kamar tamunya, lalu meninggalkannya untuk menginap. Tiba-tiba suara nyaring dari "The Piña Colada Song" memecah kesunyiannya. Ia ambil ponsel di meja kopi. "Hai, Kyung, ada apa?"

"Apa kau serius memberikan Dr. Jerkface nomerku? Karena dia bilang dia mendapatkannya darimu, tapi kurasa itu tidak mungkin benar. Maksudku, aku lebih senang berpikir bahwa pria yang sudah disukai oleh teman baikku selama bertahun-tahun meminta darinya nomer teleponku, dia akan bilang padanya untuk pergi saja menyingkir."

"Kyung—"

"Atau setidaknya, memberikannya alasan kenapa dia tidak mengajakku pergi keluar."

Sehun menutup mata dan menaruh kepala di lututnya. Dengan semua kegilaan tentang kepindahan Jongin yang membuatnya lupa sama sekali. "Apa yang terjadi?"

"Aku bilang padanya bahwa aku berkencan dengan seseorang tapi kau belum tahu karena itu masih baru."

Sehun menghela nafas lega. "Terima kasih. Maaf, dia mengejutkanku dengan pertanyaan itu dan aku tak tahu apa yang harus dikatakan."

"Kapan kau akan bilang padanya tentang perasaanmu atau melupakannya?"

"Kyungsoo..."

"Aku tahu kau tak senang ketika aku membicarakan ini, tapi ayolah. Kau tak bisa menunggu seumur hidupmu untuk pria ini dan memutuskan suatu hari dia menyukaimu."

"Yah, aku tahu, hanya saja—" Sehun mendengar Jongin membuka pintu kamar tidurnya menyusuri lorong. "Hei, aku harus pergi, tapi aku akan menelponmu besok, oke?" Sebelum Kyungsoo bisa bicara, Sehun menutup telepon, membungkam nada deringnya, dan meletakkkannya di meja.

"Apa yang kau baca?"

Suaranya yang dalam bergema di ketenangan rumahnya, rumah pria bebas yang terdengar keluar dari tempat. Ia melihat saat Jongin berjalan ke arahnya tidak memakai apapun kecuali celana pendek atlet yang menggantung rendah—hampir terlalu rendah hingga tidak senonoh—di pinggulnya. Di satu sisi Jongin seharusnya di ujung yang berbeda dari sofa, tapi Sehun entah mengapa kehilangan akal dengan gangguan dari tubuh berotot Jongin yang telanjang.

"Kalau kau tetap membuka mulutmu seperti itu,Hun, kau pasti akan menangkap lalat," Jongin menyeringai.

Mengatupkan rahangnya, dengan sangat malu Sehun kembali pada buku di depannya yang mungkin saja ditulis dalam bahasa Ibrani. Sehun membersihkan tenggorokannya. "Kau seharusnya memakai baju ketika kita tidak sedang terapi."

"Kenapa? Semakin sedikit aku pakai semakin nyaman diriku. Aku memakai celana pendek sebagai kesopanan untuk kebaikanmu."

Sehun terkesiap. Ketika Jongin tertawa, ia menyadari itulah reaksi yang diinginkannya. Menyipitkan matanya, Sehun lemparkan buku ke arah Jongin, yang dia tepis dengan kibasan tangannya. Betapa Menyebalkan.

"Tenang, Hunnie. Tidak ada salahnya menghargai orang yang memiliki fisik yang menarik. Bahkan, itu adalah pelajaran pertama."

Sehun mendengus. "Bagaimana caranya memelototi seseorang dengan benar?"

"Tidak. Bagaimana caranya membuat seseorang memelototi dirimu."

Tiba-tiba Sehun membutuhkan minuman dan langsung melesat ke dapur. Sehun hampir positif punya sebotol wine di—Aha! Mengambil pembuka botol dari laci, Sehun bekerja cepat untuk membuka dan menuang segelas besar Moscato wine, lalu menghabiskan dengan cepat. Kemudian menuang lagi.

