Sebelum ke story, aku mau minta maaf jika chapter sebelumnya ada typo mengenai "Lah kok Sehun disini dijabarkan nikah sama cowo padahal dichapter sebelumnya dia nikah sama cewe?" wkwk jadi ini masalah dikit tapi yang pasti bikin feel kalian ilang *buat yang ngeh sama ceritanya*. Oke this my mistake, sekali lagi i'm sorry. Yang pasti aku juga manusia yang punya salah untuk hal seperti ini, jadi karena terlanjur disitu ditulis Sehun nikah sama Cowo yang intinya dia udah Gay duluan dan bakal akan berlanjut seperti itu. Jadi anggep aja, Sehun pernah gagal sama pasangan sebelumnya dan dia jatuh cinta lagi sama Chanyeol,tapi kedatangan Jongin lagi dalam kehidupannya meluluhlantakkan perasaannya. Wkwk

Jadi jika ada typo lagi, aku minta maafnya yaa~ aku juga manusia yang bisa berbuat salah, hehe *bow*

~oOOo~

Backsong : I See Fire – Ed Sheeran *nggarap ff ini sambil dengerin lagu ini soalnya* XD

~oOOo~

Sehun merasa bahwa sepertinya dia baru saja menjual jiwanya kepada iblis, dan dia tidak bisa mengabaikannya. Selama hidupnya dia tidak pernah merasa begitu diinginkan, begitu diidamkan. Jongin membawanya kedalam kobaran api itu, dan Sehun dengan senang hati masuk lebih dalam lagi.

Udara di sekitar mereka terasa lembab dengan serangkaian aroma elekrik. Dengan keringat, baik lama dan baru, membaur dengan aroma mint dari sampo Sehun, dan ada sesuatu dalam diri Jongin mengingatkannya akan laut dan matahari.

Jongin membenamkan wajahnya di leher Sehun. Sehun sendiri tidak pernah menyadari, banyak hal indah yang bisa dilakukan dengan leher seseorang. Mencium, menghisap, menggigit, menjilat. Setiap tindakan yang Jongin lakukan bahkan terasa lebih menggairahkan dari pada sebelumnya dan itu semua membuat dirinya sedikit demi sedikit kehilangan kewarasannya.

Jongin bergerak seolah dia sudah dilatih sepanjang hidupnya untuk melakukan hal ini,bukan menjadi petarung. Sehun sendiri tidak pernah mengalami sesuatu yang sedekat ini dengan mantan suaminya. Jongin mengajarkannya secara logis tentang gerakan dasar yang harus di pertimbangkannya, dan yang Sehun lakukan hanyalah melingkarkan lengannya di bahu Jongin, membenamkan jemarinya kedalam punggung kuat Jongin, dan berusaha bertahan.

Dengan satu tangan Jongin meraih paha Sehun dan menyandarkannya di pinggulnya saat ia melakukan sebuah dorongan magis yang lainnya. Posisi yang baru ini membuka tubuhnya lebih lebar lagi, membuat tangan kuat Jongin memungkinkan untuk menimbulkan gesekan kenikmatan di penis Sehun. Tiba-tiba Sehun berharap pakaian mereka akan terbakar dengan tiba-tiba, terlalu banyak penghalang diantara mereka.

"Aku benar-benar ingin berada di dalam dirimu," desah Jongin di rahang Sehun. "aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku sekeras ini,"

"Tapi itu hal yang baik, bukan?"

Jongin mundur sedikit untuk melihat kebawah, tepat kearah Sehun ketika dia menjawab. Dan betapa beruntung diri Jongin, karena itu juga memberinya ruang untuk menelusuri, mencubit dan menyiksa puting Sehun dengan tangannya yang bebas, menimbulkan desahan 'oh', 'Tuhan' dan disertai beberapa erangan lainnya. "Baik dan buruk. Baik karena itu berarti aku benar-benar terangsang karenamu. Buruk karena itu berarti aku akan mempermalukan diriku sendiri karena tidak bisa bertahan lebih dari beberapa menit lagi,"

"Benarkah?" Sehun mencoba mengingat kisah bercintanya yang berlangsung lebih dari beberapa menit, dan itu sia-sia. Sehun masih mengasumsikan bahwa hal itu adalah sebuah norma, tetapi Sehun tidak mengatakan hal itu pada Jongin. Sehun mencoba terlihat acuh tak acuh ketika kembali bertanya. "Jadi, berapa lama rata-rata waktumu?"

Jongin tertawa ketika dia mengangkat tubuh Sehun dengan kakinya melingkari pinggangnya, kemudian menekannya ke dinding. Mata Sehun hampir sejajar dengan milik Jongin saat ini, hingga membuatnya mustahil untuk tidak terpaku menatap iris berwarna coklat itu.

"Kurasa itu setara dengan pertanyaan pria kepada wanita tentang berat badannya. Tapi itu tidak masalah, karena ku rasa, dengan sedikit latihan kita akan mampu melampaui rata-rata itu begitu saja."

Itu tidak sepenuhnya menjelaskan apa pun pada Sehun, tetapi itu terdengar seperti cukup menjanjikan. Hanya saja Jongin tidak membiarkan Sehun untuk mencernanya lebih dari sedetik sebelum akhirnya Jongin mencium Sehun dalam sebuah ciuman yang panas. Lidahnya menggali di antara kedua bibir Sehun dan memijatnya. Jongin terasa seperti mint chocolate Andes, seperti rasa pasta gigi dan protein shake, tetapi membuat Sehun ingin menghisapnya lebih dalam lagi hingga dia meleleh di dalam mulutnya.

Jongin menekan pinggul Sehun ke dinding, hingga tangannya dengan bebas menjelajahi tubuh Sehun. Ketika Jongin kembali mencium Sehun, jemarinya menelusuri lipatan pantat Sehun dan turun untuk membelai bagian tubuhnya yang membengkak, sementara tangan yang lainnya bergerak ke bawah bajunya dan menyingkap sebagian kaosnya untuk mendapatkan akses ke dadanya.

Pikiran Sehun terasa seperti terbungkus kapas, tidak bisa memikirkan hal yang paling sederhana sekalipun. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah tetap fokus terhadap setiap dorongan yang ada, setiap sentuhan, dan mengunggu saat akhirnya Jongin membenamkan dirinya ke tubuh Sehun. Pikiran itu membuat organ intim Sehun menegang, tapi tidak ada yang bisa dia genggam. Tubuhnya masih kosong, hingga kini terasa pedih, membuatnya merengek karena kebutuhan dan meremas pinggang Jongin frustasi.

