BackSong : - Beyonce – Crazy In Love
Rainbow – Black Swan
~oOOo~
Sehun menatap pintu apartemen 3C nya, mempelajari setiap nuansa kuningan yang memudar dan lubang intip di bawahnya...Dan mengulur-ulur waktu layaknya seperti gadis perawan pada malam prom yang akan berlangsung lima menit lagi.
Pada awalnya Sehun tak tahu kenapa dia begitu gugup. Sehun jelas tidak gugup saat Jongin menyentuhnya. Tidak, tapi itu seperti api murni, hasrat tak terkendali yang tidak pernah Sehun kenal sebelumnya. Jadi yang harus dilakukan olehnya hanyalah berada dalam pelukan Jongin, dan Sehun akan baik-baik saja.
Sehun memutar handle pintu dan memasuki apartemennya. Sebuah lampu kecil dengan bayangan berwarna keunguan di atas meja di dekat pintu memberikan kehangatan dan kesan sensual ke dalam sebuah ruangan kecil di sebelah kanan. Sehun baru menyadari iPodnya terhubung ke satu set speaker kecil di ujung meja, memainkan lagu pelan dan seksi yang tidak diragukan lagi bahwa seluruh lagu yang dimainkannya akan seperti itu.
"Disini,Hun."
Sehun meluncur dari sandalnya dan selanjutnya berjalan ke dalam sebuah ruangan, mencari Jongin. Suara Jongin, lebih kecil daripada biasanya, berasal dari ruang tamu, tapi Sehun tidak melihatnya dimanapun. Perut Sehun menegang menjadi sebuah simpul yang mungkin akan mencekik sesuatu yang beterbangan di dalam sana.
Persetan kupu-kupu (sensasi gelisah di dalam perut seseorang yang dirasakan ketika bersama orang yang menakjubkan). Ini pasti burung kolibri. Terbang dengan kecepatan penuh. Memutari sofa, Sehun akhirnya menemukan Jongin duduk di atas lantai tanpa berpakaian tapi hanya mengenakan celana pendek atletik putih, satu kaki terentang di depannya dan lainnya dilipat dengan lengannya bertumpu di lututnya. Jongin meletakkan bantal lantai besar yang biasanya ditumpuk di sudut dan melengkapinya dengan bantal dekorasi dari sofa dan dari tempat tidur. Itu terlihat seperti lantai seorang sheik dengan selera yang buruk dalam design interior, namun, itu juga penyusunan terseksi yang pernah ada.
Dalam satu gerakan yang mulus Jongin berdiri dan mengulurkan tangannya. Sehun menelan ludah dan menyeka tangannya pada pahanya jikalau tangannya mengeluarkan keringat yang fantastis, dan kemudian menempatkan jari-jarinya ke dalam tangan Jongin.
Jongin menarik Sehun ke bagian tengah bersamanya tapi tidak menarik tubuh Sehun ke dalam pelukannya. Jarak diantara mereka tidak lebih dari dua inci, tapi itu terasa seperti di Grand Canyon. Diangkatnya kepala Sehun, matanya bertatapan langsung dengan mata Jongin yang sedang menunduk untuk beradu pandang dengannya. Barulah Sehun menyadari, mungkin Jongin menunggunya untuk mengambil langkah pertama, seperti bagaimana Sehun melakukannya di ruang fitness. Okay, tidak masalah. Yang perlu kau lakukan hanyalah memulai sesuatu, Sehun.
Sehun memejamkan matanya dan wajahnya lebih dinaikkan, menunggu saat bibirnya akan bertemu dengan bibir Jongin, antisipasi mengalir melalu urat nadinya seperti obat bius... Tapi tidak ada yang terjadi.
Membuka matanya, Sehun bertanya-tanya jika waktu entah bagaimana caranya telah berhenti. Jongin tidak menggerakkan satu otot pun— Otot-otot rahang Jongin mengencang. Ya Tuhan, itu sangat seksi. Mengapa itu begitu seksi? Sehun bertanya-tanya apa artinya Jongin melakukan itu. Suho selalu melakukannya ketika dia sedang murka. Apakah Jongin sedang murka?