"Apa kau sering minum wine?"

Sehun melompat—lagi—dan berputar untuk bertatapan dengan Jongin, gelas di satu tangan, botol di tangan lainnya. "Bisakah kau berhenti menyelinap seperti itu? Dan tidak, aku tidak biasanya minum wine. Ini hanya hadiah natal dari seorang pasien."

"Aku tidak menyelinap. Kau yang melompat. Mungkin wine bukanlah ide yang buruk." Jongin memperhatikan apartemen Sehun selama semenit, membebaskan dirinya untuk gelas kedua tanpa penonton.

"Apa kau punya cermin panjang di sekitar sini?"

"Di kamarku, tapi—"

"Sempurna. Ayo." Jongin meraih botol darinya dan menuntunnya ke kamar.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku sudah bilang, pelajaran pertama: berpakaian untuk menarik perhatian."

Sehun takut untuk meminta klarifikasi, dan malah memilih meneguk wine. Setelah mendudukkannya di tempat tidur Jongin memeriksa lemarinya dan mulai menggeledah pakaiannya. Sehun berpikir secara objektif, untuk bilang pada Jongin menjauh dari barang-barangnya, tapi alkohol sudah meringankan beban di bahunya dan ia memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan Jongin.

"Jadi katakan padaku Hun, apa yang spesial dari pria ini? Kenapa dia menjadi sasaran kita bukan orang lain?"

"Kenapa itu penting?" Sehun bertanya, memutar-mutar tangannya saat menatapnya kembali. "Bisakah kubilang aku menyukainya dan tinggalkan saja begitu?"

Saat Jongin memindahkan hanger dari satu sisi ke sisi yang lain, kadang menarik garmen keluar, tapi mengembalikan lagi dengan gumaman menghina, Sehun memperhatikan gerakan otot-otot di bahu dan punggung Jongin. Sehun pernah melihat Chanyeol dengan T-shirt ketat ketika dia kadang menggunakan ruang PT untuk olahraga cepat, tapi dia sama sekali tidak seperti Jongin. Dimana Chanyeol memiliki tubuh seorang pelari, ramping berotot, tubuh Jongin jelas berbeda. Dia tidak lebar atau besar sekali seperti pegulat gadungan di TV, tapi tubuh mediumnya tidak memiliki satu ons pun lemak di dalamnya, dan setiap incinya merupakan tempat untuk otot-otot yang terbentuk dengan indah. Tentu saja bukan hal yang sulit untuk melihatnya melakukan apapun, tidak masalah walau biasa, dalam keadaan tanpa baju.

"Tidak. Tidak cukup bagus. Kau harus melakukan sesuatu yang sangat tidak konvensional dan drastis untuk mendapatkan pria ini. Jadi aku ingin tahu kenapa dia. Aku harus tahu apa yang kukerjakan di sini jika aku akan membantumu."

Sehun menggigit bibirnya dan bertanya-tanya apakah ia berani bilang pada Jongin. Bahkan Kyungsoo tidak tahu, tapi seharusnya jika ia akan membaginya dengan orang lain, pastilah Jongin orangnya. Bagaimanapun, Jongin berada di rumahnya untuk alasan yang terlihat yaitu membantunya dalam usaha untuk berkencan, dan nantinya menikah, dengan Chanyeol. Plus, dia akan pergi dalam beberapa bulan kedepan jadi itu bukan seperti dia akan berada di dekatnya untuk menguasai rahasianya yang luar biasa menyedihan sampai selamanya.

Membuka laci mejanya Sehun mengeluarkan halaman majalah yang berkerut. Itu adalah halaman penuh iklan untuk perusahaan real estate, menampilkan keindahan rumah kolonial dengan keluarga ideal berdiri di depannya. Sang suami berdiri dengan bangga dengan istrinya, satu tangan mengelilingi pinggangnya, tangan lainnya dibahu anak laki-lakinya. Saudara perempuannya berdiri di depan sang ibu yang sedang menggendong bayi di tangannya. Pasangan klasik Amerika dengan dua anak dan anjing shih tzu yang setia di kaki mereka.