"Aku tahu baby. Aku tahu apa yang kau butuhkan. Bagaimana kalau kita pergi ke kamarmu dan aku bisa memuaskanmu?"

Itu seharusnya menjadi sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan untuk pertama kalinya. Tapi tampak tidak seperti pertanyaan. Dan memang tidak perlu ada pertanyaan seperti itu. Di dalam pikiran Jongin tidak ada orang yang akan mengatakan tidak jika sudah dalam keadaan seperti ini. Tetapi ketika Jongin membawa Sehun masuk ke dalam kamar, mereka mendengar pintu depan di banting dan Jongin langsung membeku.

"Sehun? dimana kau?"

Mata Sehun melebar, "Macaroni Matinee!" gumam Sehun dengan tangan yang menutupi mulutnya.

Apa? Tanya Jongin tanpa suara. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan. Apartemen itu tidak terlalu besar, dan Kyungsoo tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Sehun dalam posisi yang paling rentan. Sehun menempatkan bobot tubuhnya di kakinya, memaksa Jongin untuk menurunkannya, tetapi kakinya begitu lembek bagaikan pasta yang sedang di masak hingga akhirnya dia menahan tubuhnya pada kursi di belakangnya.

Sementara Sehun berusaha untuk membetulkan pakaiannya,dia memanggil sahabatnya. "Aku di ruang latihan Kyung! Bisakah kau mengambilkan sebotol air dari dalam kulkas?" seharusnya itu memberikan mereka waktu ekstra. Ketika akhirnya Sehun yakin jika pakaiannya sudah rapih, dia menghela napas lega.

Lalu Sehun memandang Jongin,dan Sehun merasa dia sedikit mendapat serangan panik. Bahkan apakah Jongin mengenakan pakaian dalam? Celana pendeknya mengkerucut ke depan, tampak seperti puncak tenda pertunjukan sirkus Barnum & Bailey. Sehun menyambar kemeja yang tergeletak di kakinya dan melemparkannya pada Jongin sambil berbisik. "Cepat pakai!"

Ketika yang Jongin lakukan hanyalah menaikan sebelah alisnya, Sehun dengan cepat melirik kearah selangkangan Jongin. Setelah ikut melirik kebawah dan mungkin menyadari Jongin tidak bisa melihat lantai di antara kedua kakinya, Jongin langsung memakai pakaiannya tepat ketika Kyungsoo muncul di sudut ruangan.

"Aku tahu aku datang sedikit lebih awal, tapi—whoa." Kyungsoo membeku di ambang pintu dengan sebotol air di sebelah tangannya dan sebuah Diet Mountain Dew di tangannya yang lain, yang di ambilnya dari tempat persediaan khusus milik Sehun untuk menyembunyikannya dari temannya yang kecanduan.

"Siapa dia?" sebelum Sehun memiliki kesempatan untuk memperkenalkannya, Kyungsoo sudah bergerak maju, menyerahkan botol air kepada Sehun bahkan tanpa melihat kearahnya dan mengulurkan tangannya kepada Jongin. "Hi, aku Do Kyungsoo dan kau?"

Jongin membalas jabatan tangan Kyungsoo dengan sebuah senyuman mematikannya. "Kim Jongin."

"Senang bertemu denganmu, Jongin. Kau harus memaafkanku karena begitu terkejut, tapi aku tidak tau jika Sehun sudah memiliki teman."

Sehun membuka botol airnya dan meminum hampir seluruhnya dalam satu tegukan. Ia menyayangi Kyungsoo seperti saudaranya sendiri, dan tidak pernah merasa cemburu ketika temannya merebut semua perhatian di manapun mereka berada. Sampai saat ini. Tidak diragukan lagi, Jongin pasti sedang menelanjangi Kyungsoo di dalam pikiraannya saat ini. Kyungsoo benar-benar mempesona, dari rambutnya hingga kakinya dan leher indahnya,Kyungsoo memiliki tubuh yang cocok untuk ukurannya.

Sehun tidak pernah menganggap dirinya buruk dengan cara apapun, tetapi dia cukup dewasa untuk merasa nyaman dengan sosoknya yang 'biasa-biasa' saja. Semua tentang dirinya semacam masuk dalam kategori… well…biasa. Saat berada di Fritz, Sehun pernah melihat pria yang tidak terhitung jumlahnya menunggu kata-kata yang di ucapkan Kyungsoo dan meneteskan air liur mereka ketika pria manis itu menggerakan pinggulnya sambil memainkan bibir sexynya. Saat itu Sehun dan Kyungsoo sedang menonton acara spektakuler di malam liga panah di sana dan Kyungsoo tidak pernah mempedulikan semua itu.

Sehun tidak terlalu yakin apakah pria manis itu memang tidak menyadarinya atau memang ia adalah pria yang rendah hati. Tetapi Sehun meragukan Kyungsoo tidak menyadari kelebihan yang di milikinya apalagi dia memiliki reputasi sebagai seorang pengacara yang cerdas di daerah itu. Bahkan untuk bisa mengencani Kyungsoo, pria itu harus melewati seluruh tes. Yaitu harus bisa diterima secara sosial untuk menjual mobil bekas pada public jika mereka bisa melewati batasan kecil dari Kyungsoo. Dan Sehun pikir, sampai sekarang tidak ada pria yang masih hidup mampu melewati segala tes dari Kyungsoo.

"Dia pasienku,Kyung."

"Ah," ujar Kyungsoo sambil mengedipkan matanya dan tersenyum, "maka dalam kasus ini aku bisa mengerti mengapa kau ingin membawa pekerjaan ini ke rumahmu."

Jongin tertawa dengan cara yang terlalu manis dan dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, merenggangkan pakaian di atas bahu dan bisepnya. "Sebenarnya aku sudah mengenal Sehun hampir seumur hidupku, aku adalah sahabat baik kakaknya."

"Oh kau dari Dun Valley! Itu bagus, aku tidak pernah bertemu dengan orang lain dari daerah itu sebelum Sehun, dan kami satu kamar ketika mahasiswa baru. Aku harap kau mau menceritakan beberapa kisah memalukan untukku. Pria ini memiliki portopolio tentang kehidupanku, dan aku tidak memiliki apapun tentangnya. Ini benar-benar tidak adil."

"Maaf Kyung, tapi aku sudah mengatakan padamu, tidak ada apapun di dalam kehidupanku. Aku hanya pria yang membosankan sebelum masuk kuliah dan sampai saat ini."