"Jongin?"
Pada awalnya Jongin tidak mengatakan apa-apa, tapi perlahan jari-jarinya dinaikkan di atas bibir Sehun sekali, seakan menyatakan Jongin tidak ingin Sehun bicara, lalu menarik jarinya pergi. Sehun mengerutkan dahinya. Dia tidak memahaminya.
Jongin berjalan mengelilingi punggung Sehun, lagi sangat dekat tapi tidak menyentuhnya. Sehun merasakan nafas Jongin di samping wajahnya ketika Jongin mencodongkan tubuhnya. Dan ketika sebuah jarinya menyusuri lengan Sehun, Sehun bersumpah sebuah aliran listrik telah membakarnya.
"Rayuan bukan tentang tindakan," kata Jongin, menelusuri jarinya kembali menuju bahu Sehun. "Ini tentang kendali. Aku dapat membuatmu melakukan semua tindakan itu—kau menanggalkan pakaianku, melakukan striptis, bahkan dapat membuatmu berlutut di depanku—dan selama aku yang memegang kendali situasinya, kamulah sebenarnya yang sedang dirayu."
Ya Tuhan, Sehun ingin Jongin menarik dirinya ke dalam tubuhnya, untuk merasakan dadanya yang menempel di bahu atasnya dan ereksinya terjepit disela-sela pantatnya.
"Buka kemeja, Sehun."
Meraih keliman kemejanya dengan kedua tangan, Sehun mengangkat tangannya, menarik kemejanya melewati kepalanya, dan dilemparkannya ke sofa.
"Sekarang celananya."
Kancingnya dibuka dengan jarinya yang gemetar, menurunkan resleting ke bawah, dan membiarkan celananya jatuh ke lantai sebelum menendangnya. Yang tersisa di tubuhnya celana dalam yang sesuai.
Akhirnya Jongin meletakkan lebih dari satu jari pada Sehun dan merasakan ciuman yang ditempatkan pada tengkuk Sehun setelah membuatnya berada di tepian dalam waktu lama, itu seperti sentakan nafsu yang ditembak langsung ke dalam dirinya. Sehun tersentak sebagai bentuk respon dan mungkin sudah mengeluarkan erangan, dia tidak begitu yakin. Tubuhnya, otaknya, semuanya terasa sangat sadar, mengalami hubungan arus pendek yang semuanya terjadi dalam waktu yang sama.
Lutut Sehun terasa lunglai, tapi tangan Jongin yang kuat meraih pinggulnya, dan dia menarik punggung Sehun untuk menahannya stabil. "Shhh. Aku memegangmu. Aku ingin kau berbaring telungkup. Gunakan bantal-bantal itu semaumu untuk membuat dirimu sendiri nyaman."
Jongin membantu Sehun rebah dan ketika sudah beres, bergabung dengan Sehun dengan merentangkan tubuh disamping Sehun. Dengan wajahnya berpaling kearah Jongin, Sehun belajar tentang intensitas yang ada di wajahnya saat Jongin menggerakkan tangannya di punggung, pinggang, di atas gundukan dari pantatnya. Rahang Jongin menegang, membuat pipinya melekuk dengan setiap gerakan ototnya, dan mata cokelatnya di bawah lampu merah-biruan mengingatkannya akan warna menyala dari musim gugur.
"Sialan,Hun. Kapan kau mendapatkan pantat seperti ini?"
Apakah Sehun harus menjawab pertanyaannya? Jongin tadi tidak ingin agar dirinya bicara jadi Sehun hanya mengartikan itu hanya pertanyaan retoris. Disamping itu, Sehun tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang diberikan padanya mengingat bagaimana otaknya telah berhenti begitu Jongin menyentuhnya.
