Pokoknya ga tau, dipart ini tuh berasa pengen nyanyi lagu Some Type of Love nya Charlie Puth. Haha
Gakuku lah sama KaiHun, wkwk
Ya daripada kebanyakan omong mending langsung aja deh ke storynya. Ini part udah panjangan yaaa~ jadi jangan pada protes, protes? Kolor Kai melayang, hahaha XD
~oOOo~
Sehun tak bisa percaya kalau sudah satu minggu sejak kepindahan Jongin. Seminggu ini sudah diisi oleh berbagai kegiatan terapi fisik untuk Jongin dan kegiatan menambah pesona diri untuknya. Sehun memotong rambutnya yang mana sangat ia sukai dan merasa bodoh karena sudah terlalu khawatir saat akan memotong rambutnya. Tidak sampai mereka melakukan highlight (pewarnaan) dengan menggunakan foil, membuatnya terlihat seperti Medusa alumunium, kemudian Sehun mulai gelisah lagi. Untungnya gadis yang menangani rambutnya tahu apa yang Sehun sukai dan warna karamel yang lembut membuatnya memiliki rambut coklat yang lebih indah dan gelap yang sebenarnya Sehun tak pernah sangka akan mungkin mendapat warna seperti itu.
Bagaimanapun juga, di akhir minggu ini, Sehun harus mengakui bahwa ia hampir terlihat... mempesona. Ini tak masuk akal bahwa penyesuaian dari beberapa hal bisa membuat perbedaan luar biasa pada tubuh dan wajahnya. Atau, lebih tepatnya, diperlukan pelajaran keindahan untuk merubahnya.
"Sangat manis dan tampan."
Sehun berputar membelakangi cermin tinggi di kamarnya untuk menemukan Jongin bersandar pada kusen pintu, tangan menyilang didadanya, karet elastis dari kaos polo hitam yang ia kenakan merenggang hingga batasnya di atas bisep. Motif dan sulur dari tattoo-nya terlihat seperti bagian dari kaosnya, membuat benda itu lebih terlihat seperti senjata futuristik dibandingkan dengan anyaman kapas. Jeans gelapnya membungkus pahanya yang berotot dan jatuh lurus ke pergelangan kakinya yang telanjang.
Sehun menyadari seminggu ini bahwa Jongin tak pernah mengenakan kaos kaki atau sepatu kecuali ia sangat memerlukannya. Dan dengan itu pula ia mendapat pelajaran betapa seksinya seorang pria dalam celana jeans dan tanpa alas kaki.
Jongin membuat tampilan bad-boy terlihat tanpa cela. Rambutnya terbentuk seperti biasanya, tapi malam ini ujung rambutnya menjulur sedikit di dahinya membuat Sehun mengalihkan perhatiaannya ke mata Jongin yang intens. Malam ini Jongin mengenakan anting; berlian berpotongan persegi yang entah bagaimana membuatnya nampak lebih jantan, bukan sebaliknya. Saat Sehun melihat detail terakhir dan akhirnya membiarkan otaknya memeriksa secara keseluruhan penampilannya, mulut Sehun kering dan membuatnya harus menelan ludah sebelum ia bisa berbicara.
"Kau juga tampak sangat tampan," kata Sehun. "Tapi aku masih tak mengerti mengapa kau mau datang ke acara pesta syukuran bayi Lizzie bersamaku."
Lizzie adalah salah satu dari perawat terbaik di NNMC dan sebulan lagi ia akan melahirkan anak pertamanya, jadi teman-temannya membuat acara itu di salah satu steakhouse yang mewah.
"Kau akan sangat bosan."
Jongin menjauh dari kusen dan bergerak melewati ruangan. "Aku tak pernah bosan. Aku selalu bisa menghibur diriku. Ayolah, kita akan terlambat."
Sehun melirik ke jam di mejanya, mengkornfirmasi keterlambatan mereka. "Sial!"
Jongin tertawa saat Sehun berlari ke lemari pakaiannya untuk mengambil sepatu dan dompet. "Tenanglah. Cinderella seharusnya memang datang telat ke pesta jadi semua orang akan menyadari kehadirannya saat ia berjalan masuk ke ruangan."
"Cinderella? Aku ini pria bodoh! Dan itu sedikit yang selalu aku khawatirkan," kata Sehun saat ia memasukkan satu kakinya ke dalam sepatu dan menyesuaikan kakinya yang lain dan gagal melakukannya.
"Sini, biar aku saja." Jongin mengambil sepatu abu-abu itu dari Sehun dan menurunkan tubuhnya untuk bersimpuh. Sehun berdiri sambil berpegangan pada tiang tempat tidurnya, terpesona pada tangannya saat tangan itu membantunya memasukkan kakinya ke dalam sepatu.
Kehangatan jemarinya saat tangan Jongin memegangi pergelangan kaki Sehun,mengirimkan getaran ke kaki Sehun dan menjalar ke sexnya sama seperti saat Jongin menyentuhnya langsung. Jongin memegangi kaki Sehun dengan satu tangan saat tangan lainnya membuka, melepaskan rantai silver yang ia sembunyikan di tangannya untuk memasangkan di pergelangan kaki Sehun.
Keterkejutan membuat Sehun tak dapat berkata-kata saat Sehun memperhatikan Jongin memasangnya di pergelangan kakinya dan menguncinya. Rantai itu tak berat, dan ia berpikir ia takkan merasakan rantai itu ada disana kalau saja jimat dan manik-manik tidak menghiasinya. Di bagian depan, seekor burung silver tergantung di rantai. Manik kristal berwarna biru langit tergantung setiap inci, melengkapi benda itu dengan kecantikan yang klasik.
"Ini sangat indah," kata Sehun. "Tapi kau sudah terlalu banyak memberikanku barang, Jongin. Kau tidak harus selalu memberikanku barang-barang model wanita seperti ini."
"Aku tahu, tapi saat aku melihat benda ini aku langsung memikirkanmu."
"Benarkah? Mengapa?"
"Ini burung pipit." Jongin melihat kebawah dan memegangi jimat burung itu. "Tidak seperti kebanyakan burung, saat burung pipit menemukan pasangan jiwanya, mereka akan tetap bersama hingga akhir hayat." Jongin mengangkat kepalanya dan memandang Sehun. "Membuat mereka menjadi simbol dari menemukan cinta sejati."