"Dan aku juga sudah mengatakan sebelumnya kepadamu, kau sama sekali tidak membosankan. Kau adalah penyeimbang kegilaanku, itulah mengapa kita sangat cocok ketika bersama-sama. Kita saling melengkapi." Kyungsoo mengeluarkan sodanya dan menyentuhkannya pada botol air Sehun, dan meminumnya sesudah mengatakan "salut" bersamaan.

Kyungsoo berjalan beberapa langkah untuk duduk di samping Sehun dikursi panjang. "Jadi kau sudah selesai dengan sesi mu? Kau harus segera bersiap-siap jika kau masih ingin membuat Matinee Macaroni kita."

"Oh, um…" Sial, tenggorokan Sehun kering. Bagaimana mungkin rasa gugup itu bisa membuat tenggorokannya menjadi sekering itu? Ini seperti reaksi psikologi yang konyol. Sehun terdiam ketika meneguk airnya lagi.

"Apa itu Macaroni Matinee? Terdengar seperti makan siang khusus untuk para senior."

Kyungsoo tertawa kencang ketika Sehun hampir saja memuncratkan air dari mulutnya kemudian tergagap sebelum akhirnya bisa menelan air itu dengan lancar. Untungnya Kyungsoo langsung menjawab pertanyaan Jongin, hingga Sehun bisa meneruskan batuknya dengan tenang. "Ini adalah kencan bulanan kami. Sabtu pertama setiap bulan kami akan pergi nonton film, makan siang di Macaroni Grill dan memasukan diri kami sendiri ke dalam jurang serangan jantung karena porsi karbohidrat yang berlebihan."

"Kyung, aku tidak bisa pergi untuk sementara waktu."

"Apa?" entah bagaimana Kyungsoo berhasil membuat mata hitam indahnya membesar dua kali lipat dari ukurannya yang semula.

Setiap kali Kyungsoo menginginkan sesuatu, dia memiliki pandangan seperti kucing dalam Boot di kisah Shrek ketika kucing itu menggunakan 'pussy face' nya yang menyedihkan. "Tapi aku mendapatkan minggu yang sangat buruk di pengadilan dan aku membutuhkan waktu untuk para pria, dimana kita tidak melakukan apapun kecuali hal-hal yang mengerikan, mengomentari wanita-wanita lain dan keluar bersama pria-pria yang mengenakan celana jeans ketat."

"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Jongin begitu saja…" Sehun melihat kearah Jongin dengan pandangan yang mengatakan, Maafkan aku karena apa yang kusarankan, tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. "Kecuali, kau mau ikut bersama kami?"

Jongin tertawa dan mengibaskan tangannya sebagai tanda keberatan. "Tidak apa-apa, Hun. Walaupun aku akan senang mengomentari dan menilai orang lain, tapi aku harus pergi. Sayangnya, aku tidak bisa menerima kelebihan karbohidrat saat ini. Dan ngomong-ngomong, aku harus pergi berbelanja. Apa ada hal khusus yang menurutmu harus kubeli sekarang?"

"Tidak, yang kau beli minggu lalu cukup baik. Ini akan menjadi sangat sulit untuk kembali membiasakan makan malam dengan microwave menyedihkanku lagi setelah kau pergi nanti. Siapa yang tahu jika makanan sehat itu bisa terasa sangat lezat?"

"Whoa! Aku butuh rehat sekarang."

"Ini bukan ruang sidang, Kyung."

"Apa kau tinggal di sini?"

Sehun menjawab dengan cepat untuk meminimalisir kerusakan yang ada. "Hanya untuk beberapa bulan hingga dia sembuh dari lukanya. Aku sudah mengambil waktu liburanku untuk bekerja bersamanya dalam program pemulihan dan pelatihan yang ketat."

"Wow Hun, itu benar-benar sesuatu yang lain. Aku tak tahu harus berkata apa."

Tidak, kau sama sekali tidak, tapi kau sedang menahan lidahmu – meskipun hanya sementara- dan aku mencintaimu untuk itu. "Well,aku akan pergi mandi kalau begitu."

"Ya, cepatlah. Kau tahu bagaimana aku benci jika mendapatkan tempat duduk yang kurang strategis di teater." Kyungsoo berdiri dan berjalan melewati ruangan sambil menambahkan. "Aku akan menunggu di ruang tamu dan membaca majalah kedokteran edisi terbaru yang membosankan, berharap menemukan gluteus maksimum pria, lengkap dengan gambar."

Begitu Sehun dan Jongin mendengar suara duduknya Kyungsoo di sofa dan meletakan kaleng sodanya di atas meja, mereka saling berpandangan dan tertawa lega.

"Dia ingin bepergian."

Sehun berdiri, dan menggerakan kakinya. "Kau tidak mengerti."

"Dia sangat protektif kepadamu. Dia benar-benar tidak suka ketika kau mengatakan bahwa kau adalah pria kaku yang membosankan." Jongin melangkah mendekati Sehun, sorotan matanya yang nakal menghilang. "Begitu pula denganku,"

"Tapi itu adalah kebenarannya. Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang liar atau gila atau, yang di larang Tuhan, sesuatu yang illegal." Sehun mengangkat bahunya dan mengambil tali dari celana barunya. "Aku adalah pria yang mengikuti aturan."

Selangkah lagi. Sekarang Jongin sudah begitu dekat hingga Sehun bisa merasakan nafas Jongin di kulitnya. Sehun melirik ke arah pintu. Bagaimana jika Kyungsoo memutuskan untuk datang lagi?

Sentuhan jari di dagu Sehun mengembalikan fokusnya lagi pada sosok Jongin. "Satu-satunya saat aku mengikuti peraturan adalah ketika aku berada di dalam ring." Kata Jongin dengan suara rendah.

"Mentalitas itu bisa membawamu ke dalam banyak masalah."

"Kebetulan aku memang menyukai masalah." Seringai miring Jongin terlihat begitu jahat. Dan menggiurkan. Yang tampak tidak mungkin disebut sebuah senyuman, namun dia memang tersenyum. Sehun ingin menjilatnya dari satu sisi ke sisi yang lain. "Bersiap-siaplah dan nikmati waktu dengan sahabatmu mu. Aku akan menyelesaikan peregangan dan latihanku setelah pulang dari toko. Kemudian…" Jongin menundukan pandangannya pada bibir Sehun, dan menelusuri bibir Sehun dengan ibu jemarinya. "…kita akan menyelesaikan hal lain yang sudah kita mulai."

"Kau masih ingin?" Sehun nyaris menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terkadang dia bersumpah untuk menjaga monolog internalnya yang rusak.

Jongin menyipitkan matanya. "Apa kau tidak?"