Lagipula semua pertanyaan dan jawaban menguap ketika jari Jongin y menelusuri garis celananya diantara pantat hingga mencapai segitiga tipis yang menutupi seksnya. Secara naluriah Sehun mengangkat pinggulnya, memberi Jongin akses yang lebih baik. Ternyata tubuhnya mempunyai pikiran sendiri. Syukurlah mereka mempunyai pikiran yang sama dengannya.
"Persetan kau begitu tegang." Sekarang dua jari Jongin mengelus kembali ke depan dan ke belakang lagi. Kemudian Jongin memposisikan tubuh bagian atasnya diantara kedua kaki Sehun, yang menempatkan wajahnya di—Sehun terkesiap ketika Jongin menggigit pantat kirinya. Tidak terlalu keras untuk menyakitinya, tapi cukup menyebabkan kejutan singkat sebelum Jongin menciumnya agar lebih baik.
"Aku tak pernah melakukan itu sebelumnya," Kata Jongin, "tapi ada sesuatu tentang pantatmu yang membuatku perlu untuk melahapnya. Apakah itu menganggumu?"
"Tidak," kata Sehun, mengangkat pinggulnya dari bantal di bawahnya, permohonan tanpa kata untuk meminta lebih.
"Tidak," Jongin setuju, meremas pantat Sehun yang lain dengan telapak tangannya yang kasar. "Kurasa kau malah menikmatinya, bukankah begitu?" Jari-jari Jongin dari salah satu tangannya kembali memijat lipatan bengkak saat tangan yang lain terus membelai dan meremas pantatnya dan yang Sehun inginkan adalah lebih banyak lagi.
Plak!
Jeritan tertahan muncul di udara sesaat setelah tangan Jongin meninggalkan pantat Sehun. Sekali lagi, reaksi Sehun lebih kepada shock daripada sakit.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku,Hun."
Menjawabnya? Sehun bahkan tidak dapat mengingat namanya sendiri pada saat ini, apalagi pertanyaan itu. Untunglah Jongin mengulanginya.
"Apakah kau suka apa yang kulakukan pada pantat indahmu ini?"
"Ya," Sehun berseru diantara gigitan yang lain, yang satu ini lebih dekat ke lipatan pahanya. "Semua yang kau lakukan terasa sangat nikmat."
"Ini sesuatu yang sangat bagus, aku benar-benar menggigitmu cukup dalam untuk melihat tandaku di kulitmu, sayang."
Sebelum Sehun memiliki kesempatan memberi tanggapan, Jongin memegang celana dalam Sehun di kedua tangan dan menariknya ke arah yang berlawanan, menghancurkan celana itu menjadi dua. "Aku akan membelikanmu lebih banyak lagi."
Sehun tidak tahu mengapa, tapi ide bahwa Jongin perlu mengganti celana dalamnya setiap kali dia merobek dari tubuhnya terlihat lucu. Sehun terkikik. Sampai lidah Jongin menyapu penisnya dalam alur yang hangat dan basah.
"Oh My God."
Sekarang giliran Jongin yang senang dan getaran dari bibirnya menggelitik kulit Sehun yang kaya saraf hingga dan memeras lebih banyak cairan saat organ dalamnya mengejang. "Berbaliklah jadi aku bisa melakukan ini dengan benar."
Sehun berguling ke belakang dan menatap ke atas seperti dia memegang dirinya sendiri. "Aku tak tahu kalau kata dengan 'benar' berfungsi dalam konteks ini. Kupikir kata keterangan yang kau cari adalah 'terlarang'."
"Kau benar. Terlarang jelas menggambarkan rencanaku untukmu. Tapi kau juga salah."
"Tentang apa?"
"Masih ada cara yang tepat untuk melakukan tindakan terlarang."
Dengan seringai nakal dan kilatan jahat di matanya Jongin mengatakan. "Dan aku akan menunjukkan padamu dengan tepat apa yang kumaksud."
~oOOo~
Jongin meyerap reaksi polos Sehun seperti gurun yang lama menunggu hujan. Jongin belum pernah bersama dengan siapa pun yang menyerupai Sehun. Jongin selalu berkencan dengan orang yang bersedia dan siap dan tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang dia lakukan tentang: seks tanpa ikatan.