Menemukan cinta sejati. Sehun sangat ingin menemukan pasangan yang sesungguhnya dan tidak berharap lebih tentang cinta. Bagaimanapun juga, itu adalah hal terindah yang pernah ia dengar, dan mengetahui bahwa Jongin memikirkannya saat ia melihat benda itu, sangat menyentuh Sehun.
Jongin dengan lembut menaruh kaki Sehun ke lantai dan bangkit menjulang melebihi tinggi Sehun. Sehun mencoba untuk berterima kasih tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya saat pandangannya menjelajah dari krah V terbuka kaos Jongin yang menampilkan kulit kecoklatan di lehernya, ke atas rahang yang bersih sehabis bercukur dan bibirnya yang penuh, hingga pandangannya terjebak di matanya. Matanya berganti warna tergantung dari pakaian atau sekelilingnya atau bahkan pencahayaan.
Sekarang matanya berwarna cokelat lembut dengan goresan karamel, mengingatkannya pada gula-gula cokelat. Kim Jongin benar benar sebuah enigma. Di Vegas Sehun tahu kehidupan Jongin adalah seorang petarung playboy yang kaya raya, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih atau 'berkencan' dengan wanita yang tak ingin ia pikirkan. Tapi semenjak Jongin pindah bersama Sehun untuk sebuah kesepakatan gila yang mereka jalani, Jongin bukan apa-apa kecuali seseorang yang menarik, supportif, dan bijaksana. Seperti yang Sehun ingat tentang Jongin dimasa mudanya dan saat ia jatuh cinta pada teman kakaknya itu. Jika Sehun pikir, Jongin yang dulu fantastik, kini Jongin tumbuh lebih dari sekedar fantastik.
Sehun berdehem dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu. "Terima kasih, Jongin. Aku menyukainya."
"Terima kasih kembali. Mari berangkat. Aku tak tahan ingin melihat rahang dokter itu terlepas dari engselnya saat ia melihat apa yang selama ini sudah ia lewatkan." Saat Sehun mengerutkan hidungnya karena ragu, Jongin mengecup Sehun dan bilang, "Percayalah padaku," dan menggenggam tangan Sehun untuk membawanya keluar kamar.
Tigapuluh menit kemudian mereka sampai di restaurant dan seorang pramuria membawa mereka ke ruangan yang sudah di sewa dimana pesta itu dirayakan. Sehun menaruh kadonya untuk Lizzie di meja yang dihiasi dengan indah di dekat pintu dan dengan gugup melihat ke kerumunan orang.
"Berhenti gelisah," kata Jongin di telinga Sehun. Tangannya berada di punggung Sehun untuk membantu menenangkannya, tapi tak terlalu membantu.
"Aku tak gelisah."
"Ya, kau gelisah."
Jongin benar. Sehun bernafas cepat dan tidak teratur. Sehun sepertinya tak bisa berhenti. Mengapa Sehun merasa seperti ia sedang masuk ke sarang singa? Orang-orang ini sudah Sehun kenal lama dan sudah nyaman beberapa tahun bersama. Tapi bagaimana bila mereka tidak menyukai penampilan barunya? Atau bagaimana jika mereka berpikiran buruk tentang pergantian penampilan yang Sehun lakukan?
Sehun sulit menahan cicitan kecil dari dadanya saat Jongin menariknya keluar ruangan. "Hey!"
"Shh," perintah Jongin saat ia menarik Sehun ke lorong, membawanya ke pojok, dan kemudian menjepitnya antara tubuhnya yang besar dan dinding. "Ketakutanmu tak beralasan, jadi aku akan mengajarimu satu trik yang aku gunakan sebelum bertanding."
"Jongin, aku pikir-"
"Jangan berpikir. Bayangkan. Sebelum aku masuk ke kandang (ring bertanding) aku membayangkan setiap pukulan, setiap tendangan, setiap bantingan. Aku mengerti lawanku dengan baik dari mempelajari pertandingan yang telah ia lakukan sebelumnya. Aku mengantisipasi bagaimana ia akan bereaksi akan seranganku jadi aku akan siap untuk situasi apapun. Itulah yang aku ingin kau lakukan sekarang."
Sehun tahu dia sudah memandang Jongin seolah Jongin sudah gila, karena itulah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Bagaimana trik itu bisa membantunya berbicara dengan Chanyeol? Jika Sehun butuh mengantisipasi pukulan seorang pria itu akan menjadi masalah yang lebih besar dibandingkan dengan menginginkan sebuah kencan.
"Tutup matamu." Melihat pandangan Jongin yang serius - dan semua keinginan untuk menghapuskan rasa gugupnya – Sehun mematuhinya. "Aku ingin kau membayangkan dirimu sendiri berjalan masuk ke ruangan itu, dagumu terangkat tinggi, dan rasa percaya dirimu bahkan lebih tinggi lagi. Kau tahu kau terlihat luar biasa. Pakaian ini pas di tubuhmu seolah memang didesain untukmu. Sepatumu itu membuat kakimu terlihat menawan dan semua pria di ruangan itu akan membayangkan kedua kakimu berada di pinggang mereka."
Sehun merasakan sedikit dingin dengan AC yang menyala dari ventilasi di atas mereka, tapi saat Jongin meletakkan tangannya di pinggang Sehun, semua rasa dingin menghilang karena panas dari sentuhannya. Jongin bergerak mendekat ke Sehun, dadanya menyentuh lembut dada Jongin yang keras dengan setiap hembusan nafas beratnya. Mata Sehun tetap menutup, tapi getaran dari kehadiran Jongin sangat jelas. Fokus bukan menjadi masalah yang ia pikirkan lagi. Sehun tersambung dengan Jongin sekarang, pikiran dan tubuhnya, entah ia menginginkannya atau tidak.
"Bayangkan aku adalah dirinya. Aku tak bisa melayangkan pandanganku darimu sejak aku melihatmu. Aku berpikir bagaimana mungkin aku selama ini begitu buta tak melihat betapa mempesonanya dirimu."
Tangan Jongin dengan perlahan menjalar di sisi tubuh Sehun hingga jempolnya hanya beberapa milimeter jaraknya dari dadanya. Sehun mengatakan pada dirinya sendiri seharusnya ia tak merasa kecewa saat Jongin memutar tangannya ke punggungnya, memutuskan untuk menghindari bagian yang tak seharusnya. Suara Jongin, rendah dan dekat dengan telinganya, terasa di kulitnya menyebabkan rambut kecil di belakang lehernya berdiri. "Aku memulai dengan obrolan kecil, berbicara mengenai pekerjaan, tapi sepanjang kau berbicara aku hanya memperhatikan bibirmu dan membayangkan seperti apa rasanya."