"Ini," ia berkata, memberikan majalah. "Aku menyimpannya selama tiga tahun. Ini yang aku mau. Aku ingin seperti ini."

Jongin berbalik, mengambil majalah, dan memperhatikan Sehun dengan alis berkerut. "Aku tidak paham. Apakah dia tinggal di rumah seperti ini atau apa? Jika itu yang kamu mau, aku bisa bilang padamu, bahwa itu tidak—"

"Bukan, bukan rumahnya. Seluruhannya. Kehidupan yang sempurna. Atau hampir sempurna karena semua orang tahu tidak ada yang sempurna, tapi aku ingin mendekati sempurna saat aku mandapatkannya dan iklan itu meneriakkan Hampir Sempurna."

Jongin menggosokkan tangan di pangkal janggutnya. "Oke, aku bisa melihat yang kau maksud, tapi seberapa sesuainya Chanyeol dalam hal ini?"

"Chanyeol cocok denganku dalam segala hal. Kami menikmati musik yang sama, selera film dan makanan yang sama. Kami di bidang yang sama, jadi kami tahu bagaimana saat kau butuh bekerja sampai malam kadang-kadang. Dan juga keinginan bersama kami untuk menolong kesembuhan orang lain dari cedera fisik."

Jongin memotong ocehan Sehun dan mengembalikan majalahnya. "Baiklah aku mengerti. Jadi, kalian cocok satu sama lain. Tapi sebuah hubungan membutuhkan lebih dari sekedar kesamaan bidang bermain. Bagaimana dengan chemistry? Gairah? Cinta?"

Bagaimana dengan semua itu? Semua itu beresiko, begitulah. Sehun sudah pernah menjalaninya dan itu membuatnya langsung masuk jurang. Mantan istrinya menyebabkan dia menjadi orang yang hancur. Sehun percaya dia mencintainya dan sungguh menginginkannya meskipun ada perbedaan. Dia bilang cinta mereka mengalahkan perbedaan. Ketidaksamaan pendapat itu akan memberi bumbu dalam pernikahan mereka.

Rupanya dia juga berpikir tidur dengan wanita lain beberapa bulan setelah pernikahan mereka akan sama saja. Ia tidak pernah sangat tersakiti—sangat bodoh—ketika ia masuk saat mantannya sedang melakukan semacam hippie tantric sex dengan pria gimbal yang menyaingi Bob Marley. Dia bahkan tidak terlihat bersalah. Tidak, dia sebenarnya mengulurkan tangan menyambut dan meyuruh Sehun untuk bergabung. Sehun hampir muntah saat itu juga sebelum lari dari ruangan itu, dan mengakhiri pernikahan.

Itulah saat Sehun memutuskan untuk tidak akan pernah percaya bahwa cinta adalah segalanya yang dibutuhkan agar sebuah hubungan berhasil. Sehun menghilangkan istilah 'ketertarikan lawan jenis' dari kamusnya dan bersumpah untuk tidak bersama dengan orang yang tidak benar-benar sesuai dengannya. Jika cinta nantinya masuk kedalamnya, itu hanya akan menjadi sebuah bonus. Tapi Sehun tidak dapat memberitahu Jongin semua itu. Dia pasti akan berpikir bahwa Sehun gila.

Melihat foto yang Sehun telusuri dengan ujung jari di sekitar rambut gelapnya yang digambarkannya sebagai Chanyeol. Jongin bahkan memiliki penampilan yang sama.