Sehun sangat menyegarkan dan begitu responsif. Jongin sangat suka membuat Sehun tetap berada di tepian, selalu bertanya-tanya apa yang akan dilakukan selanjutnya, dan kemudian mengejutkannya— dan bahkan kadang mengejutkan dirinya sendiri—dengan langkah selanjutnya.
Jongin menurunkan dirinya sehingga sebagian tubuhnya menutupi tubuh Sehun, tapi masih cukup menahan diri hingga dia tidak meremukkan tubuhnya dengan berat badannya. Sehun seakan makhluk kecil mungil, halus dan lembut dan benar-benar cantik. Jongin tidak bisa mengerti mengapa Sehun berpikir dirinya biasa saja.
Mata abu-abunya melembut diliputi oleh lingkaran berwarna arang menatapnya dengan pandangan nafsu tak terfokus yang merangsangnya. Jongin menyisir pinggiran poni Sehun ke samping dan melihat bintik kecil berbentuk hati. Jongin menundukkan kepalanya dan mencium Sehun dan matanya menutup saat mendesah kemudian ciumannya bergeser ke arah mulut Sehun.
Menggunakan tekanan Jongin mendorongnya untuk membuka bibirnya dan menyapukan lidahnya untuk menemukan miliknya. Merasakan lidahnya menggeser dengannya, bergerak di atas dan di sekitar bibirnya saat mereka mengklaim satu sama lain adalah perasaan yang memabukkan. Tangan Sehun naik untuk membingkai tulang rusuknya dan ketika Jongin menggoyangkan pinggangnya, menumbukkan kemaluannya terhadap hole Sehun, jari-jari Sehun menekan lebih dalam. Sengatan tajam dari kuku yang menggores kulitnya membangkitkan sesuatu yang sengit.
Dada Sehun yang bidang merasa dada Jongin diatasnya menekan putingnya yang sensitif dan Jongin mengerang saat mereka menegang oleh sensasinya. Meskipun begitu nikmat, Jongin lebih memilih agar sensasi itu pergi.
"Luar biasa," Jongin serak. Dan memang benar.
Puting merah kehitaman yang mengkerut ketika Jongin melingkarinya dengan ujung jarinya. Kesempurnaan dibawah Sehun semakin bertambah dibawah tatapan Jongin yang panas. Tidak menyia-nyiakan sedetik pun Jongin membungkuk untuk menempatkan ciuman basah di dada Sehun. Melengkungkan punggungnya dan nafas Sehun terdengar semakin cepat. Dengan lidahnya Jongin membuat gambar dengan pola malas, tapi berhati-hati menjauh dari pusatnya, membuat Sehun lebih dekat ke tepian sekali lagi. Setelah satu menit atau lebih Jongin beringsut lebih dekat,menelusuri tubuh milik Sehun.
Sehun membuat suara frustasi dan mencengkram kepala Jongin, mencoba mengarahkan Jongin ke putingnya, tapi lagi-lagi Jongin membuat Sehun menunggu. Jongin menyerang puting Sehun dengan lidahnya dan menghisapnya seperti milik Sehun adalah permen kesukaannya. Sehun menjerit dan melengkung ke arah Jongin sampai punggungnya membungkuk.
Akhirnya Jongin menarik kepalanya mundur sampai puting Sehun dibebaskan dari bibir Jongin dengan suara plop yang basah. Pucuk memerahnya yang mengencang memberikan Jongin sensasi sama tingginya dengan memenangkan satu ronde di salah satu pertandingan dan memberinya motivasi yang sama untuk melakukannya lagi.
Jongin mengulangi seluruh prosesnya di sisi yang lain, memuja puting Sehun dengan mulutnya sementara tangannya berkeliaran di atas kulit Sehun yang terasa selembut satin. Ketika Jongin yakin memenangkan ronde kedua juga, Jongin melepaskan puting Sehun dan menuju ke lokasi penaklukan berikutnya.