"Benarkah?" tanya Sehun dalam desahan.
"Fuck yeah, benar." Tangan Jongin yang bebas naik untuk memegang wajah Sehun dan kemudian mengelus pipi Sehun dengan hidungnya hingga Sehun menghadap ke samping. "Kau luar biasa seksi, Sehun, dan aku ingin membuka pakaianmu untuk mendapatkan hadiah dibawahnya. Aku ingin mengetahui apa yang kau sukai, yang tidak kau sukai - untuk mengetahui ketakutanmu dan mimpimu - dan aku berjanji untuk mengupas setiap lapisan cantik hingga akhirnya aku mengetahui semua hal tentang dirimu."
Jantung Sehun berdetak kencang hingga ia yakin bahwa pelayan bisa mendengarnya dari depan restaurant. Sehun ingin dimengerti seperti itu - secara fisik, emosional - sangat menginginkannya.
"Ya," kata Sehun. "Aku ingin hal itu."
"Maka ambil apa yang kau inginkan." Suara Jongin terdengar parau ditelinga Sehun. Terdengar tersiksa. "Buat itu jadi kenyataan."
Sehun sangat mendalami gambaran di kepalanya, dia tak menyadari bahwa Jongin sudah menjauh darinya hingga perasaan kehilangan menyapu dirinya. Membiarkan mata Sehun terbuka yang langsung terfokus pada Jongin yang berdiri di depannya. Tangannya masuk kedalam kantong depan celananya dan ekspresi keras di wajahnya tidak sesuai dengan emosi gairah yang baru saja ia berikan pada Sehun.
"Semua yang harus kau lakukan adalah mengingat semua yang aku katakan padamu, dan berjalan masuk dari pintu itu." Sebelum Sehun bisa bertanya pada Jongin apa semuanya baik-baik saja, Jonginmenggerakkan kepalanya ke arah ruangan pesta. "Masuk. Ini waktunya kau masuk ke ruangan, Cinderella."
Bayangan dari dirinya berjalan masuk ke ruangan dengan semua mata tertuju padanya tak lagi mengirimkan sinyal kepanikan padanya. Jongin benar. Sehun mungkin tidak setampan selebriti, tapi Sehun sudah seratus persen lebih baik daripada dirinya seminggu yang lalu. Tak ada lagi alasan dia meragukan hal itu. Berjinjit, Sehun menanamkan kecupan di pipi Jongin. "Terima kasih, Jongin."
Satu sisi bibir Jongin terangkat. "Kapanpun, sweetheart."
Dengan keyakinannya yang baru ditemukan dan penampilannya yang juga baru, Sehun menarik bahunya kebelakang dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
~oOOo~
Jongin menyapukan tangannya ke wajah sesaat setelah Sehun membelakangi tempat itu. Gym dan teman sparring yang kuat tak akan membuatnya tumpul seperti sekarang. Teknik visualisasi adalah sesuatu yang bisa dipakai di semua situasi jadi ia tahu bahwa teknik itu akan bekerja pada Sehun juga. Yang Jongin tidak ketahui adalah dampak dari teknik itu pada dirinya sendiri.
Jongin bahkan tak yakin sedang jadi siapa saat mengatakan semua itu. Di satu titik Jongin merasa sedang keluar dari karakter. Jongin tidak membayangkan Dr. Dipwad menatap bibirnya dan menciumnya. Jongin membayangkan dirinya sendiri melakukannya.
"Aku butuh minum," gumam Jongin, berjalan masuk ke ruangan. Sesaat setelah Jongin melewati pintu ia melihat Sehun. Seperti halnya Sehun kutub Utara yang selalu menjadi arah tatapan matanya. Kemeja biru pucat yang simpel yang ia kenakan biasa saja namun sangat indah.
Jongin tetap menatap pada Sehun saat ia melangkah ke arah meja yang tersusun punch dan cocktails di atasnya. Mengambil salah satu minuman, ia memperhatikan bokong Sehun saat bergerak di setiap langkah yang ia lakukan. Pandangan Jongin turun ke arah lekukan kaki Sehun yang lembut. Sialan, Sehun terlihat seksi.
Jongin mengangkat gelas itu kemudian berhenti. Jika Jongin harus menebak dari minuman di pesta ini, Lizzie akan mendapatkan anak perempuan. Terlihat seperti versi gilanya Shirley Temple, merah muda terang dengan cherry yang di tusukan di peniti plastik yang terbuka menggantung di pinggir gelas.
"Pelecehan, kan?"
Jongin melirik ke arah kiri untuk melihat seorang pria Hispanik dengan tubuh terbentuk dengan baik berdiri di sampingnya dengan senyuman terhibur di wajahnya. Ia memegang dua botol Corona bukannya 'pelecehan' yang Jongin sedang pegang.
"Bahkan tak ada alkohol di dalam minuman itu," kata pria itu.
"Sialan, ini tak dapat dimaafkan." Jongin menaruh gelas itu kembali ke meja dengan tatapan jijik ke tatanan diatas meja. "Bagaimana mereka memutuskan melakukan ini?"
Pria itu tertawa, dan menyodorkan birnya. "Ini adalah pesta bayi, bung. Itulah alasan yang mereka butuhkan untuk menarik semua barang-barang pria dari acara ini. Biasanya kita tak akan dibiarkan begitu saja masuk ke dalam cara seperti ini, tapi Lizzie salah satu favorit di antara semua staf rumah sakit. Semua orang suka padanya karena hal itu ini menjadi acara 'semua orang'. Aku Kris."
"Jongin." Dengan rasa lega ia menerima botol itu, dia menjabat tangan Kris sebelum membuka tutupnya dan meneguk setengahnya sekaligus. "Terima kasih, bung. Kau penyelamat."
"Jangan risaukan hal itu."
Melihat melalui Kris, Jongin melihat Sehun memeluk seorang gadis yang hamil dan kemudian berjalan kearah doktornya yang sedang berbicara dengan pria lain di meja seberang ruangan. Berpakaian pakaian mahal dan rambut gelapnya di gel dan disisir ke satu sisi, dia terlihat seperti bayi manja. Seseorang yang sudah memiliki banyak uang bahkan sebelum ia menjadi seorang dokter dan merasa sangat nyaman dengan kekayaan di hidupnya.