"Kita belum memiliki kesempatan untuk menggali hal itu." Sehun meletakkannya di laci dan mendorongnya sebelum menatap Jongin dengan percaya diri. "Tapi aku tahu jika saja aku bisa membuatnya melihatku...membuatnya memberikan kami kesempatan...kami akan memiliki chemistry lebih dari yang kami tahu."

Jongin menyilangkan tangan di dadanya dan menatap mata Sehun selama satu atau dua menit, seperti sedang menunggu dirinya berhenti dan memutuskan ia tidak benar-benar percaya apapun yang sedang dikatakannya. Tapi itu tidak akan terjadi karena ia sudah mempercayainya. Seluruhnya dan semuanya. Akhirnya, Jongin memutus keheningan yang canggung.

"Sehun, jangan tersinggung," Jongin bicara dengan menunjuk lemarinya, "tapi pakaianmu payah."

Kata-kata sudah ada di ujung lidah Sehun untuk membela tentang pakaiannya, tapi didetik terakhir ia hanya mehela nafas, bahunya agak merosot. "Aku tahu. Seperti itu, kan?"

Jongin meneliti piyama yang dipakai Sehun cukup lama hingga Sehun menundukkan kepalanya, memikirkan sesuatu tidak pada tempatnya.

"Ada yang salah?"

"Apa kau selalu memakai celana flannel dan kaos dalam longgar untuk tidur?"

"Bukan berarti itu menjadi urusanmu..." Oh, bibir Sehun mulai kebas. Hebat. Sehun menyeringai. "...tapi ya. Benar." Senyum terpancar di wajah Jongin, menampilkan gigi putih yang rapi menakjubkan.

"Senyum yang cantik," Jongin berbisik keras.

"Cantik? Kurasa aku baru saja dikebiri. Oke, ayo," Sehun bicara sambil mengambil gelas winenya.

"Hei!"

"Hanya sebentar, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Setelah itu kau boleh menghabiskan sebotol. Jika aku beruntung, kau adalah jenis pria yang senang menari di atas meja ketika sedang terpengaruh alkohol."

Sehun terlalu kacau oleh gambaran itu hingga tidak menolak ketika Jongin mengambil tangannya dan membimbingnya melintasi ruangan. Membayangkan diri Sehun berputar di atas meja tanpa mempedulikan dunia membuatnya tertawa.

"Tidak," Sehun bicara diantara cekikikannya. "Kurasa aku cenderung tertidur daripada gila ketika minum wine. Maaf mengecewakanmu."

Ketika mereka sampai pada cermin panjang antik di sudut ruangan, Jongin memiringkan sudutnya supaya tidak terpotong pada leher saat Jongin berdiri di belakang Sehun. Leluconnya beberapa saat yang lalu menghilang di tenggorokannya ketika Sehun bertemu dengan pandangan intensnya pada bayangan mereka. Sehun membeku ditempat, tidak bisa menggerakkan satu ototpun, saat ia melihat tangan Jongin yang besar bergerak keluar dari sudut pandangnya dan menuju tubuh bagian depan Sehun.

Sentuhan pertama Sehun menarik nafas tajam. Jongin menekan kain sempit dikaos dalam longgar perutnya, panas dari telapak tangannya meresap kedalam kulitnya menetap jauh di dalam perutnya. Dengan pelan tangannya berpindah ke atas merendahkan punggungnya, ibu jarinya nyaris hilang didadanya. Ketika akhirnya mereka bertemu di tengah punggungnya, kain pakaiannya ditarik kencang di sekujur tubuhnya.

"Nah," Jongin bicara dengan anggukan kecil. "Apa yang kau lihat?"

Sehun menghisap bibir bawahnya diantara gigi dan menggelengkan kepalanya. Sehun tak pernah percaya diri untuk menunjukkan seluruh tubuhnya. Ia tidak memiliki lekuk tubuh yang bagus atau pinggul yang menarik para pria. Diantara masalah itu dan sentuhan Jongin yang mengacaukan otak Sehun—atau mungkin itu karena wine—ia tak mampu memberi Jongin jawaban lebih dari sekedar helaan nafas frustasinya.