Menegakkan tubuh di atas lututnya, Jongin menggunakan tangannya untuk mendorong kaki Sehun terpisah. Penis Sehun yang merah muda berkilau oleh cairannya. Jongin tak mampu menahan diri untuk menatap sumbernya. Jongin juga benar-benar dapat melihat dinding-dinding hole bagian dalam milik Sehun mengetat, sangat ingin menggenggam sesuatu di sana. Menyeret tatapannya menjauh Jongin melihat ada ekspresi malu di mata Sehun.
"Kau sangat cantik. Tapi kau terlihat terlalu kosong." Menahan tatapan Sehun, Jongin menyelipkan ibu jarinya ke dalam hole Sehun. "Ingin sesuatu untuk mengisimu?"
Segera setelah Sehun memberikannya anggukan Jongin menenggelamkan kedua ibu jarinya sedalam-dalamnya. Sehun menjerit saat pinggulnya terangkat dari bantal, tangannya mencengkram salah satu bantal dibawahnya. Respon Sehun mendorong api dari dalam diri Jongin hingga intinya terasa mencair. Ketika Sehun menurunkan pinggulnya sekali lagi Jongin menghadiahi Sehun dengan mendorong ibu jarinya, memberikan tekanan pada dinding-dinding bagian dalamnya dengan setiap gerakan mundurnya.
Jongin melihat cairan dari penis Sehun keluar dengan sendirinya, menetes melumurinya dan sebuah rasa dahaga yang mendalam akan diri Sehun tiba-tiba membajiri Jongin. Memposisikan tubuhnya lebih rendah, Jongin mulai mencium paha bagian dalam Sehun.
"Jangan, kau tak perlu melakukan—"
"Ya, aku perlu," jika Jongin tidak menempatkan mulutnya pada penis Sehun pada menit berikutnya dia akan menjadi gila. "Aku harus melakukannya."
Sesaat sebelum Jongin akan turun, tangan Sehun menangkup dagunya untuk mencegah Jongin bergerak kemana-mana. "Jangan, maksudku adalah, itu tidak memberikan efek apapun untukku, jadi kau tak perlu melakukannya."
Jongin butuh beberapa waktu untuk memproses apa yang Sehun katakan. Tidak memberikan efek apapun untuk Sehun? Entah mantan suaminya begitu buruk dalam urusan oral atau—tidak, Jongin bahkan tidak akan menyelesaikan itu. Jongin berani mempertaruhkan kontrak UFC-nya, bahwa pria itu memang begitu buruk.
Jongin melingkari pergelangan tangan Sehun, menarik tangan Sehun dari wajahnya, memberikan ciuman di pergelangan tangan Sehun saat Jongin menatap matanya. Jongin membutuhkan Sehun untuk melihat kejujurannya ketika ia bicara. "Aku perlu merasakan milikmu, Sehun. Aku sangat ingin merasakan memilikimu ada di lidahku, di dalam mulutku. Dan aku jamin apa yang aku lakukan, aku berpengaruh besar untukmu."
Jongin tidak memberikan kesempatan Sehun untuk berdebat dengannya. Jongin membenamkan dan menjilat dari bawah sampai ke atas, menambahkan sedikit tekanan ketika lidah Jongin tiba di ujung penis Jongin.
Sehun menjerit dan pinggulnya mencoba melengkung, tapi Jongin menahannya ditempat sehingga Sehun tak bisa mengacukan apa yang sudah jadi sasaran Jongin. Penis milik Sehun terasa manis seperti madu. Jongin sendiri merasa senang bisa menghabiskan waktunya diantara kedua kaki Sehun. Di atas, mengelilingi dan langsung ke tengah, Jongin mempertahankan lidahnya dalam gerakan konstan, menyelesaikannya dengan ciuman dan gigitan kecil. Jongin memperhatikan setiap erangan, setiap rintihan, mempelajari apa yang Sehun suka dan apa yang mendorongnya jadi menggila.