Sial. Apakah Jongin bertanya karena berharap Sehun juga masih menginginkan hal itu atau karena dia berharap Sehun tidak menginginkannya, memberi Jongin kesempatan untuk mundur dengan kesan baik? Dan mengapa Sehun selalu bersikeras untuk memikirkan hal ini secara berlebihan? Karena kepalamu terus memikirkan hal ini.

"Ya?" sebelah alis Jongin melengkung naik, menantang Sehun untuk menegaskan jawabannya.

"Ya. Maksudku ya." Sehun mendesah putus asa dan berharap untuk keseribu kalinya agar Kyungsoo tetap dalam ketenangannya disofa sana. "Aku pikir mungkin kau hanya terhanyut dalam suasana panas saat itu, tapi sekarang, setelah kau memiliki waktu untuk berpikir, mungkin kau mengubah keputusanmu untuk terlibat dalam hal ini." Ketika alis Jongin mengkerut, dengan cepat Sehun menambahkan. "Tidak terlibat, terlibat. Maksudku, ini hanya sementara waktu dan hanya untuk tujuan instruksional."

Jongin bergerak dengan sangat cepat, hingga Sehun tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan maksudnya hingga Sehun menemukan dirinya sendiri tenggelam dalam panasnya bibir Jongin, lidahnya menekan dan membujuk. Tubuh Sehun di tekan ketubuh Jongin dengan satu tangannya di belakang punggung Sehun, dan tangannya yang lain—astaga Tuhan, tangan Jongin yang lain—terselip di antara paha Sehun, jemarinya menekan penisnya. Celananya terasa semakin mengetat karena gesekan itu, dan perasaan takut tertangkap basah hingga tidak bisa meneruskan hal ini lebih jauh lagi membuat semuanya semakin terasa menarik.

Itu adalah langkah panas dan beresiko, tapi Jongin tidak merasa ragu untuk melakukannya hingga tuntas, hanya seperti apa yang dia lakukan di dalam pertarungannnya. Hal yang paling di sukai Sehun adalah gaya pria itu ketika di dalam ring.

Getaran di dalam perut Sehun semakin dalam, ketegangan itu semakin menyebar. Ketika sensasinya datang, Sehun menekan jari-jarinya kepada tricep Jongin untuk mengantisipasi gelombang yang akan segera datang. Jongin melepaskan ciumannya, membuat Sehun merengek protes, dan ketika jari-jari Jongin ikut mengentikan sentuhan ajaib itu, pinggul Sehun secara otomatis mengikuti mereka, memohon untuk sentuhan lebih ketika Jongin mundur.

"Apa itu bisa menghentikan keprihatinanmu tentang keputusanku untuk mempertimbangkan kembali?" Sehun mengangguk. "Baik. Kalau begitu kita akan melanjutkannya lagi nanti."

Jari-jari Sehun langsung meraihnya ketika Sehun merasa Jongin akan menarik diri. "Please Jongin. Aku sangat dekat," bisik Sehun.

Sudah lama Sehun tidak pernah mendapatkan klimaksnya, dan dia bertanya-tanya apakah dia masih ingat bagaimana rasanya. Sehun selalu mengurus hal-hal nya sendiri, namun setelah berbulan-bulan sibuk di kantor dan jatuh ke tempat tidur dengan kelelahan teramat sangat di malam hari, Sehun mulai kehilangan kekuatan untuk memikirkan hal itu. Mungkin Sehun bisa di kategorikan sebagai aseksual sekarang. Pada usia matang, dua puluh Sembilan dan seperempat.

"Aku tahu, tapi aku tidak ingin memberikannya sekarang, dan ini tidak ada hubungannya dengan keberadaan Kyungsoo di ruang sebelah, karena percayalah, jika aku mau, aku akan menekan tubuhmu ke dinding dan tidak peduli jika ia akan menonton kita sambil memakan popcorn seperti menonton salah satu film romantic kalian."

"Lalu mengapa?" ya Tuhan, apa Sehun tadi benar-benar merengek?

Jongin memegang salah satu sisi wajah Sehun ketika berbicara, tatapan matanya yang intens sama sekali tidak membantu untuk menenangkan Sehun. "Karena ketika aku membuatmu datang untuk pertama kalinya, aku tidak ingin kau menahannya. Aku ingin mendengar setiap desahan nafasmu." Jongin mencium pelipis Sehun. "Setiap erangan." Ciuman lain di pipi Sehun. "Dan aku tidak akan puas sampai kau meneriakkan namaku."

Sehun mengerang frustasi, tapi ciuman Jongin menelan setiap suara dari mulut Sehun. Setelah beberapa kata yang memabukan, Jongin menjauh dan menyeringai nakal. "Jika itu membuatmu merasa lebih baik, ada pelajaran dalam kejadian ini."

"Aku sangat membenci pelajaran ini." Kata Sehun sambil menghela nafas berat.

"Pelajaran nomor tiga: selalu meninggalkan mereka ketika mereka menginginkan lebih." Jongin terkekeh – benar-benar memiliki keberanian untuk menertawakan Sehun - dan menggigit bibir Sehun, lalu kembali di belainya dengan ujung lidahnya. "Bersenang-senanglah."

Sehun menatap kepergian Jongin dengan pandangan tidak percaya kemudian dia mendengarkan ucapan selamat tinggal Jongin pada Kyungsoo di ruang tamu, sebelum Jongin pergi ke kamar mandi. Yep, Sehun benar-benar membenci pelajaran ini.

~oOOo~

"Dua yang biasa, Fritz!" Kyungsoo memanggil pria tua beruban di ujung bar.

"Jangan sampai celana dalammu terpelintir (jangan panik), Red, aku akan mengambil minumanmu dalam satu menit!"

"Aku harus mengenakan celana dalam untuk menjaganya agar tidak terpelintir."

"Well, itu lebih baik daripada benang yang di selipkan di pantat (thong) yang gadis-gadis kenakan akhir-akhir ini."

"Bagaimana kau bisa tahu apa yang gadis-gadis kenakan? Film laga yang mungkin terakhir kali kau lihat adalah World War II, Tua Bangka."

"Ha! Aku punya cerita yang akan membuat rambutmu lebih keriting dari pada yang sekarang,Kyungsoo, dan jangan kau lupakan itu."

Sehun tertawa mendengarkan percakapan yang biasa terjadi antara Kyungsoo dan pemilik bar yang sudah mereka kunjungi sejak kuliah. Fritz lebih seperti paman tersayang bagi mereka, tapi bukan berarti hal itu membuat humor yang dilemparkan diantara mereka tidak melintasi garis godaan genit dan lelucon kotor (tentang seks). Fritz adalah seorang pria tua yang genit, dan mereka berdua kagum padanya.