"Baju renang."

Butuh beberapa menit untuknya merespon pernyataan sembarangan Jongin. Jika itu bisa dianggap sebagai sebuah pernyataan. Mungkin dua kata adalah sebuah kalimat. Atau istilah. Tunggu, apa yang dia bilang?

"Apa?"

"Dimana baju renangmu? Aku ingin kau memakainya jadi kita bisa melihat tubuhmu dan bukan pakaian yang kau pilih untuk menutupinya."

"Aku tidak akan memakai baju renang."

"Tidak apa-apa," Jongin menyilangkan tangannya. "Celana dalam saja juga bisa."

Mulut Sehun ternganga. Apakah Jongin serius? Sehun meneliti kilau kasar di mata coklat Jongin. Sial.

"Aku akan mengambil bajuku." Sehun menggerutu dalam perjalanannya ke lemari besar di sepanjang dinding.

"Ide Bagus. Aku akan menunggu di luar sementara kau ganti. Tapi Hun..." Jongin menghentikan menggeledah laci atasnya dan melirik melalui bahu pada Sehun. "Jika lebih dari tiga menit, aku akan berasumsi kau pengecut dan aku akan mendatangimu."

Sehun menyipitkan matanya di belakang kacamatanya. "Apa kau selalu mengancam orang lain sampai mereka menuruti keinginanmu?"

"Tentu saja tidak. Aku belum pernah merasa perlu untuk mengancam sampai bertemu dirimu," Jongin bicara dengan senyum ala model.

"Tiktok."

Sehun meraup segenggam penuh kaos kaki dari laci dan melemparkan ke kepala Jongin. Sayangnya Jongin menunduk dan mengelak—memegang bahu yang cedera dan tertawa—berhasil menghindari ketiga rudal kapas sebelum Jongin menutup pintu di belakangnya.

~oOOo~

Sehun mencoba membuat dirinya kesal dengan teman seapartemennya yang baru tapi dirinya malah tersenyum seperti orang idiot. "Dasar sombong." Masih Jongin yang sama seperti dulu.

Sehun menggelengkan kepalanya dan kembali mencari baju renangnya.

"Aha! Aku menemukanmu, anak nakal." Diangkatnya pakaian yang ia beli karena paksaan Kyungsoo untuk liburan mereka, Sehun mengernyit. Tidakkah ini terlalu berlebihan?

Sehun menyukai warna biru keabuannya dengan motif sulur berwarna biru muda, tapi dia berharap sisinya tidak memiliki potongan setinggi ini. Potongan di kakinya setinggi tulang pinggulnya.

Kyungsoo mengklaim bahwa potongan itu akan menonjolkan pinggangnya. Sehun mengangguk dengan patuh kepada nasehat tentang fashion dari sahabatnya, tapi memiliki keragu-raguan yang amat sangat bahwa sesuatu dapat ditonjolkan dari dirinya. Liburan mereka dibatalkan di menit terakhir saat satu kasus yang Kyungsoo pegang di bawa ke ruang sidang secara tiba-tiba, jadi Sehun sangat bersyukur tak perlu mengenakan pakaian renang itu.

Sehun mendesah dan berganti pakaian. Setidaknya pakaian renang itu yang mana bisa dikatakan pakaian itu terlalu berlebihan dibandingkan apapun yang Kyungsoo pakai di sekitar kolam atau pantai. Semenit kemudian Sehun berdiri dihadapan cermin miliknya yang tinggi, menutup matanya, dan mencoba mengabaikan darah yang mengalir deras ke telinganya saat ia memanggil Jongin.

Pintu terbuka dengan suara derit kecil, tapi pria itu tak membuat suara saat ia bergerak diatas lantai. Keheningan membuat mulut pria manis itu kering dan jemarinya berkedut di sisi tubuhnya.