Dokter itu sedang berbicara saat ia menyadari Sehun. Saat itu benar-benar seperti di film. Ia melakukan kedipan dua kali dan matanya hampir meloncat keluar dari kepalanya saat lidahnya yang tergulung jatuh ke lantai seperti salah satu dari cuplikan di kartun lama.
Tapi Jongin tak bisa menyalahkan pria itu. Sehun sedang berada di penampilannya yang langka. Sehun melintasi ruangan dengan tatapan intens yang sangat jelas. Seorang pemburu cinta mendekati mangsanya yang terjebak dengan sebuah senyuman tipis di ujung bibirnya. Jongin hampir saja bisa mendengar Sehun berkata, Tak ada tempat untuk berlari... Aku mendapatkanmu sekarang.
Chanyeol undur diri dari meja itu tanpa melihat pria yang tadinya sedang ia ajak bicara. Dalam dua langkah Chanyeol memperkecil jarak diantara dirinya dan Sehun. Meskipun ia bukan seorang pembaca bibir, Jongin bisa menebak kemana arah pembicaraan itu.
Sehun, kau terlihat sangat mempesona!
Begitu kah, terima kasih, Chanyeol. Kau juga terlihat sangat tampan.
Well, masih seperti biasanya. Tapi kini kau sudah kembali ke keindahan aslimu, kau benar-benar harus menemaniku ke pesta rumah sakit.
Aku pikir kau takkan pernah menanyakan hal itu. Tentu saja aku akan pergi ke pesta itu denganmu!
Kemudian kita bisa menikah dan kau bisa menjaga anak-anak kita saat aku bekerja untuk menyelamatkan dunia.
Oh, Chanyeol, itu terdengar seperti mimpi yang bisa menjadi kenyataan!
Sehun tertawa pada sesuatu yang Chanyeol katakan dan menyentuh tangannya perlahan. Kemudian saat Chanyeol berbicara kepada Sehun, Chanyeol terlihat membenarkan rambut Sehun kebelakang dan melihatnya dari bawah bulu matanya. Sialan, Sehun sangat indah. Jongin sudah melepaskan monster.
Jongin menghabiskan sisa birnya dan mencoba dengan keras untuk tidak berjalan ke arah Sehun dan menariknya pulang. Seharusnya Sehun tidak merayu Chanyeol, seperti halnya ia menginginkan anak darinya.
Di atas kertas mungkin pria itu adalah USDA terbaik, tapi Jongin tak bisa menghapuskan perasaan bahwa Chanyeol menyembunyikan cakar yang membuatnya tak lebih baik dari Ukuran Standar.
"Aku melihatmu datang dengan Sehun. Apakah kalian berkencan?"
Jongin melihat kearah Kris di saat seorang pelayan menaruh satu ember penuh es dan botol di meja di samping tubuhnya. Jongin tersenyum dan berkata, "Tebakan."
Mereka mengambil botol lain, menggunakan pembuka botol di samping ember, dan membuang tutupnya. Sambil menggoyangkan minuman di tangannya Jongin berkata, "Sehun dan aku adalah teman lama. Aku tinggal bersamanya untuk beberapa saat selagi aku di kota ini."
Kris menunjuk ke arah Sehun dengan botolnya. "Well, semua hal tentang teman itu menjelaskan mengapa kau tidak mengklaim dirinya saat ia menggoda doktor yang baik disana. Tapi itu tidak cukup untuk menjelaskan tatapan matamu yang mengatakan kau akan senang membunuhnya dengan tangan kosong."
"Aku bertarung untuk hidupku, jadi itu sudah seperti kebiasaan," jawab Jongin pelan.
"Apa kau juga seorang makeover artist atau perubahan tiba-tiba dari Sehun kami terjadi karena keberadaanmu?"
Jongin tidak suka akan arah pembicaraan ini. Kris terlalu teliti. Dia terlihat seperti pria yang baik, dan dia berbicara seolah-olah ia tertarik pada Sehun. "Apa kau sudah lama mengenal Sehun?"
Kris melihat kearah Sehun yang masih berbicara dengan Chanyeol. "Aku mengenalnya sejak bangku kuliah." Kris mengalihkan tatapannya kembali pada Jongin. "Dia sudah seperti adik manisku."
Jongin menganggukkan kepalanya dalam pengertian. "Pesan diterima, bung. Aku sahabat baik kakak laki-lakinya."
Senyuman puas mekar di wajah pria itu dan ia mengangkat birnya untuk menyenggolkannya ke botol Jongin. "Senang mendengarnya."
Meminum beberapa teguk bir, Jongin berpikir apakah ia bisa mencari tahu apa yang terjadi di beberapa tahun belakangan saat ia tidak ada. Seseorang yang membuat Sehun menjadi seperti sekarang. "Apakah kau ada saat Sehun menikah?"
"Yeah," Kris menggertak. "Aku ada."
"Siapa pria itu? Apa yang terjadi?"
"Sehun bertemu dengannya saat mereka bertabrakan di luar kampus. Dia sedang berjalan keluar kelasnya, dan pria itu sedang terlibat dalam rapat damai yang membahas tentang masalah yang dialami kelompoknya satu minggu belakangan."
Jongin tahu dengan jelas tipe yang Kris deskripsikan. Ada beberapa kelompok seperti itu yang secara konstan menentang MMA. Mereka memanggil diri mereka sendiri aktivis manusia. Dia memanggil mereka orang-orang brengsek yang tidak berpendidikan. Jongin mencoba membayangkan Sehun dengan pria seperti itu dan gagal. Kemudian, dia tak bisa membayangkan Sehun dengan pria seperti Chanyeol, tapi yang jelas Sehun melihat sesuatu yang ia tak bisa lihat.
"Okay, jadi pria itu aktivis, Sehun adalah mahasiswi, mereka bertemu. Kemudian apa yang terjadi?"
"Hubungan mereka seperti angin puyuh. Satu hari mereka bertemu untuk makan siang dan hal selanjutnya yang kami tahu mereka mengumumkan pertunangan mereka dan terbang ke Vegas. Semuanya berjalan dengan sangat cepat sehingga membuat kepala kami pusing."
"Apakah itu alasan mengapa kau tidak menyukainya?"
"Tidak," erang Kris. "Aku membencinya karena apa yang sudah ia lakukan pada Sehun. Sehun sangat terbutakan oleh gairahnya menyelamatkan dunia dan mimpi idealistiknya sehingga Sehun tak bisa melihat keburukan pria itu. Pria itu tak bisa memesan hanya satu makanan utama di sebuah restauran sama seperti halnya tidak bisa bertahan pada satu cinta. Pria itu tak lebih dari sekedar bajingan egois yang suka perhatian."