Setelah Fritz menyajikan bir dalam gelas bir besar, dia mencium jemari di kedua tangannya dan menempatkan masing-masing tangannya di pipi Sehun dan Kyungsoo. "Nah sudah. Sekarang tutup mulut kalian dan pergilah bersenang-senang malam ini, huh?"

"Tentu saja, Fritzy," Kyungsoo berjanji sebelum mereka berjalan ke ujung bar satunya dekat papan permainan lempar panah. Mereka menempati kursi bar yang mereka klaim sebagai kursi biasa yang mereka tempati dan menyenggolkan gelas mereka bersamaan dengan "Salut" yang antusias dan menyesap untuk pertama kalinya di malam itu.

Kyungsoo menepukkan tangannya di meja bar tiga kali, yang mana itu merupakan caranya untuk menarik perhatian. "Keluarkan semua, dan ceritakan padaku."

Sehun mengangkat alisnya saat mendengar suara tepukan meja dan menatap ke dalam beernya. "Aku akan lebih suka meminumnya jika jenis minumannya sama dengan yang kau minum." Sehun mungkin termasuk ke dalam orang yang tidak tahan mabuk jika tentang masalah minum wine, tapi dia bisa bertahan dengan cukup baik jika berhadapan dengan bir, karena bertahun-tahun praktik dengan Kyungsoo sejak masa kuliah mereka.

"Aku tak membicarakan masalah alkohol. Aku ingin kau memberitahuku apa yang terjadi denganmu dan si seksi yang tinggal di apartemenmu. Aku sudah menunggu dengan sabar sepanjang makan siang untukmu membicarakannya lebih dahulu, tapi sedihnya kau malah tutup mulut tentang tamu-mu. Jadi, bersiaplah untuk bersaksi."

Untuk kedua kalinya di hari itu Sehun tersedak minumannya. Oh, demi Tuhan. Kau lebih baik belajar untuk mengontrol dirimu sendiri atau kau akan memerlukan maneuver Heimlich jika kau berani untuk makan lagi. "Tak perlu melakukan interogasi atau apapun,Kyung. Tak ada yang terjadi dengannya. Dia adalah sahabat baikSuho Hyung dan aku sedang membantunya, hanya itu."

"Apa dia sudah punya teman kencan?"

"Tidak." Tunggu sebentar. Sehun masih belum tahu hal itu, kan? Jongin tak pernah mengatakan tentang mengencani seseorang, tapi Sehun juga tak pernah bertanya. Tak ada alasan untuk menanyakan hal itu. Mereka hanya dua teman yang saling membantu. Tapi definisi dari 'membantu' sudah berubah secara drastis dalam waktu seminggu.

"Setidaknya, aku rasa ia tak punya teman kencan. Tapi lagipula dia bukan tipemu."

"Aku tak ada rencana untuk mengejarnya, tapi aku penasaran, mengapa dia bukan tipeku?"

"Peraturan nomor tiga."

"Benarkah? Apa pekerjaannya?"

"Dia adalah seorang petarung seperti Suho."

Kyungsoo mengernyitkan hidungnya seperti seseorang yang baru saja mengendus kaos kaki bau di depan wajahnya.

"Oh, salah satu dari pria itu. Ya Tuhan, betapa kasarnya, selain itu tidak bertanggung jawab untuk merencanakan masa depan. Tidak, terima kasih." Sehun tidak ambil pusing untuk membela pilihan karir Jongin dan kakak laki-lakinya di depan temannya. Tak akan ada yang berubah. Kyungsoo hidup dalam peraturan-peraturan yang sangat ketat dan menolak untuk menikung peraturan itu untuk alasan apapun.

Kyungsoo mendapatkan ide itu di satu malam di saat mereka masih anak baru semasa kuliah, mabuk, dan menonton drama di televisi, NCIS. Si tokoh utama dalam acara itu memiliki lebih dari tigapuluh peraturan yang ia jalani dalam hidupnya, dan Kyungsoo, dengan seluruh kebijaksanaan mabuknya, memutuskan bahwa ia membutuhkan strategi yang sama untuk menghindari jalan hidup aneh seperti kedua orang tuanya. Peraturan nomor tiga adalah 'jangan pernah berkencan dengan seseorang yang tidak bekerja secara tetap dalam sebuah karir sukses yang berkepanjangan.' Atlet dengan kemungkinan untuk menyakiti diri mereka sendiri di usia muda, secara efektif menghancurkan karir mereka, tidak termasuk ke dalam teman kencan yang berpotensi.

"Tapi mengapa tidak kau saja yang mengencaninya? Maksudku, kau tahu, Jongin diibaratkan benar-benar gumpalan daging manusia yang tampan dan menarik."

"Ew!" Kedua pria itu tertawa secara serempak. Alkohol sudah mengendurkan otot mereka dari minggu panjang yang padat.

"Apa maksudmu dengan gumpalan daging manusia? Tetap berpegangan pada jargon yang di perbolehkan karena jelas kau sangat buruk dalam mendeskripsikan pujian."

"Jangan menghindari pertanyaannya. Bagaimana dengan mengencaninya?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Bukan seperti itu."

"Bisa saja."

"Bisakah kita berhenti membicarakan ini, Kyungsoo?"

Manik mata gelap Kyungsoo praktis menyatu saat ia menelaah wajah Sehun. Sial sial sial. "Mengapa kau tidak bercerita padaku, Oh Sehun?"

Sehun meminum setengah dari beernya dalam beberapa tegukan besar dan kemudian menaruh gelasnya di bar dengan desahan tanda menyerah. Setelah Kyungsoo mencurigai bahwa Sehun tidak mengatakan 'yang sebenarnya, semua kebenarannya, dan tak ada yang lain selain kejujuran' Sehun merasa seperti anjing pitbull. "Jongin harus segera sembuh dari cederanya dan kembali siap untuk pertandingan perebutan sabuknya dalam dua bulan."

"Dan?"

"Dan aku setuju untuk mengambil minggu liburanku untuk memberikannya perhatian spesial duapuluh empat jam penuh untuk membuatnya bisa kembali bertarung jika ia mau melakukan sesuatu untukku."

"Dan sesuatu itu adalaaaaaahhhh..."

Sehun melihat kesekitar saat ia menggigit pipi bagian dalamnya sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya untuk meyakini bahwa hanya temannya yang bisa mendengar hal ini. "Dia mengajariku bagaimana untuk merayu Chanyeol."

"Apa!"