Dimana Jongin? Apakah Jongin mencoba untuk tidak tertawa? Oh Tuhan, mengapa dia membiarkan pria itu membuatnya melakukan semua ini?

Tiba-tiba Sehun merasakan panas tubuh pria itu terasa di punggungnya. Dia dekat. Sangat dekat. Deru nafasnya menggelitik tengkuknya, dan saat ia bicara, getaran dari suaranya berdesir di sekitar lehernya. "Buka matamu, sayang."

Dengan sengaja Sehun membuka pelan kedua kelopak matanya hingga sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan Jongin berdiri di belakangnya. Tubuh pria itu membuat tubuhnya terlihat ramping kalau dibandingkan dengannya. Dia tahu seluruh ukuran tubuh pria itu dari menonton pertandingannya. Enam kaki tiga inchi (+-190 cm), seratus delapan puluh pound (70 kg), sedikit lagi agar ia tak perlu menurunkan beratnya untuk pertandingan, dengan jangkauan tangan tujuhpuluh-enam inchi. Bagian atas bahu Sehun sedikit dibawah ketiak Jongin, dan jika Sehun membiarkan kepalanya jatuh kebelakang, kepalanya akan bersandar dengan nyaman di lengkung leher pria itu.

"Sekarang," kata Jongin, membawanya keluar dari observasi khayalannya. "Katakan padaku apa yang kau lihat."

"Bahu yang kuat. Dada yang kokoh. Lengan yang terbalut otot yang sangat sempurna dan membuatnya terlihat superseksi..."

Pria itu menyeringai pada pantulannya di cermin dan suaranya berubah menjadi gemuruh rendah yang memberi getaran langsung ke putingnya. "Kau pikir lenganku seksi, Hun?"

"Mmm-hmmm." Mengapa dirinya terlihat seperti menyunggingkan senyum bodoh di wajahnya? Tentu saja ekspresi itu tidak seperti dirinya.

"Terima kasih. Aku akan berkata jujur padamu bahwa tak pernah ada seorangpun mengatakan hal itu padaku."

Well itu sangat memalukan. Sehun baru saja akan memberitahukan pada Jongin saat Jongin secara tiba-tiba memotong pikirannya. "Maksudku, katakan apa yang kau lihat dalam dirimu, Sehun."

"Oh." Mempelajari pantulan dirinya, yang ia lihat hanyalah seorang pria yang terjebak dalam tubuh seorang pria kuno yang mencoba sekeras mungkin untuk merubah penampilannya dan menantang kemustahilan. "Um. Aku melihat..." Apa yang Jongin ingin ia katakan?

"Ini bodoh, Jongin. Aku tak mau melakukan ini lagi."

Saat Sehun berbalik dan akan meninggalkannya Jongin menggenggam pinggul Sehun dan memaksanya tetap ditempat. "Aku akan memberitahumu apa yang aku lihat. Aku melihat pria manis dan mempesona yang bersembunyi dibalik rasa tidak aman yang tidak seharusnya tinggal berlama-lama di dalam kepalanya."

Sehun merunduk menatap lantai, tapi jari-jari yang kuat mengangkat dagunya. "Aku melihat tubuh dengan kulit putih yang mulus dan lekuk tubuh halus yang memaksa seorang pria menutup matanya dan membayangkan menelusuri tubuh ini layaknya seorang pemahat pada subjeknya."

"Benarkah?" suara Sehun melengking.

"Tentu saja." Jongin menutup matanya dan meletakkan tangannya di bagian luar paha Sehun, kemudian meluncurkan tangannya ke atas dalam gerakan lambat yang menyiksa. kulit tebal di telapak tangannya menggesek kulitnya lembut, menanamkan kedalam tiap syaraf sentakan energi yang tak pernah tahu bagaimana rasanya sebelumnya. "Sebelum seorang pemahat bisa menduplikasi keanggunan sebjeknya, ia harus mengingat subjek itu dengan kekuatan sentuhan, bukan bergantung pada lemahnya pandangan mata."