Jongin tak bisa melihat kemana arah pembicaraan ini dan tangannya mengepal dengan gairah yang familiar untuk memukul wajah seseorang. "Katakan padaku apa yang ia lakukan," kata Jongin dengan rahang yang mengatup.
Kris menegang dan melirik Sehun. Rasa sayangnya pada Sehun jelas dalam mata coklatnya saat ia berbicara. "Bajingan itu berselingkuh dengan gadis hippie beberapa bulan setelah pernikahan. Aku berani bertaruh gajiku setahun bahwa hal itu terjadi bukan hanya sekali - atau dengan seseorang saja. Kemudian, Sehun memergokinya berselingkuh. Di ranjang mereka."
Jongin mengumpat dan harus menurunkan birnya sebelum kepalan tangannya menghancurkan botol itu. Pria macam apa yang melakukan hal itu kepada pria yang manis dan lugu? Atau kepada wanita manapun. Akhirnya semua menjadi jelas mengapa Sehun sangat ingin menemukan seseorang yang cocok dengannya.
Mantan Sehun adalah seseorang yang sangat berbeda darinya dan hubungan mereka tak lebih dari sekedar lelucon. Sekarang Sehun perlu menemukan hubungan yang berbeda, yang mana memerlukan orang yang sangat mirip dengannya. Seseorang, seperti pria yang sedang berbisik di telinga Sehun saat ia tertawa. Dr. Park Chanyeol, MD.
"Tenang, amigo. Taringmu terlihat jelas."
Jongin menatap Kris garang. "Apa yang kau bicarakan?"
"Kau terlihat seperti kucing hutan yang siap untuk menanamkan gigimu ke leher seseorang."
Jongin mempelajari pria itu, berpikir mengapa dia malah tersenyum seperti seorang idiot. "Benarkah?"
"Benar. Dan meskipun aku akan senang mendengar alasannya darimu, aku harus puas dengan pikiranku sendiri."
"Mengapa?"
Kris menganggukkan kepalanya ke satu sisi. "Karena Sehun sedang berjalan ke arah sini." Jongin mengikuti arah pandangnya untuk melihat Sehun berjalan melintasi ruangan dengan senyum terlebar yang pernah Jongin lihat terjadi padanya. "Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, Jongin. Sampai jumpa lagi."
"Kau juga, bung. Terima kasih atas birnya."
Sedetik kemudian Jongin lupa semua penyataan Kris saat ia fokus pada Sehun. Jongin merasa terbagi dua, antara ingin tahu semua detail tentang Chanyeol dan ingin berpura-pura semua itu tak pernah terjadi. Tapi Jongin akan menjadi teman yang menyebalkan jika ia melakukannya, jadi ia menahannya dan melakukan hal yang benar.
"Jadi apa yang terjadi? Sepertinya kau mengait dirinya cukup dalam dari yang kulihat."
Sehun menyatukan tangannya di hadapannya, terlihat mencoba untuk tidak meledak. "Semua terjadi seperti yang kau katakan, Jongin. Dia memperhatikanku, mengatakan aku terlihat mempesona. Ah kenapa disini terasa panas?" Sehun mulai mengipasi dirinya sendiri jadi Jongin menyerahkan satu gelas minuman menggelikan itu. "Mm, terima kasih, aku sangat haus."
Setetes air kondensasi dari gelas jatuh di leher Sehun saat ia menenggak minuman itu. Jongin harus mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya jadi ia tak mencoba menghapuskan tetesan itu dari leher Sehun.
"Omong-omong," lanjut Sehun, menaruh gelas kosong di nampan seorang pelayan yang lewat, "kami berbicara sebentar dan kemudian ia mengajakku berkencan. Bisakah kau percaya hal itu?"
Jongin memasang senyuman kaku di wajahnya dan berharap terlihat tulus. Jongin memiliki keinginan gila untuk berjalan kesana dan memukuli pria itu di lantai. Mengapa Chanyeol tidak menyadari keberadaan Sehun sebelum makeover? Saat rambutnya acak-acakan dan Sehun mengenakan kacamatanya bukan contact lens dan pakaiannya tidak ketat di tubuh kecilnya. Mengapa semua hal itu membuatnya tidak terlihat di depan dokter itu beberapa tahun mereka besama?
Saat Jongin melihat Sehun pertama kali di kantornya, Jongin suka memperhatikan Sehun mencoba merapikan rambutnya kembali ke tempatnya, hanya untuk membiarkan rambut itu terjatuh tepat setelah Sehun merapikannya. Jongin pikir Sehun terlihat menawan dengan kacamatanya - semua hal tentang pustakawan nakal yang ia sukai - dan Sehun sangat lucu saat dia tidak sengaja mendengus karena tertawa terlalu keras atau menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Chanyeol hanya seorang bajingan sombong yang tidak pantas mendapatkan Sehun, itu kesimpulannya. Tapi, Jongin juga tidak pantas mendapatkan seseorang seperti Sehun. Jongin tak bisa memberikan apa yang Sehun inginkan. Jongin tidak bergaya hidup seperti yang Sehun cari.
Saat Jongin harus bertarung di kota lain, negara lain, Jongin lebih pengembara dibanding orang lain. Dan meskipun itu bukan masalah, Jongin masih tetap tak bisa bersamanya. Tidak seperti ini. Seorang pecundang. Seseorang yang kalah. Tidak, Jongin membutuhkan gelarnya dan status juaranya kembali jika Jongin ingin dianggap pantas lagi. Tak ada yang menyukai pecundang. Ayahnya yang memberitahunya hal itu. Berulang kali.
"Jongin? Apa kau mendengar apa yang aku katakan?"
Berkedip beberapa kali Jongin kembali melihat Sehun dengan fokus.
"Yeah, aku mendengarmu. Tapi aku tidak terkejut. Aku kan sudah bilang pria itu akan tergila-gila padamu."
Sehun memekik kecil. "Aku benar-benar ingin memelukmu sekarang, tapi kau tahu, dia mungkin mempehatikan dan aku tidak ingin dia salah paham."