Keringat menutupi tubuh Sehun, dada Sehun terlihat naik turun dengan nafas pendeknya, Sehunmelemparkan kepalanya ke belakang dan matanya erat tertutup. Sehun adalah sebuah pemandangan yang tak ada duanya, menggeliat dalam sebuah pergolakan gairah. Tapi ada sesuatu yang akan membuatnya menjadi lebih baik. Untuk mereka berdua.
"Sehun, sayang." Jongin menunggu agar suara yang seraknya untuk menembus pikiran Sehun yang berkabut nafsu. Sesaat kemudian bulu mata Sehun bergetar dan iris cokelat hazel menatap ke arah Jongin.
"Angkat dirimu menyangga dengan sikumu. Aku ingin kau melihat apa yang ku lakukan pada holemu yang menggoda ini."
Perlahan Sehun melakukan apa yang Jongin minta hingga Sehun menyangga tubuhnya. Dengan kakinya melengkung dan terbuka lebar dan pantatnya di atas bantal besar Sehun memiliki sudut pandang yang sempurna. Sehun telah dekat dengan tepian sebelum Jongin menghentikannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membawa Sehun tepat disana dan menahannya tetap disana sampai Sehun memohon pada Jongin untuk membawa Sehun ke sisi yang lain.
Senyum nakal menjulang di sudut bibir Jongin saat Jongin sekali lagi tenggelam diantara dua kaki Sehun. Kali ini Jongin memastikan untuk menjaga kepalanya miring ke samping sehingga dia tidak menghalangi pandangan Sehun. Dengan ujung lidahnya, Jongin menggoda hole luar Sehun dengan beberapa belaian sebelum akhirnya membenamkan lidahnya untuk mencoba masuk menemukan inti yang telah Jongin sapu dalam nafas yang tajam pada sentuhan pertama.
Menambahkan sensasinya Jongin memasukkan jari telunjuk ke dalam hole Sehun dan memompanya masuk dan keluar bersamaan saat lidahnya bergantian berputar-putardi atas penis Sehun. Mata Sehun seperti cairan perak di atas api. Nafas Sehun menjadi terengah melalui bibirnya yang terpisah.
"Oh, Tuhan...Jongin." Sehun mulai menggoyangkan kepalanya. "Aku tidak bisa—Kau harus—"
Hampir disana. Sangat dekat. Jongin menambahkan jari yang lain dan mengerutkan bibir di atas penis Sehun, memberikan denyut dalam hisapannya.
"Ah!" Pinggul Sehun bergerak, mendorong penisnya semakin dalam kemulut Jongin, dan Jongin tahu Sehun berada pada titik dimana dirinya tidak bisa mengendalikannya walaupun dia menginginkannya. Sehun berada di tepi dari klimaks, tepat dimana Jongin menginginkannya.
"Klimaks lah untukku, Sehun," perintah Jongin. "Biarkan aku meminum madumu."
Jongin meningkatkan kecepatan tangannya dengan mendorong jari-jarinya, menikmati cairan yang mulai keluar membasahi mulutnya. Mengunci bibirnya di atas sekumpulan saraf Jongin memulai lagi dengan lidahnya.
Beberapa detik kemudian, pada saat yang tepat, Jongin perlahan menutup giginya di atasnya, akhirnya menarik Sehun masuk ke dalam jurang dimana tubuh Sehun hancur dan ia meneriakkan nama Jongin ke surga.
Dinding dari selubungnya mencengkeram jari Jongin saat Sehun turun dari klimaksnya, bersamaan menurunkan dirinya untuk berbaring di atas bantal. Sayangnya Jongin sama sekali belum selesai dengan Sehun. Kejantanan Jongin keras seperti palu dan Jongin telah berniat menemukan pembebasannya di dalam tubuh Sehun. Dengan cepat menggapai ke sisi atas tubuhnya dan mengambil kondom yang sudah disiapkan dan menyelubungi miliknya bahkan sebelum Sehun tahu Jongin telah bergerak.
"Sehun?"
Sehun tetap menutup matanya dan ekspresi puas terlihat di wajahnya. Jongin tersenyum ketika berpikir bagaimana singkatnya kepuasan Sehun saat Jongin membuatnya terangsang lagi.