Bibir Sehun terbuka saat nafasnya keluar lebih cepat dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin lebih. Tangan Jongin melanjutkan eksplorasinya, mencakup daerah pinggang dan bergerak ke sisi tubuhnya dengan sentuhan lembut seperti layaknya seorang pria yang memegang kendali. Seorang pria yang tahu apa yang diinginkannya, dan mengambil kesempatan itu tanpa belas kasihan.

"Saat tangannya bergerak ke setiap sudut, setiap lekuk, setiap lembah.." tubuh indah seorang terbentuk dalam pikiran Jongin, "menanamkan setiap otot di memori, jadi ia bisa menduplikasi orang indah itu meskipun ia buta."

Sehun pikir pakaiannya akan membatasi sensasi sentuhan yang berlebihan daripada kontak kulit-ke-kulit...tapi kemudian tangan itu meluncur ke perutnya dan semua rasa lega yang ia rasakan langsung terlempar ke neraka. Tangan yang selebar tangan Jongin, saat ditempatkan ke bagian tengah tubuhnya, dengan mudah membentang keseluruh tubuhnya.

Sehun tak yakin apakah ini karena anggur atau faktanya bahwa Kim Jongin, sahabat kakaknya yang superhot dan pria yang ia sukai saat remaja, menyentuhnya dengan sangat intim dan menyebabkan pengalaman yang diluar-khayal-tubuhnya. Dari jauh Sehun melihat saat jari kelingking kiri Jongin menjelajahi puncak gundukannya, terlalu tinggi untuk dianggap tak berdosa, tapi terlalu rendah untuk menyebabkan puntiran di perutnya dan membuatnya menekan kedua pahanya bersamaan dan mengigit bibirnya untuk mencegah erangan yang tak ingin terdengar. Dan jika itu belum cukup, jempol kanan Jongin mengelus alur diantara selangkangannya.

Jongin menenggelamkan wajahnya ke leher Sehun, ia menghirup dalam-dalam dan mengeluarkan suara berupa campuran erangan dan geraman, yang mana merupakan suara paling erotis yang Sehun pernah dengar. "Sialan kau berbau harum."

Lututnya bergetar. Kekuatannya untuk berdiri menghilang. Kabut tebal telah bertiup ke dalam pikiran Sehun, berpikir jernih jelas sudah tak mungkin terjadi. Melepaskan benteng terakhirnya, Sehun membiarkan kepalanya terjatuh kebelakang dan mengarah ke samping saat nafas Jongin yang panas terhembus di dekat daun telinganya.

Tangan Jongin mulai menggenggam, jari-jarinya menusuk ke dalam kelembutan tubuhnya. Sehun mengucapkan nama Jongin dalam rintihan...

Dan semuanya terhenti.

Dengan sumpah serapah tertahan Jongin memegangi tangan Sehun menyeimbangkan tubuhnya saat Jongin mencoba menjauh. Setelah yakin bahwa ia tak akan menabrak cermin dengan mukanya, Jongin melepas tangannya dan mengelap wajahnya dengan telapak tangannya, kemudian bergidik dan memegangi bahunya yang terluka.

"Aku benar-benar minta maaf, Sehun. Aku— Sial, aku tak tahu apa yang merasuki tubuhku. Aku tak bermaksud melakukan semua itu."

Bam! Oh, bagus. Realitas sudah kembali. Sehun mengayunkan tangannya di udara dan memberi Jongin sinyal pssh yang terdengar seperti seekor kuda yang menghembuskan nafasnya melalui bibir.

"Jangan pernah berpikir tentang hal itu. Aku lebih mabuk dari pada kau jadi penilaianku tidak sah, dan kau menutup matamu, jadi kau tak bisa disalahkan karena bergairah saat membayangkan aku sebagai orang lain." Mencoba untuk tidak terjatuh dan bersikap tolol, Sehun berjalan untuk mengambil piyama di lantai.