"Tidak," jawab Jongin masam. "Kita tidak ingin hal itu terjadi." Pelatihnya, Butch, selalu mencoba memberitahu Jongin untuk menahan diri dalam pertandingan. "Harus tahu kapan menahan diri," kata Jongin. Poinnya adalah untuk tetap tenang, jaga pikiranmu, dan biarkan lawan membuat serangan pertama jadi kau bisa bertahan dari serangan itu, dan kemudian balas dengan sesuatu yang lebih kuat.
Jongin tidak pernah cocok dengan ide menahan diri. Dia lebih nyaman di posisi sebagai penyerang. Dia selalu membenci pelajaran menahan diri. Tapi saat malam bergulir dan Jongin dipaksa untuk melihat Chanyeol mengelilingi Sehun seperti hiu, Jongin harus mengingat pelajaran itu. Dengan menggunakan teknik mental Butch, Jongin memutuskan untuk menjaga jarak, yang berarti membiarkan Chanyeol menampakkan giginya. Setidaknya untuk beberapa saat.
~oOOo~
"Mulai dari peregangan di tembok."
Jongin baru saja berhenti memutar bola mata seperti anak-anak.
"Ayolah, Hun, aku tidak butuh peregangan spesial seperti itu lagi. Sudah lebih dari seminggu. Mari lakukan sesuatu yang normal."
"Oh, maaf, aku tidak menyadari kau punya tingkatan untuk terapi fisik." Sehun memutar lalu meraih tembok terjauh dari ruang terapi latihan- perbaikan. "Kenapa kau butuh bantuanku lagi?"
"Sarkasme seperti itu tidak sesuai untukmu," Jongin menggerutu. Tapi ia tidak bisa benar-benar marah karena Sehun terlihat sangat menarik dengan pakaian latihannya yang baru. Tidak ada lagi kaos dalam kebesaran dan keringat . Sekarang Sehun memakai kaos olahraga hitam yang ketat dengan celana olahraga pendek. Rambut hitamnya dibiarkan berantakan.
Berjalan dimana Sehun berdiri dengan penggaris kertas yang mereka gunakan untuk mencatat kemajuannya, Jongin tidak mempedulikan lari sepuluh mil menggunakan treadmill. Jongin berhenti pelan-pelan dan melihat T-shirtnya yang bermandikan keringat yang sekarang terlihat hitam yang tadinya sudah kusam dan pudar.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun bertanya saat Jongin melepaskan pakaiannya.
Jongin tersenyum jail. "Mencoba untuk tidak menyinggung perasaanmu yang halus."
Sehun mendengus dan menepuk separuh wajahnya. Jelas terlihat Sehun terpengaruh, tapi Jongin tidak terlalu yakin kenapa. Jongin senang mendapat reaksi dari Sehun. Saat ia sedikit mendekat, Jongin menambahkan dengusan Sehun lebih sering untuk dicatat dibenaknya dari daftar kenapa ia tetap bersama Sehun. Jongin menyukai tantangan.
"Tahan kakimu rentang dua kaki dari tembok dan gerakan jarimu di penggaris sampai kau merasakan tekanannya. Kemudian bersandar di tembok sampai kau merasakan peregangannya."
Jongin melakukan seperti yang diinstruksikan Sehun, meskipun Jongin sendiri lebih suka mengangkat beban untuk pemanasan. Pemanasan seperti ini hanya untuk banci.
"Bagus. Tahan sekitar sepuluh detik... dan ulangi dari awal."
"Ini aneh. Tidak bisakah aku mendapatkan hasil dari lima pon ditanganku dan mengangkatnya dengan aturan yang sama?"
Tangan Sehun berada di kedua pinggangnya saat berkata, "Sekarang kenapa aku tidak memikikan hal itu? Oh, Aku tahu. Karena itu tidak akan meregangkan otot-otot. Itu akan menggerakan otot-otot."
"Baiklah, lakukan dengan caramu. Tapi kita akan menyatukan latihan kita lain kali."
"Ap—"
Pertanyaan Sehun terpotong dengan pekikan saat lengan kiri Jongin merangkul pinggang dan mendekatkan mereka. "Disana. Sekarang aku punya dorongan untuk bersandar di tembok."
"Jongin, apa yang sedang kau lakukan?"
Jongin tidak bisa menahan senyum puasnya saat berkata, "Mencium."
Mata Sehun melebar dan tercengang cukup untuk membuat bibirnya terpisah. Jongin menunggu dengan sabar sampai shocknya reda. Dan untuk penolakannya ia tahu itu akan terjadi.
"Tentu saja tidak. Keluarkan itu dari pikiranmu. Aku tidak akan menciummu Kim Jongin."
Ketika Jongin mengangkat alisnya seperti mengatakan, sedikit terlambat untuk itu, Sehun menggertak, "Aku tidak akan menciummu lagi."
Menegakkan bahunya yang tidak sakit Jongin seakan-akan tidak mempedulikannya. "Kau mungkin benar. Aku yakin kau tahu semua trik-trik kecil bagaimana membuat seorang pria berlutut dengan ciuman kecil. Gairah nyatanya menjadi hal alami kedua bagimu." Kemudian Jongin memberikan tembakan tepat. "itulah kenapa kau membutuhkanku untuk mengajarimu bagaimana mendapatkan Dr. Mandible di urutan pertama."
Jongin harus menjadi serakah untuk membuat kekalahan telak, karena jelas itulah yang akan ia dapat jika Suho mendapati Jongin mencium adiknya. Suho sangat protektif dengan apa yang Sehun lakukan, dan dengan alasan yang tepat. Tidak berpengaruh meskipun Sehun hanya terpaut usia beberapa tahun lebih muda darinya. Sehun terlihat polos dan lugu. Percayalah.
Jadi kenapa sangat sulit bagi Jongin untuk menjauh dari Sehun? Apa karena Sehun tipe pria yang berlawanan dari yang biasanya ia kencani? Bukan berarti Jongin "berkencan" sejak ia terluka. Saat Jongin berpikir untuk tidak akan bertarung lagi ia akan mengurangi, menolak setiap tawaran yang menghentikan jalannya. Mungkin akhirnya sekarang tembakan kecilnya tercapai melampui libidonya kembali. Sial, Jongin tidak tahu apa yang harus dipikirkan.
"Sekarang saat kau sudah memiliki kencan dengan seorang pria kau butuh bagaimana caranya melangkah,Sehun. Kau merayu seperti seorang pemenang dan menendangnya, tapi jika kau bosan saat waktu untuk hal lainnya, kau berikan dia signal dan dia akan mundur."