"Hmm?"
"Aku hanya ingin tahu apa itu memberikan suatu efek untukmu."
Mata Sehun tiba-tiba terbuka. "Tidak juga, tidak. Apalagi yang kau punya, jagoan?"
Jongin menyempitkan matanya kearah Sehun ketika Jongin mengaitkan lengan bawah di salah satu lututnya dan diangkat untuk membuka Sehun lebar-lebar pada Jongin. "Kau sadar bahwa kau ada posisi yang sangat berbahaya, kan? Kau tidak hanya menghina kemampuan seksualku, kau juga menantang seorang atlet yang sangat kompetitif."
Sehun memberikan senyuman paling mempesonanya dan berkata, "Kalau begitu akan lebih baik jika kau membuktikan dirimu."
"Oh, baiklah aku akan buktikan. Anggap saja kau sudah diperingatkan, sayang. Kau yang memintanya." Tetap mengangkat satu kaki Sehun ke atas dan ke samping tubuhnya, Jongin mengarahkan kejantanannya yang berdenyut kearah hole ketat Sehun yang lumayan basah dan menenggelamkan miliknya sedalam mungkin dalam satu kali dorongan dari pinggulnya. Sebuah geraman bercampur erangan mengoyak udara.
"Astaga, kau begitu besar."
Jongin tidak menyombong diri ketika berurusan dengan kejantanannya, tapi ini bukan pertama kalinya dia mendengarkan seorang mengatakan itu. Bagaimanapun, keluar dari mulut
Sehun tiba-tiba merasa dirinya seperti He-Man, tanpa pakaian berbulu. Jongin juga merasa besar seperti yang Sehun nyatakan. Jongin tak pernah berada di dalam seorang yang begitu ketat, sangat sempurna untuknya. Tak dapat menahannya lebih lama lagi Jongin menarik diri hampir keluar sepenuhnya, mendorong semuanya masuk ke dalam, dan kemudian mengatur irama lambat dan stabil untuk membawa mereka ke puncak secara bertahap.
Sehun dengan terampil menggoyangkan pinggulnya untuk menyeimbangi setiap dorongan Jongin, menambahkan gelombang sensasi yang berasal dari kemaluan Jongin yang berputar-putar di bolanya dan menetap di dasar tulang punggungnya.
"Sialan kau terasa nikmat." Melihat ke bawah dimana tubuh mereka bergabung Jongin memperoleh pemandangan yang paling panas yang pernah dilihatnya. Hole Sehun terasa licin menghisap penis Jongin setiap Jongin menarik dan melapisinya dengan cairan manis miliknya setiap kali Jongin bergoyang ke depan. Jongin tidak menyadari bahwa Sehun juga menatap pada pemandangan yang sama sampai Jongin mendengar Sehun berkata, "Ini benar-benar nikmat,Jongin."
"Hell yeah, ini nikmat Sehun." Bahkan jadi lebih sekarang saat Jongin tahu bahwa Sehun senang melihat Jongin bergerak di dalam dirinya.
Jongin melepaskan kaki Sehun untuk memposisikan dirinya di atas tubuh Sehun dengan lengannya. Jongin menambah kecepatan saat Jongin menangkap mulut Sehun dengannya, bercinta dengan mulut Sehun menggunakan lidahnya bersamaan dengan gerakan tubuh bagian bawahnya.
Keringat tubuh mereka basah meluncur satu sama lain, suara daging bertemu daging di beberapa tempat dan nafas berat dengan disertai erangan memenuhi udara. Sehun merengut mulutnya dari Jongin, Sehun mengangkat dagunya dan meyakinkan Jongin untuk pindah ke lehernya untuk melanjutkan tujuan Jongin melahap Sehun seluruhnya.
"Aku sangat dekat. Aku tak percaya aku akan—uhn—lagi."