"Hun..."

Memasang senyuman, akhirnya Sehun berbalik. Ada beberapa saat dimana ia mungkin atau tidak mengancam bola matanya dengan tercongkel dari tempatnya jika kedua bola matanya masih memperhatikan dari wajah hingga bagian tubuh bawah Jongin. Sehun mungkin saja mabuk dan kehilangan rasa malu, tapi ia masih ada harga diri. "Sejujurnya, Jongin, ini bukan apa-apa. Aku hanya lelah. Ini minggu yang panjang."

Sekali lagi mengelap wajahnya sebelum Jongin menaruh kedua tangan di pinggangnya dan memperhatikan Sehun cukup lama. "Okay, yeah, aku rasa kita berdua harus pergi tidur. Maksudku kita harus pergi ke tempat tidur. Tidur! Sial."

Yep. Jongin sangat payah dalam permainan memilih-kata. Sehun harus ingat untuk tidak berpasangan dengan Jongin saat bermain Taboo! Atau Catch Phrase. "Selamat malam, Jongin."

"Malam, Hun."

Segera setelah pintu ditutup, Sehun mengalahkan rekor mengganti bajunya saat dalam keadaan mabuk dan langsung bergerak ke bawah selimut. Dia bersyukur tak perlu menggosok gigi lagi karena dia sudah melakukannya setelah mandi tadi karena meninggalkan kamarnya hanya untuk memakai kamar mandi dan mengambil resiko melanjutkan Tango Aneh mereka benar-benar tidak mungkin dilakukan.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

How? Udah mulai panas belom? Haha

Yang kemaren bilang 'Njir, Jongin bangkotan,jongin udah tua,bayangin jongin punya badan kekar serem dan segala macam tetek bengeknya' wkwk sebenarnya doi tuh ga tua2 banget,sekitar umur 30-an lah. Kalo dalam ukuran orang luar,umur segitu tuh ya ga tua. Beda kalo buat orang indo, pasti dikatain bujangan tua,lapuk dsb. Hahaha

Dan please~ kalian bayangin otot Jongin tuh jangan kek Mas Ade Rai. Karena badan Jongin ga bisa dibayangin kalo semelar itu. Kan itu kelas MMA ringan. Adu jotos gitu. Bukan kelas angkat beban yang badannya musti segede tronton. Haha

Mungkin bayangin kek badan abang siwon gitu lebih gedean dikit nah! Haha doohh serius dijamin sexy lah pokoknya jongin macam begitu T~T hahaha *kan pikirannya mulai kemana-mana* hahaha

Okeh, gimana kelanjutannya?

Review please~~ ^^

.

.

Thanks to Review CH 1 :

Erna606 , YunYuliHun, Guest ,kukuruyuuk , vantasfic, ooh , ohunie , windaii5 , SUKA PAKE CAPSLOCK ,sehuniesm, VampireDPS, exolweareone9400 ,izzsweetcity ,rytyatriaa ,ParkJitta , Zelobysehuna, xohunte ,dialuhane ,JongOdult, bottomsehunnie ,GYUSATAN ,ohhanniehunnie ,Keteknyakai, fiyaKH ,levy95, Damchuu93, vitangeflower, nin nina ,HilmaExotics ,Jongin's Grape, bibblebubblebloop .

Ps : sepertinya aku udah menjelaskan pada ff lain sebelum ff ini brojol kalo aku bakal ngeluarin ff remake novel lagi, dan ini emang ff remake novel. Jadi aku udah menjelaskan ini lagi untuk yang kesekian kalinya. Dan, buat yang udah baca jangan lupa review yaa~ jangan jadi SIDERS please~ sedih liatnya, banyak yang baca tapi yang ngereview sedikit T~T *nangis peluk Chanyeol* mohon pengertiannya yaa~ gomawo~~ *hug*