Sehun gelisah bibir atasnya seperti roda di dalam kepalanya yang berputar. Setidaknya Sehun mengangguk dan titik di perutnya yang berpikir tidak akan merasakan bibir itu lagi terurai. "Oke. Kau membuat poinnya. Tunjukkan apa yang kulakukan."
"Pertama kau harus tenang. Kau terlihat tegang aku takut kau tergigit. Berbalik."
Memegang bahunya Jongin membaliknya sampai bahu Sehun di depannya, dan kemudian mulai memijat punggung atas dan bahunya. Dengan segera Sehun meleleh di tangan Jongin dan mendesah.
"Aku tidak ingat kapan terakhir seseorang memijatku. Terasa luar biasa."
"Kasihan kau," kata Jongin, memperhatikan bentuk leher Sehun saat kepalanya tertunduk. "Setiap orang harus memiliki seseorang untuk menghilangkan stresnya."
"Mmm," jawab Sehun menyetujui. "Kalau kau, siapa yang memijatmu?"
Barisan wanita-wanita yang lebih senang memberikan pijatan di bawah sebagai pembuka seks berada di benak Jongin. Untuk beberapa alasan, berada disini dengan Sehun, semuanya terlihat...kurang menarik. "Seperti semua atlet, kami memiliki dokter di gym yang melakukannya untuk kami."
"Mmm."
Jongin tersenyum, menyukai gairah kecil yang diberikan kepada Sehun dari tangannya. Jongin menekankan jempolnya di ujung leher ke kepala Sehun, lalu memijat dengan lingkaran kecil. Sehun dengan pelan, menahan nafas dan menghela nafas dengan desahan saat bahunya ditarik kebawah dengan peregangan yang menenangkan.
"Bagus." Jongin memindah tangan ke bahu Sehundan bekerja di titik diantara bahunya. Sebelum Jongin menghentikan dirinya ia bersandar, menempatkan wajahnya di sisi kepala Sehun. Rambut Sehun menggelitik pipi Jongin dan bau vanilla bercampur dengan antisipasinya untuk mencicipinya lagi membuat mulut Jongin berair.
Jongin menggerakkan kepalanya sedikit untuk berbicara di telinga Sehun. "Tahan rasa nyaman dan abaikan. Simpan di kepalamu, oke?"
Sehun mengangguk dan ia membaliknya sehingga punggungnya bersandar di tembok lagi. Dengan lengan kanannya, Jongin mulai menggerakkan jari-jarinya di tembok untuk meregangkan, membawa Sehun untuk mendekat padanya. Berbicara soal dorongan.
"Sekarang fokusmu ada dimataku..."
"Uh-huh..."
"Tapi kalau kau terlihat ingin dicium, dimana seharusnya kau melihat?"
Tatapan Jongin rendah dan terpaku di mulut Sehun. Mata pucat cokelat Sehun berubah menjadi perak cair. Bulu matanya tidak mungkin setebal dan sepanjang seperti yang biasa Jongin lihat. Jongin lebih menyukai Sehun. Disana ada garis bulu mata tebal, kemudian menyatu menjadi segitiga runcing yang melengkung sedikit. Seperti khayalannya akan kibasan peri. Sehun menjilat bibir dengan ujung lidahnya, membuatanya berkilau lembab.
Hanya beberapa inci jarak mereka berdua saat tangan kanan Jongin naik setinggi yang bisa dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit. Sekarang bersandar dengan peregangan.
Saat Jongin dengan lambat, lambat mendekati jarak diantara mereka, ia mendengar nafasnya sampai celana dan detak jantungnya berdetak melawan rusuknya. Saat bibir mereka bersentuhan, nafas mereka berbaur, Jongin berhenti, memberikan Sehun kesempatan untuk memulai. Untuk mendapatkan yang Sehun inginkan. Namun Sehun tidak melakukannya.
Di akhir detik kesepuluh, Jongin memindahkan tangannya dari tembok sampai Jongin berdiri tegak lagi, lengan di kedua sisi Sehun. Jongin memperhatikannya beberapa menit, mencoba memahami bagaimana cara untuk membuat Sehun bertindak daripada berpikir. Sekali lagi, Jongin menggerakkan tangannya ke atas tembok lagi, mendekati Sehun saat Jongin berbicara. " Katakan yang kau inginkan."
"Aku tidak mengerti."
"Ada alasan kita melakukannya. Kau menginginkan sesuatu. Jangan memikirkan jawabannya. Aku ingin kau merasakan jawabannya. Sekarang," Jongin berkata bersamaan dengan Sehun menjauh sejauh yang ia bisa dan mulai bersandar padanya, "katakan padaku, apa yang kau inginkan."
Sehun menjilat bibirnya. Menelan dengan keras saat mulut Jongin mendekat. Tapi tetap dalam jangkauan. "Sekarang?"
"Secepat mungkin."
"Aku sangat ingin menciummu itu yang membuatku takut."
Jawaban Sehun membuat Jongin sangat terkejut—ia berharap Sehun menjawab panjang lebar tentang dokternya—tapi Jongin terlalu memikirkan dirinya sendiri untuk beralasan.
"Lakukan sesuatu tentang itu," komentar Jongin.
Sehun menangkup wajah Jongin dan menautkan mulutnya. Saat ini, rasa asin dari keringat olahraganya bercampur dengan bibir manis milik Sehun. Kombinasi ini sangat memabukkan, tak bisa dibandingkan dengan satu-dua pukulan yang Jongin dapatkan saat Sehun menjilat bibir atasnya dengan lidah.
Jongin mendapati sebuah ajakan terbuka. Meluncurkan lidahnya ke dalam mulut Sehun seperti merasakan ambrosia manis. Jongin sangat berharap boxer pendeknya dapat bekerja lebih baik untuk menahan ereksinya yang membesar dari pada dirinya yang menahan puncak geraman yang terlepas dari dadanya.
Sehun menarik diri, tiba-tiba berubah seperti terapis. Walaupun Sehun tidak biasanya kehilangan nafas saat sedang menilainya. Jongin menyukai efeknya seperti ini. Sangat. "Ini bukan ide yang bagus , Jongin. Kau harus tetap fokus pada peregangannya atau kau akan membuat dirimu sendiri kesakitan."
Dengan tangan kiri Jongin di dagu Sehun, Sehun mengalihkan perhatiannya dari luka Jongin. "Bahuku tidak sakit sekarang, Hun. Walau aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk anatomi tubuhku yang lain."