"Shhhhh! Kecilkan suaramu, dasar aneh!"

"Aku si Aneh? Sehun, kapan kau akan menyadari bahwa pria itu tak pantas mendapatkan dirimu? Apakah itu alasan semua penampilan barumu? Maksudku, kau terlihat luar biasa, tapi jika si bajingan itu tidak menyadari keberadaanmu sebelum semua pakaian dan pelajaran merayu itu maka itu kerugian baginya."

"Yeah, aku tahu, kau pernah menyebutkan itu satu atau dua kali sebelumnya," Sehun menjawab dengan masam. Kenyataan yang menjadi masalah adalah bahwa Kyungsoo tidak setuju pada rasa tertariknya ke dokter baik hanya karena pria itu gagal membuat langkah maju setelah mereka bekerja bersama selama satu tahun.

"Dengar, bisakah kita berhenti membicarakan hal ini? Ini sangat mengganggu kesenanganku."

"Kesenanganku juga. Oke, topik ini resmi turun dari meja (tidak di ungkit lagi). Kyle dan Kris baru saja masuk jadi aku akan mengambil bir lagi untuk kita sebelum kita memulainya. Jaga kursiku."

Sehun mengangkat kakinya ke atas kursi Kyungsoo yang kosong dan melambai ke setengah anggota tim mereka yang lain. Setidaknya para pria akan menjadi penahan dari isu Jongin-Chanyeol. Sehun sudah merasa seperti menaiki rollercoaster semenjak Chanyeol masuk ke dalam kantornya Jumat pagi yang lalu, diikuti dengan kunjungan mendadak dari Jongin yang mengejutkannya dan bahkan tawaran Jongin yang jauh lebih mengejutkan.

Sesi cumbuan panas mereka hanya bertujuan untuk mengajari Sehun bagaimana rasanya bercinta dengan keras dan bergairah setiap saat. Dan Sehun bahkan tak bisa menikmati makan siangnya dan film yang ia tonton dengan Kyungsoo karena Sehun mengantisipasi hal yang akan terjadi nanti. Sekarang hal itu sudah tak ia pikirkan lagi, Sehun memutuskan untuk menikmati beberapa jam ke depan yang menyenangkan dan bebas-drama.

Sehun mengirim pesan kepada Jongin sebelumnya dan meminta maaf untuk lupa memberitahu Jongin tentang malam pertandingan dan mengatakan padanya untuk tidak menunggunya pulang karena Sehun tahu bahwa Jongin selalu tidur lebih cepat dengan jadwal yang latihan padat yang ia lakoni.

Saat Sehun ingat bahwa ia tak akan melihat Jongin hingga besok pagi, Sehun menurunkan birnya dan bergerak tak nyaman di kusinya. Yep. Tak ada yang perlu di khawatirkan, tak ada yang perlu di takutkan. Hanya beberapa permainan lempar panah yang menyenangkan dan minum dengan teman-temannya. Sehun sangat membutuhkan hal ini.

~oOOo~

Jongin berjalan ke arah bar yang telah disarankan oleh Kyungsoo saat dia akan pergi keluar tadi pagi. Dia tak berencana untuk datang, tapi saat Sehun mengirim pesan yang memberitahunya untuk tidak menunggu, dia tahu bahwa Sehun menghindarinya dan menghindari hal yang Jongin janjikan akan terjadi padanya sepulangnya ia ke rumah malam ini. Hal ini tidak seharusnya mengganggu Jongin. Tapi hal itu malah makin mengganggunya. Dan Jongin tak tahu mengapa hal itu terjadi.

Apa yang ia tahu adalah saat Jongin berbelanja bahan makanan sore itu adalah dia mencoba untuk memikirkan lebih banyak makanan yang Sehun mungkin sukai. Dan hal itu membawanya ke dalam pikiran yang menjurus ke gambaran bagaimana mengajari Sehun cara memasak makanan itu, lengkap dengan membiarkan Sehun mencicipi makanan dari jari Jongin... dan kemudian dari lidahnya. Dan gambaran itu membuat Jongin seperti sedang menyelundupkan sebuah ketimun di dalam celana pendeknya saat ia bergerak ke bagian sayur-sayuran.

Berdiri di pintu masuk, Jongin menyisir bar mencari Kyungsoo, berpikir bahwa Kyungsoo akan mudah di temukan karena tinggi tubuhnya yang lebih pendek dari orang western disini dan rambutnya yang berwarna brown red. Dua detik kemudian pandangan Jongin seketika berhenti. Sial, dia sudah keliru.

Sehun berdiri diantara kerumunan yang sudah jelas merupakan pertandingan lempar panah yang ia ikuti. Jongin mengenali Kyungsoo dan Kris, tapi mereka bahkan hanya menjadi pandangan kabur segera setelah ia menemukan Sehun.

Sehun mengenakan celana jeans gelap, ketat memeluk bokongnya dan rendah di bagian pinggulnya yang langsing, dipasangkan dengan baju kaos longgar berwarna jingga pucat. Sekarang Jongin ingin menghajar dirinya sendiri karena sudah menambahkan kaos itu ke dalam lemari pakaian Sehun, karena jelas pria-pria lain di bar ini juga mungkin menyukai kaos itu dengan alasan yang sama dengannya.

Sehun terlihat sangat berbeda dari apa yang Jongin lihat minggu lalu. Tak hanya dari penampilannya, tapi juga semangatnya. Sehun memiliki aura yang bersinar dengan indah dari wajahnya. Jongin berdiri diam, memutuskan untuk menonton Sehun di lingkungannya untuk sesaat. Senyumnya sangat lebar dan untuk pertama kalinya Jongin melihat lesung pipi mungil di pipi kanan Sehun.

Sehun menyemangati Kyungsoo yang sedang melempar anak panah ke papan panah terdekat dimana ia dan dua orang pria berdiri. Saat anak panah terakhir Kyungsoo menancap di papan, ke empat orang itu bersorak gembira. Pria pirang di sebelah Sehun mengangkat tubuhnya dan memutarnya sebelum memberikan ciuman keras di bibir.

Dan Sehun bahkan tidak melawan. Menyadari bahwa reaksinya tak beralasan, bahkan menggelikan,Jongin berjalan melintasi ruangan, menggunakan berat tubuhnya dan bahunya yang lebar sebagai keuntungan dalam menerobos kerumunan orang. Sehun tidak melihat Jongin berjalan kearahnya karena posisi Sehun membelakanginya, tapi Kyungsoo melemparkan senyuman yang berseri-seri saat ia menyadari pria itu berdiri dibelakang Sehun.