Jongin tersenyum menatap tenggorokan Sehun ketika Sehun mendengus menggantikan kata 'orgasme', ketika Jongin menambahkan puntiran dari pinggulnya dalam dorongannya. Mengambil isyarat dari Sehun, Jongin melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai Sehun memanggil nama Jongin berulang-ulang antara memohon untuk berhenti dan jangan pernah berhenti.
Menyelinapkan satu tangan diantara tubuh mereka Jongin dengan mudah menemukan penis Sehun dengan jempolnya menyeretnya dari atas dengan satu dorongan keras terakhir. Jongin tidak biasanya mengeluarkan suara selama berhubungan seks, tapi dia tidak dapat menahan erangannya seakan hidupnya terancam ketika mereka klimaks bersama, hole Sehun terasa mencengkram kuat disekitar kejantanan Jongin saat dia menghabiskan dirinya dalam semburan yang kuat.
Ketika mereka kembali satu sama lain selama beberapa menit berikutnya diantara nafas berat dan otot-ototnya yang lemas, Jongin menyadari bahwa seks dengan Sehun mengalahkan semua pengalamannya yang pernah dialaminya. Tak terkecuali saat Jongin mendapatkan seks yang liar, seks yang panjang, seks yang menyimpang dari apa yang baru saja mereka lakukan. Ada perbedaan besar. Jauh sekali perbedaannya. Jongin tak dapat menunjukkan alasannya mengapa, Jongin terlalu lelah untuk coba memikirkannya.
Dengan hati-hati, Jongin menarik keluar penisnya dari hole Sehun, dan membungkus kondom dengan tisu dan menempatkan ke samping untuk membuangnya di pagi hari. Kemudian Jongin duduk di tempat tidur diatas bantal, menarik selimut ke atas mereka, dan membungkus Sehun kedalam pelukannya. Kepala Sehun secara alami turun ke dalam lekukan diantara dada dan bahunya dan tangannya melingkar di sekitar perut Jongin. Dalam hitungan detik Jongin mendengar suara dengkuran lembut dan merasakan tubuh Sehun kehilangan semua ketegangan saat Sehun tertidur. Dan dengan senyum kebahagiaan di wajah Jongin, dirinya tak sepenuhnya mengerti dengan semua yang dirasakannya saat ini. Tak ingin tertinggal jauh, Jongin memilih untuk tidur saja.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Sumpah ini garap part ini lebih berat daripada versi NC yang fifty shades menurutku, banyak kalimat yang musti aku buang,nambah dan ganti. wkwk
Panas dingin sumpah, hahaha
Ini mohon maaf sangat ya kalau ada typo's bertebaran dichapter ini. Author keburu mimisan garap part ini. Wkwk
Okeh, sebelumnya seperti biasa buat siders, please dong tunjukin diri kalian, masa iya setiap chapter yang baca hampir 1000+ orang tapi yang review Cuma 30 orang. Apa harus aku latepost biar nunggu kalian nongol? Aku sih ga masalah, tapi readers lain? How? Kan sedih liat perbandingan yang sangat beda jauh ini T~T *lari peluk Chanyeol* ini juga yang kadang bikin aku males update. Jadi ya kesadaran diri aja sih yaa~ aku ga maksa sih, Cuma liat jumlah yang kelewat beda jauh gini bikin aku unmood kadang. Dooh sorry efek sensi gegara si doi jadi kebawa semua, haha
Sorry juga udah buat kalian nunggu lama *bow*
.
.
Thanks to review CH 5 :
fvckmechankai , kaihunluv , kkamjonghun22 , dialuhane , BraveKim94 , hanhyewon357 , Kim Jonghee , YunYuliHun , , exohye , johsyh , fitrysukma39 , ohhanniehunnie , KaiHunyehet , Jongins Grape , vitangeflower , KaiHunnieEXO , Rima19exo , jjaeseopj , AlexandraLexa , utsukushii02 , HilmaExotics , Keteknyakai , Rilakkuma8894 , VampireDPS , bibblebubblebloop , ParkJitta , , mamasehun1214 , Zelobysehuna , Sekar Amalia.