Jongin menunggu dengan sabar saat benak polos Sehun menangkap niat jahatnya yang berkubang di selokan. And see, tidak berhasil. "Aku tidak mengerti, dimana sakitmu?"
Jongin menaikkan alisnya dan dengan cepat menyeringai lalu berkata, "Aku berpikir kotor."
Sekarang Sehun akan mengerti dalam
tiga...
dua...
satu...
Pancaran mata cokelatnya yang agak membesar yang tiba-tiba tertarik dengan langit-langit di atas kepala Jongin berkata pada Sehun bahwa ia menang. Jongin ingin tertawa betapa mempesona saat Jongin melihat pipi Sehun yang merona, tapi ia tidak yakin sedang ingin tertawa. Tidak. Pikiran Jongin sudah mengharapkan satu tujuan yang akan membuatnya mendapat masalah. Sesuatu yang menyenangkan.
"Aku tahu aku bukan tipemu, Jongin. Kau tidak perlu mempermasalahkan apapun untuk membuatnya lebih baik untukku. Aku sudah dewasa."
Apakah Sehun serius? Sehun tidak percaya Jongin terpengaruh olehnya? Sekarang itu cukup untuk membuat Jongin terganggu. Melepaskan peregangan bodohnya, Jongin meraih pantat Sehun dengan kedua tangan dan mendekatkan tubuh mereka.
Keras.
Kali ini Sehun terkesiap dan meletakkan tangan di dada Jongin dengan lemah memberi sedikit jarak diantara mereka. Beruntungnya Jongin, itu bukan suatu hal yang dipedulikannya dan melenyapkan apapun diantara mereka terutama pakaian mereka. Dan bahkan itu bukanlah taruhan yang aman kali ini. untuk membuktikannya, Jongin mendekatkan pinggulnya, membiarkan kejantanannya yang mengeras dan panjang menyentuh titik sensitif diantara kaki Sehun.
"Merasakan itu, Sehun? Itu bukan caraku bereaksi pada wanita maupun orang lain yang tidak mempengaruhiku. Percayalah, ada banyak cara untuk mengajarimu hal itu. Tidak secara intim." Cara yang seharusnya Jongin gunakan. Tapi Jongin malah menggerakkan satu tangannya ke atas pinggang Sehun dan menyentuh puting Sehun dengan ibu jari, membuat desahan bergairah dari bibir yang bengkak karena ciumannya.
Walaupun terhalang kaos sportnya, Jongin dapat melihat puting Sehun menegang dan mengeras dari sentuhannya. Jongin mendesis puas. "Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan diriku sendiri seperti ini."
"Kenapa tidak?" Sehun berkata dengan sedikit gemetar.
Kenapa tidak? Itu adalah pertanyaan miliyaran dolar, benarkan?
Kenapa Jongin tidak bisa menghindar dari Sehun? Kenapa saat Jongin membayangkan Sehun melakukan sesuatu dengan pria lain, kurang lebih si dokter brengsek yang Sehun impikan, perut Jongin menegang seperti dipukuli oleh petinju kelas berat?
"Aku tidak tahu," jawab Jongin jujur. "Yang kutahu aku lelah melawan diriku sendiri saat aku dekat denganmu seperti ini. Jadi seharusnya aku tidak begini. Mungkin mulai sekarang kita menggunakan rencana baru."
Jongin tidak yakin Sehun menyadarinya atau tidak, tapi tangan Sehun meninggalkan dadanya dan bergerak ke lehernya, membuat dadanya mendarat tepat ke arah Jongin. Sial, Jongin senang saat tubuh lembut Sehun berada di tubuh kerasnya.
"Apa yang kau sarankan?"
Jongin mendekatkan kepala mereka hingga berbagi nafas, hidung mereka bergesekan saat mereka berdansa dikelilingi oleh gairah untuk menyatukan mulut mereka. "Mungkin cara terbaik untuk mengajarimu cara merayu, adalah membuatmu merasakan rasanya dirayu. Dan membiarkanmu mencoba dengan orang yang bukan targetmu. Jadi kau bisa menghilangkan kecanggunganmu."
"Seperti sedang menjalankan uji coba."
"Benar. Pada akhirnya aku akan kembali memperoleh kembali gelar seperti keinginanku, dan kau memperoleh siapapun pria gila itu seperti yang kau inginkan. Tak ada ikatan, tak ada rasa bersalah. Tapi pada saat yang sama, kita meredakan panas dan mengeluarkan apapun ini keluar dari tubuh kita."
"Aku kira itu masuk akal. Jelas rencana yang bermanfat." Jari-jari panjang Sehun di tengkuk Jongin bergerak ke rambut di dasar kepala Jongin saat Sehun memiringkan kepala Jongin ke belakang, menjelajahi daerah lembut dari leher untuk Jongin gigiti dengan bergairah.
"Ya, Tuhan."
Kata-kata Sehun berupa desahan doa, yang terdengar cukup keras untuk Jongin, membuat dirinya tersenyum puas saat berpindah ke belakang telinga Sehun. Rasa Sehun seperti caramel asin, kombinasinya membuat Jongin tidak pernah merasa cukup.
"Jadi apa yang kau katakan, Sehun?" Jongin menggigit daun telinga dan menenangkan dengan isapan lembut mulutnya.
"Aku bilang—" kata Sehun terpotong dengan terengah saat Jongin menekan punggung Sehun sedikit untuk mendesak ke tembok.
"Kau bilang?" Jongin mendesak Sehun untuk mulai berkata lagi, sangat yakin ia tidak akan membuat Sehun menyelesaikan kata-katanya. Sangat menyenangkan mengganggu Sehun.
"Aku bilang bahwa—Uhh!" Saat itu Jongin mendaratkan dirinya dimana ia tahu itu adalah titik sensitif Sehun yang membengkak dan sakit karena kedekatan mereka.
"Sial, Jongin, ya oke? Aku bilang ya untuk rencana baru!"
"Hanya soal waktu sampai kau mengatakan itu." Dan kemudian, Jongin menyerang Sehun.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA *ketawa ngakak bareng Chanyeol* *ditimpukin readers*
Gimana? Hahahahaha dooh please emang TBC itu kok, jangan pada protes ya, hahahaha XD
Sehun mah malu-malu macan, wkwk si Jongin udah gencar-gencar gitu juga. Wkwk
Ya maklum lah Sehun disini kan polos-polos gimana gitu, wkwk
Next chap? Review please~ Sankyuuuu~