"Hoy, Jongin! Aku senang kau memutuskan untuk datang! Kau datang tepat pada saat kami sedang merayakan kemenangan pertama kami malam ini."

Sehun tidak berbalik selama lima detik, mungkin lebih dari lima detik. Tapi sesaat setelah Kyungsoo memanggil nama Jongin, ketegangan terlihat meluruskan tulang belakangnya. Saat akhirnya Sehun menghadap kearah Jongin, senyumannya hanya sekedar lengkungan tipis di wajahnya. Sehun tak senang melihatnya. Pasti karena Jongin menginterupsi kesenangannya dengan penggemar barunya.

"Jongin. Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku mengundangnya sebelum kita berangkat sore tadi," kata Kyungsoo. "Aku pikir ia bisa bergabung untuk minum-minum, atau setidaknya menonton kita minum jika itu bertentangan dengan diet superketatnya atau apalah."

Jongin merunduk dan menurunkan suaranya jadi hanya Sehun yang bisa mendengarnya. "Aku memiliki dugaan gila bahwa mungkin kau menghindariku karena kau gugup tentang malam ini. Tapi hal itu sepertinya lebih dikarenakan kau tidak ingin aku menghalangi cumbuanmu dengan si Pirang yang berdiri di sana." Saat Jongin meluruskan tubuhnya kalimatnya sendiri membakar tubuhnya seperti halnya cairan asam di siramkan ke gendang telinganya. Betapa bajingannya dia mengatakan hal itu pada Sehun.

Pria manis ini tak layak mendapatkannya, dan ekspresi terluka dan kebingungan melintas di wajah Sehun. Menggenggam tangannya, Jongin membawa Sehun ke ruangan kecil dimana sebuah telepon umum terpasang di dinding.

"Sial, maafkan aku,Hun. Aku berkelakuan seperti seorang bajingan. Jika kau ingin bersenang-senang atau apapun dengan pria itu,maka..." Jongin menyapukan tangannya di rambutnya dari belakang ke depan kemudian meluncur ke janggut tipisnya. "Maka itu hal yang bagus," akhirnya kalimat itu terpaksa ia keluarkan.

"Jongin, itu manis sekali—aku pikir—tapi apa yang sedang kau bicarakan? Tak ada pria yang sedang aku goda disini."

Jongin menunjuk ke arah dimana mereka terlihat bersama tadi. "Aku melihatnya menciummu, Sehun, dan kau tak terlihat kaget saat ia melakukannya."

"Itu karena ia melakukannya hampir setiap saat." Sehun mengatakan hal itu seperti seharusnya hanya itu saja penjelasan yang Jongin butuhkan. Tapi hal itu malah membuat situasi semakin tak masuk akal sekarang.

"Ayo." Sekarang saatnya Sehun untuk menggenggam tangan Jongin dan membawanya kembali kemana mereka berasal. Sehun melambaikan tangannya ke arah pria pirang yang sudah menciumnya tadi. Tunggu sebentar, siapa? Sehun. Pria ini mencium Sehun. "Jongin, aku ingin memperkenalkanmu pada Kyle. Kyle, ini sahabat baik Suho dan pasien garis miring tamu garis miring...um,pelatih pribadiku."

Dari ujung matanya Jongin melihat senyuman licik terbentuk di wajah Sehun, yang mana sangat seksi. Sehun jelas sangat bangga terhadap permainan kata yang ia lakukan untuk menjelaskan hubungan unik diantara mereka, dan ia harus mengakuinya, bahwa hal itu sangat cerdas. Kyle menjulurkan tangannya dan Jongin menjabatnya dengan sportif, tapi ia memastikan untuk memberikan sedikit penekanan dan pandangan tersirat antar sesama pria. Pandangan jangan-main-maindengan-bocah-ini-atau-aku-akan-memakan-jantungmu-untuksarapan-dengan-sereal Wheaties-ku.

Pria itu sepertinya tak main-main dalam urusan otot, tapi itu bukan masalah bagi Jongin. Dengan latihan yang Jongin lakukan ia bisa menjatuhkan petarung jalan manapun, tak peduli seberapa besar tubuh mereka, jika hal itu akan terjadi.

"Dan kau sudah bertemu dengan Kris kemarin malam," tambah Sehun.

Jongin berbalik dan menjabat tangan Kris. "Kris. Aku tak berpikir bahwa kita akan bertemu lagi secepat ini."

"Beruntungnya aku," kata Kris sambil tersenyum. "Sekarang kau bisa membelikanku bir untuk malam ini."

Sehun memotong dengan pandangan tajam ke arah Jongin. "Kyle adalah partner Kris."

"Di rumah sakit?"

Kyle tersenyum di belakang birnya saat ia meminumnya dan Kris tertawa sembari menjawab, "Tidak, bung, kau melewatkannya. Sehun menekankan pada kata 'partner'. Dia menekannya dengan jelas meskipun tidak mengutip dengan jarinya untukmu."

"Mengutip dengan jari?"

Kyungsoo jelas tertawa terlalu keras, tapi kemudian berhenti sejenak untuk menjelaskan pada Jongin. "Mereka kekasih, Jongin. Kris dan Kyle juga pasangan gay."

Jongin melirik ke arah Sehun untuk konfirmasi. Sial. Well, ini merubah segalanya. Menjulurkan tangan ke arah Kyle lagi, Jongin mengatakan, "Maaf, bung. Aku berasumsi..."

"Bahwa aku bercumbu dengan Sehun? Tak perlu mengatakannya, bung, aku benar-benar mengerti. Kau hanya berdiri untuk menggantikan Suho sebagai kakak laki-laki yang protektif. Tapi sebaiknya kau memiliki kemungkinan lebih besar untuk aku sukai daripada Sehun kita yang manis disini." Kris menajamkan pandangannya pada kekasihnya dan Jongin tak bisa menahan diri untuk tidak membalas.

"Tenang, amigo," kata Jongin. "Taringmu terlihat."

"Yeah, aku tahu. Kyle pikir menyenangkan saat melihatku cemburu." Kemudian Kris berbalik ke arah Kyle yang sedang menikmati pertunjukkan itu dengan tangan bersilang di dadanya. "Jaga sikapmu, K, atau kau akan membayar hal itu nanti. Itu janjiku."

Kyle mengejek, tak sedikitpun terintimidasi ancaman Kris itu. "Kau harusnya tahu bahwa aku tak melakukan hal itu karena sebuah kecelakaan. Aku akan membuat satu ronde lagi untuk kita."

Sebelum Kris memiliki kesempatan untuk membalasnya, Kyle berkedip ke arah Jongin—bukan kedipan genit, tapi sinyal bahwa ia senang membuat pasangannya cemburu—dan berjalan melewati Jongin ke arah bar.

"Hey, Oh Sehun!" Mereka berlima berbalik ke arah pria yang berteriak diantara kerumunan, tapi jelas siapa yang pria itu maksud.

"Giliranmu!"

"Oh, sial, game ketiga sudah di mulai," kata Sehun sebelum menyelesaikan birnya. "Kami kalah di game pertama dan memenangkan game kedua, jadi tim manapun yang memenangkan game ini akan maju ke babak playoff. Doakan aku berhasil!"

Teman satu timnya mengangkat gelas mereka dan berteriak, "Semoga berhasil!" pada saat bersamaan. Sepertinya hal itu sudah sering mereka lakukan. Sekarang Jongin tak lagi merasa marah, mereka jelas terlihat merupakan tim yang solid.

Jongin membawa sebotol air mineral dan menaruhnya di atas meja untuk melihat Sehun memainkan anak panah. Setiap kali ia selesai melemparkan anak panah, Sehun akan berdiri di sebelahnya di bar saat mereka semua berbincang dan tertawa. Jongin sudah mencoba menawarinya kursi yang ia duduki, namun Sehun menolaknya dan mengatakan bahwa ia akan sering berdiri. Sepertinya kebanyakan pemain lain juga tak duduk di kursi, memilih untuk berdiri di batas area permainan dan menyemangati teman mereka dan mencoba untuk mengganggu konsenterasi lawan.

Tak apa baginya karena duduk dengan meja bar di sebelah kanan dan papan panah di sebelah kirinya, Sehun secara tidak sengaja berdiri santai diantara kedua lututnya. Dan karena teman-teman Sehun berdiri di depannya, itu memberikan Jongin kesempatan yang sempurna untuk menyentuh Sehun tanpa orang lain ketahui.

Pertama kali ia melakukan sesuatu—sebuah sentuhan ringan ke arah punggungnya dengan satu jari—Sehun langsung tersentak karena terkejut. Karena seseorang baru saja memasukkan begitu banyak koin ke jukebox, semua orang harus berteriak mengalahkan musik yang ribut atau berbicara langsung di telinga orang lain. Hal lain yang menguntungkan Jongin dari kegiatan ini.

Mengarahkan mulutnya ke telinga Sehun, Jongin berkata, "Tenang, sayang. Tak ada yang bisa melihatku menyentuhmu."

Sekembalinya Sehun dari gilirannya bermain, ia sekali lagi menempatkan dirinya di antara kaki Jongin dan mulai mengobrol dengan Kris dan Kyle saat Kyungsoo melakukan gilirannya di permainan itu. Saat ia mendengarkan Kyle bercerita tentang beberapa event dari tempat kerjanya dan merespon semuanya di saat yang tepat, Jongin menyelipkan tangannya di balik kaos Sehun, berhati-hati dan tetap menjaga jaraknya dekat dengan Sehun jadi tak ada yang bisa melihat apa yang sedang ia lakukan. Jongin ingin membuat Sehun lebih menyadari keberadaannya, bukannya ingin memberi seisi bar pertunjukkan gratis.

Dengan lembut Jongin menyentuhnya, menyapukan jemarinya di belahan tulang belakang Sehun, menjalankan jempolnya di sepanjang garis pinggangnya dibawah ujung celana jinsnya. Di bawah bar, tangan Sehun yang di taruh di atas dengkul Jongin kini mengencang, menanamkan kuku pendeknya ke celana jeans yang Jongin kenakan.

Tanpa menghentikan gerakannya, Jongin menjawab pertanyaan dari Kyle saat Kyungsoo kembali dan Kris pergi melakukan permainannya. Memegang pinggul Sehun, secara perlahan Jongin menarik tubuh Sehun ke belakang beberapa inchi jadi Sehun bisa merasakan kemana jalan pikiran Jongin. Getaran menjalar di tubuh Sehun saat tubuh mereka bersentuhan, dan hal itu jelas bukan karena dingin di bar yang sesak.

"Ayo, Kris, kau bisa melakukannya!" Kyungsoo berteriak. "Satu kali lagi. Semua yang kau butuhkan hanyalah tiga angka delapanbelas dan kita akan maju ke babak playoff, sayang!"

Jongin merundukkan kepalanya untuk mendekat ke telinga Sehun. "Apa biasanya kau tetap tinggal dan merayakan setelah permainan berakhir?"

Sehun mengangguk. "Malam ini aku ingin kau mengatakan pada mereka bahwa kau lelah, sakit, diculik oleh alien, apapun yang bisa kau katakan. Kau akan pulang denganku."

Sehun berbalik di pelukan Jongin dan bergerak mendekat untuk menjawab. "Kyungsoo akan tahu sesuatu yang aneh terjadi jika aku tidak pulang dengannya. Dan ia tak akan membiarkan semua hal ini semudah yang kau bayangkan."

Jongin mencondongkan kepalanya dan berdiri. "Baiklah. Aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama, Sehun. Aku pikir aku bukanlah pria yang sabar di saat seperti ini."

Jongin mengatakan selamat tinggal, memberikan Sehun satu tatapan terakhir yang penuh arti, dan berjalan keluar bar. Dia memberikan Sehun waktu tigapuluh menit. Maksimal.

~oOOO~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Ini udah panjang kan yah? Kalo masih ngeluh kurang panjang ane lempar sempaknya Sehun nanti, wkwkwk

Buat minggu kemaren maaf buat typo'snya, efek menggalau akut jadi gitu. Tolong dimaklumi ya~ *bow*

Sorry juga bikin greget TBC nya, wkwk sengaja *digampar readers* XD

Jadi siapa yang siap buat KaiHun NC for next Chapter? Wkwk

Si Kai udah kode tuh. Hahaha dan roman-roman perpisahan juga udah kecium nih, wkwk

Ok bagaimana kelanjutannya? Review please~ ^^

.

.

.

Thanks to review CH 4:

elnim , jaeseopj , VampireDPS , wocoi , mamasehun1214 , Daisy Purplelady , vitangeflower , eruya , YunYuliHun , exohye , Babby Hanna , auliavp , johsyh , anak udik , izzsweetcity , fitrysukma39 , Zelobysehuna , taejims , ohhanniehunnie , exogzb , KaiHunnieEXO , utsukushii02 , Jongin's Grape , bibblebubblebloop , Rilakkuma8894 , Sekar Amalia , ParkJitta , kenlee1412 , rytyatriaa , KaiHunyehet , , , Keteknyakai , HilmaExotics